Top PDF HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI ipi364961

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI ipi364961

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI ipi364961

Pada penelitian ini didapatkan prevalensi PAP lebih tinggi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki, baik pada kelompok hipertensi tanpa DM maupun kelompok hipertensi pada DM. Namun, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan status PAP. Hasil penelitian serupa yang dihasilkan oleh XiaoMin dkk menyebutkan bahwa PAP lebih sering terjadi pada wanita. 13 Pada penelitian ini, mayoritas subjek dengan status PAP positif pada masing masing kelompok berstatus dislipidemia. Status displipidemi pada kelompok hipertensi tanpa DM didapatkan pada seluruh subjek 100% dan pada kelompok hipertensi dengan DM sebesar 88,9%. Hal ini kurang lebih sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh PARTNERS yang menunjukkan bahwa prevalensi hiperlipidemia pada pasien PAP adalah 77%. 14 Dengan analisis multivariat didapatkan hasil bahwa status dislipidemi merupakan variabel perancu yang tidak bisa dipisahkan hubungannya dengan PAP. Sehingga, status PAP dalam penelitian ini selain dipengaruhi oleh status diabetes, juga dipengaruhi oleh status dislipidemi.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Alhamdulillah, segala puji kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah yang berjudul “HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI”. Karya Tulis Ilmiah ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh derajat sarjana kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan keilmuan di bidang kedokteran.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

sitotoksis langsung terhadap endotel, sehingga terjadi kerusakan dan gangguan terhadap endotel. Peningkatan kadar homosistein berhubungan dengan peningkatan risiko untuk terjadinya PAP sebesar 2 sampai 3 kali lipat. The European Concerted Action Project memperkirakan bahwa konsentrasi homosistein puasa yang lebih besar dari persentil 80 (yaitu, lebih besar dari 12,1 mikromol per liter) berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit vaskular aterosklerotik sebesar 2 kali lipat, antara lain PAP, penyakit pembuluh koroner, dan stroke, dan faktor risiko tradisional independen lainya. Dalam suatu studi, kenaikan kadar homosistein total sebesar 5 mikromol per liter meningkatkan risiko PAP sebesar 44%. 22
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian cohort untuk mengetahui hubungan sebab-akibat adanya status DM terhadap PAP pada pasien hipertensi.. Perlu dilakukan pe[r]

1 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Analisis deskriptif dilakukan dengan menghitung frekuensi dan persentase. Selanjutnya dilakukan analisis bivariat yang bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel bebas yang diteliti (status DM), variabel terikat (status PAP) pada pasien Hipertensi menggunakan uji Chi Square apabila memenuhi syarat uji chi square, atau uji Fisher apabila tidak memenuhi syarat.

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Selain karena dampaknya yang buruk bagi pasien, adanya PAP pada satu arteri juga menjadi prediktor kuat adanya PAP pada arteri lainnya, termasuk pada pembuluh darah koroner, karotis dan serebral. 10 Karena itu, identifikasi PAP adalah hal yang penting untuk dilakukan. Uji diagnosa yang banyak dilakukan di klinik adalah ABI ( Ankle Brachial Index ). 11

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Tidak semua variabel dalam kerangka teori diteliti dalam penelitian ini. Variabel kadar c-reactive protein, fibrinogen, homosistein, apolipoprotein b, lipoprotein, viskositas plasma tidak dilakukan penilaian karena keterbatasan penelitian meliputi waktu, dana, dan kemampuan peneliti. Variabel usia dan ras tidak ikut diteliti karena subjek dianggap dalam rentang usia dan ras yang sama. Variabel status merokok akan dikontrol dengan cara restriksi, yakni akan dieksklusi dari penelitian.

3 Baca lebih lajut

Hubungan antara Diabetes Melitus dengan Penyakit Arteri Perifer (PAP) Melalui Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Poliklinik Rumah Sakit di Mataram

Hubungan antara Diabetes Melitus dengan Penyakit Arteri Perifer (PAP) Melalui Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Poliklinik Rumah Sakit di Mataram

Pada penelitian ini juga tidak diketahui sudah berapa lama subjek mengalami diabetes melitus, karena berda- sarkan penelitian yang dilakukan oleh Chen, Wang & Zhao (2015) menyatakan bahwa terdapat hubungan an- tara lama menderita diabetes melitus dengan nilai ABI pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Department of Endocrinology, Beijing Tongren Hospital, Capital Me- dical University dengan p=0,014. 20 Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Taufik (2015) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama menderita diabetes melitus dengan nilai ABI, sehingga bertambah lama seseorang menderita diabetes melitus maka akan bertambah berat juga nilai ABI nya. Sema- kin lama seseorang mengalami diabetes melitus maka semakin besar risiko terjadinya komplikasi - komplikasi yang akan muncul, seperti ulkus diabetes, retinopati, nefropati, neuropati, CAD, dan PAP. 21 Menurut Escobe- do, Rana, Lombardero, et al (2010) menjelaskan bahwa PAP dan kerusakan fungsi miokard akan terlihat pada penderita diabetes melitus yang menderita diatas 20 ta- hun. 22
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER DI POSYANDU LANJUT USIA KELURAHAN PUCANGAN  Hubungan Hipertensi Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan Tinjauan Terhadap Nilai Ankle Brachial Index.

HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER DI POSYANDU LANJUT USIA KELURAHAN PUCANGAN Hubungan Hipertensi Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan Tinjauan Terhadap Nilai Ankle Brachial Index.

PAP sebaiknya segera diidentifikasi pada individu yang berusia lanjut ( ≥ 50 tahun) dengan memiliki faktor resiko aterosklerosis (hipertensi, diabetes, dislipidemi, merokok), adanya klaudikasio intermiten, abnormal pulse pada ektremitas bawah dan aterosklerosis. Salah satu pemeriksaan non invansif yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) (ACCF/AHA, 2011). Teknik pemeriksaan ABI yaitu dilakukan setelah istirahat 5 menit, pasien dalam posisi tidur terlentang, lakukan pemeriksaan tekanan darah sistolik arteri brakialis pada kedua tangan, lalu lakukan pemeriksaan tekanan darah sistolik dorsal pedis atau arteri tibialis pada ektremitas bawah. Hitung nilai ABI dengan membagi nilai sistolik pada ektremitas bawah dengan sistolik pada ektremitas atas, dilakukan secara terpisah setiap sisi (Allison et al., 2008).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA DIABETES MELITUS DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN PUCANGAN  Hubungan Antara Diabetes Melitus Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan.

HUBUNGAN ANTARA DIABETES MELITUS DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN PUCANGAN Hubungan Antara Diabetes Melitus Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan.

Latar Belakang: Diabetes Melitus merupakan kumpulan penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau bahkan kedua-duanya. DM dapat menimbulkan beberapa komplikasi salah satunya adalah aterosklerosis. Penyebab terbesar PAP adalah aterosklerosis. Aterosklerosis dari DM akan dilihat dari akibat DM dengan fungsi endotel, DM terhadap platelet, dan akibatnya pada koagulasi dan rheologi. Prevalensi PAP di Indonesia adalah 9,7% (Fowkes, 2006). DM dapat meningkatkan resiko kejadian PAP simptomatik dan asimptomatik sebesar 1,5-4 kali lipat (Rangkuti, 2008). Menurut Thiruvoipati (2015), prevalensi screening PAP dengan menggunakan ABI (Ankle Brachial Index) pada pasien DM berusia >50 tahun sebesar 29%. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara DM dengan PAP.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Diabetes Melitus Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Diabetes Melitus Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan.

Menurut Thiruvoipati (2015), prevalensi screening PAP dengan menggunakan ABI ( Ankle Brachial Index ) pada pasien DM berusia >50 tahun sebesar 29%. Hasil observasi pendahuluan di Posyandu Lansia Langgeng Sehat Kelurahan Pucangan menunjukkan bahwa dari 38 lansia yang diperiksa, 9 orang diantaranya menderita Penyakit Arteri Perifer (PAP) serta 4 orang diantaranya memiliki riwayat DM.

5 Baca lebih lajut

Prevalensi Penyakit Arteri Perifer Pada Populasi Penyakit Diabetes Melitus di Puskesmas Kota Medan

Prevalensi Penyakit Arteri Perifer Pada Populasi Penyakit Diabetes Melitus di Puskesmas Kota Medan

ABI dapat mendeteksi lesi stenosis paling sedikit 50% pada tungkai. Pembuluh darah yang kaku bila didapati adanya kalsifikasi arteri. Hal ini sering dijumpai pada pasien diabetes, orang tua, GGK dengan HD reguler dan pasien yang mendapat terapi steroid kronis. Bila ABI tidak dapat mendeteksi penyakit arteri perifer karena pembuluh darah yang kaku, maka digunakan test toe-brachial indeks. Test ini lebih baik untuk menilai perfusi ke tungkai bawah bila nilai ABI > atau sama dengan 1,3. Nilai toe brachial indeks < 0,7 dapat digunakan menegakkan adanya gangguan pembuluh darah arteri perifer. Sensitivitas dan spesifisitas dari ABI ini 95% dan 100% berturut-turut. Petunjuk praktis penanganan PAP menurut ACC/AHA merekomendasikan test ABI dilakukan pada individu yang diduga gangguan arteri perifer karena adanya luka yang tidak sembuh sembuh atau pada Usia 50-70 tahun yang mempunyai riwayat merokok atau DM. Sebagai tambahan, ADA menyarankan skrining ABI dilakukan pada penderita DM dengan usia < 50 tahun yang mempunyai faktor risiko penyakit arteri perifer seperti merokok, hipertensi, hiperlipidemia, terutama pada yang menderita DM di atas 10 tahun.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Hubungan antara Diabetes Melitus dengan Penyakit Arteri Perifer (PAP) Melalui Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit di Mataram Evaluasi Angka Bebas Batu pada Pasien Batu Ginjal yang Dilakukan ESWL Berdasarkan Letak dan

Hubungan antara Diabetes Melitus dengan Penyakit Arteri Perifer (PAP) Melalui Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit di Mataram Evaluasi Angka Bebas Batu pada Pasien Batu Ginjal yang Dilakukan ESWL Berdasarkan Letak dan

Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) me- rupakan salah satu terapi batu saluran kemih dengan prosedur yang sederhana, aman, noninvasif, angka ke- berhasilan tinggi dan umumnya tidak memerlukan anes- tesi umum dibandingkan dengan modalitas terapi yang lain. Selain itu juga 98% pasien pasca tindakan ESWL dapat dirawat jalan dan tindakan ini hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit. Gelombang kejut akan diberi- kan dari luar tubuh dan ditransmisikan ke dalam tubuh dengan difokuskan ke batu di ginjal maupun di ureter. Jika batu ini terus menerus menerima transmisi gelom- bang kejut, maka batu ini akan terpecah ke ukuran lebih kecil yang akan secara spontan keluar bersama urine. 5
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

HUBUARTERI Hubungan Antara Diabetes Melitus Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan.

HUBUARTERI Hubungan Antara Diabetes Melitus Dengan Penyakit Arteri Perifer Di Posyandu Lansia Kelurahan Pucangan.

Latar Belakang: Diabetes Melitus merupakan kumpulan penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau bahkan kedua-duanya. DM dapat menimbulkan beberapa komplikasi salah satunya adalah aterosklerosis. Penyebab terbesar PAP adalah aterosklerosis. Aterosklerosis dari DM akan dilihat dari akibat DM dengan fungsi endotel, DM terhadap platelet, dan akibatnya pada koagulasi dan rheologi. Prevalensi PAP di Indonesia adalah 9,7% (Fowkes, 2006). DM dapat meningkatkan resiko kejadian PAP simptomatik dan asimptomatik sebesar 1,5-4 kali lipat (Rangkuti, 2008). Menurut Thiruvoipati (2015), prevalensi screening PAP dengan menggunakan ABI ( Ankle Brachial Index ) pada pasien DM berusia >50 tahun sebesar 29%. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara DM dengan PAP.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA DIABETES MELITUS DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) MELALUI PEMERIKSAAN ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) PADA PASIEN POLIKLINIK DI RUMAH SAKIT MATARAM - Repository UNRAM

HUBUNGAN ANTARA DIABETES MELITUS DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) MELALUI PEMERIKSAAN ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) PADA PASIEN POLIKLINIK DI RUMAH SAKIT MATARAM - Repository UNRAM

Selain faktor-faktor diatas, masih terdapat beberapa kelemahan pada penelitian ini yaitu pengambilan data yang dilakukan hanya pada suatu periode waktu tertentu (metode cross sectional), pengambilan sampel menggunakan metode concecutive sampling, sampel penelitian sebagian besar merupakan pasien diabetes melitus terkontrol dan meminum obat antidiabetes secara teratur, peneliti juga tidak mengetahui sudah berapa lama pasien menderita diabetes melitus serta pada penelitian ini pengukuran ABI nya menggunakan auskultasi, tidak menggunakan Doppler yang menjadi gold standar dalam pengukuran ABI.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Eka Aryani 22010112110093 Lap KTI BAB 0

Eka Aryani 22010112110093 Lap KTI BAB 0

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ Hubungan antara Dislipidemia dengan Status Penyakit Arteri Perifer (PAP) pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Terkontrol Sedang ”.

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP, PERSEPSI, MOTIVASI, DUKUNGAN KELUARGA DAN SUMBER INFORMASI PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN SEKUNDER FAKTOR RISIKO ipi267377

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP, PERSEPSI, MOTIVASI, DUKUNGAN KELUARGA DAN SUMBER INFORMASI PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN SEKUNDER FAKTOR RISIKO ipi267377

Overweight dan obesitas berhubungan dengan meningkatnya prevalensi PJK, risko terjadinya PJK lebih besar terjadi pada laki-laki yaitu sebesar 52,5%. Menurut penelitian Mawi, (2003) tentang hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan penyakit jantung koroner dinyatakan bahwa prevalensi PJK akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya IMT terutama pada perempuan. Semakin banyaknya penderita jantung koroner di Indonesia dan tingginya angka kunjungan ke rumah sakit karena adanya keluhan yang tidak disadari pasien, akan membutuhkan penanganan khusus untuk menekan prevalensinya di Indonesia. Prevalensi penyakit jantung koroner sebagai salah satu penyakit jantung yang cukup mematikan di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perlunya dikaji lebih jauh faktor yang mempengaruhi kemampuan pasien PJK untuk dapat mengontrol berat badan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

Berdasarkan hasil analisis rata-rata usia responden secara keseluruhan adalah 67,48 ± 6,310 tahun dengan usia minimal 60 tahun dan usia maksimal 87 tahun. Proporsi responden berjenis kelamin laki-laki lebih kecil (36,8%) dibandingkan dengan perempuan (63,2%). Sebagian besar responden (51,7%) memiliki tingkat pendidikan rendah. Mayoritas responden sudah tidak bekerja (65,5%). Responden yang sudah menikah dan masih memiliki pasangan sebesar 60,9%, sementara yang sudah berstatus duda/janda sebanyak 39,1%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari 87 orang subyek penelitian 54 orang (62,1%) memiliki hipertensi grade I, 33 responden (37,9%) memiliki hipertensi grade II.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hubungan Hipertensi dan Penyakit Arteri Perifer Berdasarkan Nilai Ankle-Brachial Index

Hubungan Hipertensi dan Penyakit Arteri Perifer Berdasarkan Nilai Ankle-Brachial Index

aterosklerosis telah berkembang sejak awal kehidupan dan semakin menebal seiring lamanya pajanan dan efek kumulatif oleh faktor resiko. Lesi awal ateroma umumnya tidak menimbulkan gejala dan perkembangannya biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga terbentuk suatu plak ateroma matang yang bermakna secara klinis. Lama menderita hipertensi menunjukkan lamanya proses aterogenesis akibat hipertensi berlangsung. Semakin lama pajanan terhadap faktor-faktor resiko semakin besar progesiitas aterosklerosis. 26

8 Baca lebih lajut

HUBUNGMELITUS PADA DIA Hubungan Pengetahuan Pasien Tentang Penyakit DM dengan Tingkat Pengendalian Kadar Glukosa Darah pada DM Tipe II.

HUBUNGMELITUS PADA DIA Hubungan Pengetahuan Pasien Tentang Penyakit DM dengan Tingkat Pengendalian Kadar Glukosa Darah pada DM Tipe II.

Doni Aprilianto, J500100063. Hubungan Pengetahuan Pasien Tentang Penyakit Diabetes Melitus dengan Tingkat Pengendalian Kadar Glukosa Darah pada Diabetes Melitus Tipe II di RSUD Kabupaten Karanganyar Latar Belakang :Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan sehingga kadar glukosa dalam darah tinggi. Kadar glukosa yang tidak terkendali berangsur-angsur akan menimbulkan komplikasi. Dalam penanggulangan penyakit DM, seorang penderita DM harus memiliki pengetahuan tentang DM yang baik sehingga dapat mencegah dari mortalitas dan morbiditas penyakit DM.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...