Top PDF Budaya Reproduksi Masyarakat Aceh Dalam Perspektif Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Budaya Reproduksi Masyarakat Aceh Dalam Perspektif Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Budaya Reproduksi Masyarakat Aceh Dalam Perspektif Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

kelompok masyarakat serta kebudayaan yang ada di seluruh dunia memiliki aneka persepsi, interpretasi dan respon perilaku dalam menghadapinya dan berbagai implikasi terhadap kesehatan. Jordan (1993: 3) menyatakan bahwa ada ukuran- ukuran tertentu, fisiologis kelahiran secara universal adalah sama, namun proses kehamilan dan kelahiran ditanggapi dengan cara-cara yang berbeda oleh aneka kelompok masyarakat. Sebagai contoh dalam masyarakat Aceh, perempuan yang hamil harus menghormati berbagai ketentuan tertentu yang disebut dengan pantang. Keteledoran dan melanggar pantang diyakini berakibat buruk kepada perempuan hamil maupun calon bayi. Perempuan hamil tidak dibolehkan duduk diatas tangga (duk bak ulee reunyeun). Bila tidak mematuhinya, proses kelahiran akan menjadi sulit. Perempuan yang hamil dilarang untuk melihat orang yang menyembelih binatang. Alasannya, agar ibu yang hamil tidak terkejut, karena jika terkejut kemungkinan dapat mempengaruhi tumbuh kembang jiwa janin dan berbagai pantangan lainnya (Fauziah, 2009). Pengetahuan terkait pantangan diperoleh dari orang tua yang diwariskan dari nenek monyang (Alfian, 1977: 124).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa T1 152008025 BAB II

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa T1 152008025 BAB II

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta), menyimpulkan bahwa upaya mewujudkan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter bangsa tidak pernah terlepas dari lingkungan pendidikan baik didalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Dewasa ini, tuntutan dan peran guru semakin kompleks, tidak sekedar sebagai pengajar semata, pendidik akademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, moral dan budaya yang berlaku di Indonesia. Guru diharapkan menjadi model dan teladan bagi anak didiknya dalam mewujudkan perilaku yang berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa. Untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkarakter kuat, perlu kiranya diterapkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan sistem among, tut wuri handayani dan tringa.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

STRATEGI KEBUDAYAAN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER (STUDI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DAN PAULO FREIRE)

STRATEGI KEBUDAYAAN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER (STUDI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DAN PAULO FREIRE)

Kerinduan terhadap suasana kebersamaan dan suasana kebangsaan yang seharusnya menjadi landasan kejiwaan dalam kehidupan berbangsa yang sudah tidak kita jumpai lagi. Untuk itu suasana tersebut perlu dibangun lagi agar bangsa ini tidak mengalami penjajahan secara politis maupun ekonomi dengan membangun karakter masyarakat melalui pendidikan formal ataupun informal dengan muatan budaya dengan penyesuaian materi nasional dengan tidak mengesampingkan indigeneous knowledge dalam era globalisasi ini, bukan sebagai pertentangan namun sebuah proses dialektika. Dalam pendekatan dialektika Karl Marx bahwa sebuah tesis akan menghadapi sebuah anti tesis kemudian menghasilkan sistesis. Maka dari itu globalisasi menjadi tesis, kemudian indigeneous knowledge sebagai antithesis yang kemudian akan menghasilkan suatu sintesis kolaborasi pengetahuan. Yang diharapkan kolaborasi pengetahuan ini lebih mengedepankan ciri khas watak bangsa Indonesia yang bermartabat. Memang saat ini, Kementerian Indonesia telah mengusung pendidikan karakter untuk membangun peradaban bangsa. Namun dari sisi realita banyak kita jumpai warga negara yang tidak bermoral seperti korupsi, penggunaan narkoba, kekerasan, tidak bertanggung jawab dan masih banyak lagi penyakit masyarakat yang lain. Beberapa kasus tersebut menunjukkan bahwa kita belum berhasil membangun karakter bangsa. Iklim pendidikan di Indonesia yang mengikuti perkembangan global menimbulkan perubahan yang signifikan. Namun perubahan tersebut menjadi tidak terarah.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Basis Filosofi Pendidikan Nasional (Studi Terhadap Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, K.h.a. Dahlan, Dan K.h. Hasyim Ashari)

Basis Filosofi Pendidikan Nasional (Studi Terhadap Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, K.h.a. Dahlan, Dan K.h. Hasyim Ashari)

besar hidupnya untuk membesarkan dan meneguhkan sistem pendidikan pesantren. Ia membangun pesantren yang kemudian dikenal dengan nama pesantren Tebuireng. Pesantren yang didirikannya ini dapat berkembang dengan pesat menjadi pesantren yang besar. Bahkan ia menjadi penyedia (supplier) paling penting bagi kebutuhan pesantren di seluruh Jawa dan Madura sejak tahun 1910 M. Ketekunannya untuk mengembangkan pesantren sesuai dengan semangatnya untuk memperbaiki moral masyarakat dan semangat anti penjajahan. Sebagaimana telah maklum bahwa sistem pendidikan pesantren adalah suatu sistem pendidikan asli Indonesia. Lembaga semacam pesantren ini sudah ada sejak kekuasaan Hindu-Budha. Kehadiran Islam hanya memberi warna keislaman pada lembaga yang sebenarnya sudah ada ini. (Madjid, 1997: 3) Dengan lembaga pendidikan semacam ini moralitas Islam mudah ditransformasikan pada masyarakat karena lembaga ini lahir dari budaya masyarakat. Bahkan secara khusus ia menulis buku yang mengaitkan pendidikan Islam dengan moralitas atau akhlaq. Buku itu ia beri nama Adab al- ’Alim wa al-muta’alim. Semangatnya anti penjajahan yang mengantarkannya pada semangat anti Barat juga mendapat tempat berteduh di pesantren. Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia ini secara umum mengandung ciri-ciri tradisionalisme. Dengan demikian ia dapat di kontraskan dengan modernisme yang umumnya datang dari Barat. Dari sini semangat juang atau jihad melawan penjajah dapat dikobarkan melalui pesantren ini. Semangat tradisionalismenya ini juga terlihat sampai pada sistem, dan metode pengajaran, serta materi pelajaran. Metode pengajaran yang digunakan di pesantren yang dipimpinnya ini adalah metode tradisional, yaitu metode
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pemikiran Pancadarma Ki Hadjar Dewantara Perspektif Pendidikan Islam

Pemikiran Pancadarma Ki Hadjar Dewantara Perspektif Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan Ki Hadjar adalah untuk mengangkat harkat, martabat dan kemajuan umat manusia secara universal, sehingga mereka dapat berdiri kokoh sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju dengan tetap berpijak kepada identitas dirinya sebagai bangsa yang memiliki peradaban dan kebudayaan yang berbeda dengan bangsa lain.Tujuan lain dari didirikannya perguruan Tamansiswa adalah sebagai lembaga pendidikan dan kebudayaan untuk terwujudnya masyarakat tertib dan damai, sedangkan tertibsebagaimana konsep Ki Hadjar tidak akan ada jika tidak ada damai antar manusia; damai antar manusia itu hanya mungkin ada dalam keadilan sosial sebagai wujud berlakunya kedaulatan adab kemanusiaan yang menghilangkan segala rintangan oleh manusia terhadap sesamanya dalam sarat-sarat hidupnya, serta menjamin terbaginya sarat hidup lahir batin secara sama-rata sama-rasa.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pendidikan Musik dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara

Pendidikan Musik dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara

Fenomena kehidupan kesenian kita saat ini bisa jadi merupakan buah dari lemahnya pendidikan seni kita yang kurang memperhatikan seni budaya bangsa sendiri. Apa yang dipikirkan oleh Ki Hajar Dewantara, ternyata menjadi kenyataan dalam kehidupan kita saat ini. Begitu banyak jenis kesenian, khususnya musik yang digemari masyarakat di seluruh tanah air, sebenarnya merupakan peniruan atau dalam istilah Ki Hajar memola seni musik dari Barat. Contoh konkritnya yakni musik-musik populer yang meraup keuntungan milyaran rupiah. Sementara seni musik tradisi kita seperti gamelan, kecapi suling, talempong dll, hidupnya kembang kempis. Hanya sedikit kalangan yang mengapresiasinya dengan baik. Implikasi dari perilaku peniruan ini juga nampak pada wujud kebudayaan lainnya seperti cara berbusana, gaya hidup, cara berpikir dan bertindak. Kita perlu memikirkan dan menyikapi pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut dalam perbuatan nyata melalui pendidikan seni, agar kita tidak terus-menerus berada dalam situasi kebudayaan yang diombang-ambingkan oleh negara lain.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Rekonstruksi Epistemologi Pendidikan Islam Dalam Pandangan Ibn Jamaah dan Ki Hadjar Dewantara

Rekonstruksi Epistemologi Pendidikan Islam Dalam Pandangan Ibn Jamaah dan Ki Hadjar Dewantara

Masalah etika penghuni madrasah perspektif Ibn Jama’ah bahwa tradisi menyediakan tempat tinggal bagi murid di madrasah-madrasah dilatarbelakangi dua faktor. Pertama, formalisasi pendidikan dengan tumbuhnya institusi pendidikan. Kedua, munculnya kesediaan menyediakan waqaf sebagai pendanaan kegiatan pendidikan. Dalam hal penyediaan penghuni madrasah Ibn Jama’ah juga mempunyai sebelas etika yang harus diterapkan untuk menjaga keharmonisan penghuni madrasah, diantaranya: 1). Murid yang ingin tinggal di asrama harus memastikan bahwa madrasah dan waqaf berasal dari harta halal, dan pemberi waqah adalah wara’. 2). Mudarris (dosen) yang mengajar madrasah harus ilmuwan yang mendekati kriteria etika ilmuwan baik; pakar dibidangnya, religius, cerdas serta berwibawa. 3). Penghuni madrasah harus berupaya semaksimal mungkin untuk selalu mentaati pelaturan yang berlaku dan dicantumkan dalam waqfiyyah madrasah. 4). Jika pemberi waqaf mensyaratkan yang berhak menghuni asrama adalah orang-orang yang dapat beasiswa saja, maka seorang yang di luar itu tidak berhak tinggal. 5). Seseoarng yang tinggal di madrasah harus benar-benar konsentrasi pada menuntut ilmu. 6). Penghuni asrama harus saling menghormati, memberi salam, saling membantu dan saling memaafkan. 7). Sedapat mungkin penghuni asrama memilih kamar dengan bertetangga dengan yang saleh, rajin, dan berperilaku baik. 8). Jika tinggal dekat dengan masjid atau perkumpulan lain yang menggunakan karpet atau tikar, harus menjaga kebersihan dari kotoran sandal yang jatuh. 9). Penghuni asrama dilarang duduk-duduk di pintu, kecuali terpaksa, tidak dikoridor menuju jalan. 10). Tidak diperbolehkan melihat dari celah pintu kamar orng lain meski lewat di depannya. 11). Mengupayakan agar selalu tiba di majlis lebih dulu dari guru. Ulama’ salaf mengatakan: ”salah satu etika terhadap mudarris adalah bahwa para murid menunggunya. Bukan sebaliknya, guru yang menunggu murid”. 534
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

View of KONSEP PENDIDIKAN BERBASIS MULTIKULTURAL ALA KI HADJAR DEWANTARA

View of KONSEP PENDIDIKAN BERBASIS MULTIKULTURAL ALA KI HADJAR DEWANTARA

adalah idenya untuk memonitor dan berkomuni- kasi dengan siswa didiknya. Dalam hal ini sitem among terdiri dua dasar, yaitu: Pertama, Kemer- dekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir batin, hingga da- pat hidup merdeka (dapat berdiri sendiri). Ada- nya dasar kemerdekaan adalah dasar suatu usaha untuk mendidik murid-murid agar bersikap men- tal, serta bekerja keras dalam batas-batas tujuan mencapai tertib damainya hidup bersama. Dalam hal ini bukan hanya dikenakan pada sikap pe- rilaku, tetapi dilaksanakan pula pada kebebasan anak-anak untuk berpikir; Kedua, Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan men- capai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa sistem pendidikan cara lama yang meng- gunakan perintah, paksaan, dan hukuman harus diganti dengan sistem pendidikan yang berdasar pada kodrat alam. Anak didik baru dapat ber- kembang secara optimal apabila ia diberi kebe- basan untuk berkembang sesuai dengan bakat dan pembawaan yang ada dalam dirinya (Media, Edisi Mei 1996: 39).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Tantangan-tantangan Implementasinya di Indonesia Dewasa Ini

Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Tantangan-tantangan Implementasinya di Indonesia Dewasa Ini

membolos. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sangat mungkin karena proses pendidikan yang mereka terima bersifat superfisial sehingga tidak mendalam dan terkesan formalitas saja. Hal ini membentuk kerangka berpikir para murid yang keliru tentang pendidikan, yakni upacara formal saja. Akibatnya, mereka berprinsip yang penting hadir/datang, duduk, dengar, catat, pulang. Buku pelajaran dibuka kembali kalau ada ulangan atau ujian kelas. Kecuali itu, para murid tampak terbebani oleh banyaknya materi pengajaran. Guru mengajar terus, sementara murid duduk, diam, dengar tapi tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh gurunya. Jangankan bertanya, selama di kelas dan mengikuti pelajaran para murid pada umumnya enggan untuk berkomentar seputar materi. Mereka tampak pasrah mengikuti pelajaran. Kondisi ini jauh berbeda ketika bel istirahat berbunyi. Mereka tampak girang dan gembira, seakan-akan tidak mau kehilangan kesempatan mereka sibuk ngobrol apa saja dengan tenam-temannya yang pasti tidak berkaitan sama sekali dengan materi pelajaran yang baru saja diajarkan oleh durunya. Fenomena ini menunjukkan bahwa para murid mengalami tekanan materi pengajaran selama di kelas atau di sekolah. Lembaga sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk mereka belajar, seringkali malahan dialami mereka sebagai lembaga memenjarakan potensi lahir dan batin. Padahal, menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan di sekolah adalah upaya memerdekakan lahiriah dan batiniah.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

PENERAPAN AJARAN KI HADJAR DEWANTARA TRI NGA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENERAPAN AJARAN KI HADJAR DEWANTARA TRI NGA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Ki Hadjar mengartikan pendidikan sebagai daya upaya memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan falsafah peninggalan Ki Hadjar Dewantara yang dapat diterapkan yakni tringa yang meliputi ngerti, ngrasa, dan

6 Baca lebih lajut

INDIGENISASI PENDIDIKAN: Rasionalitas Revitalisasi Praksis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

INDIGENISASI PENDIDIKAN: Rasionalitas Revitalisasi Praksis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

lebih positif. Indigenisasi bertujuan menghapus stigma dan pandangan stereotip terhadap kearifan lokal yang telah tertanam luas akibat kolonisasi (Agussalim, 2007; Ismailova, 2004; Yunong & Xiong, 2015; Biermann & Townsend- Cross, 2008). Indigenisasi meniscayakan tumbuhnya sikap tidak mudah terpukau oleh budaya atau teori dari luar sebelum diuji secara kritis. Keyakinan naif yang dianut akademisi dan praktisi pendidikan bahwa teori yang terbukti efektif diterapkan di negara maju dengan sendirinya akan berhasil apabila diadopsi di negara-negara berkembang. Nguyen, dkk. (2009) setelah melakukan penelitian di sejumlah negara di Asia mengungkapkan masih kuatnya mentalitas penurut di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan yang hanya mengekor pada hasil capaian dari Barat berimplikasi pada meluasnya mentalitas inferior atau disebutnya mental colonialism. Keberanian untuk meng- ungkap dan merevitalisasi teori dan praktik pendidikan yang berakar pada epistimologi dan konteks dimana pendidikan tersebut berlangsung merupakan keniscayaan untuk meningkatkan kebermaknaan dan relevansi pendidikan (Asher, 2009; Biermann & Townsend-Cross, 2008). Sejalan dengan pandangan tersebut, Gopinathan (2006) mengemukakan bahwa melalui indigenisasi diharapkan proses pendidikan lebih akomodatif dan responsif dalam meng- integrasikan nilai kultural sehingga apresiasi terhadap khazanah kearifan lokal berkembang secara simultan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa

Problem moral yang menjangkiti tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan bukti nyata gagalanya pendidikan kita. Sementara itu, konsep pendidikan karakter di Indonesia yang sedang mengedepan sebagai solusi pemecahan masalah moral, selama ini lebih banyak menjadi sebuah tema yang menghasilkan berbagai teori menurut versi masing-masing pihak, tanpa disertai kesatuan landasan falsafah yang menjadi dasar pemikiran. Melihat gejala ini, peneliti memandang pentingnya menelaah kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam konsep-konsep pendidikan yang telah diwariskannya sebagai dasar-dasar pendidikan bangsa Indonesia sesuai dengan budaya sendiri, untuk memberi bekal kuat dalam membangun karakter bangsa. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka yang terpusat di Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta. Untuk memperoleh data yang valid, penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi data dari berbagi sumber, yakni berupa review informan dengan cara wawancara dan pengamatan pelaksanaan pendidikan karakter di Sekolah Dasar (SD) Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang ditelaah dalam skripsi ini meliputi: Tripusat Pendidikan, Sistem Among, Trilogi Kepemimpinan, Pancadarma dan Teori Trikon. Hasil penelitian ini ialah ditemukannya nilai-nilai pendidikan karakter bangsa dalam setiap konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang masih relevan untuk terus dibina beserta strategi implementasinya di sekolah. Selanjutnya hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan untuk direvitalisasi dalam usaha mencapai keberhasilan Pendidikan Karakter Bangsa.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa

Pementasan permainan dolanan tradisional menjadi salah satu ciri khas kegiatan anak-anak Taman Muda yang berkembang sesuai kodratinya dalam jiwa kemerdekaan.. Sumber : Koleksi SD Taman M[r]

13 Baca lebih lajut

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI. HAJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA DENGAN KURIKULUM 13

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI. HAJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA DENGAN KURIKULUM 13

atas dapat dipahami tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki. Hajar Dewantara sejalan dengan tujuan kurikulum 2013, yaitu; sama-sama mengarahkan tujuan pendidikan dalam empat dimensi, yaitu tujuan jasmani, akal, rohani dan sosial, namun terdapat perbedaan dalam penjabaran dan penekanan dalam menjelaskan masing-masing dimensi tujuan pendidikan, yaitu; Pertama, Dimensi Jasmani, Ki. Hajar dewantara mengarahkan pada kemerdekaan fisik, yang menghendaki fisik yang sehat dan kuat, sementara kurikulum 2013, mengarahkan pada pencapaian jasmani yang produktif, kreatif, inovatif. Ke Dua, Dimensi Akal, Ki. Hajar dewantara mengarahkan pendidikan pada pencapaian kecerdasan yang lebih tinggi dan luas, sementara kurikulum 2013 mengarahkan pada pengembangan pengetahuan serta penerapannya. Ke Tiga, Dimensi Rohani, Ki. Hajar Dewantara mengarahkan pada pencapaian keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan mencapai kemerdekaan mental dan kerohanian, sementara kurikulum 2013 mengarahkan pada pencapaian sebagai warga Negara yang beriman dan memiliki kecerdasan afektif. Ke Empat Dimensi Sosial, Ki. Hajar Dewantara mendukung tercapainya sikap-sikap keselarasan, kekeluar gaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab, dan disiplin, sementara kurikulum 2013 mengarahkan pada pencapaian kemampuan memberi kontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hadjar Dewantara  dan Relevansinya Terhadap Desain Pembelajaran Bahasa Arab

Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hadjar Dewantara dan Relevansinya Terhadap Desain Pembelajaran Bahasa Arab

Sistem Among berasal dari bahasa Jawa yaitu mong atau momong, yang artinya mengasuh anak. Para pendidik disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan kasih sayang. Tujuan dari Sistem Among adalah membangun peserta didik untuk menjadi manusia beriman dan bertaqwa, merdeka lahir dan batin, budi pekerti luhur, cerdas, dan berketrampilan, serta sehat jasmani dan rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya. Dalam pelaksanaan sistem Among, setelah anak didik menguasai ilmu, mereka didorong untuk
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Implementasi Trilogi Kepemimpinan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Di SDN 2 Sanden Bantul Yogyakarta

Implementasi Trilogi Kepemimpinan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Di SDN 2 Sanden Bantul Yogyakarta

Implementasi Trilogi Kepemimpinan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan formal yang fokus; (1) untuk mengetahui penerapan trilogi kepemimpinan pendidikan Ki Hadjar Dewantara di SD N 2 Sanden,(2) untuk mengetahui kendala dan upaya penerapan kepemimpinan pendidikan Ki Hadjar Dewantara di SD N 2 Sanden. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskreptif dengan subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru. Teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah observasi, wawancara, dan dokumen. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data dengan langkah-langkah, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ditarik kesimpulan; 1) Penerapan Trilogi Kepemimpinan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara di SD N 2 Sanden menerapkan sistem among sebagai sistem pendidikan yang didasarkan asas kemerdekan dan kodrat alam yang dikembangkan menjadi lima asas pokok disebut Pancadarma Taman Siswa meliputi asas kemerdekaan atau kebebasan, asas kodrat alam, asas kebudayaan, asas kebangsaaan dan asas kemanusiaan; 2) Hambatan yang ditemui dalam penerapannya terdapat dua faktor, diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal, meliputi pendidik atau guru, Sarana dan prasarana yang disediakan sekolah, dan kemampuan siswa: 3) Upaya mengatasinya dengan mengembangkan sumber daya manusia dalam pembinaan, diklat pendidikan, dan mengoptimalkan peran wali murid.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa T1 152008025 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa T1 152008025 BAB I

Beberapa kasus diatas menunjukkan bahwa memang pendidikan kita belum mampu membangun karakter bangsa. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual atau kognitif dan kurang memperhatikan aspek afektif, sehingga hanya tercetak generasi yang pintar, tetapi tidak memiliki karakter yang dibutuhkan bangsa ( Kristi Wardani, 2010 : 230). Nilai-nilai luhur yang seharusnya ditanamkan dan disosialisasikan lewat sekolah, tampaknya tidak masuk dan tidak berkembang dalam diri peserta didik. Padahal orangtua dan masyarakat telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka sepenuhnya pada sekolah. Situasi pendidikan kita kurang menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai luhur (aspek rohani), yang menjadi motor penggerak perkembangan peserta didik ke arah hidup yang manusiawi ( Y. B Adimassana, 2000 : 30-31).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Merdeka Belajar Kampus Merdeka Dalam Pemikiraan Ki Hadjar Dewantara dan K.H. Ahmad Dahlan

Merdeka Belajar Kampus Merdeka Dalam Pemikiraan Ki Hadjar Dewantara dan K.H. Ahmad Dahlan

“Merdeka Belajar - Kampus Merdeka” adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di era Kabinet Indonesia Maju. Menteri Kemendikbud RI berpendapat bahwa esensi merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir sehingga harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada peserta didik. Nadiem Makarim menyebut, dalam kompetensi guru di level apapun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Demikian pula esensi “Kampus Merdeka” – yang diharapkan mampu menjadi jawaban atas tuntutan zaman - merupakan wujud pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Tujuan kajian artikel ini adalah mendeskripsikan pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan K.H. Ahmad Dahlan dalam membangun pendidikan berkebudayaan yang dikorelasikan terhadap esensi kebijakan “Merdeka Belajar – Kampus Merdeka”. Bukan tidak mungkin bila konsep “Merdeka Belajar – Kampus Merdeka” sesungguhnya sudah ada dalam pemikiran bapak pendidikan bangsa ini sehingga hanya perlu menyesuaikan terhadap pola di zaman sekarang. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan bersifat deskriptif terhadap penafsiran fenomena sosial dalam bentuk literatur. Kebenaran yang dicari bersifat alamiah sehingga bukan bagaimana seharusnya tetapi bagaimana adanya dari hasil kajian literatur. Hasil kajian ini tentu saja diharapkan menjadi sumbangsih pemikiran terhadap kemajuan pendidikaan secara luas dan di dalam konteks pendidikan seni. Kata kunci : mereka belajar; ki hajar; ahmad dahlan
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...