Top PDF Hubungan Patron Klien Diantara Masyarakat Nelayan di Desa Kangkunawe Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat Provinsi Sulawesi Tenggara

Hubungan Patron Klien Diantara Masyarakat Nelayan di Desa Kangkunawe Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat Provinsi Sulawesi Tenggara

Hubungan Patron Klien Diantara Masyarakat Nelayan di Desa Kangkunawe Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat Provinsi Sulawesi Tenggara

Geographically Indonesia is the state of the islands lib reached 70 percent of the total territory. Thus the condition of the sea being thus broad accompanied wealth of natural resources so big, in fact Indonesia has not been able to become a developed. One of the problem is business player fisheries which is still dominated by traditional fishermen. Community fishermen is part of one the Indonesian people which lives with the potential resources manage fisheries. In general, the fishermen still experienced technology limitations arrest operation so that the region has become limited, only around coastal waters. In addition, dependency on very high season and not every moment can fishermen at the sea, especially on the season the waves, that lasts more than one month. This research aims to understand how the patron client relationship between community fishermen in the village of Kangkunawe. This research methodology using qualitative approach, and the collection technique or data processing in this research namely by means of observation / observation, interview / the interview, and documentation. This research result showed that the relationship between boss with fishermen tolerably good because between boss with fishermen pulling helping and mutually beneficial, and between boss with fishermen never happened conflict.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pola hubungan patron-klien pada masyarakat nelayan di Desa Batu Belubang Kabupaten Bangka Tengah

Pola hubungan patron-klien pada masyarakat nelayan di Desa Batu Belubang Kabupaten Bangka Tengah

Masyarakat nelayan di Desa Batu Belubang dalam kehidupan sosial ekonomi mereka sangat bergantung kepada pemilik modal. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pola hubungan patron-klien pada Masyarakat Nelayan Bagan di Desa Batu Belubang, kemudian menganalisis hubungan patron-klien yang terjalin antara nelayan buruh dan pemilik modal pada Masyarakat Nelayan Bagan di Desa Batu Belubang.

15 Baca lebih lajut

Peran Kelembagaan Dalam Hubungan Patron Klien

Pada Masyarakat Nelayan

Peran Kelembagaan Dalam Hubungan Patron Klien Pada Masyarakat Nelayan

Terpuruknya masyarakat nelayan dalam hubungan Patron Klien kerap kali dijadikan alasan mengapa kehidupan ekonomi nelayan tetap tidak dapat keluar dari golongan keluarga miskin. Dominasi patron dalam hubungan patron klien apakah mendorong patron melakukan praktek monopoli dengan membeli harga murah terhadap hasil tangkapan klien. Hubungan kerja serta pembagian hasil antara juragan dan nelayan bukan hanya didasari pada aspek sosial semata melainkan juga didasari pada aspek ekonomi dan juga aspek ketergantungan, namun dengan posisi tawar menawar bagi klien yang tidak berimbang, Hasil observasi dan wawancara menggambarkan hal yang berbeda. Walaupun hubungan patron klien baik di Ketapang, Wonokerto maupun Tanjung Luar menunjukkan hubungan patron klien yang telah berlangsung lama. Namun dari keeratan hubungan patron klien pada masyarakat nelayan tidaklah kuat. Keberadaan patron yang cukup banyak disuatu daerah bisa menjadi alternatif bagi klien untuk berganti patron. Klien memiliki banyak alasan menetukan patronnya, seperti lokasi dimana kapal ditambat atau mendarat jugan disamping keeratan hubungan kekeluargaan antara patron dan klien serta antara klien sendiri. Namun hal utama yang menjadi ukuran bertahannya klien dengan patron adalah harga beli patron atau pembagian hasil. Seperti yang disampaikan nelayan berikut ini.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PATRON KLIEN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA BLANAKAN KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG.

HUBUNGAN PATRON KLIEN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA BLANAKAN KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG.

2. Pola hubungan Patron Klien antara juragan dengan Anak Buah Kapal (ABK) pada masyarakat nelayan di desa Blanakan membentuk pola sistemik yang saling berhubungan dan membutuhkan satu sama lainnya. Relasi yang terbentuk diantara keduanya akibat dari saling membantu satu sama lainnya, yakni kebutuhan melaut atau modal yang dipinjamkan oleh juragan untuk melaut seperti kebutuhan beras, persediaan makanan di kapal, bahan bakar/ solar untuk kapal, peralatan melaut dan lainnya. Hasil kuesioner menunjukan lebih besar dari setengahnya responden mempunyai pola hubungan yang sedang, karena di dalam pola hubungan yang terjadi banyak hal yang menggambarkan pola tersebut. Kategori sedang dalam pola hubungan ini adalah pertama, ada juragan yang ikut melaut mencari ikan tetapi ada juga juragan yang tidak ikut melaut. Kedua, ABK pada juragan tertentu tidak semuanya orang yang dikenal atau kerabat sendiri. Beberapa juragan memang memiliki ABK yang berasal dari keluarganya seperti anak dan kerabatnya sendiri, tetapi banyak juga juragan yang memiliki ABK dari daerah di luar Blanakan.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PATRON KLIEN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA BLANAKAN KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG - repository UPI S SOS 1001531 Title

HUBUNGAN PATRON KLIEN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA BLANAKAN KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG - repository UPI S SOS 1001531 Title

HUBUNGAN PATRON KLIEN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA BLANAKAN KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG SKRIPSI diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana P[r]

4 Baca lebih lajut

View of POLA PEMANFAATAN SUMBER DAYA, SUBSISTENSI DAN POLA HUBUNGAN PATRON-KLIEN MASYARAKAT NELAYAN DANAU TEMPE, SULAWESI SELATAN

View of POLA PEMANFAATAN SUMBER DAYA, SUBSISTENSI DAN POLA HUBUNGAN PATRON-KLIEN MASYARAKAT NELAYAN DANAU TEMPE, SULAWESI SELATAN

masyarakat nelayan di perairan umum daratan Danau Tempe, Sulawesi Selatan, di dua kecamatan yaitu Kecamatan Tempe dan Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo. Pengumpulan data dilakukan secara sengaja, dengan memilih informan dari masing-masing kategori nelayan kecil dan besar, untuk mendapatkan keterwakilan keduanya dalam memahami fenomena sosial patron-klien yang terjadi. Kategori nelayan didasarkan pada skala usaha yang ditandai dengan teknologi penangkapan, serta besaran modal yang digunakan dalam operasional kegiatan penangkapan. Nelayan kecil dicirikan dengan sifat kepemilikan alat tangkap yang relatif tidak menggunakan modal besar, dan menangkap ikan di wilayah “terbuka”. Sementara nelayan skala besar dicirikan dengan penggunaan alat tangkap yang menggunakan modal besar, penangkapan umumnya dilakukan di daerah khusus palawang dan bungka toddo yang diperoleh melalui lelang setiap tahunnya. Data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap informan dari setiap kategori nelayan besar dan nelayan kecil. Jumlah informan yang diwawancarai adalah 6 orang nelayan skala besar dan 15 orang nelayan skala kecil. Analisis data dilakukan dengan kerangka teoretis ekonomi moral Scott untuk menjelaskan fenomena patron-klien yang terjadi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PATRON-KLIEN DAN KETIMPANGAN SOSIAL

(Studi Kasus pada Masyarakat Nelayan di Desa Tamasaju

Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar)

PATRON-KLIEN DAN KETIMPANGAN SOSIAL (Studi Kasus pada Masyarakat Nelayan di Desa Tamasaju Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar)

Hubungan patron-klien yang terjadi pada masyarakat nelayan ini merupakan bentuk paling sering terjadi di Indonesia. Nelayan seringkali menjadi golongan yang terpinggirkan dan tidak menjadi prioritas pemerintah. Mereka adalah kaum yang terdesak pada keadaan, karena hanya punya kemampuan untuk melaut dan tidak punya pilihan lain dalam bekerja. Buruh nelayan bekerja pada seorang juragan itu agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sistem yang terjadi pada mereka ini ternyata bukan hanya relasi ekonomi saja, akan tetapi ada relasi sosial yang terjadi. Para juragan pun rela meminjamkan uang besar saat ada anggota keluarga dari buruh nelayan yang sakit atau butuh uang lebih. Pada akhirnya sistem patron-klien ini sudah menjadi relasi yang sangat mandarah daging dan sulit untuk dilepaskan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Strategi Adaptasi Nelayan Tradisional di Desa Sumare Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat

Strategi Adaptasi Nelayan Tradisional di Desa Sumare Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat

Masyarakat pesisir di desa Sumare sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, baik petambak maupun pembudidayaan perairan, kondisi ini senada dengan pengertian Ginkel, bahwa kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan (Ginkel, 2007; 52). Nelayan merupakan suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya bergantung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budidaya (Ginkel, 2007; 56). Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Nelayan adalah salah satu dari sekian komunitas di daerah Sumare yang teridentifikasi sebagai golongan miskin. Kehidupan masyarakat nelayan merupakan kehidupan yang secara nyata yang dapat dilakukan dengan cara atau melalui usaha yang dapat dipengaruhi oleh musim penangkapan ikan. Pada musim angin Barat yaitu mulai Bulan Oktober-April atau orang sering menyebutnya musim penghujan biasanya penangkapan ikan meningkat. Musim angin Timur yaitu mulai Bulan April-Oktober atau orang sering menyebutnya musim kemarau tingkat penghasilan nelayan minim. Kondisi alam yang tidak menunjang, terbatasnya modal dan tingkat pendidikan yang rendah sehingga mengakibatkan keadaan sosial ekonomi lemah.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KONDISI SOSIAL EKONOMI NELAYAN PANCING TONDA DI DESA KAMPO-KAMPO KECAMATAN BINONGKO KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

KONDISI SOSIAL EKONOMI NELAYAN PANCING TONDA DI DESA KAMPO-KAMPO KECAMATAN BINONGKO KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Berdasarkan jumlah pendapatan akhir maka dapat disimpulkan bahwa besarnya pendapatan nelayan dapat menutupi biaya-biaya pengeluaran. Pendapatan keluarga nelayan biasanya ditabung dan disimpan di Bank, maupun ikut arisan kelompok masyarakat, karena pendapatan akhir ini hanya pada waktu musim penangkapan sekitar lima bulan saja, yaitu dari bulan Mei hingga bulan September. Akan tetapi masih ada beberapa nelayan yang sering menghabiskan uang dengan berpesta pora, mabuk-mabukkan dan lain sebagainya. Mereka berpendapat apa yang diperoleh hari ini untuk hari ini, sedangkan hari esok nanti menangkap ikan lagi dan begitu seterusnya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PATRON KLIEN DALAM INDUSTRI KERAJINAN TENUN IKAT TROSO DI DESA TROSO KECAMATAN PECANGAAN KABUPATEN JEPARA

HUBUNGAN PATRON KLIEN DALAM INDUSTRI KERAJINAN TENUN IKAT TROSO DI DESA TROSO KECAMATAN PECANGAAN KABUPATEN JEPARA

Selama ia menjadi tengkulak/bakul ia mencari para juragan dan adapula yang juragan datang menawarkan hasil kerajinan tenun ikat troso. Selama menjalin hubungan kerja dengan tengkulak/bakul dilakukannya dengan baik, mengingat masih muda dan para juragan yang biasanya lebih tua dari dirinya maka ia sangat menghargai orang-orang yang mau bekerja menghasilkan kerajinan tenun ikat troso sebagai bentuk menjaga kelestarian keberadaan tenun ikat troso. Untuk bekerja dengan dirinya tidak ada kriteria khusus, tidak ada kontrak kerja, dan hal-hal yang mengikat. Hubungan tersebut dilakukannya dengan memberikan upat tepat waktu tidak menghambat asal barang sesuai keinginan bagus pengerjaannya. Hubunganpun berlanjut lebih dari sekedar hubungan ekonomi saja Mas Ali juga memberikan perhatian kepada juragannya ketika sakit, datang ketika hajatan bahkan ketika orang tua mas Ali punya hajat para juragannya datang memberikan sumbangan yang biasanya berupa gawan serta makanan yang dibutuhkan ketika hajatan berlangsung. Mas Ali juga memberikan THR ketika hari raya ia datang bersilaturrahmi kepada juragan yang lebih tua karena ia masih muda jadi yang masih muda datang ke yang lebih tua, ia tidak memandang jika dirinya adalah bos jadi harus dikunjungi namun ia masih memperhatikan unggah-ungguh dalam tata orang jawa di Desa. Hubungan timbal balikpun terjadi dimana seorang yang baik akan dibalas dengan kebaikan pula. Dalam istilah jawanya itu “ngelingi” ketika berbuat baik kepada orang maka orang itup un akan mengingat kebaikan kita.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Relasi Patron Klien Buruh Nelayan Dengan Toke Ikan Di Desa Pasie Kuala Ba’u Kabupaten Aceh Selatan

Relasi Patron Klien Buruh Nelayan Dengan Toke Ikan Di Desa Pasie Kuala Ba’u Kabupaten Aceh Selatan

Relasi patron klien merupakan suatu interaksi sosial masing-masing aktor melakukan hubungan timbal balik. Hubungan patron klien adalah hubungan antar dua orang yang sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental, di mana seseorang yang lebih tinggi sosial ekonominya (patron) menggunakan pengaruh dengan sumber daya yang dimilikinya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya (klien). Dalam hubungan buruh nelayan dengan toke ikan terjadinya hubungan timbal balik antara patron dengan klien. Toke sangat berperan penting pada usaha penangkapan ikan menunjukkan bahwa toke bertindak sebagai patron yang memiliki modal, kekuasaan, status, wewenang dan pengaruh terhadap buruh nelayan. Sedangkan buruh nelayan diposisikan sebagai klien yang menjadi bawahan dari patron. Pola hubungan patron klien ini merupakan individu atau kelompok yang tidak sederajat, klien kedudukannya lebih rendah sedangkan patron kedudukannya lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola relasi antara buruh nelayan dengan toke ikan terhadap kehidupan buruh nelayan, dan juga untuk mengetahui dampak pola relasi buruh nelayan dengan toke ikan terhadap buruh nelayan di Gampong Pasie Kuala Ba’u Kabupaten Aceh Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan patron klien buruh nelayan dengan toke ikan yang terdapat di Gampong Pasie Kuala Ba’u, terjadinya hubungan timbal balik antara patron dengan klien, artinya toke menanamkan jasa kepada buruh nelayan dengan menyediakan modal, memberikan alat tangkap yang lengkap seperti jaring, perahu, memberi pinjaman uang dan lainnya, karena buruh nelayan merasa “hutang budi”, maka buruh nelayan membalas jasanya dengan cara semua hasil tangkapan diserahkan kepada toke. harga ikan diambil kadang kala lebih rendah dari harga pasar dan tidak akan dijual ke toke yang lain. Harga tidak pernah ditentukan oleh buruh nelayan.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

Tinjauan Hukum Islam terhadap Penentuan Kuantitas Boka Adat Perkawinan Suku Muna di Kecamatan Katobu Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara

Tinjauan Hukum Islam terhadap Penentuan Kuantitas Boka Adat Perkawinan Suku Muna di Kecamatan Katobu Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara

Tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah maksudnya adalah adat boka tersebut sesuai dengan ketentuan syara’ dimana dalam adat boka tidak terdapat unsur memberatkan bagi pihak laki-laki untuk memenuhi persyaratan yang sudah ada. Tidak bertentangan dengan akal sehat maksudnya adalah adat boka ini masih termasuk dalam batas kewajaran yang harus dipenuhi oleh pihak mempelai laki-laki. Tidak bertentangan dengan undang-undang maksudnya adalah adat boka merupakan suatu adat atau tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang yang terus dipertahankan eksistensinya hingga saat ini. Sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 18B ayat (2) mengatakan “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENENTUAN KUANTITAS BOKA ADAT PERKAWINAN SUKU MUNA DI KECAMATAN KATOBU KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENENTUAN KUANTITAS BOKA ADAT PERKAWINAN SUKU MUNA DI KECAMATAN KATOBU KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

1. Bagi pemerintah, adat boka merupakan suatu tradisi yang menjadi ciri khas atau identitas suku Muna. Akan tetapi, tidak semua masyarakat suku Muna mengetahui hal tersebut. Maka pemerintah perlu melakukan sosialisasi mengenai hal ini agar masyarakat secara keseluruhan mengetahuinya. Banyak masyarakat Muna yang belum memahami dengan baik mengenai adat boka itu sendiri. Mereka hanya mengetahui dari orang tua mereka tanpa tahu perubahannya. Hal tersebut di dukung dengan didirikannya secara formal gedung Lembaga Adat Muna yang mempunyai struktur organisasinya pula. Selama ini Lembaga Adat Muna bertempat di rumah anak Raja Muna. Struktur organisasninya pun tidak tertata baik. Pemerintah sebaiknya segera mendirikan gedung Lembaga Adat Muna agar masyarakat tau dan bisa mengunjungi jika ada yang ingin dipertanyakan seputar kewenangan Lembaga Adat Muna. Jika ada pula mahasiswa/mahasiswi yang ingin meneliti tentang adat istiadat suku Muna, maka mereka akan lebih mudah untuk meneliti karena sudah ada gedung Lembaga Adat Muna. Sosialisasi pun bisa dilakukan di gedung tersebut dan dilakukan oleh para pengurus lembaga adat.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Pola Hubungan Patron- Klien pada Komunitas Nelayan di Kelurahan Malabro Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu

Pola Hubungan Patron- Klien pada Komunitas Nelayan di Kelurahan Malabro Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu

Berkaitan dengan hal di atas, hubungan patron-klien yang terjadi di daerah tersebut antara juragan dengan nelayan pemilik kapal. Yang dimaksud juragan dalam penelitian ini adalah pihak yang memasarkan hasil tangkapan dan memiliki status sosial yang lebih tinggi dari nelayan karena memiliki kekuasaan akan pasar yang lebih besar yakni memiliki jaringan pemasaran dibandingkan dengan nelayan, sedangkan yang dimaksud dengan nelayan pemilik kapal adalah pihak yang memilik kapal yang ikut serta melaut maupun yang tidak ikut melaut. Hubungan patron-klien tersebut terjadi disebabkan beberapa faktor, yaitu (1) jaringan pemasaran yang tidak dimiliki oleh nelayan pemilik kapal sehingga membuat mereka merasa tergantung kepada juragan dalam memasarkan hasil tangkapan dan (2) mata pencaharian sebagai nelayan sangat tergantung pada musin ikan dan alam meyebabkan meraka tidak memiliki pendapatan pasti sehingga dirasakan perlu sebuah jaminan untuk memenuhi kebutuhan hidup (konsumsi, kesehatan, dan pendidikan) ketika mengalami krisis ekonomi. Hubungan antara juragan atau nelayan pemilik kapal dengan ABK tidak menunjukkan adanya hubungan patron-klien. Hal ini disebabkan oleh ABK yang direkrut dapat berpindah kapal sewaktu-waktu (tidak permanen) sehingga juragan atau nelayan pemilik kapal merasa enggan memberikan sebuah perlindungan (jaminan) di luar kegiatan melaut.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PATRON KLIEN ANTARA MANDOR DAN PEMANEN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Studi Kasus di Desa Sopan Jaya Kecamatan Padang Laweh Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat.).

HUBUNGAN PATRON KLIEN ANTARA MANDOR DAN PEMANEN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Studi Kasus di Desa Sopan Jaya Kecamatan Padang Laweh Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat.).

xi Mandor dengan otoritas dan kedudukan yang dimiliki, menjadi lebih memungkinkan untuk menjalankan perannya sebagai pengawas, kemudahan yang dimilkinya dalam mengakses fasilitas yang ada di perusahaan telah menjadikan seorang patron yang menyediakan jasa yang dipergunakan oleh pemanen, seperti akses pelayanan kesehatan, akses izin menggarap perkebunan, yang diinginkan oleh pemanen untuk kebutuhan pangannya. Namun seluruh fasilitas tersebut tidaklah diberikan secara cuma-cuma. Akan tetapi dianggap sebagai sarana untuk memperkuat pengakuan akan kedudukannya sebagai patron yang kedudukannya lebih tinggi dari pada pemanen, dan disamping itu pula bantuan itu pula dianggap sebagai hutang budi yang tidak bisa ditagih secara tidak langsung. Kajian tersebut pernah dilakukan oleh Parsudi suparlan pada tahun 1974. Hasil penelitian tersebut dilanjutkan dan dibahas dalam seminar yang dilaksanakan oleh Kependudukan Universitas Gadjah Mada pada tahun 1985, hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa hubungan patron klien pada komunitas perkebunan berlangsung karena keberadaan para petani perkebunan sebagai lapisan sosial yang terendah dalam sistem komunitas masyarakat perkotaan, didukung pula oleh keberadaan para perkebunan tersebut yang tidak sah.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN DI DESA TATELI DUA KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA PROVINSI SULAWESI UTARA

KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN DI DESA TATELI DUA KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA PROVINSI SULAWESI UTARA

Kesehatan merupakan salah satu aspek sosial yang perlu diteliti bagi mereka yang berprofesi sebagai nelayan, di Desa Tateli Dua dari data 20 responden yang ada diketahui bahwa angka kesehatan penduduk terbilang baik, karena jarang mengalami kondisi kesehatan yang serius. Biasanya yang terjadi pada masyarakat nelayan yang dijadikan responden kebanyakanhanya mengalami sakit demam, saki lambung dan panas. Menurut masyarakat nelayan didesa ini, sakit yang diderita kebanyakan terjadi pada saat pulang melaut dan cuaca yang tidak bersahabat.Pada saat sakit panas atau demam biasanya mereka langsung ke Puskesmas terdekat untuk mengobati sakit yang diderita.Ada juga masyarakat nelayan yang mengobati sakitnya
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Struktur dan komposisi jenis mangrove Desa Bonea dan Kodiri, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara

Struktur dan komposisi jenis mangrove Desa Bonea dan Kodiri, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara

Istilah mangrove merujuk pada ekosistem lahan basah, dipengaruhi pasang surut di zona intertidal daerah tropis dan subtropis. Mangrove berasal dari kata “Mangue” Afrika Barat, Senegal, Gambia, dan Guinea. Abad ke-XV, bangsa Spanyol mengadopsi kata “Mangle” dan “Manglar” lalu menyebarkannya (Macintosh & Ashton, 2002). Mangrove (Inggris) merupakan derivasi kata Mangue dalam Portugal yakni komunitas tumbuhan, yang berarti hutan (Onrizal, 2008). Selain itu, mangrove juga merujuk pada komunitas jenis Rhyzopora (Hidayatullah & Pujiono, 2014). Dalam perkembangannya, istilah “mangrove” digunakan untuk menyebut jenis tumbuhan , dalam hal ini termasuk tumbuh di pinggiran vegetasi mangrove seperti Barringtonia dan Pes-caprae (Noor, et al., 1999). Lembaga Pangan Dunia (FAO) mengartikan mangrove sebagai vegetasi yang memiliki fungsi-fungsi sosial ekonomi dan lingkungan (ekologis) (Kustianti, 2011).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Struktur dan komposisi jenis mangrove Desa Bonea dan Kodiri, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara

Struktur dan komposisi jenis mangrove Desa Bonea dan Kodiri, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara

Pemanfaatan nilai ekonomi hasil mangrove secara tidak terkendali telah berdampak negatif terhadap kondisi fisik mangrove (Fauzi, 2004). Seiring pertambahan jumlah penduduk, intensitas eksploitasi mangrove ikut meningkat baik diambil kayu maupun organisme asosiasinya. Akibatnya mangrove di beberapa tempat mengalami kerusakan dan penurunan kondisi, luasan dan komposisi, seperti di daerah Pulau Tobea dan pesisir Lambiku (Rochmady, 2011). Di desa Wabintingi dan Labone Kabupaten Muna, pemanfaatan mangrove terkait langsung dengan aktivitas perikanan masyarakat dalam menopang kebutuhan ekonomi sehari-hari mereka. Seperti mengambil kayu, menangkap ikan, udang, kepiting, mengumpulkan kerang dan budidaya maupun berbagai kegiatan perikanan lainnya (Rakhfid & Rochmady, 2014). Selain itu, kerusakan mangrove terkait erat dengan perkembangan pembangunan beberapa tahun terakhir yang cenderung menempatkan wilayah pesisir sebagai daerah strategis. Dalam hal ini aktivitas perikanan, industri, permukiman, pariwisata (Fauzi, 2004).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Produksi Serasah Musiman pada Berbagai Spesies Mangrove di Pesisir Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara

Produksi Serasah Musiman pada Berbagai Spesies Mangrove di Pesisir Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara

Produksi serasah mangrove merupakan bagian penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi mangrove ke perairan. Salah satu faktor yang memengaruhi produksi serasah adalah frekuensi hujan yang merupakan representasi dari musim. Pesisir Kabupaten Muna Barat merupakan salah satu habitat ekosistem mangrove yang memiliki potensi produksi serasah. Penentuan biomass serasah diperoleh melalui nilai fraksi biomass terhadap bobot basah serasah. Hasil analisis fraksi biomass diperoleh bahwa untuk fraksi biomass serasah daun, spesies dengan nilai fraksi terbesar adalah Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Sonneratia alba dengan nilai masing-masing sebesar 31,59; 31,07; dan 30,96%, sedangkan yang terendah adalah Rhizophora stylosa, Bruguiera
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects