Top PDF Ensangan Masyarakat Dayak Kerabat Kabupaten Sekadau

Ensangan Masyarakat Dayak Kerabat Kabupaten Sekadau

Ensangan Masyarakat Dayak Kerabat Kabupaten Sekadau

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hakikat, bunyi, irama, dan makna ensangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, bentuk penelitian kualitatif, dan pendekatan penelitian struktural. Sumber data dalam penelitian ini adalah ensangan yang didendangkan oleh informan. Data dalam penelitian ini adalah teks atau lirik ensangan yang mengandung bunyi, irama, dan makna. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, rekaman, dan wawancara. Alat yang digunakan, yaitu peneliti sendiri sebagai instrument utama. Kemudian, data diolah dengan melakukan transkripsi, transliterasi/terjemah, identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan membuat kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ensangan adalah jenis sastra lisan yang disebut puisi liris. Ensangan terdiri atas ensangan pernikahan, pesta, penyambut tamu, nasihat, pelipur lara, pembangkit semangat, dan pengobatan (EHOLDQ¶W atau berajah). Struktur teks ensangan didominasi oleh bunyi efoni atau euphony, yaitu dipakai untuk menghadirkan suasana keriangan, semangat, vitalitas hidup, kegembiraan. Ensangan juga mengandung nilai-nilai yang dapat ajarkan pada para siswa dan mahasiwa sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti: rasa tanggung jawab, merasa bersaudara, musyawarah, santun, dan kebersamaan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

SIMBOL DAN MAKNA GERAK TARI PEDANG DALAM UPACARA NGAYAU DAYAK MUALANG KABUPATEN SEKADAU

SIMBOL DAN MAKNA GERAK TARI PEDANG DALAM UPACARA NGAYAU DAYAK MUALANG KABUPATEN SEKADAU

Seni tari memiliki tempat penting dalam masyarakat sehingga seni tari selalu dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan dalam kehidupan. Selain sebagai sarana hiburan yang dilihat keindahan bentuknya, tari juga berfungsi sebagai sarana upacara ritual. Faktor utama tari dalam upacara ritual bukan semata melihat keindahannya, tetapi memperlihatkan simbol yang menjadi suatu kekuatan dalam upacara ritual tersebut, dan memiliki makna tersendiri yang dapat mempengaruhi serta mengatur alam sekitarnya sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat pendukungnya. Hal serupa diungkapkan oleh Saussure (Berger, 2010: 27) bahwa simbol merupakan jenis tanda dimana adanya hubungan antara penanda dan petanda yang mana hal tersebut telah disepakati, dipercayai dan dijaga secara
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERISTILAHAN SATUAN UKURAN DALAM BAHASA DAYAK NTUKA KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU

PERISTILAHAN SATUAN UKURAN DALAM BAHASA DAYAK NTUKA KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU

Satuan ukur atau unit digunakan untuk memastikan kebenaran pengukuran atau sebagai nilai standar bagi pembandaing alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya. Satuan yang digunakan pada zaman dahulu. Misalnya Dopuh adalah alat ukur yang menggunakan tanggan yang panjangnya dari rentang kedua tangan atau sekitar satu setengah atau dua meter. Ukuran ini digunakan nenek moyang zaman dahulu ketika menebang kayu untuk membuat rumah. Satongah Dopuh merupakan satuan ukuran yang bisa digunakan untuk mengukur tanah, kayu, dan jarak (panjang/lebar) yang biasa digunakan untuk mengukur luas tanah/lahan (pemukiman, kebun, dan tanah yang tidak di garap. Ukuran Satongah Dopuh adalah jarak antara siku dengan ujung jari (kurang lebih 40—50 cm). Gokng merupakan satu di antara satuan yang digunakan oleh masyarakat
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERISTILAHAN ALAT MEMERANGKAP BINATANG HUTAN PADA MASYARAKAT DAYAK JAWATN KECAMATAN SEKADAU HULU

PERISTILAHAN ALAT MEMERANGKAP BINATANG HUTAN PADA MASYARAKAT DAYAK JAWATN KECAMATAN SEKADAU HULU

Ruang lingkup dalam penelitian ini berguna untuk memberikan batasan agar penelitian ini lebih terarah, adapun batasannya, yakni memfokuskan pada kajian peristilahan berdasarkan nama perangkap, alat, bahan, bagian, proses dan tempat pemasangan alat memerangkap binatang hutan pada masyarakat Dayak Jawatn menggunakan kajian semantik. Penelitian dilakukan di Dusun Boti, Desa Boti, Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau. Objek dalam penelitian ini, yaitu alat memerangkap binatang hutan pada masyarakat Dayak Jawatn Kecamatan Sekadau Hulu berdasarkan kategori alat memerangkap yang dipasang di daerah sungai, rawa, darat dan di atas pohon, khususnya jenis perangkap yang dibuat menggunakan bahan-bahan tradisional yang dapat dihasilkan di hutan. Aspek yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu inventarisasi peristilahan, arti leksikal peristilahan, komponen makna, dan fungsi semantis peristilahan alat memerangkap binatang hutan pada masyarakat Dayak Jawatn Kecamatan Sekadau Hulu.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Simbol dan Makna Gerak Tari Pedang dalam Upacara Ngayau Dayak Mualang Kabupaten Sekadau

Simbol dan Makna Gerak Tari Pedang dalam Upacara Ngayau Dayak Mualang Kabupaten Sekadau

Edmundus Linggie merupakan satu diantara penari tari Pedang dari Desa Merbang pada tahun 1960-an, beliaulah penerus terakhir pada angkatan 1960-an. Beliau juga yang masih menjaga tari Pedang dan mengajarkan tari tersebut kepada para pemuda di Desa Merbang. Namun, karena banyaknya kesenian modern membuat generasi penerus enggan mempelajari tarian tradisi tersebut. Adanya dokumentasi tertulis ini agar para seniman-seniman baru dan masyarakat lain lebih mengetahui tentang tari Pedang khususnya tentang makna dan simbol tari Pedang Mualang, serta membantu para seniman terdahulu untuk menjaga dan melestarikan tari Pedang tersebut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Analisis Fungsi, Lingkungan Pembacaan dan Diksi Mantra Beentamao Sastra Lisan Masyarakat Dayak Benawas Kabupaten Sekadau

Analisis Fungsi, Lingkungan Pembacaan dan Diksi Mantra Beentamao Sastra Lisan Masyarakat Dayak Benawas Kabupaten Sekadau

bentamao ini berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati dan dalam laporan penelitian ini akan berisi kutipan- kutipan data untuk memberikan gambaran objek berdasarkan masalah yang diangkat. Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Disebut penelitian kualitatif karena data dalam penelitian tentang mantra bentamao ini berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati dan dalam laporan penelitian ini akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran objek berdasarkan masalah yang diangkat. Sumber data dalam penelitian ini adalah mantra beentamao pada masyarakat Dayak Benawas yang diucapkan oleh Agustinus Ramon dan dicatat oleh peneliti. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik anlisis data yang digunakan dalam rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Melalui keknik ini, peneliti akan mendestripsikan hasil penelitiannya. Tahap Persiapan
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PANTANG LARANG DALAM MASYARAKAT MELAYU KECAMATAN SEKADAU HILIR KABUPATEN SEKADAU ARTIKEL PENELITIAN

PANTANG LARANG DALAM MASYARAKAT MELAYU KECAMATAN SEKADAU HILIR KABUPATEN SEKADAU ARTIKEL PENELITIAN

Pantang larang yang berkembang di masyarakat Sekadau Hilir menggunakan bahasa daerah yaitu Bahasa Melayu Daerah Sekadau (selanjutnya disingkat BMDS). Menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa daerah dikarenakan dominannya masyarakat suku Melayu yang bermukim di Ibukota kecamatan. Suku melayu ini konon berasal dari Dayak kemudian masuk agama Islam, suku Dayak, dan selebihnya suku Tionghoa dan Jawa. Oleh karena beragamnya suku di wilayah Sekadau Hilir, maka sebagai bahasa pengantarnya adalah BMDS tersebut. Bahasa Melayu Sekadau hampir sama dengan bahasa Melayu Sanggau dan bahasa Melayu Sintang. Namun dalam tuturan dan kata ada beberapa yang berbeda sehingga bahasa Sekadau dianggap unik oleh peneliti. Misalnya kata “tidak” dalam bahasa Indonesia, dalam BMDS adalah “mada”. Berbeda dengan bahasa Melayu Sanggau dan bahasa Melayu Sintang, keduanya memakai kata “ajom” untuk mewakili kata “tidak” tadi. Pada pantang larang BMDS misalnya “Inang ke utan pas potang, kolak diunyar antu” memiliki keunikan dalam bahasanya. Keunikan inilah yang membuat peneliti sangat tertarik untuk meneliti BMDS yang digunakan sebagai media pantang larang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS FUNGSI, LINGKUNGAN PEMBACAAN DAN DIKSI MANTRA BEENTAMAO SASTRA LISAN MASYARAKAT DAYAK BENAWAS KABUPATEN SEKADAU

ANALISIS FUNGSI, LINGKUNGAN PEMBACAAN DAN DIKSI MANTRA BEENTAMAO SASTRA LISAN MASYARAKAT DAYAK BENAWAS KABUPATEN SEKADAU

Mantra merupakan susunan kata atau kalimat yang mengandung kekuatan gaib. Mantra hanya dapat diucapkan pada waktu tertentu. Mantra diucapkan oleh seorang dukun atau manang (dukun) yang sudah berpengalaman dan mengerti tentang mantra. Selain itu, manang juga dipercaya masyarakat setempat sebagai orang yang mampu berhubungan dengan makhluk gaib. Proses penyebaran mantra melalui tuturan yang disampaikan secara lisan. Mantra dalam kehidupan masyarakat Dayak Benawas, Desa Ensalang, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat merupakan sesuatu hal yang suci . Mantra dipercaya dapat membuat sesuatu yang mustahil dapat terjadi di dunia nyata. Mantra juga dapat mengakibatkan malapetaka bagi orang atau sebaliknya dapat menyembuhkan orang dari penyakit. Mantra yang memiliki kekuatan gaib ini masih dipercaya, diyakini serta masih digunakan oleh masyarakat Dayak Benawas. Menurut Waluyo (1987:6), mantra tidak hanya digunakan untuk keperluan baik namun seringkali juga untuk keperluan yang kurang baik.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

1 PERISTILAHAN SATUAN UKURAN DALAM BAHASA DAYAK NTUKA KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU

1 PERISTILAHAN SATUAN UKURAN DALAM BAHASA DAYAK NTUKA KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU

Alasan peneliti memilih Peristilahan Satuan Ukuran dalam Bahasa Dayak Ntuka Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau, karena banyak sekali masyarakat yang tidak mengenal peristilahan satuan ukuran dan sekarang hanya dianggap sebagai alat pelengkap. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor satu diantaranya. Pertama, tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat menyangkut keyakinan adat dan budaya yang mulai ditinggalkan. Kedua, penelitian dengan menggunakan bahasa Dayak Ntuka belum ada. Ketiga, melestarikan bahasa Dayak Ntuka melalui penelitian, sehingga bahasa Dayak Ntuka dapat dipergunakan selanjutnya. Keempat, mendokumentasikan bahasa Dayak Ntuka dalam bentuk peristilahan satuan ukuran yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari yang akan digunakan sebagai alat mengukur, menimbang, menaruh, sehingga peristilahan dalam bahasa Dayak Ntuka dapat dikenal dan dijaga. Kelima, peneliti memilih peristilahan satuan ukuran mengingat setiap ujaran yang terdapat dalam bahasa Dayak Ntuka tidak semua masyarakat mengetahui makna dalam setiap tuturan yang terdapat dalam satuan ukuran.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Unsur Intrinsik dalam Legenda Ulai Bujang Karem Sastra Lisan Dayak Ketungau Sesaek Kabupaten Sekadau

Unsur Intrinsik dalam Legenda Ulai Bujang Karem Sastra Lisan Dayak Ketungau Sesaek Kabupaten Sekadau

Kutipan di atas menjelaskan Karem meluapkan kemarahannya kepada masyarakat karena belum memberikan sesaji kepadanya. Karem menginjak perut mereka secara bergantian tanpa menampakkan wujudnya. Walaupun Karem tidak menampakkan wujudnya, tetapi masyarakat tahu kalau itu perbuatannya, karena terdengar bunyi hentakan kaki yang menandakan kehadiran Karem. Amanat yang dapat dipetik dalam kutipan di atas adalah “setiap perbuatan buruk yang dilakukan pasti meninggalkan jejak yang akan diketahui oleh orang lain ”. Amanat tersebut mengajarkan agar tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang-orang di sekitar kita.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Tari Pingan Dayak Mualang Kajian Struktural Fungsional (di Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat)

Tari Pingan Dayak Mualang Kajian Struktural Fungsional (di Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat)

rangkaian gerak, namun lebih ke dalam sebagai sesuatu hikmah yang bermanfaat dan membahagiakan. Orang Dayak Mualang memandang tari Pingan sebagai seni tradisi dengan cinta yang mendalam, karena penghargaan mereka terhadap karya, pencipta, dan pelaku kesenian. Sehubungan dengan ini anggapan baik, indah, dan buruk tidak dipandang sebagai suatu hal yang negatif dan menyengsarakan, namun lebih dipandang kapada suatu hal yang mendatangkan manfaat dalam kehidupan, sebagaimana halnya kebanyakan masyarakat tradisional memandang kesenian mereka sebagai sebuah master piece yang dapat membawa mereka menyingkap arti kehidupan menjadi sebuah kebenaran hakiki. Hadirnya kesenian tari Pingan dalam masyarakat dianggap sebagai hiburan yang dapat memberikan kenikmatan estetis, baik bagi pelaku maupun penikmatnya. Intensitas berhubungan dengan kepercayaan atau prinsip hidup yang dituangkan dalam tari tersebut, seperti unsur kepercayaan dan adat istiadat sebagai pengejawantahan kehidupan masyarakat Dayak Mualang. Keterikatan dan penuangan ketiga unsur keindahan inilah yang menjadi salah satu penyebab keberadaan tari Pingan masih dibutuhkan masyarakat pemiliknya disamping kandungan nilai estetis yang ada di dalamnya. Jika dihubungkan dengan pernyataan di atas, meskipun gerak dalam Tari Pingan terbilang sederhana, tetapi dapat membuat sajian yang ditampilkan menarik dan enak dinikmati. Disamping itu kesenian tari Pingan jaman sekarang sudah dipelajari oleh kaum muda, sedangkan kaum tua, ketika mendapat giliran menampilkan kebolehan menari terlihat sangat mapan dan menunjukkan ekspresi tradisional yang sangat kental. Mereka seakan-akan merasa, penuh gairah, bersemangat, tampil menggebu dan menyala-nyala, apalagi direspon secara atraktif seperti dibawakan untuk sajian hiburan pada suatu pesta atau upacara. Hal ini juga menambah suatu nilai lebih yang menandakan bahwa tari Pingan dapat hidup dan diterima disegala lapisan masyarakat dan lapisan umur, sehingga peluang perkembangannya sangat besar. Ungkapan-ungkapan dalam gerak dengan property piring (pingan) yang dibawakan merupakan ungkapan sebuah rekaman historis kehidupan masyarakat yang dapat dijadikan sebuah kerangka nilai estetis untuk dihayati dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Disamping itu kandungan nilai estetis tersebut dapat pula memberi rasa nikmat, indah, tenteram, damai, menyenangkan, sebagaimana keindahan tari Pingan ditampilkan sebagai sajian yang menarik, menyentuh, dan menggetarkan jiwa. Demikian ungkapan tari Pingan sebagai perpaduan nilai estetis dan nilai budaya yang ada dalam geraknya, telah terbukti dapat memberi kepuasan rasa tersendiri bagi penikmatnya.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

FUNGSI TARI NTABUH PADA SUKU DAYAK JAWANT DALAM UPACARA PERNIKAHAN DI DUSUN SULANGBETUNG SEKADAU ARTIKEL PENELITIAN

FUNGSI TARI NTABUH PADA SUKU DAYAK JAWANT DALAM UPACARA PERNIKAHAN DI DUSUN SULANGBETUNG SEKADAU ARTIKEL PENELITIAN

banyak kekurangan baik dari segi teori maupun data-data yang belum lengkap. Sehubungan dengan usaha pelestarian dan pendokumentasian seni budaya, dalam penelitian ini peneliti ingin memberikan beberapa saran sebagai berikut. (1) Bagi masyarakat secara luas harus tetap menjaga kelestarian budaya daerah yang ada. (2) Mengembangkan kebudayaan-kebudayaan lokal yang ada pada daerah setempat. (3) Bagi masyarakat suku Dayak Jawant, harus tetap menjaga tari Ntabuh agar tidak hilang. (4) Bagi masyarakat suku Dayak Jawant di Dusun Sulangbetung Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau, agar tetap berpartisipasi aktif dalam menyelenggarakan proses pertunjukan tari Ntabuh. (5) Bagi pemerintah Kabupaten Sekadau agar tetap melengkapi fasilitas serta kekurangan sarana dan prasarana dalam proses upacara tari Ntabuh, agar tari Ntabuh dapat terus dikembangkan. (6) Penelitian yang telah dilakukan ini perlu untuk terus dikembangkan oleh peneliti lainnya dengan cara maupun teknik yang berbeda. (7) Bagi pihak sekolah agar bisa memberikan materi tambahan yang berhubungan dengan awal masuknya tari Ntabuh. (8) Bagi guru mata pelajaran seni budaya agar dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan ajar dalam mata pelajaran seni budaya. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat mengetahui dan melestarikan kebudayaan yang ada di daerahnya masing-masing. DAFTAR RUJUKAN
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

3 STRUKTUR PENYAJIAN TARI SELAMPE PADA DAYAK SAWE DI DESA SEKONAU KECAMATAN SEKADAU HULU KABUPATEN SEKADAU Kresensia Purwati, Ismunandar, Henny Sanulita Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Untan Pontianak Email : kresensiakekegmail.com Abstrac

3 STRUKTUR PENYAJIAN TARI SELAMPE PADA DAYAK SAWE DI DESA SEKONAU KECAMATAN SEKADAU HULU KABUPATEN SEKADAU Kresensia Purwati, Ismunandar, Henny Sanulita Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Untan Pontianak Email : kresensiakekegmail.com Abstrac

dayak s awe “Pemoram” yaitu semua masyarakat setempat harus mencicipinya. Begitu juga sehari sesudah acara itu selesai akan diadakan ritual lagi yang disebut “ mulang ajat ” menandakan kalau di kampung sudah menyelesaikan acara dan akan menyimpan alat-alat musik tersebut. Setelah hari itu tiba, semua masyarakat setempat bersiap-siap untuk melihat dan menyambut tamu datang dan berkumpul di pintu gerbang. Setelah tamu datang,tamu belum diperbolehkan untuk langsung masuk ke Kampung tersebut, karena akan diadakan lagi semacam ritual yang di sebut dalam bahasa sawe yaitu “ ngabor boras kunin dan nijak tanah ” tujuan meminta perlindungan kepada leluhur supaya para tamu yang masuk dan berkunjung ke kampung tersebut, tidak mendapatkan penyakit. Bahan bahan ngabor boras kunin dan nijak tanah : mangkok adat, Beras, Kunyit, Tanah, Telur, Air, Talam (nampan). Makna dari bahan tersebut adalah beras sebagai lambang manusia, warna kuning kunyit melambangkan perlindungan dari duata petara supaya roh jahat tidak mudah datang, tanah untuk kita berpijak dan sebagai syarat pengenalan kepada setiap tamu yang pertama kali menginjak tanah kampung tersebut, air merupakan lambang dari kedinginan, kedamaian serta terbebas dari
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Sosial Budaya Perladangan Dayak Kerabat di Desa Tapang Perodah Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau

Sosial Budaya Perladangan Dayak Kerabat di Desa Tapang Perodah Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau

Hidup keseharian Orang Dayak Kerabat masih mempercayai adanya Dotoo Pitaroo, roh nenek moyang dan roh-roh lain apalagi dalam praktek pertaniannya. Dotoo pitaroo dan roh leluhur diyakini oleh mereka memiliki pengaruh dalam kehidupan mereka sehari-hari dan dapat menolong usaha pertanian mereka. Sebagai akibat dari kepercayaan di atas, orang Dayak Kerabat akhirnya memiliki beberapa pantangan, seperti pamali dan tulah. Pamali ialah suatu larangan untuk tidak melakukan atau mengkonsumsi sesuatu yang disertai dengan sangsi pysikologis, Pamali biasanya berlaku bagi pribadi seseorang, kapan saja dan dimana saja tampa dibatasi oleh tempat dan waktu. Pamali lebih bersifat irasional atau kurang dapat diterima akal. Pamali apabila dilangar dapat mengakibatkan (badi) : tulah punan, celaka dan badi atau kabadian.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERIBAHASA DAYAK MUALANG KABUPATEN SEKADAU DALAM KAJIAN SEMANTIK

PERIBAHASA DAYAK MUALANG KABUPATEN SEKADAU DALAM KAJIAN SEMANTIK

Suku Dayak Mualang adalah salah satu subsuku Dayak yang terdapat di Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat. Sekadau merupakan salah satu kabupaten yang ada di Timur Kalimantan Barat.Kabupaten Sekadau merupakan pemekaran dari Kabupaten Sanggau yang terdiri dari Kecamatan Nanga Mahab, Kecamatan Nanga Taman, Kecamatan Sekadau Hulu, Kecamatan Sekadau Hilir, Kecamatan Belitang Hilir, Kecamatan Belitang Hulu, dan Kecamatan Belitang. Masyarakat Dayak Mualang banyak terdapat di Kecamatan Belitang Hulu.Desa Bukit Rambat adalah desa pemekaran dari Desa Mengaret yang terdiri dari Dusun Balau Lambing dan Dusun Balau Milot dengan pusat desa terletak di Desa Balau Lambing. Masyarakat Desa Bukit Rambat bekerja sebagai petani yaitu berkebun karet namun ada sebagian masyarakat yang sudah menanam sawit pribadi.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

LEKSIKON GAWE PADA MASYARAKAT DAYAK ULU SAKADO KECAMATAN NANGA MAHAP KABUPATEN SEKADAU

LEKSIKON GAWE PADA MASYARAKAT DAYAK ULU SAKADO KECAMATAN NANGA MAHAP KABUPATEN SEKADAU

Ada beberapa alasan leksikon gawe masyarakat Dayak Ulu Sakado perlu diteliti sebagai berikut. Pertama, Adat yang terdapat dalam gawe pada masyarakat Dayak Ulu Sakado dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Kedua, Leksikon gawe akan dilupakan oleh masyarakat khususnya generasi muda seiring dengan perkembangan zaman. Alasan ketiga yaitu Leksikon gawe akan punah jika tidak segera dibukukan. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) bagaimana inventarisasi leksikon gawe (upacara perkawinan) pada Masyarakat Dayak Ulu Sakado berdasarkan klasifikasi alat, bahan, dan proses dengan menggunakan komputerisasi WeSay? (2) bagaimana bentuk leksikon gawe (upacara perkawinan) pada Masyarakat Dayak Ulu Sakado berdasarkan klasifikasi alat, bahan, dan proses? (3) bagaimana arti leksikal dan arti kultural leksikon gawe (upacara perkawinan) Masyarakat Dayak Ulu Sakado berdasarkan klasifikasi alat, bahan, dan proses? (4) bagaimana rencana implementasi pembelajara leksikon gawe (upacara perkawinan) pada Masyarakat Dayak Ulu Sakado di sekolah?
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Etnobotani Masyarakat Suku Dayak Kerabat di Desa Tapang Perodah Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau

Etnobotani Masyarakat Suku Dayak Kerabat di Desa Tapang Perodah Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau

Ethnobotany is the study of a direct relationship between human and plant in traditional utilization. Ethnobotany is oneamong theway to preserve thetraditions in used plants. The purpose of this research is to identifyandobtainknowledge in used plant by Dayak Kerabat ethnic in Tapang Perodah Village regency of Sekadau subdistrict Sekadau Hulu in their daily live. The method is used to determine of the respondent is purposive sampling with the number of informan is 40. Analysis the data is used approachment descriptive analysis with kualitative approach, the data have been gotten from interview guide were analized with saw the answers from the informant. There have 185 species of plant consist of 70 family ang 9 groups is used that covered 115 species food plant, 14 food livestock, 52 species medicinal plants, 13 species building’ material plant, 11 species firewood, 9 species webbing rope and handicraft, poison is 1 species, 25 species ornamental plant and 9 species traditionalplant. The plant is used by dayak kerabat ethnic giveeffect to thedaily needs in tapang perodah village, this isa verypreciousknowledge that need to dig upandconserved so this knowledge is not disappearingalong with development of the period. Rareplant species diversity need to develop so thatits preservationalways protected and needfurther research to know the potentialofsome useful plants utilized by Dayak Kerabat ethnic.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

STRUKTUR GERAK TARI GONG GAMAL SUKU DAYAK SAWE KECAMATAN SEKADAU HULU KABUPATEN SEKADAU

STRUKTUR GERAK TARI GONG GAMAL SUKU DAYAK SAWE KECAMATAN SEKADAU HULU KABUPATEN SEKADAU

Tari Gong Gamal suku Dayak Sawe memiliki keunikan gerak tari sendiri, di mana terdapat dinamika gerak yang berbeda di bagian awal dan akhir. Bagian awal tarian terdapat gerak mengalun dimana gerak kaki mengenjut naik turun dengan tempo lambat dan dibagian akhir tarian gerak lebih energik pada bagian kaki seperti menghentak bumi dengan tempo lebih cepat, yang sangat menarik untuk dikupas. Struktur gerak tari dapat dilihat dari dua ragam gerak yang terbentuk dari gerakan kepala, tubuh, tangan dan kaki yang digabungkan hingga menjadi sebuah tarian. Faktor penyebab bentuk dari gerak tari tersebut karena masyarakat suku Dayak Sawe tinggal selain di sepanjang Sungai Sekadau, juga bermukim di sepanjang Sungai Menterap. Dengan demikian, gerak tari yang ada di suku Dayak Sawe memiliki keunikan tersendiri dibanding suku-suku Dayak yang lainnya karena pada umumnya gerak yang ada pada suku Dayak terutama gerak pada kaki itu adalah jubata, nigak, songpak, kondan dll.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peribahasa Dayak Mualang Kabupaten Sekadau dalam Kajian Semantik

Peribahasa Dayak Mualang Kabupaten Sekadau dalam Kajian Semantik

Suku Dayak Mualang adalah salah satu subsuku Dayak yang terdapat di Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat. Sekadau merupakan salah satu kabupaten yang ada di Timur Kalimantan Barat.Kabupaten Sekadau merupakan pemekaran dari Kabupaten Sanggau yang terdiri dari Kecamatan Nanga Mahab, Kecamatan Nanga Taman, Kecamatan Sekadau Hulu, Kecamatan Sekadau Hilir, Kecamatan Belitang Hilir, Kecamatan Belitang Hulu, dan Kecamatan Belitang. Masyarakat Dayak Mualang banyak terdapat di Kecamatan Belitang Hulu.Desa Bukit Rambat adalah desa pemekaran dari Desa Mengaret yang terdiri dari Dusun Balau Lambing dan Dusun Balau Milot dengan pusat desa terletak di Desa Balau Lambing. Masyarakat Desa Bukit Rambat bekerja sebagai petani yaitu berkebun karet namun ada sebagian masyarakat yang sudah menanam sawit pribadi.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

LEKSIKON NAMA TUMBUHAN DALAM PERIBAHASA MASYARAKAT MELAYU SEKADAU

LEKSIKON NAMA TUMBUHAN DALAM PERIBAHASA MASYARAKAT MELAYU SEKADAU

Research in this study focused the observation on cultural objects, namely proverbs. The proverb in question is a proverb that uses the lexicon of a name or part of a plant by Malay Sekadau community. The data was collected in Belitang 1, Belitang sub- district, Sekadau district. Researchers used qualitative methods and used an ethnolinguistic approach in their research. The analysisof the data collected is analyzing the lexical meanings, methaporical meanings, and the function of the Malay Sekadau community proverb. Based on the research conducted, the researchers succeeded in collecting 27 lexicon of the name/part of the plant in the proverbs of the Malay Sekadau community based on the classification (1) the name/part of the plant, while the classification (2) based on the topic of the proverb discussion, the researchers managed to collect 37 topics of discussion. Researchers managed to collect 4 functions of proverb in the society of Malay Sekadau. The number of proverbs that successfull researchers collect, namely 48 the number of proverbs (maxim:12, parable:32, phrase:4).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects