Top PDF Hubungan Personal Hygiene dengan Keluhan Kulit pada Pemulung dan Fasilitas Sanitasi di Tpa Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Hubungan Personal Hygiene dengan Keluhan Kulit pada Pemulung dan Fasilitas Sanitasi di Tpa Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Hubungan Personal Hygiene dengan Keluhan Kulit pada Pemulung dan Fasilitas Sanitasi di Tpa Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

sectional study yang bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan keluhan kulit pada pemulung dan fasilitas sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014. Penelitian ini dilakukan di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan tahun 2014. Penelitian ini dilakukan dari November-Januari 2014.

8 Baca lebih lajut

Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

kota yang luasnya 18,5 Ha, dapat menampung sampah sebanyak 550.000 m 3 dan telah dioperasikan sejak tahun 1988, sedangkan wilayah pelayanan III dibuang ke TPA Terjun, yang terletak di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, berjarak 9 km dari pusat Kota Medan. TPA Terjun merupakan TPA yang baru. Luas TPA Terjun adalah 14 Ha, baru terpakai 10 ha, dengan daya tampung 500.000 m 3dan telah beroperasi sejak tahun 1993 yang menampung seluruh jenis sampah termasuk sampah dari kawasan industri.terdiri dari 2 zona yaitu, zona aktif dan zona tidak aktif. Sistem pembuangan di TPA ini adalah open dumping yang mau menuju sanitary, di mana sampah ditaburkan pada suatu lahan, kemudian diratakan dan dipadatkan. Ketinggian tumpukan sampah saat ini sudah mencapai kira-kira 7-8 meter tanpa pemilahan sampah, dengan air lindi yang tidak terolah dan tidak ada penanganan terhadap gas.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Personal Hygiene 2.1.1 Pengertian - Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Personal Hygiene 2.1.1 Pengertian - Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Menurut Entjang (2000), hygiene dan sanitasi lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologi, social, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang berguna di tingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan. Usaha dalam hygiene dan sanitasi lingkungan di cara hidup sehat sehingga terhindar dari penyakit, tetapi dalam penerapannya mempunyai arti yang sedikit berbeda. Usaha sanitasi lebih menitik beratkan pada faktor lingkungan hidup manusia, sementara hygiene lebih menitik beratkan pada usaha-usaha kebersihan perorangan (Kusnoputranto, 2000).
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Hasil penelitian diperoleh paling banyak pengetahuan tentang personal hygiene dan kebersihan tangan, kaki dan kuku masuk dalam kategori tidak baik, sedangkan kebersihan kulit dan kebersihan rambut masuk dalam kategori baik. Hasil uji menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang personal hygiene (p=0,022), kebersihan kulit (p=0,006), kebersihan tangan, kaki dan kuku (p=0,013), kebersihan rambut (p=0,001) dengan keluhan kulit.

15 Baca lebih lajut

Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014

Fasilitas sanitasi penting ada di lingkungan kerja salah satunya adalah toilet. Toilet di lingkungan kerja selalu digunakan, salah satunya digunakan untuk kebersihan diri. Toilet yang cukup dan lengkap yaitu ada kamar mandi, peturasan, wastafel dan jamban dapat membuat orang-orang menjadi nyaman, apabila kurang maka mereka akan jarang menggunakan fasilitas sanitasi tersebut karena tidak ingin antri untuk menggunakan toilet. Hal itu membuat personal hygiene pemulung menjadi kurang baik, karena saat mereka ingin mencuci tangan yang seharusnya mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, maka mereka hanya akan mencuci tangan dengan air yang ada misalnya air minum mereka. Kebiasaan tersebut yang akan membuat pemulung kebersihan kulit, tangan, kaki dan kuku mereka kurang bersih sehingga mudan mengalami keluhan kulit.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

Pengaruh Lingkungan Tempat Pembuangan Akhir Sampah, Personal Hygiene dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap Keluhan Kesehatan pada Pemulung di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2012

Pengaruh Lingkungan Tempat Pembuangan Akhir Sampah, Personal Hygiene dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap Keluhan Kesehatan pada Pemulung di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2012

Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) adalah suatu area yang menampung sampah hasil pengangkutan dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun langsung dari sumbernya (bak atau tong sampah) dengan tujuan untuk mengurangi permasalahan kapasitas atau timbunan sampah yang ada di masyarakat umumnya. Sebenarnya setelah sampah sampai pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat mengurangi permasalahan yang ada di masyarakat, namun permasalahan baru akan terjadi di tempat pembuangan akhir yang pada akhirnya juga akan merugikan masyarakat. Permasalahan akan terjadi apabila proses yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini dianggap sudah selesai dengan cara open dumping (dibuang pada areal atau lahan terbuka dan dibiarkan berproses sendiri) tanpa ada proses lebih lanjut. Sampah yang dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan memberikan dampak, baik dari segi estetika maupun gangguan lain seperti pencemaran lingkungan dan terjadinya gangguan kesehatan serta bencana atau kecelakaan (Suyono dan Budiman, 2010).
Baca lebih lanjut

151 Baca lebih lajut

Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah dan Timbulan Sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015

Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah dan Timbulan Sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015

Listautin. 2012. Pengaruh Lingkungan Tempat Pembuangan Akhir Sampah, Personal Hygiene Dan Indeks Massa Tubuh (Imt) Terhadap Keluhan Kesehatan Pada Pemulung Di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2012. Diakses 4 Februari 2015; http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/33879

3 Baca lebih lajut

Pengalaman Istri dengan Infertilitas Primer di Kelurahan Terjun    Pasar II Marelan  Kecamatan Medan Marelan

Pengalaman Istri dengan Infertilitas Primer di Kelurahan Terjun Pasar II Marelan Kecamatan Medan Marelan

didahului dengan pemberian pengobatan dengan klimofen sitral atau obat perangsang indung telur lainnya; (4) Pemeriksaan uji pascasenggama dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tembus spermatozoa menyerbu lendir serviks. Caranya dianjurkan melakukan hubungan seks dirumah dan setelah dua jam, datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Lendir serviks diambil dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan jumlah spermotozoa yang dijumpai dalam lendir tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan sekitar perkiraan masa ovulasi yaitu hari ke-12, 13 dan 14 dengan perhitungan menstruasi pertama dianggap hari pertama. Hasilnya masih belum mendapat kesepakatan para ahli; (5) Pemeriksaan hormonal (setelah semua pemeriksaan dilakukan), bila belum dapat memberikan tentang sebab infertilitas dapat dilakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahui keterangan tentang hubungan hipotalamus dengan hipofise dan ovarial aksis. Hormon yang diperiksa adalah gonadotropin (folicle stimulation hormon [FSH], hormon luteinisasi [LH]) dan hormon (estrogen dan progesteron, prolaktin).
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Putri Dian Sari Damanik (130304012/Agribisnis) dengan judul Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi Di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Penelitian ini dibimbing oleh Ibu Ir. Iskandarini MM.Phd sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Siti Khadijah H.N. SP.M.si sebagai Anggota Komisi Pembimbing.Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan dengan Metode Purposive.

2 Baca lebih lajut

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Keterangan : Sumber: Data Primer diolah, 2017 No Faktor Internal Ketersediaan Bibit Ketersediaan Pupuk Ketersediaan Modal Ketersediaan Tenaga Kerja Tenaga Profesional Keterse[r]

20 Baca lebih lajut

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Lada di Desa Kunduran Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Lahat Sumatera Selatan .FP Universitas Bengkulu.. Supriana, Tavi, dan Tasya C.[r]

2 Baca lebih lajut

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Tanaman ini sebenarnya bukan khas dataran tinggi karena dapat ditanam baik di dataran rendah maupun tinggi. Sawi termasuk tanaman sayuran yang tahan terhadap hujan. Tanaman ini dapat ditanam sepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau disediakan air yang cukup untuk penyiraman. Tanah yang gembur, banyak mengandung humus, dan drainase baik sangat cocok untuk sawi. Derajat keasaman yang sesuai untuk tanaman ini berkisar antara 6 – 7 (Iwan, 1995).

28 Baca lebih lajut

Analisis Saluran Tataniaga Sawi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan

Analisis Saluran Tataniaga Sawi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dan observasi langsung kepada petani dengan bertanya langsung kepada petani sampel, pedagang pengumpul dan pedagang pengecer. dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari Dinas Pertanian Kota Medan, Kantor Lurah Kelurahan Terjun, literatur-literatur, serta instansi terkait dengan penelitian ini.

11 Baca lebih lajut

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Data di atas memperlihatkan bahwa di Provinsi Sumatera Utara perkembangan produksi sawi mengalami fluktuasi, penurunan produksi terlihat pada tahun 2012 – 2015, sedangkan pada tahun 2013 – 2014 produksi meningkat, dan pada tahun 2015 produksi menurun kembali.

7 Baca lebih lajut

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Putri Dian Sari Damanik, lahir di Kota Pematang Siantar pada tanggal 16 Januari 1996. Penulis merupakan anak pertama dari Bapak Rajudani Damanik, SH dan Ibu Ruliati. Pendidikan Formal yang ditempuh penulis adalah sebagai berikut: 1. Tahun 2001 masuk Sekolah Dasar dan lulus tahun 2007 dari SD Negeri 054903

15 Baca lebih lajut

Fenomena Anak-Anak Pemulung Di Kota Medan  (Studi Kasus di TPA Terjun)

Fenomena Anak-Anak Pemulung Di Kota Medan (Studi Kasus di TPA Terjun)

Anak-anak bekerja di usia dini telah menjadi fenomena sejak lama di masyarakat, khususnya di Kota Medan. Orang tua yang memiliki peran sebagai pelindung bagi anak-anak mereka semakin lama semakin tidak menjalankan perannya sebagaimana mestinya. Anak-anak ditandai dengan pengambilan keputusan-keputusan yang bersifat labil. Anak-anak sangat mudah tertarik pada hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa tanpa mempertimbangkan resiko di balik hal-hal tersebut. Anak-anak biasanya hanya memikirkan kesenangan-kesenangan yang akan didapatkannya dengan melakukan hal-hal tersebut. Hal tersebut membuat pekerja-pekerja anak semakin banyak dan menjadi fenomena di masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualititatif dengan pendekatan studi kasus yang melakukan partisipasi observasi dan wawancara mendalam terhadap anak-anak pemulung di Kota Medan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa anak-anak pemulung menjadi sebuah fenomena yang kerap kita temukan di sekitar kita. Fenomena anak-anak pemulung melahirkan bentuk interaksi yang kerap kita temukan dalam kehidupan. Dilihat dari sisi anak-anak pemulung maka bentuk interaksi yang terjadi diantaranya adalah interaksi anak-anak pemulung dengan keluarganya, ada juga interaksi anak-anak pemulung dengan sesama pemulung, dan yang terakhir interaksi anak-anak pemulung dengan pemerintah setempat (dinas kebersihan). Interaksi dengan ketiga komponen tersebut yaitu keluarga, teman sebaya, dan pemerintah melahirkan bentuk dan karakteristik masing-masing. Interaksi yang terjadi antar seluruh komponen baik bagi keluarganya, teman sepermainan, dan pemerintah, dan yang terakhir penentu anak-anak pemulung itu sendiri.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

DAMPAK MUSNAHNYA PEKARANGAN BAGI ETNIS MELAYU DI KELURAHAN TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN.

DAMPAK MUSNAHNYA PEKARANGAN BAGI ETNIS MELAYU DI KELURAHAN TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN.

masuknya suku pendatang seperti Cina, Jawa, batak Karo, Mandailing dan lainnya untuk memilih kelurahan Terjun dan sekitarnya sebagai tempat tinggal. Dengan masuknya etnis pendatang menyebabkan pula terjadinya penyempitan lahan di kelurahan Terjun, karena tidak mampunya etnis Melayu bersaing dengan etnis pendatang yang gigih dalam mencari nafkah membuat mereka harus rela menjual tanah dan lahan pekarangannya kepada suku pendatang dan memilih bertempat tinggal di pinggiran kota Medan. Pemanfaatan lahan pekarangan rumah yang dulunya banyak dilakukan etnis Melayu, sekarang ini sudah banyak dilakukan suku lain seperti Jawa dan Batak Karo. Hampir tidak dijumpai lagi etnis Melayu yang memanfaatkan lahan pekarangannya, padahal banyak fungsi yang bisa dimanfaatkan dari pekarangan baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga Terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis Paru di Kelurahan Terjun, Medan Marelan Tahun 2015

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga Terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis Paru di Kelurahan Terjun, Medan Marelan Tahun 2015

Dalam penelitian ini, masyarakat yang mengetahui penyakit TB Paru mempunyai pendidikan beragam, mulai dari SMA/sederajat hingga S2. Masyarakat yang memiliki pendidikan terakhir D3 dan S2 memiliki presentase pengetahuan terhadap penyakit TB Paru lebih besar dibanding kelompok pendidikan lainnya. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan seseorang terhadap suatu penyakit. Hal tersebut sejalan dengan Notoadmojo(2003) yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah tingkat pendidikan. Seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Hal ini sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Yessi (2012) mengenai tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penyakit TB Paru di Puskesmas Teladan Medan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pendidikan tertinggi responden adalah SMU, yaitu sebesar 40,6% dimana pengetahuan dan pemahaman responden tentang penyakit TB Parukemungkinan lebih baik dari pada yang berpendidikan SD dan SLTP.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga Terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis Paru di Kelurahan Terjun, Medan Marelan Tahun 2015

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga Terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis Paru di Kelurahan Terjun, Medan Marelan Tahun 2015

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sejak zaman purba, penyakit ini dikenal sebagai penyebab kematian yang menakutkan (Darmanto, 2012). Sekitar satu pertiga penduduk di dunia telah terinfeksi penyakit ini (PDPI, 2006).Tuberkulosismerupakan pembunuh nomor satu diantara penyakit menular lainnya dan berada pada posisi ketiga sebagai pembunuh tertinggi di Indonesia (PDPI, 2006). Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan Joint External Tuberculosis Monitoring Mission (JEMM), setiap tahun sekitar 300.000 orang terdiagnosis Tuberkulosis dengan angka kematian mencapai 61.000 orang (Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2010).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga Terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis Paru di Kelurahan Terjun, Medan Marelan Tahun 2015

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga Terhadap Perilaku Pencegahan Tuberkulosis Paru di Kelurahan Terjun, Medan Marelan Tahun 2015

Background : Tuberculosis (TB) is a infected disease caused by Mycobacterium tuberculosis . Based on World Health Organization (WHO) database, nowadays, Indonesia is positioned number five as nation that has the most tuberculosis cases in the world, it is around four hundred and twenty nine people (WHO, 2010). One factor of the increasing tuberculosis cases is related to behavior against tuberc ulosis. Behavior against a disease is related to family’s respons and their knowledge. This research is done to know the relationship between family ‘s preception and their knowledge to behavior against tuberculosis in Kelurahan Terjun, Medan Marelan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects