Top PDF Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dengan Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Paru BTA Positif Di Puskesmas Delanggu Kabupaten Klaten

Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dengan Kesembuhan Pasien Tuberkulosis  Paru BTA Positif Di Puskesmas Delanggu Kabupaten Klaten

Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dengan Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Paru BTA Positif Di Puskesmas Delanggu Kabupaten Klaten

Berdasarkan uji Chi Square bahwa nilai signifikansi (P) 0.006 dengan (α) = 5% maka P < 0.05, maka Ho ditolak artinya ada hubungan kepatuhan minum obat dengan kesembbuhan pasien tuberkulosis paru BTA positif di Puskesmas Delanggu Kabupaten Klaten. Kesembuhan pasien juga tergantung pada kepatuhan pasien minum obat. Kepatuhan minum obat pada pengobatan tuberkulosis sangat penting karena dengan minum obat secara teratur dalam jangka waktu 2 minggu, kuman TB sudah terpecah dan tidak potensial untuk menular. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika kepatuhan minum obat tinggi maka kesembuhan pasien TB paru BTA positif juga meningkat, sehingga risiko untuk terjadi kasus TB resisten obat juga dapat dicegah. Hal ini didukung oleh penelitian Puri (2010) pasien TB paru kasus baru dengan kinerja PMO baik lebih besar kemungkinan untuk dapat sembuh. Pada kelompok yang menerapkan strategi DOTS dengan pengawasan oleh PMO, angka putus berobat cenderung lebih rendah sehingga penderita TB paru memperoleh kesembuhan total.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Teladan Kota Medan

Analisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Teladan Kota Medan

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar (80%) menyerang paru- paru.Mycobacterium tuberculosis termasuk basil gram positif, berbentuk batang dengan panjang 1-10 mikron, lebar 0,2-0,6 mikron, dinding selnya mengandung komplek lipida glikolipida serta lilin (wax) yang sulit ditembus zat kimia (Kemenkes RI, 2014). Bakteri ini mempunyai sifat khusus, yakni tahan terhadap asam pada pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak secara mikroskopis sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA).Mycobacterium tuberculosis cepat mati dengan matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap dan lembab.Dalam jaringan tubuh, bakteri dapat dormant (tertidur sampai beberapa tahun).Tuberkulosis timbul berdasarkan kemampuannya untuk memperbanyak diri di dalam sel-sel fagosit (Depkes RI, 2007).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DALAM PROGRAM DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORTCOURSE (DOTS) DENGAN HASIL APUSAN BTA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TANGGUL KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DALAM PROGRAM DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORTCOURSE (DOTS) DENGAN HASIL APUSAN BTA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TANGGUL KABUPATEN JEMBER

Tuberulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis dengan gejala sangat bervariasi. Seluruh organ tubuh dapat terserang, tapi yang paling banyak adalah paru-paru. TB paru merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. TB di dunia banyak terjadi di negara-negara berkembang. Indonesia sebagai negara berkembang menempati urutan ke-4 kasus TB paru di dunia. Melihat kejadian TB yang semakin meningkat, pada awal 1990-an WHO dan IUATLD mengembangkan program DOTS untuk menanggulangi TB. Strategi DOTS meliputi 5 komponen, yaitu: dukungan politik, mikroskopis, pengawas minum obat (PMO), pencatatan dan pelaporan, serta paduan obat anti tuberkulosis (OAT). Keberhasilan pengobatan pasien TB dapat terjadi jika pasien teratur dan minum obat sesuai dengan dosisnya. Sebagai bentuk usaha dalam program DOTS, pengawasan pengobatan pasien TB diperlukan agar pasien TB teratur minum obat sehingga dapat mencapai kesembuhan dengan melihat dari evaluasi hasil pemeriksaan sputum BTA.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

View of KAITAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS BOBOTSARI KABUPATEN PURBALINGGA

View of KAITAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS BOBOTSARI KABUPATEN PURBALINGGA

Di Indonesia, Tuberkulosis paru merupakan penyebab kematian ke 2 setelah penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya. Menurut survai prevalensi TB paru tahun 2004, angka prevalensi TB paru BTA positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk, sehingga dihitung secara kasar setiap 100.000 penduduk indonesia terdapat 110 penderita TB paru dengan BTA paru dengan BTA positif (Depkes RI, 2008). Program pemberantasan Tuberkulosis Paru dilaksanakan dengan strategi Directly Observed Treatment, Shortcoure (DOTS) pertama kali
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENGAWAS MINUM OBAT DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU BTA POSITIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMBARAN II - repository perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENGAWAS MINUM OBAT DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU BTA POSITIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMBARAN II - repository perpustakaan

Hasil wawancara dan observasi dengan pengambilan sampel sebanyak 10 pasien TB Paru di Puskesmas Kembaran II Kabupaten Banyumas adalah kurangnya pengetahuan dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pasien TB Paru. Bahwa 20% pasien TB Paru diantaranya kurang pengetahuan tentang penyakit TB Paru dan mereka mengaku bahwa TB Paru adalah penyakit biasa, 40% pasien TB Paru diantaranya mengaku alasan kurang adanya dukungan keluarga terhadap proses pengobatan penyakit TB Paru dalam mengawasi dan mengingatkan minum obat pada pasien TB Paru, 40% pasien TB Paru diantaranya mengaku kepatuhan minum obat yang masih rendah sehingga memperburuk kondisi pasien TB Paru.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN BARU TUBERKULOSIS PARU (Studi Kasus di Puskesmas Mejobo Kabupaten Kudus)

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN BARU TUBERKULOSIS PARU (Studi Kasus di Puskesmas Mejobo Kabupaten Kudus)

Puskesmas Mejobo dipilih karena memiliki angka temuan kasus TB tinggi dan angka kesembuhannya rendah, sedangkan puskesmas peringkat 1 dan 2 CDR tertinggi di Kabupaten Kudus (Puskesmas Jepang dengan CDR 76,1% dan Puskesmas Ngemplak dengan CDR 74,8%) memiliki angka kesembuhan yang tinggi (Puskesmas Jepang dengan cure rate 92,3% dan Puskesmas Ngemplak dengan cure rate 100%) pada tahun 2014 sehingga tidak diteliti. Selain itu di wilayah kecamatan Mejobo tidak terdapat balai pengobatan khusus penyakit Paru (Dinkes Kabupaten Kudus, 2014). Berdasarkan catatan medik Puskesmas Mejobo, pasien baru TB Paru yang berkunjung di Poli TB/Kusta Puskesmas pada bulan Juli – Desember awal 2015 sebanyak 34 pasien baru tuberkulosis paru yang menjalani masa pengobatan rawat jalan.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

Hubungan Depresi dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas, Puskesmas Lubuk Buaya, dan Puskesmas Pegambiran Tahun 2018

Hubungan Depresi dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas, Puskesmas Lubuk Buaya, dan Puskesmas Pegambiran Tahun 2018

65. Susilayanti EY, Medison I, Erkadius. Profil penderita penyakit tuberkulosis paru BTA positif yang ditemukan di BP4 Lubuk Alung periode Januari 2012 - Desember 2012. Fak Kedokt Univ Andalas. 2014;3(2):151-155. http://jurnal.fk.unand.ac.id.

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DALAM PROGRAM DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORTCOURSE (DOTS) DENGAN HASIL APUSAN BTA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TANGGUL KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DALAM PROGRAM DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORTCOURSE (DOTS) DENGAN HASIL APUSAN BTA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TANGGUL KABUPATEN JEMBER

Tuberulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis dengan gejala sangat bervariasi. Seluruh organ tubuh dapat terserang, tapi yang paling banyak adalah paru-paru. TB paru merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. TB di dunia banyak terjadi di negara-negara berkembang. Indonesia sebagai negara berkembang menempati urutan ke-4 kasus TB paru di dunia. Melihat kejadian TB yang semakin meningkat, pada awal 1990-an WHO dan IUATLD mengembangkan program DOTS untuk menanggulangi TB. Strategi DOTS meliputi 5 komponen, yaitu: dukungan politik, mikroskopis, pengawas minum obat (PMO), pencatatan dan pelaporan, serta paduan obat anti tuberkulosis (OAT). Keberhasilan pengobatan pasien TB dapat terjadi jika pasien teratur dan minum obat sesuai dengan dosisnya. Sebagai bentuk usaha dalam program DOTS, pengawasan pengobatan pasien TB diperlukan agar pasien TB teratur minum obat sehingga dapat mencapai kesembuhan dengan melihat dari evaluasi hasil pemeriksaan sputum BTA.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Perbandingan Kualitas Pelayanan Puskesmas Kecamatan Koja dan Tarumajaya terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis

Perbandingan Kualitas Pelayanan Puskesmas Kecamatan Koja dan Tarumajaya terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis

Hasil wawancara pendahuluan oleh peneliti ke pemegang program TB di Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta Utara bahwa puskesmas kecamatan tersebut merupakan salah satu puskesmas yang memiliki angka kejadian TB yang paling besar di Jakarta Utara. Hal tersebut terlihat pada hasil laporan tahunan puskesmas pada tahun 2013 dengan gambaran angka kesembuhan masih dibawah 85% penemuan kasus TB paru dengan BTA (+) yang terobati sebanyak 1181 kasus baru dengan dinyatakan kesembuhan sebanyak 770 kasus atau sebesar 65,19% dan masih membutuh- kan gambaran kepatuhan pasien terhadap pelayanan yang selama ini sedang berjalan di puskesmas tersebut. Hal tersebut sejalan pada penelitian kami di puskesmas lain yaitu Puskesmas Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi yang
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENGAWAS MINUM OBAT DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU BTA POSITIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMBARAN II

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENGAWAS MINUM OBAT DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU BTA POSITIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMBARAN II

Latar Belakang: Penyakit tuberkulosis di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas melaporkan telah terjadi peningkatan CDR (Case Detection Rate) BTA positif dari 27/100.000 penduduk (tahun 2011) menjadi 36/100.000 penduduk (tahun 2012). Data Puskesmas Kembaran II penderita TB Paru tahun 2013 menunjukan 84 penderita, dan pada Bulan Januari – Oktober tahun 2014 sebanyak 110 penderita. Pentingnya Pengawas Minum Obat (PMO) dan dukungan keluarga dapat membantu keberhasilan pengobatan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Perbandingan Kualitas Pelayanan Puskesmas Kecamatan Koja dan Tarumajaya terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis

Perbandingan Kualitas Pelayanan Puskesmas Kecamatan Koja dan Tarumajaya terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis

Hasil wawancara pendahuluan oleh peneliti ke pemegang program TB di Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta Utara bahwa puskesmas kecamatan tersebut merupakan salah satu puskesmas yang memiliki angka kejadian TB yang paling besar di Jakarta Utara. Hal tersebut terlihat pada hasil laporan tahunan puskesmas pada tahun 2013 dengan gambaran angka kesembuhan masih dibawah 85% penemuan kasus TB paru dengan BTA (+) yang terobati sebanyak 1181 kasus baru dengan dinyatakan kesembuhan sebanyak 770 kasus atau sebesar 65,19% dan masih membutuh- kan gambaran kepatuhan pasien terhadap pelayanan yang selama ini sedang berjalan di puskesmas tersebut. Hal tersebut sejalan pada penelitian kami di puskesmas lain yaitu Puskesmas Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi yang
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARTA - DIGILI

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARTA - DIGILI

Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengantisipasi time managementyang baik sehingga tidak memakan waktu yang lama daam pengambilan data. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengontrol variabel lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan minum obat seperti jenis kelamin, pendidikandan perlu kiranya melakukan penelitian serupa di tempat lain dengan kondisi daerah dan puskesmas berbeda, serta sampel yang lebih luas agar penelitian tersebut lebih refresentatif dan lebih valid. DAFTAR PUSTAKA

10 Baca lebih lajut

SKRIPSI ANALISIS HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KONDISI RUMAH DENGAN TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF DI PUSKESMAS KUNTI KABUPATEN PONOROGO

SKRIPSI ANALISIS HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KONDISI RUMAH DENGAN TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF DI PUSKESMAS KUNTI KABUPATEN PONOROGO

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam program MDGs bersama HIV/AIDS dan malaria. Tuberkulosis di Ponorogo meningkat secara epidemiologis pada tahun 2013 dari tahun 2007. Lantai tanah, dinding kayu/bambu, dan rendahnya kebiasaan membuka jendela masih ditemukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan karakteristik individu dan kondisi rumah dengan TB paru BTA positif di wilayah Puskesmas Kunti Ponorogo.

18 Baca lebih lajut

Pengaruh Karakteristik Personal dan Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis Paru di Kota Tanjungbalai

Pengaruh Karakteristik Personal dan Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis Paru di Kota Tanjungbalai

Selanjutnya faktor perilaku di pengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu faktor- faktor predisposisi (predisposing factors), faktor-faktor pemungkin (enabling factors), dan faktor-faktor penguat (reinforcing factors). Faktor-faktor predisposisi mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya. Hal di atas dapat berkaitan dengan kepatuhan minum obat pada pasien. Sebagai contoh kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru, akan dipermudah jika pasien mengetahui manfaat yang dilakukan. Demikian juga, penerimaan perilaku baru atau adopsi melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran,dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting).
Baca lebih lanjut

168 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS RAWAT INAP PANJANG TAHUN 2015

HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS RAWAT INAP PANJANG TAHUN 2015

lainnya. Kuman yang bersarang di dalam paru akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang ini bisa terdapat di seluruh bagian jaringan paru. Bila menjalar sampai ke pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit, terjadi lomfodenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menajalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier. Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (TB sekunder). Mayoritas reinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun, diabetes, AIDS, malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, gagal ginjal (Amin & Bahar, 2009).
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS DAN KEPATUHAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU   Evaluasi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Dan Kepatuhan Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di RSUD Dr. Moewardi.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS DAN KEPATUHAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU Evaluasi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Dan Kepatuhan Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di RSUD Dr. Moewardi.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul “Evaluasi Penggunaan Obat Antituberkulosis dan Kepatuhan Pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Dr. Moewardi”.

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) DI PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG - Elib Repository

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) DI PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG - Elib Repository

Latar Belakang TB Paru adalah penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan. Pengobatan yang teratur pada pasien TB Paru dapat sembuh secara total, apabila pasien itu sendiri mau patuh dengan aturan-aturan tentang pengobatan TB Paru. Dukungan sosial yang utama berasal dari dukungan keluarga, karena dukungan keluarga memegang peranan penting dalam kehidupan penderita tuberkulosis berjuang untuk sembuh, berpikir ke depan, dan menjadikan hidupnya lebih bermakna. Tujuan mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada pasien Tuberkulosis paru (TB paru) di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien minum obat anti tuberkulosis paru di puskesmas X Surabaya Utara

Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien minum obat anti tuberkulosis paru di puskesmas X Surabaya Utara

Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan One Group Pretest Posttest. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang dianalisis secara inferensial untuk mengetahui tingkat kepatuhan dan pengetahuan pasien dalam pelayanan kesehatan menggunakan metode MMAS-8 dan Medication Knowledge. Populasi yang diambil adalah keseluruhan penderita Tuberkulosis paru yang sedang menjalankan pengobatan di Puskesmas “X” Wilayah Surabaya Utara sebanyak 30 pasien. Hasil penelitian uji statistik berdasarkan tingkat pengetahuan sesudah dilakukan penyuluhan informasi obat mengalami peningkatan, dari yang semula hanya 10 pasien (33,3%), meningkat menjadi 29 pasien (96,7%) serta tingkat kepatuhan juga mengalami peningkatan, dari yang semula hanya 4 pasien (13,3%), meningkat menjadi 21 pasien (70%).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS DAN KEPATUHAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU   Evaluasi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Dan Kepatuhan Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di RSUD Dr. Moewardi.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS DAN KEPATUHAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU Evaluasi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Dan Kepatuhan Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di RSUD Dr. Moewardi.

Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit menular yang sering terjadi dan dapat menyebabkan kematian, Indonesia merupakan penyumbang penyakit tuberkulosis terbesar nomor lima di dunia setelah Negara-negara berkembang lainnya. Peningkatan jumlah penderita tuberkulosis disebabkan oleh berbagai faktor, yakni kurangnya tingkat kepatuhan penderita untuk berobat dan meminum obat, timbulnya resistensi ganda, berkurangnya daya bakterisid obat yang ada, meningkatnya kasus HIV/AIDS dan krisis ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengobatan tuberkulosis dan untuk mengetahui kepatuhan dari pasien dalam penggunaan obat di RS X dengan standard Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis 2008.Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan analisis deskriptif analitik dan metode pengumpulan data secara retrospektif dan pengolahan data kuesioner kepatuhan pasien.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN BEROBAT PADA   Hubungan Antara Peran Pengawas Minum Obat (Pmo) Dengan Kepatuhan Kunjungan Berobat Pada Pasien Tuberculosis Paru (Bb Paru) Di Puskesmas Nogosari Boyolali.

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN BEROBAT PADA Hubungan Antara Peran Pengawas Minum Obat (Pmo) Dengan Kepatuhan Kunjungan Berobat Pada Pasien Tuberculosis Paru (Bb Paru) Di Puskesmas Nogosari Boyolali.

Judul Skripsi : HUBUNGAN ANTARA PERAN PENGAWAS MINUM OBAT (PMO) DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN BEROBAT PADA PASIEN TUBERCULOSIS PARU (TB PARU) DI PUSKESMAS NOGOSARI BOYOLALI Menyatakan dengan sebenarnya bahwa dalam penulisan skripsi yang saya buat ini, merupakan hasil karya saya sendiri, kecuali kutipan – kutipan dan ringkasan-ringkasan yang semuanya telah saya jelaskan sumbernya. Apabila dikemudian hari dan atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi apapun dari Fakultas Ilmu Kesehatan dan atau gelar dan ijazah yang diberikan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta batal saya terima.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects