Top PDF Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Hutan Pendidikan Gunung Barus Sebagai Bahan Pestisida Alami

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Hutan Pendidikan Gunung Barus Sebagai Bahan Pestisida Alami

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Hutan Pendidikan Gunung Barus Sebagai Bahan Pestisida Alami

Racun adalah zat atau senyawa yang dapat masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respon pada sistem biologis sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Umumnya berbagai bahan kimia yang mempunyai sifat berbahaya atau bersifat racun, telah diketahui. Namun, tidak demikian halnya dengan beberapa jenis hewan dan tumbuhan, termasuk beberapa jenis tanaman pangan yang ternyata dapat mengandung racun alami, walaupun dengan kadar yang sangat rendah. Tanaman pangan seperti sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan nutrien, vitamin, dan mineral yang berguna bagi kesehatan manusia serta merupakan komponen penting untuk diet sehat. Meskipun demikian, beberapa jenis sayuran dan buah- buahan dapat mengandung racun alami yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Racun alami adalah zat yang secara alami terdapat pada tumbuhan, dan sebenarnya merupakan salah satu mekanisme dari tumbuhan tersebut untuk melawan serangan jamur, serangga, serta predator (BPOM, 2012).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Soehardjan, M. 1993. Penggunaan, Permasalahan serta Prospek Pestisida Nabati dalam PHT. Dalam prosising Seminar Hasil Penelitian dalam rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor 1-2 Desember 1993. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman dan Obat, Jakarta. P.6-7, 8-9

5 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Tumbuhan banyak mengandung bahan kimia yang digunakan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu. Bahan kimia yang terkandung biasa disebut sebagai metabolit sekunder yang berupa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan lain-lain. Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak essensial bagi pertumbuhan organisme, yang ditemukan dalam bentuk unik atau berbeda-beda antara spesies satu dengan spesies lainnya. Berbagai senyawa metabolit sekunder telah digunakan sebagai obat atau bahan untuk membuat obat, pestisida dan insektisida. Metabolit sekunder tidak mempunyai peranan yang terlalu penting pada proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, namun pada jumlah yang sangat besar mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Lestari, 2012).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

Biopestisida merupakan pestisida yang menggunakan bahan alami atau kandungan senyawa kimia dari tumbuhan yang bersifat racun terhadap suatu jenis hama. Tumbuhan mengandung sejumlah besar zat kimia yang aktif secara biologis. Beberapa zat pada tumbuhan dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit yang menimpa ternak maupun manusia (contohnya digitoksin, kolsisin dan atropin). Kehadiran zat kimia tertentu dalam tumbuhan dipercaya untuk memberi beberapa tingkat perlindungan dari predator tumbuhan seperti serangga dan ruminan (Silitonga, 2015 ).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Pada Kawasan Hutan Lindung Sibayak I Di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Pada Kawasan Hutan Lindung Sibayak I Di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Prakash dan Rao (1997) menyatakan bahwa petani selama ini bergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Pestisida kimia selain harganya yang mahal juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah hama berpeluang menjadi kebal (resisten), terjadi peledakan hama baru (resurjensi), berpotensi menciptakan epidemi, penumpukan residu bahan kimia pada bagian tubuh tanaman yang berpotensi meracuni ternak bahkan organisme lain sehingga menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati, penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen sehingga berpotensi meracuni manusia, terbunuhnya predator alami, pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia dan kecelakaan operasi bagi pengguna pestisida kimia yang dapat menyebabkan keracunan, kebutaan, kemandulan serta efek buruk lainnya.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati (2011) bahwa Pengendalian penyakit hayati oleh mikroorganisme baik jamur ataupun bakteri dapat terjadi melalui satu atau beberapa mekanisme seperti: antibiosis, kompetisi, hiperparasit, induksi resistensi dan memacu pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis jamur yang mengandung toksin dapat menghambat pertumbuhan ataupun reproduksi hewan. Mekanisme antibiosis merupakan penghambatan patogen oleh senyawa metabolik yang dihasilkan oleh agensia hayati seperti: enzim, senyawa- senyawa volatile, zat pelisis dan senyawa antibiotik lainnya. Salah satu contoh adalah agensia hayati kelompok jamur. Jamur diketahui mampu menghasilkan bermacam senyawa beracun (toksis) untuk melawan organisma lainnya. Dalam mengkolonisasi suatu substrat jamur mempunyai kemampuan untuk menghasilkan sejumlah produk ektraselular yang bersifat racun. Kemampuan jamur menghasilkan suatu antibiotik sangatlah penting dalam menentukan kemampuannya untuk mengkolonisasi dan mengatur keberadaannya dalam suatu substrat.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Pada Kawasan Hutan Lindung Sibayak I Di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Pada Kawasan Hutan Lindung Sibayak I Di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Prakash dan Rao (1997) menyatakan bahwa petani selama ini bergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Pestisida kimia selain harganya yang mahal juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah hama berpeluang menjadi kebal (resisten), terjadi peledakan hama baru (resurjensi), berpotensi menciptakan epidemi, penumpukan residu bahan kimia pada bagian tubuh tanaman yang berpotensi meracuni ternak bahkan organisme lain sehingga menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati, penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen sehingga berpotensi meracuni manusia, terbunuhnya predator alami, pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia dan kecelakaan operasi bagi pengguna pestisida kimia yang dapat menyebabkan keracunan, kebutaan, kemandulan serta efek buruk lainnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Most of the people in around Education Forest Barus Mount worked as a farmer. Efforts by farmers to eradicate plant pests still use chemical pesticides, which can damage land and crops. And the finally, agricultural products can be dangerous to healthy. In beside that, production costs incurred will be increase. Therefore, there was an alternative to the use of the fungus as a pesticide. There are some purposes of this study, which is to identify the species of poisonous mushroom, to analysis the diversity species of fungi that contain a poison (toxin), to analysis the content of phytochemicals found in several species of poisonous mushroom, and knowing the potential for development of poisonous mushroom in Education Forest Barus Mount. The method used was purposive sampling plots. The results obtained from this study is there are 18 species of mushrooms macroscopical and as many as 14 different species of fungi that do skrining phytochemicals to know the content of secondary metabolites, including 9 species that contain alkaloids, there is not mushroom contains flavonoids, steroid- terpenoid, and 6 species of fungi containing saponins. Based on the analysis of vegetation, was know that types which have the highest importance value index is Marasmius siccus, whereas species that have the lowest importance value index is Amanita sp2. According with the data analysis of vegetation were also obtained the index diversity at 2,18. The mushroom which able to cultivating is mushroom which has complex secondary metabolit compound such as Amanita sp1 and Psathyrella bipellis. Conditions environment are suit by growing both of the mushroom. Keywords : Exploration, Poisonous mushroom, Phytochemical
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Riwayat pendidikan yang ditempuh selama ini yaitu Pendidikan Dasar di SD Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah Pekan Baru, setelah 5 tahun saya melanjutkan sekolah di SD Swasta Adhyaksa Medan dan lulus pada tahun 2002. Pendidikan lanjutan di SMP Negeri 12 Medan lulus pada tahun 2005, dan Pendidikan Menengah di SMA Negeri 3 Medan lulus pada tahun 2008. Pada ujian Masuk Bersama, Saya lulus dan melanjutkan jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Akhirnya diterima di Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Program studi Kehutanan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Kuisioner Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Identitas Responden 1.. Apa mata pencarian yang anda lakukan untuk memenu[r]

3 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Sebagian besar masyarakat di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Barus bermata pencarian sebagai petani. Upaya yang dilakukan petani tersebut untuk membasmi organisme pengganggu tanaman masih menggunakan pestisida kimia, sehingga dapat merusak lahan dan hasil pertanian. Pada akhirnya hasil pertanian tersebut dapat membahayakan kesehatan. Disamping itu, biaya produksi yang dikeluarkan akan semakin besar. Oleh karena itu, timbul alternatif untuk memanfaatkan jamur sebagai pestisida. Ada beberapa tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi jenis-jenis jamur beracun, mengetahui Keanekaragaman jenis jamur yang mengandung racun (toksin), menganalisis kandungan fitokimia yang terdapat pada beberapa jenis jamur beracun, dan mengeanalisis potensi pengembangan jamur beracun di Hutan Pendidikan Gunung Barus. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan petak ukur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat 18 jenis jamur makroskopis dan sebanyak 14 jenis jamur yang dilakukan pegujian fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya, di antaranya 9 jenis yang mengandung Alkaloid, tidak ada jenis yang mengandung flavonoid, steroid-terpenoid, dan 6 jenis jamur yang mengandung saponin. Berdasarkan analisis vegetasi, diketahui jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah Mara smius siccus, sedangkan jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting terendah adalah Amanita sp2. Dari data analisis vegetasi tersebut juga diperoleh indeks keanekaragaman jenis sebesar 2,18. Jamur yang dapat dibudidayakan merupakan jamur yang memiliki senyawa metabolit yang lebih kompleks seperti Amanita sp1. dan Psathyrella bipellis. Kondisi lingkungannya sesuai dengan pertumbuhan kedua jamur tersebut.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Hutan tropis Indonesia memiliki berbagai jenis tumbuhan yang merupakan sumber daya alam hayati sekaligus sebagai penyedia senyawa kimia yang berkhasiat sebagai obat atau racun.Walaupun luas daerah hutan tropis diperkirakan 7% dari luas permukaan bumi tapi lebih dari 50% spesies organisme berada di hutan tropis. Sebagai contoh saat ini satu dari dua belas obat-obatan dari tanaman yang di pasarkan di Amerika Serikat mengandung derivat dari hutan tropis dan satu dari tiga obat-obatan dari tanaman berasal dari hutan tropis. Sungguhpun demikian baru sebagian kecil saja potensi dari hutan tropis tersebut yang sudah diinventarisasi sebagai obat. Disisi lain kita berpacu dengan kepentingan ekonomi, dimana hutan-hutan juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri atau diubah fungsinya sebagai lahan pertanian(Soejarto et al., 1991).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Taman Hutan Raya (Tahura) merupakan bentuk pelestarian alam terkombinasi, antara pelestarian ek-situ dan in-situ. Tahura dapat ditetapkan baik dari hutan alam maupun hutan buatan. Fungsi yang jelas sebuah hutan raya adalah sebagai etalase keanekaragaman hayati, tempat penelitian, tempat penangkaran jenis, serta juga sebagai tempat wisata.Tahura Bukit Barisan mempunyai maksud dan tujuan utama yakni sebagai sumber genetik dan plasma nutfah, pusat informasi dan penelitian peranan flora dan fauna bagi generasi kini dan mendatang. Selain itu juga memiliki fungsi perlindungan hidrologi, bahwa kawasan Tahura Bukit Barisan merupakan sumber mata air bersih bagi warga kota Medan, pencegah erosi dan banjir daerah pantai timur Sumatera Utara, peredam polusi kendaraan dan industri kota Medan dan sekitarnya, lokasi penyuluhan dan pendidikan konservasi.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

EKSPLORASI TUMBUHAN BERACUN SEBAGAI BIOPESTISIDA PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG SIMANCIK II DI TAMAN HUTAN RAYA BUKIT BARISAN

EKSPLORASI TUMBUHAN BERACUN SEBAGAI BIOPESTISIDA PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG SIMANCIK II DI TAMAN HUTAN RAYA BUKIT BARISAN

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat 17 jenis tumbuhan beracun yang diskrining fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya, diantaranya 10 jenis yang mengandung Flavonoid, 12 jenis yang mengandung Alkaloid, 10 jenis yang mengandung steroid-terpenoid, dan 11 jenis yang mengandung saponin. Berdasar kan analisis vegetasi, diketahui jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah jenis Kalincayo (Angelesia splendens Korth.) sedangkan jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting terendah adalah Takur-takur gara ( NephentesTobaica). Dari data analisis vegetasi tersebut juga diperoleh indeks keanekaragaman jenis sebesar 1,97 dari jenis tumbuhan bawah dan 1,39 dari jenis semai pohon. Tumbuhan beracun yang paling berpeluang dibudidayakan sebagai sumber biopestisida adalah yang memiliki kandungan metabolit sekunder kompleks seperti jenis Sanggubuh (Licania splendens Korth.), Rancang daluna (Rubia sp), Mbetung (Ficus grossularioides Burm.f.), Ingul kerangen (Smecarpus sp), dan Sukul-sukul (Macaranga depressa Mull.Arg.).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Indonesia tercatat mempunyai lebih dari 50 famili tumbuhan penghasil racun, sedang sekitar 250 famili lainnya belum diketahui kandungan bahan racunnya. Berdasarkan hasil penelitian sebagian tumbuhan tersebut, interaksi antara tumbuhan dan serangga yang terjadi telah menyebabkan sejumlah senyawa kimia metabolit sekunder tumbuhan mempengaruhi perilaku, perkembangan dan fisiologis serangga. Dengan strategi penggunaan yang tepat, metabolit sekunder ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengendali hama tertentu. Peranan tumbuhan dalam perkembangan pengobatan tradisi telah diakui selain daripada peranannya seperti sumber makanan, perhiasan, obat dan sebagainya (Hamid dan Nuryani, 1992) .
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung di Desa Lumban Julu Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Tobasa

Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung di Desa Lumban Julu Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Tobasa

Pereaksi yang digunakan dalam pengujian Terpen adalah Lieberman Bouchard dan CeSO4. Kandungan Terpen pada tumbuhan ditandai dengan munculnya warna cokelat kemerahan saat sampel tanaman direaksikan dengan senyawa pereaksi CeSO4. Berdasarkan dari data hasil pengujian pada tabel tumbuhan yang mengandung terpen adalah Licaria sp, Syzygium sp, Pandanus sp, Eleusine sp, Eurycoma longifolia Jack, Caladium sp, Cryptocarya sp, Ficus lepicarpa Blume, Leea simplicifolia Zoll dan Moritzi, Homalanthus populneus (Giesel) Pax, Alstonia scholaris L.R. Br, Dioscorea sp, dan Baringtonia sp .
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Pengaruh Ekstrak Tanaman Picung Pangium edule sebagai Pestisida Nabati Terhadap Mortalitas Penggerek Buah Kopi.. Universitas Andalas Press.[r]

3 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Nainggolan 38 Laki-laki Petani Masyarakat 7 Raune Gultom 55 Laki-laki Petani Masyarakat 8 Mantap Tambunan 43 Laki-laki Petani Masyarakat 9 Erikson Nainggolan 50 Laki-laki Petani Masya[r]

6 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Penulis menempuh pendidikan formal di Sekoleh Dasar (SD) Negeri 058129 bebas dan lulus tahun 2005. Penulis juga melanjutkan pendidikan di sekolah Menengah Pertama (SMP) Dharma Bakti Besitang) dan lulus tahun 2008. Pada tahun 2011 penulis lulus dari SMA Swasta Dharma Bakti Besitang dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur ujian tertulis Ujian Masuk Bersama (UMB). Penulis memilih minat Teknologi Hasil Hutan program studi Kehutanan.

11 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Racun dapat diidentifikasi pada tumbuhan beracun dan kemungkinan dapat disebabkan oleh hasil metabolisme sekunder yang terkandung di dalam tumbuhan beracun tersebut. Setiap jenis tumbuhan beracun pada umumnya mengandung zat-zat atau senyawa kimia yang berbeda-beda. Senyawa racun yang bersifat alami dalam tumbuhan beracun belum sepenuhnya diketahui dan belum semuanya dimanfaatkan secara aplikatif. Beberapa jenis tumbuhan beracun mengandung dua atau lebih senyawa racun yang berbeda komponen kimianya satu dengan lainnya. Hanenson (1980) menyatakan bahwa komponen-komponen kimia yang dihasilkan tumbuhan beracun melalui metabolit sekunder terbagi atas beberapa macam seperti alkoloid, glikosida, tanin, saponin, asam oksalat, phytotoxin, resin, polipeptida dan asam amino serta mineral lainnya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...