Top PDF HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN

Kepuasan kerja merupakan salah satu unsur yang harus ada pada setiap bidang pekerjaan, tanpa adanya kepuasan kerja seseorang tidak akan bekerja seperti yang diharapkan, sehingga tujuan yang telah digariskan perusahaan tidak akan tercapai. Kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun kondisi dirinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan karyawan untuk memudahkannya dalam mencapai kepuasan kerja adalah dengan berperilaku asertif. Perilaku asertif adalah sikap di mana seseorang mampu bertindak sesuai dengan keinginannya, membela haknya dan tidak
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hubungan Kepuasan Kerja Karyawan dengan

Hubungan Kepuasan Kerja Karyawan dengan

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepuasan kerja karyawan dan kepuasan konsumen. Variabel tersebut dijabarkan kedalam 35 pernyataan yang merepresentasikan dari masing-masing variabel. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif. Analisis dilakukan dengan menggunakan korelasi Kendall Tau dengan tujuan untuk mengetahui besar hubungan kepuasan kerja karyawan dengan kepuasan konsumen pada sepuluh kafe di Daerah Buah Batu Kota Bandung pada tahun 2012 dengan jumlah responden sebanyak 100 orang untuk responden karyawan dan 100 orang untuk responden konsumen. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sensus, convenience sampling dan cluster sampling sebagai penentu lokasi kafe.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

MARDANI HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF

MARDANI HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF

Perilaku asertif dapat menjadi solusi terbaik bagi siswa untuk dapat membela dan mempertahankan dirinya dalam dunia baru dalam bentuk yang rileks, lebih menyenangkan, dan lebih sehat bagi perkembangan psikologis siswa karena dengan perilaku tersebut siswa dapat menjalin hubungan interpersonal yang baik dengan teman-teman barunya. Siswa yang memiliki perilaku asertif cenderung dapat bekerja sama, dapat berkembang untuk mencapai tujuan yang lebih baik, dan dapat meningkatkan harga diri (Hamoud, dkk., 2011). Selain itu menurut Korsgaard, dkk. (dalam Zengel, 2009), kemahiran dalam ketrampilan asertif dapat meningkatkan hubungan antar pribadi dan interaksi dengan orang lain.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan

Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan antara perilaku asertif dengan kepercayaan diri pada mahasiswa. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai korelasi antara skor variabel prilaku asertif dengan skor kepercayaan diri sebesar 0.573 dengan taraf signifikansi sebesar 0.000 (p<0.01). Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif yang sangat signifikan antara perilaku asertif dengan kepercayaan diri pada mahasiswa. Terjadinya hubungan antara perilaku asertif dengan kepercayaan diri pada penelitian ini dapat terjadi karena adanya keuntungan bila individu berprilaku asertif, yaitu individu tersebut dapat menyampaikan kebutuhannya untuk dimengerti orang lain tanpa ada pihak yang tersakiti, dapat meminimalkan konflik, serta dapat mengendalikan hidupnya dan hal ini berdampak pada rasa percaya diri (Muhammad, 2003). Menurut Tillman (dalam Jarboe, 1999), bahwa asertif dan kepercayaan diri saling berhubungan. Rendahnya kepercayaan diri merupakan efek dari interaksi dua arah. Perilaku asertif juga menyebarkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri bisa mencegah seseorang menjadi lemah dari tekanan. Rasa percaya diri didapatkan bila seseorang merasa senang karena dapat mengungkapkan maksudnya mengenai apa yang harus dilakukan pihak lain kepada dirinya. Perilaku asertif membutuhkan tindakan sopan, pantas, dan objektif. Dengan berperilaku asertif seseorang bisa mengetahui secara tepat apa yang diinginkan dan dirasakan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP  INSENTIF DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN   Hubungan Antara Persepsi Terhadap Insentif Dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP INSENTIF DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN Hubungan Antara Persepsi Terhadap Insentif Dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

Persepsi terhadap insentif salah satu komponen penting yang berperan dalam keberhasilan peningkatan kualitas produktivitas.Berdasarkan pemikiran yang telah penulis uraikan,maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan :1) Untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap insentif dengan kepuasan kerja karyawan. 2)Untuk mengetahui peran persepsi terhadap insentif dengan kepuasan kerja. 3)Untuk mengetahui tingkat insentif.4) Untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja.

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KOMPENSASI  DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN  Hubungan Antara Kompensasi Dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA KOMPENSASI DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN Hubungan Antara Kompensasi Dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

Permasalahan tentang kepuasan kerja kerap muncul di perusahaan (organisasi) dan menyebabkan munculnya berbagai persoalan yang dapat menghambat produktivitas kerja. Hal ini dapat menyebabkan kerugian bukan hanya pada karyawan tetapi juga pada perusahaan karena produksi tidak dapat berjalan dengan lancar Kepuasan Kerja akan tercapai apabila perusahaan memperhatikan kebutuhan yang diperlukan oleh karyawan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut diantaranya yaitu kompensasi.Bila kompensasi diberikan secara benar, karyawan akan lebih terpuaskan dan termotivasi untuk mencari sasaran dan tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui hubungan antara kompensasi dengan kepuasan kerja pada karyawan. Adapun hipotesis yang diajukan ada hubungan positif antara kompensasi dengan kepuasan kerja karyawan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA REMAJA

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA REMAJA

Dalam keseharian, hubungan dengan orang lain dapat memberikan kebahagiaan atau penderitaan, hal ini tergantung pada keberhasilan remaja dalam mengadakan dan membina hubungan yang akrab dengan orang lain. Dalam menjalin sebuah hubungan dengan orang lain, dibutuhkan perilaku yang asertif pada remaja sehingga dalam interaksi sosialnya ada timbal balik dan tidak merasa dirugikan. Perilaku asertif adalah perilaku individu dalam hubungan interpersonal yang menyangkut pengungkapan ekspresi emosi yang tepat, terbuka, perasaan dan pikiran, keinginan serta perilaku yang tegas dan jujur tanpa perasaan cemas dan khawatir dalam pengungkapan dirinya terhadap orang lain. Sedang interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis antara dua orang atau lebih individu, dimana hubungan tersebut saling mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dengan interaksi sosial pada remaja.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KOMPENSASI DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN  Hubungan Antara Persepsi Terhadap Kompensasi dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KOMPENSASI DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN Hubungan Antara Persepsi Terhadap Kompensasi dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

Setiap orang ingin mendapatkan pekerjaan karena dengan bekerja ia mengharapkan mendapat imbalan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Namun sering kali bahwa mendapatkan imbalan saja dirasakan belum cukup. Mereka menginginkan mendapatkan kepuasan dari pekerjaannya. Manusia dalam bekerja mendambakan suatu kepuasan kerja baik itu segi materil maupun dalam segi moril. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui, 1) Hubungan antara persepsi terhadap kompensasi dengan kepuasan kerja, 2) Untuk mengetahui tingkat persepsi terhadap kompensasi kerja. 3) Untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja. 4) Untuk mengetahui peran persepsi kompensasi terhadap kepuasan kerja. Peneliti menggunakan teknik Quota Sampling yaitu pengambilan sampel sudah ditentukan terlebih dahulu, yaitu dengan jumlah subjek 50. Metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Alat ukur yang digunakan adalah skala. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah Product Moment dari pearson. Berdasarkan hasil temuan penelitian menunjukan bahwa permasalahan dan hipotesis yang diajukan oleh peneliti dan diuji secara empiris didapatkan hasil bahwa hipotesis terbukti. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi antara persepsi terhadap kompensasi dan kepuasan kerja diperoleh nilai r xy sebesar 0,756 dengan signifikansi sebesar 0,000 (P < 0,01). Sehingga dapat
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KOMPENSASI DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN  Hubungan Antara Persepsi Terhadap Kompensasi dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KOMPENSASI DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN Hubungan Antara Persepsi Terhadap Kompensasi dengan Kepuasan Kerja Karyawan.

Setiap orang ingin mendapatkan pekerjaan karena dengan bekerja ia mengharapkan mendapat imbalan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Namun sering kali bahwa mendapatkan imbalan saja dirasakan belum cukup. Mereka menginginkan mendapatkan kepuasan dari pekerjaannya. Manusia dalam bekerja mendambakan suatu kepuasan kerja baik itu segi materil maupun dalam segi moril. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui, 1) Hubungan antara persepsi terhadap kompensasi dengan kepuasan kerja, 2) Untuk mengetahui tingkat persepsi terhadap kompensasi kerja. 3) Untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja. 4) Untuk mengetahui peran persepsi kompensasi terhadap kepuasan kerja. Peneliti menggunakan teknik Quota Sampling yaitu pengambilan sampel sudah ditentukan terlebih dahulu, yaitu dengan jumlah subjek 50. Metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Alat ukur yang digunakan adalah skala. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah Product Moment dari pearson. Berdasarkan hasil temuan penelitian menunjukan bahwa permasalahan dan hipotesis yang diajukan oleh peneliti dan diuji secara empiris didapatkan hasil bahwa hipotesis terbukti. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi antara persepsi terhadap kompensasi dan kepuasan kerja diperoleh nilai r xy sebesar 0,756 dengan signifikansi sebesar 0,000 (P < 0,01). Sehingga dapat
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DENGAN PERILAKU ASERTIF KARYAWAN

HUBUNGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DENGAN PERILAKU ASERTIF KARYAWAN

Perilaku asertif adalah suatu kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan cara yang jujur, langsung serta respek terhadap lingkungannya tanpa menyinggung perasaan orang lain sehingga ia merasa bebas untuk mengemukakan diri sendiri, mampu berkomunikasi dengan orang lain, mempunyai pandangan yang aktif tentang hidup, dan mampu bertindak dengan cara yang dihormatinya sendiri. Kepemimpinan transformasional adalah proses manajerial dimana

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJADENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN Hubungan Antara Kepuasan Kerja dengan Produktivitas Kerja Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJADENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN Hubungan Antara Kepuasan Kerja dengan Produktivitas Kerja Karyawan.

Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan tehnik korelasi Product Moment diperoleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,427 dengan p < 0,01 berarti ada hubungan positif anatara kepuasan kerja denngan produktivitas kerja karyawan. Kepuasan kerja karyawan atau subjek tergolong rendah, ditunjukan oleh rerata empiric sebesar 87,560 dan rerata hipotetik sebesar 102,5. Produktivitas kerja karyawan tergolong sedang ditunjukan oleh rata-rata produk yang dihasilkan oleh karyawan per 6 bulan. Peranan atau sumbangan efektif kepuasan kerja terhadap produktivitas sebesar 18,2 % ditunjukan oleh koefisien determinan (r 2 ) sebesar 0,182. Hal ini berarti masih ada terdapat 81,2 % factor
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan antara keadilan organisasi dan keterikatan karyawan dengan kepuasan kerja pada karyawan pt mekar armada jaya Magelang jurnal maria

Hubungan antara keadilan organisasi dan keterikatan karyawan dengan kepuasan kerja pada karyawan pt mekar armada jaya Magelang jurnal maria

Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual. Pertimbangan yang mempengaruhi puas atau tidaknya seseorang terhadap pekerjaan yang dimiliki dapat berbeda pada setiap individu, namun tetap ada beberapa faktor yang secara umum mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, salah satu yang menjadi penentu ialah persepsi keadilan yang dirasakan karyawan dalam organisasi. Hal ini dijelaskan oleh Adam (dalam Torrington, Hall, dan Taylor, 2002) melalui equity theory, yakni perbandingan input (usaha, pengalaman, keterampilan, dsb.) yang diberikan dengan output (gaji, pengakuan, promosi, dsb.) yang diperoleh karyawan. Penilaian karyawan terhadap perbandingan input-output ini apakah dirasakan adil atau tidak menjadi penentu kepuasan kerja.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN  INTENSI TURNOVER PADA KARYAWAN  Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Intensi Turnover Pada Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN INTENSI TURNOVER PADA KARYAWAN Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Intensi Turnover Pada Karyawan.

Turnover merupakan salah satu masalah penting yang dihadapi para pengusaha, karena memberikan dampak yang tidak menguntungkan bagi organisasi misalnya biaya rekrutmen dan pelatihan karyawan pengganti. Oleh karena itu untuk menekan angka turnover perusahaan harus mengetahui dan memahami apa yang terjadi pada karyawan sehingga mampu mengidentifikasi dini perilaku-perilaku karyawan yang mengarah pada keinginan berpindah sehingga dapat meminimalisir terjadinya perpindahan kerja karyawan. Adapun faktor yang mempengaruhi intensi turnover diantaranya adalah kepuasan kerja. Tujuan penelitian ini yaitu; 1) Mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dengan intensi turnover; 2) mengetahui tingkat kepuasan kerja karyawan; 3) mengetahui tingkat intensi turnover pada karyawan; 4) mengetahui sumbangan efektif kepuasan kerja terhadap intensi turnover. Hipotesis yang diajukan: Ada hubungan negatif antara kepuasan kerja dengan intensitas turnover pada karyawan. Semakin tinggi kepuasan kerja yang dimiliki karyawan maka semakin rendah intensi turnover. Sebaliknya,semakin rendah kepuasan kerja yang dimiliki karyawan maka semakin tinggi intensi turnover.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONTRAK PSIKOLOGIS DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN   Hubungan Antara Kontrak Psikologis Dengan Kepuasan Kerja Pada Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA KONTRAK PSIKOLOGIS DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN Hubungan Antara Kontrak Psikologis Dengan Kepuasan Kerja Pada Karyawan.

Teknik pengambilan sampel adalah yaitu purposive non random sampling, yaitu kelompok subyek yang dijadikan sampel penelitian diambil dengan non cara random atau didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu. Alat ukur yang digunakan untuk mengungkap variabel-variabel penelitian ada 2 macam alat ukur, yaitu : (1) skala kontrak psikologis, dan (2) skala kepuasan kerja. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan korelasi product moment. Berdasarkan hasil analisis maka diperoleh korelasi positif yang sangat signifikan antara kontrak psikologis dengan kepuasan kerja (r) sebesar 0,632 dengan p<0,01. Artinya bahwa semakin tinggi kontrak psikologis yang diterima karyawan maka semakin tinggi kepuasan kerja karyawan, dan sebaliknya, semakin rendah kontrak psikologis yang diterima karyawan maka semakin rendah pula kepuasan kerja karyawan. Jadi hipotesis yang peneliti ajukan diterima. Rerata empirik variabel kontrak psikologis sebesar 108,88 dengan rerata hipotetik sebesar 92,5. Jadi rerata empirik > rerata hipotetik yang berarti pada umumnya kontrak psikologis PT. Bintang Asahi Textile Industri, Sragen kategorisasinya tinggi. Kemudian Rerata empirik variabel kepuasan kerja yakni sebesar 108,00 dengan rerata hipotetik sebesar 87,5. Jadi rerata empirik > rerata hipotetik yang berarti pada umumnya subyek mempunyai kepuasan kerja yang tinggi. Peranan kontrak psikologis terhadap kepuasan kerja (SE) sebesar 40,0%, sehingga masih terdapat 60 % faktor lain selain kontrak psikologis yang mempengaruhi kepuasan kerja.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN LOYALITAS KARYAWAN PADA CV. ASATEX SURAKARTA  HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN LOYALITAS KARYAWAN PADA CV. ASATEX SURAKARTA.

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN LOYALITAS KARYAWAN PADA CV. ASATEX SURAKARTA HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN LOYALITAS KARYAWAN PADA CV. ASATEX SURAKARTA.

Loyalitas kerja perlu mendapat perhatian serius karena loyalitas merupakan suatu aspek psikologis yang mempunyai peranan besar dalam usaha pencapaian tujuan. Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi sangat dihargai perusahaan karena perusahaan sangat membutuhkan karyawan yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kerja dan perusahaan. Karyawan yang memiliki loyalitas sangat dibutuhkan untuk kelangsungan perusahaan dan dapat menentukan maju mundurnya perusahaan di masa mendatang. Salah satu faktor yang diasumsikan berpengaruh terhadap loyalitas karyawan adalah kepuasan kerja. Hipotesis yang diajukan yaitu ada hubungan positif antara kepuasan kerja dengan loyalitas karyawan, artinya semakin tinggi kepuasan kerja maka semakin tinggi pula loyalitas karyawan kepada perusahaan. Tujuan penelitian ini untuk (1) mengetahui hubungan kepuasan kerja dengan loyalitas karyawan; (2) mengetahui tingkat kepuasan kerja karyawan; (3) mengetahui tingkat loyalitas pada karyawan; (3) mengetahui sumbangan efektif kepuasan kerja terhadap loyalitas karyawan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI INTERPERSONAL DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN PT. P. G. KREBET BARU I BULULAWANG

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI INTERPERSONAL DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN PT. P. G. KREBET BARU I BULULAWANG

Dari beberapa penelitian yang telah dikemukakan di atas bahwasannya kepuasan kerja dipengaruhi oleh banyak hal seperti jaminan sosial (keselamatan dan kesehatan), konflik kerja, self esteem, etos kerja, perilaku asertif, efektivitas komunikasi, kompensasi, fungsi serikat, iklim organisasi dan lainnya. Pada kenyataannya kepuasan kerja juga akan menciptakan suatu hubungan yang dekat atau hubungan interpersonal dimana didalamnya membutuhkan adanya kompetensi interpersonal karena hal tersebut yang nantinya akan menentukan terjalinnya hubungan tersebut.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Hubungan Antara Budaya Kerja Dan Disiplin Kerja Dengan Kepuasan Kerja Pada Karyawan Bagian Umum Pemerintah Kota Tegal

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Hubungan Antara Budaya Kerja Dan Disiplin Kerja Dengan Kepuasan Kerja Pada Karyawan Bagian Umum Pemerintah Kota Tegal

di atas UMR lebih memilih untuk menetap pada pekerjaan tersebut. Hal ini menjadi contoh bahwa karyawan yang tidak mendapatkan kepuasan kerja ditempat kerjanya lebih memilih untuk mencari pekerjaan baru. Fenomena yang telah dipaparkan tersebut menunjukkan tentang pentingnya pemenuhan kepuasan kerja karyawan oleh perusahaan.

8 Baca lebih lajut

T1 802012074 Full text

T1 802012074 Full text

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitiaan yang dilakukan Gottman dan Krokoff dalam Uyun dan Kumaladewi, (2010) yang menyatakan bahwa kemampuan suami istri untuk berperilaku asertif, yaitu mengekspresikan rasa marah dan tidak setuju tanpa respon yang defensif, berkorelasi positif dengan kepuasan pernikahan suami istri. Berperilaku asertif sendiri dapat menciptakan hubungan yang harmonis dalam kehidupan rumah tangga. Suami istri memiliki kewajiban untuk saling menghormati hak dan pendapat pasangannya. Selain itu, dengan berperilaku asertif dapat menciptakan komunikasi dua arah antara pasangan suami istri untuk membantu menghindari masalah-masalah kecil menjadi besar. Komunikasi yang baik dan disampaikan secara asertif diharapkan dapat membantu pasangan suami istri untuk menyelesaikan masalah dengan mengekspresikan perasaan dan pemikiran tanpa harus menyinggung atau menyakiti pihak lain. Adanya perilaku asertif yang tinggi antara pasangan suami istri menjadikan kepuasan pernikahannya juga tinggi.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN LOYALITAS KARYAWAN PADA CV. ASATEX SURAKARTA.

PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN LOYALITAS KARYAWAN PADA CV. ASATEX SURAKARTA.

memiliki kepuasan tinggi dalam pekerjaannya memiliki unjuk kerja yang lebih baik dalam menjalankan tugasnya daripada mereka yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya. Karyawan yang memiliki kepuasan terhadap pekerjaannya akan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mangkir dan berhenti pada pekerjaannya. Oleh karena itu, usaha menciptakan kepuasan kerja karyawan oleh perusahaan diharapkan akan mengurangi perilaku-perilaku negatif yang dapat menghambat unjuk kerja karyawan dalam suatu perusahaan (Robbins, 2006)
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA KARYAWAN  Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan.

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA KARYAWAN Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Motivasi Berprestasi Pada Karyawan.

diantaranya adalah faktor psikologik, faktor social, faktor fisik, faktor financial, sifat pekerjaan seseorang, variasi dalam pekerjaan, situasi lingkungan kerja, hubungan antara rekan kerja, prestasi kerja, usia pekerja, tingkat jabatan, besar kecilnya organisasi, penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian, suasana dan lingkungan pekerjaan, peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan, sikap pimpinan dalam kepemimpinannya dan sikap pekerjaan monoton atau tidak.

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...