Top PDF Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Hasil penelitian menujukkan bahwa karakteristik pasien yang menderita hipertensi adalah lebih banyak pada laki – laki yaitu sebesar 74%. Obat antihipertensi yang digunakan sudah rasional dan sesuai dengan acuan. Obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah golongan penghambat adrenoreseptor beta yaitu bisoprolol sebesar 48%. Kombinasi antihipertensi yang paling sering diberikan adalah penghambat kanal kalsium dan penghambat adrenoreseptor beta (β - blocker ) selektif yaitu amlodipin dengan bisoprolol sebesar 15%. Regimen dosis antihipertensi yang diberikan kepada pasien yang menjalani hemodialisis sudah sesuai dengan acuan serta tidak ditemukan adanya interaksi obat yang mengakibatkan interaksi dengan obat lain yang dapat menurunkan efektivitas antihipertensi.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ – organ tersebut merupakan efek langsung, sedangkan efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress oksidatif, down regulation , dan lain-lain (Yogiantoro, 2009). Jika terjadi gangguan pada reseptor angotensin II maka akan menimbulkan vasokonstriksi yang mengakibatkan meningkatnya tekanan darah. Stress oksidatif dapat menyebabkan peradangan pembuluh darah dan penurunan nitrit oksidase sehingga tekanan darah meningkat.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Sukandar E. (2006). Nefrologi Klinik. Edisi III. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD/ RS. Dr. Hasan Sadikin. Hal. 465 - 470, 488, 650, 713 – 714, 720 – 722, 736. Supadmi, Woro. (2011). Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien

4 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Terdapat banyak kelas atau golongan obat antihipertensi yang dapat digunakan, tetapi beberapa obat yang sering digunakan dan direkomendasikan sebagai first-line therapy, yaitu ACE-inhibitor, ARB, β -blocker, CCBs dan diuretik. Penggunaan obatobat ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemilihan obat awal pada pasien harus mempertimbangkan banyak faktor antara lain: umur, riwayat perjalanan penyakit, faktor risiko, kerusakan target organ, diabetes, indikasi dan kontraindikasi. Indikasi spesifik dan target dalam strategi pemilihan obat antihipertensi tergantung dari profil faktor risiko, penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit ginjal, dan pembesaran atau disfungsi ventrikel kiri (Sutter, 2007).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Hipertensi merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya penyakit ginjal kronik. Dalam terapi pengobatan, obat antihipertensi dapat terakumulasi pada ginjal sehingga bisa memperburuk fungsi ginjal. Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi ginjal yang bersifat progressif dan irreversibel. Pada saat ini hemodialisis (HD) merupakan terapi yang membantu kerja ginjal yang paling banyak digunakan. Hemodialisis membantu penderita mengekskresi zat sisa hasil metabolisme, garam, dan cairan yang berlebih agar tidak terakumulasi dalam sirkulasi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, golongan antihipertensi yang digunakan, regimen dosis, interaksi dengan obat lain, serta rasionalitas pengggunaan obat antihipertensi sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

2.5.2 Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Terdapat banyak kelas atau golongan obat antihipertensi yang dapat digunakan, tetapi beberapa obat yang sering digunakan dan direkomendasikan sebagai terapi pilihan pertama, yaitu ARB, β -blocker, CCB dan diuretik. Penggunaan obat-obat ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemilihan obat awal pada pasien harus mempertimbangkan banyak faktor antara lain: umur, riwayat perjalanan penyakit, faktor risiko, kerusakan target organ, diabetes, indikasi dan kontraindikasi. Indikasi spesifik dan target dalam strategi pemilihan obat antihipertensi tergantung dari profil faktor risiko, penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit ginjal, dan pembesaran atau disfungsi ventrikel kiri (Sutter, 2007).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Regimen dosis amlodipin pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*.. Regimen dosis bisoprolol pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*.[r]

11 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Treatments were really helpfulrequired in patients with renal impairment. Dose adjustments often done in the form of a dose reduction, drug delivery interval given drug, or combination of both. The purpose of the research was to evaluate the antihypertensive drug classes of antihypertensive medication and dose conformity according to The Renal Drug Handbooktohypertensive patients that hemodialysis at Clinical Specialist Kidney and Hypertension Rasyida Medan 2016 March-May period.

2 Baca lebih lajut

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

zat kimia organik. Dua kelas zat tertentu yang menyebabkan rasa pahit, yaitu zat organik dari rantai panjang nitrogen dan alkaloid. Alkaloid banyak terdapat dalam obat-obatan seperti kina, kafein, strychnine dan nikotin. Beberapa zat pada awalnya terasa manis tetapi akan berakhir pahit, seperti sakarin . Rasa pahit dengan intensitas tinggi biasanya membuat manusia mauoun hewan menolak suatu jenis makanan yang membuat sensasi rasa pahit menjadi penting, karena banyak zat racun yang ditemukan pada tanaman, seperti alkaloid, yang menyebabkan rasa pahit yang intens. Reseptor pahit terletak di daerah posterior lidah. 9,10
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

2.5.2 Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Terdapat banyak kelas atau golongan obat antihipertensi yang dapat digunakan, tetapi beberapa obat yang sering digunakan dan direkomendasikan sebagai terapi pilihan pertama, yaitu ARB, β -blocker, CCB dan diuretik. Penggunaan obat-obat ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemilihan obat awal pada pasien harus mempertimbangkan banyak faktor antara lain: umur, riwayat perjalanan penyakit, faktor risiko, kerusakan target organ, diabetes, indikasi dan kontraindikasi. Indikasi spesifik dan target dalam strategi pemilihan obat antihipertensi tergantung dari profil faktor risiko, penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit ginjal, dan pembesaran atau disfungsi ventrikel kiri (Sutter, 2007).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan organ vital terutama jantung, otak dan ginjal. Terjadinya hipertensi mempercepat kerusakan ginjal dan konsekuensinya adalah terjadinya gagal ginjal akibat peningkatan tekanan darah. Kira-kira 90% pasien gagal ginjal kronik dengan hipertensi meninggal dalam 12 bulan dari tanda-tanda awal. Terapi hipertensi dapat digunakan pada pasien gagal ginjal kronik untuk menurunkan tekanan darah dan bisa untuk memperlambat progresifitas penyakit pada pasien dengan atau tanpa penyakit hipertensi (Benowitz, 2001).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Spesialis Ginjal Dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016 ”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

14 Baca lebih lajut

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Responden dalam penelitian ini mengalami fatigue dengan level yang bervariasi. Fatigue merupakan perasaan subjektif berupa kelelahan.Fatigue yang dialami oleh responden menyebabkan penurunan konsentrasi, malaise, gangguan tidur, gangguan emosional, dan penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari hari.Responden dengan fatiguemengalami perasaan tertekan (stress) sehingga terganggu dalam melakukan kegiatan sehari hari. Responden juga merasakan lemah, lelah, dan tidak bersemangat. Hal ini didukung oleh penelitian Mollaoglu (2009) menyatakan bahwa fatigue yang dirasakan pasien adalah keadaan antara kelelahan dan kepenatan yang pada akhirnya berujung dengan penurunan vitalitas dan energy. Responden biasanya istirahat atau tidur bila sudah merasakan lelah, bahkan responden sudah mengetahui batas kelelahannya sehingga dapat membatasi kegiatan yang dilakukan.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Pasien PGK yang menjalani hemodialisis dapat mengalami beberapa gejala seperti kelelahan ( fatigue ), pruritus, konstipasi, anoreksia, nyeri, gangguan tidur, kecemasan, dyspnea, mual dan depresi (PERNEFRI, 2012; Murtagh et al., 2007).Prevalensi fatigue berkisar antara 60% sampai 97% pada pasien hemodialisis dalam jangka panjang (Jhamb, Weisbord, Stell , Unruh, 2008). Menurut Kring & Crane (2009) juga menyatakan prevalensi fatigue mencapai 82% sampai 90% pada pasien PGK yang menjalani

4 Baca lebih lajut

Gambaran Tingkat Stres, Ansietas dan Depresi pada Pasien yang Menjalani Hemodialisa di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Gambaran Tingkat Stres, Ansietas dan Depresi pada Pasien yang Menjalani Hemodialisa di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Proses hemodialisa yang harus dijalankan pasien cenderung menimbulkan reaksi- reaksi psikologis seperti stres, ansietas dan depresi. Kondisi ini akan menjadi hambatan yang dapat menurunkan kondisi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat stres, ansietas dan depresi pada pasien yang menjalani hemodialisa di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan. Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif. Subjek penelitian ini adalah 51 pasien yang menjalani Hemodialisis kurang dari satu tahun (1-12 bulan) menggunakan instrumen penelitian yaitu kuesioner DASS 42 ( Depression Anxiety Stress Scale ) yang telah dimodifikasi . Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling . Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mengalami stres ringan sebanyak 39 responden (76,5%), mengalami ansietas ringan sebanyak 45 responden (88,2%) dan mengalami depresi ringan sebanyak 45 responden (88,2%). Diharapkan kepada perawat untuk memperhatikan kondisi psikis pasien dengan memberikan penanganan yang tepat tentang cara mengatasi kondisi pasien sebelum dan susudah hemodialisa. Penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan jumlah responden penelitian dan dapat menggunakan instrumen lain sebagai alat ukur penelitian terkait tingkat stres, ansietas dan deperesi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Karakteristik Pasien dengan Adekuasi Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada Tahun 2014

Hubungan Antara Karakteristik Pasien dengan Adekuasi Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada Tahun 2014

Di Indonesia, prevalensi dari ESRD tergolong cukup tinggi. Riskesdas (2013) melaporkan prevalensi penyakit gagal ginjal kronis berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0.2 persen. Hemodialisis merupakan salah satu terapi yang paling sering diterapkan pada pasien ESRD. 4 th Report of Indonesian Renal Registry (2011) melaporkan 78% dari seluruh pasien yang mengalami gangguan ginjal menjalani hemodialisis. Penelitian Owen dkk dalam Gatot (2008) menyatakan bahwa adekuasi hemodialisis akan mempengaruhi resiko mortalitas dari pasien. Pada pasien yang menjalani hemodialisis dengan URR <60% mempunyai perbedaan makna resiko mortalitas dengan pasien yang memiliki URR di antara 65-69%. Berbagai karakteristik pasien seperti usia pada saat memulai hemodialisis, penyakit penyerta, lama menjalani hemodialisis, dan beberapa karakteristik lainnya akan mempengaruhi adekuasi daripada hemodialisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis di KSGH Rasyida Medan.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu penyakit klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal secara irreversible yang memerlukan terapi pengganti ginjal yaitu hemodialisis.Pasien PGK yang menjalani hemodialisis dapat mengalami beberapa gejala seperti kelelahan ( fatigue ), pruritus, konstipasi, anoreksia, nyeri, gangguan tidur, kecemasan, dyspnea, mual dan depresi.Prevalensi fatigue berkisar antara 60% sampai 97% pada pasien hemodialisis. Salah satu penanganan yang dapat dilakukan untuk menurunkan fatigue yang dialami pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat fatigue pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen .Populasinya adalah pasien yang menjalani hemodialisis yaitu sebanyak 150 dan sampelnya sebanyak 20 responden.Hasil penelitian diperoleh yaitu tingkat fatiguepretes t paling dominan adalah fatigue berat dan fatigue sedang pada posttest serta terdapatnya perbedaan tingkat fatigue sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi otot progresif. Penelitian ini menyarankan kepada pelayanan kesehatan untuk menjadikan teknik relaksasi otot progresif sebagai intervensi upaya penurunan tingkat fatigue saat menjalani hemodialisis.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Definition and classification of chronic kidney disease: a position statement from kidney disease: improving global outcomes KDIGO.. Greeenberg MS, Glick M, Ship JA.[r]

4 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...