Top PDF Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku yang Berkaitan dengan Kejadian Malaria di Pangkalbalam Pangkalpinang

Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku yang Berkaitan dengan Kejadian Malaria di Pangkalbalam Pangkalpinang

Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku yang Berkaitan dengan Kejadian Malaria di Pangkalbalam Pangkalpinang

Pada penelitian ini juga diperoleh informasi bahwa sebagain besar responden penelitian mempunyai kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk. Obat anti nyamuk yang banyak digunakan oleh responden di lokasi penelitian adalah obat nyamuk bakar (78,7%), sedang yang menggunakan lotion hanya 5,1%. Penggunaan obat anti nyamuk bakar dapat mengusir nyamuk, khususnya pada saat tidur di dalam rumah. Namun demikian, hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara kebiasaan menggunakan obat nyamuk dengan kejadian malaria. Hal ini disebabkan karena walupun responden (baik kasus maupun kontrol) telah menggunakan obat nyamuk bakar, mereka masih bisa digigit nyamuk pada saat melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari. Praktek responden lain yang mempunyai asosiasi signifikan dengan kejadian malaria adalah kebiasaan pergi ke daerah endemis malaria (mobilitas). Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan dengan p-value 0,0001 dan OR (95% CI OR)=4,949 (2,259-10,847). Nilai OR=4,949 memprediksikan bahwa seseorang yang mempunyai riwayat pergi ke daerah endemis malaria lain mempunyai risiko terkena malaria hampir 5 kali lebih besar dibanding dengan mereka yang tidak mempunyai riwayat pergi ke daerah endemis malaria lain. Asosiasi pergi ke daerah endemis lain dengan kejadian malaria diperkuat oleh hasil uji multivariat dengan regresi logistik. Kebiasaan pergi ke daerah endemis malaria merupakan salah satu faktor risiko kejadian malaria dengan nilai koefisien regresi (β) sebesar 1,361 dan p-value=0,002 dengan OR (95% CI OR) = 3,901 (1,634-9,264). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Lyda Orsorio (et al) di Colombia yang menyatakan bahwa bepergian ke daerah endemis malaria lain merupakan faktor risiko kejadian malaria (falcifarum) dengan nilai OR (95% CI OR)=14,22 (5,27-38,46). Ada sesuatu yang menarik dari penelitian Lyda, yaitu sampai mengkaji
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Faktor Perilaku yang Berpengaruh terhadap Kejadian Malaria di Daerah Endemis Malaria

Faktor Perilaku yang Berpengaruh terhadap Kejadian Malaria di Daerah Endemis Malaria

Perilaku masyarakat memegang peranan penting baik terhadap perkembangan nyamuk malaria maupun perubahan lingkungan akibat perilaku yang mengarah pada terbentuknya breeding places dan resting places. Hasil penelitian di desa Banjaretno Wilayah Puskesmas Kajoran I Magelang menunjukkan bahwa kebiasaan responden keluar rumah malam hari merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian malaria. Responden yang mempunyai kebiasaan keluar rumah malam hari mempunyai risiko terkena malaria 10 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai kebiasaan keluar rumah pada malam hari (OR = 10; 95% CI = 3,4-39,2). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Sunarsih et al., (2009) tentang faktor risiko lingkungan dan perilaku yang berkaitan dengan kejadian malaria di Pangkalbalam Pangkalpinang, yang menyatakan bahwa kebiasaan keluar rumah malam hari mempunyai risiko terkena malaria 4,4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai kebiasaan keluar rumah pada malam hari (OR = 4,4; 95% CI = 2,140-9,046). Siapapun yang mempunyai kebiasaan keluar pada malam hari berisiko digigit oleh nyamuk karena malam hari nyamuk Anopheles beraktivitas mencari darah dan menularkan sporozoit pada manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Dale et al., (2005) juga melaporkan bahwa intensitas penularan penyakit malaria yang tinggi bisa terjadi pada orang-orang yang melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DURIKUMBA KECAMATAN KAROSSA KABUPATEN MAMUJU

ANALISIS FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DURIKUMBA KECAMATAN KAROSSA KABUPATEN MAMUJU

Insidensi malaria didukung oleh kondisi lingkungan seperti rumah yang buruk dan sanitasi yang jelek, yang kemudian menjadi faktor yang berkaitan dengan penularan malaria karena menyediakan lingkungan yang cocok sebagai resting place dan breeding place bagi nyamuk pembawa penyakit malaria. Demikian juga dengan perilaku masyarakat yang menunjang interaksi antara manusia dan nyamuk malaria sehingga transmisi penyakit dapat lebih mudah terjadi. Faktor risiko lingkungan yang mempunyai hubungan dengan kejadian malaria adalah jenis saluran pembuangan air limbah, dimana saluran terbuka dan tanpa saluran mempunyai risiko lebih besar dibanding dengan saluran tertutup. Dari analisa lanjut ini ternyata keberadaan kandang ternak dalam rumah tidak berhubungan dengan peningkatan kasus malaria (Saikhu, 2011).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku Penduduk Terhadap Kejadian Malaria Di Kabupaten Asmat Tahun 2008 - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Analisis Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku Penduduk Terhadap Kejadian Malaria Di Kabupaten Asmat Tahun 2008 - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Dibidang Kesehatan tak jauh berbeda. Masih banyak Puskesmas yang dilayani hanya oleh 2-3 petugas kesehatan tanpa seorang dokter. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah Puskesmas-Puskesmas yang tidak berjalan karena petugasnya sering tidak berada ditempat (turun ke kota berbulan- bulan), sehingga masyarakat tidak mendapat pelayanan kesehatan yang baik. Pada umumnya penyakit malaria berada di seluruh Papua, terutama didaerah pesisir pantai, dengan genangan air yang cukup banyak menjadi tempat sarang nyamuk. Siapa saja dan kapan saja dapat tertular malaria, apalagi kalau ia berada didaerah endemis tinggi dan tidak melakukan upaya pencegahan dengan baik dan teratur. Perlu di ingat bahwa penularan itu hanya dapat terjadi bila ada Agent/penyebab ( dalam hal ini Plasmodium ), Vektor/perantara ( nyamuk Anopheles ), dan Host/pejamu ( manusia ). Dari hasil penelitian ternyata mereka yang sangat mudah menderita penyakit malaria, bahkan sampai berakhir dengan kematian atau sakit jiwa dikarenakan malaria otak (cerebral malaria) adalah;
Baca lebih lanjut

149 Baca lebih lajut

Faktor Risiko dan Pengetahuan, Sikap, Perilaku (Psp) Masyarakat pada Kejadian Luar Biasa (Klb) Malaria di Kabupaten Purbalingga

Faktor Risiko dan Pengetahuan, Sikap, Perilaku (Psp) Masyarakat pada Kejadian Luar Biasa (Klb) Malaria di Kabupaten Purbalingga

rentan terhadap penularan malaria. Karena masih banyak rumah yang kondisi atapnya tidak memakai plafon (93,9%), lubang venti- lasinya tidak memakai kasa sehingga me- mungkinkan nyamuk masuk ke rumah (79,6%), mayoritas responden penderita tidur tidak memakai kelambu (63,3%), serta ling- kungan rumah penduduk yang dekat dengan habitat vektor malaria antara lain genangan air (65,3%), semak rimbun (67,3%), dan jarak rumah dekat dengan sawah (53,1%). Hal ini memperkuat dugaan adanya penular- an setempat di Desa Panusupan dimana ada faktor lingkungan yang mendukung terjadi- nya penularan malaria dan ada faktor manusia yang pernah menderita malaria sebagai host kemudian dipicu dengan me- ningkatnya populasi vektor malaria sebagai faktor agen 6 . Dugaan ini diperkuat dengan hasil uji korelasi Chi Square (p value > 0,05) yang menunjukkan bahwa penularan malaria di Desa Panusupan tidak berhubungan dengan kepergian responden baik untuk bekerja maupun pergi keluar desa (kasus impor). Selain itu, untuk hasil uji faktor risiko Odds Ratio (OR<1) di Desa Panusupan diperoleh dugaan bahwa kepergian respon- den berasosiasi negatif dengan kejadian malaria.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Perilaku dan Lingkungan dalam Penularan Malaria di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur

Faktor Risiko Perilaku dan Lingkungan dalam Penularan Malaria di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur

terutama kelambu berinsektisida mengurangi risiko penularan malaria. Hasil penelitian dari Maya Paradesh India, Keerom Papua, T anzania T imur Laut , Ethiopia, Bangladesh dan di Indonesia (Analisis lanjut Riskesdas 2013) menunjukkan bahwa penggunaan insecticide treated nets (IT N)/long lasting insecticide nets (LLIN’s) berhubungan secara signifikan terhadap kejadian malaria di wilayah tersebut. Di samping itu, penggunaan kelambu memiliki peluang berisiko lebih rendah terhadap penularan malaria dibandingkan dengan yang tidak memakai kelambu 22, 23, 24, 8, 25, 26 . Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa di wilayah tertentu pemakaian kelambu baik berinsektisida maupun tidak berinsektisida memiliki hubungan yang tidak signifikan. Sehingga bukan merupakan risiko terjadinya penularan malaria, seperti penelitian yang dilakukan di south-west Cameroon, Pesawaran Lampung dan Nigeria 7, 27, 28 .
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Perilaku Dan Lingkungan Dalam Penularan Malaria Di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur

Faktor Risiko Perilaku Dan Lingkungan Dalam Penularan Malaria Di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur

Apabila dikaitkan dengan kejadian malaria pada responden, tidak ada hubungan yang signifikan antara aspek pengetahuan, sikap dan praktik/tindakan, serta pekerjaan responden (p>0,05). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Desa Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, yang menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik memiliki nilai rasio yang sama dengan pengetahuan kurang dalam kejadian malari di wilayah tersebut 7 . T erkait dengan pekerjaan responden, hasil penelitian ini berbeda dengan hasil analisis lanjut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007), yang menyatakan bahwa pekerjaan merupakan faktor risiko terjadinya malaria. Hasil tersebut menunjukkan bahwa, pekerjaan sebagai petani memiliki 2,40 kali berisiko terkena malaria 3 .
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Faktor Lingkungan Dan Perilaku Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria Di Kecamatan Panyabungan Mandailing Natal Sumatera Utara

Faktor Lingkungan Dan Perilaku Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria Di Kecamatan Panyabungan Mandailing Natal Sumatera Utara

Panyabungan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal dan termasuk daerah endemis malaria. $QJND NHVDNLWDQ PDODULD KLQJJD WDKXQ PHQFDSDL Å GHQJDQ 2879 kasus positif. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian malaria.Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain case control, dan analisis data menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan daerah penelitian berada di daerah dataran, rata-rata suhu dan kelembaban pada siang hari 30,8 o C dan 66,7% sedangkan pada malam hari 27,2 o C dan 71,7 %. Faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian malaria yaitu penggunaan kelambu (p value: 0,000; OR: 3,573; 95% CI: 1,732-7,373), pemakaian obat anti nyamuk (p value: 0,029; OR: 2,719; 95% CI: 1,087-6,798), keluar rumah pada malam hari (p value: 0,01; OR: 3,254; 95% CI: 1,563-6,777), kerapatan pakaian (p value: 0,013; OR: 2,474; 95% CI: 1,205-5,076) dan genangan air (p value : 0,033; OR: 2,33; 95% CI: 1,06-5,118). Faktor risiko yang dominan terhadap kejadian malaria di Kecamatan Panyabungan adalah tidak menggunakan kelambu pada malam hari.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO DAN PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU (PSP) MASYARAKAT PADA KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) MALARIA DI KABUPATEN PURBALINGGA

FAKTOR RISIKO DAN PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU (PSP) MASYARAKAT PADA KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) MALARIA DI KABUPATEN PURBALINGGA

rentan terhadap penularan malaria. Karena masih banyak rumah yang kondisi atapnya tidak memakai plafon (93,9%), lubang venti- lasinya tidak memakai kasa sehingga me- mungkinkan nyamuk masuk ke rumah (79,6%), mayoritas responden penderita tidur tidak memakai kelambu (63,3%), serta ling- kungan rumah penduduk yang dekat dengan habitat vektor malaria antara lain genangan air (65,3%), semak rimbun (67,3%), dan jarak rumah dekat dengan sawah (53,1%). Hal ini memperkuat dugaan adanya penular- an setempat di Desa Panusupan dimana ada faktor lingkungan yang mendukung terjadi- nya penularan malaria dan ada faktor manusia yang pernah menderita malaria sebagai host kemudian dipicu dengan me- ningkatnya populasi vektor malaria sebagai faktor agen 6 . Dugaan ini diperkuat dengan hasil uji korelasi Chi Square (p value > 0,05) yang menunjukkan bahwa penularan malaria di Desa Panusupan tidak berhubungan dengan kepergian responden baik untuk bekerja maupun pergi keluar desa (kasus impor). Selain itu, untuk hasil uji faktor risiko Odds Ratio (OR<1) di Desa Panusupan diperoleh dugaan bahwa kepergian respon- den berasosiasi negatif dengan kejadian malaria.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria di Indonesia (Analisis Lanjut Riskesdas 2013)

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria di Indonesia (Analisis Lanjut Riskesdas 2013)

bakar, tidur menggunakan kelambu, minum obat malaria, menggunakan repelen dan ventilasi menunjukkan hasil yang kontradiktif, yang mana responden yang mempunyai perilaku positif dalam tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk justru lebih berisiko terkena malaria dibandingkan yang tidak memakai. Penelitian yang dilakukan Elvi Sunarsih mempunyai kesamaan dengan hasil penelitian ini, yang mana responden yang menggunakan kelambu saat tidur malam hari mempunyai resiko terkena malaria dengan OR=12. Hasil penelitian ini menunjukkan fakta empiris yang sebaliknya dibanding dengan teori maupun hasil penelitian lain. 15 Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Barbara Matthys (et al) menunjukkan hasil tidak ada asosiasi antara tidur menggunakan kelambu berinsektisida dengan kejadian malaria. Hal ini terjadi karena kepemilikan kelambu yang tinggi (coverage) di lokasi penelitian tidak diikuti oleh intensitas pemakaian saat tidur malam hari. Sementara hasil studi di Afrika menyatakan bahwa penggunaan kelambu dapat menurunkan risiko kesakitan dan kematian yang berkaitan dengan penyakit malaria. 16 Ada beberapa hal yang
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Kejadian Malaria Pada Remaja Di Wilayah Kerja Puskesmas Baun

Faktor Risiko Kejadian Malaria Pada Remaja Di Wilayah Kerja Puskesmas Baun

rendah pada kategori bekerja. Pekerjaan dapat berperan penting terhadap penyakit malaria karena berpengaruh dengan kondisi lingkungan pekerjaan tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pekerjaan tidak berpengaruh terhadap kejadian malaria, hal ini terjadi karena di usia mereka rata-rata masih bersekolah. Penelitian ini sama dengan penelitian “Arnida Sari” yang menyatakan bahwa kaitan antara pekerjaan dengan kejadian malaria dari 25 responden yang belum bekerja terdapat 88,0% kebanyakan anak sekolah atau mahasiswa, hal ini berkaitan dengan keberadaan suatu tempat perindukan nyamuk dapat memepengaruhi tingkat kepadatan diwilayah sekitarnya dalam radius yang cukup luas, mengingat kemampuan terbang nyamuk anopheles yang cukup jauh, yaitu 0,5-3 km atau sekitar 2 km.
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

ANALISIS JALUR FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN DAN PERILAKU YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN BOYOLALI.

ANALISIS JALUR FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN DAN PERILAKU YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN BOYOLALI.

Beberapa penelitian yang berkaitan dengan faktor lingkungan, dan perilaku masyarakat, menunjukkan bahwa kejadian/penularan penyakit Leptospirosis berkiatan erat dengan faktor lingkungan, seperti adanya genangan air baik di selokan maupun di halaman sekitar rumah, tempat tinggal dekat dengan sungai, dan adanya sumber air bersih yang berisiko terkontaminasi urin binatang, dan keberadaan tikus di dalam rumah, merupakan faktor risiko kejadian leptospirosis. Beberapa faktor perilaku, seperti riwayat kontak dengan sampah, kontak dengan air selokan, kontak dengan air banjir, kontak dengan lumpur, tidak memakai sepatu saat bekerja di sawah, kebiasaan mandi di sungai, kebiasaan mencuci baju di sungai, riwayat adanya luka, kebiasaan tidak merawat luka dengan baik, dan kebiasaan tidak membersihkan rumah, juga merupakan faktor risiko kejadian leptospirosis.(Suratman, 2006, Maesyaroh, 2014)
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Faktor Lingkungan Dan Perilaku Terhadap Kejadian Malaria Di Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015

Pengaruh Faktor Lingkungan Dan Perilaku Terhadap Kejadian Malaria Di Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015

Ibrahim. 2008. Strategi Penanggulangan Penyakit Malaria Dengan Pendektan Faktor Risiko Di Daerah Endemis Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nangroe Aceh Darusalam Tahun 2007. Tesis Mahasiswa FKM USU. Medan. Idrus. Masriadi. 2014. Hubungan Faktor Individu Dan Lingkungan Rumah Dengan

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Faktor Lingkungan Dan Perilaku Terhadap Kejadian Malaria Di Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015

Pengaruh Faktor Lingkungan Dan Perilaku Terhadap Kejadian Malaria Di Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015

Lingkungan sosial ekonomi-budaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang besar pengaruhnya terhadap penularan penyakit malaria. Yang termasuk dalam lingkungan sosial ekonomi adalah status kepemilikan rumah, status pendidikan, penghasilan, gizi dan tempat perindukan buatan manusia (pembangunan bendungan, penambangan, pemukiman baru). Sedangkan yang termasuk ke dalam faktor lingkungan sosial-budaya adalah yang berkaitan dengan perilaku atau gaya hidup yaitu kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari, dimana vektornya lebih bersifat eksofili dan eksofagi, penggunaan kelambu dan pemasangan kawat kasa pada ventilasi, persepsi masyarakat serta penggunaan repellent. Pengaruh faktor ini seringkali lebih besar dibandingkan dengan faktor lainnya dalam penularan penyakit malaria.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

ABSTRAK. Analisis Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku Penduduk Terhadap Kejadian Malaria Di Kabupaten Asmat Tahun 2008

ABSTRAK. Analisis Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku Penduduk Terhadap Kejadian Malaria Di Kabupaten Asmat Tahun 2008

Jenis penelitian adalah observasional dengan pendekatan case control. Kelompok kasus adalah penduduk yang menderita penyakit malaria berdasarkan pemeriksaan Sediaan Darah (SD) positif, sedangkan kelompok kontrol adalah penduduk yang Sediaan Darahnya (SD)nya dinyatakan negatif. Matching pada responden dilakukan dengan kriteria memiliki usia setara atau maksimal berselisih 2 tahun. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko kejadian malaria adalah tidak memasang kawat kasa pada semua ventilasi (OR 9 ,445 ; 95% CI: 3,577-24,939), keberadaan genangan air dekat rumah (OR: 14,056 ; 95% CI:1,733-113,986), kebiasaan tidak memakai kelambu saat tidur pada malam hari (OR :2,399 ; 95% CI: 1,042-5,520), tingkat pengetahuan (OR:6,026 ; 95% CI: 1,574-11,386), dan ketidaktaatan minum obat jika sakit malaria (OR : 4,567; 95% CI :1,916-10,888 ). Perlu diadakan pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah, genangan air yang berada disekitar rumah dikeringkan/dialrkan secara berkala, tidur sebaiknya memakai kelambu, dan jika sakit malaria hendaknya minum obat sesuai petunjuk, serta melalukan penyuluhan agar masyarakat tahu cara penanggulangan malaria.
Baca lebih lanjut

149 Baca lebih lajut

Faktor Lingkungan Yang Berkaitan Dengan Kejadian Malaria (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kepil I Kabupaten Wonosobo Tahun 2004)

Faktor Lingkungan Yang Berkaitan Dengan Kejadian Malaria (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kepil I Kabupaten Wonosobo Tahun 2004)

Proporsi keberadaan ternak di sekitar rumah subyek penelitian pada kelompok kasus (62,9%) lebih besar daripada kelompok kontrol (48,6%), namun hasil uji chi-square (p=0,089) dan OR=1,79 (95%CI: 0,913- 3,517) menunjukkan tidak ada kaitan keberadaan ternak besar di sekitar rumah dengan kejadian malaria di wilayah Puskesmas Kepil I. Jika dihubungkan dengan letak kandang dapat disimpulkan adanya kaitan antara jarak kandang dari rumah dengan kejadian malaria di wilayah Puskesmas Kepil I (p=0,005). Nilai OR=4,829 (95%CI:1,514-15,4) juga menunjukkan orang yang tinggal di rumah dengan kandang ternak besar menyatu dengan rumah atau yang jaraknya kurang dari lima meter memiliki risiko tertular malaria 4,829 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tinggal di rumah dengan jarak kandang lebih jauh.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisa Faktor Risiko Lingkungan Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru

Analisa Faktor Risiko Lingkungan Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru

Selain itu cahaya matahari yang menyinari rumah melalui bantuan ventilasi yang cukup akan bermanfaat bagi tubuh manusia guna mengaktifkan provitamin D (7-dehydrocholesterol) menjadi vitamin D yang terdapat di bawah timbunan kulit yang berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh guna mencegah kejadian TB dan mengurangi keparahan akibat penyakit TB. Oleh karena itu penderita TB paru dan keluarganya perlu memahami cara penggunaan ventilasi udara yang baik yaitu ventilasi udara atau jendela harus dibuka setiap harinya agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah. Meskipun jumlah ventilasi udara cukup tetapi tidak dibuka setiap harinya maka tujuan ventilasi sebagai pertukaran udara tidak akan berfungsi dengan baik.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PERILAKU DAN LINGKUNGAN FISIK DENGAN KEJADIAN LEPTOSPIROSIS  Hubungan antara faktor perilaku dan lingkungan fisik dengan kejadian leptospirosis.

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PERILAKU DAN LINGKUNGAN FISIK DENGAN KEJADIAN LEPTOSPIROSIS Hubungan antara faktor perilaku dan lingkungan fisik dengan kejadian leptospirosis.

Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten serta puskesmas yang menangani penyakit leptospirosis untuk meningkatkan program pencegahan dan pengendalian leptospirosis sehingga dapat menurunkan angka kesakitan maupun angka kematian leptospirosis. Misalnya dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat, agar masyarakat berperan atof di dalam penanggulangan leptospirosis, terutama dalam hygiene perorangan dan perbaikan sanitasi lingkungan agar tidak menjadi habitat tikus, surveillance (pengamatan) dari puskesmas maupun Dinas Kabupaten Klaten
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Beberapa Faktor Risiko Lingkungan yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria di Kecamatan Nanga Ella Hilir Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat.

Beberapa Faktor Risiko Lingkungan yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria di Kecamatan Nanga Ella Hilir Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat.

Sampel penelitian didapat jumlah sampel kasus sebanyak 68 orang responden yang terkena malaria yang dilakukan pemeriksaan laboratorium/ mikroskopis hasilnya positif dan kontrol 68 orang responden yang belum pernah menderita malaria. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kawat kasa pada ventilasi, kerapatan dinding rumah, kerapatan lantai rumah dan keberadaan kolam, keberadaan semak-semak di sekitar rumah, keberadaan ternak dan keberadaan genangan air di bawah rumah, kebiasaan menggunakan kelambu, kebiasaan menutup pintu dan jendela, kebiasaan keluar di malam hari dan kebiasaan menggunakan obat nyamuk. Metode analisis yang digunakan terdiri dari analisis univariat, analisa bivariat dengan uji chi-square untuk memperoleh gambaran nilai OR dari variabel independen dan analisis multivariat untuk mengetahui besar risiko variabel independen terhadap kejadian malaria dengan mempertimbangkan faktor risiko lainnya secara bersama- sama dengan regresi logistik.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH FAKTOR DEMOGRAFI DAN RIWAYAT MALARIA TERHADAP KEJADIAN MALARIA

PENGARUH FAKTOR DEMOGRAFI DAN RIWAYAT MALARIA TERHADAP KEJADIAN MALARIA

Malaria morbidity in Moru health center, with parameter Annual Parasite Incident (API), amounted to 16.9% in 2014. This fi gure was still high when compared to the target of eliminating malaria in Indonesia about < % in 2030. Incidence of malaria is more common in children aged 5 months - < 12 years. This high rates of malaria leads to poverty, low level of learning achievement of children and in pregnant women causing low birth weight in babies and death. The purpose of this study was to analyze the factors that infl uence the incidence of tertian and tropikana malaria or combined tropikana and tertian (mix) in Moru PHC in sub-district Alor Southwestern, Alor Regency. The study was cross-sectional,with quantitative approach to 173 patients that undergoing peripheral blood examination in Moru PHC’s laboratory from June to October 2015. Subject were selected by Simple Random Sampling. Instruments of data collection were a questionnaire and observation sheet. Results of the study by Chi-Square test showed that the factors infl uencing the incidence of malaria were socioeconomic status (sig 0.000), education level (sig 0.001). By using multivariate analysis with logistic regression test, results were obtained the age of 25–76 years value (sig 0.025) and socioeconomic status (sig 0.000) infl uencing the incidence of malaria. Variables that affect the incidence of malaria were demographic factors such as age, education level, socioeconomic status. It is advisable to harness swamp thus improving the economic status of society and follow up treatment of malaria for more precise and targeted.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects