Top PDF Eksistensi Hukum Islam Dan Hukum Adat Dalam Sistem Hukum Nasional

Eksistensi Hukum Islam Dan Hukum Adat Dalam Sistem Hukum Nasional

Eksistensi Hukum Islam Dan Hukum Adat Dalam Sistem Hukum Nasional

$UWL µ6LVWHP¶ System) itu sendiri dirumuskan oleh Black (Back, 1979), sebagai ³Orderly combination or arrangement, as of particulars, parts, or elements into a whole´ Schrode dan Voich (dalam Satjipto Rahardjo) merumuskan sistem itu sebagai suatu kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari bagian-bagian yang behubungan satu sama lain (Rahardjo, 2006). Sedangkan Teori Sistem itu sendiri telah berkembang demikian menarik serta mendapat perhatian besar para pakar misalnya: Teori Analogi Organis (Organic Analogy), Teori Analitis Mekanis (Rasjidi dan Wyasa, 1993); Bahkan Niklas Luhman terkenal dengan pemikirannya tentang konsep Autopoietic yang merujuk pada diversitas (perbedaan) sistem- sistem sel biologis sampai keseluruh masyarakat dunia. Luhman menggunakan istilah Autopoietic untuk merujuk pada sistem-sistem, antara lain ekonomi, politik, hukum, ilmu dan birokrasi (HS, 2010).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

EKSISTENSI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT DA

EKSISTENSI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT DA

Schrode dan Voich (dalam Satjipto Rahardjo) merumuskan sistem itu sebagai suatu kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari bagian-bagian yang behubungan satu sama lain (Rahardjo, 2006). Sedangkan Teori Sistem itu sendiri telah berkembang demikian menarik serta mendapat perhatian besar para pakar misalnya: Teori Analogi Organis (Organic Analogy), Teori Analitis Mekanis (Rasjidi dan Wyasa, 1993); Bahkan Niklas Luhman terkenal dengan pemikirannya tentang konsep Autopoietic yang merujuk pada diversitas (perbedaan) sistem- sistem sel biologis sampai keseluruh masyarakat dunia. Luhman menggunakan istilah Autopoietic untuk merujuk pada sistem-sistem, antara lain ekonomi, politik, hukum, ilmu dan birokrasi (HS, 2010).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pengaruh Sistem Hukum Eropa Kontinental dan Sistem Hukum Islam terhadap Pembangunan Sistem Hukum Nasional

Pengaruh Sistem Hukum Eropa Kontinental dan Sistem Hukum Islam terhadap Pembangunan Sistem Hukum Nasional

Prof Jhon Ball dari Sydney University Australia, berpendapat bahwa eksistensi hukum di Indonesia masih di persimpangan jalan. Di sini masih terjadi perbenturan antara tiga sistem hukum (adat, Islam dan Barat). Senada dengan pernyataan itu, Prof Busthanul Arifin SH menyatakan, dalam realitas sepanjang sejarah Indonesia berbagai sistem hukum tersebut sering berebut tempat. Oleh karena itu, Dr Qodri Azizy menawarkan konsep eklektisisme hukum nasional. Ide ini menurut Qodri, sebagai jawaban atas keinginan menghasilkan karakter hukum nasional khas Indonesia dalam rangka menghilangkan trikotomi hukum.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Eksistensi Hukum Adat dalam UU Perkawina

Eksistensi Hukum Adat dalam UU Perkawina

Seluruh jajaran yang paham akan kebutuhan hukum yang baik akan sangat memperhatikan bagaimana perkembangan Politik Pembangunan Hukum Nasional dan Sistem Hukum Nasional Indonesia . Dengan analisis kelompok kami yang menyimpulkan bahwa kurang bersahajanya Hukum Nasional terhadap Hukum Adat yang ada maka dapat dikatakan Perkembangan Politik Pembangunan Hukum Nasional di bidang perkawinan kurang baik. Dan dari hasil analisis kami juga dapat di tarik solusi bagaimana agar Hukum Nasional bisa berjalan serasi dengan Hukum Adat yang ada yaitu dengan adanya peraturan Perundang- undangan lain di bawah Undnag-Undang No 1 Tahun 1974 yang dapat memasukkan unsur-unsur hukum adat yang belum diakui dalam Undang- Undang tersebut sehingga apabila telah ada keserasian jalan antara Hukum Perkawinan Nasional dan Hukum Adat Perkawinan maka Perkembangan Politik Pembangunan Hukum Nasional dan Sistem Hukum Nasional Indoneisa bisa dikatakan telah 100 persen baik.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Sistem Kewarisan Adat Semendo Dalam Tinjauan Hukum Islam

Sistem Kewarisan Adat Semendo Dalam Tinjauan Hukum Islam

Menguraikan sistem hukum waris adat dalam suatu masyarakat tertentu, kiranya tidak dapat terlepas dari sistem kekeluargaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. Dengan melihat konteks penerapan budaya tunggu tubang yang sudah turun-temurun dan berjalan ratusan tahun dalam masyarakat Semendo, dengan filosofi tertentu yang lebih mengedepankan perempuan untuk menjaga dan mengelola harta keluarga, dan tetap bertahan hingga saat ini, menjadikan masyarakat Semendo tetap bisa menjaga keharmonisan dan kerukunan baik dalam lingkup sosial adat maupun dalam rumah tangga. Ditambah dengan beberapa kaidah/pandangan:
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hukum Keluarga Islam Di Republik Ghana (Antara Mempertahankan Eksistensi Agama Dan Tekanan Adat)

Hukum Keluarga Islam Di Republik Ghana (Antara Mempertahankan Eksistensi Agama Dan Tekanan Adat)

Menurut Offei Semua pernikahan di Ghana diwajibkan oleh hukum untuk didaftarkan di bawah salah satu dari Hukum Pernikahan Adat, yaitu sebagai berikut: Common Law, Ordonansi Pernikahan (CAP 127) dan Pernikahan Mohammedan (CAP 129). Peraturan Mohammedan mengatur pendaftaran pernikahan dan perceraian Muslim. Ordonansi diberlakukan oleh Administrasi Kolonial sejauh tahun 1907. Namun diterapkan di Gold Coast pada tahun 1935. Ordonansi mengatur agar kepala Administratif dari setiap Distrik menjadi Panitera Perkawinan dan perceraian, lisensi dapat diberikan kepada Imam untuk melakukan tugas-tugas yang diberlakukan oleh CAP 129. Juga Undang-undang mengatur bahwa semua pernikahan dirayakan di bawahnya, untuk didaftarkan di hadapan mempelai laki-laki, wali pengantin perempuan, dua saksi dan Imam dalam waktu satu minggu setelah perayaan pernikahan. Sertifikat yang akan dikeluarkan akan ditandatangani oleh mempelai pria, pengantin wanita, wali dan dua saksi. Masih ada ruang bagi pernikahan untuk didaftarkan jika karena alasan apa pun pernikahan itu tidak dapat didaftarkan sebelum berakhirnya satu minggu. 25
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

EKSISTENSI HUKUM PIDANA ADAT DI PROVINSI LAMPUNG SAI BATIN DALAM KONTEKS PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA NASIONAL

EKSISTENSI HUKUM PIDANA ADAT DI PROVINSI LAMPUNG SAI BATIN DALAM KONTEKS PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA NASIONAL

Hukum pidana adat merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan-bahan bagi pembangunan hukum nasional yang menuju kearah unifikasi hukum yang terutama akan dilaksanakan melalui pembuatan peraturan perundang-undangan. Unsur-unsur kejiwaan hukum pidana adat yang berintikan kepribadian bangsa Indonesia perlu dimasukkan kedalam lembaga- lembaga hukum baru, agar hukum yang baru itu sesuai dengan rasa keadilan dan kesadaran hukum masyarakat bangsa Indonesia. Oleh sebab itu dalam hal pembuatan peraturan perundang-undangan perlu memuat konsepsi hukum pidana adat. Permasalahan yang diambil dalam skripsi ini adalah bagaimanakah eksistensi atau keberadaan hukum pidana adat di Provinsi Lampung Sai Batin dalam konteks pembaharuan hukum pidana nasional serta apa sajakah yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan hukum pidana adat di Provinsi Lampung Sai Batin dalam konteks pembaharuan hukum pidana nasional.
Baca lebih lanjut

1669 Baca lebih lajut

Kedudukan Anak Angkat dalam Perspektif Hukum Islam, Hukum Adat dan Hukum Perdata

Kedudukan Anak Angkat dalam Perspektif Hukum Islam, Hukum Adat dan Hukum Perdata

Abstrak : Tulisan ini berupaya membandingkan tiga sistem hukum mengenai kedudukan anak angkat. Dengan menggunakan pendekatan yuridis-normatif, disimpulkan bahwa kedudukan anak angkat dalam sistem hukum Islam tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya sehingga anak angkat tidak menjadi ahli waris dari ayah angkatnya terkecuali melalui jalur wasiat wajibah yang jumlahnya tidak lebih dari 1/3 bagian. Dalam hukum positif ditetapkan bahwa anak angkat memperoleh kedudukan sama sebagai anak kandung dari bapak angkat sehingga anak angkat menjadi ahli waris orang tua angkat karena pengangkatan anak, terputus segala hubungan perdata yang berpangkal pada keturunan karena kelahiran (antara anak dengan orang tua kandung). Sedangkan dalam hukum adat kedudukan anak angkat tergantung pada daerah hukumnya, karena beberapa daerah adat di Indonesia berbeda dalam menentukan kedudukan anak angkat.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

POLITIK HUKUM NASIONALTERHADAP HUKUM ADAT POLITIK HUKUM NASIONAL TERHADAP HUKUM ADAT (STUDI MASYARAKAT HUKUM ADAT REJANG DI BENGKULU).

POLITIK HUKUM NASIONALTERHADAP HUKUM ADAT POLITIK HUKUM NASIONAL TERHADAP HUKUM ADAT (STUDI MASYARAKAT HUKUM ADAT REJANG DI BENGKULU).

Dalam literatur berbahasa asing banyak dibahas mengenai hukum adat Rejang, sistem kehidupan sosial dan tata pemerintahan masyarakat hukum adat Rejang, dan yurisprudensi dalam tata hukum Nasional yang berkaitan dengan hukum adat, namun semuanya dalam lingkup sistem common law. Di Indonesia yang menganut sistem hukum civil law, masih sangat jarang penelitian yang memadukan antara ilmu hukum (teori positivisme hukum) dan teori rekognisi. Oleh karenanya penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KEWARlSAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM ISLAM, HUKUM PERDATA DAN HUKUM ADAT

KEWARlSAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM ISLAM, HUKUM PERDATA DAN HUKUM ADAT

Dengan demikian, maka berdasarkan staatblad tersebut menunjukkan bahwa pengangkatan anak (adopsi) di benarkan oleh hukum tersebut, dan bahkan berhak mendapatkan peruagian warisan. Adapun pengangkatan anak (adopsi) menurut ukum adat, maka dalam pengangkatan anak terdapat banyak sistem yang berlaku tergantung epada hukum adat set em pat dimana fap bangsaldaerah mempunyru hukum adat sendiri­sendiri Oleh karenanya di dunia ini terdapat bermacam­macam penganngkatan anak/adopsi. Hal ini na pak pada cara­cara pengangkatan Kedudukan anak angkat berbeda dengan kedudukan anak angkat di daerah­daerah. 3 Sistem keluarga berdasarkan keturunan dari pihak lelaki, seperti di Bali misalnya, di mana perbuatan mengangkat anak adalah perbuatan hukum yang melepaskan anak itu dari pertalian keluarganya dengan orang tuanya sendiri dengan memasukkan anak itu kedalam kel uarga pihak bapak angkat. Sedangkan di Jawa pengangkatan anak yang diangkat dan orang tuanya sendiri tidak memutuskan pertalian keluarga. Anak angkat mas uk kehidupan rumah
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

eksistensi hukum Islam dalam hukum nasio

eksistensi hukum Islam dalam hukum nasio

Dalam hubungan ini tidak ada salahnya kalau dikemukakan bahwa karena bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam, ada pendapat yang mengatakan seyogyanya kaidah- kaidah hukum Islamlah yang menjadi norma-norma hukum nasional. Dilihat dari segi normativ, sebagai konsekuensi pengucapan dua kalimat syahadat, demikianlah hendaknya. Namun dipandang dari sudut kenyataan dan politik hukum tersebut tidaklah begitu. Menurut politik hukum yang dilaksanakan oleh pemerintah di Indonesia tidaklah karena mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, norma-norma hukum Islam secara ‘otomatis’ menjadi norma-norma hukum nasional. Norma-norma hukum Islam baru dapat dijadikan norma hukum nasional, menurut politik hukum itu, apabila norma-norma hukum Islam sesuai dan dapat menampung kebutuhan seluruh lapisan rakyat Indonesia.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

EKSISTENSI HUKUM PIDANA ADAT SASAK DALAM

EKSISTENSI HUKUM PIDANA ADAT SASAK DALAM

Hukum pidana adat merupakan hukum asli bangsa Indonesia yang dijiwai oleh falsafah Pancasila. Meskipun dijiwai oleh falsafah Pancasila, namun ketentuan hukum pidana adat sulit untuk dapat digunakan sebagai hukum nasional. Hal ini dikarenakan hukum pidana adat disuatu daerah berbeda dengan hukum pidana adat di daerah lain, artinya setiap daerah mempunyai hukum pidana adat yang berbeda termasuk pada suku Sasak. Berdasarkan latar belakang tersebut dan guna mengetahui eksistensi hukum pidana adat Sasak tersebut maka muncul permasalahan yakni bagaimanakah eksistensi hukum pidana adat Sasak dalam praktek peradilan di Pulau Lombok serta lembaga-lembaga mana sajakah yang berperan dalam rangka menegakkan berlakunya hukum pidana adat Sasak di Pulau Lombok. Manfaat penelitian didalam skripsi ini secara teoritis dapat memberikan masukan dalam perkembangan Ilmu Hukum khususnya dalam prospek hukum Pidana Adat Sasak dalam rangka pembentukan KUHP Nasional serta ikut mensosialisasikan kepada masyarakat pada umumnya dan kepada akademisi mengenai eksistensi hukum pidana adat Sasak dalam praktek peradilan di Pulau Lombok. Secara akademis dapat memperoleh data-data bahan penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di tingkat Strata satu (S1) pada Fakultas Hukum Universitas Mataram.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Eksistensi Adat Perkawinan Masyarakat Bugis Pare-pare dalam 

Perspektif Hukum Islam

Eksistensi Adat Perkawinan Masyarakat Bugis Pare-pare dalam Perspektif Hukum Islam

Pengertian ini dibuat hanya melihat dari satu segi saja adalah kebolehan hukum, dalam hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita yang semula dilarang menjadi dibolehkan. Padahal setiap perbuatan hukum itu mempunyai tujuan dan akibat ataupun pengaruhnya. Hal-hal inilah yang menjadikan perhatian manusia pada umumnya dalam kehidupannya sehari-hari. Dapat terjadinya perceraian, kurang adanya keseimbangan antara suami istri, sehingga memerlukan penegasan arti pernikahan bukan saja dari segi kebolehan hubungan tetapi juga dari segi tujuan dan akibat hukumnya. Jika kita menyadari hal itu maka pengertian pernikahan di atas harus diperluas sehingga lebih mencakup pelaksanaan, tujuan dan akibat hukumnya. Pengertian seperti ini kita dapati para ahli hukum Islam modern seperti yang ditulis oleh Muhammad Abu Ishrah bahwa Nikah atau Ziwāj adalah:
Baca lebih lanjut

341 Baca lebih lajut

PERPADUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT (Upaya Merumuskan Hukum Islam Berkepribadian Indonesia)

PERPADUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT (Upaya Merumuskan Hukum Islam Berkepribadian Indonesia)

Gambaran singkat fiqh Indonesia di atas menunjukkan suatu usaha untuk memadukan hukum Islam dengan adat nasional maupun adat lokal. Banyak hukum adat di beberapa daerah Indonesia yang tidak sesuai dengan dalil yang qath’î. Akan tetapi hal itu bukan berarti hukum Islam dan hukum adat tidak bisa dikompromikan. Hukum adat terbuka untuk dirubah atas kesepakatan badan legislatif dan memunculkan undang-undang. Demikian juga hukum Islam, pelaksanaan hukum yang tercantum secara qath’î dalam nass dapat disesuaikan dengan adat setempat sepanjang rûh al-Syarî’ah atau tujuan syari’ah tidak diabaikan. Sebagai contoh, anak angkat menuntut hukum adat mendapatkan hak waris dari orang tua angkat. Hal itu tidak diberlakukan dalam hukum Islam. Untuk menjembatani kedua hukum tersebut, badan legislatif menetapkan wasiat wajib (washiyyah wajibah) bagi anak angkat maupun orang tua angkat maksimum sepertiga dari harta warisan sebagaimana dalam pasal 209 dari Kompilasi Hukum Islam. 36 Hukum potong tangan bagi pencuri dan qishâsh bagi pembunuh yang ditegaskan secara qath’î dalam al-Qur’an tidak dikenal dalam tradisi
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hukum Pidana Adat Dalam Pembentukan Hukum Pidana Nasional.

Hukum Pidana Adat Dalam Pembentukan Hukum Pidana Nasional.

kebutuhan hukum yang dimiliki oleh kelompok-kelompok tertentu, oleh karenanya dimensi pembangunan hukum nasional menuju sistem hukum nasional yang kita cita-citakan yaitu dimensi pemeliharaan, pembaharuan dan penciptaan sedapat mungkin menggunakan wawasan pembangunan hukum nasional. Dengan demikian, cita-cita unifikasi hukum dalam bidang-bidang hukum tertentu yang kita usahakan akan sekaligus mampu menjamin tertuangnya aspirasi, nilai-nilai maupun kebutuhan hukum dari berbagai ragam kelompok masyarakat ke dalam sistem hukum nasional. Apabila persoalan ini kita kembalikan pada pemahaman tentang istilah „hukum pidana nasional‟, maka istilah nasional harus diartikan secara relatif, karena muatannya mau tidak mau harus mencakup 1) aspirasi ideologi nasional; 2) aspirasi kondisi manusia, alam dan tradisi bangsa; dan 3) kecenderungan internasional yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab. Ketiga cakupan muatan tersebut, terutama cakupan kedua, yakni aspirasi kondisi manusia, alam dan tradisi bangsa, merupakan satu fenomena tersendiri, lebih-lebih dalam hubungannya dengan realitas masyarakat Indonesia yang bersifat multikultural, yang masing-masing punya konsepsi tentang apa itu perbuatan jahat.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Eksistensi Masyarakat Hukum Adat Di Kalimantan Tengah

Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Eksistensi Masyarakat Hukum Adat Di Kalimantan Tengah

Asshiddiqie, menegaskan bahwa ³NHEHUDGDDQ PDV\DUDNDW KXNXP DGDW LQL dapat dinilai sangat strategis, dan oleh karena itu, untuk meningkatkan pemberdayaannya maka perlu kiranya diadakan inventarisasi secara nasional´. Upaya untuk melakukan invetarisasi secara nasional menurut penulis memanglah suatu keharusan agar eksistensi masyarakat adat dapat terus menjadi bagian penting yang tentu saja tidak dapat dipisakan sebagai bagian dalam Negara ini. Keberadaan masyarakat hukum seharusnya memang diakomodir melalui perangkat yuridis yang ada seperti halnya produk perundangan setingkat daerah berupa Perda, keberadaan masyarakat adat yang belum atau tidak ditetapkan dalam suatu Perda maka tentu saja hanya akan dikenal sebagai masyarakat hukum adat secara sosial dan tidak memiliki kedudukan dan tidak memiliki perlindungan secara hukum di Indonesia 24 . Hal ini tentu saja menimbulkan implikasi yang cukup penting karena tanpa dipayungi oleh regulasi tersebut maka keberadaan masyarakat hukum adat semakin
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUKUM ADAT SISTEM HUKUM ADAT BATAK TOBA

HUKUM ADAT SISTEM HUKUM ADAT BATAK TOBA

Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan. Agama kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebaranya meliputi batak utara. Walaupun d emikian banyak sekali masyarakat batak didaerah pedesaan yang masih mmpertahankan konsep asli religi pendduk batak. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya . Debeta Mula Jadi Na Balon : bertempat tinggal dilangit dan merupakan maha pencipta; Siloan Na Balom: berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus. Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa orang batak mengenal tiga konsep yaitu : Tondi: jiwa atau roh; Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang; Begu : Tondinya orang yang sudah mati. Orang batak juga percaya akan kekuatan sakti dari jimat yang disebut Tongkal.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

SYARI’AT ISLAM DAN HUKUM NASIONAL

(Problematika Transformasi  dan Integrasi Hukum Islam

Kedalam Hukum Nasional)

SYARI’AT ISLAM DAN HUKUM NASIONAL (Problematika Transformasi dan Integrasi Hukum Islam Kedalam Hukum Nasional)

Dalam hubungannya dengan proses tranformasi dan legislasi di berbagai negara Islam dapat dijumpai adanya tiga tipe pembaharuan. Pertama, negara yang tidak mengadakan pembaharuan dan memberlakukan hukum fiqih secara apa adanya. Contoh tipe negara ini adalah Arab Saudi. Kedua, negara yang telah menanggalkan sama sekali Islam dari dasar negaranya (sekuler) dan mengadopsi sistem hukum negara-negara Barat dalam konstitusinya, seperti yang dilakukan Republik Turki pasca-Khalifah Usmani. Negara seperti ini menangkap hukum Islam hanya dari aspek filosofinya saja. Ketiga, negara ang mencoba menggabungkan Islam dan sistem hukum lainnya, seperti dari Barat dalam konstitusinya. Contoh negara ini adalah Mesir, Tunisia, Indonesia dan Aljazair. 18 Negara yang disebut terakhir cenderung menggabungkan atau mencari titik temu antara rumusan hukum Islam dengan filosofi hukumnya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

POLITIK HUKUM NASIONAL TERHADAP HUKUM ADAT (STUDI MASYARAKAT HUKUM ADAT REJANG   POLITIK HUKUM NASIONAL TERHADAP HUKUM ADAT (STUDI MASYARAKAT HUKUM ADAT REJANG DI BENGKULU).

POLITIK HUKUM NASIONAL TERHADAP HUKUM ADAT (STUDI MASYARAKAT HUKUM ADAT REJANG POLITIK HUKUM NASIONAL TERHADAP HUKUM ADAT (STUDI MASYARAKAT HUKUM ADAT REJANG DI BENGKULU).

Dalam literatur berbahasa asing banyak dibahas mengenai hukum adat Rejang, sistem kehidupan sosial dan tata pemerintahan masyarakat hukum adat Rejang, dan yurisprudensi dalam tata hukum Nasional yang berkaitan dengan hukum adat, namun semuanya dalam lingkup sistem common law. Di Indonesia yang menganut sistem hukum civil law, masih sangat jarang penelitian yang memadukan antara ilmu hukum (teori positivisme hukum) dan teori rekognisi. Pelaksanaan politik hukum terhadap hukum adat tidak bisa dilepaskan dari sistem politik hukum yang telah ada dalam masyarakat adat di tingkat desa. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang politik hukum masyarakat adat di desa telah diatur secara spesifik yang menggabungkan ilmu hukum (teori positivisme hukum) dan teori rekognisi yang melahirkan UU Desa. Agar tidak menjadi formalisme hukum maka UU Desa harus diarahkan pada perannya sebagai Supremasi hukum di tingkat desa, khususnya desa adat. Karena norma hukum dan contoh keadilan dalam politik bernegara lahir dari sistem hukum di desa. Desa mengajarkan tentang bagaimana menerapkan sistem politik hukum nasional, sistem pelaksanaan demokrasi, sistem pelaksaanaan penyelesaian sengeketa dengan peradilan yang adil dan profesional, serta bagaimana pelaksaanaan anggaran desa yang partisipatif dan berdayaguna.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Eksistensi Hukum Pidana Adat Dalam Pembentukan Hukum Pidana Nasional

Eksistensi Hukum Pidana Adat Dalam Pembentukan Hukum Pidana Nasional

Sebagaimana telah disinggung terdahulu bahwa KUHP yang berlaku berdasarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1946 bersumber dari Code Penal Prancis, karena sejak tahun 1810 Belanda dijajah Prancis. Karena dilihat dari asal usul KUHP tersebut berasal dari undang-undang hukum pidana asing yang dipaksakan berlaku di Indonesia, sudah barang tentu nilai serta jiwa yang terdapat dalam undang-undang tersebut disemangati dengan jiwa kepribadian bangsa yang membuatnya. Sebagaimana dikemukakan Sudarto, bahwa pengaturan dalam hukum pidana merupakan pencerminan dari ideologi politik dari suatu bangsa dimana hukum itu berkembang dan merupakan hal yang sangat penting bahwa seluruh bangunan hukum itu bertumpu pada pendangan politik yang sehat dan konsisten. Atas dasar hal tersebut tidaklah cukup mengherankan, bahwa walaupun telah dilakukan berbagai perubahan dalam KUHP namun dalam penerapannya ditemukan adanya kesenjangan/konflik. Disatu pihak ada perbuatan-perbuatan yang menurut KHUP termasuk sebagai tindak pidana namun menurut anggapan masyarakat bukan sebagai perbuatan tercela, dipihak lain ada perbuatan-perbuatan yang menurut anggapan masyarakat sebagai perbuatan tercela namun KUHP tidak mengaturnya sebagai suatu tindak pidana. Menanggapi kenyataan tersebut Barda Nawawi Arief, mengungkapkan bahwa adanya kesenjangan/ ketidaksesuaian ("gap/discrepancy") dan bahkan perbedaan nilai/kepentingan inilah yang tidak mustahil dapat menjadi faktor timbulnya ketidak puasan dalam praktek penegakan
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...