Top PDF Garansi dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Tinjauan Prinsip-Prinsip Khiyar Muamalah)

Garansi dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Tinjauan Prinsip-Prinsip Khiyar Muamalah)

Garansi dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Tinjauan Prinsip-Prinsip Khiyar Muamalah)

Meskipun adanya kesamaan antara garansi dengan khiyar dalam prinsip- prinsip muamalah yaitu dalam bentuk jaminan tanggungan, tetapi penulis juga menemukan perbedaan dari segi objek yang dilindungi misalnya, garansi berlaku pada barang jika ada kesepakatan awal, bahwa penjual/pelaku usaha menawarkan garansi (jaminan) dan bersedia mereparasi barang jika terjadi kerusakan disebabkan oleh barang itu sendiri, namun pembeli tidak boleh mengembalikan barang yang telah dibeli, sehingga garansi dalam undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen tersebut dipahami sebagai ekstra service dan tidak menjadi kewajiban. Tetapi, pada khiyar dalam prinsip-prinsip muamalah baik khiyar majlis, khiyar syarat dan khiyar ‘aib, kedudukan penjual masih boleh
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pelabelan Produk Pangan Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pelabelan Produk Pangan Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

Dalam pasal 1 ayat (3) dari PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan Label Pangan adalah “setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan”. Dari pengertian label tersebut maka diketahui bahwa didalam label termuat informasi mengenai pangan yang diproduksi. Akan tetapi, masalah label khususnya mengenai label pangan kurang mendapat perhatian dari konsumen dan pelaku usaha. Informasi yang tidak benar dan menyesatkan kosumen mengakibatkan kerugian pada konsumen yang pada akhirnya berakibat hukum pada pelaku usaha dalam menanggungjawabinya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perlindungan Konsumen Dalam Perspektif Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Dan Hukum Islam Dalam Jual Beli

Perlindungan Konsumen Dalam Perspektif Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Dan Hukum Islam Dalam Jual Beli

maka konsumen mempunyai hak khiyar tadlis, yaitu hak untuk membatalkan atau melanjutkan transaksi karena menyembunyikan cacat barang atau melebihi keadaan aslinya saat promosi. Juga ada Khiyar „aib yaitu kurangnya kuantitas/kualitas barang tersebut di kalangan ahli pasar, dan hak khiyar al-ru‟yah, yaitu hak khiyar bagi pembeli saat melihat barang yang akan dibeli, hal ini karena saat akad berlangsung ia tidak melihat langsung barang tersebut. Penerapan khiyar ru‟yah ini sangat urgent pada zaman sekarang ini karena banyak transaksi terjadi melalui media elektronika/online, sedangkan pembeli belum mengetahui barang tersebut dengan seksama.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pelabelan Produk Pangan Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pelabelan Produk Pangan Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

yang timbul karena melihat keadaan yang berkembang mengenai bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen atas pelanggaran dalam pelabelan produk pangan yang semakin marak terjadi dalam perdagangan bebas khususnya dalam perdagangan produk pangan. Artinya tulisan ini bukanlah merupakan hasil ciptaan ataupun penggambaran dari karya tulisan orang lain. Oleh karena itu, keaslian dari penulisan ini terjamin adanya. Kalaupun ada terdapat judul tesis yang terdahulu yang menyerupai yaitu yang berjudul “Perlindungan Hukum Konsumen Dalam Pelabelan Produk Pangan” oleh Anak Agung Ayu Diah Indrawati, Program Magister Studi Ilmu Hukum, Program Pascasarjana, Universitas Udayana, Denpasar. Akan tetapi yang menjadi pembahasan dan penelitian antara skripsi penulis dan tesis ini sangatlah berbeda dan tidak ada kesamaan mengenai apa yang menjadi pembahasan utama dari skripsi ini. Kalaupun ada pendapat dan kutipan dari penulisan ini, hal tersebut merupakan semata-mata adalah sebagai faktor pendorong dan pelengkap dalam usaha menyusun dan menyelesaikan penulisan ini, karena hal ini memang sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan tulisan ini.
Baca lebih lanjut

137 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN UMUM PERLINDUNGAN KONSUMEN MENURUT UU No. 8 TAHUN 1999 A. Pengertian Konsumen dan Hukum Perlindungan Konsumen - Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pelabelan Produk Pangan Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

BAB II TINJAUAN UMUM PERLINDUNGAN KONSUMEN MENURUT UU No. 8 TAHUN 1999 A. Pengertian Konsumen dan Hukum Perlindungan Konsumen - Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Pelabelan Produk Pangan Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

Penjelasan “Pelaku Usaha” yang termasuk dalam pengertian ini adalah perusahaan, korporasi, BUMN, koperasi, importir, pedagang, distributor, dan lain- lain. Pengertian pelaku usaha dalam pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen cukup luas karena meliputi grosir, leveransir, pengecer, dan sebagainya. Cakupan luasnya pengertian pelaku usaha dalam UUPK tersebut memilih persamaan dengan pengertian pelaku usaha dalam Masyarakat Eropa terutama negara Belanda, bahwa yang dapat dikualifikasi sebagai produsen adalah pembuat produk jadi (finished product); penghasilan bahan baku; pembuat suku cadang; setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen, dengan jalan mencantumkan namanya , tanda pengenal tertentu, atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli, pada produk tertentu; importir suatu produk dengan maksud untuk dijualbelikan, disewakan, disewagunakan (leasing) atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan;
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Prinsip kehati-hatian ini harus dijalankan oleh bank bukan hanya karena dihubungkan dengan kewajiban bank agar tidak merugikan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada masyarakat yaitu sebagai bagian dari sistem moneter yang menyangkut kepentingan semua anggota masyarakat yang bukan hanya nasabah penyimpan dana dari bank itu saja. Dengan demikian, prinsip kehati-hatian ini bertujuan agar bank menjalankan usahanya secara baik dan benar dengan mematuhi ketentuan-ketentuan dan norma-norma hukum yang berlaku dalam dunia perbankan, agar bank yang bersangkutan selalu dalam keadaan sehat sehingga masyarakat semakin mempercayainya, yang pada
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Pengoplosan Beras  Dalam Perspektif Undang-Undang  Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Pengoplosan Beras Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Prinsip keadilan kumutatif menurut Adam Smith adalah no harm, yaitu tidak merugikan dan melukai orang lain baik sebagai manusia, anggota keluarga atau anggota masyarakat baik menyangkut pribadinya, miliknya atau reputasinya. Pertama, keadilan tidak hanya menyangkut pemulihan kerugian, tetapi juga menyangkut pencegahan terhadap pelanggaran hak dan kepentingan pihak lain. Kedua, pemerintah dan rakyat sama-sama mempunyai hak sesuai dengan status sosialnya yang tidak boleh dilanggar oleh kedua belah pihak. Pemerintah wajib menahan diri untuk tidak melanggar hak rakyat dan rakyat sendiri wajib mentaati pemerintah selama pemerintah berlaku adil, maka hanya dengan inilah dapat diharapkan akan tercipta dan terjamin suatu tatanan sosial yang harmonis. Ketiga, keadilan berkaitan dengan prinsip ketidakberpihakan (impartiality), yaitu prinsip perlakuan yang sama didepan hukum bagi setiap anggota masyarakat.
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN - Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN - Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curang dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan, khususnya oleh Pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen. Itulah sebabnya, gerakan konsumen sudah selayaknya menaruh perhatian terhadap keberadaan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hak ini, seperti yang ada saat ini, yaitu UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam UU No. 5 Tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian yang dilarang, dan (2) kegiatan yang dilarang, antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. Termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah ologopoli, penetapan harga, pembagian wilayah, pemboikotan, kartel, trust, oligopsoni, integrasi vertical, perjanjian tertutup, dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

SERTIFIKASI HALAL SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN HAK ATAS KEAMANAN DAN KESELAMATAN KONSUMEN DITINJAU DARI UNDANG UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

SERTIFIKASI HALAL SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN HAK ATAS KEAMANAN DAN KESELAMATAN KONSUMEN DITINJAU DARI UNDANG UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Adanya globalisasi dan modernisasi jaman, sebagian besar telah mempengaruhi masyarakat kita dengan menjadikan konsumsi sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Budaya konsumtif ini secara tidak langsung akan mengurangi prinsip kehati-hatian mereka dalam memilih produk baik dilihat dari komposisinya maupun status halal dan haramnya. Kepedulian umat Islam terhadap kesucian dan kehalalan sesuatu yang akan dikonsumsinya sangat berpengaruh terhadap diterima atau ditolaknya amal ibadah mereka kelak di akhirat. Ditinjau dari sudut pandang Islam, makanan bukanlah sekedar sebagai pemenuh kebutuhan jasmani saja, tetapi juga merupakan bagian dari kebutuhan spiritual yang harus dilindungi (Muhammad dan Ibnu Elmi As Pelu, 2009:1-2). Masalah tentang halal dan haram bukanlah suatu persoalan yang sederhana dan dapat diabaikan, melainkan merupakan masalah yang telah mengglobal dan amat penting serta harus mendapatkan perhatian dari ajaran agama secara umum.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Tinjauan Mengenai Perlindungan Terhadap Konsumen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Dalam Kaitannya Dengan Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

1. Pesatnya perkembangan ekonomi juga secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan semakin berkembang pula kelompok masyarakat konsumen. Masyarakat sebagai konsumen yang menggunakan produk, baik barang dan/atau jasa tentu haruslah mendapat perlindungan. Disadari atau tidak, ternyata selama ini konsumen berada pada posisi yang lemah dan cenderung dirugikan oleh perilaku pelaku usaha ‘nakal’. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), setidaknya diharapkan akan dapat menjadi suatu hal yang dapat memberikan jaminan perlindungan bagi terpenuhinya hak-hak konsumen. Selain itu, di dalam prakteknya UUPK mnerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) guna lebih menjamin kedudukan konsumen terhadap perilaku pelaku usaha. Yang paling penting dalam hal ini adalah batasan- batasan di dalam UUPK tidak semata untuk membatasi ruang gerak pelaku usaha, tetapi lebih dimaksudkan untuk mendorong perilaku positif pelaku usaha di dalam persaingan secara sehat. Hal ini tentunya akan menjadi faktor penunjang ditingkatkannya kualitas dan daya saing produk-produk nasional. 2. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi, perumahan sebagai salah satu hal
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

EKSISTENSI KHIYAR DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DI TOKO MODERN (Analisis Hukum Ekonomi Syariah)

EKSISTENSI KHIYAR DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DI TOKO MODERN (Analisis Hukum Ekonomi Syariah)

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga konsumen muslim tentunya mendapatkan perlindungan atas barang dan/atau jasa sesuai dengan syariat Islam. Karena perlindungan tersebut merupakan hak setiap warga negara Indonesia. Hak khiyar yang merupakan salah satu bentuk perlindungan konsumen dalam Islam yang memiliki peranan dalam kegiatan muamalah. Sudah seharusnya hak khiyar sebagai salah satu bentuk untuk melindungi hak-hak konsumen muslim tersebut termuat dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Tesis ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Eksistensi khiyar dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, dan (2) Analisis eksistensi khiyar dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Undang undang No. 8 tahun 1999 tentang P

Undang undang No. 8 tahun 1999 tentang P

c. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat, yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan telah melaksanakan kegiatan sesuai

56 Baca lebih lajut

Perlindungan Konsumen Terhadap Jasa Pelayanan Tukang Gigi Ditinjau Dari Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Perlindungan Konsumen Terhadap Jasa Pelayanan Tukang Gigi Ditinjau Dari Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Sebagaimana tertera pula dalam Pasal 73 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dinyatakan bahwa setiap orang dilarang menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dan/atau surat izin praktik. Akan tetapi dalam perkembangannya saat ini, maraknya para tukang gigi yang melakukan kegiatan yang menyalahi peraturan yang ada, seperti melakukan pencabutan gigi, maupun yang sedang tren saat ini, yaitu pemasangan kawat gigi. Padahal tukang gigi sama sekali tidak pernah mempelajari langsung gigi yang terdapat pada tengkorak manusia. Jadi, pada dasarnya tukang gigi tidak tahu dan belajar mengenai aspek medis terkait dengan alat-alat yang mereka gunakan.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP IKLAN APARTEMEN GATEAWAY YANG MENYESATKAN DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN.

PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP IKLAN APARTEMEN GATEAWAY YANG MENYESATKAN DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN.

Pembangunan rumah susun atau apartemen sebagai fasilitas hunian merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah kebutuhan perumahan dan pemukiman terutama di daerah perkotaan yang jumlah penduduknya terus meningkat, karena dengan pembangunan rumah susun atau apartemen dapat mengurangi penggunaan tanah, ruang terbuka lebih lega dan sebagai salah satu cara peremajaan kota bagi daerah kumuh. Apartemen juga bisa dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan bagi para perusahaan properti. Cara pelaku usaha/pengembang apartemen untuk memasarkannya pun beragam, namun terkadang pihak pengembang apartemen menghalalkan segala cara, dengan membuat iklan pemasaran secara berlebihan dan tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dan hal ini dapat merugikan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pertanggungjawaban pihak pengembang Apartemen Gateaway Cicadas akibat iklan yang menyesatkan serta tindakan hukum yang dapat dilakukan konsumen Apartemen Gateaway Cicadas yang mengalami kerugian.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curang dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan, khususnya oleh Pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen. Itulah sebabnya, gerakan konsumen sudah selayaknya menaruh perhatian terhadap keberadaan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hak ini, seperti yang ada saat ini, yaitu UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam UU No. 5 Tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian yang dilarang, dan (2) kegiatan yang dilarang, antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. Termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah ologopoli, penetapan harga, pembagian wilayah, pemboikotan, kartel, trust, oligopsoni, integrasi vertical, perjanjian tertutup, dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PENGGUNA JASA PENITIPAN HEWAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PENGGUNA JASA PENITIPAN HEWAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Kecintaan masyarakat terhadap hewan belakangan ini semakin meningkat. Hal ini menimbulkan keinginan pelaku usaha untuk membuka usaha jasa penitipan hewan. Hewan dapat dititipkan dengan syarat dan prosedur tertentu. Kadang kala rumah pentipan hewan menimbulkan kerugian kepada pengguna jasa penitipan tersebut. Dengan adanya kerugian yang diderita pemilik hewan, maka perlu adanya perlindungan bagi pengguna jasa. Penelitian ini mengkaji tentang perlindungan konsumen terhadap pengguna jasa penitipan hewan ditinjau dari Undang-Undang No. 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah: Bagaimana syarat dan proses hewan yang akan dititipkan di penitipan hewan? dan bagaimana tanggung jawab pelaku usaha penitipan hewan kepada konsumen apabila terjadi kerugian? Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif terapan dengan tipe penelitian deskriptif. Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan normatif terapan. Data yang digunakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Pengumpulan data melalui studi pustaka dan studi dokumen. Pengelolahan data dilakukan dengan cara identifikasi, editing, penyusunan data, penarikan kesimpulan. Selanjutnya, dianalisis secara kualitatif.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Kedudukan Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Kedudukan Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Based on the results of a study conducted by the authors document, the consumer dispute resolution through BPSK can be reached in 3 ways, namely conciliation, mediation, and arbitration. Issued BPSK decision is final and binding, it is supported by the enactment of Article 54 paragraph (3) of UUPK and Article 42 paragraph (1) Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001. However UUPK also opens up opportunities for the filing of legal action against the decision of the BPSK. As in Article 56 paragraph (2) which states that legal action against the decision of BPSK form of legal remedy of appeal and in Article 58 paragraph (2) states against the decision of the District Court against the appeal can be lodged an appeal to the Supreme Court. However, if within the specified time, no party objected to the decision BPSK then the party is deemed to have received it, it is stipulated in Article 56 paragraph (3) UUPK. Legal remedy of appeal shall be further regulated in Supreme Court Rules No. 1 of 2006 on Procedures for Filing Objections Against the Decision of BPSK. The government should update consumer protection laws so that there is no clause of mutual berkontradiktif, and businesses and consumers are more concerned with the rights and obligations of each in order to avoid a dispute between them.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB HUKUM PRODUSEN MAKANAN DAN MINUMAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

TANGGUNG JAWAB HUKUM PRODUSEN MAKANAN DAN MINUMAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Pada era globalisasi, pertumbuhan dan perkembangan industri barang dan jasa di satu sisi berdampak positif antara lain tersedianya kebutuhan dalam jumlah yang mencukupi, mutu yang lebih baik serta adanya alternatif pilihan bagi konsumen. Di lain pihak, ada dampak negatif yaitu penggunaan teknologi itu sendiri serta perilaku pelaku bisnis karena makin ketatnya persaingan yang memengaruhi masyarakat konsumen. Pemerintah perlu melindungi konsumen, maka dibuatlah Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang bertujuan untuk melindungi konsumen dan menumbuhkan kesadaran bagi pelaku usaha untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha. Kedudukan hak antar-pelaku usaha dan konsumen tidak seimbang, konsumen pada posisi yang lemah. Banyak produsen melakukan kesalahan atau kelalaian dalam mengontrol produk yang dihasilkan antara lain kualitas, penyampaian informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan, pemalsuan, penggunaan bahan berbahaya. Semua ini akan menimbulkan kerugian bagi konsumen. Identifikasi masalahnya adalah bagaimana pelaku usaha bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan (product liability) agar terhindar dari produk cacat (defect). Product liability dapat digunakan oleh konsumen untuk memperoleh ganti rugi. Kata Kunci: Product liability, defect, tanggung jawab usaha, ganti rugi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perlindungan Nasabah Kartu Kredit Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Perlindungan Nasabah Kartu Kredit Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa dasar hubungan hukum antara nasabah pemegang kartu kredit dengan bank penerbit adalah perjanjian yang dapat diklasifikasikan sebagai perjanjian baku, sebab dokumen yang mengandung klausula perjanjian sudah disiapkan dan ditentukan terlebih dahulu oleh penerbit, dalam hal ini adalah bank, sebagai kreditur sehingga pemegang kartu kredit hanya menerima atau tidak terhadap semua klausula yang ditentukan (take it or leave it). Di dalam perjanjian tersebut terdapat hak dan kewajiban bagi bank dan pemegang kartu kredit. Kewajiban bank menjadi hak bagi pemegang kartu kredit, dan sebaliknya hak bank merupakan kewajiban bagi pemegang kartu kredit. Hak dan kewajiban para pihak tersebut dibatasi dengan adanya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berdasar pada 5 (lima) asas yaitu manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, dan kepastian hukum. Selain itu wujud perlindungan konsumen dapat dilihat dari didirikannya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN NAMA PUBLIC FIGURE PADA PRODUK KOSMETIK YANG MEMBAHAYAKAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DAN UNDANG-UNDANG NO 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN.

PENGGUNAAN NAMA PUBLIC FIGURE PADA PRODUK KOSMETIK YANG MEMBAHAYAKAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DAN UNDANG-UNDANG NO 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN.

Merek memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia perdagangan, terutama bagi pelaku usaha (produsen) dalam memasarkan produknya. Hal inilah yang menjadi dasar produsen dalam menggunakan nama public figure yang sedang populer di kalangan masyarakat pada merek produknya dengan tujuan agar konsumen tertarik untuk membeli produk tersebut. Penggunaan nama public figure pada merek dagang terutama merek kosmetik tanpa mendapatkan persetujuan dari pihak yang bersangkutan tentu akan menimbulkan permasalahan. Karena hal tersebut dapat menyebabkan kerugian bagi public figure yang bersangkutan. Secara tidak langsung public figure yang namanya dipergunakan dalam merek kosmetik tersebut akan terkena imbas yang tidak baik. Permasalahan tersebut bukan hanya merugikan pada public figure yang namanya dipergunakan sebagai merek kosmetik tetapi juga untuk konsumen yang menggunakan produk tersebut. Maka dari itu penulis meneliti mengenai bagaimana penggunaan nama public figure sebagai merek kosmetik dan akibat hukum penggunaan nama public figure tersebut sebagai merek kosmetik yang membahayakan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects