Top PDF Hubungan Perubahan Fungsi Fisik Terhadap Kebutuhan Aktivitas Hidup Sehari-hari (Ahs) Pada Lansia Dengan Stroke (Studi Pada Unit Rehabilitasi Sosial Kota Semarang)

Hubungan Perubahan Fungsi Fisik Terhadap Kebutuhan Aktivitas Hidup Sehari-hari (Ahs) Pada Lansia Dengan Stroke (Studi Pada Unit Rehabilitasi Sosial Kota Semarang)

Hubungan Perubahan Fungsi Fisik Terhadap Kebutuhan Aktivitas Hidup Sehari-hari (Ahs) Pada Lansia Dengan Stroke (Studi Pada Unit Rehabilitasi Sosial Kota Semarang)

Insiden stroke mengenai populasi usia lanjut yang berusia 75-84 tahun sekitar 10 kali dari populasi 55- 64 tahun (Azizah, 2011). Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur. Stroke yang menyerang lanjut usia menyebabkan ketergantungan lanjut usia makin meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perubahan fungsi fisik terhadap kebutuhan Aktivitas Hidup Sehari-hari (AHS) pada lansia dengan stroke (Studi pada Unit Rehabilitasi Sosial Kota Semarang). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan rancangan cross sectional. Populasi dan sampel adalah lansia dengan stroke yang menghuni Balai Rehabilitasi Sosial “Mandiri” Semarang dan Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adi Karya” Ungaran sebanyak 32 dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Hasil penelitian didapatkan mayoritas umur responden adalah 69,75 tahun, jenis kelamin sebagian besar adalah laki-laki. Perubahan fungsi fisik pada lansia dengan stroke sebagian besar berjalan dengan bantuan. Kebutuhan Aktivitas Hidup Sehari-hari (AHS) pada lansia stroke sebagian besar dependen berat. Ada hubungan perubahan fungsi fisik terhadap kebutuhan Aktivitas Hidup Sehari-hari (AHS) pada lansia dengan stroke (Studi pada Unit Rehabilitasi Sosial Kota Semarang) (pvalue=0,029). Diharapkan masyarakat, terutama yang mempunyai anggota keluarga lansia dengan stroke mampu memantau kesehatan lansia terutama perubahan fungsi fisik dan kebutuhan Aktivitas Hidup Sehari-hari (AHS) untuk meningkatkan pelayanan pada lansia.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA GAYA HIDUP DENGAN TINGKAT KETERGANTUNGAN DALAM AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI – HARI LANSIA DI KELURAHAN KOPEN TERAS BOYOLALI.

HUBUNGAN ANTARA GAYA HIDUP DENGAN TINGKAT KETERGANTUNGAN DALAM AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI – HARI LANSIA DI KELURAHAN KOPEN TERAS BOYOLALI.

Secara umum kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perubahan. Perubahan penampilan pada bagian wajah, tangan, dan kulit. Perubahan bagian dalam tubuh seperti sistem saraf. Perub ahan panca indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan perubahan motorik antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan dan belajar keterampilan baru. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari- hari (Rahayu, 2009).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP TINGKAT KEMAMPUAN MELAKUKAN AKTIVITAS SEHARI- HARI PADA LANSIA PASCA STROKE NON HEMORAGIK DI POLIKLINIK NEUROLOGI DI RUMAH SAKIT STROKE NASIONAL BUKITTINGGI TAHUN 2014.

PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP TINGKAT KEMAMPUAN MELAKUKAN AKTIVITAS SEHARI- HARI PADA LANSIA PASCA STROKE NON HEMORAGIK DI POLIKLINIK NEUROLOGI DI RUMAH SAKIT STROKE NASIONAL BUKITTINGGI TAHUN 2014.

Aktivitas Kehidupan Sehari-hari /ADL (activity daily living) adalah fungsi dan aktivitas individu yang normalnya dilakukan tanpa bantuan orang lain (Wallace dalam Triswandari, 2008). ADL pasien pasca stroke merupakan masalah yang menarik perhatian para professional kesehatan. Menurut (Smeltzer dan Bare, 2002) terdapat kira-kira 2 juta orang bertahan hidup dari stroke yang mempunyai kecacatan, dari angka ini 40% memerlukan bantuan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Hal ini di dukung oleh penelitian Haqhqoo et al, (2013) menemukan sekitar 65,5% penderita stroke ketergantungan dan membutuhkan bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). Semakin lanjut usia, mereka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik sehinggga mengakibatkan timbulnya gangguan dalam hal mencukupi kebutuhan sehari-harinya (ADL) yang berakibat dapat meningkatkan ketergantungan untuk memerlukan bantuan orang lain (Nugroho, 2008).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Hubungan Nyeri Reumatoid Artritis dengan Aktivitas Sehari-hari Lansia di Puskesmas Kesatria Pematangsiantar

Hubungan Nyeri Reumatoid Artritis dengan Aktivitas Sehari-hari Lansia di Puskesmas Kesatria Pematangsiantar

Christensen ( 2006 dalam Mastufah 2013) permasalahan yang berkembang memiliki keterkaitan dengan perubahan kondisi fisik yang menyertai lansia. Perubahan kondisi fisik pada lansia yang paling sering terjadi yaitu menurunnya kemampuan musculoskeletal kearah yang lebih buruk. Penurunan fungsi muskuloskeletal menyebabkan terjadinya perubahan degeneratif yang dirasakan dengan keluhan nyeri, kekakuan sendi, hilanganya gerakan dan tanda- tanda inflamasi seperti nyeri tekan, disertai pula dengan pembengkakan yang mengakibatkan terjadinya gangguan imobilitas. Berbagai penyakit yang timbul akibat penurunan fungsi organ tubuh pada sistem muskuloskeletal yang banyak terjadi salah satunya adalah Reumatoid Artritis.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Kemandirian Lansia dalam Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas Sehari-Hari di Desa Ciwaru Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan

Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Kemandirian Lansia dalam Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas Sehari-Hari di Desa Ciwaru Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan

dari beberapa perubahan: (1) perubahan penampilan pada bagian wajah, tangan, dan kulit, (2) perubahan bagian dalam tubuh seperti sistem saraf: otak, isi perut: limpa, hati, (3) perubahan panca indra: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan (4) perubahan motorik antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan dan belajar keterampilan baru. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah padakemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh jugapada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akanberpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari.Masalah umum yang dialami lanjut usia yang berhubungan dengankesehatan fisik, yaitu rentannya terhadap berbagai penyakit, karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar.Penurunan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis. Dengan berubahnya penampilan, menurunnya fungsi panca indra menyebabkanlanjut usia merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi. Datangnya menopause bagi perempuan akan menimbulkan perasaan tidakberguna, karena mereka tidak dapat bereproduksi lagi. (potter, perry : 2009;326)
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Gambaran Aktivitas Hidup Sehari-hari dan Gangguan Penglihatan Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lansia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

Gambaran Aktivitas Hidup Sehari-hari dan Gangguan Penglihatan Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lansia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

merupakan faktor intrinsik yang mempengaruhi aktivitas. Menurut Potter dan Perry (2005) Kemampuan aktifitas sehari-hari pada lanjut usia di pengaruhi dengan umur lanjut usia itu sendiri. Umur seseorang menunjukkan tanda kemauan dan kemampuan, ataupun bagaimana seseorang bereaksi terhadap ketidakmampuan melaksanakan aktifitas sehari-hari. Pada kelompok umur > 85 tahun lebih banyak membutuhkan bantuan pada satu atau lebih Aktivitas sehari - hari dasar. Menurut Komnas lansia (2005) dan Papalia (2008) dengan meningkatnya usia maka secara alamiah akan terjadi penurunan kemampuan fungsi untuk merawat diri sendiri maupun berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya, dan akan semakin bergatung pada orang lain. Dengan bertambahnya usia akan meningkatkan berat badan karena penumpukan lemak di dalam otot sementara sel otot sendiri berkurang jumlah dan volumenya, sehingga ada kecenderungan untuk mengurangi aktifitas fisik karena obesitas. Hal ini menyebabkan kelemahan fisik yang dapat membatasi mobilitas yang berpengaruh terhadap keseimbangan karena menjadi lamban di dalam bergerak dan kurangnya reaksi antisipasi terhadap perubahan serta secara umum akan menurunkan kualitas hidup lansia (Fatimah , 2010)
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FUNGSI KOGNITIF DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PANTI WREDHA BUDHI DHARMA PONGGALAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN FUNGSI KOGNITIF DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PAN

HUBUNGAN FUNGSI KOGNITIF DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PANTI WREDHA BUDHI DHARMA PONGGALAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN FUNGSI KOGNITIF DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PAN

kebijakan dan program yang ditujukan kepada kelompok penduduk lansia sehingga dapat berperan dalam pembangunan dan tidak menjadi beban bagi masyarakat. Undang-Undang No 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menetapkan, bahwa batasan umur lansia di Indonesia adalah 60 tahun keatas (Kemenkes RI, 2014). Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 pasal 138 ayat 1 menetapkan bahwa upaya pemeliharaan kesehataan bagi lanjut usia harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial maupun ekonomi sesuai dengan martabat kemanusiaan. Ayat 2 menetapkan bahwa Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanaan kesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomis (Depkeu, 2009). Meningkatnya jumlah lansia menimbulkan masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia. Masalah tersebut jika tidak ditangani akan berkembang menjadi masalah yang kompleks dari segi fisik, mental dan sosial yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan mereka. Masalah-masalah tersebut bisa menyebabkan lansia menjadi rapuh dan banyak yang mengalami masalah-masalah kesehatan, kebanyakan lansia yang perlu bantuan orang lain ini adalah lansia yang mengalami gangguan fisik yang cukup parah sehingga mempengaruhi Activitiy of Daily Living (ADL) pada lansia tersebut (Gallo et al, 1998).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JEMBER SKRIPSI

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JEMBER SKRIPSI

Skripsi ini yang berjudul “Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari pada lansia Di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember Tahun 2011”. Telah diuji dan disahkan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember pada:

17 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Hubungan Nyeri Reumatoid Artritis dengan Aktivitas Sehari-hari Lansia di Puskesmas Kesatria Pematangsiantar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Hubungan Nyeri Reumatoid Artritis dengan Aktivitas Sehari-hari Lansia di Puskesmas Kesatria Pematangsiantar

Tanda dan gejala yang umum ditemukan atau sangat serius terjadi pada lanjut usis menurut Buffer (2010), yaitu : sendi terasa nyeri dan kaku di pagi hari. Bermula sakit dan kekakuan pada daerah lutu, bahu, siku, pergelangan tangan dan kaki atau jari-jari., mulai terlihat bengkak setelah beberapa bulan, bila sudah tidak tertahan dapat menyebabkan demam, dapat terjadi berulang. Sedangkan menurutt Junaidi (2006) gejala klinis Reumatoid Artritis pada saat bersamaan bisa banyak sendi yang mengalami peradangan.

23 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DI GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK

NASKAH PUBLIKASI PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DI GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK

Sama halnya dengan Yurintika (2015) menyatakan bahwa Senam lansia merangsang pembuluh darah sehingga terjadi vasodilatasi pada pembuluh darah yang mengakibatkan transport oksigen ke seluruh tubuh lancar terutama otak. Pada kondisi ini akan meningkatkan relaksasi otot, Selain itu sekresi melatonin yang optimal dan pengaruh beta endorphin dan membantu peningkatan pemenuhan aktivitas fisik lansia. 17 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adnyana (2013), dimana senam dapat menstimulasi kontraksi pembuluh darah kapiler sehingga terjadi keadaan vasodilatasi atau melebarnya pembuluh darah kapiler. Aliran oksigen dalam darah semakin lancar sehingga memacu hormon endorphin dan memacu lansia untuk dapat beraktivitas dengan baik. 18
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK DAN FUNGSI KOGNITIF LANSIA DI POSYANDU LANSIA MEKAR SARI KOTA SURABAYA TAHUN 2016

HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK DAN FUNGSI KOGNITIF LANSIA DI POSYANDU LANSIA MEKAR SARI KOTA SURABAYA TAHUN 2016

Penulisan Skripsi ini memiliki tujuan menganalisis hubungan tingkat aktivitas fisik dan fungsi kognitif lansia di Posyandu Lansia Mekar Sari Kota Surabaya Tahun 2016. Jumlah lansia yang terus meningkat pada setiap tahunnya akan menimbulkan beberapa masalah pada lansia, salah satunya adalah penurunan fungsi kognitif. Apabila tidak ditangani dengan baik, hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas hidup lansia. Dengan mengetahui hubungan aktivitas fisik dan fungsi kognitif lansia, diharapkan lansia dapat menjalani hari tuanya dengan baik.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JEMBER

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JEMBER

Kecemasan atau ansietas merupakan suatu kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Kecemasan dapat dilihat dalam rentang ringan, sedang, berat, sampai panik. Setiap tingkat menyebabkan perubahan fisiologis dan emosional pada individu. Stressor pencetus kecemasan yang berasal dari sumber internal atau eksternal tersebut bila secara terus-menerus muncul maka akan berdampak pada penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JEMBER

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JEMBER

Hubungan antara Tingkat Kecemasan dengan Aktivitas kehidupan sehari- hari Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember: Ayu Septi Hartanti, 072310101058; 2012; xviii + 81 halaman; Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.

17 Baca lebih lajut

Hubungan Gaya Hidup dengan Fungsi Kognitif pada Lansia

Hubungan Gaya Hidup dengan Fungsi Kognitif pada Lansia

Dilihat dari segi agama yang dianut oleh responden, seluruh responden dalam penelitian ini menganut agama Islam, yaitu berjumlah 97 orang responden (100%). Salah satu ciri khas dari seseorang yang menganut agama Islam adalah senantiasa membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an secara rutin dapat meningkatkan daya ingat dan fungsi kerja otak. Hal ini disebabkan karena secara spiritual Al-Qur’an merupakan kumpulan wahyu yang sempurna yang dapat menenangkan jiwa, meningkatkan keyakinan, dan menyeimbangkan hidup manusia. Energi positif dari ayat-ayat Allah SWT ini dapat menjadi nutrisi otak yang paling berharga dari sebuah obat (Purwanto, 2007).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Keseimbangan Postural Terhadap Aktivitas Kehidupan Sehari-hari Pada Lansia Di Pedesaan Dan Perkotaan.

PENDAHULUAN Pengaruh Keseimbangan Postural Terhadap Aktivitas Kehidupan Sehari-hari Pada Lansia Di Pedesaan Dan Perkotaan.

Keseimbangan postural lansia yang tidak dikontrol, dapat meningkatkan resiko jatuh pada lansia (Siburian, 2006). Menurut WHO global report on falls prevention in older age (2007) terdapat beberapa faktor utama resiko jatuh yaitu faktor biologis (usia, jenis kelamin dan penurunan fisik), perilaku, lingkungan, serta faktor sosial ekonomi yang berkaitan dengan rendahnya tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, kurangnya interaksi sosial, terbatasnya akses kelayanan kesehatan dan sosial, dan kurangnya sumber daya manusia.

4 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FUNGSI KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA

HUBUNGAN FUNGSI KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA

Keempat, berubahnya corak kehidupan ekonomi dalam masyarakat dari corak agraris ke corak industri. Dalam masyarakat agraris semua anggota keluarga, anak-anak, wanita dan lansia dapat turut serta dalam proses produksi pertanian, sehingga seluruh keluarga besar anggotanya akan memberikan keuntungan ekonomi, sedangkan dalam masyarakat industri anak-anak dan lansia tidak dapat turut serta dalam proses produksi di pabrik sehingga mereka secara otomatis akan menjadi beban keluarga, akibatnya keluarga akan cenderung memisahkan diri dari anggota keluarga yang nonproduktif untuk mengurangi beban hidup. Selain itu juga ada kecenderungan anak-anak pindah kekota besar untuk mendapatkan karir yang lebih baik. Meskipun demikian pada hasil penelitian ini tidak ada hubungan yang signifikan antara bentuk keluarga dengan kualitas hidup hal ini dapat dikarenakan para lansia ini masih mempunyai pekerjaan sendiri dan beberapa aktivitas yang menyenangkan dengan kelompoknya sehingga meskipun mereka tidak hidup dengan anaknya tetapi mereka tidak merasa kesepian.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lansia - Gambaran Aktivitas Hidup Sehari-hari dan Gangguan Penglihatan Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lansia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lansia - Gambaran Aktivitas Hidup Sehari-hari dan Gangguan Penglihatan Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lansia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi empat kriteria berikut usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun, usia lanjut (elderly) antara 60 -74 tahun, usia tua (old) antara 75 - 90 tahun, usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun. Menurut pasal 1 Undang- Undang No. 4 tahun 1965: Seseorang dinyatakan sebagai orang jompo atau usia lanjut setelah yang bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Nugroho, 2008).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN KEMANDIRIAN MELAKUKAN AKTIVITAS DASAR SEHARI-HARI DI PSTW UNIT BUDI LUHUR BANTUL YOGYAKARTA

HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN KEMANDIRIAN MELAKUKAN AKTIVITAS DASAR SEHARI-HARI DI PSTW UNIT BUDI LUHUR BANTUL YOGYAKARTA

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti yaitu wawancara dengan petugas Panti Sosial Tresna Werdha Unit Budi Luhur Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 15 januari 2011 didapatkan hasil jumlah usia lanjut 72 orang yang berada di dalam panti tersebut yaitu yang bersal dari program rutin atau yang dibiayai seluruhnya oleh pemerintah. Dari 72 lansia di Panti, di dapatkan 50% lansia yang membutuhkan bantuan dalam memenuhi aktivitas sehari-hari (ADS), seperti bangun dari tempat tidur, mengenakan pakaian, makan dan minum, pergi ketoilet, berjalan dan keluar dari kamar atau teras kamar. Keterbatasan tersebut 40 % dikarenakan faktor dari penyakit degeneratif dan fisik yang melemah dan sekitar 10% akibat cacat fisik dan mental. Petugas panti juga mengadakan kegiatan rutin bagi lansia, yaitu senam lansia yang dilakukan setiap hari senin : senam SLB seri “A”(duduk dikursi), selasa : senam SLB seri “B”(berdiri), rabu : senam SLB seri “C”(jalan sehat), kamis : senam SLB seri “D”(kombinasi berdiri dan duduk), dan sabtu : senam tongkat atau otak yaitu setiap jam 7.30 WIB sampai jam 08.15 WIB. Senam lansia ini bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kebugaran, kesegaran dan kelenturan fisik lansia. Sehingga lansia dapat melakukan aktivitas sehari-harinya dengan baik, nyaman dan hidup sejahtera.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan sehari-hari, di mana pemenuhan kebutuhan tersebut sangatlah

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan sehari-hari, di mana pemenuhan kebutuhan tersebut sangatlah

Kebutuhan hidup yang makin meningkat dan tidak diimbangi dengan meningkatnya jumlah penghasilan seringkali membuat masyarakat mengambil jalan pintas dengan cara mengandalkan lembaga-lembaga atau jasa yang dapat memberikan pinjaman uang dengan adanya jaminan berupa barang atau benda berharga baik bergerak yang berwujud maupun benda bergerak yang tak berwujud. Kegiatan pinjam-meminjam uang dengan adanya jaminan tersebut merupakan perjanjian pinjam meminjam uang dengan jaminan gadai.

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN LANSIA DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI DUSUN KAYUARU DESA KANGAYAN KECAMATAN KANGAYAN KABUPATEN SUMENEP

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN LANSIA DENGAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI DUSUN KAYUARU DESA KANGAYAN KECAMATAN KANGAYAN KABUPATEN SUMENEP

Dalam kehidupan lansia di Dusun Kayuaru Desa kangayan Kecamatan Kangayan Kabupaten Sumenep sebagian besar mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak memerlukan bantuan orang lain, agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan- kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik dan sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang. Disarankan penduduk usia lanjut dapat “didayagunakan“ sesuai dengan kemampuannya. Dengan menciptakan lapangan kerja
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects