Top PDF Aplikasi Fitase dari Bakteri Rekombinan

Aplikasi Fitase dari Bakteri Rekombinan

Aplikasi Fitase dari Bakteri Rekombinan

bobot dada. Persentase daging dada pada ransum rendah P dengan penambahan fitase mempunyai nilai lebih tinggi dibanding ransum kontrol (Jie et al ., 2007). Bobot relatif daging dada kanan pada ayam dengan ransum rendah P ditambah fitase mempunyai berat lebih tinggi dibanding ransum rendah P (Lee et al ., 2010). Penambahan fitase memperbaiki kondisi pencernaan, meningkatkan kecernaan nutrien dan meningkatkan asupan nutrien tercerna, sehingga mampu meningkatkan kinerja produksi (Persia, 2010).

10 Baca lebih lajut

Production of HBsAg100-GST recombinant protein as an immunogen model for generating antibody in mice

Production of HBsAg100-GST recombinant protein as an immunogen model for generating antibody in mice

status kesehatan hewan. Selanjutnya dijelaskan bahwa bioteknologi reproduksi meliputi inseminasi buatan, embryo transfer dan pemuliabiakan ternak dan dalam upaya peningkatan reproduksi ternak telah dikembangkan penelitian dan aplikasi bioteknologi sampai dengan generasi keempat, yaitu hewan transgenik. Sebagai generasi pertama adalah inseminasi buatan dan embryo transfer merupakan generasi kedua, sedangkan generasi adalah kloning. Bioteknologi di bidang pakan merupakan teknologi biokimia dan mikrobiologi yang telah diaplikasikan untuk perbaikan mutu pakan, seperti manipulasi mikroba rumen maupun dengan perlakuan kimiawi dan mikrobiologi.untuk meningkatkan daya cerna dari hijauan makanan ternak, jerami dan limbah pertanian yang tinggi kadar selulosanya. Bioteknologi kesehatan hewan meliputi: (1) produksi komersial berbagai macam zat penggertak pertumbuhan (growth promotors), seperti produksi hormone dengan DNA rekombinan memanfaatkan bakteri tertentu. (2) produksi komersial substansi imunogenik untuk memproduksi vaksin dengan DNA rekombinan yang lebih baik dan lebih aman dibandingkan dengan antigen konvensional yang berasal dari bakteri atau mikroorganisme lain yang patogen. Selanjutnya Muladno (2002) menjelaskan, bahwa dengan tersedianya bioteknologi rekayasa genetika yang dilahirkan pada tahun 1973, telah memungkinkan manusia untuk mengisolasi gen (serangkaian molekul DNA) serta memanipulasinya dan kemudian memindahkan gen tersebut dari satu organisme ke organisme lain. Perbedaan teknologi ini dibanding dengan teknologi lainnya adalah bahwa teknologi ini memanfaatkan mahluk hidup sebagai komponen utamanya. Mahluk hidup yang digunakan bisa berasal dari mikroorganisme, tanaman atau hewan.
Baca lebih lanjut

199 Baca lebih lajut

Aplikasi Teknologi DNA Rekombinan pada

Aplikasi Teknologi DNA Rekombinan pada

Transformasi dengan diperantaraan Agrobacterium tumefaciens dilakukan dengan cara mula-mula agrobacterium yang didalamnya mengandung gen ketahanan pada plasmid vektor ditumbuhkan selama 1-2 hari pada media LB cair yang ditambahkan antibiotik tertentu, kemudian disentrifugasi dan pelet yang terbentuk ditambahkan dengan media feeding layer yang mengandung nutrisi makro-mikro, vitamin, hormon tumbuh dan acetosyringone. Suspensi bakteri ini dipakai untuk merendam eksplan kentang (bagian nodus atau internodus) yang sebelumnya telah 2 hari ditumbuhkan diatas kertas saring whatman pada media feeding layer. Selanjutnya eksplan tersebut di kokultivasi selama 2 hari kemudian dipindahkan ke media regenerasi sampai menghasilkan tunas dan planlet.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Production of HBsAg100 GST recombinant protein as an immunogen model for generating antibody in mice

Production of HBsAg100 GST recombinant protein as an immunogen model for generating antibody in mice

2 status kesehatan hewan. Selanjutnya dijelaskan bahwa bioteknologi reproduksi meliputi inseminasi buatan, embryo transfer dan pemuliabiakan ternak dan dalam upaya peningkatan reproduksi ternak telah dikembangkan penelitian dan aplikasi bioteknologi sampai dengan generasi keempat, yaitu hewan transgenik. Sebagai generasi pertama adalah inseminasi buatan dan embryo transfer merupakan generasi kedua, sedangkan generasi adalah kloning. Bioteknologi di bidang pakan merupakan teknologi biokimia dan mikrobiologi yang telah diaplikasikan untuk perbaikan mutu pakan, seperti manipulasi mikroba rumen maupun dengan perlakuan kimiawi dan mikrobiologi.untuk meningkatkan daya cerna dari hijauan makanan ternak, jerami dan limbah pertanian yang tinggi kadar selulosanya. Bioteknologi kesehatan hewan meliputi: (1) produksi komersial berbagai macam zat penggertak pertumbuhan (growth promotors), seperti produksi hormone dengan DNA rekombinan memanfaatkan bakteri tertentu. (2) produksi komersial substansi imunogenik untuk memproduksi vaksin dengan DNA rekombinan yang lebih baik dan lebih aman dibandingkan dengan antigen konvensional yang berasal dari bakteri atau mikroorganisme lain yang patogen. Selanjutnya Muladno (2002) menjelaskan, bahwa dengan tersedianya bioteknologi rekayasa genetika yang dilahirkan pada tahun 1973, telah memungkinkan manusia untuk mengisolasi gen (serangkaian molekul DNA) serta memanipulasinya dan kemudian memindahkan gen tersebut dari satu organisme ke organisme lain. Perbedaan teknologi ini dibanding dengan teknologi lainnya adalah bahwa teknologi ini memanfaatkan mahluk hidup sebagai komponen utamanya. Mahluk hidup yang digunakan bisa berasal dari mikroorganisme, tanaman atau hewan.
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

Aplikasi Hormon Pertumbuhan Rekombinan Ikan Kerapu Kertang pada Glass eel dengan Dosis Perendaman Berbeda.

Aplikasi Hormon Pertumbuhan Rekombinan Ikan Kerapu Kertang pada Glass eel dengan Dosis Perendaman Berbeda.

Permintaan terhadap ikan sidat terus meningkat. Di dunia, ikan sidat dikonsumsi sekitar 60.000 ton/tahun (Haryono, 2004). Hal ini mendorong berkembangnya kegiatan budidaya ikan sidat secara intensif. Namun demikian usaha tersebut masih bergantung pada ketersediaan benih (elver) dari alam (Wouthuyen et al., 2002). Selain itu, kendala yang dihadapi dalam kegiatan budidaya ikan sidat adalah pertumbuhan benih (glass eel) yang lambat dan rentan terhadap penyakit pada dua bulan awal pemeliharaan (Handoyo, 2012). Penyakit yang terjadi pada ikan sidat biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Aeromonas hydrophila, Pseudomonas anguilliaseptica, dan Edwardsiella tarda atau disebabkan oleh jamur seperti Saprolegnia sp. (Tomiyama dan Hibiya, 1977). Menurut Suhenda et al. (2003), dalam budidaya ikan sidat ada tiga tahap yang perlu dilakukan, yaitu pemeliharaan elver selama 1,5 bulan (diperoleh benih ukuran 1-2 g), pemeliharaan pendederan (benih ukuran 1-2 g) selama 2-3 bulan untuk mencapai benih ukuran 10-20 g, dan pembesaran selama 7-9 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi (150-200 g).
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Isolasi, Karakterisasi, Analisis Filogenetik berbasis gen 16S rRNA dan Teknologi Rekombinan Gen Pengkode Enzim Fitase dari Bakteria Asli Indonesia.

Isolasi, Karakterisasi, Analisis Filogenetik berbasis gen 16S rRNA dan Teknologi Rekombinan Gen Pengkode Enzim Fitase dari Bakteria Asli Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mengkarakterisasi fitase bakteri isolat yang berasal dari berbagai daerah ekstrem di Indonesia dan melakukan analisis gen 16S rRNA untuk mengetahui homologi (analisi Filogenetik) isolat yang ditemukan dengan date base urutan gen pada genbank dunia (http://www.ncbi.nlm.nih.gov) antar spesies bakteria, serta teknologi rekombinan gen fitase pada bakteria. Isolasi bakteri penghasil fitase akan dilakukan dengan menggunakan media LB (Luria Bertani) yang diperkaya dengan asam fitat 0,4% dengan inkubasi pada suhu 37 o C selama 16 jam. Karakterisasi
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN FITASE DARI BAKTERI REKOMBINAN pEAS1-AMP TERHADAP PERFORMAN PRODUKSI, PERFORMAN FITASE, KECERNAAN NUTRISI DAN PROFIL DARAH PADA AYAM BROILER FASE GROWER.

PENGARUH PEMBERIAN FITASE DARI BAKTERI REKOMBINAN pEAS1-AMP TERHADAP PERFORMAN PRODUKSI, PERFORMAN FITASE, KECERNAAN NUTRISI DAN PROFIL DARAH PADA AYAM BROILER FASE GROWER.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh fitase dari bakteri rekombinan pEAS1-AMP terhadap performan pertumbuhan, performan fitase, kecernaan nutrisi dan profil darah ayam broiler. Fitase dalam karier bekatul jagung dikeringkan (oven) berupa serbuk pakan tambahan dan diuji in vivo untuk mengetahui pengaruhnya terhadap ayam broiler jantan strain New Lohmann (MB 202). Pakan menggunakan pakan R0: Ransum standar tanpa fitase, R1: Ransum dengan P rendah tanpa fitase dan R2: Ransum dengan P rendah dengan fitase. Parameter penelitian: konsumsi pakan (FC) dalam g/ekor/hari, konversi pakan (FCR) dan kenaikkan bobot badan (ADG) dalam g/ekor/hari, bobot panjang, kandungan P, Ca dan abu tibia, bobot karkas, bobot dada dan bobot daging dada, kecernaan pakan (ekskretal, P, Ca, total protein dan glukosa %), kandungan nutrisi darah yang terdiri dari Ca, P, Glukosa dan total protein. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) konsumsi pakan, bobot dan kandungan P tibia, bobot karkas dan bobot dada, tetapi terdapat kecenderungan yang berbeda (P<0,10). Pertambahan bobot badan (g/ekor/hari) dan konversi pakan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). Kandungan Ca darah menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05). Kandungan nutrisi darah menunjukkan perbedaan yang nyata pada P (P<0,01), total protein (P<0,05) dan glukosa darah (P<0,05), kecernaan pakan ekskretal (P<0,01), P (P<0,01), Ca (P<0,05), PK (P<0,05) dan Glu (P<0,01). Pertambahan bobot badan dan konversi pakan meningkat dengan penambahan fitase, tetapi konsumsi pakan tidak terjadi perubahan. Kecernaan ekskretal (pakan, P, Ca, PK, Glu) R2 lebih tinggi dibanding R1. Bobot dan kandungan P tibia, bobot karkas dan bobot dada antar perlakuan tidak mengalami perbedaan. Panjang, kandungan Ca dan abu tibia R1 lebih rendah dibanding R0 dan R2. Panjang, kandungan Ca dan abu tibia R0 lebih tinggi dibanding R2. Bobot daging dada R1 lebih rendah dibanding R2.Kecernaan Ca dan PK R0 lebih rendah dibanding R2. Kandungan P dan protein dalam darah mengalami peningkatan pada ransum rendah P ditambah fitase dibanding ransum rendah P. Kandungan P dan protein dalam darah mengalami penurunan pada ransum rendah P dibanding ransum basal. Kandungan Ca darah tidak mengalami perubahan baik pada pakan basal, pakan rendah P dan pakan rendah P ditambah fitase.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PRODUCTION OF FEED ADDITIF CONTAINING PHYTASE FROM RECOMBINANT BACTERIA FOR INCREASING FOOD QUALITY AND MEAT OF BROILER CHICKENS.

PRODUCTION OF FEED ADDITIF CONTAINING PHYTASE FROM RECOMBINANT BACTERIA FOR INCREASING FOOD QUALITY AND MEAT OF BROILER CHICKENS.

Tujuan dari penelitian ini untuk memproduksi pakan tambahan yang mengandung fitase dari bakteri rekombinan E. coli BL21 (DE3)+pET22b(+)+pEAS1 yang berbentuk serbuk yang akan diaplikasikan sebagai campuran pakan ternak ayam broiler dengan ransum berbasis limbah pertanian. Produksi dan ekstraksi enzim ekstraseluler kasar dan intraseluler murni menggunakan metode menurut Sajidan (2002). Induksi enzim dengan 1 mM IPTG/Isopropyl-β-D-thiogalactopyranoside (Promega V395D). Kecernaan in vitro melihat hasil analisis uji nilai P (Jackson, 1985) dengan melihat selisih P bahan pakan sebelum dan sesudah analisis in vitro dalam kondisi berat kering atau BK (Tillman et al., 1986). Metode in vitro menggunakan cara menurut Wu et al. (2004). Karier menggunakan bekatul jagung dan sekam padi. Metode pengerinagn dengan cara kering matahari, kering oven dan kering beku (Whitaker dan Stanbury, 1987). Enkapsulasi menggunakan sitosan dengan pelarut asam asetat. Kandungan P bekatul padi hasil uji kecernaan secara in vitro dengan menggunakan fitase berbeda dengan tanpa fitase (P<0,01). Kecernaan P bekatul padi dengan fitase lebih tinggi dibanding tanpa fitase. Uji in vitro menunjukkan fitase dapat meningkatkan kecernaan P bekatul padi sebesar 0,002 g, stabil terhadap pepsin dan tidak stabil terhadap pankreas. Konsentrasi sitosan 0,8% mempunyai aktivitas optimum dan perbandingan sitosan 0,8% dengan fitase mempunyai perbandingan optimum 1:1. Bekatul jagung lebih baik digunakan sebagai karier dibanding sekam padi selama penyimpanan 5 minggu. Pengeringan dengan cara kering beku lebih baik dibanding kering oven dan matahari dengan melihat aktivitas relatif enzim selama penyimpanan 5 minggu.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

ringkasan - ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PENGHASIL ENZIM FITASE DARI SUMBER AIR PANAS DI SUMATERA BARAT.

ringkasan - ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PENGHASIL ENZIM FITASE DARI SUMBER AIR PANAS DI SUMATERA BARAT.

Tahap pertama identifikasi bakteri penghasil enzim fitase adalah melakukan Gram staining dan tes oksidase untuk bakteri gram negatif untuk menentukan bakteri enterik dan non enterik. Hasil oksidase tes positif menunjukan bahwa bakteri itu adalah non enterik yaitu bakteri yang bukan berasal dari alat pencernaan.

4 Baca lebih lajut

RITA WULANDARI S900809016

RITA WULANDARI S900809016

Semua koloni tunggal yang telah diperoleh selanjutnya ditumbuhkan pada medium LB (Luria bertani) yang mengandung 0,4% Na-fitat dalam 100 mM Na-asetat pH 5 (Nuhriawangsa dkk., 2004). Koloni bakteri yang tumbuh pada medium yang mengandung Na-fitat dan membentuk zona bening merupakan bakteri fitase. Fitat yang terdapat pada medium akan terdegradasi menjadi fosfat anorganik. Sehingga kebutuhan fosfat anorganik yang tidak terdapat pada medium terpenuhi karena kerja enzimatis. Dari 20 strain yang dapat diisolasi hanya 16 strain bakteri dapat tumbuh pada medium dengan Na-Fitat namun tidak semua isolat bakteri membentuk zona bening. Park (2001) mengungkapkan bahwa tidak semua bakteri fitase membentuk zona bening pada medium skrining. Isolat-isolat yang tidak dapat tumbuh atau tidak membentuk zona bening dalam medium skrining memiliki 2 kemungkinan, yaitu isolat tersebut bukan merupakan bakteri fitase, tidak memiliki gen fitase atau isolat tersebut bisa jadi termasuk bakteri fitase dengan gen fitase yang tidak berhasil diekspresikan. Induksi fitase tergantung pada 2 hal, yaitu ketersediaan Na-Fitat dan tidak adanya fosfat anorganik dalam media (Kusumadjaja., 2009).
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Isolasi dan Skreening Bakteri Endofit Penghasil Enzim Fitase dari Tanaman Jagung (Zea Mays) - Repositori UIN Alauddin Makassar

Isolasi dan Skreening Bakteri Endofit Penghasil Enzim Fitase dari Tanaman Jagung (Zea Mays) - Repositori UIN Alauddin Makassar

Segala puji atas kebesaran Sang Khalik yang telah menciptakan alam semesta dalam suatu keteraturan hingga dari lisan terpercik berjuta rasa syukur ke hadirat Allah swt karena atas limpahan Rahmat, Hidayah dan Karunia-Nyalah sehingga peulis diberikan kekuatan, kesempatan dan kemudahan untuk menyelesaikan tugas akhir (skripsi) ini yang berjudul “Isolasi dan Skreening Bakteri Endofit Penghasil Fitase Asal Tanaman Jagung (Zea mays)” dapat diselesaikan dengan baik sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Besar Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya, para sahabatnya, hingga pada umatnya hingga akhir zaman ini yang di utus ke permukaan bumi ini untuk menuntun manusia dari alam kegelapan menjadi alam terang benderang seperti sekarang ini yang menjadi suri tauladan/uswatun hasanah bagi kita semua.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASIL ENZIM FITASE DARI SUMBER AIR PANAS RIMBO PANTI PASAMAN.

ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASIL ENZIM FITASE DARI SUMBER AIR PANAS RIMBO PANTI PASAMAN.

terhadap pemanasan selama proses pelleting ransum yang dapat mencapai suhu >85 o C (Kirkpinar dan Basmacioglu, 2006). Peningkatan temperatur pada proses pelleting ini dapat mengakibatkan kerusakan aktivitas enzim fitase yang dicampurkan ke dalam ransum.

12 Baca lebih lajut

Identifikasi Molekuler Bakteri Endofit Penghasil Enzim Fitase Asal Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Berbasis Gen 16S rRNA - Repositori UIN Alauddin Makassar

Identifikasi Molekuler Bakteri Endofit Penghasil Enzim Fitase Asal Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Berbasis Gen 16S rRNA - Repositori UIN Alauddin Makassar

diketahui memiliki kelemahan, yaitu kerap terjadi perbedaan dalam pembacaan hasil identifikasi. Selain itu karakter fenotip yang sama belum tentu menunjukkan bakteri yang sama juga. Begitu juga karakter biokimia yang merupakan karakter yang dapat berubah oleh adanya stress akibat pengaruh lingkungan (tidak statis) sehingga dapat menyebabkan evolusi. Kelemahan metode fenotipik terkait tingkat reprodusibilitasnya, dimana metode tersebut memberikan hasil yang berbeda-beda apabila diulang, sehingga dianggap kurang handal (reliable). Selain itu, metode ini juga mengkarakterisasi organisme berdasarkan produk ekspresi gen yang sangat sensitif terhadap berbagai macam kondisi lingkungan seperti suhu pertumbuhan, fase pertumbuhan dan mutasi spontan. Kelemahan metode fenotipik ini menjadi dasar pengembangan metode genotipik berbasis DNA. Sehingga, metode genotipik berbasis DNA menjadi lebih populer dan diterima secara luas karena bersifat reprodusibel, praktis, menunjukkan perbedaan antar spesies yang lebih kontras serta dapat membantu menghindari duplikasi strain. Selain itu, analisis molekuler diperuntukkan untuk memperkuat dan mendukung identifikasi secara fenotipik. Hal tersebut dikarenakan karakter molekuler lebih stabil terhadap pengaruh lingkungan (Yuwono, 2006).
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

Rekayasa Bakteri untuk Ternak dan Manusia: Pembuatan Mutan Escherichia coli Penghasil Protein Rekombinan Bacterial Engineering for Cattle and Human: Construction of Escherichia coli Mutant for the Production of Recombinant Proteins

Rekayasa Bakteri untuk Ternak dan Manusia: Pembuatan Mutan Escherichia coli Penghasil Protein Rekombinan Bacterial Engineering for Cattle and Human: Construction of Escherichia coli Mutant for the Production of Recombinant Proteins

Protein rekombinan seperti vaksin, antibodi, hormon, dan obat-obatan, semakin dibutuhkan oleh ternak dan manusia. Hambatan utama untuk menghasilkan protein rekombinan pada Escherichia coli sebagai inang yang digunakan paling luas adalah degradasi oleh enzim proteolitik. Hal ini disebabkan karena E. coli memiliki sejumlah enzim proteolitik yang tersebar di dalam sitoplasmanya. Untuk itu, lebih dari 90% degradasi protein terjadi di dalam sitoplasmanya. Pada penelitian ini, peneliti telah menghasilkan mutant E. coli BW25113 yang tidak memiliki gen penyandi enzim protease dengan menggunakan kombinasi metode pengerusakan kromosom dan metode transduksi phage P1. Pembuatan mutan tersebut dimulai dengan pengerusakan gen penyandi enzim protease pada kromosom bakteri dengan produk PCR yang memiliki bagian yang homolog dengan gen target. Mutan-mutan yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menghasilkan mutan ganda dengan metode Transduksi phage P1. Analisis fenotif dan genotif menunjukkan bahwa kombinasi kedua metode tersebut sangat efektif untuk membuat lebih dari satu mutasi pada E. coli. Untuk itu, mutan E. coli yang telah diperoleh akan sangat bermanfaat untuk menghasilkan aneka protein rekombinan untuk ternak dan manusia.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Enzim Fitase didalam Ransum terhadap Karkas Ayam Broiler

Pengaruh Penambahan Enzim Fitase didalam Ransum terhadap Karkas Ayam Broiler

Berdasarkan pemikiran diatas diharapkan penambahan enzim fitase akan mampu meningkatkan persentase karkas ayam broiler karena enzim fitase dapat mengurangi asam fitat dimana asam fitat mengikat mineral fosfor yang berfungsi untuk pertumbuhan ayam broiler. Adanya kandungan asam fitat dalam pakan akan menghambat proses pertumbuhan ayam broiler karena selain mengikat fosfor, asam fitat juga dapat memperlambat sistem metabolisme didalam sistem pencernaan. Dengan demikian perlu ditambahkan enzim fitase pada ransum konvensional ayam broiler yang diharapkan akan meningkatkan persentase karkas ayam broiler.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Konstruksi Pustaka Genom Kedelai Kultivar Slamet

Konstruksi Pustaka Genom Kedelai Kultivar Slamet

Untuk keperluan mengisolasi suatu gen melalui penapisan terhadap pustaka genom diperlukan minimum satu kopi untuk tiap gen. Pada tanaman kedelai, lebih dari 90% dari ruas DNA yang tidak berulang terdapat lebih dari dua kopi (Shoemaker et al. 1996) sehingga jumlah fage rekombinan dengan DNA sisipan sebesar 15 kb yang diperlukan untuk mencakup seluruh gen yang dipunyai oleh kedelai (dalam keadaan haploid) ialah kira-kira sebanyak (0.10 + 0.45) x (0.75 x 10 5 ) = 0.4125 x 10 5

4 Baca lebih lajut

Kadar Asam Fitat Dedak Fermentasi oleh Bakteri Penghasil Fitase Termostabil dari Sumber Air Panas Sulili Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan - Repositori UIN Alauddin Makassar

Kadar Asam Fitat Dedak Fermentasi oleh Bakteri Penghasil Fitase Termostabil dari Sumber Air Panas Sulili Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan - Repositori UIN Alauddin Makassar

Fermentasi dedak merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ketersediaan zat-zat nutrisi seperti protein dan energi metabolis serta mampu memecah komponen kompleks menjadi komponen sederhana (Kompiang et al.,1994). Fermentasi merupakan proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia, dan biologis sehingga bahan dari struktur kompleks menjadi sederhana sehingga daya cerna ternak menjadi lebih efisien (Hanafi, 2008). Kandungan asam fitat dari fermentasi dedak di setiap perlakuan dalam penelitian ini menunjukkan penurunan dibandingkan Kontrol. Kadar asam fitat terendah terdapat pada perlakuan B (penggunaan Bacillus coagulans sebagai inokulan) yaitu 3.841%, turun sebanyak 0,640% dari kadar fitat kontrol. Sementara perlakuan A, C dan D masing-masing menurunkan kadar fitat sebanyak 0.584%, 0.327% dan 0.149%. Tingginya kemampuan B. coagulans dibanding inokulan lainnya dapat dipengaruhi oleh sifat B. coagulans yang mampu menghasilkan bakteri asam laktat. Sifat demikian membuat pH substrat dalam hal ini dedak menjadi lebih asam sehingga ikatan asam fitat mudah terputus.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Keberadaan Bakteri Penghasil Fitase untuk Perbaikan Kesuburan Tanah Vertisol pada Berbagai Sistem Budidaya Tanam di Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.

Keberadaan Bakteri Penghasil Fitase untuk Perbaikan Kesuburan Tanah Vertisol pada Berbagai Sistem Budidaya Tanam di Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah bakteri-bakteri penghasil fitase yang diisolasi dari tanah vertisol daerah Kecamatan Gondangrejo mempunyai keragaman bakteri dan kemampuan untuk menyuburkan tanah. Penelitian ini bersifat ekploratif , pengumpulan data dari eksperimen laboratorium. Bakteri pada perakaran padi ( PJ2, PJ3, PP2, PP8, PU2, dan PU+1 ) memiliki kemampuan untuk tumbuh yang stabil pada suhu 70°C, dan aktivitas enzimnya stabil pada suhu 80°C serta pH 4 – 8. Bakteri pada perakaran jagung yang bagus (JP1, JW1, JPJ1, JPS1) pertumbuhannya masih stabil pada suhu 60°C, dan aktivitas enzimnya stabil pada suhu 70°C serta pH 4 – 8. Bakteri pada perakaran kacang yang bagus ( KPTU4, KPJW1, KPTU3, KTJ2 ) pertumbuhannya masih stabil pada suhu 60°C, dan aktivitas enzimnya stabil pada suhu 70°C serta pH 5 – 7. Bakteri pada perakaran perakaran tebu yang bagus ( TS1, TS2, TU1, TJ4) pertumbuhannya masih stabil pada suhu 60°C dan aktivitas enzimnya stabil pada suhu 80°C serta pH 4 – 8.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMANFAATAN BAKTERI PENGHASIL FITASE (Pantoea agglomerans) DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS KARKAS AYAM BROILER

PENGARUH PEMANFAATAN BAKTERI PENGHASIL FITASE (Pantoea agglomerans) DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS KARKAS AYAM BROILER

Asam fitat dalam biji-bijian pada umumnya terdapat pada sel-sel kotiledon dan apabila fitase bertemu dengan fitat maka fitase akan segera menyerang fitat dan aktivitas firase akan meningkat dengan tajam sejalan dangan peningkatan suhu dan takanan udara, setelah itu grop ester fosfat pada fitat akan terhidrolisis. Hal ini menyebabkan ester fosfat yang lemah pada mio-inositol tidak cukup kuat untuk mengikat kation sehingga kation terdifusi keluar (Killmer, et al., 1994 disitasi oleh Sugiarti, 2005).

50 Baca lebih lajut

Isolasi dan Purifikasi Fitase dari Bakteri Endofit Asal Tanaman Jagung (Zea mays) - Repositori UIN Alauddin Makassar

Isolasi dan Purifikasi Fitase dari Bakteri Endofit Asal Tanaman Jagung (Zea mays) - Repositori UIN Alauddin Makassar

Mikroorganisme antara lain bakteri, sebagai salah satu penghasil enzim yang potensial menjadi faktor penting dalam produksi enzim (Santoso, 2013). Bakteri endofit adalah bakteri yang berada di jaringan internal tanaman, yang keberadaanya tidak menimbulkan gangguan pada tanaman tersebut (Hallman 1997 dalam Saylendra 2013). Bakteri endofit dapat diisolasi mulai dari bagian akar, batang, daun dan biji (Tarabily et al. 2003 dalam Saylendra 2013). Peranan dari bakteri endofit ini juga bermacam-macam. Salah satu indikator untuk mengetahui kegunaan dari bakteri endofit adalah melihat karakter fisiologisnya. Beberapa karakter fisiologis yang dapat digunakan adalah menghasilkan hormon pertumbuhan, menghasilkan enzim ekstraseluler, pelarut fospat dan aktifitas fluoresensi (Munif 2001 dalam Saylendra 2013). Saat ini, ada banyak laporan menunjukkan endofit sebagai sumber produk alami terbaru yang menghasilkan bioaktif dan enzim (Nangklow, 2014 dalam Sahar 2015).
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...