Top PDF Dalam hukum waris Islam. docx

Dalam hukum waris Islam. docx

Dalam hukum waris Islam. docx

Dalam hukum waris Islam, apabila semua ahli waris berkumpul, maka yang berhak mendapatkan warisan hanya ada 5 (lima) orang yaitu anak kandung (laki-laki dan perempuan), ayah, ibu, istri (janda), suami (duda). Sedang ahli waris lain tidak mendapat apa-apa. Ini adalah prinsip dasar hukum waris Islam yang perlu diketahui oleh kalangan awam. Apabila kelima orang di atas tidak lengkap, maka ahli waris lain punya peluang untuk mendapat warisan seperti uraian dalam artikel ini.

29 Baca lebih lajut

Hukum Waris Islam id. docx

Hukum Waris Islam id. docx

Dengan kata lain, Apabila ada kelebihan harta warisan padahal semua ahli waris sudah mendapat bagian, maka kelebihan itu dikembalikan (radd) pada ahli waris yang ada; masing- masing menurut kadar bagiannya kecuali suami atau istri yang tidak mendapatkan bagian dari radd ini. Kelebihan harta hanya dikembalikan pada ahli waris lain selain suami atau istri. Sebagai misal, dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing, tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-- maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Syarat Terjadinya Radd
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Makalah Hukum waris adat. docx

Makalah Hukum waris adat. docx

Bila penyelesaian konflik atau sengketa pembagian harta waris, menggunakan impelentasi Hukum Waris Islam, akan diketahui siapa saja ahli waris yang berhak atas harta waris, besar perolehan ahli waris laki-laki dan berempuan berdasarkan silsilah keluarga, waktu yang tepat untuk pembagian harta warisan dan harta yang dapat dibagikan sebagai harta warisan. Sementara untuk memayungi rasa keadilan semua pihak berdasarkan budaya, adat kebiasaan setiap masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, maka implementasi Hukum Waris Islam dapat dipadukan dengan hukum adat setiap wilayah. Sedangkan tata cara pembagiannya bisa dilakukan dengan proses sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hukum waris di indonesia. docx

Hukum waris di indonesia. docx

Ketiga sistem hukum ini memiliki karakteristik & ciri khas masing-masing mengakibatkan terjadinya perbedaan antara yang satu dengan lainnya. Seperti yang telah terurai diatas, bahwa hukum waris di Indonesia masih beraneka warna coraknya, dimana tiap-tiap golongan penduduk termasuk kepada hukumnya masing-masing, antara lain hal ini dapat dilihat pada golongan masyarakat yang beragama islam kepadanya diberlakukan hukum kewarisan islam, baik mengenai tatacara pembagian harta pusaka, besarnya bagian antara anak laki-laki dengan anak perempuan, anak angkat, lembaga peradilan yang berhak memeriksa & memutuskan sengketa warisan apabila terjadi perselisihan diantara para ahli waris dan lain sebagainya. Untuk golongan masyarakat non muslim, mereka tunduk kepada hukum adatnya masing-masing disana sisi dipengaruhi oleh unsur-unsur agama & kepercayaan. Begitu juga terhadap golongan eropa dan yang dipersamakan dengan mereka, aturan tentang hukum waris ini aspirasinya separuhnya diserahkan kepada hukum perdata eropa ( kitab undang-undang hukum perdata ).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Hukum Waris Islam id. docx

Hukum Waris Islam id. docx

2- Atau bisa juga mereka meminta untuk dibagikan harta peninggalan sebelum dia dilahirkan, dalam keadaan seperti ini akan disisakan untuk janin dari harta waris sebesar bagian dua orang putra atau dua orang putri, setelah dilahirkan dia akan mengambil bagiannya, sedangkan sisanya akan dikembalikan kepada dia yang berhak, siapa saja yang tidak terhajb (terhalangi) oleh janin, maka dia akan mengambil seluruh bagiannya, contohnya adalah nenek, dan siapa yang sekiranya akan berkurang olehnya, maka dia akan mengambil bagian terkecil, contohnya seperti istri dan ibu, dan siapa saja yang sekiranya akan jatuh olehnya, maka dia tidak akan mengambil bagian sedikitpun, contohnya seperti saudara.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

HUKUM WARIS ISLAM baru. docx

HUKUM WARIS ISLAM baru. docx

Secara garis besar Hukum Islam membagi 2 (dua) golongan ahli waris. Golongan yang pertama yaitu Zawil Furud, yaitu ahli waris yang mendapatkan harta warisan berdasarkan bagian tertentu dari harta warisan yang prosentasenya telah ditentukan oleh Al Quran dan Hadist. Golongan ini merupakan pihak yang pertama kali mendapatkan harta waris setelah pewaris meninggal dunia.

13 Baca lebih lajut

Hukum Waris Menurut Hukum Islam (1)

Hukum Waris Menurut Hukum Islam (1)

Semua yang disebutkan di atas hanya mendapatkan harta warisan sesuai dengan ketentuan. Namun jika harta waris kurang sementara ahli waris masih ada yang belum kebagian maka bagian mereka masing-masing dikurangi, kasus ini disebut dengan aul. Sebaliknya, jika harta warisan berlebih (sisa) setelah dibagi, kasus ini disebut dengan râd, ahli waris dapat menerima sisa (tambahan) sebesar ketentuan jika bersama-sama dengan dzaw al-furud yang lain kecuali duda atau janda, bagian mereka ini (duda dan janda) dikurangi dalam kasus aul dan tidak ditambah dalam kasus rad. Cara penyelesaian kedua kasus ini terdapat dalam KHI BAB V. pasal 192 dan 193.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN HUKUM ANAK TIRI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM HUKUM WARIS ISLAM DAN KUHPERDATA

KEDUDUKAN HUKUM ANAK TIRI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM HUKUM WARIS ISLAM DAN KUHPERDATA

Menerangkan dengan sebenarnya, bahwa Skripsi dengan judul “ KEDUDUKAN HUKUM ANAK TIRI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM HUKUM WARIS ISLAM DAN KUHPERDATA ” adalah hasil karya sendiri dan tidak pernah dipublikasikan dan dipakai pada skripsi orang lain.

17 Baca lebih lajut

penyelesaian sengketa antara waris anak laki-laki dengan anak perempuan pada masyarakat adat melayu sambas dihubungkan dengan hukum waris islam dan hukum adat melayu sambas.

penyelesaian sengketa antara waris anak laki-laki dengan anak perempuan pada masyarakat adat melayu sambas dihubungkan dengan hukum waris islam dan hukum adat melayu sambas.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif analitis, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalitis fakta-fakta yang secara sistematis, faktual dan akurat dengan teori-teori hukum dan praktek pelaksana. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif,yaitu dengan menggunakan cara menelusuri dan mengkaji peraturan Perundang-undangan, hukum adat Melayu Sambas dan Kompilasi Hukum Islam.

3 Baca lebih lajut

A. Pendahuluan - Pemikiran hukum Islam Munawir Syadzali - Digital Library IAIN Palangka Raya

A. Pendahuluan - Pemikiran hukum Islam Munawir Syadzali - Digital Library IAIN Palangka Raya

Selain itu Munawir adalah dapat dikatakan sebagai perintis fikih siyasah di Indonesia. Beliau mendalami fikih politik dengan kritis. Sebelumnya mungkin juga ada, tetapi baru pak Munawir yang melakukannya dengan konteks analisa. Beliau juga menentang statemen dalam UUD 1945 yang menyatakan "dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi para penganutnya", ia mengatakan, seandainya hal itu dilaksanakan, apakah umat Islam sendiri akan menjalaninya ataukah justru akan mengalami kesulitan? karena di dalam fikih itu banyak mengandung persoalan, di antaranya adalah masalah perbudakan, persaamaan gender, dan waris. 8
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Hukum Waris Islam Pada Masyarakat Sakai di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau

Pelaksanaan Hukum Waris Islam Pada Masyarakat Sakai di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau

Pergeseran Hukum waris adat Sakai menjadi Hukum waris Islam terjadi disebabkan oleh dua faktor yaitu Faktor internal adalah agama dan kesadaran hukum, sedangkan faktor eksternal adalah Pendidikan, Perantauan/Migrasi, Ekonomi dan Sosial. Fakta yang ditemukan dari hasil penelitian ini bahwa masyarakat telah mengenal Hukum waris Islam ( faraidh ), namun dalam pembagian harta warisan belum seluruhnya menggunakan Hukum waris Islam ( faraidh ), hal ini dapat terlihat dari porsi bagian waris. Perselisihan dalam pembagian harta warisan pada masyarakat Sakai dapat diselesaikan dengan cara musyawarah, baik melalui musyawarah keluarga maupun musyawarah dengan pemuka adat. Sampai saat ini belum ada masyarakat Sakai yang mengajukan sengekta warisan sampai pada Pengadilan Negeri maupun pengadilan Agama. Masyarakat Sakai muslim hendaknya melaksanakan Hukum waris berdasarkan sistem waris Islam. Pengadilan Agama seharusnya memberikan penyuluhan mengenai porsi pembagian waris berdasarkan sistem waris Islam kepada para Ketua Adat maupun pemuka Agama, sehingga dapat terlaksana pembagian waris menurut sistem waris Islam.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM WARIS ISLAM

HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM WARIS ISLAM

Mazhab ini dikembangkan oleh Imam Maliki, Syafi’i dan Ahmad Ibn Hanbal. Menurut pendapat ini untuk menentukan siapa yang lebih berhak diantara zawul al-arham untuk memperoleh warisan dari si pewaris adalah dengan cara menempatkan mereka pada kedudukan ahli waris yang menghubungkan mereka masing-masing kepada si pewaris, dan setelah kedudukan mereka didudukkan kepada ahli waris yang menghubungkan mereka kepada si pewaris selanjutnya kedudukan mereka diturunkan satu persatu, misalnya cucu perempuan garis perempuan didudukan sebagai anak perempuan, anak perempuan saudara laki-laki didudukan sebagai saudara laki-laki, anak perempuan saudara perempuan didudukan sebagai sudara perempuan, saudara perempuan ayah didudukan sebagai ayah, saudara perempuan ibu didudukan sebagai ibu dan seterusnya. Sedangkan dalam ahal pembagian harta warisan diselesaikan dengan cara pembagian biasa, yaitu dengan memakai ashab al- furud.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Aplikasi Perhitungan Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Perdata Pada Platform Android

Aplikasi Perhitungan Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Perdata Pada Platform Android

Hukum waris Islam berlaku bagi masyarakat Indonesia yang beragama Islam dan diatur dalam Pasal 171-214 Kompilasi Hukum Indonesia, yaitu materi hukum Islam yang ditulis dalam 229 pasal. Dalam hukum waris Islam menganut prinsip kewarisan individual bilateral, bukan kolektif maupun mayorat. Dengan demikian pewaris bisa berasal dari pihak bapak atau ibu.

4 Baca lebih lajut

HARTA WARIS BAGI ANAK ANGKAT BERDASARKAN HUKUM WARIS ISLAM

HARTA WARIS BAGI ANAK ANGKAT BERDASARKAN HUKUM WARIS ISLAM

Hukum waris yang ada dan berlaku di Indonesia sampai saat ini masih belum merupakan unifikasi hukum, akibatnya sampai sekarang ini pengaturan masalah pewarisan di Indonesia masih belum terdapat keseragaman. Hal ini tampaknya sampai kapan pun usaha untuk unifikasi hukum waris di Indonesia merupakan hal yang sulit diwujudkan, dikarenakan banyaknya faktor yang menjadi penyebabnya. Di Indonesia terdapat 3 (tiga) sistem hukum yang di gunakan untuk menyelesaikan sengketa hukum waris, yaitu hukum waris KUHPerdata, hukum waris Islam, dan hukum waris Adat. Terkait dengan sengketa hukum waris timbul hal-hal yang menjadi faktor seperti siapa yang berhak mewarisi harta waris dari pewaris, berapa bagiannya dan juga siap-siapa saja yang dapat menjadi ahli waris. Terkait masalah yang timbul di masyarakat bahwa apabila pasangan suami istri yang tidak memiliki seorang anak yang akan menjadi penerus keluarga dan sebagai penerus harta kekayaan orang tuanya, oleh karena itu maka sering terjadi orang tua yang tidak mempunyai anak akan mengangkat anak yang akan di jadikan penerus keluarga. Disinilah timbul suatu masalah apakah anak angkat dapat dikatakan sebagai ahli waris dari orang tua angkatnya dan apabila mendapatkan harta waris maka berapa besar bagiannya, dan juga apabila terdapat anak kandung berapa bagiankah yang akan diterima anak angkat tersebut. Terkait hal itu penulis akan mengkaji dalam skripsi dengan pokok masalah tentang harta waris bagi anak angkat berdasarkan hukum waris islam.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Keadilan Gender Hukum Waris Islam

Keadilan Gender Hukum Waris Islam

Artinya: Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki- laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing- masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara- saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun. (QS. An- Nisa’ (4) : 12)
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Bab 5 Hukum Waris Dalam Islam

Bab 5 Hukum Waris Dalam Islam

Dalam masalah tidak berhaknya pembunuh mendapatkan harta warisan orang yang terbunuh, sebagiain ulama memisahkan sifat pembunuhan yang terjadi. Jika pembunuhan yang dilakukan masuk dalam kategori sengaja, maka pembunuh tidak mendapatkan harta warisan sepeser pun dari korban. Adapun jika pembunuhannya bersifat tersalah maka pelakunya tetap mendapatkan harta waris. Pendapat ini dianut oleh imam Malik bin Anas dan pengikutnya.

33 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI AHLI WARIS BERKEBUTUHAN KHUSUS MENURUT HUKUM WARIS ISLAM

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI AHLI WARIS BERKEBUTUHAN KHUSUS MENURUT HUKUM WARIS ISLAM

Peristiwa yang pasti menimpa semua manusia di dunia adalah kematian. Artinya, keluarga akan kehilangan seseorang sekaligus menimbulkan pula akibat hukum, terutama yang berhubungan dengan harta kekayaan. Akibat meninggalnya seseorang maka harta kekayaannya akan beralih pada orang lain yang ditinggalkan. Faktanya masih banyak penyandang disabilitas diperlakukan kejam, tidak manusiawi, direndahkan, dan hak-haknya disalahgunakan. Dalam hal menjamin perlindungan hak ahli waris berkebutuhan khusus (retardasi mental) diperlukan seseorang yang dapat dipercaya dan bertanggungjawab karena dikhawatirkan harta tersebut akan dikuasai atau disalahgunakan oleh pihak lain. Dilain sisi bisa saja seorang wali tidak amanah dalam melaksanakan tugasnya, bukannya bertidak mewakili kepentingan ahli waris malah menggunakan hak tersebut untuk kepentingan pribadi. Penelitian ini adalah penelitian normatif yang didukung dengan data Putusan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh (Putusan No: 60/PDT.P/2008/INV/MSY.BNA) tentang Pencabutan Perwalian dengan tipe penelitian deskriptif. Data yang digunakan adalah data hukum sekunder, berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Pengelolaan data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian bahwa proses mewaris ahli waris berkebutuhan khusus sama dengan proses mewaris pada umumnya hanya saja terdapat tambahan yaitu tahapan penentuan wali. Perlindungan hukum bagi ahli waris berkebutuhan khusus dilakukan dengan cara perwalian, ketentuan, dan tata cara perwalian bagi orang Islam diatur lebih lanjut dengan Intruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 (Inpres No.1/1991) tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Upaya hukum yang dapat dilakukan apabila wali tidak amanah yaitu dengan mengajukan permohonan pencabutan perwalian kepada Pengadilan Agama (mencabut hak perwalian seseorang atau badan hukum) dan memindahkannya kepada pihak lain atas permohonan keluarga (bisa saja hanya dengan musyawarah dalam keluarga tanpa adanya putusan Pengadilan).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

HAK DAN KEDUDUKAN CUCU DALAM SISTEM PENGGANTIAN TEMPAT AHLI WARIS DITINJAU DARI HUKUM WARIS ISLAM DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM.

HAK DAN KEDUDUKAN CUCU DALAM SISTEM PENGGANTIAN TEMPAT AHLI WARIS DITINJAU DARI HUKUM WARIS ISLAM DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau bahan sekunder. Hal ini bertujuan untuk mengkaji dan menguji aspek-aspek Hukum Waris Islam dan menemu- kannya dalam kenyataan. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis, metode ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang dilakukan dengan pencandraan sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, dengan melalui dua tahapan yaitu studi kepustakaan dan wawancara yang kemudian dianalisis dengan menggunakan metode yuridis kualitatif.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

TINJAUAN MAS}LAH}AH MURSALAH TERHADAP PRAKTIK PEMBAGIAN WARISAN DI DESA KAMBENG KECAMATAN SLAHUNG KABUPATEN PONOROGO SKRIPSI

TINJAUAN MAS}LAH}AH MURSALAH TERHADAP PRAKTIK PEMBAGIAN WARISAN DI DESA KAMBENG KECAMATAN SLAHUNG KABUPATEN PONOROGO SKRIPSI

Hukum waris merupakan salah satu dari bagian dari hikum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitanya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, sebab setiap manusia akan mengalami peristiwa hukum yang dinamai kematian. Masyarakat di Desa Kambeng yang mayortas beragama Islam seharusnya masalah pembagian waris ini mengacu kepada ukum yang telah disepakati oleh masyarakat yang beragama islam yakni KHI. Tetapi tidak menuntuk kemungkinan bahwa masyarakat mempunyai cara tersendiri untuk membaginya, begitupun oleh masyarakat di Desa Kambeng ini mereka membagi warisan nya sesuai dengan hukum kekeluargaan yakni hukum yang telah ada sejak leluhurnya dulu. Di masyarakat Desa Kambeng ini yang berkembang mereka membagi warisannya dengan menyamaratakan bagian harta warisan dari seorang janda, anak laki-laki dan anak perempuan sedangkan utuk seorang ayah dan ibu tidak mendapatkan bagian harta warisan. Selain itu yang berkembang di masyarakat desa kambeng adalah cenderung untuk tidak segera mencatatkan bagian yang diterima ahli waris atau dianggap tidak penting.
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...