Top PDF Efektivitas Pasal 20 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentan

Efektivitas Pasal 20 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentan

Efektivitas Pasal 20 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentan

The purpose of this research is determini ng the shape of a Guild Civil i n the Act Number 2 of 2014 on the Amandements of the Act Number 3 of 2004 concerning of Notary and application the Act Number 2 of 2014 on the Amandements of Act Number 3 of 2004 concerni ng of Notary related to effectiveness in the implementation evaluative intended to obtain information about the cause of symptoms. This approach is needed in order to give advice on issues and asseses the measures undertaken by the Article 20 of the Act Number 2 of 2014 on the Amandements of the Act Number 3 of 2004 concerni ng of Notary. Based on result of research and discussi on concluded that the impl ementation of Articl e 20 of the Act Number 2 of 2014 on the Amandements of the Act Number 3 of 2004 concerning of Notary of the shape Guild Civil is different from Guild Code that referred to i n Article 1618 Book of the Law of Civil the joint venture in relation to liability mainly Notari es
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS PEMBERLAKUAN CYBER NOTARY DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS.

TINJAUAN YURIDIS PEMBERLAKUAN CYBER NOTARY DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah berjalan sedemikian rupa sehingga pada saat ini sudah sangat berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Munculnya teknologi-teknologi canggih seperti internet dan yang lainnya harus diakui merupakan anak yang secara langsung lahir dari rahim bernama teknologi. Bagaimana selama 24 jam dunia dihubungkan oleh jaringan satelit, setiap detik kita dapat melihat dan mendengar peristiwa yang terjadi di belahan dunia melalui internet, berkat kecanggihan teknologi. 1 Teknologi informasi sendiri lahir sekitar 1947 ditandai dengan ditemukannya komputer sebagai komponen utamanya, setelah masa teknologi yang mengeksploitasi materi 50.000 tahun sebelum Masehi sampai abad ke-18 dan masa teknologi yang mengeksploitasi energi mulai abad ke-18 sampai 1947. 2
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis Kedudukan Notaris Sebagai Pembuat Risalah Lelang Dalam

Undang-Undang Nomor: 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-

Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN)

Analisis Kedudukan Notaris Sebagai Pembuat Risalah Lelang Dalam Undang-Undang Nomor: 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN)

3. Pengaturan Hukum Tentang Lelang dan Risalah Lelang Menurut Peraturan Mentri Keuangan Nomor : 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/PMK.07/2010 Tentang Pejabat Lelang Kelas II.......... 70

19 Baca lebih lajut

PERAN NOTARIS DALAM MEMBERIKAN JASA HUKUM  PADA MASYARAKAT (Kajian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris)

PERAN NOTARIS DALAM MEMBERIKAN JASA HUKUM PADA MASYARAKAT (Kajian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris)

Peran notaris dalam kajian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris sudah jelas, artinya kedudukan peran notaris dalam sistem hukum di Indonesia sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan atau norma yuridis yang berlaku. Notaris yang menjadi penyelenggara profesi hukum terikat pada sistem yuridis yang mengaturnya. Dalam sistem hukum di Indonesia ini, notaris ditentukan hanya sebagai pihak yang menerapkan atau mengimplementasikan aturan tentang kewenangan, kewajiban, atau apa saja yang menjadi larangan bagi notaris untuk menjalankannya. Pemerintah (negara) mengangkat notaris sebagai professional hokum yang memberikan jasa hukum kepada pihak-pihak yang meminta atau memohon layanan yuridis kepadanya. Sebagai pihak yang diangkat oleh negara maka notaris dapat dikategorikan sebagai pejabat negara. Menyandang status sebagai pejabat negara berarti notaris menjadi wakil Negara di bidangnya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NOTARIS DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS.

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NOTARIS DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS.

Contoh kasus Notaris yang terlibat dalam kasus tindak pidana adalah Ninoek Poernomo. Kasus tindak pidana yang dilakukan oleh Notaris Ninoek Poernomo telah diputus dalam putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor 1014 K/Pid/2013 tanggal 6 November 2013. Kasus ini berawal dari Notaris Ninoek Poernomo yang membuat surat atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan hak suatu perikatan atau pembebasan utang atau yang diperuntukkan sebagai bukti dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar atau tidak dipalsukan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Chapter III V

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Chapter III V

kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut” tidak mungkin untuk dilakukan. Pada dasarnya hubungan hukum antara notaris dengan para pihak/para penghadap yang telah membuat akta otentik di hadapan notaris tidak dapat dikonstruksikan / ditentukan pada awal pertemuan atau hubungan antara notaris dengan para penghadap, karena pada saat pertemuan tersebut belum terjadi permasalahan. Untuk mengetahui hubungan hukum antara notaris dengan penghadap harus dikaitkan dengan ketentuan pasal 1869 KUHPerdata yaitu “Suatu akta, yang, karena tidak berkuasa atau tidak cakapnya pegawai dimaksud di atas, atau karena suatu cacat dalam bentuknya. tidak dapat diperlakukan sebagai akta otentik, namun demikian mempunyai kekuatan sebagai tulisan di bawah tangan jika ia ditandatangani oleh para pihak” Dengan demikian maka hubungan hukum itu timbul atau menjadi masalah sejak adanya permasalah hukum berkaitan dengan akta otentik yang dibuat oleh notaris. Sejak itulah dapat dikategorikan bahwa akta otentik terdegradasi (penurunan
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Dan Perlindungan Hukum Bagi Notaris Purna Bakti Terhadap Akta Yang Pernah Dibuat (Analisis Pasal 65 Dan Pasal 66 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris)

Tanggung Jawab Dan Perlindungan Hukum Bagi Notaris Purna Bakti Terhadap Akta Yang Pernah Dibuat (Analisis Pasal 65 Dan Pasal 66 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris)

Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 pasal 66 ayat (1) dijelaskan bahwa pengambilan minuta akta dan pemanggilan Notaris untuk pemeriksaan, harus mendapat persetujuan dari majelis kehormatan Notaris. Sesuaipasal 66 ayat (1) tersebut dapat dikaWDNDQ EDKZD NDWD ³SHUVHWXMXDQ´ WHUVHEXW PHPSXQ\DL DUWL bahwa tidak adanya persetujuan maka hal tersebut tidak dapat dilakukan. Hal tersebut menunjukkan adanya kerahasiaan dan bahwa tidak dengan mudah untuk mengambil fotokopi minuta akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris dan memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuat atas protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris. Ketentuan undang- undang tersebut hanya berlaku untuk notaris yang masih menjabat, sehingga notaris yang masih menjabat mendapat perlindungan hukum.Notaris yang telah purna bakti tidak mendapat perlindungan hukum dari Mejelis Kehormatan Notaris, sedangkan Notaris telah purna bakti tetap harus bertanggung jawab terhadap akta yang dibuatnya sesuai dengan penjelasan dalam pasal 65 UUJN Nomor 2 Tahun 2014, namun tidak terdapat perlindungan hukum terhadapnya.UUJN tidak mengatur secara khusus mengenai perlindungan hukum bagi notaris yang telah purna bakti, sehingga dalam hal ini terjadi kekosongan hukum. Selain itu terdapat kekaburan norma atas pasal 65 UUJN Nomor 2 Tahun 2014 terkait batas waktu pertanggungjawaban dari seorang notaris yang telah berakhir masa jabatannya, sehingga pada akhirnya aturan tersebut menimbulkan berbagai tafsiran.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Calon Notaris yang Menjalankan Magamg Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris - Ubaya Repository

Perlindungan Hukum Calon Notaris yang Menjalankan Magamg Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris - Ubaya Repository

The research approach and the conceptual approach statute approach the conclusion: Setting notary candidates running internship aims to produce professional notary candidates, therefore, although still a notary in performing an internship candidates must run the obligations as required in the notary in the running position. Obligation for notaries who undergo internship is not prohibited and is not contrary to the principles of law. Legal consequences if the candidate notary who undergo internships violate the provisions of Article 16 paragraph (1) letter a of Law No. 2 in conjunction with the Law No. 2014 30 of 2004, which means it does not create a professional notary and as one of the considerations the Minister of Justice and Human Rights to refuse to become a notary public notary candidates, but there are constraints as to who makes a report on the results of a notary internship, because there are differences of opinion about the party giving assessment to the notary who is undergoing apprenticeship.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1997 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1997 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH

Negara Republiik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban setiap orang, oleh karena itu menempatkan perpajakan sebagai salah satu sumber penerimaan negara merupakan perwujudan kewajiban kenegaraan dalam kegotongroyongan nasional sebagai peran serta masyarakat dalam membiayai pembangunan. Sesuai dengan ketentuan Pasal 23 ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana telah diubah orang dengan Perubahan Pertama Tahun 1999, ketentuan-ketentuan perpajakan yang merupakan landasan pemungutan pajak ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan merupakan landasan hukum dalam pengenaan pajak sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan Angka au bangunan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Persekutuan Perdata Menurut Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dan Kitab Undang-undang Hukum Perdata terhadap Prinsip Kemandirian Notaris

Persekutuan Perdata Menurut Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dan Kitab Undang-undang Hukum Perdata terhadap Prinsip Kemandirian Notaris

b. Dibuat menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan undang-undang. Dalam kaitannya dengan persekutuan perdata maka tanggung jawab Notaris terhadap Akta merupakan tanggung jawab Notaris yang membuat akta itu. KUHPer menjelaskan dalam hal mewujudkan tujuan persekutuan, setiap anggota persekutuan dapat bertindak ke luar untuk persekutuan. Tindakan itu dilakukan atas nama sendiri dan menjadi tanggung jawab masing-masing anggota. Ke luar setiap anggota bertindak dan bertanggung jawab penuh secara pribadi atas perikatan-perikatan yang dilakukannya. Artinya jika seorang anggota membuat perikatan dan dari perikatan itu timbul kewajiban, maka anggota yang bersangkutanlah yang bertanggung jawab memenuhi kewajiban itu. Terhadap kerahasiaan akta dalam persekutuan perdata akan sulit dipertahankan karena tidaknya adanya larangan bagi sekutu untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh sekutu lainnya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

4. penyesuaian pengenaan sanksi yang diterapkan pada pasal tertentu, antara lain, berupa pernyataan bahwa Akta yang bersangkutan hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan, peringatan lisan/peringatan tertulis, atau tuntutan ganti rugi kepada Notaris;

12 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

Jenis penelitian tesis ini menggunakan penelitian yuridis normatif, yang bersifat deskriptif analitis, dimana pendekatan terhadap permasalahan dilakukan dengan mengkaji ketentuan Perundang-undangan yang berlaku dibidang peraturan jabatan Notaris Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 tentang perubahan Undang- Undang No 30 Tahun 2004, KUHPerdata dan KUHP, KUHAP yang mengatur masalah pidana. Penelitian ini menguraikan atau memaparkan sekaligus menganalisis permasalahan mengenai mengenai pertanggungjawaban notaris dalam berkara pidana yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

Notary is a public official appointed by Government to help the society make present or emerging agreements in the society. The purpose of the making of these written agreements before a Notary is to guarantee the legal certainty of stakeholders of the agreements. The written agreement made before a Notary is called a Deed. The purpose of the Deed is, so that it can be used as powerful evidence in case of disputes among the stakeholders or any lawsuit from other parties. Based on this explanation, how important the function of the deed is obvious, thus, in order to prevent the deed from being invalid, Notary Public Institution is governed in Notary regulations which have been replaced by Law No 30/2004 on The Position of Notary.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Pasal 20 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris Mengenai Persekutuan Perdata Notaris Di Solo Raya.

Pelaksanaan Pasal 20 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris Mengenai Persekutuan Perdata Notaris Di Solo Raya.

Dalam artikelnya, Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah melalui pengurus pusatnya Maferdy Yulius, sebagai ketua tim revisi Undang- Undang Jabatan Notaris dan Sekretarisnya Otty Chandra Ubayani menyatakan bahwa pihaknya ingin agar Undang-Undang Jabatan Notaris bisa mencegah monopoli notaris agar tercipta keadilan dan pemerataan rezeki. Pasal 20 UUJN memperbolehkan Notaris membuat Perserikatan Perdata sehingga bisa melakukan monopoli terhadap klien. Notaris-notaris yang sudah pensiun bisa saja tetap menguasai klien-kliennya melalui perserikatan Perdata. Mereka yang sudah pensiun itu akan mewariskan kliennya kepada orang-orang terdekat maupun keluarganya, sehingga nanti terjadi semacam „Dinasti Notaris‟. Ak ibatnya Notaris yang lain tidak kebagian rezeki. Dengan adanya pasal ini akan membuat Notaris „senior‟ bisa berkuasa sampai akhir hayat dengan menciptakan oligarki kepemimpinan.
Baca lebih lanjut

169 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

Pertanggungjawaban Notaris Dengan Akta Yang Dibuatnya Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

yaitu : “Notaris berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan perundangundangan, dan oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkan oleh Undang-Undang”. Kewajiban hukum merupakan suatu kewajiban yang diberikan dari luar diri manusia (norma heteronom), sedangkan kewajiban moral bersumber dari dalam diri sendiri (norma otonom). kewajiban hukum dan kewajiban moral dapat berpadu, dalam tataran ini kewajiban-kewajiban hukum telah diterima sebagai kewajiban-kewajiban moral. dalam wilayah pembahasan etika, Immanuel Kant menguraikan etika “imperatif kategoris” dimana, tunduk kepada hukum merupakan suatu sikapyang tanpa pamrih, dan tidak perlu alasan apapun untuk tunduk kepada hukum. 29 Adanya kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang dan kepercayaan dari masyarakat yang dilayani itulah yang menjadi dasar tugas dan fungsi Notaris dalam lalu lintas hukum. Dalam melaksanakan tugas jabatannya seorang Notaris harus berpegang teguh kepada Kode Etik Jabatan Notaris, karena tanpa itu, harkat dan martabat profesionalisme akan hilang sama sekali. Dalam penelitian ini juga menggabungkan antara teori pertanggungjawaban sebagaimana telah diuraikan diatas dengan teori sistem hukum. Teori tentang sistem hukum menurut Lawrence Meir
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

2 diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, perlu menetapkan Pe

2 diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, perlu menetapkan Pe

Nomor M.HH-05.OT,01.01.Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 676) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.HH-05.OT.01.01.Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 740);

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects