Top PDF Ekstraksi Na-Alginat dari Rumput Laut Padina sp. Menggunakan Konsentrasi Kalium Hidroksida yang Berbeda

Ekstraksi Na-Alginat dari Rumput Laut Padina sp. Menggunakan Konsentrasi Kalium Hidroksida yang Berbeda

Ekstraksi Na-Alginat dari Rumput Laut Padina sp. Menggunakan Konsentrasi Kalium Hidroksida yang Berbeda

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa rata-rata viskositas sebesar 275,50-299,00 cP. Histogram viskositas tersaji Gambar 5. Hasil penelitian yang diperoleh, menunjukkan bahwa viskositas yang dihasilkan sudah memenuhi standar Food Chemical Codex (FCC) dimana viskositas natrium alginat berkisar 10-5000 cP dan termasuk kedalam tingkatan natrium alginat kekentalan tinggi 110-800 cP (King, 1982). Hasil penelitian ini lebih baik dibandingkan dengan penelitian sebelumnya Rasyid (2007) nilai viskositasnya berkisar 37-125 cP. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan perendaman rumput laut Padina sp. dalam larutan KOH memberikan pengaruh nyata terhadap natrium alginat yang dihasilkan (sig<0,05). Perlakuan KOH 0,8% menghasilkan kadar viskositas yang paling rendah karena natrium alginat yang diekstrak pada perlakuan ini mengandung rantai polimer yang berbobot molekul rendah sesuai dengan kondisi pH yang bernilai basa. Eriningsih et al., (2014) menyatakan alginat dapat dikarakterisasi dari derajat viskositasnya dalam bentuk larutan. Viskositas alginat dipengaruhi oleh kekuatan gel, konsentrasi alginat, derajat polimerisasi dan berat molekulnya. Viskositas alginat juga dipengaruhi oleh suhu, kondisi asam dan perbandingan unit M dan G dari molekul alginat. Peningkatan viskositas tergantung pada adanya asam guluronat dan asam manuronat yang tinggi (Amir et al., 2012). Peningkatan proporsi unit G menghasilkan bahan lebih kental. Perbandingan M dan G mempengaruhi laju pembentukan hidrogel dan/atau karakteristik akhir dari hidrogel. Alginat yang mengandung asam guluronat yang tinggi cenderung mempunyai struktur yang kaku (rigid)
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Kajian Mutu Karaginan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Sifat Fisiko-Kimia pada Tingkat Konsentrasi Kalium Hidroksida (KOH) yang Berbeda

Kajian Mutu Karaginan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Sifat Fisiko-Kimia pada Tingkat Konsentrasi Kalium Hidroksida (KOH) yang Berbeda

Rumput laut jenis Eucheuma cottonii yang digunakan pada penelitian ini dibudidayakan di perairan Tanimbar, Kecamatan Tanimbar Utara Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Karaginan menurut FAO dalam Murdinah (2009) adalah istilah umum untuk senyawa hidrokoloid yang diperoleh melalui proses ekstraksi rumput laut merah dengan menggunakan air. Karaginan sangat penting peranannya sebagai stabilizer (penstabil), thickener (bahan pengentalan), pembentuk gel, pengemulsi dan lain – lain. Sifat ini banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, obat – obatan, kosmetik, tekstil, cat, pasta gigi dan industri lainnya (Winarno, 1996). Di Indonesia belum ada standar mutu karaginan namun secara Internasional telah ditetapkan spesifikasi mutu karaginan sebagai syarat minimum yang diperlukan bagi industri pengolahan meliputi kualitas dan kuantitas hasil ekstrasi rumput laut. Standard mutu karaginan yang telah diakui dikeluarkan oleh Food Agriculture Organization (FAO), Food Chemicals Codex (FCC) dan standar mutu karaginan komersial. Spesifikasi mutu karaginan dapat dilihat pada Tabel 1.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

OPTIMASI KONSENTRASI KALIUM HIDROKSIDA PADA EKSTRAKSI KARAGINAN DARI ALGA MERAH (Kappaphycus alvarezii) ASAL PULAU LEMUKUTAN

OPTIMASI KONSENTRASI KALIUM HIDROKSIDA PADA EKSTRAKSI KARAGINAN DARI ALGA MERAH (Kappaphycus alvarezii) ASAL PULAU LEMUKUTAN

Karaginan merupakan getah rumput laut yang diekstraksi dengan larutan alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae. Pada pembuatan karaginan yang harus diperhatikan adalah proses ekstraksi yang meliputi cara ekstraksi, pH, lama ekstraksi dan suhu. Menurut Asnawi (2008), proses pengolahan karaginan dimulai dengan ekstraksi dengan pelarut basa yang kemudian dilanjutkan dengan penyaringan, pengendapan dan penggilingan hingga menjadi tepung. Pelarut basa yang digunakan adalah kalium hidroksida karena dapat menghasilkan karaginan dengan sifat kekuatan gel yang lebih baik dibandingkan NaOH. Winarno (1990) menyatakan pelarut kalium hidroksida dan natrium hidroksida berpengaruh pada ekstraksi karaginan, dimana ion K + dan Na + memiliki peran yang berbeda pada sifat gel karaginan. Ion K + menghasilkan struktur yang baik dibandingkan ion Na + .
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi NaOH Yang Berbeda Terhadaap Mutu Agar Rumput Laut Gracilaria Verrucosa

Pengaruh Konsentrasi NaOH Yang Berbeda Terhadaap Mutu Agar Rumput Laut Gracilaria Verrucosa

C selama 2 jam sambil diaduk untuk mencegah timbulnya kerak di dasar. Hasil ekstraksi disaring, filtrat ditambahkan 12,5 gram KCl dan diaduk selama ± 5 menit. Filtrat dibiarkan membentuk gel selama ± 18 jam pada suhu ruangan. Gel yang terbentuk dibekukan dalam freezer lemari es bersuhu -12 – 0 0 C selama ± 48 jam. Setelah beku, agar diuji kekuatan gelnya menggunakan TA-XT2 Analyser. Hasil agar yang lain dikeluarkan dari freezer dan didiamkan selama ± 24 jam kemudian ditiriskan dengan meletakkannya di atas kain belacu pada suhu ruangan selama ± 10 menit hingga airnya tidak menetes sampai dipindahkan ke botol sampel untuk diuji kandungan sulfat, kadar air, dan kadar abunya. Pengujian akan menghasilkan data untuk dianalisis supaya mengetahui perbedaan mutu yang dihasilkan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Etanol dan Waktu Maserasi terhadap Rendemen, Kadar Total Fenol dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Rumput Laut Padina australis

Pengaruh Konsentrasi Etanol dan Waktu Maserasi terhadap Rendemen, Kadar Total Fenol dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Rumput Laut Padina australis

Senyawa antioksidan dapat menangkal radikal bebas dengan cara menyumbangkan satu atau lebih elektron kepada radikal bebas (Zubia et al. 2007). Radikal bebas sifatnya sangat tidak stabil dan reaktif serta merusak jaringan, sehingga menjadi sumber penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan penyakit lainnya seperti pengerasan pembuluh darah, jantung koroner, stroke dan kanker (Kang et al. 2010). Antioksidan dalam tubuh manusia jumlahnya terbatas sehingga jika terjadi paparan radikal yang berlebihan maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen, yaitu antioksidan yang berasal dari luar tubuh baik yang alami maupun sintetik. Salah satu pilihan sumber antioksidan yang perlu dieksplorasi adalah adalah yang berasal dari rumput laut. Rumput laut berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami. Hasil penelitian Nursid et al. (2016) menunjukkan bahwa dari 20 jenis rumput laut
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Rumput Laut ( Spirulina sp )

Rumput Laut ( Spirulina sp )

Kurang lebih 70 persen wilayah Indonesia terdiri dari lautan yang kaya akan berbagai jenis sumber hayati. Salah satu diantaranya adalah rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis penting bagi masyarakat Indonesia. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola hidup dan makan yang sehat membuat rumput laut dipilih sebagai alternatif makanan sehat karena kandungannya yang kaya akan serat, vitamin dan mineral (Kabinawa, 2006).

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Penggunaan NaOCl Dalam Tahapan Pemucatan Ekstraksi Rumput Laut Coklat (Sargassum duplicatum) Terhadap Karakteristik Natrium Alginat.

Pengaruh Penggunaan NaOCl Dalam Tahapan Pemucatan Ekstraksi Rumput Laut Coklat (Sargassum duplicatum) Terhadap Karakteristik Natrium Alginat.

Alginat dibagi dalam 3 kategori yaitu food grade, pharmaceutical grade dan industrial grade. Kebutuhan industri di Indonesia yang saat ini terus berkembang, kebutuhan natrium alginat masih disuplai melalui impor dari beberapa negara seperti Perancis, Inggris, RRC dan Jepang dalam jumlah 599.000 kg dengan nilai US $ 2.773.517 (http://dic-indonesia.page.tl/Peluang-Usaha.html). Berdasarkan informasi yang diperoleh, kebutuhan pasar dunia akan produk natrium alginat pun terus meningkat yang berarti peluang yang menjanjikan baik untuk pasar domestik ataupun pasar ekspor.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Asam Klorida (Hcl) Terhadap Mutu Alginat Rumput Laut Coklat Sargassum SP. Dari Perairan Teluk Awur Kab. Jepara Dan Poktunggal Kab. Gunungkidul

Pengaruh Konsentrasi Asam Klorida (Hcl) Terhadap Mutu Alginat Rumput Laut Coklat Sargassum SP. Dari Perairan Teluk Awur Kab. Jepara Dan Poktunggal Kab. Gunungkidul

Rumput laut merupakan sumber daya hayati laut yang potensial digunakan dalam industri pangan dan non pangan, salah satu jenisnya ialah Sargassum sp. yang ditemukan melimpah hampir di seluruh perairan Indonesia dan telah dimanfaatkan berupa alginat yang dalam industri digunakan sebagai pengental, pensuspensi, penstabil, pembentuk film, pembentuk gel, dan bahan pengemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi HCl terhadap kualitas Natrium alginat rumput laut coklat Sargassum sp. yang diambil dari Perairan Teluk Awur, Jepara dan perairan Poktunggal, Gunungkidul yang meliputi rendemen, viskositas, kadar air dan kadar abu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel diekstraksi dengan perlakuan perbedaan konsentrasi HCl 3%, 5%, 7% dan 9% saat pembentukan asam alginat masing-masing dengan 3 ulangan. Hubungan antara konsentrasi HCl dan kualitas natrium alginat menunjukan model regresi linier positif untuk rendemen natrium alginat, model regresi polinomial positif untuk viskositas, regresi linier positif dan negatif pada kadar air, lalu regresi polinomial negatif pada kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan rendemen natrium alginat tertinggi dihasilkan pada konsentrasi HCl 9% yaitu sebesar 15,41 ± 2,17% untuk perairan Teluk Awur dan 14,44 ± 2,94% untuk perairan Poktunggal. Viskositas tertinggi dihasilkan pada konsentrasi HCl 5% yaitu sebesar 10,33 ± 1,52 cPs untuk perairan Teluk Awur dan 12,65 ± 1,48 cPs untuk perairan Poktunggal.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN DIET EKSTRAK RUMPUT LAUT COKELAT (Padina sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

PENGARUH PEMBERIAN DIET EKSTRAK RUMPUT LAUT COKELAT (Padina sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang pertumbuhan pada budidaya ikan. Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dapat mendukung pertumbuhan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan ekstrak rumput laut cokelat (Padina sp.) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan efesiensi pemanfaatan pakan lele dumbo (Clarias gariepinus).Variabel yang dikaji meliputi, pertumbuhan panjang (cm), pertumbuhan berat (g), efisiensi pakan FER (%) dan konversi pakan (FCR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu perlakuan PO pakan tanpa ekstrak rumput laut cokelat (Padina sp.), P1 pakan campur ekstrak rumput laut cokelat (Padina sp.) (0,2%), P2 pakan campur ekstrak rumput laut cokelat (Padina sp.) (0,4%) dan P3 pakan campur ekstrak rumput laut cokelat (Padina sp.) (0,6%). Data di analisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dengan tingkat kepercayaan 95%, apabila data menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,05) dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95% untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh perlakuan pemberian ekstrak rumput laut cokelat (Padina sp.) yang nyata terhadap pertumbuhan panjang (cm) dengan perlakuan terbaik pada pemberian ekstrak rumput laut coklat 0.6% (P3) dengan rata-rata panjang (3.16±0.05), pertumbuhan berat (g) dengan perlakuan terbaik pada P3 (3.44±0.02), efisiensi pakan (FER) dengan perlakuan terbaik pada P3 (1.33±0.01) dan konversi pakan (FCR) dengan perlakuan terbaik adalah P3 (74.93±0.33). Sehingga dosis optimal dalam perlakuan pemberian ekstrak rumput laut coklat 0.6% (P3).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KULTUR JARINGAN RUMPUT LAUT (Gracillaria sp.) DARI SUMBER TALLUS YANG BERBEDA LOKASI

KULTUR JARINGAN RUMPUT LAUT (Gracillaria sp.) DARI SUMBER TALLUS YANG BERBEDA LOKASI

Penelitian perbaikan teknologi budi daya rumput laut telah dirintis oleh Balai Penelitian Perikanan Pantai (Balitkanta) sejak tahun 1992. Salah satu upaya yang telah dilaksanakan adalah propagasi rumput laut G. verrucosa secara in vitro. Percobaan kultur in vitro rumput laut bertujuan untuk mendapatkan teknik perbanyakan yang berkualitas tinggi secara vegetatif. Uji coba penggunaan hormon perangsang tumbuh dan media pupuk pada perbanyakan benih G. verrucosa secara vegetatif in vitro menunjukkan bahwa penggunaan NAA 250 mg/L dan pupuk larutan Conwy lebih baik dibandingkan beberapa hormon dan media pupuk lain yang dicoba (Amini et al., 1993). Berdasarkan hasil ini kemudian dilakukan pengujian kembali dengan menggunakan beberapa media tumbuh antara lain Provasoli’s Es Solution (PES) (Uchida et al., 1991); Ed Schreiber (ES), Miguel (Fogg, 1975) dan air laut steril (SSW). Hasil penelitian Balitkanta menunjukkan media tumbuh yang paling baik pada Gracillaria sp. adalah PES. Benih hasil kultur in vitro G. verrucosa di laboratorium dengan meng- gunakan eksplan 1 cm yang dipelihara pada kurungan selama 8 minggu di laut dapat mencapai laju pertumbuhan 6,9% dengan kandungan agar 24% dan protein 1,26%. Pertumbuhan eksplan rumput laut hasil kultur in vitro G. verrucosa dengan penanaman 50 cm dari permukaan air lebih baik dibanding 75 cm dan 100 cm. Beberapa peneliti dari manca negara melaporkan keberhasilan kultur secara in vitro untuk beberapa jenis makro algae antara lain Sargassum sp. dan Porpyra sp. menggunakan media air laut yang diperkaya dengan larutan pupuk 1/20 PES (Uchida et al.,
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

EKSTRAKSI DAN BIOAKTIVITAS ANTIOKSIDAN PIGMEN FIKOERITRIN DARI RUMPUT LAUT MERAH Halymenia sp.

EKSTRAKSI DAN BIOAKTIVITAS ANTIOKSIDAN PIGMEN FIKOERITRIN DARI RUMPUT LAUT MERAH Halymenia sp.

Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode FRAP dari Benzie dan Strain (1996). Asam askorbat digunakan sebagai standar pada konsentrasi 10-1000 mg/mL, sementara sampel pada 10 mg/mL. Sampel dan standar sebanyak 10 µL direaksikan dengan 150 µL reagen Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP), lalu diinkubasi dalam suhu ruang dan kondisi gelap selama 30 menit. Serapan absorbansi pada 593 nm diukur menggunakan spektrometer UV- Vis (Thermo Scientific Multiscan). Pengukuran absorbansi dilakukan sebanyak dua kali. Angka rataan selanjutnya dikurangi serapan blangko, kemudian dimasukkan ke persamaan kurva standar vitamin C sehingga didapatkan nilai aktivitas antioksidan Ekuivalen Asam Askorbat (EAA). Nilai ini lalu dikonversi menjadi mg/100 g ekstrak.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Ekstraksi Rumput Laut Coklat Sargassum sp. (CP 01) dan Pengujian Ekstrak sebagai Inhibitor Tirosinase

Ekstraksi Rumput Laut Coklat Sargassum sp. (CP 01) dan Pengujian Ekstrak sebagai Inhibitor Tirosinase

Makroalga laut yang secara taksonomi diklasifikasikan sebagai alga, memiliki 4 kelas utama, yaitu Rhodophyceae (alga merah), Chlorophyceae (alga hijau), Chyanophyceae (alga hijau biru), dan Phaeophyceae (alga coklat) (Thomas dan Kim 2013). Alga coklat (Phaeophyceae) tersebar di beberapa bagian Asia, salah satunya Indonesia. Sargassum merupakan salah satu marga Sargassum termasuk dalam kelas Phaeophyceae (Kadi 2005). Jenis-jenis Sargassum sp. yang dikenal di Indonesia ada sekitar 12 spesies, yaitu Sargassum duplicatum, S. histrix, S. echinocarpum, S. gracilimun, S. obtusifolium, S. binderi, S. policystum, S. crassifolium, S. microphylum, S. aquofilum, S. vulgare, dan S. polyceratium. Sargassum biasanya dicirikan oleh tiga sifat yaitu adanya pigmen coklat yang menutupi warna hijau, hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminaran dan alginat serta adanya flagel (Anggadiredja et al. 2006). Sargassum mengandung bahan alginat dan iodin yang bermanfaat sebagai bahan industri makanan, farmasi, tekstil, dan kosmetik (Kadi 2005).
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Biosorpsi Ion Logam Tembaga (Cu2+) Pada Biosorben Rumput Laut Coklat (Padina australis)

Biosorpsi Ion Logam Tembaga (Cu2+) Pada Biosorben Rumput Laut Coklat (Padina australis)

Berbagai macam metode telah digunakan untuk menanggulangi pencemaran lingkungan oleh logam berat seperti penjerapan, presipitasi, elektrodeposisi, penukar ion dan pemisahan secara membran telah dilakukan (Bijang dkk. 2014). Di antara metode-metode ini, pengolahan limbah menggunakan metode penjerapan adalah yang banyak dilakukan. Penjerapan atau disebut juga adsorpsi merupakan metode yang melibatkan adsorben sebagai penjerap. Beberapa biosorben yang dapat digunakan dalam penanganan limbah adalah serbuk gergaji, hasil samping pertanian, limbah industri makanan, bakteri, mikroalga, dan rumput laut. Keunggulan biosorben ini adalah mudah didapat, ramah lingkungan, dan dapat diperbaharui.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi dan Jenis Larutan Perendaman terhadap Kecepatan Ekstraksi dan Sifat Gel Agar-agar dari Rumput Laut Gracilaria verrucosa

Pengaruh Konsentrasi dan Jenis Larutan Perendaman terhadap Kecepatan Ekstraksi dan Sifat Gel Agar-agar dari Rumput Laut Gracilaria verrucosa

Kadar sulfat di dalam agar-agar sangat mempengaruhi gel strength, karena sifat sulfat sangat hidrofilik sehingga dengan banyaknya kadar sulfat dalam agar-agar akan menurunkan kekuatan gel agar-agar. Seperti tampak pada Gambar 1, dengan alkali maka gugus hidroksil pada prekursor akan menjadi terionisasi dan mengakibatkan gugus sulfat lepas dan membentuk ikatan jaringan seperti strukur A Gambar 1. Pada penelitian ini, alkali ditambah- kan saat tahap perendaman. Alkali mendifusi ke dalam jaringan sel selulosa rumput laut, dan terjadi reaksi perubahan struktur kimia prekursor (rumput laut) menjadi struktur agar-agar ideal. Struktur ikatan A menjadikan sifat gel agar-agar menjadi lebih kuat dibandingkan struktur B.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KADAR FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT COKLAT (Padina australis)

KADAR FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT COKLAT (Padina australis)

Rumput laut coklat Padina australis merupakan salah satu sumber daya alam laut yang keberadaannya sangat melimpah di perairan pantai Bayah, Banten Indonesia. Kandungan senyawa fenolik dan turunannya (flavonoid) berhubungan dengan aktivitasnya sebagai antibakteri dan antioksidan. Fenolik dianggap sebagai molekul dengan potensi tertinggi untuk menetralkan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenolik dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol P. australis menggunakan pereaksi Follin-ciocalteu dan 1,1-diphenyl-2-picryl hydrazyl (DPPH) ekstrak etanol P. australis. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenolik sebesar 42,62 mg SAG/g serbuk dan pada konsentrasi 5000 ppm menghambat sebesar 66, 01 % radikal bebas DPPH.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Isolasi dan karakterisasi natrium alginat dari Rumput laut sargassum sp untuk pembuatan bakso ikan tenggiri (scomberomus commerson)

Isolasi dan karakterisasi natrium alginat dari Rumput laut sargassum sp untuk pembuatan bakso ikan tenggiri (scomberomus commerson)

Kadar abu natrium alginat pada penelitian ini sebesar 20,85%(db). Nilai kadar abu tersebut telah memenuhi persyaratan dari Ekstra Farmakope Indonesia, yaitu tidak boleh lebih dari 21%(db). Kadar abu natrium alginat pada penelitian ini lebih kecil dibanding dengan kadar abu penelitian sebelumnya sebesar 24,82% (db) (Nurjanah, 2004). Kadar abu berhubungan dengan kandungan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat pada suatu bahan dapat berupa garam organik dan anorganik. Salah satu yang termasuk garam anorganik adalah garam karbonat. Selain garam organik dan anorganik, mineral juga ditemukan dalam bentuk senyawa kompleks yang bersifat organik. Apabila akan ditentukan kadar abunya dalam bentuk aslinya sangat sulit, sehingga penentuan kadar abu pada umumnya dilakukan dengan cara menentukan sisa-sisa pembakaran garam mineral tersebut atau dikenal dengan istilah pengabuan (Winarno, 1990). Besarnya kadar abu alginat dipengaruhi oleh banyaknya penambahan larutan Na 2 CO 3 pada saat ekstraksi. Na 2 CO 3
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

PEMBUATAN BIOETANOL DARI RUMPUT LAUT (Gracilaria sp.) MELALUI HIDROLISIS MENGGUNAKAN SELULASE

PEMBUATAN BIOETANOL DARI RUMPUT LAUT (Gracilaria sp.) MELALUI HIDROLISIS MENGGUNAKAN SELULASE

fosil adalah bioetanol. Bioetanol dapat diproduksi dari bahan yang mengandung gula, pati, dan lignoselulosa. Penelitian ini menggunakan bahan selulosa dari rumput laut Gracilaria sp. sebagai sumber penghasil bioetanol. Fermentasi etanol pada penelitian ini dilakuan 2 tahap yaitu fermentasi terpisah dan fermentasi simultan. Pada fermentasi terpisah untuk mendapatkan etanol dari Gracilaria sp. maka terlebih dahulu dilakukan hidrolisis secara enzimatik. Hasil hidrolisis akan digunakan sebagai bahan utama dalam fermentasi etanol oleh Saccharomyces cerevisiae. Sedangkan fermentasi simultan tepung rumput laut Gracilaria sp. langsung difermentasikan dengan menggunakan selulase dan Saccharomyces cerevisiae dalam satu fermentor dan waktu yang bersamaan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects