Top PDF UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) TERHADAP ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) SECARA IN VITRO

UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) TERHADAP ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) SECARA IN VITRO

UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) TERHADAP ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) SECARA IN VITRO

Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu hama tanaman penting yang bersifat polifag dan dapat menyebabkan kerusakan hingga mencapai 80% pada tanaman, sehingga merugikan petani. Pengendalian menggunakan pestisida sintetik yang berlebihan menyebabkan terjadinya dampak negatif bagi lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan pestisida nabati seperti daun ketapang (Terminalia catappa L.). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun ketapang yang efektif dalam mengendalikan hama Spodoptera litura secara in vitro. Penelitian dilakukan di laboratorium Patologi, Entomologi dan Mikrobiologi, Fakultas Pertanian dan Peternakan dan lahan percobaan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada bulan Februari hingga Maret 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan yang terdiri dari kontrol, 9% EDK, 18% EDK, 27% EDK dan 36% EDK dengan masing-masing 3 ulangan. Parameter yang digunakan yaitu larva bergenti makan (%), kecepatan kematian, mortalitas, toksisitas LC50 dan larva menjadi pupa (%). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa konsentrasi efektif adalah konsentrasi EDK 18%
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

UJI EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) TERHADAP Salmonella typhi SECARA IN VITRO

UJI EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) TERHADAP Salmonella typhi SECARA IN VITRO

bahwa daun ketapang mempunyai kandungan antimikroba lebih banyak disbanding kulit batang dan buah, daun ketapang mempunyai kandungan flavonoid, tanin, saponin, fenol, alkaloid, dan steroid. Sedangkan kulit batang hanya mempunyai kandungan flavonoid dan saponin, pada buah hanya tanin, saponin, dan steroid. Lawal, et al (2013) membuktikan ekstrak daun ketapang dapat menghambat Morganellamorganii (M. morganii), Proteus mirabilis (P. mirabilis), Yerseniaenterocolitica (Y. enterocolitica), dan Escherichia coli (E. coli). Kadar Hambat Minimum (KHM) terdapat pada konsentrasi 25 μg/ml, sedangkan Kadar Bunuh Minimum (KBM) tidak dapat dinilai karena pada konsentrasi terbesar 100 μg/ml masih tumbuh banyak bakteri. Penelitian lain menunjukan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak daun ketapang, maka semakin besar daya bunuh konsentrasi ekstrak terhadap bakteri E. coli, Bacillus subtilis (B. subtilis), Staphylococcus aureus(S. aureus), Enterobacteraerogenes (E. aerogenes), (Neelavathi, 2013). Hasil penelitian pendahuluan ekstrak daun ketapang terhadap bakteri S. typhi didapatkan KBM pada konsentrasi 12,5%, sedangkan KHM tidak dapat dinilai disebabkan ekstrak daun ketapang berwarna keruh atau coklat kehitaman, dan media biakan selektif Salmonella-shigella (SS)broth berwarna keruh atau kemerahan, sehingga berpengaruh pada penilaian tingkat kejernihan.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

HIDROEKSTRAKSI DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) SEBAGAI PENGENDALI PENYAKIT ICE-ICE PADA BUDIDAYA Kappaphycus alvarezii

HIDROEKSTRAKSI DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) SEBAGAI PENGENDALI PENYAKIT ICE-ICE PADA BUDIDAYA Kappaphycus alvarezii

Uji in vivo dilakukan di Desa Palasa, Pulau Poteran, Kabupaten Sumenep, Madura, dengan metode budidaya yang digunakan adalah Metode Rakit Apung. Kedalaman perairan pada lokasi penelitian ini adalah 150 cm. Penanaman bibit K. alvarezii dengan metode rakit ini menggunakan rakit apung yang terbuat dari bambu berukuran antara 2,5 x 2,5 m 2 hingga 7 x 7 m 2 , untuk penahanan supaya rakit tidak hanyut terbawa arus, digunakan jangkar sebagai penahan atau diikat pata patok kayu yang ditancapkan di dasar laut. Konsentrasi esktrak daun Ketapang paling efektif hasil uji in vitro dicampur dengan air laut dengan takaran konsentrasi paling efektif hasil uji in vitro. Rumput laut yang sudah terjangkit penyakit ice-ice kira-kira seberat 5 gram kemudian didokumentasikan bintik putih pada rumpun sebagai gejala penyakit ice-ice kemudian diikat dengan tali raffia sebagai penanda. Rumput laut direndam dengan campuran ekstrak daun Ketapang dengan air laut selama 5 menit. Setiap 5 gram rumput laut diikat pada sarana (tali) budidaya dengan jarak satu ikatan dengan lainnya adalah 25 cm, perlakuan dilakukan dengan 3 kali pengulangan. Pengamatan klinis dengan mendokumentasikan thallus pada setiap rumpun untuk dilihat perkembangan thallus setelah dilakukan perendaman. Pengamatan thallus secara klinis dilakukan setiap dua hari sekali selama tujuh hari.
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

UJI INHIBISI KOROSI PADA BAJA LUNAK MENGGUNAKAN EKSTRAK SENYAWA TANIN DARI DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L) DALAM LARUTAN GARAM THE INHIBITION COROSSION TEST OF SOFT STEEL USING A COMPOUND TANNIN EXTRACT FROM THE LEAVES OF KETAPANG (Terminalia catappa

UJI INHIBISI KOROSI PADA BAJA LUNAK MENGGUNAKAN EKSTRAK SENYAWA TANIN DARI DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L) DALAM LARUTAN GARAM THE INHIBITION COROSSION TEST OF SOFT STEEL USING A COMPOUND TANNIN EXTRACT FROM THE LEAVES OF KETAPANG (Terminalia catappa

Tumbuhan ketapang merupakan tumbuhan tropis dari famili combretaceae yang banyak ditemui di Indonesia khususnya di daerah Lampung. Konsentrasi tanin yang tinggi ditemukan dihampir setiap bagian dari tumbuhan ketapang, termasuk bagian daun.Tanin dapat digunakan sebagai inhibitor korosi yang aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi senyawa tanin dari daun ketapang menggunakan pelarut etanol serta mengkaji pengaruh penambahan inhibitor senyawa tanin dari ekstrak daun ketapang untuk menurunkan laju korosi. Sebanyak 200 gram serbuk daun ketapang dimaserasi dengan pelarut etanol, kemudian diekstraksi menggunakan pelarut n-heksana. Filtrat dari masing-masing pelarut diuji fitokimia menggunakan FeCl 3 dan larutan gelatin untuk mengetahui
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Aplikasi Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) terhadap Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yang Terinfeksi Penyakit White Feces Disease (WFD)

Aplikasi Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) terhadap Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yang Terinfeksi Penyakit White Feces Disease (WFD)

Tingkat kerusakan pada perlakuan A lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya dikarenakan perlakuan ini merupakan kontrol negatif (udang sehat). Pada penelitian ini secara umum tingkat kerusakan jaringan yang dialami udang uji masih sangat tinggi pada tiap perlakuan. Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun ketapang dengan metode perendaman tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kerusakan jaringan, karena masih tingginya persentase kerusakan jaringan pada masing-masing perlakuan yang diakibatkan dari infeksi penyakit WFD (Gambar 1). Pada kenampakan visual hepatopankreas udang uji masih belum terlihat adanya perubahan secara optimal, dikarenakan organ hepatopankreas merupakan organ target dari infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit WFD. Evan (2009) mengatakan bahwa hepatopankreas merupakan indikator utama untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh udang yang terserang penyakit yang menggangu sistem fisiologi dan mengakibatkan kematian pada udang vaname.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Uji aktivitas antijamur salep dan krim ekstrak daun ketapang Terminalia cattapa L. pada kulit kelinci

Uji aktivitas antijamur salep dan krim ekstrak daun ketapang Terminalia cattapa L. pada kulit kelinci

Penelitian ini bertujuan untuk mengeta- hui aktivitas antijamur dari sediaan topikal yang mengandung ekstrak daun gugur ketapang terhadap kulit punggung kelind yang diinduksi dengan jamu[r]

7 Baca lebih lajut

LAPORAN PENELITIAN Kajian Ekstraksi Tanin Dari Daun Ketapang (Terminalia Catappa Linn)

LAPORAN PENELITIAN Kajian Ekstraksi Tanin Dari Daun Ketapang (Terminalia Catappa Linn)

Gambar 2.1 Struktur Inti Tanin.................................................................................................7 Gambar 3.1 Rangkaian Alat Ekstraksi.....................................................................................21 Gambar 3.2 Skema Jalannya Penelitian...................................................................................23 Gambar 4.2.1 Hubungan antara Konsentrasi Pelarut dengan Kadar Tanin yang dihasilkan...25 Gambar 4.2.2 Hubungan antara Waktu Ekstraksi dengan Kadar Tanin yang dihasilkan........26

13 Baca lebih lajut

Bioarang Limbah Daun Ketapang (Terminalia Catappa L.) sebagai Adsorben Zat Warna Metilen Biru dalam Larutan Berair

Bioarang Limbah Daun Ketapang (Terminalia Catappa L.) sebagai Adsorben Zat Warna Metilen Biru dalam Larutan Berair

Tanaman ketapang terdistribusi secara luas di Indonesia, meliputi daerah Sumatera sampai Papua. Ketapang ditanam sebagai pohon peneduh untuk perlindungan daerah pantai (Faisal, M. 2009), halaman, kebun, seperti halaman kampus Universitas Riau. Pohon ketapang mengalami waktu gugur dua kali dalam setahun (Alamendah, 2011). Daun-daun yang berguguran merupakan sampah organik yang akan berdampak pembusukan. Selain itu jika dibakar akan meningkatkan produksi CO 2 yang dapat

7 Baca lebih lajut

ANALISIS DAYA ABSORPSI DAUN KETAPANG Terminalia catappa L. TERHADAP KARBON DIOKSIDA DI BEBERAPA WILAYAH KOTA MAKASSAR

ANALISIS DAYA ABSORPSI DAUN KETAPANG Terminalia catappa L. TERHADAP KARBON DIOKSIDA DI BEBERAPA WILAYAH KOTA MAKASSAR

keseharian yang sudah tidak asing lagi di kota- kota metropolitan di Indonesia. Kemacetan rutin ini tidak hanya membuang percuma jutaan liter bensin di jalanan, namun juga akan mempertebal pencemaran udara akibat gas buang kendaraan bermotor. Aktivitas transportasi kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara di daerah perkotaan khusunya, transportasi darat yang berkontribusi signifikan terhadap setengah dari total emisi pencemaran udara, untuk sebagian besar timbal, CO, HC, dan NOx di daerah perkotaan, dengan konsentrasi utama terdapat di daerah lalu lintas yang padat, dimana tingkat pencemaran udara sudah atau hampir melampaui standar kualitas udara (Sastrawijaya, 1991; Kusminingrum, 2008; Sugiarti, 2009).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hindroekstraksi Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) sebagai Pengendali Penyakit Ice-ice pada Budidaya Kappaphycus alvarezii

Hindroekstraksi Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) sebagai Pengendali Penyakit Ice-ice pada Budidaya Kappaphycus alvarezii

Hidroekstraksi dengan suhu yang diatur dapat menarik senyawa-senyawa flavonoid, tannin dan saponin pada daun ketapang sehingga ekstrak memiliki potensi antimikroba terhadap bakteri Gram negatif [35]. Perbedaan respon hambat antara metode rebus dengan suhu tertentu serta metode kukus yang digunakan dapat disebabkan oleh perbedaan konsentrasi kandungan senyawa pada masing-masing daun. Semakin besar suhu yang digunakan mengakibatkan terjadinya penguraian senyawa menjadi bentuk senyawa lain yang memiliki sifat berbeda dari sebelumnya, hal ini didukung oleh penelitian telah dilakukan mengenai ekstraksi daun T catappa L. salah satunya menggunakan teknik Aquoeus ekstraction [18]. Penelitian aktivitas antibakteri T. catappa L. pada ekstraksi menggunakan air sebagai pelarut dengan temperatur 40 o -50 o C yang menghasilkan aktivitas antibakteri positif yang diuji dengan difusi cakram terhadap mikroorganisme gram positif dan negatif yang efektif dalam menghambat aktivitas bakteri [18]. Senyawa yang terdapat pada T. cattapa L. masih dalam keadaan baik ketika berada dibawah suhu 60 o C, 50 o C, dan 40 o C dan ketika suhu dinaikkan senyawa tidak terdeteksi [35]. Pemanasan menggunakan suhu 60°C pada daun jambu biji menyebabkan terjadinya degradasi senyawa fenol, sehingga mampu menurunkan senyawa fenol [36]. Aktivitas antibakteri dari daun ketapang diduga karena adanya kandungan senyawa metabolit sekunder seperti, polifenol, flavonoid dan tanin. [37].
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Studi Potensi Bioherbisida Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia Catappa) terhadap Gulma Rumput Teki (Cyperus Rotundus)

Studi Potensi Bioherbisida Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia Catappa) terhadap Gulma Rumput Teki (Cyperus Rotundus)

dan tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia sehingga mudah untuk dibudidayakan. Selama ini masyarakat hanya mengenal tanaman ketapang sebagai tanaman peneduh kota dan belum banyak dimanfaatkan sehingga nilai ekonomisnya masih rendah. Ketapang diketahui mengandung senyawa obat seperti flavonoid [3], alkaloid, tannin, triterpenoid/steroid, resin, saponin [3]. Selain itu, kehadiran flavonoid, terpenoid, steroid, kuinon, tannin dan saponin pada ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa) dapat diindikasikan untuk menjadi herbisida nabati (bioherbisida) karena menurut [4] senyawa seperti fenol, asam fenolik, koumarin dan flavonoid dari ekstrak tajuk sembung rambat dan ekstrak daun tembelekan dapat memberikan efek fitotoksisitas dan berat basah pada rumput teki (Cyperus rotundus).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

BIOARANG LIMBAH DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA METILEN BIRU DALAM LARUTAN BERAIR

BIOARANG LIMBAH DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA METILEN BIRU DALAM LARUTAN BERAIR

Riau University. After carbonization at various time at temperature of 300 ˚C, biocharcoal of Terminalia catappa leaves waste was used for the adsorption of methylene blue from aqueous solution. Parameters of contact time and concentration of the adsorbate were varied in order to determine the adsorption capacity. Water and ash content of biocharcoal of Terminalia catappa leaves waste were also identified. The results showed that the adsorption methylene blue each of biocharcoal was 4,3478; 6,0024 and 5,1281 mg/g at the carbonization time 30, 60 and 120 minutes respectively, with the initial concentration of 40 ppm and the adsorption time is 15 minutes. Water content of biocharcoal of Terminalia catappa leaves with carbonization time of 30 minutes, 60 minutes and 120 minutes was 2,74%; 2,84% and 1,67% respectively, while the ash content was 14%; 13% and 15% respectively.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

STABILITAS FISIK DAN KIMIA MINYAK BIJI KETAPANG (Terminalia catappa L.) SELAMA PENYIMPANAN

STABILITAS FISIK DAN KIMIA MINYAK BIJI KETAPANG (Terminalia catappa L.) SELAMA PENYIMPANAN

Ketapang (Terminalia catappa L.) is each one potentialy to producting of nabati oil. The research is purposes to determine effect of storage period on room and extreme temperature of ketapang seeds oil’s physical and chemical stability. Ketapang seeds oil was getted from ketapang seeds extraction by n-hexana with soxhletasi method. Ketapang seeds oil stability evaluation on room temperature 27 – 30 °C as long as 50 days and extreme temperature 65 °C as long as 10 days. Physical stability that color, aroma, and flavor use organolepticly, pH use pH-meter, density use piknometer, and viscosity use Oswald viscometer. Chemical stability that acid value, peroxide value, and soap value by titration method, and amount of tocopherol compound by spectrometry method. The result data was analyzed with linier regretion. The analyzed result of aroma, flavor, pH, density, soap value, and tocopherol compound showed descend linier, viscosity, acid value, and peroxide value showed ascend linier, and color of ketapang seeds oil is stabil as long as storage on room and extreme temperature. Storage period on extreme temperature more significant than room temperature to effect evaluation result of ketapang seeds oil’s physical and chemical parameters.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Yoghurt susu biji ketapang (Terminalia catappa L) dengan variasi jenis starter dan lama fermentasi

Yoghurt susu biji ketapang (Terminalia catappa L) dengan variasi jenis starter dan lama fermentasi

jam. Menurut standar SNI Yoghurt tahun 2009, yoghurt tanpa perlakuan pemanasan setelah fermentasi sebaiknya mengandung protein minimal 2,7%, lemak 3,0%, dan tingkat keasaman antara 0,5-2,0%. Untuk menghasilkan yoghurt biji ketapang dengan kadar protein yang tinggi, maka susu biji ketapang sebaiknya difermentasi selama 8 jam menggunakan starter L. bulgaricus. Total bakteri asam laktat pada minuman yoghurt biji ketapang nilai log bakteri asam laktat berkisar antara 7,35–7,75 log 10 CFU/ml.

8 Baca lebih lajut

Uji Beberapa Konsentrasi Ekstrak Tepung Daun Sirih Hutan (Piper Aduncum L.) Terhadap Jamur Ganoderma Boninense Pat. Secara in Vitro

Uji Beberapa Konsentrasi Ekstrak Tepung Daun Sirih Hutan (Piper Aduncum L.) Terhadap Jamur Ganoderma Boninense Pat. Secara in Vitro

Sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman Famili Piperaceae yang daunnya memiliki potensi sebagai sumber fungisida nabati, karena dinilai tidak merusak ekologi dan tidak berdampak pada ekosistem suatu areal pertanaman. Senyawa aktif yang terdapat dalam

7 Baca lebih lajut

Minyak biji ketapang (Terminalia catappa L) sebagai bahan pelunak dalam pembuatan kompon karet

Minyak biji ketapang (Terminalia catappa L) sebagai bahan pelunak dalam pembuatan kompon karet

Bahan pelunak merupakan salah satu bahan kimia inti sebagai penyusun struktur molekul yang banyak digunakan dalam pembuatan kompon untuk barang jadi karet. Bahan pelunak pada pembuatan kompon karet banyak digunakan berasal dari minyak bumi (petroleum oil) yaitu jenis minyak mineral tetapi mempunyai kelemahan, antara lain tidak ramah lingkungan, menyebabkan iritasi, korosif dan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu perlu adanya alternatif penggunaan bahan pelunak yang lain yang dapat diperbarui yaitu minyak yang berasal dari bahan nabati. Bahan pelunak alternatif yang berasal minyak nabati seperti minyak biji ketapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi yang tepat dalam kompon karet dengan penambahan minyak biji ketapang, untuk pembuatan karet pegangan setang sepeda motor yang memenuhi standar SNI 06 – 7031 – 2004. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 (dua) faktor, 2 (dua ) kali ulangan. Faktor pertama variasi konsentrasi bahan pelunak (P), yaitu : P1 : Minyak ketapang 5 phr dan P2 : Minyak ketapang 15 phr. Faktor kedua variasi konsentrasi bahan pengisi (C), yaitu : C1: Carbon Black (N 330) 40 phr dan C2 : Carbon Black (N 330) 60 phr. Hasil uji formula 2 untuk parameter kekerasan 69 shore A, tegangan putus 147 kg/cm2 dan perpanjangan putus 605%. Sedangkan hasil uji pengusangan nilai kemunduran tegangan putus yang baik diperoleh pada formula 3 yaitu 126 kg/cm2, nilai kemunduran perpanjangan putus setelah pengusangan yang baik diperoleh pada formula 2 yaitu 134 % dan kekerasan kompon karet setelah pengusangan yang baik diperoleh pada formula 1 yaitu 65 shore.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Uji Efektifitas Agensia Hayati Metarizhium anisopliae Terhadap Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura F) Secara In Vitro

Uji Efektifitas Agensia Hayati Metarizhium anisopliae Terhadap Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura F) Secara In Vitro

Hal ini diperkuat oleh pernyataan (Laba et al. 1999) yang menyatakan bahwa instar yang lebih lanjut mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan lebih panjang dibanding instar awal, instar yang lebih tua mempunyai tubuh yang lebih berat daripada instar sebelumnya Pada larva instar III memperlihatkan bahwa pada perlakuan konsentrasi 30 g/l air dan 35 g/l air lebih tinggi daripada perlakuan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan konsentrasi yang diberikan pada S. litura memberikan pengaruh tidak nyata terhadap penurunan bobot ulat. Pada larva instar IV terlihat bahwa bobot ulat perlakuan lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Hal ini dikarenakan tubuh larva telah diinfeksi M. anisopliae. Menurut (Prayogo dan Suharsono 2005) menyatakan bahwa semua jaringan dalam tubuh serangga dan cairan tubuh habis digunakan oleh jamur, sehingga serangga mati dengan tubuh yang mengeras seperti mumi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Minyak Biji Ketapang (Terminalia Catappa L) sebagai Bahan Pelunak dalam Pembuatan Kompon Karet

Minyak Biji Ketapang (Terminalia Catappa L) sebagai Bahan Pelunak dalam Pembuatan Kompon Karet

Bahan pelunak merupakan salah satu bahan kimia inti sebagai penyusun struktur molekul yang banyak digunakan dalam pembuatan kompon untuk barang jadi karet. Bahan pelunak pada pembuatan kompon karet banyak digunakan berasal dari minyak bumi (petroleum oil) yaitu jenis minyak mineral tetapi mempunyai kelemahan, antara lain tidak ramah lingkungan, menyebabkan iritasi, korosif dan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu perlu adanya alternatif penggunaan bahan pelunak yang lain yang dapat diperbarui yaitu minyak yang berasal dari bahan nabati. Bahan pelunak alternatif yang berasal minyak nabati seperti minyak biji ketapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi yang tepat dalam kompon karet dengan penambahan minyak biji ketapang, untuk pembuatan karet pegangan setang sepeda motor yang memenuhi standar SNI 06 – 7031 – 2004. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 (dua) faktor, 2 (dua ) kali ulangan. Faktor pertama variasi konsentrasi bahan pelunak (P), yaitu : P1 : Minyak ketapang 5 phr dan P2 : Minyak ketapang 15 phr. Faktor kedua variasi konsentrasi bahan pengisi (C), yaitu : C1: Carbon Black (N 330) 40 phr dan C2 : Carbon Black (N 330) 60 phr. Hasil uji formula 2 untuk parameter kekerasan 69 shore A, tegangan putus 147 kg/cm2 dan perpanjangan putus 605%. Sedangkan hasil uji pengusangan nilai kemunduran tegangan putus yang baik diperoleh pada formula 3 yaitu 126 kg/cm2, nilai kemunduran perpanjangan putus setelah pengusangan yang baik diperoleh pada formula 2 yaitu 134 % dan kekerasan kompon karet setelah pengusangan yang baik diperoleh pada formula 1 yaitu 65 shore.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) TERHADAP PERBAIKAN KERUSAKAN HEPATOSIT SERTA KADAR SGOT DAN SGPT MENCIT (Mus musculus) DIABETIK SKRIPSI

PENGARUH EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) TERHADAP PERBAIKAN KERUSAKAN HEPATOSIT SERTA KADAR SGOT DAN SGPT MENCIT (Mus musculus) DIABETIK SKRIPSI

Diabetes mellitus (DM) dapat dibedakan atas DM tipe-1 Insulin - Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dan DM tipe-2 Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Pada DM tipe-1 terjadi kerusakan pankreas berat, produksi insulin tidak ada atau sangat sedikit, sehingga mutlak memerlukan insulin dari luar tubuh. DM tipe-1 dapat timbul sejak usia masih muda (anak- anak). Pada DM tipe-2 terjadi kekurangan insulin namun tidak seberat pada DM tipe-1. Pada DM tipe-2 selain kekurangan insulin, juga disertai resistensi insulin yaitu insulin tidak bisa mengatur kadar gula darah untuk keperluan tubuh secara optimal, sehingga ikut berperan terhadap meningkatnya kadar gula darah. DM tipe-2 biasanya muncul setelah umur 30-40 tahun. Hasil penelitian menunjukkan persentase DM tipe-1 sekitar 10-20% dan DM tipe-2 adalah 80-90% dari seluruh penderita diabetes (Tiwari et al., 2002 dalam Widowati, 2008). Selain DM tipe-1 dan DM tipe-2 juga terdapat diabetes gestasional yang merupakan kondisi hiperglikemia yang didapatkan saat kehamilan (Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2014).
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

Profil GC-MS dan Potensi Bioherbisida Ekstrak Metanol Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) terhadap Gulma Maman Ungu (Cleome rutidosperma D.C.)

Profil GC-MS dan Potensi Bioherbisida Ekstrak Metanol Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) terhadap Gulma Maman Ungu (Cleome rutidosperma D.C.)

Ketapang (T. catappa) leaf included pre-grown bioherbicide with a concentration of 0.1 g/ml. The research was conducted in Macrobiology Laboratory, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences. Evaporation was carried out in the Laboratory of Wood Technology, Faculty of Forestry and the soil chemical content analysis was conducted in Soil Chemistry Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Tanjungpura, Pontianak. The Method of Gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS) was conducted at the Organic Laboratory of Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Gadjah Mada from August to November 2016. The research used a Completely Randomized Design (CRD) with extract concentrations of 0; 0.1; 0.3; 0.5 and 0.7 g/ml each with three replications.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects