Top PDF Hubungan Antara Persepsi Terhadap Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Dengan Intensi Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Dengan Intensi Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Dengan Intensi Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja

memberikan pengaruh positif pada perkembangan kognitif, emosional dan sosial anak. Selain itu, ayah yang kurang terlibat dalam pengasuhan juga akan berdampak negatif pada perkembangan anak. Berdasarkan hasil penelitian Mancini (2010) remaja perempuan dengan figur ayah yang tidak stabil cenderung mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, harga diri rendah, drop-out dari sekolah dan perguruan tinggi, kemiskinan, perceraian dan perilaku seks bebas. Selain itu, ketidakhadiran ayah merupakan faktor resiko terjadinya aktivitas seksual dini dan kehamilan pada remaja perempuan (Ellis dkk, 2003). Blocker (2014) menemukan bahwa terdapat hubungan antara keterlibatan ayah dengan usia pertama kali remaja laki-laki melakukan hubungan seksual. Semakin tinggi keterlibatan ayah maka semakin tua usia remaja laki-laki melakukan hubungan seksual pertama kali.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN PERNIKAHAN DENGAN KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK USIA REMAJA.

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN PERNIKAHAN DENGAN KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK USIA REMAJA.

Dari cuplikan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa seorang ayah sebagian besar tentu ikut dalam pengasuhan anaknya. Terutama dalam hal pendidikan dan kedisiplinan. Selain itu, anak dianggap sebagai sumber rezeki. Seorang suami merasa puas dengan pernikahan ketika mereka telah dikaruniai anak yang kemudian mereka didik agar menjadi anak yang sholeh yang bisa mendoakan kedua orang tuanya. Dari kedua responden dapat disimpulkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan remaja putra maupun putri tidak menunjukkan perbedaan jauh, hanya saja remaja perempuan lebih banyak membutuhkan perhatian karena cenderung rawan dengan pergaulan saat ini. Kedua responden juga menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan memiliki hubungan yang positif terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia remaja.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN DENGAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA REMAJA AKHIR

HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN DENGAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA REMAJA AKHIR

Persepsi terhadap peran ayah sangat dibutuhkan oleh seorang anak. Persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi, diorganisasi, dan diiterpretasikan (Sutisna, 2002 dalam Gusti, 2010). Peran ayah dapat dipersepsikan berbeda oleh masing-masing anak. Ketika ayah menjalankan perannya maka anak- anaknya kemudian menafsirkan segala yang dilakukan oleh ayah mereka. Berdasarkan hasil penelitian di AS terhadap 15.000 remaja sebagai sampelnya menunjukkan jika peran ayah dalam pendidikan anak berkurang maka akan menunjukkan dampak negatif yang signifikan seperti jumlah anak putri belasan tahun hamil tanpa nikah, kriminalitas yang dilakukan anak-anak dan muncul patologi psikososial (Slameto, 2002).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK  PADA KELUARGA JAWA BERDASARKAN PANDANGAN REMAJA  Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Anak Pada Keluarga Jawa Berdasarkan Pandangan Remaja.

KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK PADA KELUARGA JAWA BERDASARKAN PANDANGAN REMAJA Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Anak Pada Keluarga Jawa Berdasarkan Pandangan Remaja.

Remaja perlu dididik kritis dan didorong membuat keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Emosi positif antara anak dan orangtua juga perlu dibangun sehingga remaja yang bermasalah akan dapat diarahkan dengan baik. Hubungan dengan orangtua berpengaruh pada cara remaja menghadapi situasi- situasi yang berpotensi menyebabkan stress (Geldard & Geldard, 2011).

21 Baca lebih lajut

KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK  PADA KELUARGA JAWA BERDASARKAN PANDANGAN REMAJA  Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Anak Pada Keluarga Jawa Berdasarkan Pandangan Remaja.

KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK PADA KELUARGA JAWA BERDASARKAN PANDANGAN REMAJA Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Anak Pada Keluarga Jawa Berdasarkan Pandangan Remaja.

Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak pada keluarga Jawa. Metode kualitatif digunakan dengan tujuan memperoleh pemahaman menyeluruh tentang fenomena keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara. Adapun kriteria yang dipilih untuk informan utama adalah: (1) remaja yang berusia 12-18 tahun, (2) tinggal di wilayah Surakarta dan sekitarnya, serta (3) menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. Ayah akan ditempatkan pada informan pendukung yang akan memberikan informasi gambaran pengasuhannya terhadap informan utama. Kesimpulan yang diperoleh mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak pada keluarga Jawa berdasarkan pandangan remaja adalah sebagai berikut: (1) Pengasuhan anak yang dilakukan sangat dipengaruhi oleh hubungan komunikasi ayah-anak yang terjalin serta dipilih ayah berdasarkan pola efektif yang diyakini dan pengalaman pengasuhan yang pernah diterima sebelumnya., (2)Pola komunikasi, kedekatan, dan pemahaman ayah terhadap anak mempengaruhi bentuk keterlibatan ayah dalam melakukan transfer nilai dalam keseharian dalam rangka mendampingi remaja mencapai perkembangan yang optimal. Pada penelitian ini juga diperoleh temuan gaya pengasuhan tarik ulur, dimana dimensi kontrol dan emosional diterapkan ayah secara variatif sesuai lageyan (body language) anak.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan determinasi diri pada siswa MAN

Hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan determinasi diri pada siswa MAN

Haque, E. A., & Rahmasari, D. (2012). Hubungan Antara Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Dan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Prososial Pada Remaja. Jurnal Psikologi Universitas Negeri Surabaya. Vol. 7 No. 12 Hurlock, E. B. (1997). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

123 Baca lebih lajut

Persepsi Lurah Tentang Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak Usia Dini

Persepsi Lurah Tentang Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak Usia Dini

Namun, keempat partisipan juga menjelaskan, masih ada ayah tertentu di kota Kupang ini yang kurang menyadari pentingnya terlibat dalam pengasuhan. Penyebabnya, karena terlalu tenggelam dalam kesibukan kerja, atau kurangnya pengetahuan dan kesadaran seperti yang dikemukakan EY dan YS atau seperti yang dikemukakan oleh YH dan BS, kadang kala ayah tidak dapat terlibat dalam pengasuhan karena orangtua yang memutuskan untuk berpisah sehingga ibu saja yang mengurus anak/ ayah saja yang menjadi orang tua tunggal. Temuan ini sesuai dengan pendapat Shapiro (dalam Abdullah, 2009) yang menjelaskan tentang faktor yang mempengaruhi keterlibatan ayah di antaranya (1) tingkat keyakinan ayah untuk terlibat; (2) kemauan dan keinginan ibu untuk berbagi dalam membesarkan anak; (3) hubungan orang tua merupakan faktor terpenting dalam membesarkan anak; (4) faktor ekonomi; (5) aspirasi karier dan keluarga; (6) pekerjaan istri di luar rumah; (7) tersedianya bantuan tambahan; (8) status hukum seorang ayah, dimana akses para ayah yang tidak memiliki hak asuh akan menjadi sangat terbatas; (9) nilai pribadi seorang ayah; dan (10) sejarah pribadi seorang ayah.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan menurut remaja perempuan perokok.

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan menurut remaja perempuan perokok.

Frekuensi kehadiran ayah yang tergolong minim pada responden pertama dan kedua membuat mereka memiliki sikap tertentu terhadap ayah antara lain menjadi tertutup dan cenderung tidak patuh kepada ayah. Pada responden pertama, sikapnya yang tertutup muncul karena adanya ketakutan akan penolakan dari ayah, sedangkan responden kedua merasa tidak penting untuk terbuka pada ayahnya yang tidak peduli. Berbeda dengan repsonden ketiga, dimana ia menjadi tertutup kepada ayahnya karena sikap ayah yang sangat otoriter dan mengekang. Sikap tertutup ketiga responden ini sesuai dengan pernyataan yang mengungkapkan bahwa hubungan yang negatif dengan orangtua membuat anak-anak muda kurang mampu berbagi pendapat akan isu-isu sosial yang sedang dialami dan lebih menghargai persetujuan (Offer, Ostrov & Howard, 1989 dalam Papalia).
Baca lebih lanjut

129 Baca lebih lajut

Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Jarak Jauh Remaja

Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Jarak Jauh Remaja

Sebab itu peran ayah begitu penting, jika ayah tidak berfungsi dengan baik dalam pola asuh anak, maka akan tercipta beberapa dampak negatif misalnya menurut berbagai penelitian dan teori (dalam Elia, 2000) Pertama , dampak terhadap identitas dan peran seksual anak. Bagi anak laki-laki, hubungan yang dekat dengan ibu dikombinasikan dengan hubungan yang renggang dengan ayah akan menyebabkan terjadinya gangguan identitas gender, kurangnya model kelelakian dapat menyebabkan identifikasi anak laki-laki lebih kuat kepada figur kewanitaan. Terlebih bila sang ayah menolak atau kurang peduli dalam mengasuh anak. Pada anak perempuan, ketidakpedulian ayah terhadap anak perempuannya dapat menyebabkan gangguan seksual atau kriminalitas. Kedua, dampak gangguan psikologis saat masa
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG VIRGINITAS DENGAN INTENSI MELAKUKAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWI - Unika Repository

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG VIRGINITAS DENGAN INTENSI MELAKUKAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWI - Unika Repository

anda mulai mencumbu anda sehingga anda terangsang dan pacar anda mengajak untuk berhubungan seksual saat itu juga di dalam mobil. Dalam kondisi yang seperti ini, seberapa besar niat anda untuk melakukan hubungan seks dengan pacar anda agar dia tidak kecewa? 10. Ketika anda sedang berduaan

29 Baca lebih lajut

Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi dan Intensi Melakukan Hubungan Seksual Pranikah pada Remaja

Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi dan Intensi Melakukan Hubungan Seksual Pranikah pada Remaja

Materi kesehatan reproduksi ini disampaikan dengan metode ceramah dan diskusi. Hal ini dilakukan karena pemberian informasi kesehatan reproduksi melalui metode ceramah saja hasilnya kurang efektif (Sahabat Remaja, 1997). Oleh karena itu metode ceramah harus diikuti dengan metode diskusi agar terjadi dialog interaktif antara narasumber dan remaja, sehingga remaja dapat meunyampaikan pendapatnya dan bertanya mengenai apa yang ingin diketahui tentang masalah kesehatan reproduksi. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Helmi dan Paramastri (1998) yang menyatakan bahwa metode ceramah relatif kurang melibatkan kebutuhan untuk mencerna informasi, sedangkan metode diskusi akan lebih memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan pengetahuan perilaku seksual yang sehat karena melibatkan kualitas argumentasi yang lebih intens.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Sikap remaja terhadap seks sebagai mediator dalam hubungan komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja.

Sikap remaja terhadap seks sebagai mediator dalam hubungan komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sikap remaja terhadap seks merupakan variabel yang dapat memediator hubungan antara komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja. Dalam penelitian ini, terdapat tiga hipotesis minor, yaitu komunikasi seksual dalam keluarga memiliki hubungan yang negatif dengan perilaku seksual pranikah, komunikasi seksual dalam keluarga memiliki hubungan yang negatif dengan sikap remaja terhadap seks, dan sikap remaja terhadap seks memiliki hubungan yang positif dengan perilaku seksual pranikah. Selain tiga hipotesis minor tersebut, terdapat satu hipotesis mayor. Hipotesis mayor tersebut adalah hubungan antara komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah dimediasi oleh sikap remaja terhadap seks. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 339 orang remaja yang berusia 19 sampai 24 tahun dan belum menikah. Subjek dipilih dengan menggunakan convenience sampling. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan tiga skala, yaitu skala perilaku seksual pranikah dengan reliabilitas sebesar 0,927, skala komunikasi seksual dalam keluarga dengan sebesar reliabilitas 0,924, dan skala sikap terhadap seks dengan reliabilitas sebesar 0,971. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode regresi linear sederhana dan regresi berganda, serta menggunakan causal step analysis untuk melihat efek mediasi dari variabel mediator. Hasil uji hipotesis menunjukan bahwa nilai standardized coefficient (β) untuk komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah sebesar -0,203, untuk komunikasi seksual dalam keluarga dan sikap remaja seksual sebesar -0,178, serta untuk sikap remaja terhadap seks dan perilaku seksual pranikah sebesar 0,603. Hasil causal steps analysis menunjukkan bahwa koefisien regresi pada jalur τ lebih kecil dibandingkan koefiesien regresi pada jalur τ’ dan dengan nilai signifikansi yang tetap signifikan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sikap remaja terhadap seks dapat memediasi hubungan antara komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja dengan jenis mediasi partial mediation.
Baca lebih lanjut

162 Baca lebih lajut

Sikap remaja terhadap seks sebagai mediator dalam hubungan komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja

Sikap remaja terhadap seks sebagai mediator dalam hubungan komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja

Selain itu, komunikasi antarpribadi juga dianggap secara cara yang paling ampuh dalam mengubah sikap dan perilaku seseorang. Sebagai komunikator, orangtua kerap memberikan pesan-pesan dan informasi yang dapat mengubah sikap dan perilaku anaknya. (Ramadhani, 2013). Melalui proses komunikasi anak mengembangkan pola kognisi, pengetahuan, dan sikap terhadap dunia luar (Moitra & Mukherje, 2012). Menurut Novilla, Barnes, De La Cruz, Williams, dan Rogers (2006, dalam Turnbull, 2012), orangtua mampu mempengaruhi sikap anak-anak mereka dengan membentuk keyakinan, serta nilai-nilai tentang identitas, hubungan dan keintiman. Melalui cara orangtua berkomunikasi, anak mulai membentuk ide dan kepercayaan mengenai dirinya. Dengan kata lain, komunikasi seksual yang dilakukan dapat mempengaruhi afektif atau keadaan emosional, kognitif atau kepercayaan, keyakinan, ide, konsep, maupun konatif atau kecenderungan berperilaku yang dimiliki seseorang terhadap perilaku seksual pranikah. Menurut Allport (1954, dalam Notoatmodjo, 1993) dan Azwar (2009), komponen kognitif, afektif, dan konatif tersebut merupakan komponen yang secara bersama-sama akan membentuk sikap seseorang secara utuh.
Baca lebih lanjut

160 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES MEDIA PORNOGRAFI DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA  Hubungan Antara Intensitas Mengakses Media Pornografi Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES MEDIA PORNOGRAFI DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA Hubungan Antara Intensitas Mengakses Media Pornografi Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja.

0,749; p= 0,000 (p < 0,01) yang menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan antara intensitas mengakses media pornografi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Intensitas mengakses media pornografi tergolong sedang, sedangkan perilaku seksual pranikah tergolong sedang. Sumbangan efektif intensitas mengakses media pornografi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja sebesar 56%, sisanya terdapat 44% faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual dapat dari faktor internal, misalnya berupa pengetahuan, perilaku gaya hidup, pengendalian diri, aktifitas sosial, rasa percaya diri, usia, agama, dan status perkawinan. Faktor lain terdapat juga dari faktor eksternal, misalnya seperti sumber-sumber informasi, keluarga, sosial-budaya, nilai dan norma sebagai pendukung sosial.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES MEDIA PORNOGRAFI DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA  Hubungan Antara Intensitas Mengakses Media Pornografi Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES MEDIA PORNOGRAFI DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA Hubungan Antara Intensitas Mengakses Media Pornografi Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja.

Remaja yang dikenal sebagai sosok dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, banyak minat yang berkembang, diantaranya minat sosial dan minat seputar masalah seksual. Yang menonjol pada remaja adalah sangat berminat bila membicarakan, mempelajari atau mengamati hal-hal yang berkaitan dengan masalah seksual. Luthfie (2003) mengatakan bahwa ada lima topik yang diminati remaja dalam upaya memenuhi rasa ingin tahu mengenai seksual, yaitu pembicaraan tentang proses hubungan seksual, pacaran, kontrol kelahiran, cinta dan perkawinan, serta penyakit seksual.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KESADARAN BERAGAMA DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA

HUBUNGAN ANTARA KESADARAN BERAGAMA DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara kesaradan beragama dengan perilaku seksual pranikah pada remaja, yang ditunjukkan dengan r = - 0,657; Sig/p =0,000 dan r2 = 0,432; artinya bahwa semakin matang kesadaran beragama maka perilaku seksual pranikah semakin rendah dan sebaliknya semakin tidak matang kesadaran beragama maka perilaku seksual pranikah semakin tinggi

2 Baca lebih lajut

Hubungan Kecerdasan Emosi dan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja yang Berpacaran

Hubungan Kecerdasan Emosi dan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja yang Berpacaran

Contoh lain mengenai penyimpangan perilaku remaja, khususnya perilaku seksual-nya yaitu sebuah penelitian yang dilakukan oleh Centra Mitra Remaja (CMR) Medan, Sumatra Utara, diperoleh ada lima tahapan yang sering dilakukan oleh remaja yaitu: dating, kissing, necking, petting dan coitus. Diperoleh data bahwa hampir 10 % remaja sudah pernah melakukan hubungan seks. Penelitian PKBI DI Yogyakarta selama tahun 2001 me-nunjukkan data angka sebesar 722 kasus kehamilan tidak diinginkan pada remaja. Menurut Fakta HAM 2002 data PKBI Pusat menunjukkan 2,3 juta kasus aborsi setiap tahun dimana 15 % diantaranya dilakukan oleh remaja (belum menikah). Faktor penyebab dari perilaku tersebut antara lain yaitu: semakin panjangnya usia remaja, informasi tentang seks yang terbatas, melemahnya nilai-nilai keyakinan serta lemahnya hubungan dengan orang tua (Yuwono, 2001).
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Hubungan antara Harga Diri, Kontrol Diri, dan Konformitas Remaja terhadap Perilaku Seksual Pranikah

Hubungan antara Harga Diri, Kontrol Diri, dan Konformitas Remaja terhadap Perilaku Seksual Pranikah

Dari data tersebut menunjukkan bahwa tingkat harga diri, kontrol diri, konformitas remaja dan perilaku seksual pranikah pada taraf sedang. Hasil analisis data selanjutnya, mengenai hubungan antara harga diri dengan perilaku seksual pranikah diperoleh korelasi sebesar 0.196 pada taraf signifikansi 1%. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang positif dan signifikan, meskipun kecil pengaruhnya. Hubungan positif kedua variabel tersebut menandakan bahwa semakin tinggi harga diri, maka kemungkinan akan semakin tinggi pula perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh para remaja.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja akhir.

Hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja akhir.

Pada dasarnya emosi merupakan dorongan untuk bertindak (Goleman, 2003) maka emosi dapat memunculkan dorongan seksual. Emosi yang mengakibatkan dorongan seksual perlu dibatasi atau dikontrol terutama bagi remaja untuk menghindari sanksi sosial yang diterima. Artinya remaja memerlukan kematangan emosi dalam menanggapi dorongan seksualnya. Kematangan emosi merupakan suatu kondisi pencapaian tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional seseorang (Chaplin, 2002). Kematangan emosi mengandung pengontrolan emosi pada dirinya dan rasa tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan sehingga keputusan yang diambil akan dipikirkan baik buruknya terlebih dahulu, selain itu penerimaan diri yang baik juga mencerminkan adanya kematangan emosi pada diri seseorang (Hasbiansyah, 1989; Mahmud, 1989; Finkelor, 2004; Walgito, 2004).
Baca lebih lanjut

157 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...