Top PDF Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Estimasi Debit Puncak Kaitannya dengan Banjir di DAS Bogowonto

Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Estimasi Debit Puncak Kaitannya dengan Banjir di DAS Bogowonto

Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Estimasi Debit Puncak Kaitannya dengan Banjir di DAS Bogowonto

Kejadian banjir ditinjau dari faktor alam erat kaitannya dengan curah hujan tinggi dan kondisi DAS (Daerah Aliran Sungai) di suatu wilayah (Asdak, 1995). DAS Bogowonto merupakan salah satu DAS yang sering terjadi banjir sejak akhir abad ke-19 hingga saat ini dimana DAS Bogowonto berada di bagian selatan Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 DAS Bogowonto ditetapkan dalam prioritas pengelolaan DAS ke dua (Triatmodjo, 1998). Hingga tahun 2009 kondisi DAS Bogowonto kian memburuk kemudian ditetapkan ke dalam prioritas pengelolaan DAS pertama (Keputusan Menteri Kehutanan, SK. 328/Menhut-II/2009). Dilihat dari morfo- metrinya DAS Bogowonto memiliki bentuk linier sehingga debit puncak tidak cepat terbentuk. Namun, saat musim hujan DAS Bogowonto sering dilanda banjir. Salah satu banjir besar terjadi pada 20 Desember 2013 yang merendam Desa Nampu Lor, Desa Karanganyar, dan Desa Gedangan di Kecamatan Purwodadi serta Desa Bapangsari, Desa Kwojo, Dusun Jambu, dan Dusun Jurangkah di Kecamatan Bagelen (BPBD Purworejo dalam Tribun Jogja). Dalam hal ini data debit puncak dan kondisi fisik lahan DAS perlu dilibatkan dalam pengelolaan DAS. Namun, keter- sediaan data-data hidrologi terbatas.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Estimasi Debit Puncak Sub DAS Sail Menggunakan  Integrasi Data Penginderaan Jauh dan Sistm Informasi Geografi (SIG)

Estimasi Debit Puncak Sub DAS Sail Menggunakan Integrasi Data Penginderaan Jauh dan Sistm Informasi Geografi (SIG)

Perubahan penutup lahan akan memiliki dampak terhadap kondisi hidrologi suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS adalah daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama (Asdak, 2007). Perubahan penutup lahan dari lahan non terbangun (vegetasi) menjadi lahan terbangun akan meningkatkan aliran permukaan (surface runoff). Hal ini dikarenakan berkurangnya area yang berfungsi untuk meresapnya air ke dalam tanah. Aliran permukaan yang meningkatkan kemudian mengalir menuju suatu sistem sungai. Jika telah melebihi kapasitas dari sungai maka aliran permukaan ini akan meningkatkan potensi terjadinya banjir. Salah satu metode sederhana yang dapat digunakan untuk melihat kondisi hidrologi suatu DAS adalah metode Rasional. Variabel yang digunakan dalam metode rasional adalah nilai koefisien aliran, intensitas hujan dan luas DAS. Hadisusanto (2010) menjelaskan asumsi yang digunakan dalam metode rasional adalah curah hujan yang ada merupakan curah hujan yang seragam dan dalam interval waktu yang lama. Koefisien aliran diperoleh dengan memperhatikan nilai dari curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, penutup lahan dan kerapatan aliran. Kemajuan teknologi dalam bidang penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografi (SIG) menjadikan perolehan data yang digunakan dalam penentuan kondisi hidrologi suatu DAS menjadi lebih efektif
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ESTIMASI LIMPASAN PERMUKAAN DAS MIKRO BRANTAS HULU KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

ESTIMASI LIMPASAN PERMUKAAN DAS MIKRO BRANTAS HULU KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

dengan SIG (Sistem Infomasi Geografis) merupakan salah satu metode menghitung nilai debit maksimum dan minimum atau limpasan permukaan yang terjadi pada suatu daerah khususnya cakupan DAS, karena memiliki akurasi yang cukup baik. Berdasarkan penelitian Jaelani (2005) Metode Rasional digunakan untuk menghitung nilai limpasan permukaan Sungai Way Lay di Lampung Barat. Hasil perhitungan menunjukkan nilai akurasi yang cukup tinggi ditunjukkan nilai yang tidak berbeda jauh antara nilai Model Rasional dengan nilai aktual. Berdasarkan penelitian Girsang (2008) menggunakan Metode Rasional untuk menghitung nilai debit puncak di DAS Belawan Kabupaten Deli Serdang dengan skala ulang beberapa tahun. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan nilai yang tidak berbeda jauh dari nilai lapang yang dihitung. Berdasarkan penelitian Oktavianto (2013) menggunakan Metode Rasional untuk menghitung nilai limpasan permukaan saluran drainase daerah jalan Danau Ranau dan jalan Laut Tawar Kota Malang dengan skala ulang 2, 5, 10 tahun. Hasil perhitungan tersebut dipakai sebagai acuan untuk mengetahui daya tampung saluran drainase, dapat mencukupi kebutuhan nilai limpasan permukaan skala ulang 2, 5, 10 tahun. Metode Rasional yang berintegrasi dengan penginderaan jauh dan SIG (Sistem Informasi Geografis) dapat membantu memecahkan masalah dalam menentukan lokasi yang tepat sasaran dan memprediksi dampak dari degradasi lahan khususnya limpasan permukaan agar konservasi mekanik dan vegetatif dapat dilakukan tepat sasaran.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Aplikasi Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Analisis Daerah Resapan Air (Studi Kasus : Kota Pekalongan)

Aplikasi Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Analisis Daerah Resapan Air (Studi Kasus : Kota Pekalongan)

Peningkatan volume aliran permukaan yang terjadi dari waktu ke waktu adalah konsekuensi logis dari semakin berkurangnya daerah resapan air terutama di daerah perkotaan. Daerah aliran sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu wilayah dimana seluruh pengaliran air permukaan menuju ke suatu sungai di lokasi tersebut (Chow VT, Maidment David R, Mays Larry W, 1976) . Dengan kata lain, seluruh aliran permukaan dari kota dalam daerah tersebut, selanjutnya akan masuk ke dalam DAS. Dengan kondisi demikian maka, debit tampungan DAS hendaknya lebih besar dari jumlah keseluruhan volume aliran permukaan yang dialirkan ke dalamnya. Sehingga tidak mengakibatkan terjadinya genangan yang bisa berdampak banjir lokal pada wilayah tersebut. Analisis yang dilakukan yaitu melakukan perhitungan volume air larian dan debit tampungan DAS.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS POTENSI WILAYAH PENYEBAB BANJIR DAS OPAK  DENGAN MEMANFAATKAN   Analisis Potensi Wilayah Penyebab Banjir DAS Opak Dengan Memanfaatkan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.

ANALISIS POTENSI WILAYAH PENYEBAB BANJIR DAS OPAK DENGAN MEMANFAATKAN Analisis Potensi Wilayah Penyebab Banjir DAS Opak Dengan Memanfaatkan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.

Metode Penelitian ini menggunakan metode survey lapangan, gabungan teknik interpretasi citra Landsat. Untuk perhitungan koefisien limpasan menggunakan Metode Cook dengan mempertimbangkan variabel biofisik permukaan lahan dan metode analisis perhitungan debit puncak menggunakan Metode Rasional dengan rumus Q maks = C.I.A/360 m 3 /detik.

11 Baca lebih lajut

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAS KREO TERHADAP DEBIT PUNCAK DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAS KREO TERHADAP DEBIT PUNCAK DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH

DAS Kreo merupakan salah satu Sub DAS yang telah mengalami perkembangan yang berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi antara lain perubahan lahan agraris menjadi lahan non agraris. DAS Kreo merupakan salah satu dari Sub DAS Garang yang ikut membantu dalam memberikan pasokan air yang sering menimbulkan banjir di kota Semarang. Mengingat begitu pentingnya kapasitas air maksimal yang dapat tertampung dalam sistem drainase pada DAS Kreo, maka dirasa perlu dan mendesak untuk dilakukan penelitian yang mampu memberikan informasi mengenai debit puncak dan pengkajian perubahan penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap debit puncak. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menguji manfaat foto udara untuk penyadapan data mengenai karakteristik fisik dan morfometri DAS guna estimasi debit puncak, serta mengkaji perubahan luasan penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap nilai debit puncak. Sehingga melalui interpretasi data penginderaan jauh diharapkan dapat untuk memperkirakan besarnya nilai debit puncak berdasarkan parameter fisik lahan tanpa harus melakukan pengukuran langsung di lapangan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

MONITORING DAN EVALUASI DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

MONITORING DAN EVALUASI DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

kondisi sungai, pola drainase, panjang sungai dan lain-lain. Bentuk lahan di daerah hulu didominasi Pegunungan dan Perbukitan, sedang di daerah tengah didominasi bentuk lahan Aluvial dan pied- mont plan, sedang di daerah hilir kebanyakan dataran dan deposit Alluvial- Colluvial. Tipe batuan di daerah atas lebih banyak batuan beku yang sebagian besar sudah mulai melapuk sehingga mudah terjadi longsor, sedangkan disebelah timur selain batuan beku ada yang sedimen kapur, dan batuan metamorf. Kondisi Watershedunan konservasi tanah sampai kemiringan lebih dari 45% masih di Watershedun teras Watershedku dan gulud dengan tingkat kualitas sedang, sehingga bidang olah sangat sempit. Jenis tanah yang dapat ditemui di DAS grindulu antara lain Entisols, Inceptisols, Ultisols dengan warna tanah didominasi warna coklat sampai kemerah-merahan, dengan kemasaman tanah antara 6 (agak masam) sampai mendekati 7 (netral).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS.

PENDAHULUAN ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS.

Wahyu Widi Pamungkas (2012) Judul dari penelitian yaitu Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Penilaian Harga Tanah Berbasis Zona di Kota Madiun Tahun 2012. Penelitian ini memiliki beberapa tujuan diantaranya yaitu; mengaplikasikan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk pemetaan dibidang pertanahan yaitu penilaian harga tanah dengan menggunakan metode berbasis SIG: computer assisted mass appraisal (CAMA); memanfaatkan data citra penginderaan jauh sebagai salah satu sumber data, selain data transaksi penjualan dan penawaran tanah yang kaitanya dengan penilaian harga tanah berbasis zona di Kota Madiun, dan membuat zona nilai tanah berdasarkan data real di lapangan yang berbentuk luasan atau poligon. Metode yang digunakan yaitu metode survai lapangan dan analisis menggunakan sistem informasi geografi (CAMA) melakukan penggabungan antara data harga penjualan atau penawaran tanah dan karakter lokasi dimana tanah tersebut terletak, sehingga dapat dikelompokan harga tanah yang memiliki nilai sama. Hasil penggabungan kedua data tersebut dilakukan uji standart deviasi untuk mengetahui nilai ekstrim dan menyeleksi zona – zona yang memenuhi syarat zona nilai tanah yang dapat digunakan. Hasil akhir penelitian ini yakni peta Peta Zonasi Nilai Tanah Kota Madiun Skala 1 : 65.000.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH   ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS.

ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS.

Kelas rendah merupakan kelas yang memiliki total harkat nilai lahan 1 hingga 2. Harkat untuk seluruh parameter nilai lahan memiliki nilai 1, yaitu parameter penggunaan lahan, aksesibilitas positif, tingkat kelengkapan utilitas umum dan aksesibilitas negatif. Hal ini tercermin pada grafik yang memiliki harkat total nilai lahan 2 yang terlihat hampir pada seluruh desa yang ada di Kecamatan Ngawi, kecuali untuk Desa Ketanggi, Margomulyo dan Desa Karangtengah yang tidak memiliki nilai harkat rendah. Kelas nilai lahan rendah tidak memiliki faktor yang mendominasi karena seluruh parameter memiliki nilai yang sama yaitu nilai harkat 1.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Sig) dan Penginderaan Jauh Untuk Model Hidrologi Answers Dalam Memprediksi Erosi Dan Sedimentasi

Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Sig) dan Penginderaan Jauh Untuk Model Hidrologi Answers Dalam Memprediksi Erosi Dan Sedimentasi

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah daratan yang menerima air hujan dan mengalirkannya kembali melalui satu sungai utama menuju ke hilir/muara yaitu berupa laut atau danau. Satu DAS dipisahkan dari wilayah lain di sekitarnya oleh pemisah alam berupa topografi (seperti punggung bukit), gunung dan lain sebagainya. Ekosistem suatu DAS biasanya terbagi ke dalam tiga bagian yaitu hulu, tengah dan hilir. Ekosistem DAS khususnya bagian hulu, merupakan bagian penting karena berfungsi sebagai daerah tangkapan air (water catchment area) yang diarahkan sebagai kawasan untuk perlindungan terhadap fungsi hidrologi. Supriadi (2000) menjelaskan bahwa kawasan hulu dari suatu DAS memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu selain sebagai tempat penyedia air untuk dialirkan ke daerah hilir, (untuk kegiatan pertanian, industri dan pemukiman (water provision for regional economy)), juga berfungsi dalam memelihara keseimbangan ekologis yaitu sebagai sistem penunjang kehidupan. Kemampuan daya dukung pemanfaatan lahan hulu bersifat terbatas, kegiatan pembangunan yang tidak terkendali di kawasan hulu dari suatu DAS seperti konversi lahan bervegetasi/berhutan serta aktifitas merubah lanskap tidak hanya akan memberikan dampak negatif di wilayah di mana kegiatan tersebut berlangsung, namun juga dapat menimbulkan dampak di daerah hilir berupa banjir dan kekeringan. Asdak (2002) menjelaskan bahwa DAS hulu seringkali menjadi fokus perencanaan pengelolaan DAS mengingat bahwa daerah hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Potensi Banjir Genangan (Studi Kasus Sebagian Kota YOGYAKARTA)

Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Potensi Banjir Genangan (Studi Kasus Sebagian Kota YOGYAKARTA)

Penginderaan jauh sebagai ilmu, dan teknologi untuk memperoleh informasi mengenai obyek, dan berbagai fenomena dengan cara menganalisis data yang diperoleh tanpa kontak langsung terhadap obyek maupun fenomena yang terjadi (Sutanto, 1986). Berdasarkan pada pengertian tersebut, maka pemanfaatan data penginderaan jauh dapat diaplikasikan pada berbagai bidang untuk mengkaji berbagai permasalahan di permukaan bumi tanpa kontak langsung. Termasuk juga didalamnya pemanfaatan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dalam bidang hidrologi. Citra Quickbird dan data Digital Elevasi Model (DEM) dari data Lidar merupakan beberapa produk citra penginderaan jauh dengan spesifikasi tertentu. Keberadaan data tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mengkaji berbagai fenomena di permukaan bumi. Salah satunya permasalahan genangan atau banjir lokal di perkotaan. Terjadinya banjir genangan tersebut sesuai dengan siklus hidrologi dapat diasumsikan dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti luas daerah tangkapan air, nilai koefisien aliran berdasarkan pada karakteristik penutup lahan serta lereng, dan nilai intensitas hujan. Parameter- parameter tersebut diharapkan mampu disadap dari data penginderaan jauh dengan metode tertentu. Berdasarkan pada parameter yang telah diperoleh dibantu dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk melakukan pengolahan data maka diharapkan dapat diketahui distribusi daerah potensi genangan atau banjir lokal yang terjadi di sebagian Kota Yogyakarta. Diharapkan dari hasil yang ada dapat dijadikan dasar keberlanjutan pengelolaan maupun evaluasi penyelamatan lingkungan terhadap daerah-daerah yang terjadi banjir.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PENDUGAAN POTENSI PERESAPAN AIR DAS WEDI KABUPATEN KLATEN-BOYOLALI

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PENDUGAAN POTENSI PERESAPAN AIR DAS WEDI KABUPATEN KLATEN-BOYOLALI

Potensi peresapan air adalah kemampuan suatu lahan untuk meresapkan air hujan yang berguna sebagai sumber air (Syahbani, 2003). D i wilayah K abupaten K laten, permasalahan mengenai potensi peresapan air diindikasikan oleh persoalan kesulitan memperoleh air bersih terutama pada musim kemarau, adapun pada musim penghujan debit aliran Sungai Wedi bagian hilir seringkali melebihi kapasitas salurannya. BAPPE DA K abupaten Klaten (2006) menyebutkan, bahwa di Kabupaten Klaten terdapat dua wilayah kecamatan yang menghadapi masalah tentang air terutama pada musim kemarau, yaitu K ecamatan Kemalang dan Kecamatan K arangnongko. Kedua kecamatan tersebut sebagian besar wilayahnya terliput oleh sebuah sistem aliran, yaitu DAS Wedi. K arakteristik fisik lahan pada DAS Wedi cukup bervariasi, dengan luas wilayah sekitar 10.928,56 Ha. Variasi karakteristik fisik lahan tersebut dimungkinkan berpengaruh terhadap perbedaan potensi peresapan air. K arak- teristik fisik lahan dapat disadap melalui teknologi penginderaan jauh.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Arahan Lahan Sawah Berkelanjutan di Kabupaten Sleman

Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Arahan Lahan Sawah Berkelanjutan di Kabupaten Sleman

d. Pemetaan Tentatif Ketersediaan Air Pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi ketersediaan air adalah satuan bentuk lahan berdasarkan topografi dan pola aliran, perubahan penggunaan lahan yang diinterpretasi secara visual, data lokasi keberadaan bendung dan mata air, serta kenampakan masa tanam padi pada citra perekaman bulan Juni yang merupakan data perwakilan dari musim tanam III (musim kemarau). Penggunaan bantuan citra hasil penajaman dengan komposit 652 bulan Juni untuk identifikasi ketersediaan air karena apabila pada bulan Juni yang merupakan musim kemarau, sedangkan sawah berada dalam masa penggenangan air atau penanaman padi mengindikasikan bahwa sawah tersebut memiliki ketersediaan air sepanjang tahun. e. Pemetaan Tentatif Intensitas
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ARAHAN LAHAN SAWAH BERKELANJUTAN DI KABUPATEN SLEMAN

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ARAHAN LAHAN SAWAH BERKELANJUTAN DI KABUPATEN SLEMAN

Penajaman citra image fussion merupakan proses penggabungan antara saluran (band) pankromatik dengan saluran multispektral. Saluran pankromatik memiliki keunggulan dalam resolusi spasial sedangkan saluran multispektral memiliki keunggulan sensitifitas dalam membedakan objek karena julat panjang gelombang yang sempit pada tiap salurannya. Penajaman dilakukan untuk mempermudah proses interpretasi visual, Teknik penajaman spasial yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penajaman dengan metode HSV/HSI yang sesuai dengan persepsi mata manusia dalam menangkap warna. Penajaman spasial dilakukan pada pada tiga sumber data Citra Landsat dengan perekaman bulan Juni 2013, September 2013, dan Maret 2014 dengan komposit 652 untuk mempermudah identifikasi parameter pertanian dan komposit 564 untuk identifikasi satuan bentuklahan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Perencanaan Jalur Evakuasi Tsunami di Kecamatan Wateskabupatenkulonprogo

Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Perencanaan Jalur Evakuasi Tsunami di Kecamatan Wateskabupatenkulonprogo

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa penggunaan lahan yang paling dominan adalah sawah dan permukiman. Hal ini karena Daerah Wates merupakan daerah yang subur untuk ditanami padi karena merupakan dataran fluvial dan mendapat pasokan air dari Sungai Serang, sehingga irigasi untuk persawahan selalu ada meski di musim kemarau. Selain itu permukiman juga mendominasi karena Wates merupakan ibukota dari Kabupaten Kulonprogo sehingga banyak masyarakat yang tinggal disana karena lokasi yang dekat dengan fasilitas umum utamanya pendidikan, pemerintahan dan aktivitas perekonomian. Luasan yang penggunaan lahannya untuk sawah sebesar 2004 hektar yang berarti 47% dari total luas lahan di Wates digunakan untuk are persawahan. Permukiman menempati urutan kedua dengan luas 1.471 Ha yang berarti 35% dari luas total Kecamatan Wates digunakan untuk permukiman. Kelurahan paling padat penduduknya adalah Kelurahan Wates, sedangkan yang paling rendah disekitar pesisir Kecamatan Wates. Umumnya permukiman disekitar pesisir berpola mengelompok mengikuti jalan memanjang dari barat kearah timur sesuai jalan. Penggunaan lahan kebun juga banyak ditemukan di Wates. Umumnya kebun berada disekitar permukiman. Rata- rata kebun ditanami tanaman yang heterogen seperti kelapa di selingi dengan tanaman pisang. Luas pengggunaan lahan kebun sebesar 525 Ha, dengan demikian luas kebun 12% dari total luas lahan di Kecamatan Wates. Kemudian sisanya berupa lahan kosong, tubuh air dan tambak.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH   ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS.

ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH ANALISIS NILAI LAHAN DI KECAMATAN NGAWI DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS.

Semoga budi baik dari semua pihak-pihak kepada penyusun dibalas oleh Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

16 Baca lebih lajut

Teknik Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Potensi Kekeringan

Teknik Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Potensi Kekeringan

Tahun 2008 Kabupaten Kebumen dilanda kekeringan. Masyarakat kesulitan air bersih dan air irigasi menyusul menurunnya debit sumber air. Penggunaan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi daerah rawan kekeringan. Transformasi citra satelit Landsat TM untuk mendapatkan indeks kecerahan, indeks kebasahan, dan indeks vegetasi digunakan untuk mengetahui kondisi permukaan dalam hubungannya dengan kekeringan. Indeks kecerahan dan indeks kebasahan diperoleh dari modifikasi tasseled cap, sedangkan indeks vegetasi diperoleh dari nilai normalized difference vegetation index (NDVI). Parameter lain seperti kondisi akuifer, curah hujan serta jenis penggunaan lahan pertanian kering merupakan faktor dalam mengidentifikasi kekeringan. Data-data tersebut dilakukan sesuai dengan deskripsi zona wilayahnya guna mendapatkan kajian wilayah dalam hubungannya dengan kekeringan. Hasil dari penelitian ini mengidentifikasikan bahwa sebagian kecamatan di Kabupaten Kebumen yang meliputi Karanggayam, Karangsambung, Sadang, Alian, Puring, Klirong, Buluspesantren, Ambal, dan Mirit terdeteksi memiliki potensi kekeringan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pemenfaatan Sistem Informasi Geografi dalam Aplikasi Model Hidrologi untuk Prediksi Debit (Q) dan Debit Puncak (QP)

Pemenfaatan Sistem Informasi Geografi dalam Aplikasi Model Hidrologi untuk Prediksi Debit (Q) dan Debit Puncak (QP)

Total permukaan (mm) dinyatakan dengan hujan (mm) potensi retensi air (infiltrasi) maksimum (mm) dan bilangan kurva untuk AMC (rata-rata) CN. CN besarnya antara sampai nilainya dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, kelompok hidrologi kelembaban penutupan lahan dan pengelolaannya. Nilai CN spasial untuk setiap penggunaan lahan diperoleh dengan perhitungan rata-rata tertimbang seperti dijelaskan pada 2 .

10 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Mataair Di Kabupaten Sleman

Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Mataair Di Kabupaten Sleman

Mataair dapat diidentifikasi dari pendekatan bentanglahan terpilih menggunakan parameter fisik lahan berupa lereng, pola aliran, penggunaan lahan, bentuklahan, dan pola kelurusan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui lokasi pemunculan mataair di Kabupaten Sleman berdasarkan parameter fisik lahan menggunakan citra penginderaan jauh dan memetakan serta menganalisis sebaran mataair menggunakan sistem informasi geografis.Citra ASTER VNIR resolusi 15 meter hasil penajaman HSV digunakan untuk mempertajam kontras obyek. Analisis hillshade ASTER GDEM resolusi 30 meter digunakan untuk interpretasi morfologi. Bantuan data sekunder seperti Peta Geologi, Peta Rupabumi, dan Peta Tanah diperlukan untuk identifikasi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisis Kerawanan Tanah Longsor dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh di Kabupaten Bogor

Analisis Kerawanan Tanah Longsor dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh di Kabupaten Bogor

Di antara berbagai permasalahan lingkungan, permasalahan bencana alam terutama tanah longsor, akhir-akhir ini mendapat perhatian besar sehubungan dengan berbagai kejadian bencana longsor yang menimbulkan kerugian besar berupa korban meninggal, kerusakan lingkungan permukiman, hilangnya harta benda masyarakat, serta kerusakan sarana dan prasarana penunjang kehidupan manusia dan aktivitasnya. Tingginya frekuensi bencana longsor dan besarnya kerugian yang ditimbulkan dari bencana tersebut telah menyadarkan kita semua akan perlunya reposisi perilaku manusia dalam mengelola lingkungan hidupnya. Upaya reposisi perilaku manusia tersebut selanjutnya perlu diletakkan pada sebuah kerangka pikir atau pendekatan yang memungkinkan seluruh pihak untuk saling bersinergi dalam merevitalisasi ruang kehidupannya agar dapat mewujudkan ruang yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan (Dardak 2008). Zonasi atau pembagian pola ruang berdasarkan RTRW Kabupaten Bogor tahun 2005-2025 dapat dilihat pada Gambar 10 dan Tabel 16.
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects