Top PDF Hak Penyandang Disabilitas Dalam Perspektif Ham Internasional Dan Ham Nasional

Hak Penyandang Disabilitas Dalam Perspektif Ham Internasional Dan Ham Nasional

Hak Penyandang Disabilitas Dalam Perspektif Ham Internasional Dan Ham Nasional

3 Sampai dengan tahun 2016, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 12, 7 persen dimana yang termasuk di dalam kategori sedang sebanyak 10,29 persen dan kategori berat sebanyak 1,87 persen. Sementara untuk prevalensi disabilitas provinsi di Indonesia antara 6,41 persen sampai 18,75 persen. Tiga provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi adalah Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Dari angka 12,15 persen penyandang disabilitas 45,74 persen tingkat pendidikan penyandang disabikitas tidak pernah atau tidak lulus SD, jauh dibandingkan non-penyandang disabilitas yang sebanyak 87,31 persen berpendidikan SD keatas. Dengan jumlah penyandang disabilitas perempuan yaitu 53,37 persen. Sedangkan sisanya 46,63 persen adalah laki-laki. Berdasarkan survey Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 sebagaimmana
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

LGBT DALAM PERSPEKTIF AGAMA DAN HAM

LGBT DALAM PERSPEKTIF AGAMA DAN HAM

Fatwa ”haram” MUI terhadap kelompok yang memiliki orientasi seksual homo (LGBT) dan hukuman mati terhadap pelaku seksual ”menyimpang” membuat rakyat Indonesia terguncang, khususnya mereka yang merasa memiliki identitas gender ”ketiga”. ”Agama” yang seharusnya memberikan jalan kemudahan, seolah-olah mengubur hidup- hidup seseorang yang memiliki orientasi seksual homo. Padahal, instrumen hukum regional, nasional dan internasional tentang HAM mengakui hak-hak mereka sebagai manusia. Dengan menggunakan pendekatan sosial humanities kontemporer, tulisan ini menyajikan kelompok LGBT sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat untuk diperlakukan sebagaimana layaknya manusia yang harus di hormati.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Hak Penyandang Disabilitas Tunanetra dal

Hak Penyandang Disabilitas Tunanetra dal

2 dan penandatanganan sejak 2007. Indonesia menjadi negara ke sembilan yang menandatangani konvensi ini dari 82 negara di tahun 2007. Indonesia baru meratifikasi CRPD empat tahun kemudian yaitu pada 2011. 2 Article 3 CRPD menjelaskan tentang prinsip dasar dan sikap yang seharusnya dilakukan terhadap penyandang disabilitas yaitu menghormati martabat manusia dengan keterbatasan yang dimiliki, non-diskriminasi, menerima dan memberi kesempatan kaum difabel untuk berpartisipasi dalam masyarakat, serta kesetaraan di masyarakat. 3 Untuk permasalahan hak pendidikan dan pekerjaan secara internasional diatur dalam International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) yang dirumuskan pada tahun 1966. Indonesia baru meratifikasi ICESCR pada 23 Februari 2006 4 . Article 6 berbunyi , The States Parties to the present Covenant recognize the right to work, which includes the right of everyone to the opportunity to gain his living by work which he freely chooses or accepts, and will take appropriate steps to safeguard this right dan Article 13 berbunyi The States Parties to the present Covenant recognize the right of everyone to education. They agree that education shall be directed to the full development of the human personality and the sense of its dignity, and shall strengthen the respect for human rights and fundamental freedoms. They further agree that education shall enable all persons to participate effectively in a free society, promote understanding, tolerance and friendship among all nations and all racial, ethnic or religious gr oups, and further the activities of the United Nations for the maintenance of peace. Dari bunyi konvensi terlihat jelas bahwa negara lah yang bertanggung jawab dan wajib untuk menjamin HAM warga negaranya termasuk bagi penyandang disabilitas. Indonesia sudah meratifikasi kedua perjanjian tersebut sehingga pemerintah memiliki kewajiban untuk mengimplementasinya dan melakukan upaya untuk memenuhi penerapan isi konvensi HAM tersebut.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perlindungan terhadap Korban Perang dalam Perspektif Konvensi-konvensi Internasional Tentang Hukum Humaniter dan HAM

Perlindungan terhadap Korban Perang dalam Perspektif Konvensi-konvensi Internasional Tentang Hukum Humaniter dan HAM

yang tidak ikut secara aktif maupun para hors de combatan merasakan keadaan yang sangat mencekam ketika hak-hak mereka yang seharusnya dilindungi secara universal dalam nasional maupun internasional telah diambil. Sering pula dalam forum internasional membahas inti permasalahan bersama bagi dunia internasional yaitu dapat dilihat dengan jelas bahwa, masyarakat sipil sering turut merasakan kerugian akibat perang dimana terkadang sipil sendiri digunakan sebagai tameng bagi kepentingan militer. Sipil digunakan sebagai tameng dalam banyak hal, seperti penempatan sipil dalam military object maupun sebagai alat untuk mencapai kepentingan militer dari masing-masing pihak. Saat perang berlangsung, hak asasi masyarakat sipil lebih sering terabaikan daripada diperjuangkan dan diperhatikan. Hak asasi masyarakat sipil dalam konflik bersenjata inilah yang perlu untuk dilindungi, karena seperti yang sudah dikatakan diatas bahwa sangat penting untuk semua pihak supaya tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar HAM yang salah satunya adalah hak untuk tidak disiksa. Hukum Den Haag ataupun Hukum Jenewa merupakan sumber hukum utama bagi Hukum Internasional Humaniter karena mengandung ketentuan-ketentuan yang mengatur perlindungan internasional bagi kombatan, bagi mereka yang berhenti bertempur (hors de combat); pengaturan di wilayah pendudukan, perlindungan bagi penduduk sipil, obyek-obyek sipil, barang- barang budaya, lingkungan hidup dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hak Pilih Bagi Penyandang Disabilitas Mental Ditinjau dari Perspektif Hak Asasi Manusia

Hak Pilih Bagi Penyandang Disabilitas Mental Ditinjau dari Perspektif Hak Asasi Manusia

diratifikasi Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005, pada Pasal 25 menyatakan bahwa “Setiap warga negara harus mempunyai hak dan kesempatan, tanpa pembedaan apapun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan tanpa pembatasan yang tidak beralasan: (a) Ikut dalam pelaksanaan urusan pemerintahan, baik secara langsung atau melalui wakil-wakil yang dipilih secara bebas. (b) Memilih dan dipilih pada pemilihan umum berkala yang jujur, dan dengan hak pilih yang universal dan sama, serta dilakukan melalui pemungutan suara secara rahasia untuk menjamin kebebasan dalam menyatakan kemauan dari para pemilih”. Kemudian, dalam Pasal 5 ayat 3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dijelaskan bahwa setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Kelompok masyarakat yang rentan adalah orang lanjut usia, anak-anak, fakir miskin, wanita hamil, dan penyandang cacat. 66
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pelayanan Transportasi Publik yang Mudah Diakses oleh Penyandang Disabilitas dalam Perspektif HAM

Pelayanan Transportasi Publik yang Mudah Diakses oleh Penyandang Disabilitas dalam Perspektif HAM

Pasal 9 Ayat 1 Konvensi tentang Hak Penyandang Disabilitas Convention on the Right of Person with Disability (CRPD) diratifikasi oleh Indonesia pada tanggal 18 Oktober 2011 menyatakan agar penyandang disabilitas dapat hidup mandiri dan berpartisipasi secara penuh dalam semua aspek kehidupan, sama seperti warga lainnya, Negara wajib mengambil langkah yang tepat untuk memastikan akses bagi penyandang disabilitas kelingkungan fisik, transportasi, informasi dan komunikasi, serta akses ke fasilitas dan jasa pelayanan lain yang tersedia bagi publik, baik didaerah perkotaan maupun pedesaan. Langkah-langkah tersebut meliputi identifikasi dan penghapusan kendala aksesibilitas, diberlakukan antara lain
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

HAM DALAM KONTEKS HUBUNGAN INTERNASIONAL (1)

HAM DALAM KONTEKS HUBUNGAN INTERNASIONAL (1)

Upaya dalam memajukan dan melindungi HAM telah menjadi isu hangat yang sering diperbincangkan dalam hubungan internasional, saat ini isu HAM tidak hanya menjadi urusan satu negara saja tetapi telah menjadi isu internasional. Pesatnya arus globalisasi menjadikan pemerintah tidak lagi bisa menyembunyikan pelanggaran HAM yang terjadi. Dalam perpolitikan, negara maju dapat menekan negara yang melakukan pelanggaran HAM. Maka dari itu upaya pemajuan dan perlindungan HAM sangat penting bagi kestabilitasan sebuah bangsa.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Hak Asasi Manusia (HAM), Implementasi dan Hubungannya dengan Hukum Humaniter Internasional (HHI)

Hak Asasi Manusia (HAM), Implementasi dan Hubungannya dengan Hukum Humaniter Internasional (HHI)

Namun intisari Hukum ketentuan HAM (hard-core rights) tetap berlaku sekalipun pada waktu sengketa bersenjata. Keduanya saling melengkapi. Juga ada keterpaduan dan keserasian kaidah-kaidah yang berasal dari instrumen-instrumen HAM dan HHI. Keduanya tidak hanya mengatur hubungan antara pemerintah dengan rakyat, tetapi juga mengatur hubungan di antara Negara dengan Warga Negara dengan menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka secara timbal balik (reciprosity).

9 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN PELANGGRAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) BERAT DALAM ISTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL

PENYELESAIAN PELANGGRAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) BERAT DALAM ISTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL

operasional. Sebagai kelanjutan dari proses itu, pada tahun 1995 dibentuklah UN Preparatory Committee on Establishment of Internastional Criminal Court (PrepCom) dengan mandat merancang “a widely acceptable consolidateted text a convention, to be submitted to a diplomatic conference of plenipotentiaries” (Siswanto, 2005 : 8). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar konferensi Diplomatik di Roma, yang berlangsung sejak tanggal 15 Juli 1998 yang akhirnya menyepakati pembentukan Mahkamah Pidana Internasional. Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya sejumlah negara yang hadir, 120 negara mendukung, 7 negara menentang dan 21 negara abstain. Hasil kesepakatan yang dicapai ini dicetuskan di Roma, maka dinamakan sebagai Statuta Roma (Soedjono Dirdjosisworo, 2002 : 45)
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemajuan Pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) secara Nasional di Indonesia

Pemajuan Pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) secara Nasional di Indonesia

Bersamaan dengan itu, sebuah buku panduan diterbit- kan oleh para pelatih hak asasi manusia (sektor non- formal) sebagai pedoman bagi semua guru hak asasi manusia (tingkat dasar, menengah, negeri dan swas ta) Pada tahap ini, dampak strategi ini mulai nampak di kalangan publik, media — seperti surat kabar — dan khususnya di antara para tokoh masyarakat. Kami percaya strategi ini telah meningkatkan kesadaran para tokoh dan mereka dapat melihat relevansi an- tara nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai tradisional, dan kemanusiaan. Contohnya, sejumlah tokoh agama di Indonesia menjadi pembicara dalam acara televisi dan radio membahas mengenai aspek-aspek dalam Islam, dari fi losofi sampai hukum. Seorang tokoh agama yang sangat terkenal juga pemandu acara televisi, A.A. Gym contohnya. Ia mempunyai stasiun televisi dan radio, memproduksi rekaman dan vcd, juga memandu acara harian di televisi dan siaran radio yang disebut sebagai acara interaktif. Ia cukup disukai masyarakat. Dalam dua tahun terakhir, ceramah A.A. Gym lebih menekankan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan seperti yang lainnya, kini ia juga menggunakan istilah hak asasi manusia dan mengeritik kekerasan di Indonesia dan luar negeri. Meskipun A.A. GYM tidak terlibat secara langsung dalam POKJA, perwakilan dari organisasinya telah diutus ke lokakarya. Ditambah lagi, referensinya terhadap hak asasi manusia telah menghadirkan iklim baru di Indonesia. Sebuah contoh pengintegrasian gagasan hak asasi manusia ke dalam wacana publik adalah yang dibuat sebelum invasi Amerika ke Irak. A.A. Gym menggendong seorang anak dan bersama se- jumlah pengikutnya pergi ke Kedutaan Besar Amerika. Ia menyerahkan surat permintaan agar Amerika tidak menginvasi Irak. Ia menyatakan agresi itu akan mem- bunuh wanita dan anak-anak, dan yang terutama, tindakan itu akan melanggar hak asasi manusia. Ini tentu saja merupakan istilah dan pendekatan baru yang dilakukan oleh tokoh ini. Dengan demikian, kami terdorong untuk melihat bahwa hak asasi manusia telah dipahami dan dapat mempengaruhi orang-orang yang berkata bahwa mereka juga memajukan hak asasi manusia.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

HAK-HAK YANG DILUPAKAN Kompensasi, Restitusi dan Rehabilitasi Korban Pelanggaran HAM Berat Pada pengadilan HAM

HAK-HAK YANG DILUPAKAN Kompensasi, Restitusi dan Rehabilitasi Korban Pelanggaran HAM Berat Pada pengadilan HAM

UU No. 26 Tahun 2000 maupun PP No. 3 Tahun 2002 mempunyai beberapa hambatan dimana hambatan ini dapat berupa hambatan yang sifatnya prosesual maupun hambatan subtansial. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya; pertama, berkaitan dengan istilah pemberian kompensasi, restitusi dan rehabilitasi berdasarkan atas putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Pengertian mempunyai ketentuan hukum yang tetap adalah bahwa putusan tersebut tidak dapat atau tidak bisa dilakukan lagi upaya hukum lainnya setelah ada keputusan tersebut atau dua belah pihak yang berperkara telah menerima keputusan pengadilan dan tidak melakukan upaya hukum yang lain. Dengan pengertian ini maka salah satu konsekuensinya adalah keputusan hukum tetap ini akan bisa dilihat setelah ada putusan ditingkat kasasi jika ada salah satu pihak yang mengajukan permohonan kasasi. Ketentuan ini akan kontradiktif dengan ketentuan dalam PP yang sama yang menyatakan bahwa pemberian kompensasi, restitusi dan rehabilitasi harus dilaksanakan secara tepat, cepat dan layak. Penjelasan atas kata cepat adalah bahwa penggantian kerugian dan atau pemulihan hak-hak lainnya diberikan kepada korban sesegera mungkin dalam rangka secepatnya mengurangi penderitaan korban, dan ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan hak-hak korban untuk sesegera mungkin memulihkan korban. Dengan pengaturan bahwa eksekusi atas kompensasi, restitusi dan rehabilitasi ini akan dapat dilaksanakan setelah ada kekuatan hukum tetap maka semakin panjang capaian atas hak-hak korban dalam kompensasi, restitusi dan rehabilitasi dan tidak sesuai dengan ketentuan lainnya. Ditambah jika keputusan kompensasi, restitusi dan rehabilitasi dalam pengadilan tingkat pertama tersebut kemudian dibatalkan dalam tingkat yang lebih tinggi yaitu dalam putusan tingkat banding dan kasasi. 26
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

TENTANG PENGADILAN HAM INTERNASIONAL muchamad

TENTANG PENGADILAN HAM INTERNASIONAL muchamad

Pengadilan internasional berikutnya yang memberikan sumbangan sangat penting dalam proses pendefinisian tindak pidana yang termasuk “kejahatan internasional” adalah Pengadilan Pidana Internasional untuk Negara Bekas Yugoslavia (ICTY). Statuta ICTY memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan konsep individual criminal responsibility dan command responsibility, dimana mereka yang dianggap bertanggung jawab pidana secara individu tidak hanya orang yang melakukan tapi juga yang memerintahkan melakukan tindak kejahatan ICTY pula yang memperkenalkan praktek penerapan command responsibilitydalam pengadilan pidana.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perangkat Hukum Nasional HAM

Perangkat Hukum Nasional HAM

Manusia bagi semua warga negara dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip kesatupaduan, keseimbangan dan pengakuan atas kondisi nasional. Prinsip kesatupaduan berarti bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hak pembangunan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan baik dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam penilaian pelaksanaannya. Prinsip keseimbangan mengandung pengertian bahwa di antara Hak Asasi Manusia perorangan dan kolektif serta tanggungjawab perorangan terhadap masyarakat dan bangsa memerlukan keseimbangan dan keselarasan. Hal ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Keseimbangan dan keselarasan antara kebebasan dan tanggungjawab merupakan faktor penting dalam penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HAK ASASI MANUSIA (HAM)

HAK ASASI MANUSIA (HAM)

Hak asasi manusia (HAM) adalah hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. HAM merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya yang wajib dihomati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (UU HAM no.39 tahun 1991 pasal 1). Hak asasi manusia (HAM) bukanlah hak yang berasal dari negara, akan tetapi fungsi negara adalah mengakui, menghargai dan memberikan perlindungan terhadap hak tersebut, berdasarkan hal ini perlu diketahui mengenai definisi atau pengertian HAM menurut negara berdasarkan ketentuan undang-undang yang ada. Sebagai hak asasi yang dimiliki sejak lahir maka HAM tentunya perlu diatur dalam pelaksanaannya oleh negara. Hal ini untuk menghindari adanya pelanggaran HAM yang diakibatkan pelaksanaan HAM orang lain. Untuk itu kita perlu mengetahui apakah yang menjadi batasan dalam pelaksanaan HAM.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Ham perspektif islam dan kristen

Ham perspektif islam dan kristen

c. Hak untuk dipelihara akalnya, dalam Islam posisi akal sangatlah di utamakan dalam menjalankan fungsi dan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Akal menjadi alat utama manusia dalam menentukan suatu hokum atau menafsirkan hokum dalam Al- Qur’an dan Sunnah, tidak ada sebaagi golongan saja seperti ulama, tetapi setiap individu umat Islam.

9 Baca lebih lajut

Perlindungan Golput dalam Perspektif HAM

Perlindungan Golput dalam Perspektif HAM

Dalam konsepsi generasi pertama ini elemen dasar dari hak asasi manusia mencakup soal prinsip integritas manusia, kebutuhan dasar manusia dan prinsip kebebasan sipil dan politik. HAM generasi pertama ini merupakan IXQGDPHQWDO RU EDVLF ULJKW WR OLIH OLEHUW\ SHUVRQDO VHFXULW\ DQG SKLVLFDO LQWHJULW\ yang secara resmi dikukuhkan dalam International Covenant RQ &LYLO DQG 3ROLWLFDO 5LJKWV Dilihat dari tinjauan historis dan teoretis maka golput sebagai bagian dari hak politik tidak dapat dikesampingkan. Artinya hak asasi ini harus diupayakan untuk dipenuhi oleh negara.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HAM DALAM PERSPEKTIF PANCASILA. doc

HAM DALAM PERSPEKTIF PANCASILA. doc

Kendati antara Islam dan Katolik, juga dengan agama-agama lainnya tetap memiliki perbedaan, penerimaan Islam terhadap HAM juga tidak berjalan mulus. Beberapa literatur yang menelaah hubungan Islam dengan HAM mengungkap resistensi yang diperlihatkan oleh beberapa sarjana dan negara Muslim terhadap HAM. Buku yang ditulis Ann Elizabeth Mayer (1999) dan Daniel E. Price (1999), misalnya, menyinggung konsep relativisme budaya (cultural relativism) yang dijadikan dasar penolakan beberapa sarjana di negara Muslim terhadap paham universalitas HAM (the idea of the universality of human rights). Dengan menggunakan konsep relativisme budaya, HAM dipandang memiliki keterbatasan ketika ingin diterapkan pada masyarakat di negara Muslim yang memiliki perbedaan budaya dengan pencetus universalisme HAM yang didominasi oleh negara-negara Barat. Apalagi, Barat sebagai pihak yang dipandang paling dominan dalam penciptaan dan diseminasi paham HAM, juga dinilai memiliki catatan yang tidak kalah buruk dalam penegakan HAM, dibandingkan dengan negara-negara Muslim yang sering mendapat sorotan tajam, justru dari pihak Barat.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Perangkat Hukum Nasional HAM

Perangkat Hukum Nasional HAM

Peningkatan pemenuhan hak atas pekerjaan, yang meliputi kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan berusaha, hak atas promosi dalam jabatan/pekerjaan, hak atas upah dan lingkungan kerja yang layak, hak atas jaminan sosial, asuransi kecelakaan kerja dan hak partisipasi wanita dalam pekerjaan.

46 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...