Top PDF Bab 2 Pengelolaan Keuangan Negara dan Kekuasaan Kehakiman

Bab 2 Pengelolaan Keuangan Negara dan Kekuasaan Kehakiman

Bab 2 Pengelolaan Keuangan Negara dan Kekuasaan Kehakiman

Pengelolaan keuangan negara akan berjalan efektif dan eisien apabila terdapat perencanaan yang baik. Oleh karena itu, Presiden Republik Indonesia selaku kepala pemerintahan akan menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) setiap tahun. RAPBN tersebut kemudian diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk dibahas bersama dengan memperhatikan pendapat Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk mata anggaran yang berkaitan dengan daerah. RAPBN yang telah disetujui oleh DPR kemudian menjadi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dijadikan patokan oleh pemerintah dalam menjalankan berbagai program pembangunan dalam jangka waktu satu tahun.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

RPP PPKN K13 Kelas XII Semester 1 Terbaru RPP 2 PKN XII sem 1

RPP PPKN K13 Kelas XII Semester 1 Terbaru RPP 2 PKN XII sem 1

Penilaian keterampilan dilakukan guru dengan melihat kemampuan peserta didik dalam presentasi, kemampuan bertana, kemampuan menjawab pertanyaan atau mempertahankan argumentasi kelompok, kemampuan dalam memberikan masukan/saran pada saat menyampaikan hasil Pengelolaan Kekuasaan Negara dan Kekuasaan Kehakiman. Lembar penilaian penyajian dan laporan hasi tellah dapat menggunakan format di bawah ini, dengan ketentuan aspek penilaian dan rubriknya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta keperluan guru.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Bagian Bina Program - Pemerintah Kota Surabaya

Bagian Bina Program - Pemerintah Kota Surabaya

Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sabagai bagian dari kekuasaan pemerintahan UU No 17 Thn 2003 ttg Keuangan Negara Pasal 6 Kementerian [r]

13 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Kekuasaan Kehakiman 1. Kekuasaan Kehakiman - ADE YIYIT SUTANTO BAB II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Kekuasaan Kehakiman 1. Kekuasaan Kehakiman - ADE YIYIT SUTANTO BAB II

Kekuasaan Kehakiman adalah ciri pokok dari negara hukum (rechtsstaaat) dan prinsip the rule of law. Dalam catatan sejarah, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, perkembangan lembaga kekuasaan kehakiman dapat dikatakan sangat bergantung pada keinginan baik (political will) pembuat Undang-undang atau rezim yang berkuasa. Desain kelembagaan maupun status dan kedudukannya amat ditentukan oleh siapa yang memerintah. Jika sang penguasa menghendaki agar lembaga kekuasaan kehakiman berada di bawah pengaruhnya, kekuasaan kehakiman pun tidak dapat berbuat banyak. Hal itu semakin mengkristalkan jika konstitusi tidak secara eksplisit menjamin kemandirian dan imparsialitas kekuasaan kehakiman (Komisi Yudisial, 2014:4).
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

PENYELENGGARAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN DI I

PENYELENGGARAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN DI I

Putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim MK sangat bervariasi mulai dari dikabulkan, dikabulkan sebagian, ditolak, hingga tidak dapat diterima. Tentunya putusan MK tersebut berimplikasi yuridis dalam penyelenggaraan kekuasaan kehakiman di Indonesia. Kekuasaan kehakiman disini adalah sebagaimana dimaksud dalam BAB IX Pasal 24 UUD 1945 berikut peraturan perundang-undangan organiknya yang menjadi dasar pengaturan Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Pajak.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

REKONSTRUKSI KEWENANGAN KONSTITUSIONAL KOMISI YUDISIAL | Edy Subiyanto | Jurnal Media Hukum 1319 3643 1 SM

REKONSTRUKSI KEWENANGAN KONSTITUSIONAL KOMISI YUDISIAL | Edy Subiyanto | Jurnal Media Hukum 1319 3643 1 SM

Latar belakang pembentukan Komisi Yudisial merupakan bagian penting dari komitmen bangsa untuk dilakukannya reformasi multi dimensional dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya dan hukum, serta, keprihatinan yang mendalam atas praktik peradilan yang tidak mencerminkan moralitas keadilan. Agenda besar reformasi yang bergulir di tahun 1999, bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih kuat adil dan sejahtera. Tugas dan wewenang Komisi Yudisial di beberapa negara pada intinya yaitu mengusulkan atau merekomendasikan calon hakim agung dan melakukan pengawasan terhadap para hakim. Tujuan utama dibentuknya Komisi Yudisial adalah (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas- luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal, (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (me- diator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah, (3) Dengan adanya Komisi Yudisial, tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman akan semakin tinggi dalam banyak hal, baik yang menyangkut rekrutmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman, (4) Terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan, karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus, yaitu Komisi Yudisial, dan (5) Dengan adanya Komisi Yudisial, kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga, karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik, sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

soal ulangan pkn bab 1 kelas x semester

soal ulangan pkn bab 1 kelas x semester

2. Kekuasaan membentuk undang-undang disebut juga kekuasaan legislatif, setelah dilakukan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, DPR mempunyai kedudukan yang lebih kuat dalam pengelolaan kekuasaan negara. DPR secara tegas dinyatakan sebagai pemegang kekuasaan untuk membentuk undang- undang. Hal tersebut diatur dalam …

3 Baca lebih lajut

A. PENDAHULUAN - PROBLEMATIKA PENEGAKAN HUKUM PIDANA DAN UPAYA MENGATASINYA

A. PENDAHULUAN - PROBLEMATIKA PENEGAKAN HUKUM PIDANA DAN UPAYA MENGATASINYA

Berbicara masalah penegakan hukum orang awam cenderung mengartikan hanya penegakan hukum di bidang hukum pidana. Pernyataan seperti itu memang tidak salah, sebab banyak kasus yang diinformasikan dalam penegakan hukumnya yang disampaikan kepada masyarakat baik melalui surat kabar, televisi, radio, majalah dan lain-lain di dominasi kasus-kasus atau perkara- perkara pidana, seperti pembunuhan, korupsi, pornografi, money loundring, pencurian, penggelapan, pemerkosaan, penganiayaan dalam rumah tangga (KDRT), pencemaran nama baik, pemerasan, penyuapan dan lain-lain. Sebenarnya penegakan hukum itu tidak hanya hukum pidana tetapi juga meliputi hukum perdata, hukum tata negara, hukum administrasi negara, hukum ketenagakerjaan dan lain-lain. Namun yang berkaitan dengan ini sedikit sekali yang menjadi sorotan publik atau masyarakat. Padahal tidak kalah pentingnya dengan kasus-kasus pidana. Dalam penulisan ini hanya membatasi pada tataran penegakan hukum di bidang hukum pidana yang lebih dikenal sistem peradilan pidana.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

kekuasaan kehakiman dalam perspektif pol

kekuasaan kehakiman dalam perspektif pol

Argumentasi tersebut sejalan dengan Zaenal Fanani yang mengemukakan bahwa pada hakikatnya cita-cita untuk menciptakan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri merupakan cita-cita universal. Hal tersebut dapat dilihat dalam Basic Principles On Independence of The Judiciary, yang diajukan oleh Majelis Umum PBB (Resolusi 40/32 tanggal 29 November 1985 dan resolusi 40/146 tanggal 13 Desember 1985). Juga dapat dilihat pada Beijing Statement Of Principles Of The Independence The Law Asia Region Of The Judiciary di Manila tanggal 28 Agustus 1997, dimana di dalamnya ditegaskan bahwa:
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

40  Contoh Soal PKn Kelas 7 SMP MTs dan Kunci Jawabnya

40 Contoh Soal PKn Kelas 7 SMP MTs dan Kunci Jawabnya

Ciri ciri Negara hukum • Supremasi hokum dalam kehidupan Negara • Pembagian kekuasaan Negara • Kekuasaan kehakiman yang bebas dan tidak memihak • Jaminan perlindungan hak asasi manusia[r]

9 Baca lebih lajut

EKSISTENSI PELAKSANAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN DI NEGARA INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN SEBAGAI PELAKSANAAN AZAS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS

EKSISTENSI PELAKSANAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN DI NEGARA INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN SEBAGAI PELAKSANAAN AZAS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS

Garis besar dalam skripsi ini, kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan untuk memeriksa dan mengadili serta memberikan putusan atas perkara-perkara yang diserahkan kepadanya untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan perundang-undangan. Badan yang memegang kekuasaan kehakiman dan peradilan ini harus dapat bekerja dengan baik dalam tugas-tugasnya sehingga dihasilkan putusan-putusan yang obyektif dan tidak memihak dengan senantiasa menjunjung tinggi hukum dan keadilan karenanya badan ini harus bebas dari pengaruh kekuasaan lain atau pengaruh kekuasaan pemerintahan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

OPTIMALISASI PENGAWASAN TERHADAP HAKIM S

OPTIMALISASI PENGAWASAN TERHADAP HAKIM S

Secara normatif, amandemen ketiga UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3) meneُaskan bahwa “Neُara Indonesia adalah neُara hukum”. Kete ntuan ini menunjukkan bahwa negara Indonesia bukanlah negara yang didasarkan pada kekuasaan semata, tetapi negara yang dilaksanakan berdasarkan atas hukum. Prinsip penting dalam negara hukum adalah adanya jaminan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak luar untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan kepastian dan keadilan hukum yang mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. Namun dalam konteks supremasi hukum, pengawasan merupakan salah satu unsur esensial dalam mewujudkan pemerintah yang bersih, sehingga siapapun aparatur penegak hukum tidak boleh menolak untuk diawasi termasuk hakim. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 menyebutkan bahwa Kekuasaan kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, namun dalam ketentuan UUD 1945 kedudukan Komisi Yudisial dalam lingkup kekuasaan kehakiman berada dengan kewenangan ( authority/gezag ) bukan dengan kekuasaan ( Power/macht ). Hakim disebut sebaُai “wakil Tuhan di dunia” dikarenakan kewenanُannya yanُ sanُat besar dalam hal menentukan hak dan kewajiban, nasib orang, bahkan nyawa orang. Hakim sebagai profesi yang mulia, terhormat, yang hanya layak, sah, dan absah diberikan kepada mereka yang memiliki integritas serta merupakan profesi yang tidak boleh timpang, itu sebabnya hakim tidak dapat dipegang oleh sembarang orang. Untuk itulah, perlu adanya pengawasan sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran kode etik bahkan kejahatan jabatan. Namun di Indonesia saat ini kita sepertinya terpaksa harus mengakui bahwa masyarakat tidak lagi memiliki pandangan yang ideal terhadap hakim. Hampir dimana-mana dapat dijumpai kerendahan budi makin merajalela, yang semakin menyengsarakan masyarakat banyak. Bukan merupakan hal yang tabu lagi, dunia peradilan dijadikan bahan produksi penghasil uang oleh hakim. Hal ini tentu sangat sulit dirubah hanya dengan undang-undang, karena undang-undang hanya sebagai bagian dari upaya perubahan. Tidak hanya terbatas pada kebijakan hakim sebagai profesi namun juga pada hakim sebagai individu. Untuk itu, perlu adanya perbaikan etika, moral, dan teologal dalam diri seorang hakim. Penulisan karya tulis ilmiah menggunakan metode normatif-empiris dengan bentuk kualitatif, menggunakan pendekatan hukum historis, hukum sinkronisasi, dan hukum eksplanasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis yang bersifat deduktif. Karya tulis ilmiah ini merupakan sebuah karya tulis yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Eksistensi Grasi dalam Perspektif Hukum Pidana

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Eksistensi Grasi dalam Perspektif Hukum Pidana

Amandemen Undang-undang Dasar 1945, teori equality before the law termaktub dalam Pasal 27 ayat (1) yang menyatakan “Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Teori dan konsep equality before the law seperti yang dianut oleh Pasal 27 ayat (1) Amandemen Undang-undang Dasar 1945 tersebut menjadi dasar perlindungan bagi warga negara agar diperlakukansama di hadapan hukum dan pemerintahan. Cabang kekuasaan eksekutif adalah cabang kekuasaan yang memegang kewenangan administrasi negara yang tertinggi. Dalam hubungan ini, di dunia dikenal adanya tiga sistem Pemerintahan . Ide negara hukum, terkait dengan konsep the rule of law dalam istilah Inggris yang dikembangkan oleh A.V. Dicey. Tiga ciri penting setiap negara hukum atau yang disebutnya dengan istilah the rule of law oleh A.V. Dicey, yaitu: 1) supremacy of law; 2) equality before the law; 3) due process of law.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Bab 3 Sistem Hukum dan Peradilan Di Indonesia

Bab 3 Sistem Hukum dan Peradilan Di Indonesia

2) hukum yang berlaku sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan kehidupan. Saat ini kita sering melihat berbagai pelanggaran hukum banyak terjadi di negara ini. Hampir setiap hari kita mendapatkan informasi mengenai terjadinya tindakan melawan hukum, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun oleh aparat penegak hukum itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut, lakukanlah identifikasi contoh perilaku melawan hukum yang harus kalian hindari dalam kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara. 1) Dalam lingkungan keluarga, di antaranya:
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

BAHAN TEKNIS PENGELOLAAN KEUANGAN NAGARI/DESA

BAHAN TEKNIS PENGELOLAAN KEUANGAN NAGARI/DESA

KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NAGARI WALI NAGARI  PEMEGANG KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NAGARI DALAM PELAKSANAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NAGARI, WALI NAGARI MENGUASAKAN SEBAGIAN [r]

27 Baca lebih lajut

RKPPS Kekuasaan Kehakiman

RKPPS Kekuasaan Kehakiman

Tim KY, Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial, Penerbit Komisi Yudisial, - Pembagian Kelompok - DIskusi Mahasiswa mampu mengagas konsep Lembaga kekuasaan kehakiman yang b[r]

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN TERHADAP PELAKU PENGANIAYAAN BERAT YANG MENGAKIBATKAN KEMATIAN.

PENDAHULUAN DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN TERHADAP PELAKU PENGANIAYAAN BERAT YANG MENGAKIBATKAN KEMATIAN.

Indonesia merupakan Negara hukum, hal ini telah dinyatakan dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak berdasar atas kekuasaan belaka, seperti yang telah dirumuskan para pendiri kenegaraan dalam konsep Indonesia adalah Negara hukum, mengandung arti, bahwa dalam hubungan hukum dan kekuasaan, kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik dalam masyarakat. 1 Sebagai negara hukum yang memiliki beberapa organ hukum dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang adil, organ hukum yang ada di Negara Indonesia antara lain Hakim, Advokad, Polisi, Jaksa, dan Lembaga Pemasyarakatan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Silabus PPKn Wajib SMK Kurikulum 2013 www.olimattohir.blogspot.com

Silabus PPKn Wajib SMK Kurikulum 2013 www.olimattohir.blogspot.com

KI. 2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

190 Baca lebih lajut

Silabus PPKn Wajib SMA Kurikulum 2013 www.olimattohir.blogspot.com

Silabus PPKn Wajib SMA Kurikulum 2013 www.olimattohir.blogspot.com

KI. 2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

190 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...