Top PDF Evaluasi keandalan sarana penyelamatan jiwa terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Evaluasi keandalan sarana penyelamatan jiwa terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Evaluasi keandalan sarana penyelamatan jiwa terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Sedangkan sarana jalan keluar yang tersedia pada gedung Rektorat Universitas Andalas pada lantai dasar dan lantai satu terdiri dari enam akses jalan keluar (gambar 5.4 a). Pada arah utara terdapat empat akses evakuasi dengan dua tangga darurat pada sayap kiri dan kanan. Pada arah selatan terdapat tangga sirkulasi yang digunakan sebagai jalur lalu lintas antar lantai. Artinya, gedung Rektorat telah memenuhi syarat minumum sarana jalan keluar dari setiap lantai dengan batas minimal yaitu empat akses evakuasi. Sedangkan pada lantai dua dan lantai tiga, terdapat empat akses evakuasi, dimana dua tangga berfungsi menjadi tangga darurat dan dua lainnya sebagai tangga sirkulasi. (gambar 5.4 b). Maka pada lantai ini pun gedung Rektorat telah mencapai syarat minumum sarana jalan keluar dari setiap lantai, dengan batas minimal yaitu empat akses evakuasi.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENYUSUNAN DAN APLIKASI DAFTAR PERIKSA UNTUK MENGUJI KEANDALAN SARANA PENYELAMATAN JIWA TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG.

PENYUSUNAN DAN APLIKASI DAFTAR PERIKSA UNTUK MENGUJI KEANDALAN SARANA PENYELAMATAN JIWA TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG.

Aktivitas yang terjadi di dalam suatu bangunan gedung jelas tidak akan lepas dari risiko yang sewaktu-waktu akan dapat timbul. Salah satu potensi bahaya berupa kebakaran. Tidak terkendalinya penyebaran nyala api akan berdampak langsung kepada keselamatan pegawai/pengunjung di dalam bangunan gedung, bahkan kehilangan jiwa dan harta menjadi kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Setiap bangunan gedung, utamanya gedung bertingkat,sedianya harus dilengkapi dengan sarana penyelamatan jiwa sebagai upaya menyelamatkan diri dari bahaya dalam waktu yang cukup dan keamanan yang memadai.Oleh sebab itu,penelitian ini perlu dilakukan untuk meneliti keandalan sarana penyelamatan jiwa di dalam bangunan gedung.Adapun bangunan gedung yang menjadi objek penelitian ialah gedung Perpustakaan dan Rektorat Universitas Andalas, Limau Manih, Padang. Variabel yang menjadi fokus penelitian adalah tangga kebakaran, pintu kebakaran dan akses jalan keluarbeserta perlengkapannya. Dalam melaksanakan penilaian tingkat keandalan sarana penyelamatan jiwa pada masing-masing bangunan gedung, terlebih dahulu dilakukan penyusunan daftar periksa. Penyusunan daftar periksa mengacu kepada peraturan yang berkaitan dengan teknis sarana penyelamatan jiwa, yaitu: Permen PU Nomor: 26/PRT/M/2008, SNI 03-1746-2000, SNI 03-1736-2000 dan SNI 03-6574-2001. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat keandalan sarana penyelamatan jiwa terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung Perpustakaan Universitas Andalas adalah sebesar 58.73% dan pada bangunan gedung Rektorat Universitas Andalas adalah sebesar 65.94%.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

SISTEM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN DALAM PENCEGAHAN BAHAYA KEBAKARAN (STUDI KASUS BANGUNAN PUSAT PERBELANJAAN SOLO SQUARE)

SISTEM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN DALAM PENCEGAHAN BAHAYA KEBAKARAN (STUDI KASUS BANGUNAN PUSAT PERBELANJAAN SOLO SQUARE)

Bangunan dapat dikelompokan berdasarkan fungsi dan peruntukannya seperti pertunjukan, bisnis/komersil, pendidikan, pabrik, institusi, permukiman, penyimpanan/ gudang dan fungsi lainya. Bangunan mempunyai resiko terhadap kebakaran yang berbeda-beda, tergantung dari fungsi bangunan itu sendiri. ” Setiap bangunan gedung harus mempunyai persyaratan administratif dan teknis sesuai dengan fungsinya, salah satu persyaratan teknis adalah persyaratan keandalan, keandalan adalah tingkat kesempurnaan kondisi perlengkapan proteksi yang menjamin keselamatan, fungsi dan kenyamanan suatu bangunan gedung dan lingkungannya selama masa pakai dari gedung tersebut. Persyaratan keandalan meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan yang ditetapkan berdasarkan fungsi bangunan gedung. Sedangkan persyaratan keselamatan bangunan gedung meliputi persyaratan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir” (UU No: 28 Tahun 2002). Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan SNI 03 – 1736 – 2000 dapat dilihat pada lampiran 5.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

MANAJEMEN PENGAMANAN KEBAKARAN BANGUNAN PASAR WAGE PURWOKERTO MANAJEMEN PENGAMANAN KEBAKARAN BANGUNAN PASAR WAGE PURWOKERTO MANAJEMEN PENGAMANAN KEBAKARAN BANGUNAN PASAR WAGE PURWOKERTO.

MANAJEMEN PENGAMANAN KEBAKARAN BANGUNAN PASAR WAGE PURWOKERTO MANAJEMEN PENGAMANAN KEBAKARAN BANGUNAN PASAR WAGE PURWOKERTO MANAJEMEN PENGAMANAN KEBAKARAN BANGUNAN PASAR WAGE PURWOKERTO.

Evaluasi terhadap pemenuhan peraturan dan standar proteksi kebakaran dapat dilaksanakan dengan penilaian keandalan bangunan terhadap bahaya kebakaran. Format penilaian keandalan bangunan terhadap bahaya kebakaran dapat dilakukan dengan format penilaian yang didapat dari penelitian sebelumnya yang didasarkan kepada peraturan-peraturan yang mengatur pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

4 Baca lebih lajut

Evaluasi Keandalan Sarana Penyelamatan J

Evaluasi Keandalan Sarana Penyelamatan J

Studi literatur bertujuan untuk mendapatkan referensi yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan penelitian. Selain itu, studi literatur bermanfaat untuk mendapatkan pemahaman terhadap teori yang diperlukan dalam mendukung penelitian. Studi literatur yang diperlukan dalam penelitian ini didapatkan dengan cara mencari informasi serta pengumpulan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian berupa: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, SNI 03-1746-2000 mengenai Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar untuk Penyelamatan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung, SNI 03-1736-2000 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung, SNI 03-6574-2001 tentang Tata Cara Perancangan Pencahayaan Darurat, Tanda Arah dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan Gedung, serta pelbagai referensi yang terkait.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Analisis Pengelolaan Penanggulangan Kebakaran di IGD RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2016

Analisis Pengelolaan Penanggulangan Kebakaran di IGD RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2016

Badan Standar Nasional Indonesia, 2000. SNI 03-3985-2000 tentang Tata Cara Perencanaan, Pemasangan, dan Pengujian Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung. Jakarta : Badan Standar Nasional Indonesia.

2 Baca lebih lajut

Evaluasi Sistem Pengamanan Gedung Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Proyek Rumah Sakit St.Borromeus.

Evaluasi Sistem Pengamanan Gedung Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Proyek Rumah Sakit St.Borromeus.

Kebakaran merupakan suatu peristiwa yang banyak menimbulkn kerugian. Kebakaran pada bangunan bertingkat disamping akan menimbulkan kerugian meterial juga dapat menimbulkan korban jiwa. Walaupun akan menimbulkan banyak kerugian, kebakaran tidak dapat dipastikan kapan dan dimana tepatnya kejadian itu akan berlangsung.

32 Baca lebih lajut

Evaluasi Keandalan Sistem Keselamatan Kebakaran Bangunan dengan Menggunakan Pedoman Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung (Pd-T-11-2005-C) di RSUD Kota Tangerang Tahun 2014

Evaluasi Keandalan Sistem Keselamatan Kebakaran Bangunan dengan Menggunakan Pedoman Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung (Pd-T-11-2005-C) di RSUD Kota Tangerang Tahun 2014

Selain itu, pedoman ini cocok untuk digunakan pada bangunan di Indonesia karena merupakan pedoman yang dibuat oleh Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum (Saptaria, 2005). Hal ini yang menjadi keunggulan pedoman pemeriksaan ini. Peneliti melihat keandalan sistem keselamatan bangunan karena peneliti ingin mengetahui tingkat kesempurnaan kondisi perlengkapan proteksi yang menjamin keselamatan, serta fungsi dan kenyamanan suatu bangunan gedung dan lingkungannya dalam hal ini di RSUD Kota Tangerang selama masa pakai dari gedung tersebut dari segi bahayanya terhadap kebakaran. Seperti disebutkan dalam (Mahmudah, 2012) bahwa keandalan merupakan tingkat kesempurnaan kondisi perlengkapan proteksi yang menjamin keselamatan, serta fungsi dan kenyamanan suatu bangunan gedung dan lingkungannya selama masa pakai dari gedung tersebut dari segi bahayanya terhadap kebakaran.
Baca lebih lanjut

204 Baca lebih lajut

ANALISIS SARANA PROTEKSI AKTIF DAN SARANA PENYELAMATAN JIWA DALAM ANTISIPASI BENCANA KEBAKARAN PADA RSUD UNGARAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2015.

ANALISIS SARANA PROTEKSI AKTIF DAN SARANA PENYELAMATAN JIWA DALAM ANTISIPASI BENCANA KEBAKARAN PADA RSUD UNGARAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2015.

Pintu darurat tidak dilengkapi dengan push bar system, berdasarkan Kepmen PU No.10 tahun 2000 dan SNI 03-1746 tahun 2000 bahwa pintu darurat sebaiknya dilengkapi dengan push bar system sehingga dapat membantu mendorong pintu lebih mudah saat keadaan panik. Selain itu jumlah pintu untuk 1 lantai hanya terdapat 4 pintu darurat pada untuk lantai dasar, 1 pintu darurat untuk lantai 2 dan 1 pintu darurat untuk lantai 3 dengan kapasitas 537 penghuni atau pengguna gedung RSUD ungaran tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan SNI-03-1746 tahun 2000 dan Kepmen PU No.10 tahun 2000 dikarenakan tidak sesuai dengan jumlah penghuni atau pengguna bangunan. Sebab apabila terjadi bencana kebakaran dan keadaan emergency bisa mengakibatkan penumpukkan massa pengguna dikarenakan kurangnya pintu darurat menuju halaman, hal tersebut sesuai dengan penilitian yang dilakukan Syarifudin dengan judul skripsi Studi Analisis Penanggulangan Kebakaran Di RSUD DR. ASHARI Pemalang. 8
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STUDI ANALISIS PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI RSUD DR. M. ASHARI PEMALANG

STUDI ANALISIS PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI RSUD DR. M. ASHARI PEMALANG

Kebakaran adalah peristiwa timbulnya api yang tidak terkendali, dapat membahayakan keselamatan jiwa ataupun harta benda. Kejadian kebakaran dapat terjadi dimana saja termasuk bangunan rumah sakit. Dari hasil observasi awal di RSUD DR. M. Ashari Pemalang, peneliti menemukan beberapa resiko yang dapat menimbulkan bencana kebakaran. Jadi untuk keselamatan jiwa ataupun harta benda milik rumah sakit sistem penanggulangan kebakaran sangat dibutuhkan pihak rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas sistem penanggulangan kebakaran di rumah sakit tersebut dan memberikan rekomendasi tentang sistem penanggulangan kebakaran agar menjadi lebih baik.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

DOCRPIJM 216da075f6 BAB VI6. BAB VI PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

DOCRPIJM 216da075f6 BAB VI6. BAB VI PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

Peraturan yang mengikat secara tegas dan jelas merupakan suatu dukungan yang cukup besar dalam upaya pencegahan bahaya kebakaran. Namun hal tersebut tidak dimiliki oleh Kabupaten Aceh Jaya. Peraturan yang mengatur mengenai penyediaan fasilitas kebakaran dalam standar kelayakan keselamatan gedung terkait kebakaran di Kabupaten Aceh Jaya masih sangat lemah dan tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Diperlukan penyempurnaan peraturan tersebut terkait dengan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan, serta hal-hal teknis lainnya.

26 Baca lebih lajut

Sistem Monitoring Bahaya Kebakaran Pada Gedung Dengan SMS Gateway

Sistem Monitoring Bahaya Kebakaran Pada Gedung Dengan SMS Gateway

Implementasi aplikasi monitoring bahaya kebakaran ini dilakukan dengan menggunakan bantuan hyperterminal yang terdapat pada sistem operasi Windows. Perangkat yang dibutuhkan untuk implementasi sistem ini terdiri dari komputer server, simulator Picobox Aplus Communicator, sim card, dan juga handphone. Picobox Aplus Communicator merupakan simulator untuk deteksi bahaya kebakaran, dimana alat tersebut dapat memasukkan source code sebagai program yang dapat diproses. Aplus Communicator ini juga mempunyai sort sebagai tempat sim card sebagai bantuan untuk mengirimkan pesan kepada nomor – nomor yang sudah tersimpan pada program aplikasi, serta dilengkapi dengan antena, serial port untuk menghubungkan antara komputer server dengan alat simulator ini. Berikut ini adalah tahapan implementasi yang dilakukan :
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ANALISIS TINGKAT PEMENUHAN SARANA PROTEKSI DAN SARANA PENYELAMATAN KEBAKARAN PADA PT.PELABUHAN INDONESIA III (PERSERO) SEMARANG TAHUN 2015.

ANALISIS TINGKAT PEMENUHAN SARANA PROTEKSI DAN SARANA PENYELAMATAN KEBAKARAN PADA PT.PELABUHAN INDONESIA III (PERSERO) SEMARANG TAHUN 2015.

Penelitian yang digunakan pada penelitian sarana proteksi dan sarana penyelamatan jiwa berupa checklist untuk pengambilan data dan wawancara dengan petugas PT Pelabuhan Indonesia III bagian K3. Hasil observasi yang sudah terkumpul semua dapat dilihat bahwa sarana sistem proteksi kebakaran dan sarana penyelamatan jiwa berdasarkan peraturan dan kesesuaian terhadap peraturan Kepmen PU No 10/KPTS/2000, Permenaker No 04/MEN/1983 dan Standar Nasional Indonesia (SNI).

15 Baca lebih lajut

IND PUU 7 2010 Permen Greenbuilding Combine1

IND PUU 7 2010 Permen Greenbuilding Combine1

(2) Pada kondisi pembekuan dan pencabutan registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), lembaga sertifikasi bangunan ramah lingkungan dilarang melaksanakan sertifikasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 5. (3) Menteri menginformasikan kepada publik mengenai status pembekuan

9 Baca lebih lajut

4 kESETAN kERJA pERKANTORAN

4 kESETAN kERJA pERKANTORAN

Sistem pendeteksian merupakan komponen paling awal dari keseluruhan sistem pengamanan bahaya kebakaran. Bangunan di atas 4 lantai wajib menyediakan sistem deteksi manual dan otomatis. Bangunan harus memiliki fixed heat detector (di dapur), rate of rise detector (di tempat parkir) dan detektor asap ionisasi di unit sewa, koridor, lobi, ruang mesin, dan kontrol.

28 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 4 TAHUN 2013 - Kumpulan data - OPEN DATA PROVINSI JAWA TENGAH perda no 4 th 2013

PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 4 TAHUN 2013 - Kumpulan data - OPEN DATA PROVINSI JAWA TENGAH perda no 4 th 2013

Yang  dimaksud  dengan  proteksi   pasif  adalah  sistem perlindungan  terhadap  kebakaran  yang  dilaksanakan dengan  melakukan  pengaturan  komponen  bangunan gedung  dari  aspek  arsitektur  dan   struktur  sedemikian rupa  sehingga  dapat  melindungi  penghuni  dan  benda dari  kerusakan  fisik  saat  terjadi  kebakaran  meliputi antara  lain  bahan  bangunan  gedung,  konstruksi bangunan  gedung,  kompartementasi,  pintu  tahan  api, penghenti  api  (fire stop),  pelapis  tahan  api  (fire  retardant), dan  lain­lain  yang  berfungsi  untuk  mencegah  dan membatasi   penyebaran  kebakaran,  asap  dan keruntuhan sehingga :
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

5.1.  Zoning  SEKOLAH PENDIDIKAN DASAR TERPADU DI SURAKARTA.

5.1. Zoning SEKOLAH PENDIDIKAN DASAR TERPADU DI SURAKARTA.

Kebakaran Untuk sistem pengaman terhadap bahaya kebakaran dilakukan dengan menyediakan : - Hidran pada titik-titik strategis dalam site - Sprinkler dalam bangunan yang dipasang pada[r]

4 Baca lebih lajut

Sarana proteksi bahaya kebakaran di pt konimex Sukoharjo cover

Sarana proteksi bahaya kebakaran di pt konimex Sukoharjo cover

Simpulan : Perusahaan telah menerapkan sarana proteksi bahaya kebakaran dengan baik sehingga dapat mencegah terjadinya kebakaran di semua wilayah perusahaan dan sudah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Saran yang diberikan penulis salah satunya adalah supaya perusahaan memindahkan sebagian mesin panel listrik yang ada di ruang panel tegangan rendah Candy agar tidak menutupi fire alarm system khususnya titik panggil manual (smash glass) ke sisi lain di ruangan tersebut.

11 Baca lebih lajut

Studi Analisis Tentang Kelayakan Sarana Dan Prasarana Pencegahan Dan Penanggulangan Kebakaran Di PT.Apac Inti Corpora Semarang 2014.

Studi Analisis Tentang Kelayakan Sarana Dan Prasarana Pencegahan Dan Penanggulangan Kebakaran Di PT.Apac Inti Corpora Semarang 2014.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan kuesioner kepada karyawan Spinning I menunjukkan bahwa pada point ketiga mengenai pemadaman kebakaran pada tahap awal oleh petugas Fire and Safety masih buruk, ini dikarenakan jarak antara unit Fire and Safety dan lokasi unit-unit produksi lumayan jauh ditambah lagi bahan baku yang digunakan di unit produksi PT. Apac Inti Corpora adalah kapas yang sangat mudah dan cepat terbakar, akibatnya pada saat petugas Fire and Safety sampai di lokasi kebakaran, kebakaran sudah besar dan merambat luas.

22 Baca lebih lajut

Pemetaan kejadian kebakaran di Surakarta tahun 2008-2009 Agung Srinawati

Pemetaan kejadian kebakaran di Surakarta tahun 2008-2009 Agung Srinawati

Untuk pemetaan data kebakaran dan analisa data, peneliti menggunakan bantuan program ArcGIS 9.2 dan program Microsoft Office. Pemetaan yang dilakukan adalah melakukan klasifikasi kebakaran berdasarkan penyebab terjadinya kebakaran, fungsi sarana/prasarana yang terbakar, dan tingkat potensi bahaya kebakaran. Klasifikasi ini dilakukan dengan bantuan tool yang tersedia dalam ArcGIS 9.2. Hasil klasifikasi kemudian akan dihtung frekuensi kejadian kebakaran yang terjadi untuk tiap kategorinya. Selain klasifikasi kebakaran, penelitian ini juga melakukan pemetaan daerah rawan kebakaran yaitu dengan tinjauan kerapatan titik lokasi kebakaran di kota Surakarta dan juga menganalisa keterkaitannya dengan potensi wilayah kota Surakarta secara deskriptif.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...