Top PDF Dukungan Sosial Orangtua Terhadap Anak Dalam Belajar Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Orangtua

Dukungan Sosial Orangtua Terhadap Anak Dalam Belajar Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Orangtua

Dukungan Sosial Orangtua Terhadap Anak Dalam Belajar Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Orangtua

Bagaimana penjelasan tentang dinamika psikologis hubungan antara tingkat pendidikan yang dicapainya dengan pola dukungan sosial terhadap anaknya terutama dalam masalah belajar? Menurut Hurlock (1991) orangtua yang berpendidikan tinsgi akan mendorong anaknya untuk mencapai pendidikan yang tinggi pula. Karena P^ndidikannya tinggi, maka orangtua tentu mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang lebih luas daripada orangtua yang kurang tinggi pendidikannya. Karena itu cara berpikirnya pun lebih terbuka dan tidak konservatif. Ia akan lebih bisa menerima hal- hal yang berbeda dengan dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiartono dan Sayekti (dalam Sukanti 1993) bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia baik pikiran, perasaan, sikap, serta perilakunya. Hal ini juga tercermin ketika ia harus memotivasi dan mendorong anaknya dalam meraih prestasi belajar yang tingggi. Ia akan mencari berbagai cara yang paling sesuai untuk mendukung anaknya dalam belajar Dukungan sosial yang diberikan orangtua mencakup empat aspekyakni informasi, perhatian emosional, penilaian, dan pemberian sarana instrumental.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Kemandirian Belajar Ditinjau dari Dukungan Sosial Orangtua pada Siswa Sekolah Menengah Atas

Kemandirian Belajar Ditinjau dari Dukungan Sosial Orangtua pada Siswa Sekolah Menengah Atas

dalam kenyataannya masih banyak anak yang kurang memiliki kesadaran dalam melaksanakan kegiatan belajar. Kenyataan lain, kurangnya kemandirian belajar yaitu masih ada anak yang menyontek pada saat ujian, belajar pada saat menjelang ujian dan menyalin tugas sekolah teman sekelas, dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dukungan orangtua memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar siswa.

7 Baca lebih lajut

MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI SISWA SMA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANGTUA DAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA

MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI SISWA SMA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANGTUA DAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan yang sedang antara pola asuh orang tua dan dukungan sosial teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa XII IPA di SMA Negeri 1 Tanete Rilau Kabupaten Barru. Pola asuh orang tua erat kaitannya dengan pembentukan pribadi anak. Setiap anak perlu diberikan pengasuhan yang baik sejak kecil agar pribadinya dapat terbentuk. Jika pola asuh baik telah timbul dalam diri siswa maka akan timbul pula sikap sosial yang baik, dan otomatis akan meningkatkan motivasi belajar di sekolah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan Tingkat Pendapatan Orangtua Terhadap Pendidikan Anak Di Kecamatan Tapian Dolok

Hubungan Tingkat Pendapatan Orangtua Terhadap Pendidikan Anak Di Kecamatan Tapian Dolok

Pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang berkesinambungan dan integral. Oleh karena itu, pendidikan haruslah merupakan proses belajar mengajar yang bertujuan untuk mengarahkan dan mengembangkan berbagai tujuan anggota masyarakat. Hubungan antara pendidikan dan persoalan-persoalan sosial terasa sangat penting mengingat semakin rumitnya kehidupan masyarakat sebagai akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga mendorong masyarakat untuk merumuskan kembali pengertian dan hakikat masyarakat itu.

81 Baca lebih lajut

KESIAPAN BERSEKOLAH DITINJAU DARI JENIS PENDIDIKAN PRA SEKOLAH ANAK DAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANGTUA

KESIAPAN BERSEKOLAH DITINJAU DARI JENIS PENDIDIKAN PRA SEKOLAH ANAK DAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANGTUA

Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (NST) merupakan suatu alat tes yang digunakan untuk mengungkap kesiapan untuk masuk sekolah dasar, meliputi kesiapan fisik dan kesiapan psikis. Kesiapan psikis ini terdiri dari kemasakan emosi, sosial, dan mental. Tes kesiapan bersekolah (NST) bersifat non verbal, dan disajikan secara individual. Tes ini terdiri dari 10 sub tes yang berisi gambar-gambar atau melengkapi gambar sekaligus jawabannya, yang masing-masing mengungkap kemampuan yang berbeda, yaitu: (1). Subtes 1: Pengamatan bentuk dan kemampuan membedakan (vorm waarneming en onderscheidings vermogen); (2). Subtes 2: Motorik halus (fijne motoriek); (3). Subtes 3: Pengertian tentang besar, jumlah, dan perbandingan (begrip voor grootte hoeveelheid en verhoudingen); (4). Subtes 4: Pengamatan tajam (scherp waarnemen); (5). Subtes 5: Kemampuan berpikir kritis (kritische waarneming); (6). Konsentrasi (taakspanning); (7). Subtes 7: Ingatan (geheugen); (8). Subtes 8: Pengertian objek dan penilaian situasi (object begrip en situatieboordeling); (9). Subtes 9: Menirukan cerita (weergeven van een verhaaltje); (10). Subtes 10: Menggambar orang (menstekening).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan antara dukungan sosial orangtua dengan penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai.

Hubungan antara dukungan sosial orangtua dengan penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai.

Remaja yang orangtuanya bercerai tidak bisa menerima kenyataan terhadap perubahan akibat perceraian orangtuanya (Cole, 2004). Orangtua yang tidak peka dan tidak menyadari perubahan-perubahan yang terjadi pada anak akan membuat mereka semakin jauh hingga anak merasa diabaikan (Hetherington, 2003). Menurut Cole (2004) remaja yang mengalami situasi perceraian orangtua akan menunjukkan kesulitan penyesuaian diri dalam bentuk masalah perilaku, kesulitan belajar, atau penarikan diri dari lingkungan sosial. Sama halnya dengan yang diungkapkan Hetherington (2003) bahwa perceraian orangtua memiliki resiko yang besar dalam masalah penyesuaian bagi remaja khususnya masalah eksternal seperti agresi, masalah perilaku antisosial dan kenakalan. Selain itu, juga menimbulkan masalah internalisasi seperti depresi, kecemasan, harga diri, dan rendahnya tingkat prestasi akademik.
Baca lebih lanjut

161 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN ORANGTUA DAN TINGKAT INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN ORANGTUA DAN TINGKAT INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS

Orangtua yang memahami anak akan memperlakukan anak dengan tepat. Pemahaman orangtua terhadap perilaku anak autis akan membuat anak merasa nyaman dan dihargai (Wijayakusuma, 2004., Jonovich, 2007., Rachmayanti & Zulkaida, 2008). Orangtua yang mengupayakan penanganan akan membantu proses pendidikan anak dan membantu kemajuan motorik kasar dan halus pada anak autis. Hal ini dapat membantu anak untuk lebih mandiri dan percaya diri karena mereka dilatih untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Selain itu, hal ini juga membantu perkembangan akademik karena anak akan belajar lebih banyak melalui upaya-upaya orangtua tersebut (White, Keonig & Scahill, 2006., Astuti, 2007., Novia & Kurniawan, 2007). Mencari Informasi seputar autis penting dilakukan karena orangtua dapat menentukan terapi apa yang paling sesuai untuk anak mereka. Sebagai hasilnya, anak akan mengembangkan potensi dirinya yang belum berkembang dengan baik. Selain itu, informasi yang didapat bisa pula berupa mengenai asupan yang sesuai dengan kondisi anak. Diet pada anak autis akan meredam agresifitas terkait dengan sensitivitas anak autis pada zat tertentu (Yuwono, 2009).
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Efektifitas Dukungan Sosial Dokter kepada Orangtua dalam Tata Laksana Anak Asma

Efektifitas Dukungan Sosial Dokter kepada Orangtua dalam Tata Laksana Anak Asma

Hasil analisis kovariant pada Tabel 6, kelima jenis efek utama secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Berarti faktor keluarga yang meliputi usia orangtua, pekerjaan, pendidikan, tingkat sosial ekonomi, riwayat asma pada keluarga dan adanya tanggungan asuransi untuk anak, secara bersama-sama tidak mempengaruhi kepuasan total pemberian dukungan penghargaan (appraisal) oleh dokter kepada orangtua. Dengan kata lain, kepuasan orangtua terhadap pemberian dukungan sosial dokter, yaitu jenis dukungan penghargaan (appraisal), tidak terkait dengan kelima faktor keluarga di atas. Hasil interaksi dua jalan secara bersama-sama tidak mempengaruhi kepuasan orangtua, sehingga tidak dilakukan stratifikasi.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Komunikasi Interpersonal Anak dan Orangtua ditinjau dari Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan Orangtua, dan Daerah Tempat Tinggal serta Implikasinya pada Bimbingan dan Konseling - Universitas Negeri Padang Repository

Komunikasi Interpersonal Anak dan Orangtua ditinjau dari Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan Orangtua, dan Daerah Tempat Tinggal serta Implikasinya pada Bimbingan dan Konseling - Universitas Negeri Padang Repository

Hasil analisis data menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal anak dan orangtua ditinjau dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan sama-sama berada pada kategori bagus. Hasil analisis data juga menyatakan komunikasi interpersonal anak laki-laki dan perempuan terdapat perbedaannya, dimana rata (mean) skor perempuan lebih tinggi dibanding dengan skor laki-laki. Perbedaan antara komunikasi interpersonal anak laki-laki dan perempuan terlihat dari nilai rata-rata semua indikator yang ada. Salah satu indikator yang mempengaruhi perbedaan ini adalah indikator keterbukaan. Di mana komunikasi interpersonal anak laki-laki berada pada kategori cukup bagus (CB) dan komunikasi interpersonal anak perempuan berada pada kategori bagus (B). Perbedaan tersebut dapat dilihat dalam indikator keterbukaan dengan beberapa aspek yang diungkap, seperti keterbukaan anak dalam menyampaikan kegiatan yang dilakukan, masalah umum, masalah belajar, masalah pribadi serta keterbukaan orangtua untuk berkomunikasi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES ORANGTUA DARI ANAK AUTIS

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES ORANGTUA DARI ANAK AUTIS

Tugas orangtua adalah membina dan mengatur kehidupan anak-anaknya. Kehidupan anak menjadi tanggung jawab orangtua. Tanggung jawab menurut Mangunsong (dalam Sumampouw dan Setiasih, 2003) memiliki beberapa bentuk keterlibatan antara lain yaitu, (a) Orangtua bertanggung jawab sebagai pengambil keputusan. Orangtua memiliki hak dan tanggung jawab mengambil keputusan tentang hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan anak-anaknya. (b) Orangtua bertanggung jawab sebagai orangtua. Tanggung jawab ini meliputi penyesuaian diri orangtua, sosialisasi anak, dan memperhatikan hubungan antar anak-anaknya. (c) Orangtua bertanggung jawab sebagai guru. Proses pendidikan anak tidak hanya terjadi di sekolah saja, namun terjadi rumah juga. Orangtua bertanggung jawab untuk membina dan mendidik anak-anaknya di rumah. (d) Orangtua bertanggung jawab sebagai advokat. Orangtua bertanggung jawab dalam memberi pembelaan bagi anak-anaknya, terutama bagi anaknya yang memiliki keterbatasan. Keterbatasan anak sering membuat posisi anak dirugikan, sehingga orangtua bertanggung jawab membela kepentingan anaknya.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

PERSEPSI ORANGTUA TERHADAP PENTINGNYA PENDIDIKAN  DI KELOMPOK BERMAIN DITINJAU DARI PEKERJAAN ORANGTUA  Persepsi Orangtua Terhadap Pentingnya Pendidikan Di Kelompok Bermain Ditinjau Dari Pekerjaan Orangtua Di Kelurahan Gemolong Kecamatan Gemolong Kabupate

PERSEPSI ORANGTUA TERHADAP PENTINGNYA PENDIDIKAN DI KELOMPOK BERMAIN DITINJAU DARI PEKERJAAN ORANGTUA Persepsi Orangtua Terhadap Pentingnya Pendidikan Di Kelompok Bermain Ditinjau Dari Pekerjaan Orangtua Di Kelurahan Gemolong Kecamatan Gemolong Kabupate

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pendidikan presekolah yang sangat penting bagi anak sebelum memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Di PAUD anak didik dididik dan dibina agar memiliki kesiapan untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi yakni Sekolah Dasar. Selain pembelajaran yang diberikan kepada anak, dalam PAUD anak juga bersosialisasi dengan teman sebaya melalui permainan maupun belajar kelompok.

16 Baca lebih lajut

Hubungan antara dukungan sosial dan tingkat stres orangtua dari anak autis.

Hubungan antara dukungan sosial dan tingkat stres orangtua dari anak autis.

Tugas orangtua adalah membina dan mengatur kehidupan anak-anaknya. Kehidupan anak menjadi tanggung jawab orangtua. Tanggung jawab menurut Mangunsong (dalam Sumampouw dan Setiasih, 2003) memiliki beberapa bentuk keterlibatan antara lain yaitu, (a) Orangtua bertanggung jawab sebagai pengambil keputusan. Orangtua memiliki hak dan tanggung jawab mengambil keputusan tentang hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan anak-anaknya. (b) Orangtua bertanggung jawab sebagai orangtua. Tanggung jawab ini meliputi penyesuaian diri orangtua, sosialisasi anak, dan memperhatikan hubungan antar anak-anaknya. (c) Orangtua bertanggung jawab sebagai guru. Proses pendidikan anak tidak hanya terjadi di sekolah saja, namun terjadi rumah juga. Orangtua bertanggung jawab untuk membina dan mendidik anak-anaknya di rumah. (d) Orangtua bertanggung jawab sebagai advokat. Orangtua bertanggung jawab dalam memberi pembelaan bagi anak-anaknya, terutama bagi anaknya yang memiliki keterbatasan. Keterbatasan anak sering membuat posisi anak dirugikan, sehingga orangtua bertanggung jawab membela kepentingan anaknya.
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

PERILAKU AGRESIF ORANGTUA TERHADAP ANAK DITINJAU DARI RELIGIUSITAS

PERILAKU AGRESIF ORANGTUA TERHADAP ANAK DITINJAU DARI RELIGIUSITAS

Deindividuasi bisa mengarahkan individu kepada kekuasaan dan menimbulkan perilaku yang tidak terkendali, (4) Pola asuh : terutama yang berhubungan dengan pemberian disiplin yang tidak konsisten dan terlalu keras, serta pengawasan yang kurang terhadap anak, (5) Norma sosial yang berkaitan dengan pengungkapan agresi yang dikendalikan oleh isyarat-isyarat yang memberikan informasi tentang norma situasi dimana kita berada, (6) Frustrasi merupakan gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan Yang akan mendorong munculnya perilaku agresif, (7) Tingkat religiusitas : minimnya seseorang meyakini dan memahami suatu religi sehingga saat mengalami tekanan dalam hidupnya kontrol dirinya goyah, maka mendorong munculnya perilaku agresif .
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STUDI KASUS TENTANG DUKUNGAN SOSIAL PADA ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK TUNGGAL REMAJA AUTIS SKRIPSI

STUDI KASUS TENTANG DUKUNGAN SOSIAL PADA ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK TUNGGAL REMAJA AUTIS SKRIPSI

11. Kumpulan anak juara 1 kluyuran, Sheren; Atik; Albed; Bhismo; Sukjong. Entah harus senang atau menderita aku punya gumbulan kayak kalian HAHA. Tapi semenjak kenal kalian aku jadi sadar, kalau ketawa ngakak bareng sahabat itu lebih mahal daripada gadget. Terima kasih atas kesediaan kalian untuk mendengarkan omonganku yang gak seberapa penting selama ini. Ditunggu ya waktu dimana bisa kumpul lagi dengan kondisi udah pada sukses, amin.

20 Baca lebih lajut

ADAPTASI SOSIAL ORANGTUA ANAK TUNARUNGU

ADAPTASI SOSIAL ORANGTUA ANAK TUNARUNGU

tidak berkembangnya sifat percaya diri pada anak. Lalu ada pula sifat orangtua yang terlalu berkeinginan dimana orangtua sulit untuk menerima keadaan anak yang merupakan penyandang tunarungu sehingga sering kecewa dan memngharapkan sesuatu yang tidak mungkin, hal ini menyebabkan anak menjadi sombong. Lalu sikap orangtua yang tidak peduli yang membuat anak menjadi pemurung atau justru bahkan sering membuat masalah untuk menarik perhatian orangtua dan yang terakhir adalah sikap menerima dan menganggap masalah tersebut adalah hal yang wajar dan bukan menjadi beban orangtua maupun anak itu sendiri.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan antara Dukungan Sosial Orangtua dengan Kemandirian Belajar pada Siswa Sekolah Menengah Atas

Hubungan antara Dukungan Sosial Orangtua dengan Kemandirian Belajar pada Siswa Sekolah Menengah Atas

“Kalau mau prestasi bagus yah lingkungannya juga harus bagus la. Tingkatkan motivasi belajar si anak dulu. Kalau dia sudah ada motivasi belajar, prosesnya yah bisa jadi lancar. Kita berikan dia dukungan berupa kesempatan bagi anak untuk belajar, bukan mengontrol anak dalam belajarnya. Kalau semua – semuanya orangtua yang ngerjain dan nentuin, anak juga tidak akan jadi mandiri.” (Mb, dalam komunikasi personal pada tanggal 20 April 2009). Monks, dkk (1998) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian perlu didukung oleh disiplin, dan ketelitian, karena tidak ada sesuatu pengetahuan dan keterampilan yang dapat berkembang dengan baik tanpa diiringi oleh kedisiplinan, serta didukung oleh sikap yang terbuka, dalam konteks menumbuhkan rasa kedisiplinan ini peran dan dukungan sosial orangtua sangat diperlukan.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Hubungan Tingkat Pendapatan Orangtua Terhadap Pendidikan Anak Di Kecamatan Berastagi

Hubungan Tingkat Pendapatan Orangtua Terhadap Pendidikan Anak Di Kecamatan Berastagi

a. Dasar adat “sintua-singuda” yang dicalonkan. yang pertama-tama berhak menjadi perbapaan adalah anak tertua. Namun kalau ia berhalangan atau karena sebab yang lain, yang paling berhak di antara saudara-saudaranya adalah jatuh kepada anak yang termuda. Dari semua calon perbapaan maka siapa yang terkemuka atau siapa yang kuat mendapatkan dukungan, misalnya siapa yang mempunyai banyak anak beru dan senina, besar kemungkinan jabatan perbapaan atau raja urung atau pengulu, akan jatuh kepadanya. Jadi dengan demikian, kedudukan perbapaan, yang disebutkan di atas harus jatuh kepada yang tertua atau yang termuda, tidaklah sepenuhnya dijalankan secara baik waktu itu. Banyak contoh terjadi dalam hal pergantian perbapaan seperti itu, antara lain ke daerah perbapaan lima senina. lebih-lebih kejadian seperti itu terjadi setelah di daerah itu berkuasa kaum penjajah belanda di permulaan abad XX (1907). Belanda melakukan “intervensi” dalam hal penentuan siapa yang diangap pantas sebagai perbapaan dari kalangan keluarga yang memerintah, walaupun ada juga selalu berdasarkan adat.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Dukungan Sosial Orangtua Dengan Harga Diri Pada Remaja Tunarungu

Hubungan Antara Dukungan Sosial Orangtua Dengan Harga Diri Pada Remaja Tunarungu

Tunarungu juga memiliki tugas perkembangan yang sama dengan orang normal lainnya, yaitu melakukan penyesuaian diri dan sosial. Adanya tugas penyesuaian diri pada lingkungan sosial membutuhkan usaha yang lebih besar bagi tunarungu, ketunarunguan- nya menyebabkan berbagai perma- salahan dari keterbatasan yang dimi- likinya terkait dengan hubungan sosial pada lingkungan sekitar. Proses inte- raksi sosial tersebut memerlukan ko- munikasi dan hal ini tidak bisa dila- kukan oleh tunarungu.Terdapat ber- bagai program ajar khusus bagi para penyandang tunarungu yang sulit berinteraksi secara sosial seperti orang kebanyakan, seperti yang ada pada penelitian [16].Program ini dapat di- terapkan secara khusus untuk mem- bantu para remaja penderita tunarungu untuk dapat berinteraksi dengan masya- rakat di lingkungan sekitarnya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan antara Tingkat Pendidikan Orangtua dengan Pengetahuan tentang Pelecehan Seksual pada Anak Remaja di Surakarta

Hubungan antara Tingkat Pendidikan Orangtua dengan Pengetahuan tentang Pelecehan Seksual pada Anak Remaja di Surakarta

Variabel bebas pada penelitian ini adalah tingkat pendidikan orangtua dari siswa kelas VII SMP Negeri di Surakarta, sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat pengetahuan orangtua tentang pelecehan seksual pada anak remaja.Kedua variabel tersebut berskala ordinal dengan tiga kategori untuk masing-masing variabel, yaitu tingkat pendidikan rendah, sedang, dan tinggi, serta pengetahuan kurang, cukup, dan baik.Parameter yang digunakan untuk variabel bebas adalah orangtua yang pernah tamat pendidikan formal.Sedangkan parameter untuk variabel terikat adalah orangtua yang memiliki pengetahuanmengenai pengertian, klasifikasi, penyebab, dan dampak pelecehan seksual pada anak remaja.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...