Top PDF Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi Pada Anak Usia 3-5 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Tompaso Kecamatan Tompaso

Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi Pada Anak Usia 3-5 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Tompaso Kecamatan Tompaso

Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi Pada Anak Usia 3-5 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Tompaso Kecamatan Tompaso

Abstrak : Berdasarkan data yang diperoleh, masih banyak terdapat status gizi kurang pada anak usia 3-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Tompaso. Pola makan merupakan salah satu upaya perbaikan/peningkatan status gizi dengan memenuhi kebutuhan status gizi anak. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui hubungan pola makan dengan status gizi pada anak usia 3-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Tompaso. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian cross sectional yaitu suatu penelitian dimana pola makan (jenis makanan, frekuensi makan dan cara pemberian makanan) sebagai variabel independen dan status gizi sebagai variabel dependen diobservasi sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Populasi yang diambil adalah semua anak usia 3-5 tahun yang berdomisili diwilayah kerja Puskesmas Tompaso dengan sampel sebanyak 150 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan bantuan kuesioner dan perhitungan status gizi yang diukur menurut berat badan/umur (BB/U). Analisis data menggunakan program SPSS dengan menggunakan chi-square pada tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian yaitu 51 responden yang mempunyai pola makan baik dengan status gizi baik, 4 responden mempunyai pola makan baik dengan status gizi kurang, 8 responden mempunyai pola makan tidak baik dengan status gizi baik, dan 87 responden mempunyai pola makan tidak baik dengan status gizi kurang. Kesimpulan ada hubungan yang kuat antara pola makan dengan status gizi pada anak usia 3-5 tahun, dengan p (0,000).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Hubungan perilaku Orang Tua dalam Pemberian Makan dan Perilaku Makan Anak dengan Status Gizi Anak Usia 10-12 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Denpasar timur I.

Hubungan perilaku Orang Tua dalam Pemberian Makan dan Perilaku Makan Anak dengan Status Gizi Anak Usia 10-12 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Denpasar timur I.

Aktivitas yang dilakukan orang tua untuk memenuhi kebutuhan asupan nutrisi anaknya adalah: 68,3% orang tua cenderung memberikan contoh makanan sehat pada anak; 54,5% orang tua cenderung memantau asupan makanan pada anak, 84,9% orang tua cenderung menyediakan lingkungan dengan makanan sehat di rumah, 31,8% orang tua memberikan pengajaran tentang gizi.

1 Baca lebih lajut

Hubungan Perilaku Orang Tua dalam Pemberian Makan dan Perilaku Anak dengan Status Gizi Anak Usia 10-12 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Denpasar Timur 1.

Hubungan Perilaku Orang Tua dalam Pemberian Makan dan Perilaku Anak dengan Status Gizi Anak Usia 10-12 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Denpasar Timur 1.

Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode cluster sampling, sedangkan penentuan sampel total sampling yaitu anak yang berusia 10-12 tahun sebanyak 80 orang. Analisis data yang akan dilakukan yaitu analisis univariat, analisis bivariat dengan uji korelasi Spearman, dan analisis multivariat dengan uji Regresi Logistik. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Comprehensive Feeding Practices Questionnaire (CFPQ )3, The Dutch Eating Behaviour Questionnaire for children (DEBQ-C), dan Standar Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan umur sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi 4 .
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI POSYANDU DESA MANUNGGAL WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATULICIN 1 KECAMATAN KARANG BINTANG

HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI POSYANDU DESA MANUNGGAL WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATULICIN 1 KECAMATAN KARANG BINTANG

Di negara berkembang anak-anak umur 0 – 5 tahun merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi. Kelompok yang paling rawan di sini adalah periode paska penyapihan khususnya umur 1 – 3 tahun. Anak-anak biasanya menderita bermacam-macam infeksi serta berada dalam status gizi rendah. Secara umum terdapat 4 masalah gizi utama di Indonesia yakni KEP (Kurang Energi Protein), KVA (Kurang Vitamin A), Kurang Yodium (Gondok Endemik) dan Kurang Zat Besi (Anemia Gizi Besi). Akibat dari kurang gizi adalah kerentanan terhadap penyakit-penyakit infeksi dan dapat menyebabkan meningkatnya angka kematian (Suhardjo, 2009).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Hubungan antara stimulasi dan status gizi dengan Perkembangan anak usia 3-4 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Posyandu Taruko.

Hubungan antara stimulasi dan status gizi dengan Perkembangan anak usia 3-4 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Posyandu Taruko.

Makanan yang tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan, dan berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak. Keadaan kurang gizi akan menyebabkan jumlah sel otak menurun. Keadaan Kurang Energi dan Protein (KEP) yang terjadi pada usia sangat muda mempengaruhi perkembangan fisik dan kecerdasan. Hasil-hasil penelitian di dalam dan luar negeri menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara keadaan gizi dan kemampuan belajar. Menurut Husaini (1997 dikutip dari Latifah, 2008) Hasil penelitian di Jawa Barat menunjukkan bahwa kurang gizi berasosiasi dengan keterlambatan perkembangan motorik. Hasil penelitian di Meksiko dan Jamaika, diungkapkan bahwa rehabilitasi kemampuan kognitif memerlukan waktu lebih lama daripada rehabilitasi keadaan gizi. Kemampuan kognitif anak tidak segera menjadi baik meskipun status gizi berhasil diperbaiki. Orang tua harus mewaspadai dampak dari kekurangan gizi dengan memperhatikan pola makan anak. Selain gizi kebutuhan dasar yang juga harus dapat di penuhi untuk optimalisasi tumbuh kembang anak adalah komponen asah berupa stimulasi (Latifah, 2008).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan pola asuh makan dan status gizi dengan perkembangan anak usia 6-24 bulan di wilayah kerja puskesmas plus, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima JURNAL. JURNAL

Hubungan pola asuh makan dan status gizi dengan perkembangan anak usia 6-24 bulan di wilayah kerja puskesmas plus, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima JURNAL. JURNAL

Status gizi juga mempengaruhi perkembangan anak. Data Riskesdas (2013) menunjukan prevalensi kasus gizi kurang pada anak Indonesia adalah 19,6% sementara di NTB mencapai angka 25,7% (Kemenkes, 2013b). Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) di Kabupaten Bima pada 2013 menemukan prevalensi gizi kurang pada anak usia 0-59 bulan berdasarkan index berat badan menurut umur (BB/U) terdapat 10.866 (20,10%) dan 20% (2.000) di antaranya berusia 12-24 bulan (Dinkes Bima, 2014). UNICEF (1998) dalam Gemala et al (2009) menyatakan bahwa kekurangan gizi berdampak perkembangan fisik, mental, kecerdasan, kemampuan interaksi anak dengan lingkungan, sosialisasi dan kemandirian.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi Dan Ekonomi Dengan Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 2 Sampai 3 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Lima Kaum 1

Hubungan Status Gizi Dan Ekonomi Dengan Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 2 Sampai 3 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Lima Kaum 1

Oleh karena itu Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama untuk memenuhi asupan gizi untuk anaknya. Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan, pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggipenghasilansemakin besar pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya. Dan didapatkan rata-rata penghasilan perbulan adalah Rp 1.000.000- Rp 1.800.000.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Balita Usia 2- 5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Karangdowo Klaten.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Balita Usia 2- 5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Karangdowo Klaten.

Gizi merupakan salah satu masalah kesehatan di berbagai negara, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Masalah gizi ini diikuti dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, sehingga kebutuhan pangan sehari- hari tidak dapat terpenuhi. Namun masalah gizi bukan hanya berdampak pada kesehatan saja, akan tetapi berdapak pula pada pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dimasa yang akan datang. Sari (2011) Data prevalensi gizi buruk mengalami penurunan dari 9,7% di tahun 2005 menjadi 4,9% di tahun 2010 dan diharapkan pada tahun 2015, pravelensi gizi buruk dapat turun menjadi 3,6 %. Walaupun terjadi penurunan gizi buruk di Indonesia, tetapi masih akan ditemui sekitar 3,7 juta balita yang mengalami masalah gizi. Minarto (2011) Dalam upaya meningkatkan perbaikan gizi masyarakat di Indonesia dapat dilakukan melalui beberapa hal. Pertama, perubahan intervensi perilaku, seperti pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) secara tepat, memantau berat badan teratur, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kedua, suplementasi gizi mikro, mencakup asupan vitamin A, tablet Fe. Dan garam beryodium. Ketiga, tatalaksana gizi kurang/buruk pada ibu dan anak, meliputi pemulihan gizi anak gizi kurang, pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil. Upaya-upaya tersebut bertujuan dalam meningkatkan perbaikan status gizi serta upaya perbaikan sumber daya manusia (Sari, 2011)
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

PENDAHULUAN Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

Tahun 2011 didapatkan Puskesmas Kecamatan Karanganyar mempunyai angka kejadian tinggi yaitu sebesar 1570 di bandingkan puskesmas lain di daerah Kabupaten Karanganyar (Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, 2011). Data dari Puskesmas Kecamatan Karanganyar (2012), didapatkan dalam tiga bulan terakhir angka populasi diare di puskesmas tersebut pada balita usia 2-5 tahun sebanyak 60 anak.

4 Baca lebih lajut

Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Status Gizi Anak dengan Perkembangan Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Pinang Tahun 2015

Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Status Gizi Anak dengan Perkembangan Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Pinang Tahun 2015

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2014) terhadap 83 orang tua yang memiliki anak usia 1- 3 tahun, di dapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola asuh orang tua dengan perkembagan anak balita denangan diperolehnya p-Value 0,00 < 0,05. Pola asuh atau mengasuh anak adalah semua aktivitas orang tua yang berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan otak. Apabila pola asuh orang tua yang diberikan orang tua kepada anak salah maka akan berdampak pada kepribadian dan perkembangan anak itu sendiri (musaberi, 2007).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN LAMA KESAKITAN ISPA DAN DIARE DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA  DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS  Hubungan Lama Kesakitan Ispa Dan Diare Dengan Status Gizi Anak Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Polokarto Sukoharjo.

HUBUNGAN LAMA KESAKITAN ISPA DAN DIARE DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS Hubungan Lama Kesakitan Ispa Dan Diare Dengan Status Gizi Anak Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Polokarto Sukoharjo.

Latar belakang: Pada masa emas anak balita, perhatian terhadap status gizinya harus menjadi prioritas karena kejadian kurang gizi akan berpengaruh pada kualitas tumbuh kembang anak. Infeksi merupakan salah satu faktor langsung yang mempengaruhi status gizi balita. Tujuan: Mengetahui hubungan lama kesakitan ISPA dan diare dengan status gizi anak balita di wilayah kerja Puskesmas Polokarto Sukoharjo. Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek yang digunakan adalah anak balita usia 1-5 tahun berjumlah 98 responden. Pengambilan data dengan cara proportional random sampling . Data lama kesakitan ISPA dan diare diperoleh dengan pengisian kuesioner dan status gizi diperoleh dari pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Sebanyak 59,2% anak balita tidak mengalami ISPA dan 40.8% mengalami ISPA dengan rata-rata lama hari sakit sebesar 2,5 hari. Sebanyak 83,7% anak balita tidak mengalami diare dan 16,3% mengalami diare dengan rata-rata hari sakit sebesar 0,47 hari. Mayoritas balita memiliki status gizi baik (74,5%) dengan rata-rata nilai z-score sebesar -1.22. Hasil uji rank spearman untuk hubungan lama kesakitan ISPA dengan status gizi menunjukkan nilai p = 0.315. Hasil uji rank spearman untuk hubungan lama kesakitan diare dengan status gizi menunjukkan nilai p = 0.559. Kesimpulan: Tidak ada hubungan lama kesakitan ISPA dan diare dengan status gizi anak balita di wilayah kerja Puskesmas Polokarto Sukoharjo.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

DAFTAR PUSTAKA Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

Sukmawati & Ayu, S. D. (2010). Hubungan Status Gizi, Berat Badan Lahir (BBL), Imunisasi Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tunikamaseang Kabupaten Maros. Media Gizi Pangan Vol. X. Edisi 2. Juli - Desember Sulistyoningsih, H., (2011). Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta:

6 Baca lebih lajut

(ABSTRAK) HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN KELUARGA, PENGETAHUAN GIZI IBU, DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2010.

(ABSTRAK) HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN KELUARGA, PENGETAHUAN GIZI IBU, DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2010.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa variabel yang berhubungan dengan status gizi balita adalah pendapatan keluarga (p value = 0,001, OR = 6,541, CI=3,238-12,850). Pengetahuan gizi ibu (p value = 0,001, OR = 6,483, CI=3,207- 13,106). dan pola makan (p value = 0,001, OR = 9,905, CI= 5,150-19,050).

3 Baca lebih lajut

Gambaran Pola Makan Dan Status Gizi Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Buhit Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2014

Gambaran Pola Makan Dan Status Gizi Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Buhit Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2014

Tujuan penatalaksanaan gizi pada wanita hamil adalah untuk mencapai status gizi yang optimal sehingga ibu menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan bayi dengan optensi fisik dan mental yang baik. Bayi yang akan dilahirkan dan perjalanan suatu penyakit pada ibu hamil perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Sehingga mengantipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan maka perlu adanya status diit dan nutrisi pada ibu hamil. Apabila didalam masa awal kehamilan terjadi malnutrisi maka akan sangat memperngaruhi perkembangan dan kapasitas embrio untuk mempertahankan hidupnya, dan nutrisi yang buruk pada masa kehamilan lanjutan akan mempengaruhi janin. Sedang pertumbuhan seorang anak sangat dipengaruhi oleh banyak hal yaitu makanan, lingkungan dan juga keturunan. Usia kehamilan sangat menentukan kebutuhan gizi yang akan diperlukan. Apabila sedikit saja dari kebutuhan gizi tersebut tidak tercukupi dengan baik, maka anak akan menyebabkan
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA USIA 1-3 TAHUN DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEKARAN KOTA SEMARANG

HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA USIA 1-3 TAHUN DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEKARAN KOTA SEMARANG

Dari studi awal yang dilakukan pada bulan Maret tahun 2011 di Posyandu wilayah Puskesmas Sekaran, terhadap 20 responden mengenai pola pemberian makan didapatkan hasil yaitu 9 responden menyatakan memberikan ASI eksklusif, 7 responden memberikan MP-ASI dan susu formula sebelum usia 6 bulan, dan 4 responden menyatakan memberikan susu formula. Status gizi kurus sekali didapat 4 balita (20%), 6 balita (30%) dengan status gizi gemuk, 8 balita (40%) dengan status gizi baik atau normal, dan 2 balita (10%) dengan status gizi kurus. Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian tentang “Hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada balita usia 1-3 tahun di Posyandu Wilayah Puskesmas Sekaran Kota Semarang”.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PERKEMBANGAN BALITA USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JETIS KOTA YOGYAKARTA

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PERKEMBANGAN BALITA USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JETIS KOTA YOGYAKARTA

Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) (2013), prevalensi gizi kurang pada balita (BB/U≤ 2SD) memberikan gambaran yang fluktuatif dari 17,9% (2010) meningkat menjadi 19,6% (2013). Pada 2010 dan 2013 terlihat adanya kecenderungan bertambahnya prevelensi anak balita pendek-kurus (5,3%), bertambahnya anak balita pendek-normal (2,1%) dan normal- gemuk (0,3%) dari tahun 2010. Di antara 33 provinsi, terdapat 2 provinsi yang termasuk kategori prevalensi gizi buruk sangat tinggi, yaitu Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sementara untuk mencapai sasaran MDGs 2015 yakni 15,5 persen, angka prevalensi gizi buruk secara nasional harus diturunkan sebesar 4,1 persen.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hubungan Pola asuh makan dan Status gizi dengan Perkembangan anak usia 6-24 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Plus, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima.

Hubungan Pola asuh makan dan Status gizi dengan Perkembangan anak usia 6-24 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Plus, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima.

Anak merupakan dambaan setiap keluarga. Selain itu setiap kelurga juga mengharapkan anaknya kelak tumbuh dan berkembang secara optimal (sehat fisik, mental/kognitif, dan sosial). Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi sejak konsepsi dan terus berlangsung hingga dewasa. Dalam proses mencapai dewasa inilah anak harus melalui berbagai tahap tumbuh kembang (Soetjiningsih, 2014). Masa anak di bawah lima tahun merupakan periode penting dalam tumbuh kembang anak karena pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya (Gunawan et al , 2011).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEWON 1 BANTUL

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEWON 1 BANTUL

konsumsi makanan merupakan penyebab langsung dari kejadian gizi kurang. Hal ini disebabkan karena konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai kebutuhan, bersih dan aman akan berakibat terhadap status gizi balita. Faktor penyebab tidak langsung yaitu pengetahuan ibu, pola pengasuhan anak dan riwayat pemberian ASI ekslusif. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) juga merupakan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kejadian gizi kurang. Hal ini dikarenakan bayi yang mengalami BBLR akan mengalami komplikasi penyakit karena kurang matangnya organ, menyebabkan gangguan gizi saat balita (Mustapa, 2013).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

 HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS  Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

Background: Each year, diarrhea becomes one of disease causing malnutrition and mortality for children. It caused growth and developmental disturbances among children. Globally, there are 2 billions of diarrhea cases with mortality rate of 1.5 milion cases per year. In developing countries, children under 3 years old experienced 3 diarrhea episodes per year. Based on household health survey, mortality and health survey, it was found that diarrhea becomes a main cause of young children mortalities in Indonesia.

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects