Top PDF DAYA HAMBAT TUJUH ISOLAT JAMUR Trichoderma spp. TERHADAP Phytophthora palmivora PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO

DAYA HAMBAT TUJUH ISOLAT JAMUR Trichoderma spp. TERHADAP Phytophthora palmivora PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO

DAYA HAMBAT TUJUH ISOLAT JAMUR Trichoderma spp. TERHADAP Phytophthora palmivora PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO

yaitu terbunuhnya organisme non target dan membahayakan kesehatan operatornya, maupun secara tidak langsung yaitu terakumulasi dalam tanah dan lingkungan serta mencemarinya. Oleh karena itu, untuk mengurangi persentase kehilangan hasil akibat serangan patogen busuk buah kakao perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif, murah, sekaligus aman bagi lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian yang aman adalah menggunakan agens pengendali hayati yaitu jamur Trichoderma spp. Hasil penelitian Imtiaj dan Lee (2008) menunjukkan bahwa Trichoderma dapat mengendalikan Alternaria porri pada bawang merah. Oleh karena itu penggunaan Trichoderma spp. juga diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Key words: Antagonism, Trichoderma spp., Phytophthora palmivora, Cacao pod

Key words: Antagonism, Trichoderma spp., Phytophthora palmivora, Cacao pod

Penelitian dilakukan dalam dua tahap percobaan. Percobaan pertama adalah uji antagonisme beberapa isolat Tricoderma spp. terhadap P. palmivora penyebab penyakit busuk buah kakao secara in vitro. Uji antagonisme ini dilakukan dengan metode kultur ganda atau dual culture method (Mahadtanapuk et al., 2007). Percobaan kedua adalah uji kemampuan penghambatan beberapa isolat Trichoderma spp. terhadap perkembangan gejala penyakit busuk pada buah kakao akibat P. palmivora di laboratorium. Pada uji ini digunakan dua cara yang dibedakan atas dasar urutan inokulasi dan aplikasi perlakuan. Pada cara pertama, buah kakao sehat didesinfeksi permukaannya menggunakan alkohol 70% dan selanjutnya diinokulasi dengan biakan murni P. palmivora berukuran diameter 5mm dan dibungkus dalam plastik tranparan untuk menjaga kelembaban selama diinkubasi dalam suhu ruang. Setelah 24 jam diinkubasi, permukaan buah kakao disemprot dengan suspensi Trichoderma spp. secara merata. Pada cara yang kedua, inokulasi biakan murni P. palmivora dilakukan setelah buah kakao disemprot terlebih dahulu dengan suspensi Trichoderma spp.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

UJI DAYA HAMBAT Aspergillus niger PADA BERBAGAI BAHAN PEMBAWA TERHADAP Phytopththora palmivora PENYEBAB BUSUK BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.) | Wahdania | AGROTEKBIS 8418 27639 1 PB

UJI DAYA HAMBAT Aspergillus niger PADA BERBAGAI BAHAN PEMBAWA TERHADAP Phytopththora palmivora PENYEBAB BUSUK BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.) | Wahdania | AGROTEKBIS 8418 27639 1 PB

Penyakit busuk buah kakao (BBK) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora merupakan salah satu penyakit utama yang dapat mempengaruhi sistem produksi kakao di dunia. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian hasil hingga mencapai 90% terutama pada musim hujan dan pada musim kemarau. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan daya hambat jamur A. niger pada berbagai jenis bahan pembawa dan lama penyimpanan terhadap Phytophtora palmivora penyebab penyakit busuk buah kakao. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktorial yakni dengan bahan pembawa dan lama penyimpanan dengan 3 ulangan, faktor 1 : (P0 = kontrol), (P1 = media tepung ketan putih + tepung singkong), (P2 = media tepung singkong), (P3 = media tepung ketan putih + tepung jagung manis), (P4 = media tepung ketan putih), (P5 = media tepung kelapa tua). Faktor 2: (A1 = 1 minggu masa penyimpanan), (A2 = 2 minggu masa penyimpanan), (A3 = 3 minggu masa penyimpanan), (A4 = 4 minggu masa penyimpanan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan pembawa tepung ketan putih + tepung jagung manis (P3) dan tepung kelapa tua (P5) dan pada lama penyimpanan A3 (minggu ke-3) lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur P. palmivora. sehingga dapat digunakan sebagai media pembawa untuk mendukung pertumbuhan jamur A. niger.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

UJI DAYA HAMBAT JAMUR ANTAGONIS Trichoderma spp DALAM FORMULASI KERING BERBENTUK TABLET TERHADAP LUAS BERCAK Phytophthora palmivora PADA BUAH KAKAO | Asrul | AGRISAINS 2151 6327 1 PB

UJI DAYA HAMBAT JAMUR ANTAGONIS Trichoderma spp DALAM FORMULASI KERING BERBENTUK TABLET TERHADAP LUAS BERCAK Phytophthora palmivora PADA BUAH KAKAO | Asrul | AGRISAINS 2151 6327 1 PB

Pengujian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, UNTAD. Tablet Trichoderma spp di encerkan ke dalam 10 ml air steril sesuai dengan dosis perlakuan, yakni 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 butir tablet sehingga membentuk suspensi. Suspensi Trichoderma spp (10 ml) bersama suspensi P. palmivora (3 ml) di infestasikan ke dalam 30 g tanah, kemudian di inkubasikan selama 0, 3, 6, 9, 12, dan 15 hari. Sebanyak 5 g tanah tersebut di masukkan ke dalam lubang yang dibuat pada buah kakao dan diinkubasikan selama 3, 6, 9, 12, 15 dan 18 hari secara seri. Kemudian di amati luas bercak sesuai hari masa inkubasi pada buah kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan (pemberian) tablet Trichoderma spp sebanyak 4 butir ke dalam 10 ml air steril + P. palmivora 3 ml, mempunyai daya hambat tertinggi (99,99%), tetapi tidak berpengaruh nyata dengan perlakuan (pemberian) tablet 5, 6 dan 7 butir.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

INVENTARISASI PATOGEN DI PERTANAMAN NANAS (Ananas comosus L.) VARIETAS QUEEN DI DESA ASTOMULYO KECAMATAN PUNGGUR KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

INVENTARISASI PATOGEN DI PERTANAMAN NANAS (Ananas comosus L.) VARIETAS QUEEN DI DESA ASTOMULYO KECAMATAN PUNGGUR KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Busuk teras pada nanas disebabkan oleh jamur Penicillium sp. yang merupakan salah satu jamur tanah. Jamur ini menginfeksi tanaman melalui lubang alami yang terjadi dari bekas potongan tangkai buah. Patogen ini awalnya berada dalam keadaan istirahat selama buah masih dalam pertumbuhan dan baru aktif kembali setelah buah memasuki proses pemasakan. Jamur ini menyebabkan busuknya dinding saluran madu dan teras (hati) dari buah dan dari luar gejala berupa pembusukan yang berwarna coklat dengan bentuk tidak teratur dan sangat lunak. Ketika buah dibelah, pembusukan terjadi dari dekat permukaan dan meluas ke aras teras (Martoredjo,1984).
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

PENGARUH APLIKASI KITOSAN TERHADAP KEPARAHAN PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO

PENGARUH APLIKASI KITOSAN TERHADAP KEPARAHAN PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO

Jamur P. palmivora dapat menyerang berbagai macam tanaman. Meskipun demikian, belum diketahui dengan pasti apakah jamur dari berbagai tanaman tadi dapat menimbulkan penyakit pada kakao. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sumber inokulum selalu ada. Namun yang dianggap sebagai sumber inokulum yang paling penting adalah tanah. Berbagai usaha pernah dilakukan untuk mengendalikan P. palmivora yang terdapat dalam tanah, tetapi tidak memberikan hasil yang memuaskan. Griffin (1981 dalam Semangun, 2000) mengatakan bahwa jamur bertahan dalam akar-akar kakao meskipun akar tidak menunjukkan gejala penyakit.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Kajian genetika ketahanan tanaman kakao (Theobroma cacao L.) terhadap penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora Butl) di Indonesia

Kajian genetika ketahanan tanaman kakao (Theobroma cacao L.) terhadap penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora Butl) di Indonesia

Pengendalian penyakit busuk buah yang telah dipraktekkan di lapangan seringkali memberikan hasil yang tidak konsisten karena perkembangan penyakit di lapangan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: (i) Pertanaman kakao dibudidayakan di daerah yang mempunyai kondisi iklim cocok untuk perkembangan penyakit busuk buah, (ii) Tanaman kakao yang diusahakan pada umumnya mempunyai ketahanan sedang sampai rendah, (iii) Perkembangan sejak penyerbukan hingga panen kakao memerlukan waktu antara 5,0-5,5 bulan, (iv) P. palmivora dapat menyerang semua organ kakao dan serangan pada buah terjadi pada semua tahap pertumbuhannya, (v) Inokulum P. palmivora banyak ditemukan di lapangan sehingga pada kondisi lingkungan yang optimum untuk perkembangannya, serangan patogen busuk buah dapat terjadi sepanjang tahun, (vi) P. palmivora diketahui mempunyai banyak tanaman inang. Dengan kondisi agroekosistem yang sangat sesuai tersebut sangat dimungkinkan patogen P. palmivora di daerah sentra produksi kakao di Indonesia akan menghasilkan tingkat patogenisitas yang berbeda. Hal ini semakin menambah sulitnya pengendalian secara umum terhadap patogen tersebut. Oleh karena itu diperlukan informasi isolat-isolat dari daerah yang berbeda pada sentra kakao di Indonesia untuk dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Berbagai hal tersebut menjadi penguat perlunya pengembangan metode pengendalian penyakit busuk buah kakao yang efektif di lapangan.
Baca lebih lanjut

202 Baca lebih lajut

Keragaman genetik dan virulensi isolat phytophthora palmivora asal kelapa dan asal kakao

Keragaman genetik dan virulensi isolat phytophthora palmivora asal kelapa dan asal kakao

spesies dari genus Phytophthora pada pertanaman kelapa maupun kakao menjadi ancaman akan munculnya progeni baru P. palmivora yang lebih virulen dan dapat meningkatkan epidemik. Kekuatiran ini menjadi tidak berlebihan karena banyak epidemik penyakit yang disebabkan oleh Phytophthora telah terjadi di luar negeri, seperti penyakit hawar daun pada tanaman kentang yang diakibatkan masuknya tipe kawin A2 dari P. infestans. Perubahan inang dari P. palmivora juga terjadi pada kelapa Dalam di Sulawesi Utara. Semula serangan penyakit busuk pucuk oleh P. palmivora yang terjadi di Sulawesi Utara sejak masuknya tanaman kelapa Hibrida PB121. Sampai dengan tahun 1997 hampir sebagian besar tanaman kelapa Hibrida mati terserang penyakit busuk pucuk kelapa. Setelah periode tersebut laporan kejadian penyakit busuk pucuk kelapa semakin menurun karena tanaman kelapa Hibrida banyak yang mati dan petani tidak menanam lagi kelapa hibrida tetapi menggantikannya dengan kelapa Dalam Lokal. Pada tahun 2005 mulai ada laporan serangan penyakit busuk pucuk pada populasi tanaman kelapa Dalam di Minahasa Selatan (Sulawesi Utara), yang dapat membuktikan adanya perubahan virulensi dari patogen P. palmivora yang semula menyerang kelapa Hibrida kini menyerang kelapa Dalam yang sebelumnya tergolong tahan terhadap patogen tersebut.
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Metode Inokulasi dan Pengamatan Perkembangan Phytophthora palmivora Serta Gejalanya Sebagai Penyebab Penyakit Busuk Buah Kakao (Theobroma cacao L.) | Anugrah | Biocelebes 9312 30435 1 PB

Metode Inokulasi dan Pengamatan Perkembangan Phytophthora palmivora Serta Gejalanya Sebagai Penyebab Penyakit Busuk Buah Kakao (Theobroma cacao L.) | Anugrah | Biocelebes 9312 30435 1 PB

Propinsi Sulawesi Tengah. Dengan cara mengambil buah kakao yang terinfeksi kemudian mengisolasi jamur P. palmivora. Sebelum jamur P. palmivora diinokulasikan pada buah kakao sehat terlebih dahulu permukaan buah dicuci menggunakan air hingga benar-benar bersih (Susilo dan Anitasari, 2014) dan disterilkan menggunakan alkohol 70% (Hafsah, 2015). Selanjutnya bagian buah dilubangi menggunakan alat pelubang berdiameter 5 mm yang telah disterilkan sedalam 5 mm, pada 2 posisi sejajar. Kemudian diinokulasi P. palmivora dan lubang ditutup menggunakan kapas yang dibasahi aquadest steril kemudian direkatkan dengan selotip. Selanjutnya buah kakao dibungkus dengan kertas tissue dan plastik transparan guna menjaga kelembaban, kemudian dilanjutkan dengan proses inkubasi selama 7 hari.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kajian Pemanfaatan Buah Kakao Terserang Busuk Buah Phytopthora palmivora Butler

Kajian Pemanfaatan Buah Kakao Terserang Busuk Buah Phytopthora palmivora Butler

bahwa biji kakao lindak masak penuh memiliki aktivitas antioksidan terbesar yaitu 86,4% dan terendah dimiliki oleh biji kakao terserang P. palmivora berat yaitu 72,8%. Secara keseluruhan aktivitas antioksidan yang dimiliki oleh buah yang terserang P. palmivora masih cukup tinggi yaitu antara 72,8 – 85,1%. Hasil pengekstrakan polifenol menghasilkan ekstrak terbanyak pada biji kakao edel masak penuh yaitu 15,8% dan terkecil pada buah terserang P. palmivora berat yaitu 4,8%. Pada pengamatan berat buah dan berat biji basah, buah edel masak penuh mempunyai berat tertinggi yaitu 964,5 g dan berat bijinya 210 g, sedangkan berat buah terkecil dimiliki buah edel muda umur 90 – 100 hari yaitu 316,4 g dan berat biji basah terkecil pada buah terserang P. palmivora berat yaitu 127,7 g. Selanjutnya pada pengamatan kadar kulit dan rendemen keping biji didapatkan kadar kulit terbesar pada buah terserang P. palmivora berat yaitu 55,5% dan menghasilkan rendemen keping biji paling sedikit yaitu 44,5%, sedangkan kadar kulit terkecil dimiliki oleh kakao lindak masak yaitu 14,4% dan rendemen keping bijinya paling besar yaitu 85,6%. Untuk pengamatan kadar lemak dan rendemen bubuk bebas lemak didapatkan bahwa biji kakao lindak masak penuh memiliki kadar lemak tertinggi yaitu 51,5% dan rendemen bubuk bebas lemaknya paling sedikit yaitu 48,5%, sedangkan buah terserang P. palmivora ringan memiliki kadar lemak terkecil yaitu 41,6% sehingga menghasilkan rendemen bubuk bebas lemak paling besar yaitu 58,4%. Untuk pengamatan warna didapatkan bahwa warna yang dominan pada kakao edel adalah kuning dan memiliki derajat warna keputihan paling tinggi. Sedangkan kakao lindak memiliki warna dominan merah dan derajat keputihannya kecil, begitu juga dengan buah yang terserang P. palmivora. Untuk intensitas warna, pada kakao edel semakin matang semakin naik. Sebaliknya pada kakao lindak dan terserang P. palmivora semakin turun. Pada pengamatan kenampakan buah dan biji kakao didapatkan bahwa pada buah yang terserag P. palmivora terdapat bercak kecoklatan pada buah dan semakin melebar seiring dengan semakin beratnya serangan, sedangkan biji didalamnya menjadi menyusut dan berwarna kecoklatan juga.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Keragaman cendawan endofit pada buah kakao dan potensinya dalam pengendalian busuk buah phytophthora

Keragaman cendawan endofit pada buah kakao dan potensinya dalam pengendalian busuk buah phytophthora

Saat ini, alternatif pengendalian yang menjanjikan dan sedang banyak diteliti adalah memanfaatkan hubungan antara mikroorganisme dengan tanaman sebagai inangnya. Pada umumnya tumbuhan dikolonisasi oleh beragam mikroorganisme, berada di atas permukaannya atau masuk ke dalam jaringan inang. Cendawan endofit, yaitu cendawan yang hidup di dalam jaringan inang tetapi tidak menimbulkan gejala penyakit pada inangnya, diduga merupakan mikroorganisme yang paling banyak sebagai pengkoloni inang (Schulz & Boyle 2005). Bahkan cendawan endofit di daerah tropis dikatakan sebagai hyperdiverse, keragamannya sangat tinggi (Arnold et al. 2000). Cendawan endofit dicirikan dengan mengkolonisasi jaringan inang tanpa menimbulkan gejala penyakit (Wilson 1995). Selain pada Gramineae, cendawan ini juga ditemukan dalam keragaman dan populasi yang tinggi pada tumbuhan pohon/berkayu (Johnston 1998; Arnold et al. 2001; Gamboa et al. 2002). Cendawan endofit dapat ditransmisikan secara vertikal dari biji ke bagian tanaman lainnya atau secara horizontal dari tanaman satu ke tanaman lainnya. Cendawan endofit dapat meningkatkan ketahanan inangnya terhadap lingkungan yang tidak mendukung dengan cara menginduksi ketahanan inang atau memproduksi metabolit sekunder yang menekan perkembangan patogen. Di lain pihak cendawan endofit mendapatkan makanan dari inang dan terlindung dari pencucian karena hujan atau angin karena berada di dalam jaringan inang.
Baca lebih lanjut

161 Baca lebih lajut

Genetic Diversity of Isolates of Phytophthora palmivora from Cocoa in Indonesia

Genetic Diversity of Isolates of Phytophthora palmivora from Cocoa in Indonesia

Randomly Amplified Polymorphic DNA (RAPD) is an analysis technique for genetic variations of plant pathogen, which is known quite efficienty, ac- curate and informative. RAPD analysis was used to differentiate isolates of Phytophthora palmivora collected from 6 main cocoa growing provinces in In- donesia, namely North Sumatera, Lampung, West Java, East Java, South Sulawesi and Southeast Sulawesi. These 20 isolates of P. palmivora showed high ge- netic similarity ranging from 88% to 98%. This result showed that there is a chance of developing of new strains of the P. palmivora of pod rot pathogen of cocoa in the future is very low, among 2% till 12%.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Penapisan Isolat Trichoderma spp Dari Beberapa Sentra Produksi Pisang Di Sumatera Barat Yang Berpotensi Dalam Pengendalian Fusarium oxysporum f.sp cubense Penyebab Penyakit Panama Pada Pisang.

Penapisan Isolat Trichoderma spp Dari Beberapa Sentra Produksi Pisang Di Sumatera Barat Yang Berpotensi Dalam Pengendalian Fusarium oxysporum f.sp cubense Penyebab Penyakit Panama Pada Pisang.

Tujuan penelitian adalah menguji potensi isolat-isolat Trichoderma hasil isolasi dan mendapatkan isolat terbaik dalam menekan perkembangan penyakit Panama pada bibit Pisang yang disebabkan oleh Fusarium Oxysporum f.sp. cubense in planta. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 34 perlakuan (isolat-isolat Trichoderma hasil isolasi) dengan 3 ulangan. Perlakuannya adalah : P1, P2, P3, P4, P5, P6, P7, P8, P9, S1, S2, S3, S4, S5, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S12, T1, T2, T3, T4, T5, T6, T7, T8, T9, T10, T11, T12 dan K (kontrol).
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Respon Cylindrocladium sp. Terhadap Fungisida Berbahan Aktif Mancozeb Secara In Vitro

Respon Cylindrocladium sp. Terhadap Fungisida Berbahan Aktif Mancozeb Secara In Vitro

Silalahi, N. R. 2008. Inventarisasi Fungi Patogen pada Daun Bibit Tanaman Eucalyptus spp. (Studi Kasus di Pembibitan PT.Toba Pulp Lestari Porsea Sumatera Utara). Departemen Ilmu Kehutanan. Universitas Sumatera Utara. Tidak Dipublikasikan.

3 Baca lebih lajut

Ketahanan Buah Beberapa Klon Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Infeksi Penyakit Busuk Buah Berdasarkan Uji Detached Pod | Aisyah | Natural Science: Journal of Science and Technology 2977 9106 1 PB

Ketahanan Buah Beberapa Klon Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Infeksi Penyakit Busuk Buah Berdasarkan Uji Detached Pod | Aisyah | Natural Science: Journal of Science and Technology 2977 9106 1 PB

Buah Lokal Hijau Sausu dan Lokal Sidondo menunjukkan total luas bercak hari ke-6 yang lebih kecil dibandingkan dengan luas bercak pada klon yang lain. Hal tersebut kemungkinan dihubungkan dengan keadaan morfologi buah kedua klon tersebut yang berbeda dengan buah lainnya, terutama sifat permukaan buah. Akan tetapi menurut Rubiyo dkk. (2010), penetrasi inokulum P. palmivora tidak dipengaruhi oleh sifat morfologi buah. Sehingga dalam penelitian ini ketahanan buah setiap klon kemungkinan tidak dipengaruhi oleh keadaan morfologi buah secara langsung. Hal tersebut diduga karena kecenderungan ketahanan buah juga berkorelasi dengan mekanisme ketahanan yang lain. Menurut Iwaro et al. (1997), mekanisme ketahanan pada pasca penetrasi juga melibatkan ketahanan biokimiawi dan ketahanan secara seluler.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

ANALISIS KESTABILAN MODEL MATEMTIKA PENYEBARAN PENYAKIT BUSUK BUAH TANAMAN KAKAO AKIBAT JAMUR PHYTOPHTHORA PALMIVORA PADA KONDISI BEBAS PENYAKIT DAN ENDEMIK | Yahya | JURNAL ILMIAH MATEMATIKA DAN TERAPAN 9015 29548 1 PB

ANALISIS KESTABILAN MODEL MATEMTIKA PENYEBARAN PENYAKIT BUSUK BUAH TANAMAN KAKAO AKIBAT JAMUR PHYTOPHTHORA PALMIVORA PADA KONDISI BEBAS PENYAKIT DAN ENDEMIK | Yahya | JURNAL ILMIAH MATEMATIKA DAN TERAPAN 9015 29548 1 PB

Fruit rot is one of cocoa plant disease. The disease is caused by the infection of Phytophthora palmivora , the fungus that carried by the ants as a vector. The spread of cocoa pod is caused by ants that carrying fungus and influenced by contact of specieses suscepted cocoa pods and ants. A mathematical SEI model that represents the spread of the disease was adapted such that classifies the populations as suscepted ( ℎ ), exposed ( ℎ ), and infected ( ℎ ) fruit. Suscepted ( � ), and pathogens that carrying ants ( � ) are also considered in the model, while the fungus population (P) is assumed in a logistic model growth. The model obtained derived a free critical point =
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...