Top PDF Aplikasi Bahan Organik pada Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L.Moench) var. KD4 di Lahan Kering untuk Peningkatan Penyediaan Hara

Aplikasi Bahan Organik pada Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L.Moench) var. KD4  di Lahan Kering untuk Peningkatan Penyediaan Hara

Aplikasi Bahan Organik pada Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L.Moench) var. KD4 di Lahan Kering untuk Peningkatan Penyediaan Hara

The low content of soil organic matter and soil fertility are characteristics of dry land. Therefore, so the land can be utilized for agricultural farming, a material that is capable of acting as a soil improvement is needed, namely organic matter. The study aimed to examine the effect of the source and dosage of organic matter on the supply of nutrients, growth and yield of sorghum plants was carried out in July 2016 in the experimental garden of Brawijaya University. A split plot design was used in this study. The sources of organic material (sugar can waste, organic waste compost and cow dung) were set as the main plot, whereas doses of organic matter (125, 100 and 75) % of recommended dosage as subplots. The study was repeated 3 times. Soil analysis was carried out 3 times, namely: (1) before planting (BO, N content, P, K soil, soil pH and soil texture), (2) after application of organic material (BO and N, P, K soil content) and (3) after harvest (BO and N, P, K soil content). The agronomic observations were carried out destructively on generative phase at 80 days after planting (DAP) including the components of growth (root dry weight, leaf area, and total dry weight of the plant) and harvest at age of 90 DAP. F test at 5% level was used to test the effect of treatment, while the difference between treatments was based on LSD level of 5%. The results showed that there was a significant interaction between the source and dosage of organic matter on the variable leaf area and total dry weight. The highest yield was obtained in sugar can waste at various doses. Higher yields of seeds per hectare were also found in sugar can waste which is equal to 1.76 tons ha -1 . The sugar can waste application is able to provide N, P and K soil elements of 18.3%, 85.68% and 8.42% respectively compared to organic waste compost and cow dung.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS TANAMAN SORGUM (Sorgum bicolor (L.) Moench) RATOON I TERHADAP APLIKASI BAHAN ORGANIK TANAMAN SORGUM PERTAMA

RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS TANAMAN SORGUM (Sorgum bicolor (L.) Moench) RATOON I TERHADAP APLIKASI BAHAN ORGANIK TANAMAN SORGUM PERTAMA

Sorgum merupakan salah satu komoditas pertanian yang sudah lama dikenal di Indonesia, tetapi belum dikembangkan secara intensif. Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) mempunyai potensi penting sebagai sumber karbohidrat bahan pangan, pakan, dan komoditi ekspor. Selain itu tanaman sorgum mempunyai keistimewaan lebih tahan terhadap cekaman lingkungan bila dibandingkan dengan tanaman palawija lainnya, misalnya pada lahan kering. Dengan demikian, sorgum memiliki potensi untuk dikembangkan pada lahan kering (Irwan et al., 2004).
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

PENGARUH APLIKASI BAHAN ORGANIK PADA TANAMAN SORGUM PERTAMA TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN NIRA BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench) RATOON I

PENGARUH APLIKASI BAHAN ORGANIK PADA TANAMAN SORGUM PERTAMA TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN NIRA BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench) RATOON I

Keunggulan lain tanaman sorgum adalah kemampuan tanaman sorgum untuk tumbuh pada lahan marjinal, lebih tahan kering dan dapat tumbuh kembali setelah tanaman dipangkas saat panen (ratoon). Namun keunggulan tanaman sorgum yang tidak diimbangi dengan pemilihan varietas dan cara budidaya yang tepat, berakibat pada tingkat produksi yang rendah baik secara kuantitas maupun kualitas terutama pada ratoon tanaman sorgum. Penggunaan pupuk anorganik tanpa disertai penambahan bahan organik ke dalam tanah adalah salah satu cara budidaya yang kurang tepat.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PENGARUH APLIKASI BAHAN ORGANIK PADA TANAMAN SORGUM PERTAMA TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN NIRA BEBERAPA VARIETAS SORGUM v(Sorghum bicolor [L.] Moench) RATOON I

PENGARUH APLIKASI BAHAN ORGANIK PADA TANAMAN SORGUM PERTAMA TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN NIRA BEBERAPA VARIETAS SORGUM v(Sorghum bicolor [L.] Moench) RATOON I

Keunggulan lain tanaman sorgum adalah kemampuan tanaman sorgum untuk tumbuh pada lahan marjinal, lebih tahan kering dan dapat tumbuh kembali setelah tanaman dipangkas saat panen (ratoon). Namun keunggulan tanaman sorgum yang tidak diimbangi dengan pemilihan varietas dan cara budidaya yang tepat, berakibat pada tingkat produksi yang rendah baik secara kuantitas maupun kualitas terutama pada ratoon tanaman sorgum. Penggunaan pupuk anorganik tanpa disertai penambahan bahan organik ke dalam tanah adalah salah satu cara budidaya yang kurang tepat.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

RESPONS AKUMULASI BAHAN KERING BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RATOON I TERHADAP APLIKASI BAHAN ORGANIK PADA TANAMAN SORGUM PERTAMA

RESPONS AKUMULASI BAHAN KERING BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RATOON I TERHADAP APLIKASI BAHAN ORGANIK PADA TANAMAN SORGUM PERTAMA

Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman serealia yang berasal dari Afrika. Sorgum memiliki kemampuan untuk dapat tumbuh kembali setelah dipotong (ratoon). Upaya yang dilakukan adalah dengan aplikasi bahan organik yang dapat memperbaiki kondisi tanah. Bahan kering tanaman merupakan indikator pertumbuhan tanaman yaitu meliputi semua bahan tanaman yang secara kasar berasal dari hasil fotosintesis dan serapan unsur hara. Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) mengetahui respons akumulasi bahan kering tanaman sorgum ratoon I akibat aplikasi bahan organik dengan berbagai dosis pada tanaman sorgum I, (2) mengetahui respons akumulasi bahan kering pada tiga varietas sorgum ratoon I, (3) mengetahui pengaruh interaksi antara dosis bahan organik dan varietas dalam akumulasi bahan kering tanaman sorgum ratoon I.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Pengaruh Beberapa Jarak Tanam Terhadap Produksi Sorgum (Sorghum Bicolor (L.) Moench)

Pengaruh Beberapa Jarak Tanam Terhadap Produksi Sorgum (Sorghum Bicolor (L.) Moench)

Jarak tanam berpengaruh nyata terhadap bobot kering brangkasan total ( Tabel 7). Perlakuan dengan respon paling tinggi adalah perlakuan 60 cm x 20 cm 1 benih meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 70 cm x 10 cm 1 benih dan 70 cm x 20 cm 1 benih. Perlakuan yang memberikan respon paling kecil adalah perlakuan 60 cm x 10 cm 2 benih meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 60 cm x 20 cm 2 benih dan 70cmx10cm 2 benih. Banyaknya pupuk yang digunakan mengikuti penelitian Haerudin (2001) penambahan unsur hara makro seperti nitrogen, posfor dan kalium dalam tanah akan meningkat. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya asimilat yang terbentuk dan disimpan dalam komponen tanaman (daun, batang serta akar) sebagai cadangan makanan yang selanjutnya akan di mobilisasi untuk pembentukan biji. Hal tersebut juga sesuai dengan yang dijelaskan oleh Risema (1983) bahwa unsur hara terutama nitrogen dalam tanah merupakan unsur hara yang sangat penting untuk pertumbuhan dan pembentukan protein daun dan berbagai persenyawaan organik lainnya.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Analisis Lintas Beberapa Karakter Agronomi untuk Pengembangan Kriteria Seleksi Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)

Analisis Lintas Beberapa Karakter Agronomi untuk Pengembangan Kriteria Seleksi Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)

Pemuliaan tanaman merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya hasil tanaman sorgum sehingga menghasilkan varietas unggul dan stabil terhadap lingkungan. Pencarian varietas unggul memerlukan seleksi genotipe tanaman sorgum. Pada tahap seleksi genotipe biasanya dilakukan analisis setiap karakter agronomi tanaman. Namun, hal itu menjadi tidak efisien dalam analisis pemilihan genotipe yang unggul dan stabil terhadap lingkungan. Salah satu solusinya yaitu sebelum melakukan seleksi genotipe tanaman sorgum perlu dilakukan terlebih dahulu pencarian informasi tentang besarnya pengaruh atau keeratan hubungan karakter agronomi terhadap produksi biji kering dan produksi biomassa pada tanaman sorgum. Karakter agronomi yang memiliki pengaruh besar atau memiliki hubungan yang kuat terhadap kedua karakter utama tersebut dapat dipertimbangkan pada saat melakukan seleksi genotipe tanaman sorgum.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

PENGARUH KERAPATAN TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench)

PENGARUH KERAPATAN TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench)

Produsen terus mencari metode yang dapat meningkatkan hasil lahan, mengurangi biaya, ataupun kombinasi keduanya. Jumlah tanaman pada lahan, sebagai akibat kerapatan tanaman ataupun jarak tanam masih menjadi perhatian selama beberapa dekade. Dengan penambahan kerapatan tanaman, maka jarak tanam menjadi lebih dekat dan meningkatkan persaingan antar tanaman (Farnham, 1999). Kerapatan tanaman merupakan salah satu teknologi yang diterapkan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari suatu luasan areal tanam. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa ketika dilakukan peningkatan jumlah populasi per lubang tanam atau per satuan luas lahan maka tingkat kompetisi pun akan semakin meningkat, bukan lagi persaingan penyerapan unsur hara, ruang tumbuh, serapan sinar matahari, air dan komponen tumbuh lainnya dengan gulma melainkan dengan tanaman sejenis.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

Respons Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) Terhadap Mulsa Organik di LahanSawah

Respons Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) Terhadap Mulsa Organik di LahanSawah

Tujuan penelitian untuk melihat respons pertumbuhan dan produksi dua varietassorgum (Sorghum bicolor (L.)Moench) terhadapmulsa organik di lahansawah.Penelitian dilaksanakan di Jl. Setia Budi Pasar 5, kelurahan Tanjung Sari, Medan dengan ketinggian25 meter di atas permukaan laut mulai dari bulan Juli hingga November 2014, menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor yaitu varietas (kawali, numbu) dan mulsa organik (tanpa mulsa, mulsa jerami, mulsa alang- alang). Parameter yang diamati tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, umur panen, berat biji malai per sampel, berat biji malai per plot, produksi per sampel, produksi per plot, bobot 1000 biji. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 7, 8 dan 9 MST, berat biji malai per sampel, produksi per sampel, bobot 1000 biji. mulsa organik berpengaruh nyata pada jumlah daun umur 8 dan 9 MST, bobot 1000 biji. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara varietas dengan mulsa berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 4-9 MST, jumlah daun umur 8 dan 9 MST, berat biji malai per sampel, produksi per plot, produksi per sampel, bobot 1000 biji, umur panen.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Respons Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) Terhadap Mulsa Organik di LahanSawah

Respons Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) Terhadap Mulsa Organik di LahanSawah

Tujuan penelitian untuk melihat respons pertumbuhan dan produksi dua varietassorgum (Sorghum bicolor (L.)Moench) terhadapmulsa organik di lahansawah.Penelitian dilaksanakan di Jl. Setia Budi Pasar 5, kelurahan Tanjung Sari, Medan dengan ketinggian25 meter di atas permukaan laut mulai dari bulan Juli hingga November 2014, menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor yaitu varietas (kawali, numbu) dan mulsa organik (tanpa mulsa, mulsa jerami, mulsa alang- alang). Parameter yang diamati tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, umur panen, berat biji malai per sampel, berat biji malai per plot, produksi per sampel, produksi per plot, bobot 1000 biji. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 7, 8 dan 9 MST, berat biji malai per sampel, produksi per sampel, bobot 1000 biji. mulsa organik berpengaruh nyata pada jumlah daun umur 8 dan 9 MST, bobot 1000 biji. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara varietas dengan mulsa berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 4-9 MST, jumlah daun umur 8 dan 9 MST, berat biji malai per sampel, produksi per plot, produksi per sampel, bobot 1000 biji, umur panen.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Studi Pewarisan Sifat Toleransi Aluminium Tanaman Sorgum Manis [Sorghum bicolor (L.) Moench]

Studi Pewarisan Sifat Toleransi Aluminium Tanaman Sorgum Manis [Sorghum bicolor (L.) Moench]

Sweet sorghum [Sorghum bicolor (L.) Moench] is actually not Indonesian origin but it has a big potential to be grown and cultivated in this country as the solution to food and energy crisis owing to its wide adaptability and other advantages. Al toxicity is one of limiting factors in agriculture development in Indonesia. Further research on sorghum breeding is needed especially to search for genotypes that can be grown and cultivated in acid soil with Al toxicity. The successes in the sorghum breeding program to obtain adaptable varieties in Al stress is determined by selecting the appropriate breeding method. The objective of this research was to study inheritance of Al tolerance of sweet sorghum by analysis of F2 distribution, the genetic components and heritability of the four generation of sorghum to determine the effective and efficient method in breeding program for sorghum tolerance to Al. The four populations in this research were UPCA S1 (P1, susceptible parent) and Numbu (P2, tolerant parent), F1 and F1 reciprocal and F2. This research was also to develop selection criteria for Al tolerance in sorghum breeding and selection based on yield character for food and bio-ethanol. The crosses of parental, F1, F1R and F2 generation were established in University Farm of IPB and UPTD Tenjo from June 2008 to June 2009. The study of Al tolerance inheritance in nutrient culture was conducted in green house of University Farm of IPB from July-August 2009. The study of Al tolerance inheritance in field was conducted in UPTD Tenjo from July-November 2009. Selection was applied to 600 genotypes of F2 generation. Based on reciprocal analysis, all of characters are controlled by nuclear genes and their inheritance in not affected by maternal cytoplasm. The distribution of F2 genotype is indicating continuous
Baca lebih lanjut

202 Baca lebih lajut

Respon Fisiologi Dan Pertumbuhan Beberapa Genotipe Sorgum (Sorghum Bicolor (L.) Moench) Terhadap Toksisitas Fe Pada Kultur Hara

Respon Fisiologi Dan Pertumbuhan Beberapa Genotipe Sorgum (Sorghum Bicolor (L.) Moench) Terhadap Toksisitas Fe Pada Kultur Hara

Mekanisme untuk penghindaran terhadap toksisitas besi pada sorgum umumnya belum dipelajari, namun dapat dilakukan pendekatan terhadap tanaman monokotil lainnya. Tanaman monokotil yang toleran terhadap Fe memiliki ciri : sistem detoksifikasi yang lebih efisien yg mereduksi langsung toksisitas besi, dan menurunkan laju pertumbuhan dengan meminimalisasi efek toksisitas tidak langsung pada larutan hara (Snowden dan Wheeler 1993). Resistensi terhadap toksisitas besi memiliki karakter yang kompleks antara genetik dan fisiologi. Beberapa mekanisme toleransi menurut Dufey et al. (2009) diantaranya oksidasi di rizosfer, eksudasi Fe 2+ dari akar, menyimpan kelebihan Fe di dalam apoplas dan vakuola serta detoksifikasi Fe yang diinduksi reaktif spesies oksigen (ROS) oleh enzim antioksidan. Tak satu pun dari mekanisme ini secara langsung ditargetkan dalam program pemuliaan (Shabala 2010). Sifat-sifat yang mudah diukur ialah indeks bronzing pada daun, bobot kering tunas dan akar, jumlah anakan, tinggi tanaman, panjang akar dan akumulasi Fe pada tunas (Wan et al. 2003)
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Pengaruh Kerapatan Tanaman Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Beberapa Varietas Sorgum (Sorghum Bicolor (L.) Moench)

Pengaruh Kerapatan Tanaman Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Beberapa Varietas Sorgum (Sorghum Bicolor (L.) Moench)

Kerapatan tanaman berkaitan dengan jumlah tanaman per lubang dan per satuan luas yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Salah satu cara pengembangan teknik budidaya sorgum yang dapat diterapkan yaitu dengan pengaturan kerapatan tanaman untuk peningkatan produktivitas sorgum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan tanaman terbaik pada pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum; pengaruh perbedaan varietas pada pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum; dan pengaruh interaksi antara kerapatan tanaman dan varietas pada pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Unit Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2013. Perlakuan disusun secara faktorial (3x4) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan dengan tiga ulangan. Homogenitas ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlet dan aditivitas data di uji dengan uji Tukey. Bila kedua asumsi ini terpenuhi, maka pemisahan nilai tengah dilakukan dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf α 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Numbu, Keller dan Wray tidak menunjukan perbedaan pertumbuhan yang nyata, walaupun ketiga varietas tersebut menunjukkan perbedaan pada jumlah biji per tanaman. Varietas Numbu menghasilkan jumlah biji per tanaman 20-44 % lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Keller dan Wray; kerapatan tanaman sangat mempengaruhi pertumbuhan dan komponen hasil tanaman sorgum. Penggunaan kerapatan tanaman tinggi (3 dan 4 tanaman per lubang) dapat memberikan hasil 30-50,5 % lebih tinggi untuk jumlah biji per satuan luas (hektar) dibandingkan dengan penggunaan kerapatan tanaman rendah; pengaruh kerapatan tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil sorgum tergantung pada varietas. Pada kerapatan tanaman tinggi (3 dan 4 tanaman/lubang) varietas Numbu memiliki bobot biji per tanaman 15- 60 % lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Keller dan Wray.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

(Sorghum bicolor (L.) Moench)

(Sorghum bicolor (L.) Moench)

Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) merupakan kelompok tanaman serealia dan termasuk dalam famili Poaceae. Tanaman ini masih jarang dibudidayakan oleh petani karena masih terbatasnya informasi tentang pemanfaatan maupun teknik budidaya dari tanaman tersebut. Hal ini terbukti dengan masih rendahnya produksi biji sorgum secara nasional yang hanya mencapai sekitar 6.172 ton dengan luas lahan garapan 2.300 ha, sementara potensi produksinya dapat mencapai 4 – 5 ton ha -1 (Tragistina, 2011). Apabila ditinjau berdasarkan kegunaannya, biji sorgum mempunyai banyak manfaat, diantaranya dapat dimanfaatkanan (1) sebagai sumber bahan pangan alternatif selain jagung dan gandum, (2) untuk bahan baku industri seperti untuk sirup, alkohol, lilin, pati, minyak goreng maupun biofuel, serta (3) dapat diolah menjadi berbagai bentuk olahan seperti untuk mie, roti, tape, maupun dikonsumsi langsung dengan cara dikukus (Muui et al., 2013). Batang tanaman sorgum dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan pemanis, selain tebu. Sedangkan apabila dilihat berdasarkan kandungan nutrisi yang terdapat dalam biji, Navas dan Garcia (2000) menyatakan bahwa dalam setiap 100 g biji sorgum terkandung protein (10 – 17%), lemak (2,6 – 4,5%), pati (60 – 72%), abu (1,6 – 2,2%), serat (2,5 – 3,5%), serta berbagai mineral seperti kalsium (150 mg), magnesium (790 mg), kalium (6.070 mg), dan fosfor (4.210 mg).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH DOSIS BAHAN ORGANIK TERHADAP MUTU FISIOLOGIS BENIH TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench) SETELAH MENJALANI PERIODE SIMPAN

PENGARUH DOSIS BAHAN ORGANIK TERHADAP MUTU FISIOLOGIS BENIH TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench) SETELAH MENJALANI PERIODE SIMPAN

Bahan organik dan pupuk kandang adalah bahan-bahan yang berasal dari limbah tumbuhan atau hewan atau produk sampingan seperti pupuk kandang ternak atau unggas, jerami padi yang dikompos atau residu tanaman lainnya, kotoran pada saluran air, bungkil, pupuk hijau, dan potongan leguminosa. Bahan organik atau pupuk kandang biasanya digunakan merata di seluruh sawah, dua atau tiga minggu sebelum dimasukkan kedalam tanah selama persiapan lahan. Kadang- kadang jerami padi dikompos secara langsung di sawah. Pupuk kandang dan sumber organik lainnya digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kadar bahan organik tanah dan menyediakan unsur hara mikro dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Studi Pembungaan Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) untuk Seleksi Galur Tetua Persilangan

Studi Pembungaan Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) untuk Seleksi Galur Tetua Persilangan

Sorgum merupakan tanaman pokok di banyak negara di seluruh dunia namun produksinya tidak dapat mengikuti tingkat permintaan (Ramakrishna dan Gowda 1998). Produksi sorgum dunia mencapai 54 juta ton dari luasan lahan 44 juta hektar pada tahun 1995 dan tetap pada angka tersebut pada tahun 2011 dengan luas lahan total sebanyak 35 juta ha (FAO 2013). Sorgum yang diproduksi di daerah Asia berjumlah 15 juta ton dari luasan lahan 14.1 juta hektar pada tahun 1996 (Reddy dan Rao 1998) menjadi 10.5 juta ton dari luasan lahan 9 juta ha di tahun 2011 (FAO 2013). Produksi sorgum di beberapa negara pada tahun 2011 misalnya: Australia yaitu 1.9 juta ton, India sebanyak 7 juta ton, Amerika Serikat dan Ethiopia masing-masing memproduksi 5.4 juta ton dan 3.9 juta ton sorgum (FAO 2013). Produksi negara-negara tersebut mengalami kenaikan dan penurunan, namun data dari FAO (2012) menunjukkan bahwa penurunan yang paling banyak terjadi pada negara Amerika Serikat karena pada tahun 2009 produksi sorgum negara tersebut mencapai 9 juta ton.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Briket dari Ampas Batang Sorgum Manis (Sorghum Bicolor L. Moench) sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif

Briket dari Ampas Batang Sorgum Manis (Sorghum Bicolor L. Moench) sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif

Energy is a necessity that can not be separated from humans. Similar to clothing and food, energy has a very important role for life. Currently, the fuel reserves are running low so that it needs alternative fuel that is able to meet human needs. The purpose of this study is to utilize the sweet sorghum stem dregs as an alternative fuel that is briquettes, as one of the solutions of the above problems. This process is carried out by pyrolysis of sweet sorghum stems and added sweet glue of sorghum seeds which still contains molded and pressed starch. With a low adhesive content and high compressive strength obtained the highest calorific value of 5773,5765 calories / gram with 2.5% adhesive content and 250 kg / cm2 compressive strength. Briquettes from sweet sorghum stems do not meet the standards of briquettes in Indonesia whose value 6914,11 calories / gram so it is advisable to make changes in the ratio of raw materials and adhesives to obtain briquettes that have a higher calorific value.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Cara Perendaman Pada Pembuatan Sorgum(Sorghum Bicolor (L.) Moench) Instan

Pengaruh Cara Perendaman Pada Pembuatan Sorgum(Sorghum Bicolor (L.) Moench) Instan

Produksi sorgum di Indonesia sangat rendah, bahkan secara umum produk sorgum belum tersedia dipasaran. Pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan di Indonesia masih sangat terbatas, hal ini disebabkan anggapan yang menyatakan bahwa sorgum bernilai sosial rendah. Sorgum berfungsi sebagai sumber antioksidan terutama karena kandungan senyawa fenol dan asam ferulat yang dikandungnya (Zakaria, 2008). Berbagai khasiat sorgum sebagai anti kanker dan kemampuannya dalam menurunkan kolesterol darah telah banyak diteliti. Struktur dan karakter bijinya memegang peranan penting dalam pengolahan serta mutu hasil olahannya (Mudjisihono, 1994). Ahza (1998) menyatakan bahwa biji sorgum dapat diolah menjadi tepung dan bermanfaat sebagai bahan substitusi terigu. Oleh karena itu, pengembangan sorgum cukup prospektif dalam upaya menyediakan sumber karbohidrat lokal . Sorgum memiliki banyak varietas, dari sorgum yang berwama putih sampai sorgum yang berwama merah kecoklatan (Lando et al., 1995). Tanaman sorgum dibagi dua kelompok, yaitu sorgum yang berumur pendek (musiman) dan sorgum tahunan (Shorgum halepensis). Sorgum musiman terdiri atas empat keluarga, yaitu sorgum makanan ternak (sweet sorghum) dimana batangnya mengandung gula sehingga dapat dipakai untuk membuat sirup dengan cara memeras batangnya dan kemudian direbus, sorgum penghasil biji-bijian (grain sorghum) dimana batang dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, sorgum sapu (broom sorghum) yang banyak ditanam di Amerika Serikat dan dapat dimanfaatkan untuk membuat sapu dan sikat, yang terakhir adalah sorgum rumput (grass shorgum) yang dikenal sebagai rumput sudan di Indonesia yang tahan kekeringan. Sorgum
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects