Top PDF UPAYA JAKSA SELAKU EKSEKUTOR DALAM EKSEKUSI PUTUSAN PIDANA TAMBAHAN PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI ( Studi Pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat )

UPAYA JAKSA SELAKU EKSEKUTOR DALAM EKSEKUSI PUTUSAN PIDANA TAMBAHAN PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA  AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI  ( Studi Pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat )

UPAYA JAKSA SELAKU EKSEKUTOR DALAM EKSEKUSI PUTUSAN PIDANA TAMBAHAN PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI ( Studi Pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat )

Eksekusi pada dasarnya merupakan salah satu kewenangan jaksa yang diatur undang- undang untuk melaksanakan putusan hakim. Putusan hakim yang dapat dilakukan eksekusi hanyalah putusan hakim yang sudah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkrachtvan gewijsde). negara-negara Asean lainnya seperti Malaysia dan Filipina (Andi Hamzah, 2008). Denny Indrayana juga mengatakan bahwa Indonesia berada di posisi ke-5 sebagai negara terkorup di dunia Dari beberapa hal yangharus dilakukaneksekusi tersebut, yang menimbulkan persoalan adalah eksekusi terhadap pembayaran uang pengganti yang menjadike wajiban tambahan dari terpidana dalam perkara tindak pidana korupsi. Upaya Eksekusi terhadap perkara korupsi yang ditangani Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat yang dilakukan terhadap uang pengganti,. Meskipun Jaksa telah berupaya untuk menyelamatkan keuangan negara dengan melakukan beberapa tindakan hukum berupa pembayaran sejumlah uang pengganti, namun pada kenyataannya kerugian keuangan negara tersebut belum dapat dikembalikan dengan kuantitas yang seharusnya atau dapat dikatakan belum ada sedikitpun kerugian keuangan negara tersebut yang berhasil dikembalikan oleh Jaksa Eksekutor.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

Berdasarkan data yang telah diuraikan, selisih jumlah antara kerugian negara dan pengembalian kerugian keuangan negara masih belum seimbang. Pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti diharapkan menjadi salah satu upaya pengembalian kerugian keuangan negara yang efisien, mengingat jika para koruptor membayar uang pengganti sesuai dengan putusan pengadilan maka kerugian keuangan negara dapat ditanggulangi dan pembangunan nasional yang menjadi cita-cita bangsa dapat ditingkatkan. Dalam hal ini, terdapat berbagai faktor yang sekiranya menghambat pengembalian kerugian keuangan negara, baik proses pelaksanaan pembayaran uang pengganti yang penggaturannya kurang lengkap maupun penghitungan pembayaran uang pengganti yang tidak diatur secara jelas.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENUTUP  PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENUTUP PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

1. Proses pengembalian kerugian keuangan negara melalui penjatuhan sanksi pembayaran uang pengganti dalam tindak pidana korupsi adalah terpidana dituntut pidana tambahan uang pengganti yang jumlahnya sebanyak- banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari hasil tindak pidana korupsi. Setelah putusan pengadilan inkracht maka dilaksanakan eksekusi pembayaran uang pengganti, jika dalam waktu 1 (satu) bulan terpidana tidak membayar uang pengganti maka Jaksa melacak/mencari harta benda milik terpidana setelah ditemukan harta bendanya akan dilelang dan hasilnya disetor ke Kas Negara untuk membayar uang pengganti si terpidana tersebut. Apabila terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokok (subsidair uang pengganti). Selanjutnya dilakukan prosedur pembukuan/pencatatan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus c.q Direktur Eksekusi dan Eksaminasi, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara c.q Direktur Perlindungan dan Pemulihan Hak kemudian pada Jaksa Agung Muda Pembinaan c.q Biro Keuangan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENDAHULUAN PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

dalam tindak pidana korupsi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa eksekusi putusan pengadilan tentang pembayaran uang pengganti dalam tindak pidana korupsi dilakukan setelah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Kendala yang dihadapi jaksa adalah terpidana sudah jatuh miskin setelah ditahan sehingga tidak ada harta benda untuk di eksekusi, terlebih jika terpidana meninggal dunia dan untuk terpidana yang masih hidup terkadang lebih memilih subsider pidana penjara daripada membayar uang pengganti. Letak perbedaannya dengan penulis adalah penulis lebih fokus membahas proses dan kendala dalam hal Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Melalui Ketentuan Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengembalian Kerugian Negara dalam Tindak Pidana Korupsi terhadap Putusan Pengadilan yang Telah Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap

Pengembalian Kerugian Negara dalam Tindak Pidana Korupsi terhadap Putusan Pengadilan yang Telah Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanganan terhadap aset atau kerugian negara yang telah disita dan bagaimana pengembalian aset atau kerugian negara tidak sebanding dengan kerugian keuangan negara yang dikorupsi. Penelitiahn ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif sehingga dapat disimpulkan: 1. Penanganan terhadap kerugian negara dalam hal ini barang atau aset yang disita pada tahap penyidikan selanjutnya diserahkan kepada Jaksa selaku eksekutor yang diberi wewenang oleh undang-undang yang terdapat pada Pasal 270 KUHAP juncto Pasal 54 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Jaksa yang telah diberi wewenang, melakukan koordinasi dan kerjasama dengan instansi atau institusi lainnya dalam rangka penanganan terhadap kerugian negara khususnya yang telah diputus dalam sidang pengadilan dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang kemudian diadakan pelelangan dan selanjutnya dilakukan pengembalian kerugian negara ke kas negara. 2. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pelaku tindak pidana korupsi yang telah terbukti melakukan tindak pidana merugikan keuangan negara wajib mengembalikan kerugian keuangan negara lewat uang pengganti.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

ARTIKEL. EKSEKUSI PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA PADA PUTUSAN PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Perkara Pada Kejaksaan Negeri Kota Padang)

ARTIKEL. EKSEKUSI PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA PADA PUTUSAN PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Perkara Pada Kejaksaan Negeri Kota Padang)

keseluruhan jumlah perkara yang ada jaksa hanya mampu mengeksekusi 27% perkara, hal ini terjadi karna kesulitan jaksa sebagai eksekutor untuk menemukan harta yang dinilai hasil dari tindak pidana korupsi serta tidak keterbukaan terpidana dalam memberikan keterangan mengenai kemana saja uang tersebut digunakan dan juga disebabkan banyaknya berpindah tangan harta hasil korupsi tersebut.

13 Baca lebih lajut

Perkembangan Tindak Pidana Korupsi Masa Kini dan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara

Perkembangan Tindak Pidana Korupsi Masa Kini dan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara

Pelaksanaan pengembalian kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi juga tidak serta merta dapat begitu saja dilakukan, karena menunggu pembayaran uang pengganti dari para terpidana kasus korupsi yang memerlukan waktu cukup lama, pengembalian uang pengganti ke kas negara tidak dapat langsung dilakukan, karena harus ada prosedur birokrasi yang dilewati, sehingga membutuhkan waktu untuk pengembalian kerugian keuangan negara ke kas negara bagi kesejahteraan rakyat. Ancaman pidana dalam ketentuan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 terhadap koruptor dapat berupa pidana penjara dan juga pidana denda. Sebagai upaya memaksimalkan pengembalian keuangan negara yang dikorupsi oleh para koruptor, maka dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 juga mengetengahkan konsep “upaya pengembalian kerugian keuangan negara” yakni dalam ketentuan Pasal 18 sebagai salah satu pidana tambahan. Hal ini juga telah diamanatkan dalam ketentuan Bab V UNCAC 2003 tentang Asset Recovery yang telah di sahkan dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi 2003). Banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia memerlukan perhatian lebih. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi perhatian Internasional, Oleh sebab itu, perlu adanya penanganan khusus. Salah satu contoh kasus yang menyita perhatian masyarakat Maluku adalah Dalam putusan PN Ambon Nomor 23/Pid.SUS/TPK /2015/PN.Amb Tahun 2016 tentang kasus korupsi yang dilakukan oleh WILLIAM BATHMIR, S.Ap. Dalam Dakwaan Primair menyatakan Terdakwa WILLIAM BATHMIR, S.Ap. telah terbukti
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

EKSEKUSI PIDANA PEMBAYARAN GANTI KERUGIAN DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI  Eksekusi Pidana Pembayaran Ganti Kerugian dalam Kasus Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus di Kejaksaan Negeri Surakarta).

EKSEKUSI PIDANA PEMBAYARAN GANTI KERUGIAN DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI Eksekusi Pidana Pembayaran Ganti Kerugian dalam Kasus Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus di Kejaksaan Negeri Surakarta).

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran dan hambatan Kejaksaan Negeri Surakarta dalam eksekusi pidana pembayaran ganti kerugian dalam kasus tindak pidana korupsi. Metode yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis empiris yang bersifat deskriptif. Jenis dan sumber data terdiri data primer dan sekunder yaitu studi pustaka dan wawancara. Metode pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara, kemudian dianalisis dengan metode analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Peran Jaksa dalam melaksanakan putusan pengadilan tentang eksekusi pidana pembayaran ganti rugi dalam kasus tindak pidana korupsi yang telah memiliki kekuatan hukum tetap berjalan dengan baik. Ini didasarkan pada tugas Jaksa selaku eksekutor untuk melakukan eksekusi sesuai dengan aturan perundang-undangan yang ada. Harta/atau aset milik terpidana yang disita kemudian diserahkan kepada KPKNL untuk dilakukan lelang yang dimana uang hasil lelang tersebut dipergunakan untuk menutupi kerugian keuangan negara. Mengenai hambatan hambatan Kejaksaan Negeri Surakarta dalam eksekusi pidana pembayaran ganti kerugian dalam kasus tindak pidana korupsi, sebenarnya tidak ada hambatan yang dihadapi oleh Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Surakarta dalam eksekusi pidana pembayaran ganti kerugian dalam kasus korupsi, khususnya terkait eksekusi lelang guna membayar ganti rugi keuangan negara. Hal ini bisa terjadi pada umumnya terpidana telah membayarkan kerugian keuangan negara sebelum dibacakan tuntutannya, jadi selama dalam proses penyidikan penuntutan di Kejaksaan terdakwa sudah mengembalikan hasil korupsi yang merupakan kerugian keuangan negara tersebut.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Kebijakan Formulatif Dalam Rangka Pengembalian Kerugian Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi

Kebijakan Formulatif Dalam Rangka Pengembalian Kerugian Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa kebijakan formulasi dalam rangka pengembalian kerugian negara merupakan bentuk pidana tambahan yang diatur dalam Pasal 17 dan Pasal 18 UU No.31 Tahun 1999 jo UU No.20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebagai pidana tambahan, maka sanksi ini tidak dapat dijatuhkan tanpa adanya pidana pokok. Besarnya uang pengganti kerugian negara sebanyak-banyaknya sama dengan hasil tindak pidana yang dikorupsikan. Pembayaran uang pengganti paling lama 1 bulan setelah putusan inkracht (putusan yang berkekuatan hukum tetap). Apabila tidak dibayar dalam tempo 1 bulan, harta bendanya dapat disita dan dilelang untuk menutupi kerugian negara yang ditimbulkan. Jika terpidana tidak mempunyai harta benda yang cukup untuk membayar uang pengganti, maka akan dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokok dan lamanya pidana tersebut harus ditentukan dalam putusan pengadilan. Penilaian dan/atau penetapan jumlah kerugian Negara yang diakibatkan oleh perbuatan melawan hukum baik karena sengaja atau lalai yang dilakukan oleh bendahara pengelola BUMN / BUMD dan lembaga atau badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan Negara adalah menjadi wewenang BPK, sesuai dengan ketentuan Pasal 10ayat (1) UU No. 15 Tahun 2006 tentang BPK. BPK memperoleh kewenangan sebagai lembaga pemeriksaan keuangan berdasarkan Pasal 23 E UUD 1945. Pengembalian kerugian Negara dalam putusan perkara No.2023 K/Pid.Sus/2013 oleh terpidana Akhmad Sanjali selaku direktur CV. Wira Usaha Mandiri sesuai putusan pengadilan yang telah inkracht didasarkan pada temuan BPKP sebesar Rp.19.572.960,-dan telah dibayarkan secara tunai sebelum batas waktu berakhir ( 1 bulan ).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

GUGATAN GANTI RUGI DALAM UPAYA PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA YANG TERKAIT DENGAN TINDAK PIDANA KORUPSI

GUGATAN GANTI RUGI DALAM UPAYA PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA YANG TERKAIT DENGAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Dalam rangka mewujudkan supremasi hukum, pemerintah Indonesia telah meletakkan landasan kebijakan yang kuat dalam usaha memerangi tindak pidana korupsi. Dalam upaya pengembalian kerugian keuangan negara atas terjadinya tindak pidana korupsi melalui instrumen hukum perdata, gugatan ganti rugi tersebut dapat dilakukan oleh instansi yang dirugikan atau dikuasakan kepada Jaksa Pengacara Negara (JPN). Keberadaan instrumen hukum perdata dalam kaitannya dengan pengembalian kerugian keuangan negara yang didapat dari hasil tindak pidana korupsi, merupakan suatu terobosan hukum dalam rangka memberantas tindak pidana korupsi yang tidak mungkin dilakukan dengan cara-cara konvensional. Kerugian keuangan negara dan perbuatan melawan hukum merupakan unsur tindak pidana korupsi. Hubungan antara perbuatan melawan hukum dan kerugian keuangan negara secara kausalitas mempunyai hubungan langsung, yaitu perbuatan melawan hukum tersebut secara langsung menyebabkan terjadinya kerugian keuangan negara. Pada putusan perkara Nomor 02/PDT.G/2010/PN.DPK dimana terdakwa meninggal dunia pada saat pemeriksaan sidang pengadilan, gugatan perdata untuk tindak pidana korupsi dapat diajukan kepada ahli warisnya. Pengaturan gugatan perdata menjadi penting karena jika melalui jalur pidana, maka kewenangan menuntut pidana hapus jika terdakwa meninggal dunia, sebagaimana ketentuan Pasal 77 KUHP. Gugatan yang ditujukan kepada ahli waris dari Tergugat sesuai dengan ketentuan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Perbuatan Tergugat telah memenuhi unsur tindak pidana korupsi, di mana telah terbukti melakukan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian keuangan negara. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan hukum ini bersifat deskriptif analitis, yaitu metode yang mempergunakan uraian secara jelas, sistematis, nyata dan tepat mengenai fakta-fakta yang kemudian dianalisis untuk mendapatkan fakta-fakta yang diinginkan dengan teknik pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research). Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif, yaitu dengan menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat sehingga menjadi uraian pembahasan yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA SEBAGAI ALASAN MERINGANKAN PENJATUHAN PIDANA (Studi Kasus Putusan di Tindak Pidana Korupsi)

KAJIAN YURIDIS PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA SEBAGAI ALASAN MERINGANKAN PENJATUHAN PIDANA (Studi Kasus Putusan di Tindak Pidana Korupsi)

Terhadap Surat Edaran (SE) dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor B-2185/F/Ft.1/10/2009 tanggal 15 Oktober 2009 perihal Pengembalian kerugian keuangan negara pada tahap penuntutan/persidangan dapat dijalankan oleh para penegak hukum dalam rangka menciptakan kepastian hukum khusunya bagi para Tersangka/Terdakwa atas pelaksanaan pembayaran uang titipan oleh tersangka dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi sebagai upaya pengembalian kerugian keuangan negara, alangkah baiknya tidak hanya dalam bentuk Surat Edaran. Perlunya dibuat aturan yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan, khususnya Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ataupun peraturan perundangundangan lainnya, melalui langkah berupa memasukkan aturan pasal tersendiri di dalam peraturan perundang-undangan dimaksud yang khusus mengatur tentang Pengembalian Kerugian Keuangan Negara, mengingat tindak pidana korupsi sebagai kejahatan yang dinilai sebagai tindak pidana ekstra ordinary crime menyangkut kerugian keuangan Negara tidak dalam jumlah yang sedikit.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

OPTIMALISASI KEJAKSAAN DALAM PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI

OPTIMALISASI KEJAKSAAN DALAM PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA AKIBAT TINDAK PIDANA KORUPSI

Korupsi di Indonesia terjadi secara sistematik, sehingga tidak hanya merugikan Keuangan Negara namun juga berdampak kepada sosial ekonomi bangsa. Tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana khusus karena itu ancaman pidananya juga khusus. Sebagaimana terdapat dalam Pasal 18 Ayat (1) UU PTPK Ayat (2) Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum yang berwenang dalam melakukan penuntutan dan eksekutor salah satunya pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi karena Kejaksaan memiliki kewenangan untuk itu yang terdapat dalam Undang- undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah upaya kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi? 2. Bagaimanakah optimalisasi kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi? Metode penelitian yuridis sosiologis. Teknik pengumpulan data. Wawancara dan studi dokumen. Kemudian data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian. 1) Upaya Kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi sudah optimal baik bekerjasama antar lembaga terkait dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) Optimalisasi Kejaksaan dalam pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi cukup optimal secara nominal, sedangkan secara keseluruhan perlu ditingkatkan lagi.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Pengembalian Kerugian  Keuangan Negara Dengan Penanganan  Kasus Tindak Pidana Korupsi

Hubungan Antara Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Dengan Penanganan Kasus Tindak Pidana Korupsi

Penjelasan lainnya, wawancara yang dilakukan kepada Jaksa di Kejaksaan Tinggi DIY ibu Eni Kusjatwati, S.H. selaku kepala bidang eksekusi dan eksaminasi di jajaran Kejaksaan Tinggi DIY pada tanggal 02 November 2016 memberikan penjelasannya bahwa sebenarnya jaksa tidak mengenal yang namanya pengembalian kerugian keuangan negara melainkan uang pengganti dalam proses pelaksanaan putusan. Namun, dalam praktek pemberantasan tindak pidana korupsi kejaksaan selalu melakukan kordinasi dengan lembaga- lembaga terkait seperti BPK dan BPKP. Sehingga, apapun pandangan-
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Kewenangan Jaksa Pengacara Negara Dalam Gugatan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi Yang Terdakwanya Meninggal Dunia  (Studi Putusan No. Reg 02/Pdt. G/2010/PN.DPK)

Kewenangan Jaksa Pengacara Negara Dalam Gugatan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi Yang Terdakwanya Meninggal Dunia (Studi Putusan No. Reg 02/Pdt. G/2010/PN.DPK)

(1) jika penyidik menganggap tidak terpenuhinya unsur-unsur tindak pidana korupsi dengan bukti-bukti yang dimilikinya. Ketentuan Pasal 32 ayat (1) selain memberikan dasar pengajuan gugatan perdata, juga berfungsi sebagai pijakan bagi para penyidik yang dituntut untuk bersikap profesional dan proporsional dalam penanganan tindakan korupsi dalam jalur pidana. Penyidik dalam pegertian ini tidak harus memaksakan suatu tindakan yang terindikasi korupsi selalu diajukan ke depan persidangan pidana apabila ternyata salah satu unsur tindak pidana korupsi tersebut tidak cukup bukti. Penyidik tidak perlu melakukan berbagai cara untuk memaksakan pembuktian unsur-unsur tindak pidana tersebut dengan cara-cara yang melawan hukum. Contoh kasus misalnya dengan pembuatan berita acara pemeriksaan yang palsu yang pada akhirnya berujung pada putusan bebas.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Problematika Gugatan Perdata Oleh Jaksa Pengacara Negara Dalam Upaya Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi.

Problematika Gugatan Perdata Oleh Jaksa Pengacara Negara Dalam Upaya Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa gugatan perdata oleh Jaksa Pengacara Negara untuk pengembalian kerugian keuangan Negara merupakan upaya lanjutan setelah instrumen pidana tidak sepenuhnya mengembalikan kerugian keuangan Negara dan upaya negosiasi dengan terpidana atau ahli waris terpidana tidak berhasil. Dalam pelaksaanaan gugatan perdata oleh Jaksa Pengacara Negara terkendala oleh tidak diketahui keberadaan terpidana dan juga harta kekayaan terpidana, terpidana telah jatuh miskin, terhadap asset yang disita dan telah dilakukan lelang akan tetapi tidak ada peminatnya dengan alasan lokasi tidak strategis ataupun harga yang terlalu tinggi sehingga tidak bisa untuk pengembalian kerugian keuangan Negara. Strategi kejaksaan untuk pengembalian kerugian keuangan Negara adalah optimalisasi fungsi dan tugas Kejaksaan pada bidang penyidikan dan bidang intelijen. Jaksa Pengacara Negara menghimbau terpidana atau ahli waris terpidana untuk membayar tuggakan uang pengganti, penelusuran harta kekayaan terpidana hingga ke ahli waris, melakukan blokir terhadap harta kekayaan terpidana atau ahli waris jika terpidana meninggal.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Fungsi Jaksa dalam Menuntut Terdakwa Korupsi untuk Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Perspektif Sistem Peradilan Pidana Indonesia

Fungsi Jaksa dalam Menuntut Terdakwa Korupsi untuk Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Perspektif Sistem Peradilan Pidana Indonesia

dilakukan Jaksa Penuntut Umum selaku penegak hukum dan badan eksekutor guna pengembalian keuangan negara dari terdakwa korupsi adalah : membuat dakwaan yang cermat, jelas dan lengkap, membuat tuntutan yang tegas dan optimal, melakukan upaya hukum banding dan / atau kasasi terhadap putusan hakim yang tidak memuaskan, Jaksa Agung dapat mengajukan upaya hukum kasasi demi kepentingan hukum, mengingat secara perdata oleh Jaksa selaku pengacara negara, merampas atau menyita aset – aset terdakwa / terpidana koruptor, tidak memberikan penangguhan penahanan dan penahanan tetap dilakukan, bekerjasama dengan intitusi terkait dalam penghitungan aset terdakwa / terpidana seperti KPK, BPKP, PPATK dan LSM.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  UPAYA PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA YANG DIAKIBATKAN KORUPSI MELALUI PERADILAN PIDANA.

PENDAHULUAN UPAYA PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA YANG DIAKIBATKAN KORUPSI MELALUI PERADILAN PIDANA.

Tahun 2007 ini tindak pidana korupsi masih dapat ditemukan di dalam berbagai proyek infrastruktur yang menyangkut kepentingan publik, seperti kebutuhan pangan, kebutuhan listrik dan lain sebagainya. Perilaku korupsi itu semakin buruk dengan adanya wabah kebiasaan aparat pemerintahan melakukan pungutan liar dan sogokan. Hal tersebut membuat keadaan ekonomi semakin parah yang mengakibatkan biaya menjadi tinggi, yang membatasi kenyamanan publik dan membuat barang menjadi mahal. Tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dan mengahambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Berdasarkan Rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (Bpk) Hubungan Dengan Unsur Kerugian Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi

Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Berdasarkan Rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (Bpk) Hubungan Dengan Unsur Kerugian Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi

Namun yang terjadi adalah dibiarkan ada tindak lanjut proyek tersebut. Sehingga, PPKnya jadi terdakwa dalam perkara ini. Sedangkan, terkait keterlibatan rekanan, ini karena proyeknya disubkontrakkan seharusnya tidak boleh kecuali atas izin PPK. Sehingga, rekanan juga jadi terdakwa dalam perkara ini. Diketahui, bahwa pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Imam Bonila Sombu didakwa melakukan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dana pembangunan synthetic track athletics stadion Palu bersama rekanan yakni Mazni.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG  SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

Hasil dari tindak pidana korupsi yang berupa keuangan negara dalam kenyataannya tidak hanya diterima atau dinikmati oleh terdakwa, tetapi juga diterima atau dinikmati oleh pihak ketiga yang tidak menjadi terdakwa. Dalam hal yang demikian perlu penjatuhan sanksi pengembalian kerugian keuangan negara terhadap pihak ketiga yang secara prosedural memerlukan instrumen hukum yang tepat dan efektif. Berdasarkan penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa ius constituendum sanksi terhadap pihak ketiga yang menerima hasil tindak pidana korupsi wajib membayar ganti kerugian yang besarnya sesuai dengan yang diterimanya dan instrumen hukum yang efektif dan efisien terhadap pihak ketiga yang menerima hasil tindak pidana korupsi dalam rangka pengembalian kerugian keuangan negara adalah dengan cara penggabungan perkara gugatan ganti kerugian.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENUTUP  UPAYA PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA YANG DIAKIBATKAN KORUPSI MELALUI PERADILAN PIDANA.

PENUTUP UPAYA PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA YANG DIAKIBATKAN KORUPSI MELALUI PERADILAN PIDANA.

3. Upaya pengembalian kerugian negara akibat korupsi tidak akan pernah maksimal terwujud, selama pidana penjara sebagai pengganti pembayaran uang pengganti masih tetap diterapkan. Dengan kata lain, pidana denda ataupun kewajiban untuk membayar uang pengganti harus diterapkan secara tegas.

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects