Top PDF Aspek Yuridis Tentang Upaya Hukum Luar Biasa (Peninjauan Kembali) Terhadap Putusan Yang Berkekuatan Tetap

Aspek Yuridis Tentang Upaya Hukum Luar Biasa (Peninjauan Kembali) Terhadap Putusan Yang Berkekuatan Tetap

Aspek Yuridis Tentang Upaya Hukum Luar Biasa (Peninjauan Kembali) Terhadap Putusan Yang Berkekuatan Tetap

Suatu putusan yang dijatuhkan oleh hakim terhadap perkara perdata belumtentu dapat diterima oleh para pihak yang berperkara, sebab kadangkala putusan hakim mengandung cacat yuridis akibatnya pihak yang dinyatakan kalah enggan menerima putusan tersebut, karena dianggap tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau tidak mencerminkan rasa keadilan. Selain upaya hukum banding dan kolosi yang dapat digunakan oleh para pencari keadilan untuk membantah puutsan pengadilan yakni upaya hukum peninjauan kembali sebagaimana ditegaskan dalam pasal 21 UU No. 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman bahwa apabila terdapat hal-hal atau keadaan yang ditentukan dengan undang-undangan terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dimintakan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung, baik perkara perdata maupun pidana oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pasal 63 UU No. 3 tahun 2009 telah diatur mengenai alasan-alasan yangd ijadikan dalam permohonan peninjauan kembali namun jika diperhatikan secara seksama alasan-alasan yang ada diantaranya seperti yang dirumuskan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ASPEK YURIDIS TENTANG UPAYA HUKUM LUAR BIASA (PENINJAUAN KEMBALI) TERHADAP PUTUSAN YANG BERKEKUATAN TETAP | NUR | Legal Opinion 5970 19877 1 PB

ASPEK YURIDIS TENTANG UPAYA HUKUM LUAR BIASA (PENINJAUAN KEMBALI) TERHADAP PUTUSAN YANG BERKEKUATAN TETAP | NUR | Legal Opinion 5970 19877 1 PB

Suatu putusan yang dijatuhkan oleh hakim terhadap perkara perdata belumtentu dapat diterima oleh para pihak yang berperkara, sebab kadangkala putusan hakim mengandung cacat yuridis akibatnya pihak yang dinyatakan kalah enggan menerima putusan tersebut, karena dianggap tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau tidak mencerminkan rasa keadilan. Selain upaya hukum banding dan kolosi yang dapat digunakan oleh para pencari keadilan untuk membantah puutsan pengadilan yakni upaya hukum peninjauan kembali sebagaimana ditegaskan dalam pasal 21 UU No. 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman bahwa apabila terdapat hal-hal atau keadaan yang ditentukan dengan undang-undangan terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dimintakan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung, baik perkara perdata maupun pidana oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pasal 63 UU No. 3 tahun 2009 telah diatur mengenai alasan-alasan yangd ijadikan dalam permohonan peninjauan kembali namun jika diperhatikan secara seksama alasan-alasan yang ada diantaranya seperti yang dirumuskan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

BAB III PENELITIAN PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN (EKSEKUSI) YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP TERHADAP TINDAK PIDANA UMUM BERUPA PEMIDANAAN PENJARA

BAB III PENELITIAN PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN (EKSEKUSI) YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP TERHADAP TINDAK PIDANA UMUM BERUPA PEMIDANAAN PENJARA

Atas putusan Majelis Hakim Agung Republik Indonesia Nomor : 92K/ Pid/2001 tanggal 22 Juni 2001, pada tanggal 20 September 2002, Nico Nander Kunarto mengajukan upaya hukum luar biasa/grasi dan mengajukan permohonan penangguhan pelaksanaan eksekusi yang dijatuhkan ke Pengadilan Negeri Bandung, kemudian pengadilan mengabulkan permohonan tersebut dengan mengeluarkan penetapan Nomor : 132/Pid/B/1997/PN.Bdg tanggal 30 September 2002 yang isinya bahwa hukuman pidana terhadap terpidana belum dapat dijalankan sebelum ada putusan grasi dari Presiden Republik Indonesia dan terpidana tetap berada di luar tahanan, selain itu terpidana mengajukan permohonan peninjauan kembali.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Terhadap Upaya Hukum Luar Biasa Peninjauan Kembali (Pk) Oleh Jaksa Dalam Sistem Hukum Acara Pidana Indonesia

Analisis Yuridis Terhadap Upaya Hukum Luar Biasa Peninjauan Kembali (Pk) Oleh Jaksa Dalam Sistem Hukum Acara Pidana Indonesia

Merujuk pada mekanisme hukum acara pidana dimana dalam ketentuan pasal 1 angka 12 KUHAP yang menyatakan “upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan berupa perlawanan atau banding atau kasasi atau hak terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Dalam ketentuan lain yaitu dalam ketentuan Pasal 263 yang dinyatakan “terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh putusan tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala macam tuntutan, Terpidana dan ahli warisnya dapat mengajukan permintaan Peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Serta Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M.01. PW.07.03 tahun 1982 tentang pedoman pelaksanaan hukum acara pidana dengan jelas dinyatakan bahwa pelaksanaan atas hak Peninjauan Kembali hanya ditujukan kepada terpidana atau ahli warisnya dalam ketentuan-ketentuan itu disebut sebagai “pemohon” (merujuk sebagaimana ketentuan Pasal 264 (1), 264 (4), 265 (2), 263 (3), 265 (4), 266 (2) huruf a, 266 (2) huruf b, dan 268 (2)). Dari kesemua ketentuan pasal sebagaimana tersebut jika ditafsirkan maka akan sangat jelas makna dari peninjuan kembali itu adalah merupakan hak terpidana atau ahli warisnya bukan hak dari jaksa sebagai penuntut umum.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Terpidana Error In Persona Setelah Putusan Berkekuatan Hukum Tetap Ditinjau dari Kuhap UU Nomor 8 Tahun 1981

Pertanggungjawaban Terpidana Error In Persona Setelah Putusan Berkekuatan Hukum Tetap Ditinjau dari Kuhap UU Nomor 8 Tahun 1981

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pertanggungjawaban Negara dalam menjamin hak terpidana yang salah (error in persona) karena cacatnya mekanisme tata beracara hukum acara pidana di Indonesia dan upaya apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya proses hukum pidana yang cacat secara materiil maupun formil oleh penegak hukum di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normative, disimpulkan: 1. Berpatokan dengan ketentuan perundang-undangan mengenai tata cara mekanisme bersidang, dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pengadilan tidak bisa dipungkiri bahwa peran dari adanya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana sebagai pedoman untuk menerapkan hukum pidana materil di Indonesia saat ini sudah tidak sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat di Indonesia, terlebih khusus dalam Pasal 95 ayat (1) KUHAP, yang penerapannya terdapat dalam Pasal 90 PP Nomor 27 Tahun 1983 jo PP Nomor 58 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana, dalam hal ini perihal ganti kerugian terhadap korban error in persona. 2. Penegak hukum di Indonesia sekarang kurang akan pemahaman mengenai penerapan peraturan perundang-undangan, khususnya dalam hal ini dalam tata cara pelaksanaan proses beracara hukum pidana, dan bertolak dari ini masalah moralitas dari penegak hukum juga menjadi hal sangat penting, karena adapula penegak hukum yang melaksanakan proses hukum acara pidana dengan sewenang-wenang tanpa melihat sisi objektifitas dari kebenaran atau fakta dalam tindak pidana yang terjadi, dan berakibat fatal
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Eksekusi Terhadap Putusan Pengadilan Tata USAha Negara Yang Berkekuatan Hukum Tetap

Eksekusi Terhadap Putusan Pengadilan Tata USAha Negara Yang Berkekuatan Hukum Tetap

Dalam arti negatif, hakim tidak boleh memutus perkara yang pernah diputus sebelumnya antara para pihak yang sama serta mengenai pokok perkara yang sama. Untuk dapat mengajukan tangkisan bahwa suatu putusan mempunyai kekuatan mengikat (exceptie van gewijsde zaak), perkara kedua yang diajukan harus menyangkut hal yang sama dan alasan yang sama; 5) Teori kekuatan hukum yang pasti, yaitu suatu putusan memperoleh kekuatan hukum yang pasti atau tetap (in kracht van gewijsde) apabila tidak ada lagi upaya hukum biasa tersedia. Dengan memperoleh kekuatan hukum yang pasti, putusan itu tidak lagi dapat diubah, sekalipun oleh pengadilan yang lebih tinggi, kecuali dengan upaya hukum luar biasa. Suatu putusan hakim sekalipun terdiri dari motivasi putusan atau pertimbangan hukum dan diktum atau amar, tetapi merupakan kesatuan, sehingga kekuatan mengikat dari pada putusan itu pada umumnya tidak terbatas pada diktum saja, tetapi meliputi juga bagian putusan yang merupakan dasar dari putusan, tetapi tidak meliputi penetapan mengenai peristiwa meskipun telah dikonstatir berdasarkan alat-alat bukti tertentu, dalam perkara terpisah peristiwa tersebut masih dapat disengketakan.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM YANG BERKEKUATAN HUKUM TETAP TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI KASUS NO. 281/Pid.B/2013/PN.TK

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM YANG BERKEKUATAN HUKUM TETAP TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI KASUS NO. 281/Pid.B/2013/PN.TK

Putusan hakim adalah bersifat sangat penting, karena didalamnya terdapat sebuah nilai yang dapat bersentuhan langsung dengan hak-hak asasi manusia. Pada prinsipnya hanya putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang dapat dijalankan. Suatu putusan itu dapat dikatakan telah mempunyai kekuatan hukum tetap apabila dikeluarkan melalui sebuah persidangan yang terbuka dan transparan dan tidak adanya upaya hukum lain yang diajukan, selain itu putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap adalah putusan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tulisan dengan disertai berbagai prasyarat sebagaimana telah diatur dalam pasal 197 KUHAP ayat 1 diantaranya huruf F : Pasal peraturan perundang- undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa, huruf H : Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM YANG BERKEKUATAN HUKUM TETAP TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI KASUS NO. 281/Pid.B/2013/PN.TK)

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM YANG BERKEKUATAN HUKUM TETAP TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI KASUS NO. 281/Pid.B/2013/PN.TK)

Putusan hakim adalah bersifat sangat penting, karena didalamnya terdapat sebuah nilai yang dapat bersentuhan langsung dengan hak-hak asasi manusia. Pada prinsipnya hanya putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang dapat dijalankan. Suatu putusan itu dapat dikatakan telah mempunyai kekuatan hukum tetap apabila dikeluarkan melalui sebuah persidangan yang terbuka dan transparan dan tidak adanya upaya hukum lain yang diajukan, selain itu putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap adalah putusan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tulisan dengan disertai berbagai prasyarat sebagaimana telah diatur dalam pasal 197 KUHAP ayat 1 diantaranya huruf F : Pasal peraturan perundang- undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa, huruf H : Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Eksekusi terhadap Putusan Hakim yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap dalam Perkara Faraid di Mahkamah Syar\u27iyah Jantho

Eksekusi terhadap Putusan Hakim yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap dalam Perkara Faraid di Mahkamah Syar\u27iyah Jantho

Abstrak - Pasal 54 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menjelaskan EDKZD ³3HODNVDQDDQ SXWXVDQ SHQJDGLODQ dalam perkara perdata dilakukan oleh panitera dan juru VLWD GLSLPSLQ ROHK .HWXD 3HQJDGLODQ ´ 1DPXQ Sada kenyataannya ada para pihak yang menolak melaksanakan kewajibannya sebagaimana termuat dalam putusan pengadilan meskipun putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis putusan hakim dalam perkara IDUDLG GL 0DKNDPDK 6\DU¶L\DK -DQWKR VHKLQJJD WLGDN GDSDW GLHNVHNXVL hambatan dalam melakukan eksekusi dan upaya yang dilakukan untuk mencegah hambatan pelaksanaan eksekusi tersebut. Metode Penelitian ini adalah yuridis empiris melalui pengambilan data lapangan dan kepustakaan. Penelitian lapangan dimaksudkan untuk memperoleh data primer. Penelitian kepustakaan sebagai data sekunder dilakukan dengan cara mempelajari buku-buku, peraturan perundang-undangan dan literatur yang ada relevansi dengan masalah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan Hakim hanya mengikuti prosedur penegakan hukum formil dan materil sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Majelis Hakim kurang menggali hukum nilai-nilai hukum adat yang berlaku dalam masyarakat. Hambatan dalam melakukan eksekusi karena pihak tergugat memanfaatkan celah hukum mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri. Upaya yang dilakukan untuk mencegah hambatan tersebut dengan memberikan pemahaman hukum kepada masyarakat melalui meja informasi tentang proses hukum dalam perkara perdata.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Terhadap Kewenangan Luar Biasa Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Dalam Memberikan Putusan

Tinjauan Yuridis Terhadap Kewenangan Luar Biasa Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Dalam Memberikan Putusan

Majelis  Hakim  yang  berbeda,  atau  apakah  berkas  perkara  digabung  dalam  satu  nomor  perkara  saja  atau  apakah  nomor  perkaranya  berbeda? Dengan  majelis  hakim  yang berbeda, bukan tidak mungkin  putusannya juga  berbeda. Nomor perkara yang  berbeda  akan  memiliki  konsekuensi  kepastian  yang  berbeda  pula.   Selain  itu,  pertimbangan  memasukkan  irah‐irah  dalam  putusan  KPPU  adalah  pertimbangan  dari  aspek  keadilan.  Kalau  murni  hukum  persaingan  adalah  aspek  ekonomi,  yaitu  aspek  efisiensi.  Pertimbangan  KPPU  mengenai  irah‐irah  ini  ada  dua  yaitu, pertimbangan teknis  dan  substansi.  Pertimbangan  teknis adalah  agar putusan  KPPU  ketika  diajukan ke  Pengadilan untuk dieksekusi,  putusan tersebut  sudah  tidak  ada  persoalan  karena  sudah  ada  irah‐irah  jadi  hakim  tinggal  mengesahkan  saja.  Pertimbangan substansinya adalah mengenai persoalan keadilan. Kalau murni hukum  persaingan  itu  adalah  aspek  ekonomi.  Dengan  memasukkan  irah‐irah,  maka  filosofi  keadilan masuk dalam rumusan. Namun kemudian Mahkamah Agung mengatakan hal  tersebut  tidak  bisa  karena  KPPU  bukan  Pengadilan.  Hal  ini  perlu  diklarifikasi  bahwa  apabila  KPPU  bukan  Pengadilan,  apakah  KPPU  mengabaikan  aspek  Pengadilan?  Namun  KPPU  tetap  ingin  memasukkan  aspek  pengadilan.      Apabila kita  melihat  Pasal 44 dan Pasal  45  Undang‐undang  No. 5  Tahun 1999, pasal‐ pasal tersebut  banyak berbicara kaitannya dengan peradilan. Masalah yang dihadapi  adalah  Undang‐undang  No.5  Tahun  1999  memberikan  kewenangan  yang  besar  kepada  KPPU,  dimana  dalam  undang‐undang  tersebut  terdapat  aspek  pidana  dan  aspek  administrasi  sehingga  di  dalam  pelaksanaannya  pun  harus  ditetapkan  suatu  batasan  apakah  KPPU  merupakan  suatu  badan  peradilan  dalam  arti  kekuasaan  kehakiman yang dimaksud Pasal 24 dan seterusnya dari Undang‐Undang No. 4 Tahun  2004  tentang  Kekuasaan Kehakiman.  KPPU  bukan  suatu  peradilan seperti  peradilan  pajak  yang  jelas  pegangannya  ke  Pengadilan  Tata  Usaha  (TUN)  atau  Peradilan  Hak  Asasi  Manusia  (HAM)  yang  jelas  pegangannya  ke  Pengadilan  Negeri.    KPPU  benar‐benar  merupakan  lembaga  yang  mempunyai  kewenangan  yang  sangat  luas  sekali  tetapi  di  dalam  kewenangan  yang  luas  itu  ada  upayaupaya  yang  disediakan  terkait  dengan  badan  peradilan.  Ini  merupakan  kecenderungan  dari  perundang‐undangan  kita  akhir‐akhir  ini.  Misalnya  dalam  undang‐undang  Perburuhan, disebutkan mengenai Peradilan Perburuhan yang terdiri dari hakim karir  ditambah  dengan  hakim  ad‐hoc.  Begitu juga  muncul  perkara  lingkungan hidup yang  pada akhirnya akan dikaitkan dengan pengadilan. Jadi banyak badan‐badan pemutus  sengketa  yang  bukan  badan  peradilan,  yang  secara  formal  organisatoris  sebetulnya  bukan merupakan badan peradilan.  
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS PELAKSANAAN UPAYA PAKSA PUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP.

EFEKTIFITAS PELAKSANAAN UPAYA PAKSA PUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP.

Bertitik tolak pada permasalahan yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa pelaksanaan upaya paksa sebagai penyangga (baca: tulang belakang) agar putusan PTUN yang telah berkekuatan hukum tetap dapat dilaksanakan masih menjadi kelemahan kontroversial dan fundamental bagi efektifnya penegakan hukum di bidang administrasi/tata usaha negara. Hal ini tentu saja menjadikan pelaksanaan upaya paksa tersebut menarik untuk dikaji lebih lanjut dari perspektif keilmuan, terutama dari aspek ilmu hukum.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh putusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap. Akan tetapi, setiap

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh putusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap. Akan tetapi, setiap

Apalagi, permasalahan hukum yang didakwakan kepada Sudjiono Timan dianggap sebagai perbuatan tindak pidana korupsi yang telah menimbulkan banyak kerugian keuangan negara. Tindak pidana korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime), maka sudah seharusnya dalam penanganannya juga dilakukan secara luar biasa, termasuk dalam menerima permohonan upaya hukum PK yang dimohonkan oleh ahli warisnya.

25 Baca lebih lajut

BAB III. Gambaran Umum tentang pelaksanaan Upaya Hukum Luar Biasa. Peninjauan Kembali/ PK terhadap Putusan PK yang telah terjadi di

BAB III. Gambaran Umum tentang pelaksanaan Upaya Hukum Luar Biasa. Peninjauan Kembali/ PK terhadap Putusan PK yang telah terjadi di

Terhadap putusan Kasasi MA No. 08/K/N/2003 tanggal 12 Mei 2003 tersebut, PT. Koexim Mandiri Finance dan PT. Salindo Perdana Finance serta para kreditur PT. BFI Finance Indonesia Tbk., PT. Koexim mandiri Finance, PT. Salindo Perdana Finance, PT. Equity Development Finance (dahulu PT Gajah Surya Finance), PT. Clipan Finance Indonesia Tbk., PT. Global Multi Financindo (dahulu PT. Swa Dinamika Bakri Finance), PT. Saseka Gelora Finance mengajukan Permohonan Kembali.

26 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK LUAR KAWIN BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010

KAJIAN YURIDIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK LUAR KAWIN BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010

Menyatakan dengan sebenarnya, bahwa karya tulis dengan judul : Kajian Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Luar Kawin Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 ; adalah hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Penulis bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Terhadap Aspek Kepastian Hukum Dalam Proses Pendaftaran Tanah

Tinjauan Yuridis Terhadap Aspek Kepastian Hukum Dalam Proses Pendaftaran Tanah

12. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara seluruhnya yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 13. Teristimewa untuk keluarga penulis yaitu kedua orang tua penulis beserta

5 Baca lebih lajut

Kajian Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Luar Kawin Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010

Kajian Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Luar Kawin Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010

Menyatakan dengan sebenarnya, bahwa karya tulis dengan judul : Kajian Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Luar Kawin Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 ; adalah hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Penulis bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

16 Baca lebih lajut

Kajian Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Luar Kawin Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010

Kajian Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Luar Kawin Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010

Menimbang bahwa pokok permasalahan hukum mengenai anak yang dilahirkan di luar perkawinan adalah mengenai makna hukum (legal meaning) frasa “yang dilahirkan di luar perkawinan”. Untuk memperoleh jawaban dalam perspektif yang lebih luas perlu dijawab pula permasalahan terkait, yaitu permasalahan tentang sahnya anak. Secara alamiah, tidaklah mungkin seorang perempuan hamil tanpa terjadinya pertemuan antara ovum dan spermatozoa baik melalui hubungan seksual (coitus) maupun melalui cara lain berdasarkan perkembangan teknologi yang menyebabkan terjadinya pembuahan. Oleh karena itu, tidak tepat dan tidak adil manakala hukum menetapkan bahwa anak yang lahir dari suatu kehamilan karena hubungan seksual di luar perkawinan hanya memiliki hubungan dengan perempuan tersebut sebagai ibunya. Adalah tidak tepat dan tidak adil pula jika hukum membebaskan laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang menyebabkan terjadinya kehamilan dan kelahiran anak tersebut dari tanggung jawabnya sebagai seorang bapak dan bersamaan dengan itu hukum meniadakan hak-hak anak terhadap lelaki tersebut sebagai bapaknya. Lebih-lebih manakala berdasarkan perkembangan teknologi yang ada memungkinkan dapat dibuktikan bahwa seorang anak itu merupakan anak dari laki-laki tertentu. Akibat hukum dari peristiwa hukum kelahiran karena kehamilan, yang didahului dengan hubungan seksual antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki, adalah hubungan hukumyang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban secara bertimbal balik, yang subjek hukumnya meliputi anak, ibu, dan bapak.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

kajian yuridis upaya hukum kasasi oleh penuntut umum terhadap putusan bebas (vrijsvraak) dalam sistem peradilan pidana.

kajian yuridis upaya hukum kasasi oleh penuntut umum terhadap putusan bebas (vrijsvraak) dalam sistem peradilan pidana.

Sampai saat ini pula secara teoritikal normatif pengaturan akan substansi putusan bebas ( vrijspraak ) sehubungan dengan upaya hukum kasasi bagi Jaksa Penuntut Umum masih menunjukkan adanya norma yang kabur atau norma yang tidak jelas ( unclear norm/vague van normen ) dan juga terjadinya konflik norma ( conflict of norm/geschild van normen ). Dengan kata lain, mengenai keberadaan pengaturan terhadap putusan bebas terkait dengan upaya hukum kasasi bagi Jaksa Penuntut Umum tersebut, tidak diatur secara pasti dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sehingga secara landasan normatif yuridikal terjadi kekosongan norma pengaturan ( vacuum of norm/lemeeten van normen ).
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

DIKTAT ASPEK YURIDIS HUKUM WARIS ISLAM

DIKTAT ASPEK YURIDIS HUKUM WARIS ISLAM

19 3. Jika selain orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapat lima perenamnya. Adapun saudara-saudara itu tidak mendapat bagain harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalm Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya timbul pertanyaan apa hikmah dari penghalang saudara pewaris terhadap ibu mereka artinya tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu sepertiga bagian, sedangkan apabila ada saudara sekandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut karena ayahlah yang menjadi wali dari pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidak demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Terhadap Aspek Kepastian Hukum Dalam Proses Pendaftaran Tanah

Tinjauan Yuridis Terhadap Aspek Kepastian Hukum Dalam Proses Pendaftaran Tanah

Pasal 19 UUPA dengan tegas menginstruksikan kepada Pemerintah untuk menyelenggarakan pendaftaran tanah yang bertujuan untuk memberikan jaminan kepastian hukum, sehingga pelaksanaannya diimplementasikan dalam PP No. 10 Tahun 1961 yang kemudian disempurnakan dengan PP No. 24 Tahun 1997. Akan tetapi dalam pelaksanaannya di masyarakat, masih banyak masyarakat belum mengerti tentang prinsip-prinsip dasar untuk mewujudkan kepastian hukum dalam pendaftaran tanah, serta pelaksanaan kegiatan administrasi pertanahan dalam pendaftaran tanah, dan bentuk-bentuk pelaksanaan pendaftaran tanah untuk pertama kali.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects