Top PDF HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Belimbing Kota Malang)

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Belimbing Kota Malang)

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Belimbing Kota Malang)

(HISFARMA,2009) Dalam mencapai tujuan terwujudnya pelayanan kefarmasian yang maksimal Pemerintah dalam hal ini Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jendral Pelayanan Farmasi Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia pada tahun 2003 menyusun standar palayanan farmasi di Apotek yang tertuang dalam keputusan mentri kesehatan Republik Indonesia No.1027/MENKES/SK/IX/2004. Standar kompetensi Apoteker di apotek ini dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional, melindungi profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar, sebagai pedoman dalam pengawasan praktek apoteker dan untuk pembinaan serta meningkatkan mutu pelayanan farmasi di apotek. Standar pelayanan tersebut mencakup pengelolaan sumber daya dan pelayanan.(Direktorat Jendral Pelayanan Farmasi,2003)
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Sukun Kota Malang)

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Sukun Kota Malang)

Apotek selain memiliki fungsi sosial sebagai tempat pengabdian dan pengembangan jasa pelayanan pendistribusian dan informasi obat perbekalan kesehatan, apotek juga memiliki fungsi ekonomi yang mengharuskan suatu apotek memperoleh laba untuk meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga kelangsungan usahanya. Pelayanan sendiri mengandung makna sebagai aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh organisasi atau perorangan kepada konsumen yang bersifat tidak berwujud dan tidak dapat dimiliki. Sementara itu yang disebut dengan konsumen adalah masyarakat yang mendapat manfaat aktivitas yang dilakukan oleh organisasi atau petugas tersebut.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

SKRIPSI BANGKIT SUGIASMORO. HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Sukun Kota Malang)

SKRIPSI BANGKIT SUGIASMORO. HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Sukun Kota Malang)

Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T, atas rahmat, hidayah dan karuniaNya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad S.A.W yang telah membawa kita dari kegelapan menuju rahmat Allah S.W.T yang terang benderang. Atas segala kemurahan Allah S.W.T sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan sebaik - baiknya. Dengan selesainya skripsi yang berjudul “HUBUNGAN PROFIL

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN DI APOTEK

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN DI APOTEK

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan profil pelayanan kefarmasian dengan pendapatan apotek (Studi Apotek di wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang) ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN DI APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Lowokwaru Kota Malang)

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN DI APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Lowokwaru Kota Malang)

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “ Hubungan Profil Pelayanan Kefarmasian Dengan Pendapatan Apotek (Studi Apotek Di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang) “ sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana farmasi di Universitas Muhammadiyah Malang.

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN DI APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang)

HUBUNGAN PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN PENDAPATAN DI APOTEK (Studi Apotek di Wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang)

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal, tentu diperlukan suatu pelayanan yang bersifat komprehensif dan professional dari para profesi kesehatan. Pelayanan kefarmasian merupakan salah satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang tidak terpisahkan, termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di apotek. Oleh karena itu, Departemen Kesehatan bekerjasama dengan ISFI telah menyusun Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek yang tertulis pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004. Selain memiliki fungsi sosial sebagai tempat pengabdian profesi kesehatan dan pengembangan jasa pelayanan, pendistribusian dan informasi obat, perbekalan kesehatan, apotek juga memiliki fungsi ekonomi yang mengharuskan suatu apotek memperoleh laba dari gabungan produk dan jasa untuk meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga kelangsungan usahanya. Oleh karena itu apoteker sebagai salah satu tenaga professional kesehatan dalam mengelola apotek tidak hanya dituntut dari segi teknis kefarmasian saja tapi juga dari segi manajemen. Dari perputaran antara produk dan jasa inilah yang menghasilkan pendapatan apotek. Dalam penelitian ini bertujuan meneliti apakah ada hubungan antara profil pelayanan kefarmasian dengan pendapatan apotek yang berada di Kecamatan Klojen Kota Malang.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN DENGAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN APOTEK   Hubungan Tingkat Kepuasan Konsumen Dengan Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek Di Kabupaten Rembang Kota Rembang.

HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN DENGAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN APOTEK Hubungan Tingkat Kepuasan Konsumen Dengan Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek Di Kabupaten Rembang Kota Rembang.

Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian yang baik akan meningkatkan kepuasan konsumen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara kepuasan konsumen dengan standar pelayanan kefarmasian apotek di Kabupaten Rembang Kota Rembang. Penelitian dikategorikan dalam penelitian non- eksperimental dengan teknik pengambilan sampel penelitian purposive sampling. Data diperoleh dengan cara membagikan kuesioner yang diisi oleh apoteker dan konsumen apotek. Penelitian dilakukan pada 4 apotek di Kabupaten Rembang. Data dianalisis dengan menggunakan pearson correlation. Hasil penelitian kuesinoer yang diisi 4 apoteker meliputi aspek sarana dan prasarana serta pelayanan. Pengukuran kepuasan 94 konsumen apotek digunakan 5 dimensi yaitu reliability, assurance, tangibles, empathy dan responsiveness.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN DENGAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN APOTEK   Hubungan Tingkat Kepuasan Konsumen Dengan Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek Di Kabupaten Rembang Kota Rembang.

HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN DENGAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN APOTEK Hubungan Tingkat Kepuasan Konsumen Dengan Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek Di Kabupaten Rembang Kota Rembang.

KATA PENGANTAR Assalaamu’alaikum wr wb Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT dengan segala hidayah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Tingkat Kepuasan Konsumen Dengan Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek Di Kabupaten Rembang Kota Rembang”.

11 Baca lebih lajut

Profil Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen Apotek di Kecamatan Adiwerna Kota Tegal

Profil Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen Apotek di Kecamatan Adiwerna Kota Tegal

Penelitian ini bertujuan mengetahui pelayanan kefarmasian di apotek, tingkat kepuasan konsumen apotek, serta ada atau tidaknya hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen. Data dikumpulkan dari 7 apoteker dan 175 konsumen apotek di 7 apotek di Kecamatan Adiwerna pada bulan Juli- Agustus 2012 menggunakan kuesioner. Pelayanan kefarmasian di apotek yang akan dikaji dalam penelitian ini terkait dengan ketenagaan, pelayanan, administrasi, dan evaluasi mutu pelayanan. Tingkat kepuasan konsumen diukur dari 8 dimensi, yaitu kepuasan umum, harga, kemampuan pribadi, evaluasi, pemberian informasi non-medis, kepercayaan, pelayanan pada pasien, dan pemberian penjelasan. Kuesioner apoteker dan konsumen apotek yang telah terkumpul kemudian diberi skor masing-masing dan dikategorikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan kefarmasian di apotek tergolong kategori sedang dan baik. Kepuasan konsumen untuk semua dimensi tergolong kategori kurang puas. Analisa hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen menggunakan analisis korelasi Pearson, menunjukkan adanya hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kompetensi Apoteker dan Profil Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pasca Puka di Kota Medan

Kompetensi Apoteker dan Profil Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pasca Puka di Kota Medan

Sebagai panduan bagi para peserta KONGRES ISFI 2009 agar dapat dengan mudah mengikuti jalannya acara yang akan kami laksanakan, maka kami hadirkan buku panduan acara KONGRES ILMIAH dan KONGRES ORGANISASI ISFI 2009. Acara ini akan berlangsung dari tanggal 7-9 Desember 2009 di Hotel Bumi Karsa - Bidakara. Semoga buku dapat bermanfaat bagi kita semua.Sebagai tenaga profesional di bidang Farmasi kita perlu melakukan konsolidasi dan merancang langkah-langkah ke depan, bukan hanya untuk mengantisipasi dan melakukan praktek profesi, tetapi juga untuk mengembangkan potensi supaya kita dapat memanfaatkan kebijakan-kebijakan baru untuk kepentingan profesi kita. Karena itu Kongres Nasional kali ini memiliki nilai strategis untuk kita semua dan masa depan profesi Apoteker Indonesia. Sedangkan dalam Kongres Ilmiah kali ini akan dipaparkan hasil penelitian para pakar farmasi dari berbagai Kelompok Bidang Ilmu mulai dari aspek Ilmu Pengetahuan sampai ke Pelayanan Kefarmasian yang berada di beberapa lembaga seperti Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, Rumah Sakit, Industri Farmasi dan lain sebagainya. Yang tujuannya meningkatkan kompetensi profesi farmasi sebagai tenaga kesehatan, menciptakan jejaring dalam diseminasi perkembangan ilmu dan teknologi farmasi sehingga temuan-temuan ilmiah dapat dimanfaatkan sebesar mungkin untuk praktek kefarmasian juga sebagai sarana sharing knowledge atau tukar menukar informasi antar Peneliti, Praktisi Industri Farmasi, Farmasi Komunitas, Farmasi Rumah Sakit, serta praktisi Birokrasi Farmasi. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras yang telah dilakukan oleh seluruh panitia Kongres Nasional kali ini terutama PD DKI Jakarta. Dan apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan, penyajian dan pelayanan dalam penyelenggaraan acara ini kami Panitia Pelaksana memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Kompetensi Apoteker dan Profil Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pasca Puka di Kota Medan

Kompetensi Apoteker dan Profil Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pasca Puka di Kota Medan

semakin lemahnya komitmen berprofesi mayoritas apoteker akhir-akhir ini, membawa akibat tidak eksisnya profesi apoteker di tengah masyarakat yang akhirnya berujung pada menurunnya kompetensi mayoritas para Apoteker. Pada saat yang sama, dimensi obat yang lain yaitu sains dan teknologi Industri Farmasi, telah membawa masalah yang berpotensi merugikan bagi masyarakat: multiple prescribers of medications for single patient, the explosion of drug products and information presently on the market, the increased complexity of drug therapy, the significant level of drug-related morbidity and mortality associated with drug use, and the high human and financial cost of drug misadventuring (Cipole dkk,1998). Lebih lanjut kejadian yang disebut sebagai Medication error dalam pelayanan kefarmasian juga menunjukkan data yang semakin mengkhawatirkan (Dwiprahasto,2004; Timmerman, 2003). Berbagai gambaran tentang buruknya profil pelayanan kefarmasian di atas telah direspon oleh 2 institusi terkait paling bertanggungjawab, yaitu Departemen Kesehatan RI dan Organisasi Profesi ISFI. Respon Departemen Kesehatan adalah dengan diterbitkannya Kepmenkes No.1027/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (Menteri Kesehatan RI.,2004) dan respon Organisasi Profesi ISFI adalah dicanangkannya Sertifikasi Profesi Apoteker yang pada tahap awal dilaksanakan melalui Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker (PUKA).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Evaluasi Mutu Pelayanan Dan Hubungan Antara Kepuasan Konsumen Dan Pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian Oleh Apoteker Pengelola Apotek Di Apotek-apotek Kota Kendari

Evaluasi Mutu Pelayanan Dan Hubungan Antara Kepuasan Konsumen Dan Pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian Oleh Apoteker Pengelola Apotek Di Apotek-apotek Kota Kendari

4. Dimensi Keyakinan. Hal yang dinilai pada dimensi ini adalah jaminan terhadap pelayanan yang diberikan oleh apotek sebagai pemberi jasa untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan. Hasil penelitian diperoleh persentase tertinggi sebesar 82.35% ditunjukkan pada indikator obat yang dibeli terjamin kualitasnya, sedangkan persentase terendah sebesar 76.14% ditunjukkan pada indikator petugas mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam bekerja. Rata-rata persentase yang diperoleh pada dimensi ini adalah sebesar 80.09%, sehingga persepsi konsumen terhadap dimensi ini cukup memuaskan. Dimensi ini merupakan persepsi sangat baik dengan persentase tertinggi dari semua dimensi yaitu pada kebenaran obat yang diberikan petugas kepada konsumen.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN KEPUASAN KONSUMEN APOTEK DI KECAMATAN ADIWERNA KOTA TEGAL. Bertawati

PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN KEPUASAN KONSUMEN APOTEK DI KECAMATAN ADIWERNA KOTA TEGAL. Bertawati

Fakultas Farmasi Bertawati_ubaya@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui pelayanan kefarmasian di apotek, tingkat kepuasan konsumen apotek, serta ada atau tidaknya hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen. Data dikumpulkan dari 7 apoteker dan 175 konsumen apotek di 7 apotek di Kecamatan Adiwerna pada bulan Juli- Agustus 2012 menggunakan kuesioner. Pelayanan kefarmasian di apotek yang akan dikaji dalam penelitian ini terkait dengan ketenagaan, pelayanan, administrasi, dan evaluasi mutu pelayanan. Tingkat kepuasan konsumen diukur dari 8 dimensi, yaitu kepuasan umum, harga, kemampuan pribadi, evaluasi, pemberian informasi non-medis, kepercayaan, pelayanan pada pasien, dan pemberian penjelasan. Kuesioner apoteker dan konsumen apotek yang telah terkumpul kemudian diberi skor masing-masing dan dikategorikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan kefarmasian di apotek tergolong kategori sedang dan baik. Kepuasan konsumen untuk semua dimensi tergolong kategori kurang puas. Analisa hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen menggunakan analisis korelasi Pearson, menunjukkan adanya hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN KEPUASAN PASIEN MENGGUNAKAN JASA APOTEK DI KOTA DENPASAR

HUBUNGAN PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN KEPUASAN PASIEN MENGGUNAKAN JASA APOTEK DI KOTA DENPASAR

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya ilmiah tesis saya yang berjudul Hubungan Pelayanan Kefarmasian Dengan Kepuasan Pasien Menggunakan Jasa Apotek Di Kota Denpasar ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila dikemudian hari didapatkan bukti bahwa Tesis ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai Peraturan Mendiknas RI .No.17 Tahun 2010.

16 Baca lebih lajut

Profil Pelayanan Kefarmasian Dan Kepuasan Konsumen Apotek Di Kecamatan Adiwerna Kota Tegal - Ubaya Repository

Profil Pelayanan Kefarmasian Dan Kepuasan Konsumen Apotek Di Kecamatan Adiwerna Kota Tegal - Ubaya Repository

Penelitian ini bertujuan mengetahui pelayanan kefarmasian di apotek, tingkat kepuasan konsumen apotek, serta ada atau tidaknya hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen. Data dikumpulkan dari 7 apoteker dan 175 konsumen apotek di 7 apotek di Kecamatan Adiwerna pada bulan Juli- Agustus 2012 menggunakan kuesioner. Pelayanan kefarmasian di apotek yang akan dikaji dalam penelitian ini terkait dengan ketenagaan, pelayanan, administrasi, dan evaluasi mutu pelayanan. Tingkat kepuasan konsumen diukur dari 8 dimensi, yaitu kepuasan umum, harga, kemampuan pribadi, evaluasi, pemberian informasi non-medis, kepercayaan, pelayanan pada pasien, dan pemberian penjelasan. Kuesioner apoteker dan konsumen apotek yang telah terkumpul kemudian diberi skor masing-masing dan dikategorikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan kefarmasian di apotek tergolong kategori sedang dan baik. Kepuasan konsumen untuk semua dimensi tergolong kategori kurang puas. Analisa hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen menggunakan analisis korelasi Pearson, menunjukkan adanya hubungan antara pelayanan kefarmasian dengan kepuasan konsumen.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

penilaian sebesar 0,836 atau termasuk dalam kriteria kurang. Hal ini diakibatkan pelayanan kefarmasian di apotek sebagian besar tidak dilakukan oleh apoteker, melainkan oleh asisten apoteker. Sehingga skor keterlaksanaan standar pelayanan kefarmasian rendah. Ditinjau dari masing-masing aspek standar, ternyata aspek monitoring efek samping obat (MESO) dan pemantauan terapi obat (PTO) memiliki rerata skor paling rendah, menunjukkan bahwa aspek ini belum dilakukan. Rendahnya skor monitoring efek samping obat (MESO) dan pemantauan terapi obat (PTO) mengindikasikan bahwa pelayanan kefarmasian masih cenderung berorientasi produk, belum bergeser ke orientasi pasien sebagaimana yang diamanatkan dalam Permenkes No. 35 tahun 2014. Responden memberi skor lebih tinggi pada aktivitas yang berkaitan dengan manajemen apotek, hal ini mengindikasikan bahwa apotek ini merasa nyaman hanya dengan melakukan aktivitas manajemen saja dan tidak sepenuhnya meyakini bahwa aktivitas lain seperti dispensing, konseling, pemantauan terapi obat serta monitoring efek samping obat merupakan tanggung jawab apoteker dan masih jauh dari konsep apoteker untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien.
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, dengan judul “Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan

13 Baca lebih lajut

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggungjawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pelayanan ini dilakukan oleh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (Presiden, RI., 2009).

8 Baca lebih lajut

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

Profil Keterlaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian dan Kepuasan Konsumen di Apotek: Studi Kasus pada Apotek Kimia Farma No.27 Medan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di apotek, yang dimaksud dengan apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggungjawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Dan yang termasuk pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...