Top PDF Determinan Yang Berhubungan Dengan Tindakan Kebersihan Diri Santriwati Di Pondok Pesantren X Jombang

Determinan Yang Berhubungan Dengan Tindakan Kebersihan Diri Santriwati Di Pondok Pesantren X Jombang

Determinan Yang Berhubungan Dengan Tindakan Kebersihan Diri Santriwati Di Pondok Pesantren X Jombang

sudah memadai hanya saja kebersihannya kurang terjaga karena lantainya licin dan berlumut. Tempat wudhu disediakan kran air bukan lagi bak air seperti pada pondok pesantren tradisional. Keberadaan tempat menjemur dan mencuci baju juga sudah memadai dengan kondisi yang baik. Tempat menjemur baju berada langsung di bawah terik matahari. Air bersih yang di sediakan juga memenuhi syarat fisik air bersih yakni tidak keruh, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Tempat pembuangan sampah juga sudah disediakan di Pondok Pesantren X Jombang, hanya saja kondisinya tidak memiliki tutup. Masih ada sampah yang hanya dibiarkan terkumpul di sudut ruangan tanpa dibuang di tempat sampah. Pada sarana berupa lemari pakaian kondisinya sudah memadai karena setiap santriwati memiliki lemari sendiri. Pada aspek luas kamar, yang idealnya 4 m 2 /orang terdapat 2 dari 8 kamar yang memiliki kepadatan kurang. Kepadatan masing- masing kamar tersebut yakni sebesar 2,2 m 2 /orang dan 3,5 m 2 /orang. Aspek kerapian dan kebersihan kamar masih ada beberapa kamar yang tidak tertata rapi karena banyak baju bergelantungan dan banyak tidak tertata rapi. Berdasarkan hasil indepth interview untuk mengetahui peraturan kebersihan di sebagai faktor pendorong, diperoleh informasi bahwa terdapat peraturan secara tertulis mengenai kebersihan yang dibuat oleh sie divisi kebersihan di Pondok Pesantren X Jombang. Berikut penuturan nara sumber ketika ditanyakan seperti apa peraturan kebersihan yang ada di Pondok Pesantren X Jombang
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Rasionalitas Konsumtif Santriwati Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Rasionalitas Konsumtif Santriwati Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

banyak bermunculan merk handphone yang menawarkan harga yang cukup murah. Dalam tulisan saya kali ini saya akan membahas tentang pemenuhan kebutuhan handphone karena sekarang pemenuhan akan handphone sedang meningkat sesuai dengan fenomena yang terjadi saat ini. Kebutuhan setiap individu memang sangat berbeda, apalagi remaja saat ini mempunyai kebutuhan yang bermacam-macam. Dalam menempuh pendidikan apalagi di pondok DU banyak sekali kebutuhan yang diperlukan oleh santriwati saat di dalam pondok, apalagi mereka juga jauh dengan keluarga. Misalnya saja laptop sebuah fasilitas yang dibutuhkan dalam proses belajar. Laptop dibutuhkan oleh santriwati dalam mengerjakan tugas sekolah, selain itu dalam mencara segala informasi yang dibutuhkan dalam pelajaran sekolah yang sulit dicari. Media komunikasi ini memang sangat efektif dan banyak juga manfaatnya dalam proses belajar. Hal ini masuk kedalam Rasionalitas instrumental Weber adalah tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan ketersediaan alat yang digunakan untuk mencapainya. Sesuai kebutuhan di dalam pondok memang laptop mempunyai pengaruh besar, yaitu dalam mengerjakan tugas santriwati, memberikan informasi yang dibutuhkan, menambah wawasan di dalam dunia luar.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Rasionalitas Konsumtif Santriwati Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Rasionalitas Konsumtif Santriwati Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Alat komunikasi yang berupa handphone memang tidak asing lagi di kalangan masyarakat khususnya remaja saat ini, bahkan setiap orang sekarang menjadikan handphone kebutuhan yang wajib dimiliki karena kegunaanya yang sangat penting yaitu sebagai alat komunikasi. Di dalam Pondok DU memang santriwati dilarang membawa handphone didalam lingkungan pondok, tetapi mereka tetap saja membawa alat komunikasi ini pastinya secara diam-diam. Agar tidak ketahuan oleh pengurus pondok, karena jika ada salah satu santriwati yang ketahuan membawa handphone maka semua satu asrama akan dihukum. Rasionalitas instrumental Weber tepat sekali dikaitkan dengan fenomena ini tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan. Pertimbangan disini yaitu pertimbangan untuk memakai handphone yang lebih murah,karena jika ketahuan dan dirampas santriwati tidak terlalu menyesal dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu serta ketersediaan alat yang digunakan untuk mencapainya, handphone disini mudah sekali untuk didapatkan, apalagi sekarang ini dengan harga yang murah sudah bisa mendapatkan handphone yang canggih, aplikasi yang lengkap.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Gambaran Tingkat Pengetahuan Gizi Seimbang pada Santriwati Remaja Putri di Pondok Pesantren

Gambaran Tingkat Pengetahuan Gizi Seimbang pada Santriwati Remaja Putri di Pondok Pesantren

mendapatkan edukasi tentang gizi oleh dosen-dosen Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Darussalam Gontor yang bertempat d lingkungan Pondok Pesantren Gontor Putri 1. Selain itu, mereka juga mendapatkan pelajaran tentang gizi dan praktek memasak di mata pelajaran Nisaiyat.

5 Baca lebih lajut

Tukar guling wakaf di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Tukar guling wakaf di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Idealnya, wakaf bersifat abadi dan biasanya berupa tanah, sebab tanah bersifat abadi. Namun bagaimana jika tanah wakaf tersebut ditukarkan? Pada dasarnya tanah yang sudah diwakafkan tidak dapat dilakukan perubahan dari yang dimaksudkan dalam ikrar wakaf. Akan tetapi dapat ditemui beberapa praktek tukar guling tanah wakaf, sebagaimana di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Tanah wakaf milik Pesantren ditukar dengan tanah milik warga. Tindakan menukar lokasi tanah wakaf merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti. Berdasarkan latar belakang di atas, diidentifikasikan masalah yang menjadi kajian penelitian ini, yaitu : 1) Mengapa terjadi tukar guling wakaf di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang? 2) Bagaimana praktik tukar guling wakaf di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang?
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Tradisi nyantri lansia di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Tradisi nyantri lansia di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

With the formulation of the existing problems as well as from the search for primary and secondary sources conducted by the author proves that: 1) This pondok pesantren was founded in 1885 by KH. Tamim Ershad. Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang was originally known as Pondok Rejoso, but there was a change from the name Rejoso to Darul Ulum in 1933 by KH. Dahlan Kholil. 2) This tradition exists because of the desire of individuals and groups of people to study the knowledge of dzikir in Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. 3) The development of the nyantri tradition can be seen in three ways, namely from the students, activities and facilities and infrastructure.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Studi Fenomenologi Pengalaman dan Mekanisme Koping Dismenore Pada Santriwati Pondok Pesantren An-Nahdlah Pondok Petir Depok

Studi Fenomenologi Pengalaman dan Mekanisme Koping Dismenore Pada Santriwati Pondok Pesantren An-Nahdlah Pondok Petir Depok

Dismenore adalah satu dari sekian banyak masalah ginekologi, yang mempengaruhi sebagian besar perempuan dan menyebabkan ketidakmampuan beraktivitas tiap bulannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman dan mekanisme koping dismenore pada santriwati di Pondok Pesantren An-Nahdlah Pondok Petir Depok. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif yang dilakukan dengan wawancara mendalam. Partisipan penelitian ini terdiri dari lima partisipan berusia 13-19 tahun yang pernah mengalami dismenore. Pemilihan partisipan penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Data didapatkan dari hasil rekaman wawancara mendalam dan dianalisis dengan metode Colaizzi. Penelitian ini mengindentifikasi enam tema, yaitu : 1) karakteristik nyeri yang dialami oleh santriwati, 2) dampak dismenore dalam kehidupan sehari-hari santriwati, 3) upaya santriwati dalam mengatasi dismenore, 4) dukungan yang diperoleh santriwati saat mengalami dismenore, 5) antisipasi yang dilakukan santriwati terhadap dismenore, 6) mitos-mitos dismenore yang dipercayai oleh santriwati. Penelitian lebih lanjut juga dapat dilakukan untuk mengeksplorasi secara mendalam, khususnya kepada perempuan yang mengalami dismenore dengan adanya riwayat peradangan pelvis (dismenore sekunder), agar didapatkan data mengenai pengalaman dan mekanisme koping dismenore yang lebih bervariasi dari pada sebelumnya.
Baca lebih lanjut

180 Baca lebih lajut

Zakat Profesi Prespektif Kiai Pondok Pesantren di Jombang

Zakat Profesi Prespektif Kiai Pondok Pesantren di Jombang

Karena kecerdasan beliau dan keahliannya dalam ilmu tafsir beliau mendapat sebutan pakar tafsir dan diangkat menjadi Mudir I madrasatul Qur‟an Tebuireng dan menempati rumah milik KH. Wahid Hasyim yang terletak di kawasan PP. Tebuireng tidak hanya berkecimpung di dunia pesantren beliau juga pernah aktif berdakwah melalui media maya dan mengisi rubric tentang tafsir actual di Koran Harian Bangsa yang merupakan anak cabang dari Grup Jawa Pos yang telah terbit kurang lebih tiga belas tahun di Jawa timur. Selain itu beliau juga merupakan kyai yang aktif berpolitik beliau pernah menjadi anggota DPR untuk mewakili daerah Jawa timur pada priode 2011-2014 yang diusung oleh fraksi Demokrat.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Modernisasi pendidikan pesantren: Studi kasus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Modernisasi pendidikan pesantren: Studi kasus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) Modernisasi pendidikan pesantren di pondok pesantren Tebuireng Jombang sudah dimulai pada tahun 1932 di bawah naungan kepengasuhan kyai Wahid Hasyim hingga pada periode kepengasuhan yang ke-7 yaitu pada periode KH. Salahuddin Wahid yang memimpin pesantren Tebuireng pada tahun 2006 hingga sekarang ini. Dan pada periode kepengasuhan KH. Salahuddin Wahid pembaharuan pada pendidikannya mencakup pembaharuan pada 4 sektor yang diantaranya meliputi pembaharuan pada SDMnya, metode, kurikulum, dan evaluasinya. (2) Faktor yang menjadi pendukung adanya modernisasi pendidikan pesantren di Tebuireng Jombang adalah kemampuan pengasuh, adanya pemimpin yang kuat dan bervisi, dibentuknya madrasah diniyah, dan adanya UPMP (Unit Penjamin Mutu Pendidikan). Dan faktor yang menjadi penghambat adanya modernisasi pendidikan pesantren adalah belum seimbangnya antara pembangunan fisik dengan SDM tenaga pengajar, kurang kompaknya antara majlis ilmi dengan unit penjamin mutu, perbedaan kebijakan masing-masing unit, pemilihan tenaga pengajar yang tidak selektif dan tidak kompeten, konsep barokah yang mematikan orientasi ilmiah, dan pengembangan sistem mutu pendidikan yang tidak tetap.
Baca lebih lanjut

159 Baca lebih lajut

PERAN KEPEMIMPINAN NYAI DI PONDOK PESANTREN          (Studi Multi Situs di Pondok Pesantren Al-Lathifiyah II Tambakberas Jombang,  Pondok Pesantren Nur Khadijah Den Anyar Jombang dan  Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri)

PERAN KEPEMIMPINAN NYAI DI PONDOK PESANTREN (Studi Multi Situs di Pondok Pesantren Al-Lathifiyah II Tambakberas Jombang, Pondok Pesantren Nur Khadijah Den Anyar Jombang dan Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri)

Perhatian yang ditunjukan dengan menuntaskan dulu pendidikan anak-anak Bu Nyai sendiri, lalu baru memberi perhatian para santri dalam bentuk mengangkat jadi pengurus, pembina bahkan melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi (Situs 2). Bentuk perhatian ini sesuai dengan pendapat Al-Hakim dkk (144:2005) yang menyatakan bahwa: “ Salah satu tanggung jawab krusial bagi seorang perempuan dalam islam adalah menjadi sosok ibu dan pendidik anak-anak yang soleh”. Ini menunjukkan bahwa walaupun Bu Nyai mempunyai peran yang penting sebagai pemimpin pondok pesantren, namun tugas utama sebagai seorang ibu tidak begitu saja hilang, dan tetap terjaga demi tanggung jawabnya untuk membesarkan kaum muda dalam msyarakat. Bentuk peran ini dalam diri Bu Nyai menunjukkan bahwa, walaupun memiliki fungsi sebagai pemimpin, namun aktivitas kepemimpinan ini sebagai bentuk kegiatan diluar rumah menjadi sekunder sehingga anak-anaknya tumbuh dewasa. Pernyataan ini dipertegas lagi oleh Katjasungkana (65 ; 1993) bahwa kedudukan wanita dalam bidang hukum keluarga akan menentukan pula atau setidak-tidaknya memberi warna pada kedudukannya dibidang-bidang lain.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Strategi Komunikasi dalam Pembinaan Santriwati di Pondok

Pesantren As’adiyah Putri Sengkang

Strategi Komunikasi dalam Pembinaan Santriwati di Pondok Pesantren As’adiyah Putri Sengkang

Pada Surat Luqman ayat 13, disebutkan bahwa Luqman Al-Hakim memanggil anaknya dengan panggilan ﱠَﲏُـﺒَٰﻳ penggunaan panggilan ini menurut Quraisy Shihab menggambarkan kemungilan. Pemungilan tersebut mengindikasikan suatu rasa kasih sayang, yaitu kasih sayang seorang ayah dalam hal mendidik anaknya. Dari hal tersebut, diisyaratkan bahwa dalam mendidik anak itu harus didasari rasa kasih sayang. Dari proses itulah, secara tidak langsung menjadikan seorang anak menjadi lebih santun, halus, dan cinta damai yang merupakan bagian dari nilai-nilai pendidikan karakter. Cinta damai merupakan sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman. Dalam ayat 13 tersebut, Luqman Al-Hakim mengajarkan nilai pendidikan religius, yaitu sikap keimanan untuk tidak menyekutukan Allah swt. Aspek keimanan merupakan hal yang paling mendasar dalam Islam, di mana iman merupakan suatu fondasi dasar seorang muslim dalam
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Pemaafan pada Santriwati beretnis Sunda di Pondok Pesantren Al- Ihsan Bandung.

Pemaafan pada Santriwati beretnis Sunda di Pondok Pesantren Al- Ihsan Bandung.

Santriwati dari latar belakang budaya yang berbeda mempunyai pengetahuan yang berbeda-beda dalam memaafkan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara pada tanggal 21 Mei 2015 ketika ditanya dengan pertanyaan “dari mana pertama kali saudara belajar memaafkan?”, kebanyakan dari santriwati belajar memaafkan dari orang tuanya atau dari lingkungan keluarganya seperti salah satu subjek yang berinisial SH mengatakan bahwa “pertama kali belajar memaafkan dari orang tua, kalau misalkan lagi main sama orang lain terus orang lain mengganggu kita, ibu saya langsung bilang maafin orang itu”. Seperti yang dipaparkan sebelumnya bahwa tradisi kehidupan sehari-hari budaya Sunda yang ramah dan rendah hati, hal ini menimbulkan suatu pertanyaan apakah santriwati yang beretnis Sunda ini sudah benar-benar memahami dan memaknai perilaku pemaafan itu sendiri serta manfaat dan kerugian yang dirasakan atau hanya sekedar tuntutan dan ajaran budaya saja.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Strategi pemasaran dalam meningkatkan citra Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Strategi pemasaran dalam meningkatkan citra Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Pondok pesantren ini tidak menggunakan media televisi maupun radio sebagai media promosi karena memakan biaya yang terlalu mahal dan dirasa tidak efektif, karena kebanyakan orang sekarang melihat televis pada acaranya dan tidak memerhatikan iklannya. Pesantren juga tidak mengikuti pameran-pameran. Media promosi yang digunakan hanyalah sebuah baliho di depan pondok pesantren itupun hanya berisi tentang informasi jadwal dan cara penerimaan santri baru. Pondok pesantren tebuireng juga menggunakan website resmi untuk publikasi kegiatan dan cara pendaftran santri baru dan tidak terlalu berfungsi sebagai media promosi. Promosi yang kami gunakan lebih banyak dengan cara mempublikasikan kegiatan- kegiatan pondok pesantren dan publikasi tentang prestasi pondok pesantren serta dengan menjalin kerja sama dengan lembaga lain. Hal ini kami rasa lebih menyentuh ke masyarakat dari pada harus
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

Penelitian ini menggunakan metode Etnografi, seperti observasi dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang jelas mengenai bagaimana pembinaan ketaatan di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Dengan hal ini akan mengungkapkan bagaimana ketaatan menjadi hal yang sangat penting di kehidupan Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Penelitian ini mengkaji tentang pembinaan ketaatan santri dan santriwati di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk kualitatif. Adapun informan yang di wawancara untuk penulisan ini adalah: santri dan santriwati Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, para pengelola yaitu Ustadz dan Ustadzah yang tinggal di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, dan para wali santri dan santriwati.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PERANAN PENGASUH DALAM PEMBINAAN AKHLAK SANTRIWATI DI PONDOK PESANTREN AR-ROHMAH PUTRI MALANG

PERANAN PENGASUH DALAM PEMBINAAN AKHLAK SANTRIWATI DI PONDOK PESANTREN AR-ROHMAH PUTRI MALANG

Pesantren merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang muncul bersamaan dengan datangnya Walisongo yaitu sejak sekitar 300-400 tahun lalu. Keberadannya berfungsi menjadi pusat belajar untuk mendalami ilmu agama sebagai pedomaan hidup dengan menekankan kepentingan moral dan akhlak dalam bermasyarakat. Dari sisi historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna ke-Islamaan tetapi juga merupakan sistem pendidikan yang tumbuh, dan lahir berkembang dari kultur yang bersifat indigenous, oleh karena itu pesantren mempunyai keterkaitan erat yang tidak dapat dipisahkan dengan komunitas lingkungannya.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pembinaan ketaatan santri dan santriwati di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah bermacam-macam, seperti contohnya: ketaatan keamanan atau ketertiban umum, ketaatan etika dan kesopanan, ketaatan kebersihan dan kesehatan, ketaatan beribadah, ketaatan menggunakan bahasa Arab dan Inggris, ketaatan menerima tamu, ketaatan makan di dapur, ketaatan pakaian dan kerapihan, dan ketaatan perizinan keluar pondok pesantren. Pembinaan ketaatan santri dan santriwati di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah telah di susun secara tertib dan benar, santri dan santriwati harus mengikuti segala ketaatan yang telah di buat oleh pihak pesantren, dari bangun tidur sampai tidur kembali semua sudah tersusun secara tertib. Ketaatan diterapkan di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memberikan dampak bagi pertumbuhan kepribadiaan yang baik, oleh karena itu dengan ketaatan seseorang akan terbiasa mengikuti dan mematuhi aturan yang berlaku, dan kebiasaan itu lama kelamaan masuk kedalam dirinya serta berperan dalam membangun kepribadian yang baik.Ketaatandi Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah yang diterapkan meliputi tata tertib terkait kegiatan akademik maupun tata tertib yang mengatur kegiatan sehari-hari.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa pendidikan di lingkungan ponpes sebagai salah satu ujung tombak dari terselenggaranya pendidikan agama Islam yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama Islam yang tertuang dalam kitab suci Al-quran dan Hadist Nabi SAW. Ponpes telah melahirkan tokoh-tokoh Islam yang sukses, sehingga menjadi teladan bagi kita semua, para alumni ponpes tersebut kita harapkan terus mengembangkan ponpes di Indonesia. Dalam peraturan perundang-undangan telah dijelaskan bahwa pendidikan di ponpes telah diakui, Ia mengatakan, tidak perlu dibeda-bedakan antara pendidikan di ponpes dan sekolah umum, karena memiliki tujuan yang sama yakni bagaimana menciptakan kader pemimpin masa depan bangsa yang memiliki kepribadian yang luhur. "Sebenarnya kalau dilihat prospek kedepan pendidikan di ponpes memimiliki peluang besar untuk mengembangkan pendidikannya dengan membuka berbagai program pendidikan yang diminati banyak orang”. Ponpes tidak hanya bertumpu saja pada pendidikan agama. 2 Pendataan Pondok Pesantren tahun 2011-2012 berhasil mendata 27.230 Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. 3
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

Pembinaan Ketaatan Santri dan Santriwati (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah)

kali kita temui unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalah artikan, sehingga terlalu bebas (liberal), yang pada akhirnya kehilangan arah dan tujuan maupun prinsip. Sebaliknya ada pula yang terlalu bebas, berpegang teguh kepada tradisi yang dianggap paling baik sendiri yang telah menguntungkan pada zamannya, dan tidak memperhitungkan masa depannya. Akhirnya tidak bebas lagi, karena mengikatkan diri kepada yang diketahui saja. Maka kebebasan itu harus dikembalikan kepada aslinya, yang berada pada garis-garis disiplin yang positif, dengan penuh tanggung jawab, baik di dalam kehidupan Pesantren maupun di dalam kehidupan masyarakat. Jiwa yang mewarnai suasana kehidupan Pesantren itulah yang dibawa oleh santri/wati sebagai bekal pokok dalam kehidupannya di dalam masyarakat kelak, dan jiwa Pesantren inilah yang harus senantiasa dihidupkan, dipelihara, dan dikembangkan sebaik-baiknya. Motto Pesantren
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Memahami Komunikasi Antarpribadi Guru dan Santriwati terhadap Santriwati yang Melakukan Pelanggaran Peraturan di Pondok Pesantren Al-Multazam – Kuningan – Jawa Barat

Memahami Komunikasi Antarpribadi Guru dan Santriwati terhadap Santriwati yang Melakukan Pelanggaran Peraturan di Pondok Pesantren Al-Multazam – Kuningan – Jawa Barat

Secara umum pesantren banyak dihuni oleh santri-santri usia sekolah SMP dan SMA (11-18 tahun) dan biasanya dikatagorikan remaja. Pada usia tersebut emosi yang dimiliki cenderung labil. Saat remajalah proses menjadi manusia dewasa berlangsung, hal ini dikatakan karena usia remaja adalah usia dimana seseorang ingin menemukan jati diri mereka. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk mencoba terhadap hal-hal yang baru dan menantang disekitarnya bisa membuat remaja juga berani untuk melanggar peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Komunikasi antara guru dan santri di Al-Multazam dilakukan dengan intensitas waktu yang tinggi dengan harapan semua santri paham dan dapat mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh pihak pesantren. Pada kenyataan di lapangan adalah sebaliknya, banyakan dari santri yang melanggar peraturan pesantren adalah mereka yang memiliki kedekatan dan memiliki intensitas komunikasi yang tinggi dengan para gurunya. Berdasarkan latar belakang masalah ini, maka dapat dirumuskan dalam beberapa pokok permasalahan sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Konstruksi Sosial Tentang Kekerasan Pada Santriwati Yang Ada Di Pondok Pesantren Salafi (MQ) di Blitar

Konstruksi Sosial Tentang Kekerasan Pada Santriwati Yang Ada Di Pondok Pesantren Salafi (MQ) di Blitar

3.4.5 Kekerasan oleh Teman dan Orang yang Ada di Pondok .................. 74 3.4.6 Pengaduan Kepada Oarang tua ......................................................... 76 3.4.7 Alasan Tetap Bertahan Di Pondok Pesantren ................................... 78 BAB IV KONSTRUKSI SOSIAL TENTANG KEKERASANPADA

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects