Top PDF A. Latar Belakang Masalah EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

A.  Latar Belakang Masalah  EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

A. Latar Belakang Masalah EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Praktek penyusunan perjanjian timbal balik yang dilakukan oleh para pihak yaitu para pihak yang akan terlibat dalam suatu perjanjian, dalam perkembangannya mengabaikan atau mengesampingkan pencantuman syarat batal dalam perjanjian yang dibuat, padahal suatu perjanjian dapat batal demi hukum (nietig van rechtswege) yang menurut E Utrecht (Utrecht 1986:109 – 111) berarti akibat suatu perbuatan, untuk sebagiannya atau untuk seluruhnya, bagi hukum dianggap tidak ada lagi atau dihapuskan, tanpa memerlukan keputusan hakim atau keputusan suatu badan pemerintah lainnya yang memiliki kompeten untuk menyatakan batalnya sebagaian atau seluruh akibat tersebut; dan dapat dibatalkan (vernietigbaar) yang berarti bagi hukum perbuatan yang dilakukan dan akibat yang ditimbulkan, dianggap ada sampai pada waktu dilakukannya pembatalan oleh hakim atau oleh suatu badan pemerintah lain yang berkompeten. Pembatalan diadakan oleh karena perbuatan tersebut memiliki suatu kekurangan, sehingga setelah pembatalan dilakukan maka perbuatan itu tidak ada dan jika mungkin, diusahakan agar supaya akibat yang telah terjadi, semuanya atau sebagiannya hapus.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

A.  Kesimpulan  EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

A. Kesimpulan EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

a. Akibat hukum Pasal 1266 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, terhadap debitur yang tidak aktif dalam melaksanakan perjanjian adalah, debitur yang tidak aktif dalam melaksanakan perjanjian dapat dinyatakan lalai dengan pernyataan lalai (ingebrekesteling). Selanjutnya perjanjian yang dibuat dapat dibatalkan oleh karena debitur yang tidak aktif dalam melaksanakan perjanjian atau debitur telah wanprestasi. Pembatalan harus dimintakan ke Pengadilan melalui Putusan Pengadilan, tanpa menghilangkan hak kreditur untuk menuntut ganti rugi yang diakibatkan oleh debitur.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA  EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Pujian dan ucapan syukur dipersembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda-NYA yang Kudus, karena hanya rahmat Tuhan sehingga penulisan t esis yang berjudul: “Eksistensi Dan Akibat Hukum Pasal 1266 Kitab Undang - Undang Hukum Perdata Dalam Perjanjian Terhadap Debitur Yang Tidak Aktif Dalam Melaksanakan Perjanjian ” , dapat diselesaikan. Semuanya bukan karena kehebatan penulis, melainkan karena berkat kemurahan Tuhan. Penulisan ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi, guna memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Pascasarjana, Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Berdasarkan uraian di atas, maka definisi wanprestasi adalah debitur yang tidak memenuhi atau lalai dalam melaksanakan kewajibannya berdasarkan isi perjanjian yang telah ditentukan dan disepakati bersama antara pihak kreditur dengan pihak debitur, serta apabila ia telah diberikan teguran oleh pihak kreditur (Salim, 2006:98). Wujud dari debitur yang wanprestasi dapat dilihat dalam tiga wujud, wujudnya bisa berupa debitur sama sekali tidak berprestasi, yaitu debitur yang sama sekali tidak memberikan prestasi. Debitur keliru dalam berprestasi, maksudnya debitur berpikir bahwa ia telah memberikan prestasinya, tetapi pada kenyataannya yang diterima oleh kreditur lain daripada yang diperjanjikan. Hal ini termasuk juga penyerahan yang tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, dan debitur yang terlambat berprestasi, maksudnya objek prestasinya sudah benar akan tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan (Satrio, 1999:122- 133).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

A.  Tinjauan Pustaka  EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

A. Tinjauan Pustaka EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Asas kepatutan mau menuntun para pihak agar substansi atau isi perjanjian yang disepakati harus memperhatikan perasaan keadilan (rechtsgevoel) dalam masyarakat, karena hal inilah yang akan menentukan hubungan hukum diantara para pihak itu patut atau tidak patut, adil atau tidak adil. Hazairin berpendapat bahwa, asas kepatutan disebut juga asas kepantasan pada tataran moral dan sekaligus pada tataran akal sehat, yang terarah pada penilaian suatu perilaku atau situasi faktual tertentu. Patut mencakup elemen moral, yaitu berkaitan dengan penilaian baik atau buruk maupun elemen akal sehat, yaitu penilaian sesuai dengan hukum, logika atau yang masuk akal (Syaifuddin, 2012:102).
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

MAKALAH Aspek Hukum dalam Ekonomi Hukum (1)

MAKALAH Aspek Hukum dalam Ekonomi Hukum (1)

Kedua: Alasan a contrario, yaitu dalam pasal 1171 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum perdata, ditetapkan (mengenai hipotik), bahwa barang siapa yang berdasarkan undang-undang atau perjanjian, diwajibkan memberikan hipotik, dapat dipaksa untuk itu dengan putusan hakim yang mempunyai kekuatan yang sama, seolah-olah ia telah memberikan persetujuannya untuk hipotik itu, dan yang dengan terang akan menunjuk benda-benda diatas mana akan dilakukan pembukuan. Dikatakan, bahwa oleh karena untuk hipotik ada peraturan yang memungkinkan eksekusi riil terhadap seorang yang wajib memberikan hipotik tetapi bercidra janji, sedangkan dalam hal seseorang yang wajib menyerahkan hak milik atas suatu benda tidak bergerak tidak ada aturannya, bahwa untuk yang terkahir ini tiada suatu kemungkinan untuk melaksanakan suatu eksekusi riil. Seperti sudah dikatakan, ada juga sarjana-sarjana yang berpendapat lain, yaitu menganggap bahwa dalam hal perjanjian untuk menyerahkan suatu benda tak bergerak itu dapat dilakukakn eksekusi riil terhadap pihak yang tidak menetapi janjinya untuk menyerahkan benda tersebut. Mereka ini menganut pendirian, bahwa bila oleh Undang-Undang tidak ditetapkan sebaliknya, maka suatu hak yang diperoleh dari sesuatu perjanjian pada asasnya dapat direalisasikan, asal tidak bertantangan dengan sifat perjanjian. Kamis sendiri condong pada pendirian yang terakhir ini, karena lebih memenuhi rasa keadilan. Orang yang mengadakan suatu perjanjian juga merasa lebih terjamin sebab ia akan mendapat apa yang dijanjikan kepadanya, dengan tak usah menerima pengarem-arem yang berupa pembayaran ganti rugi! 46
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Analisa Terhadap Hak dan Kewajiban Para Pihak pada Perjanjian Baku dalam Penjualan Perumahan di PT. Pangripta

Analisa Terhadap Hak dan Kewajiban Para Pihak pada Perjanjian Baku dalam Penjualan Perumahan di PT. Pangripta

Perjanjian penjualan perumahan dengan menggunakan kontrak baku dianggap sah menurut KUH Perdata dan UUPK karena meskipun dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha, dalam pasal ini tidak ada pembatasan tanggung jawab yang ketentuannya dilarang dalam Pasal 18 ayat (1) UUPK. Berdasarkan syarat-syarat sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 KUH Perdata, perjanjian baku dalam hal ini tidak melanggar hal tersebut, karena pihak konsumen diberi kesempatan untuk membaca isi perjanjian dan diberi kebebasan untuk menyetujui atau menolak perjanjian. Prosedur penjualan perumahan pada PT. Pangripta dilakukan melalui pembayaran tunai keras, tunai bertahap dan kredit pemilikan rumah (KPR). Analisis terhadap hak dan kewajiban para pihak pada perjanjian baku dalam penjualan perumahan di PT. Pangripta, Hak PT. Pangripta antara lain : menerima pembayaran uang sebagai tanda pembayaran, mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beriktikad baik. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. Kewajibannya, antara lain: beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. Bertanggung jawab penuh atas pembangunan rumah; menjamin kepada pembeli bahwa rumah yang diperjual belikan bebas dari tuntutan pihak lain. Dalam perjanjian penjualan perumahan di PT. Pangripta, ada satu pasal yang tidak sesuai karena dapat merugikan konsumen. Pasal ini tidak sesuai, karena apabila konsumen tidak melengkapi berkasnya selama 7 hari meskipun pada hakikatnya karena kondisi terpaksa dikarenakan pihak bank yang tidak mengabulkan proses KPR, maka pemesanan dianggap batal dan booking fee menjadi hangus.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Analisis Hukum Kedudukan Joint Venture Agreement Dalam Perusahaan Penanaman Modal

Analisis Hukum Kedudukan Joint Venture Agreement Dalam Perusahaan Penanaman Modal

In a joint venture agreement, the rights and responsibilities to be done by each party is determined and there is a balanced position between the right and responsibility belong to respective parties. Joint venture agreement has been tied up by a stipulation based on the deal and stated in a mutual-beneficial written agreement. This means that joint venture agreement causes the parties have responsibility to benefit the other parties and vice versa. The clause of joint venture agreement must reflect a clear relationship between the parties involved and can describe the future development of the relationship. The important clauses included in joint venture agreement, among other things, are: definition, purpose of agreement, establishment, capital, domicile of the joint venture company, the articles on the contributions of the parties involved in the joint venture company, termination of joint venture, resolution of disputes, et cetera. The forms of dispute resolution between the government and the capital investor, among other things, are deliberation and consensus, arbitration, court, ADR, and international arbitration. In settling the dispute related to the foreign investment in Indonesia, arbitration is chosen because of its freedom, trust, security, the expertise of arbitrator, quick and cost-effective, confidential, non-precedent, independence, final and binding, and sensitivity of the arbitrator.
Baca lebih lanjut

163 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Perjanjian Perkawinan Yang Dibuat Setelah Perkawinan Dan Akibat Hukumnya Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Perjanjian Perkawinan Yang Dibuat Setelah Perkawinan Dan Akibat Hukumnya Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 94. Suatu perjanjian yang tidak dapat memenuhi syarat-syarat subyektif dapat dimintakan pembatalannya. Dengan kata lain perjanjian ini semula sudah dilaksanakan atau berlaku bagi para pihak, tetapi karena tidak terpenuhinya syarat subyektifnya, yaitu adanya kesepakatan dan kecakapan dari para pihak, atas permintaan dari pihak yang meminta pembatalan dapat dinyatakan batal oleh hakim, jika tidak perjanjian tersebut selamanya sah dan berlaku.

30 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Yuridis Penyelesaian Wanprestasi Dalam Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan (Studi Kasus Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang Kota Surakarta).

PENDAHULUAN Tinjauan Yuridis Penyelesaian Wanprestasi Dalam Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan (Studi Kasus Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang Kota Surakarta).

Seiring berkembangnya zaman negara Indonesia telah banyak perkembangan yang begitu pesat, salah satunya adalah dalam bidang pembangunan ekonomi yang dimana sebagai bagian dari pembangunan nasional. Menurut Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pembangunan ekonomi ialah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur, dalam hal pembangunan di bidang ekonomi dimana pelakunya meliputi pemerintah maupun masyarakat sebagai orang-perseorangan dan badan hukum tentunya sangat membutuhkan jumlah dana yang sangat besar sehingga membutuhakan pinjaman atau penyedia dana yang diperoleh melalui perkreditan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Penyelesaian Kredit Macet Pada PT. Bpr Duta Paramarta Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang Dihubungkan Dengan Undang – Undang Perbankan

Penyelesaian Kredit Macet Pada PT. Bpr Duta Paramarta Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang Dihubungkan Dengan Undang – Undang Perbankan

memuat ketentuan-ketentuan yang di anggap dapat dipenuhi atau yang sesuai dengan kehendaknya yang dapat dilaksanakan dan diterima olehnya. Dalam hal yang demikian maka kesepakatan belum tercapai. Saat penerimaan yang paling akhir dari serangkaian penawaran atau bahkan tawar menawar yang disampaikan dan dimajukan oleh para pihak, adalah, saat tercapainya kesepakatan. Hal ini adalah benar untuk perjanjian konsensuil, dimana kesepakatan dianggap terjadi pada saat penerimaan dari penawaran yang disampaikan terakhir. Dengan kata lain suatu penawaran dan persetujuan itu bisa datang dari kedua belah pihak secara timbal balik.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Aspek Hukum Dalam Perjanjian Leasing Ditinjau Dari Peraturan Menteri No.84/PMK.012/2006 Dan Kaitannya  Dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Aspek Hukum Dalam Perjanjian Leasing Ditinjau Dari Peraturan Menteri No.84/PMK.012/2006 Dan Kaitannya Dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perjanjian Leasing merupakan jenis perjanjian yang berkembang dalam masyarakat modern atas kebutuhan dari masyarakat.. Perjanjian Leasing tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan juga memiliki berbagai perbedaan dengan perjanjian lainnya Dalam membuat sebuah perjanjian Leasing, perusahaan pembiayaan biasanya melakukannya dalam beberapa tahap. Dalam Leasing, tiap-tiap pihak mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Lessor mempunyai hak untuk menerima uang angsuran dan denda juka terjadi keterlambatan pembayaran angsuran. Sedangkan Lessee mempunyai hak untuk menerima dan memakai barang modal. Kewajiban dari Lessor adalah untuk menyediakan barang modal bagi Lessee, sedangkan kewajiban Lessee adalah membayar angsuran atas barang modal kepada Lessor. Juka terjadi wanprestasi, maka pihak Lessor selaku perusahaan pembiayaan akan memberikan peringatan tertulis kepada pihak Lessee sampai pada peringatan yang ke 3 (tiga). Jika Lessee tidak juga membayar kewajibannya, maka Lessor dapat menarik kembali barang modal tersebut. Wanprestasi yang terjadi dapat diselesaikan dengan 2 (dua) cara yaitu melalui perdamaian dan Over Credit.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

PERJANJIAN PERKAWINAN DITINJAU DARI KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM

PERJANJIAN PERKAWINAN DITINJAU DARI KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM

Perjanjian antara suami istri untuk hidup bersama sedemikian kukuh sehingga bila mereka dipisahkan di dunia oleh kematian mereka yang taat melaksanakan pesan-pesan Ilahi masih akan digabung dan hidup bersama kelak di hari kemudian. Dari segi tinjauan hukum, larangan mengambil kembali maskawin ini disebabkan, dengan pernikahan isteri telah bersedia menyerahkan dengan rela rahasianya yang terdalam dengan membolehkan suami untuk melakukan hubungan seks dengannya. Dengan demikian maskawin yang diserahkan bukan menggambarkan harga seorang wanita atau imbalan kebersamaanya dengan suami sepanjang masa. Kalaupun seandainya maskawin dinilai sebagai harga atau upah ia adalah harga sesaat hubungan seks itu sehingga, begitu saat tersebut berlalu harga atau upah tersebut bukan milik suami. 19
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian hukum doktriner yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif maka penelitian ini menekankan pada sumber-sumber bahan sekunder, baik berupa peraturan-peraturan maupun teori-teori hukum serta dokumen lainnya yang terkait dengan permasalahan yang diteliti. Keseluruhan data yang diperoleh kemudian diolah, dianalisis dan ditafsirkan secara logis, sistematis dengan menggunakan metode deduktif.

13 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Mitra Usaha dalam Perusahaan Berbasis Penjualan Langsung terhadap Pemberian Garansi atas Produk yang Diperdagangkan

Pertanggungjawaban Mitra Usaha dalam Perusahaan Berbasis Penjualan Langsung terhadap Pemberian Garansi atas Produk yang Diperdagangkan

jawab mengembangkan usaha kecil dan masyarakat pelanggannya, karena pada akhirnya hanya konsep kemitraan ( partnership ) yang dapat menjamin eksistensi perusahaan besar, terutama untuk jangka panjang. 12 Mirza dan Sulistiyarini (1997:42) mengemukakan bahwa perusahaan disebut bertanggungjawab secara sosial, ketika manajemennya memiliki visi atas kinerja operasional yang tidak hanya sekedar merealisasikan profit, tapi juga suatu keharusan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi setiap pihak yang bermitra usaha baik sebagai pionir maupun sebagai mitra, tidak hanya dilakukan hanya sekedar belas kasihan oleh yang kuat terhadap yang lemah, tetapi kemitraan seyogyanya terjalin kinerja karena kehendak bisnis yang dibarengi dengan rasa tanggungjawab sosial yang kuat.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Pertanggung jawaban debitur pada perjanjian sewa menyewa mobil di rafa utama Pangkalpinang - Repository Universitas Bangka Belitung

BAB I PENDAHULUAN - Pertanggung jawaban debitur pada perjanjian sewa menyewa mobil di rafa utama Pangkalpinang - Repository Universitas Bangka Belitung

Penyalahgunaan mobil yang disewa selain mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan rental mobil juga mengakibatkan kerugian oleh masyarakat akibat dari ketidaktahuannya bahwa mobil yang dijadikan jaminan untuk suatu transaksi pinjam uang adalah mobil rental sehingga ketika pinjaman jatuh tempo, mobil tidak dapat ditarik karena bukan milik peminjam uang (penyewa mobil), namun milik perusahaan rental mobil. Dalam hal wanprestasi kasusnya yang terjadi di dalam perjanjian sewa menyewa di Rafa Utama rental sering terjadi wanprestasi seperti pengembalian barang yang disewa tetapi terlambat hal tersebut sering kali membuat rugi bagi pemilik usaha rental. Dalam hal ini keahlian dan pengetahuan setiap orang yang melakukan kesepakatan sangat berpengaruh, karena tidak sedikit wanprestasi yang terjadi berdampak pada penilaian masyarakat, kesalahan yang dibuat oleh seseorang sering menjadi bahan pembicaraan dikalangan masyarakat.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Pengawasan OJK Terhadap Lembaga Pegadaian Dalam Pemenuhan Kebutuhan Likuiditas Masyarakat Terkait Pemenuhan Aspek Kepatuhan

Pengawasan OJK Terhadap Lembaga Pegadaian Dalam Pemenuhan Kebutuhan Likuiditas Masyarakat Terkait Pemenuhan Aspek Kepatuhan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah lahir dengan Undang-Undang No 21 tahun 2011 tentang Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diberlakukan mulai 1 Januari 2013. Sebagai lembaga independen, selain memiliki kewenangan dalam pengaturan dan pengawasan lembaga keuangan utamanya perbankan di Indonesia, juga memiliki kewenangan penyidikan. Kewenangan penyidikan dalam tugas pengawasan perbankan merupakan hal baru sejak Republik ini didirikan. Selain hal tersebut, yang merupakan hal baru adalah biaya operasional lembaga independen tersebut dapat dipungut dari lembaga keuangan yang diawasi termasuk perbankan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS SAHNYA PERJANJIAN TERAP

TINJAUAN YURIDIS SAHNYA PERJANJIAN TERAP

Perjanjian terapeutik antara dokter dan pasien ini tidak jarang kurang diperhatikan, baik oleh seorang dokter ataupun seorang pasien. Ketidak pahaman keduanya, terutama seorang pasien tidak jarang menimbulkan suatu permasalahan tersendiri dalam dunia kesehatan yang menyangkut praktek kedokteran. Permasalahan tentang ketidakterbukaan informasi yang menjadi hak seorang pasien, kesalahan diagnosa, hingga persetujuan tindakan medis. Pasien akan cenderung menuruti saja apa yang diperintahkan seorang dokter karena memang ketidaktahuannya tersebut. Untuk itu, berdasarkan uraian diatas penulis bermaksud untuk mengkaji mengenai bagaimana sahnya suatu perjanjian terapeutik berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, serta bagaimana perlindungan hukum bagi pasien dalam suatu perjanjian terapeutik. Agar hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pemahaman baik dokter ataupun pasien dalam mengetahui hak yang harus didapatkannya dan kewajiban yang harus dilakukannya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

NN

NN

Metode penelitian adalah merupakan kegiatan ilmiah guna menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan secara metodologis serta sistematis. Masalah metode dalah masalah yang sangat penting dalam suatu penelitian ilmiah karena nilai, mutu, dan hasil suatu penelitian ilmiah sebagian besar ditentukan oleh ketetapan dalam memilih metodenya. Agar penelitian ini memiliki kualitas ilmiah maka disusun metode penulisan.

41 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM TERHADAP PERJANJIAN HUTANG MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

AKIBAT HUKUM TERHADAP PERJANJIAN HUTANG MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

Sedangkan dalam pembuktian dari perjanjian penanggungan maka perjanjian penanggungan dalam perjanjian hutang yang paling kuat adalah dalam bentuk akta otentik yang definisinya diberikan dalam pasal 1868 KUHPerdata, suatu akta otentik adalah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat mana akta itu dibuatnya, sedangkan akta dibawah tangan, dalam pasal 1874 KUHPerdata dijelaskan bahwa sebagai tulisan-tulisan dibawah tangan, surat-surat, register-register surat- surat urusan rumah tangga dan lain-lain tulisan yang dibuat tanpa perantaraan seorang pegawai umum.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...