Top PDF Evaluasi Performa Kardiopulmonari Terapi Resusitasi Cairan Pada Anak Babi (Sus Scrofa) Sepsis

Evaluasi Performa Kardiopulmonari Terapi Resusitasi Cairan Pada Anak Babi (Sus Scrofa) Sepsis

Evaluasi Performa Kardiopulmonari Terapi Resusitasi Cairan Pada Anak Babi (Sus Scrofa) Sepsis

Penjelasan dan penghitungan dari Tabel 1 ditunjukkan sebagai berikut. Volume NaCl yang didistribusi dari indikator termal menggambarkan volume intra torakal (intra thoracal thermal volume; ITTV). Total volume ITTV mencerminkan jumlah volume dari empat ruang jantung, dan volume pada paru‒paru. Volume termal pulmonaris (pulmonary thermal volume; PTV) menggambarkan dalam volume pada ruang paru‒paru . Total volume PTV yang diukur terdiri dari volume intravscular, intestinal dan alveolar pada paru‒paru. Volume keseluruhan akhir diastolik (global end diastolic volume; GEDV) adalah kombinasi dari volume semua ruang jantung pada akhir diastolik. Parameter GEDV digunakan untuk estimasi preload. Parameter EVLW diukur dari perbedaan antara distribusi indikator termal di dalam dada (ITTV) dan volume darah dalam thoraks. Parameter ini mengukur cairan dalam ruang antar intestinal dan alveol dan mengukur adanya edema paru. Parameter ITBV merupakan jumlah volume darah yang mengalir pada ruang toraks, empat ruang jantung, dan pembuluh darah paru‒paru. Nilai ITBV secara konstan lebih tinggi dari nilai GEDV sebesar 25% sehingga didapatkan penghitungan yang ditunjukkan pada Tabel 1. Parameter PVPI merupakan rasio EVLW terhadap PTV. Parameter PVPI mencerminkan tingkatan hamba tan permeabilitas kapiler pada paru‒paru (Vincent 2014).
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Evaluasi Radiografi Jantung Anak Babi (Sus Scrofa) Sepsis Dengan Terapi Cairan Koloid Atau Kristaloid

Evaluasi Radiografi Jantung Anak Babi (Sus Scrofa) Sepsis Dengan Terapi Cairan Koloid Atau Kristaloid

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi radiografi kardiovaskular anak babi sepsis dan diterapi menggunakan resusitasi cairan. Sebanyak 10 anak babi berusia 2-3 bulan dan 8-13 kg berat badan dibagi kedalam dua kelompok perlakuan resusitasi. Kondisi sepsis diinduksi dengan menyuntikan lipopolisakarida (LPS) dari E.coli. Resusitasi cairan diberikan setelah renjatan sepsis terjadi. Kelompok pertama diberikan koloid (modified fluid gelatin 4% / MFG 4%) dan kelompok kedua diberikan kristaloid (ringer asetat malat / RAM). Evaluasi radiografi dilakukan sebelum induksi sepsis dan setelah resusitasi cairan. Hasil yang diperoleh menunjukan pada arah pandang lateral nilai Vertebrae Heart Score (VHS) kelompok RAM meningkat dibandingkan kelompok MFG 4%. Nilai sudut jantung berkisar 46.8 0 -49.2 0 dan rasio HH:HC adalah 4:5. Peningkatan nilai ini diduga jantung mengalami kompensasi edema yang ditimbulkan akibat respon infeksi sistemik pada keadaan sepsis. Pada lapang pandang dorsoventral nilai CTR meningkat baik pada kelompok MFG 4% maupun RAM. Nilai A<LC/2 menunjukkan bahwa MFG 4% dan RAM memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan nilai normal. Resusitasi cairan MFG 4% maupun RAM dianggap belum mampu memperbaiki pembesaran jantung yang diakibatkan oleh sepsis dengan mengembalikan ukuran jantung pada nilai normal.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Dinamika Leukosit Pada Terapi Cairan Anak Babi (Sus Scrofa) Yang Diinduksi Sepsis

Dinamika Leukosit Pada Terapi Cairan Anak Babi (Sus Scrofa) Yang Diinduksi Sepsis

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dinamika leukosit setelah resusitasi cairan dengan cairan koloid (modified fluid gelatin 4%/MFG 4%) dan cairan kristaloid (ringer's acetate malate/RAM) pada anak babi yang diinduksi sepsis. Sepuluh ekor anak babi (Sus scrofa) jantan atau betina berumur 2-3 bulan dan bobot badan 8-15 kg dibagi ke dalam dua kelompok. Induksi sepsis dilakukan dengan injeksi LPS (Lipopolysacaride) hingga terjadi renjatan sepsis. Pemberian perlakuan menggunakan resusitasi cairan dilakukan pada saat renjatan sepsis terjadi. Kelompok pertama menerima resusitasi cairan MFG 4% dan pada kelompok kedua menerima resusitasi cairan RAM. Sampel darah diambil melalui kateter yang dipasang pada vena cava setelah anastesi, saat sepsis, dan 3 jam setelah resusitasi cairan. Pada saat sepsis terjadi kecenderungan penurunan nilai leukosit pada kedua kelompok perlakuan. Secara umum resusitasi MFG 4% maupun RAM tidak terdapat pengaruh yang nyata terhadap nilai leukosit setelah sepsis terjadi.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Indeks Eritrosit Pada Resusitasi Cairan Anak Babi (Sus Scrofa) Yang Diinduksi Sepsis.

Indeks Eritrosit Pada Resusitasi Cairan Anak Babi (Sus Scrofa) Yang Diinduksi Sepsis.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi indeks eritrosit (jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, hematokrit, VER, HER, KHER) pada anak babi (Sus scrofa) setelah diinduksi sepsis dan diresusitasi oleh cairan koloid (modified fluid gelatin 4%) atau kristaloid (ringer asetat malat). Sepuluh ekor anak babi berumur 2-3 bulan dengan berat badan 8-13 kg dibagi menjadi dua kelompok. Induksi sepsis dilakukan dengan injeksi endotoksin Eschericia coli melalui rute intravena hingga terjadi renjatan sepsis. Resusitasi cairan dilakukan pada saat renjatan sepsis terjadi melalui rute intravena. Kelompok pertama menerima resusitasi cairan menggunakan modified fluid gelatin 4% (MFG 4%) dan pada kelompok yang kedua menerima resusitasi cairan menggunakan cairan ringer asetat malat (RAM). Pengambilan sampel darah dilakukan pada saat setelah anestesi, saat sepsis, dan 3 jam setelah resusitasi cairan. Hasil evaluasi nilai indeks eritrosit menunjukkan bahwa hewan mengalami anemia makrositik regeneratif. Kondisi sepsis dan resusitasi cairan koloid (modified fluid gelatin 4%) maupun cairan kristaloid (ringer asetat malat) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai indeks eritrosit.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK KUBANGAN DAN AKTIVITAS BERKUBANG BABI HUTAN (Sus scrofa L.) DI HUTAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN BIOLOGI (HPPB) UNIVERSITAS ANDALAS.

KARAKTERISTIK KUBANGAN DAN AKTIVITAS BERKUBANG BABI HUTAN (Sus scrofa L.) DI HUTAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN BIOLOGI (HPPB) UNIVERSITAS ANDALAS.

Keadaan populasi babi hutan yang berlimpah di alam telah menimbulkan masalah. Babi hutan seringkali menjadi hama yang dapat menimbulkan kerusakan serius pada lahan pertanian, sehingga banyak diburu oleh masyarakat (Choquenot et al., 1996; Rizaldi et al., 2007). Selain itu, Ickes (2001a) melaporkan bahwa

7 Baca lebih lajut

TERAPI CAIRAN PADA NEONATUS DAN BAYI ppt

TERAPI CAIRAN PADA NEONATUS DAN BAYI ppt

RESUSITASI Menggantikan kehilangan akut cairan tubuh Memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi.[r]

19 Baca lebih lajut

Gambaran Pemberian Cairan Intravena untuk Tindakan Resusitasi Cairan pada Kasus Trauma Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di IGD RSUP H.Adam Malik pada Bulan Oktober 2014

Gambaran Pemberian Cairan Intravena untuk Tindakan Resusitasi Cairan pada Kasus Trauma Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di IGD RSUP H.Adam Malik pada Bulan Oktober 2014

Rencana untuk terapi cairan harus mempertimbangkan jumlah volume cairan yang hilang dan juga harus mempertimbangkan jenis cairan yang diberikan. Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebagai pintu gerbang masuk rumah sakit haruslah mempersiapkan dalam penanganan penurunan volume cairan intravaskuler dengan berbagai jenis cairan serta jumlah yang akan diberikan sesuai kondisi pasien. Untuk itu perlu diketahui banyaknya penggunaan cairan intravena untuk tindakan resusitasi per bulannya di IGD sebagai kesigapan dalam penanganan kasus trauma akibat kecelakaan lalu lintas yang berakibat penurunan hebat volume intravaskuler.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Perbandingan Nilai Interleukin-6 Setelah Pemberian Ringer Asetat Malat dan Ringer Laktat untuk EGDT Pasien Sepsis

Perbandingan Nilai Interleukin-6 Setelah Pemberian Ringer Asetat Malat dan Ringer Laktat untuk EGDT Pasien Sepsis

Background: Sepsis is the second highest cause of death in intensive care units, and is one of the top 10 cause of deaths worldwide. In sepsis, an inflammation response occurs that leads to tissue destruction. According to the Survival Sepsis Campaign 2012, early management in septic patiens with 30ml/kg of crystalloid fluids will have better outcomes. This study is to determine the optimal crystalloid fluid in resuscitation of patients with sepsis.

2 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) FERMENTASI TERHADAP INFESTASI CACING NEMATODA PADA BABI LOKAL (Sus scrofa) LEPAS SAPIH - Repository Unja

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) FERMENTASI TERHADAP INFESTASI CACING NEMATODA PADA BABI LOKAL (Sus scrofa) LEPAS SAPIH - Repository Unja

Berdasarkan manfaat temu ireng dan probiotik secara sendiri-sendiri yang menguntungkan dan kerugian yang ditimbulkan oleh temu ireng untuk pemakaian dalam waktu yang lama, maka kombinasi pemanfaatan temu ireng dan probiotik, diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi kerugian akibat pemberian temu ireng dalam dosis yang rendah diharapkan juga dapat menurunkan efek merugikannya yaitu untuk mencegah terjadinya akumulasi pada ternak. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini dirancang untuk mengetahui efektivitas pemberian temu ireng dan probiotik terhadap infestasi cacing pada ternak babi lepas sapih.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Karakteristik Kubangan dan Aktivitas Berkubang Babi Hutan (Sus scrofa L.) di Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi (HPPB) Universitas Andalas

Karakteristik Kubangan dan Aktivitas Berkubang Babi Hutan (Sus scrofa L.) di Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi (HPPB) Universitas Andalas

Caley (1997) mengelompokkan waktu aktivitas berkubang kedalam pola aktivitas harian babi hutan. Sementara, Giffin (1972) menyebutkan pemilihan waktu pada pola aktivitas harian berhubungan dengan pemilihan kondisi cuaca yang relatif lebih dingin, sehingga babi hutan sangat jarang terlihat aktif di siang hari karena kondisi cuaca yang relatif panas dan mulai aktif saat menjelang malam sampai pagi hari (Gambar 1). Selain itu tingginya aktivitas berkubang pada pagi hari diduga karena pagi adalah waktu akhir dari pola aktivitas harian babi hutan sebelum mereka kembali ke sarangnya. Dimana waktu aktif babi hutan di daerah tropis dominan pada sore menjelang malam dan menjelang fajar (Caley, 1997). Seperti halnya yang telah dilaporkan oleh (Graves, 1984) bahwa babi hutan akan berkubang setelah mencari makan dan sebelum mereka kembali ke sarangnya.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Evaluasi Terapi Obat pada Pasien Sepsis

Evaluasi Terapi Obat pada Pasien Sepsis

Penggunaan antibiotik pada satu pasien dengan pasien yang lain, tidaklah sama. Semua tergantung kondisi klinik pasien yang menunjukkan KU yang semakin membaik atau bahkan memburuk. Bila KU pasien semakin memburuk, maka pasien akan diberikan antibiotik lini pertama, kemudian antibiotik lini kedua dan bisa juga diberikan antibiotik lini ketiga. Namun bila pada penggunaan antibiotik lini pertama, KU pasien membaik dan hasil kultur darah menunjukkan negatif, maka pasien dinyatakan sembuh dari sepsis dan diperbolehkan pulang. Hasil evaluasi terapi antibiotik pada pasien sepsis menunjukkan banyaknya pasien yang menggunakan antibiotik lini pertama saja (38 pasien).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERNYATAAN PERSETUJUAN Manuskrip dengan judul : RESUSITASI CAIRAN PADA ANAK DIARE DENGAN DEHIDRASI DI RUMAH SAKIT ISLAM KENDAL

PERNYATAAN PERSETUJUAN Manuskrip dengan judul : RESUSITASI CAIRAN PADA ANAK DIARE DENGAN DEHIDRASI DI RUMAH SAKIT ISLAM KENDAL

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami Dehidrasi sedang (defisit cairan 10%) sebanyak 45 responden (75,0%). Cairan dalam tubuh meliputi 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Hal pertama yang harus diperhatikan dalam penanggulangan diare adalah masalah kehilangan cairan yang berlebihan (dehidrasi). Dehidrasi ini bila tidak segera diatasi dapat membawa bahaya terutama bagi balita dan anak-anak. Bagi penderita diare ringan diberikan oralit, tetepi bila dehidrasi berat maka perlu dibantu dengan cairan intravena atau infus. Hal yang tidak kalah penting dalam menanggulangi kehilangan cairan tubuh adalah pemberian makanan kembali (refeeding) sebab selama diare pemasukan makanan akan sangat kurang karena akan kehilangan nafsu makan dan kehilangan makanan secara langsung melalui tinja atau muntah dan peningkatan metabolisme selama sakit (Sitorus, 2008).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Referat TERAPI CAIRAN DAN TRANSFUSI

Referat TERAPI CAIRAN DAN TRANSFUSI

- Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water) Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100- 180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl). Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi. 7
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

publication upload090324152955001237863562medicinus maret mei 2009

publication upload090324152955001237863562medicinus maret mei 2009

Melihat kasus pada penderita di atas maka penderita cocok deng- an kriteria diagnostik migren tanpa aura, karena nyeri kepala unila- teral (satu sisi kepala), serangan 4 jam, kadang sampai lebih 1 hari, diperberat oleh aktivitas fisik, mengalami mual dan muntah serta tid- ak enak melihat cahaya. Pengobatan yang diberikan adalah analgetik, antimigren dan obat untuk pencegahan migren yaitu flunarizin. Sete- lah diterapi dengan flunarizin selama 2 bulan, serangan migren belum terkontrol, sehingga dilakukan pemeriksaan penunjang (CT scan dan EEG) untuk mengetahui ada atau tidak kelainan organik penyebab nyeri kepala. Hasil CT scan kepala dan EEG normal. Dengan demi- kian kemungkinan penyebab yang berasal organik bisa disingkirkan. Pencegahan migren dengan flunarizin efektif setelah diberikan mini- mal 2 bulan dan hanya mengurangi serangan sebanyak 50%, hal ini mungkin dapat menjelaskan kenapa pada penderita pemberian flu- narizin kurang memuaskan. Pada penderita ini tidak diberikan terapi pencegahan dengan penyekat beta, karena tekanan darah penderita dalam batas normal, sehingga pada penderita kemudian diberikan asam valproat dengan dosis 2x250 mg. Setelah dievaluasi selama 3 bulan serangan migren pada penderita ini bisa terkontrol.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) FERMENTASI TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN BABI LOKAL (Sus scrofa) LEPAS SAPIH Melparia Sinurat (E10013151), di bawah bimbingan Pudji Rahayu

PENGARUH PEMBERIAN TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) FERMENTASI TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN BABI LOKAL (Sus scrofa) LEPAS SAPIH Melparia Sinurat (E10013151), di bawah bimbingan Pudji Rahayu

Konversi pakan adalah kemampuan ternak babi dalam memanfaatkan makanan yang dikonsumsi untuk meningkatkan bobot badan atau juga perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi persatuan pertambahan bobot badan, semakin kecil angka konversi makin baik tingkat efisien pakan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb) fermentasi berpengaruh tidak nyata ( P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan babi lokal lepas sapih (Tabel 6.). Hal ini mungkin disebabkan karena konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan yang tidak nyata sehingga menghasilkan konversi pakan yang tidak nyata. Faktor yang mempengaruhi konversi pakan adalah nutrisi, bangsa ternak, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan pakan yang diberikan. Semakin rendahnya angka konversi pakan menunjukkan bahwa ternak tersebut makin efisien dalam penggunaan pakan (Hyun dkk., 1998).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Syok dan Terapi Cairan. pdf

Syok dan Terapi Cairan. pdf

Sangat bermanfaat untuk mencatat pemasukan cairan secara teratur (misalnya setiap 4 jam) dan total cairan selama 24 jam, termasuk mencatat perkiraan jumlah urin. Parameter yang dicatat dan frekuensi pencatatan tergantung pada individu kasus. Pencatatan setiap hari yang perlu dilakukan adalah PCV, total protein plasma, dan bobot badan. Nilai PCV 12-15% atau kurang merupakan indikasi untuk melakukan transfusi darah total (whole blood). Penurunan total plasma protein hingga kurang dari 3,0-3,5 g/dl menjadi petunjuk untuk memperlambat atau menurunkan terapi cairan dan mempertimbangkan untuk menggunakan plasma atau transfusi darah total.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Efektivitas Fototerapi Tunggal Dibandingkan  Fototerapi Ganda Pada Neonatus Dengan   Hiperbilirubinemia Indirek

Efektivitas Fototerapi Tunggal Dibandingkan Fototerapi Ganda Pada Neonatus Dengan Hiperbilirubinemia Indirek

kulit dipengaruhi oleh kematangan, asupan kalori yang adekuat atau tidak adanya penyesuaian terhadap suhu pada unit fototerapi, jarak fototerapi ke bayi dan inkubator (berkaitan dengan kehilangan udara pada radiant warmer). Peningkatan aliran darah ke perifer dapat meningkatkan kehilangan cairan dan dapat mengubah keperluan pemakaian cairan melalui intravena. 1,43 Perubahan pada kulit seperti rash, kulit kehitaman, terbakar dapat disebabkan oleh pemaparan yang berlebihan dari emisi gelombang sinar fluorescent. 25 Suatu studi di Belanda mendapatkan selama fototerapi intensive, peningkatan cairan sebanyak 20% dari kebutuhan total cairan dapat mencegah terjadinya peningkatan suhu tubuh. 44
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Sebaran Spasial Jejak Aktivitas Babi Hutan (Sus scrofa Linnaeus 1758) di Taman Nasional Gunung Ciremai.

Sebaran Spasial Jejak Aktivitas Babi Hutan (Sus scrofa Linnaeus 1758) di Taman Nasional Gunung Ciremai.

Wild Boar (Sus scrofa) is one of group of mammals which become pests in gardens around the area of Mount Ciremai National Park. The spatial distribution of wild boar activity was determined to find out its distribution and movement in several types of vegetation cover are natural forest, plantation forest, and gardens at Resort Argalingga, SPTN region II Majalengka, Mount Ciremai National Park. The data spatial distribution is retrieved using the technique of indirect observation (Traces), vegetation analyze, and interview. Indirect distribution using strip tansect method. Based on the observations have been found 16 traces in the garden, 98 traces in plantation forest, and 33 traces in natural forest. Hypothesis test results showed that the spatial distribution traces of wild boar activity is influenced by the type of vegetation cover. Wild boar committing several activities are walk, eat, wallowing, sharpening fangs or swipe the body, cover, and dispose of feces. In addition, wild boar proven spread to the gardens for foraging.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...