Top PDF Efikasi Virus Newcastle Disease Apathogenic sebagai Vaksin Aktif pada Ayam Pedaging.

Efikasi Virus Newcastle Disease Apathogenic sebagai Vaksin Aktif pada Ayam Pedaging.

Efikasi Virus Newcastle Disease Apathogenic sebagai Vaksin Aktif pada Ayam Pedaging.

Pengamatan titer antibodi pada kelompok yang tidak divaksin dan tidak ditantang merupakan kondisi kadar antibodi maternal dari awal ayam menetas sampai akhir pemeliharaan. Pada jenis burung, antibodi asal induk diturunkan dari induk ayam yang divaksinasi atau diinfeksi secara alami kepada keturunannya melalui kuning telur. Imunitas pasif ini memiliki durasi yang relatif pendek, biasanya 1 ‒ 2 minggu dan umumnya kurang dari 4 minggu. Antibodi asal induk memiliki fungsi untuk melindungi anak ayam (beberapa minggu pertama) selama periode ketika sistem kekebalan mereka belum sepenuhnya berkembang. Secara umum transfer antibodi dari induk ke telur dapat melalui kuning telur dan albumin serta transfer dari kuning telur ke embrio melalui sirkulasi embrio (Soares 2008). Titer antibodi yang protektif terhadap ND pada anak ayam yaitu sebesar 2 3 atau lebih (Grimes 2002). Menurut Okwor et al. (2014), antibodi asal induk dapat menetralisasi vaksin jika ayam yang divaksinasi memiliki titer antibodi yang tinggi.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Studi kemampuan vaksin aktif ND-IB: pembentuk kekebalan dan perlindungan terhadap paparan virus ib pada ayam pedaging

Studi kemampuan vaksin aktif ND-IB: pembentuk kekebalan dan perlindungan terhadap paparan virus ib pada ayam pedaging

Target organ virus IB adalah trakea, paru-paru, hati, limpa, ginjal, bursa, dan seka tonsil (Damayanti dan Darminto 2001). Perubahan patologi anatomi yang terjadi diantaranya ditemukannya eksudat di dalam trakhea, saluran hidung dan sinus hidung. Selain itu, juga ditemukan kantung udara berwarna keruh atau mengandung eksudat berwarna kuning dan sedikit peradangan di sekitar bronki. Virus pada vaksin ND-IB tidak menyebabkan gangguan pernapasan yang parah pada anak ayam jika tidak terjadi infeksi sekunder oleh bakteri (Licata 2007, Cavanagh 2003) E. coli dan mikoplasma (Murphy et al. 1999). Kematian ayam yang terinfeksi virus IB tergantung pada virulensi serotipe virus yang menyerang, status kekebalan, antibodi asal induk, umur, stres, dan adanya infeksi sekunder (Indriani dan Darminto 2000a).
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Pengaruh Vaksin Aktif Newcastele Disease-Infectious Bronchitis Terhadap Performance Ayam Pedaging

Pengaruh Vaksin Aktif Newcastele Disease-Infectious Bronchitis Terhadap Performance Ayam Pedaging

Infeksi IB bisa bersifat asimptomatis atau tidak menunjukkan gejala klinis yang khas (Ternagda et al. 2011). Gejala klinisnya mirip dengan penyakit saluran pernafasan atau penyakit saluran reproduksi yang lain (Jordan 1994). Gejala klinis yang biasa ditunjukkan ayam berupa batuk, bersin, ngorok, di bagian hidung dan rongga sinus terdapat cairan berlendir, serta di daerah trakea dan bronchi berwarna merah dan terdapat lendir atau sumbatan/eksudat berdarah (Boroomand et al. 2012). Selain itu terjadi airsacculitis bersamaan dengan munculnya penyakit sekunder (secondary bacterial infection). Penyakit ini dapat menurunkan produksi ayam petelur hingga 50%. Penyakit juga dapat menyebabkan pendarahan di ovarium dan terdapat lesio di oviduct. Telur yang dihasilkan dari ayam yang terkena penyakit ini memiliki ciri kerabang telur yang abnormal, tipis, kasar, mengkerut membentuk lingkaran, dan memiliki kualitas yang buruk, putih telur mengandung air (Fadilah dan Agustin 2005)
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Studi Kemampuan Vaksin ND-IB Lived: Pembentuk Kekebalan dan Perlindungan terhadap Paparan Virus Newcastle Disease pada Ayam Pedaging

Studi Kemampuan Vaksin ND-IB Lived: Pembentuk Kekebalan dan Perlindungan terhadap Paparan Virus Newcastle Disease pada Ayam Pedaging

Vaksinasi merupakan cara yang paling umum diterapkan untuk mencegah penyakit virus. Terdapat dua strategi utama pembuatan vaksin virus, yaitu menggunakan virus hidup (aktif) dan virus tidak aktif. Sebagian besar vaksin hidup diinjeksikan di bawah kulit (subkutan) atau pada otot (intramuskuler), tetapi beberapa diberikan lewat mulut (per oral), dan sejumlah kecil lewat aerosol atau pada unggas air dalam air minumnya. Virus vaksin bereplikasi dalam sel inang, menimbulkan respon kekebalan dalam jangka waktu yang lama, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Vaksin tidak aktif biasanya dibuat dari virus virulen. Vaksin tidak aktif diinjeksikan dalam jumlah banyak untuk menimbulkan respon antibodi dalam jumlah yang sama dengan penggunaan vaksin virus hidup dengan dosis yang jauh lebih kecil (Fenner et al. 1993). Vaksin aktif adalah vaksin yang mengandung antigen yang sudah dilemahkan untuk menghilangkan sifat-sifat virulensinya. Vaksin inaktif adalah vaksin yang berisi antigen yang sudah diinaktifkan (dimatikan) tetapi masih memiliki sifat imunogenitas. Vaksin dapat berisi satu jenis antigen yang disebut vaksin monovalen atau dapat pula berisi beberapa jenis antigen atau disebut vaksin polivalen (Tizard 2000). Secara teknis, vaksin harus memenuhi kriteria dapat memberikan perlindungan semaksimal mungkin terhadap ternak yang divaksin dan terhadap fetus melalui maternal immunity, tidak menimbulkan sakit jika diaplikasikan dan cara pemberiannya mudah serta tidak berulang-ulang agar dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya, serta tidak menimbulkan stres berulang pada ternak (Soeripto 2002).
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Penyebaran Virus Vaksin ND Pada Sekelompok Ayam Pedaging Yang Tidak Divaksinasi dan dipelihara bersama ayam yang divaksinasi.

Penyebaran Virus Vaksin ND Pada Sekelompok Ayam Pedaging Yang Tidak Divaksinasi dan dipelihara bersama ayam yang divaksinasi.

Vaksin ND La Sota yang digunakan pada penelitian ini digolongkan sebagai vaksin aktif yang mengandung virus lentogenik. Virus vaksin tersebut dapat diekresikan oleh ayam yang divaksin bersama udara pernafasan dan feses, selanjutnya virus vaksin tersebut secara alami menyebar pada kelompok ayam disekitarnya dan menimbulkan kekebalan yang cukup baik. Salah satu sifat vaksin aktif adalah mampu bereplikasi di dalam tubuh unggas yang divaksin serta dapat dikeluarkan melalui tinja dan sekreta lainnya. Daya sebar vaksin ini merupakan kelemahan dari vaksin aktif dengan virus yang dilemahkan (atenuasi) karena dapat kembali menjadi ganas (Miller et al, 2009a). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vaksin La Sota disebarkan pada kelompok ayam yang kontak dengan ayam yang divaksin. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan titer antibodi terhadap ND pada ayam yang kontak. Pada burung merpati (Columba livia), virus vaksin ND aktif dapat diekresikan melalui tinja mulai 5 sampai 25 hari pasca vaksinasi (Carrasco et al, 2008). Menurut Partadiredja dan Soejoeno (1988) serokonversi pada ayam yang divaksin secara intramuscular sudah dapat diketahui sejak satu minggu setelah vaksinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan serokonversi pada ayam yang tidak divaksin tampak pada dua minggu setelah kontak dengan ayam yang divaksin.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kajian Infeksi Virus Newcastle Disease pada Itik dan Ayam di Beberapa Lokasi di Kabupaten Subang

Kajian Infeksi Virus Newcastle Disease pada Itik dan Ayam di Beberapa Lokasi di Kabupaten Subang

Respon titer antibodi sangat dipengaruhi oleh kualitas vaksin, rute dan cara aplikasi, lingkungan, faktor individu dan jenis unggas (OIE 2012). Vaksinasi menggunakan vaksin aktif secara massal sering digunakan dibandingkan dengan vaksinasi secara individual karena lebih murah dan mudah untuk diaplikasikan (Senne et al. 2004). Vaksin dari galur lentogenik (LaSota dan B1) umumnya digunakan di seluruh dunia untuk mengatasi ND karena dapat memberikan proteksi dari VND ganas jika cara pemberian vaksin dilakukan secara benar (Kapzynski dan King 2005; Cornax et al. 2012; Dortmans et al. 2012). Kenyataan di lapangan terkadang hasilnya tidak sesuai harapan, vaksinasi massal pada kelompok unggas menggunakan metode spray hasilnya menunjukkan persentase kekebalan kelompok yang diperoleh hanya 53%, sedangkan vaksinasi melalui air minum persentase kekebalan kelompok yang diperoleh sebesar 60% (Degefa et al. 2004). Selain vaksin aktif, vaksin inaktif juga sering digunakan pada layer dan breeder karena dapat memberikan titer yang tinggi lebih lama dibandingkan dengan vaksin aktif dan juga antibodinya dapat diturunkan pada keturunannya (Al-Garib et al. 2003). Namun vaksin inaktif harganya mahal dan aplikasinya harus dilakukan secara individual sehingga tidak semua peternak dapat menggunakannya. Survei serologi serupa pada ayam broiler dan layer yang divaksinasi di Faisalabad, Pakistan juga dilakukan Numan et al. (2005), hasilnya menunjukkan titer antibodi bervariasi pada kedua jenis ayam tersebut, tetapi mayoritas titer antibodi ≥3 Log2. Selain itu, Aziz dan Ahmed (2010) melakukan survei serologi terhadap ayam domestik yang tidak divaksinasi di Propinsi Sulaimani, Irak dan hasilnya menunjukkan sebanyak 172 (34%) dari 500 serum yang diuji terdeteksi antibodi spesifik terhadap ND.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Kajian Infeksi Virus Newcastle Disease pada Itik dan Ayam di Beberapa Lokasi di Kabupaten Subang

Kajian Infeksi Virus Newcastle Disease pada Itik dan Ayam di Beberapa Lokasi di Kabupaten Subang

Respon titer antibodi sangat dipengaruhi oleh kualitas vaksin, rute dan cara aplikasi, lingkungan, faktor individu dan jenis unggas (OIE 2012). Vaksinasi menggunakan vaksin aktif secara massal sering digunakan dibandingkan dengan vaksinasi secara individual karena lebih murah dan mudah untuk diaplikasikan (Senne et al. 2004). Vaksin dari galur lentogenik (LaSota dan B1) umumnya digunakan di seluruh dunia untuk mengatasi ND karena dapat memberikan proteksi dari VND ganas jika cara pemberian vaksin dilakukan secara benar (Kapzynski dan King 2005; Cornax et al. 2012; Dortmans et al. 2012). Kenyataan di lapangan terkadang hasilnya tidak sesuai harapan, vaksinasi massal pada kelompok unggas menggunakan metode spray hasilnya menunjukkan persentase kekebalan kelompok yang diperoleh hanya 53%, sedangkan vaksinasi melalui air minum persentase kekebalan kelompok yang diperoleh sebesar 60% (Degefa et al. 2004). Selain vaksin aktif, vaksin inaktif juga sering digunakan pada layer dan breeder karena dapat memberikan titer yang tinggi lebih lama dibandingkan dengan vaksin aktif dan juga antibodinya dapat diturunkan pada keturunannya (Al-Garib et al. 2003). Namun vaksin inaktif harganya mahal dan aplikasinya harus dilakukan secara individual sehingga tidak semua peternak dapat menggunakannya. Survei serologi serupa pada ayam broiler dan layer yang divaksinasi di Faisalabad, Pakistan juga dilakukan Numan et al. (2005), hasilnya menunjukkan titer antibodi bervariasi pada kedua jenis ayam tersebut, tetapi mayoritas titer antibodi ≥3 Log2. Selain itu, Aziz dan Ahmed (2010) melakukan survei serologi terhadap ayam domestik yang tidak divaksinasi di Propinsi Sulaimani, Irak dan hasilnya menunjukkan sebanyak 172 (34%) dari 500 serum yang diuji terdeteksi antibodi spesifik terhadap ND.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Gambaran respon kebal newcastle disease pada ayam pedaging yang divaksinasi newcastle disease dan avian influenza pada berbagai tingkat umur

Gambaran respon kebal newcastle disease pada ayam pedaging yang divaksinasi newcastle disease dan avian influenza pada berbagai tingkat umur

Vaksinasi akan berhasil bila ditunjang dengan penggunaan vaksin yang berkualitas tinggi serta cara persiapan dan pelaksanaan vaksinasi yang benar. Prinsip dasar vaksinasi adalah antigen vaksin harus diberikan terlebih dahulu pada ayam sebelum terjadinya proses infeksi oleh virus lapang. Vaksinasi yang optimal yaitu dengan memberikan vaksin yang dapat memberikan perlindungan menyeluruh pada semua ayam. Kualitas vaksin yang baik sangat dipengaruhi oleh cara pembuatan vaksin, proses pendistribusian sampai ke peternakan dan penyimpanan sebelum pelaksanaan vaksinasi. Efektifitas vaksin ditentukan oleh jumlah titer virus dan masa kadaluarsa. Selain itu, program vaksinasi, vaksinator, dan peralatan vaksinasi beserta sarana/prasarana peternakan ayam memegang peranan dalam keberhasilan penanggulangan penyakit yang disebabkan oleh virus (Machdum 2009). Menurut Burgos dan Burgos (2007), vaksinasi pada unggas dapat memberikan hasil yang bervariasi tergantung pada kondisi penerapan di lokasi. Vaksin dapat menurunkan peluang ekskresi virus dan dinamika penularan, meningkatkan resistensi terhadap infeksi dan mengurangi timbulnya gejala klinis. Vaksinasi telah terbukti nyata mampu menurunkan peluang terjadinya ekskresi virus sehingga penyebaran virus di lingkungan dapat dihindari.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Kajian Patologi dan Imunohistokimia Kasus Lapang Newcastle Disease pada Ayam

Kajian Patologi dan Imunohistokimia Kasus Lapang Newcastle Disease pada Ayam

Berdasarkan tingkat keganasannya, virus ini terbagi menjadi empat golongan yaitu velogenik viserotropik (tipe Asia) ditandai dengan infeksi letal akut dengan lesi hemoragi pada intestinal, velogenik neurotropik (tipe Amerika) ditandai dengan lesi saluran respirasi dan syaraf tetapi tidak ada lesi pada intestinal dengan mortalitas tinggi, mesogenik (misalnya kumarov, mukteswar, roikin) ditandai dengan lesi saluran respirasi dan syaraf dengan mortalitas rendah dan lentogenik (misalnya La Sota, B1, F) ditandai dengan lesi bersifat asimptomatis pada usus (Alexander dan Senne 2008; Miller et al. 2010). Sejak tahun 1950, penggunaan vaksin aktif pada unggas peliharaan telah dilakukan untuk menurunkan kejadian penyakit dan kerugian ekonomi akibat ND, namun ND tetap menjadi masalah yang serius pada industri perunggasan (Czegledi et al. 2006; Liu et al. 2007). Selama periode 2000 sampai 2009 di Eropa, VND virulen dari ayam telah dideteksi dari unggas liar dan merpati peliharaan (Alexander 2011). Selama 40 tahun terakhir perjalanan ND di Asia dan Afrika tetap endemik pada unggas komersial, meskipun telah dilakukan vaksinasi intensif (Alexander et al. 2012).
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Kemampuan Tanggap Kebal Ayam Petelur yang Divaksinasi dengan Vaksin Aktif Newcastle Disease Strain LaSota Terhadap Paparan Virus Newcastle Disease Gen VII

Kemampuan Tanggap Kebal Ayam Petelur yang Divaksinasi dengan Vaksin Aktif Newcastle Disease Strain LaSota Terhadap Paparan Virus Newcastle Disease Gen VII

Menurut Mockett dan Darbyshire (1981) hasil titer antibodi kelompok ditantang akan meningkat setelah ditantang dan akhirnya akan terus menurun sebelum akhirnya akan meningkat kembali. Kelompok K4 memiliki nilai rataan titer antibodi lebih rendah dibanding K3, karena kelompok K4 dilakukan penantangan yang menyebabkan respon tubuh terhadap virus tantang. Berdasarkan analisis statistika (p<0.05) kelompok K3 K4 dan K1 K4 berbeda nyata (p<0.05) karena uji tantang pada K4 mempengaruhi titer antibodi. Kelompok K2 dengan K4 tidak dapat dianalisis karena pada kelompok K2 seluruh ayam mengalami kematian selama pengamatan. Pemberian vaksin pada kelompok K4 mampu melindungi dari virus tantang. Ayam yang divaksin dengan virus hidup atau killed oil-emulsion LaSota (genotipe II), sepenuhnya dilindungi terhadap heterolog tantangan dari strain genotype VIg, VIB, VIId dan IX. Efektivitas perlindungan dari dua vaksin strain komersial di ayam terhadap dua virulen tantangan virus dari genotipe VII (Miller et al. 2010).
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Deteksi dan Keragaman Molekuler Virus Newcastle Disease yang Bersirkulasi di Beberapa Wilayah Aceh

Deteksi dan Keragaman Molekuler Virus Newcastle Disease yang Bersirkulasi di Beberapa Wilayah Aceh

Teknik molekuler untuk mendiagnosa Virus Newcastle Disease dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) telah dikembangkan oleh Kary B. Mullis tahun 1985 dan menjadi teknik yang revolusioner. Pada awal perkembangannya metode PCR hanya digunakan untuk melipatgandakan molekul DNA, namun kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan pula untuk melakukan kuantitasi molekul mRNA. Saat ini metode PCR telah banyak digunakan untuk berbagai macam manipulasi dan analisis genetik. Metode ini juga sering digunakan untuk memisahkan gen-gen berkopi tunggal dari sekelompok sekuen genom. Dengan menggunakan metode PCR, dapat diperoleh pelipatgandaan suatu fragmen DNA (110 bp, 5×10 9 mol) sebesar 200.000 kali setelah dilakukan 20 siklus reaksi selama 220 menit. Hal ini menunjukkan bahwa pelipatgandaan suatu fragmen DNA dapat dilakukan secara cepat. Kelebihan lain reaksi ini adalah dapat dilakukan menggunakan komponen dalam jumlah sangat sedikit, hanya sekitar 5 µg DNA template, oligonukleotida yang diperlukan hanya sekitar 1 µM dan reaksi ini bisa dilakukan dalam volume 50-100 µl (Kary et al. 1987).
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Virus Pathogenity of Newcastle Disease in Chicken

Virus Pathogenity of Newcastle Disease in Chicken

Perbandingan sequence asam amino cleavage site protein F dengan intracerebral pathogenicity indices (ICPI) terhadap beberapa virus ND yang mempunyai sequence asam amino cleavage site yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dalam virulensinya. Virus ND strain Hert/33 dengan cleavage site protein F 112 RRQRRF 117 mempunyai nilai ICPI 1,88 sedangkan strain Beaudette C/45 dan Komarov dengan sequence cleveage site protein F yang sama dengan strain Hert/33 menunjukkan nilai ICPI antara 1,4 dan 1,5 (C OLLIN et al., 1993). Virus ND yang bersifat kurang virulen berdasarkan multiple basic amino acid yang dimilikinya, tidak selalu bersifat kurang virulen setelah dilakukan uji biologis. Penelitian mengenai karakterisasi secara patotipe dan molekular terhadap isolat-isolat virus ND yang diperoleh dari berbagai macam induk semang atau inang yang berbeda dilakukan Cina, selama tahun 1999 sampai dengan 2005 oleh Q IN et al. (2007) Mereka memperlihatkan bahwa sebagian besar virus yang mempunyai motif 112 R/K-R-Q-K/R-R 116 setelah diuji secara biologis tetap bersifat virulen. Namun demikian terdapat beberapa virus tipe LaSota yang bersifat lentogenik dengan motif 112 G-R-Q-G-R-L 116 tetapi setelah diuji secara biologis menjadi bersifat velogenik. Hasil ini mengindikasikan bahwa motif cleavage site protein F 0 bukan merupakan satu-satunya faktor yang
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Isolasi dan Identifikasi Newcastle Disease pada Ayam Buras.

Isolasi dan Identifikasi Newcastle Disease pada Ayam Buras.

Di Indonesia penyakit ND pertama kali dilaporkan pada tahun 1926 di Jakarta dan hingga sekarang masih endemis di Indonesia (Tarmuji, 2005). Penyakit ND bentuk velogenik mortalitas dan morbiditasnya dapat mencapai 100% pada ayam yang tidak divaksinasi, sedangkan galur mesogenik dapat menyebabkan <10% (OIE, 2012). Galur velogenik dapat memiliki mortalitas bervariasi antara 80 – 90% (Mohhamed et al., 2013). Kematian pada ayam muda umur ≤ 3 minggu akibat ND dapat mecapai 25 – 90% (Tarmudji, 2005). Sejak tahun 1997 – 2003 telah dilaporkan kejadian kasus ND di 25 provinsi di Indonesia (Naipospos, 2004). Dari anamnesa pada kasus infeksi penyakit ND di Bali yang menyerang ayam muda umur 1-5 bulan rata-rata kematiannya mencapai 50-60% (Adi et al., 2010). Kerugian akibat penyakit ND disebabkan karena angka kesakitan (morbiditas) maupun angka kematian (mortalitas) pada ternak unggas yang sangat tinggi. Mortalitas maupun morbiditas dapat mencapai 50-100% akibat infeksi VND strain velogenik terutama pada kelompok ayam yang peka, 50% pada strain mesogenik, dan 30% pada infeksi virus strain lentogenik (Tabbu, 2000).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Perubahan Histopatologi Bursa Fabrisius Pascavaksinasi dengan Vaksin Infectious Bursal Disease pada Ayam Pedaging.

Perubahan Histopatologi Bursa Fabrisius Pascavaksinasi dengan Vaksin Infectious Bursal Disease pada Ayam Pedaging.

PERUBAHAN HISTOPATOLOGI BURSA FABRISIUS PASCAVAKSINASI DENGAN VAKSIN INFECTIOUS BURSAL DISEASE PADA AYAM PEDAGING SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persya[r]

7 Baca lebih lajut

Formula Herbal sebagai Suplemen Imunostimulan Pakan Ayam terhadap Serangan Newcastle disease virus (NDV)

Formula Herbal sebagai Suplemen Imunostimulan Pakan Ayam terhadap Serangan Newcastle disease virus (NDV)

Pemilihan Kadar Imunostimulan pada Pakan yang Efisien dan Efektif Untuk melihat keefektifan dan efisiensi penggunaan pakan yang baik dalam imunostimulan, tingkat titer antibodi harus dikorelasikan dengan tingkat kematian pada setiap kelompok serta grafik FCR. Dalam hal ini kelompok perlakuan 2 (simplisia dosis 1), perlakuan 3 (simplisia dosis 0.5) dan perlakuan 5 (ekstrak dosis 0.5) adalah kelompok ayam yang memiliki angka kematian yang rendah dapat disebut sebagai nominasi imunostimulan yang baik. Sedangkan dari nilai FCR hampir tidak jauh berbeda nilainya untuk setiap perlakuan. Selain dari angka kematian, tingkat titer antibodi dan FCR, imunostimulan pun dilihat dari penggunaan efisiensi bahan kadar imunostimulan. Disamping perlu memilih bahan pakan lokal yang harganya murah, juga perlu dipertimbangkan tingkat ketersediaannya harus cukup banyak dan kontinuitas terjamin.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Efikasi Antibiotik Berbahan Aktif Enrofloxacin terhadap Escherichia coli dan Mycoplasma gallinarum pada Ayam Pedaging

Efikasi Antibiotik Berbahan Aktif Enrofloxacin terhadap Escherichia coli dan Mycoplasma gallinarum pada Ayam Pedaging

Ayam pedaging umumnya dipanen untuk diambil karkasnya pada umur 5-6 minggu, ayam ini memiliki pertumbuhan yang cepat yaitu mampu mencapai bobot 1-2 kg dalam kurun waktu 1-6 minggu (Rasyaf 1993). Keberhasilan pemeliharaan ayam pedaging dapat diketahui melalui pengukuran lima parameter, yaitu bobot badan, Feed Conversion Ratio (FCR), umur rata-rata ayam saat dipanen, tingkat kematian (mortalitas), dan nilai indeks performa (Riza 2009). Mortalitas merupakan perbandingan antara jumlah ternak yang mati dengan jumlah ternak yang dipelihara (Hastuti 2008). Pengukuran mortalitas saat melakukan pengujian terhadap suatu penyakit biasanya sejalan dengan pengukuran morbiditas atau tingkat kesakitan.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Epidemiologi flu burung doc 1

Epidemiologi flu burung doc 1

Seringkali hasil pemeriksaan serologis menunjukkan level titer yang rendah dan titer yang tidak seragam keseragaman, maka rumus perhitungan tersebut menyarankan untuk melakukan Dua Kali Vaksinasi. Sebagai contoh, perhitungan memakai formulasi perhitungan umur (hari) yang tepat untuk dapat melakukan vaksinasi sebagai berikut : 18 sampel yang didapat dari ayam Broiler berumur 1 hari, dan di uji dengan Elisa-Idexx, kisaran titer maternal antibodi yang didapat adalah: terendah 235 dan tertinggi 4886. Vaksin yang ingin digunakan peternak adalah IBD Blen dengan breaktrough 500 (Elisa-Idexx). Ayam dengan titer maternal antibodi terendah dapat divaksinasi pada hari ke- 3 (Umur 3 hari). Ayam dengan titer maternal antibodi tertinggi dapat divaksinasi pada hari ke- 13 (Umur 13 hari). Jadi, perbedaan pelaksanaan vaksinasi dengan menggunakan titer tertinggi dan terendah sebesar 10 hari. Hal ini menunjukkan adanya tingkat keseragaman titer maternal antibodi yang rendah.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Efektivitas Asam Organik Cair dalam Menginaktivasi Virus Newcastle Disease

Efektivitas Asam Organik Cair dalam Menginaktivasi Virus Newcastle Disease

Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit viral yang disebabkan oleh avian paramyxovirus dan tergolong kedalam virus RNA serta memiliki sel target berupa sel epitel mukosa saluran pernafasan atau pencernaan. Berdasarkan virulensinya, virus ND dapat dibedakan menjadi galur velogenik, mesogenik, dan lentogenik. Newcastle Disease merupakan penyakit yang bersifat kompleks, sehingga menunjukkan adanya variasi dalam bentuk dan keparahan penyakit. Penyakit ini mempunyai dampak ekonomi yang penting dalam industri perunggasan karena menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi, penurunan produksi telur dalam kualitas maupun kuantitas, gangguan pertumbuhan, biaya penanggulangan penyakit yang tinggi. Di Indonesia, virus ND masih menjadi salah satu penyakit yang paling merugikan peternakan ayam walaupun telah dilakukan berbagai usaha penanggulangan yang ketat (Puspitasari 2009).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Newcastle Disease Virus Detection from Chicken Organ Samples Using Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction | Shanmuganathan | Jurnal Sain Veteriner 29300 66586 1 SM

Newcastle Disease Virus Detection from Chicken Organ Samples Using Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction | Shanmuganathan | Jurnal Sain Veteriner 29300 66586 1 SM

are deined as “transmissible diseases that have the potential for very serious and rapid spread, irrespective of national borders, that are of serious socio-economic or public health consequence and that are of major importance in the international trade of animals and animal products.” The virus belongs to the genus of Avulavirus and Paramyxoviridae family. It has an enveloped, non-segmented, negative- sense, single stranded RNA genome that encodes six proteins (Rabalski et al., 2014; Shirvan & Mardani, 2014). Avian paramyxovirus type 1 (APMV-1) or ND is a virus that occurs in ilamentous or spherical forms (pleomorphic) and consists of a single molecule of negative sense, single-stranded RNA enclosed in an envelope with prominent glycoprotein spikes (MacLachlan & Dubovi, 2010).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...