Top PDF Hubungan Status Gizi Balita Dengan Kejadian Infeksi Di Kecamatan Getasan

Hubungan Status Gizi Balita Dengan Kejadian Infeksi Di Kecamatan Getasan

Hubungan Status Gizi Balita Dengan Kejadian Infeksi Di Kecamatan Getasan

Negara yang sedang berkembang angka kematian bayi dan anak relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju dan penyebab utama kematian adalah penyakit infeksi dan parasit, serta banyak diantaranya yang berhubungan dengan kekurangan gizi. Faktor multidimensional yang mempengaruhi status gizi seseorang anak adalah faktor sosial- ekonomis sampai pada faktor fisik-biologis serta salah satu faktor yang sangat penting dan berpengaruh secara timbal balik dengan keadaan kekurangan gizi adalah penyakit infeksi, parasi (Supariasa dkk, 2001). Infeksi masih merupakan masalah kesehatan di dunia, terutama di negara berkembang kemudian penyakit infeksi masih merupakan penyebab kematian utama pada anak di bawah usia 5 tahun, akan tetapi anak-anak yang meninggal karena infeksi, biasanya didahului oleh keadaan gizi yang kurang baik serta rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh (Yandofa Dea, 2010). Penyakit infeksi sangat erat hubungannya dengan status gizi yang kurang hal ini dapat dijelaskan melaui mekanisme pertahanan tubuh yaitu pada balita yang kekurangan konsumsi makanan di dalam tubuh sehingga kemampuan tubuh untuk membentuk energi baru berkurang kemudian
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Jurnal Obstretika Scientia ISSN HUBUNGAN ANTARA USIA, STATUS GIZI, DAN STATUS IMUNISASI DENGAN KEJADIAN CAMPAK BALITA

Jurnal Obstretika Scientia ISSN HUBUNGAN ANTARA USIA, STATUS GIZI, DAN STATUS IMUNISASI DENGAN KEJADIAN CAMPAK BALITA

Anak yang belum diimunisasi akan tumbuh menjadi besar atau dewasa tanpa pernah terpajan dengan agen infeksi tersebut. Hal ini dapat menggeser umur rata-rata kejadian infeksi ke umur yang lebih tua. (Wahab, 2002).Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulung Vinsensius di Puskesmas Kori kecamatan Kodi Utara Kabupaten Sumba Barat tahun 2006 dapat disimpulkan bahwa faktor risiko terjadinya campak pasca KLB campak adalah status gizi anak, status imunisasi anak, riwayat kontak anak, tingkat pengetahuan responden, sikap responden, dan ekonomi keluarga, sedangkan kejadian campak tidak ada hubungan dengan umur anak (p = 0,871).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI POSYANDU BALITA TEMU IRENG RW IX SOROSUTAN YOGYAKARTA

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI POSYANDU BALITA TEMU IRENG RW IX SOROSUTAN YOGYAKARTA

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan terjadinya perubahan bentuk dan konsentrasi tinja yang melembek sampai cair dengan frekuensi lebih dari lima kali sehari.Diare bisa menyebabkan seseorang kekurangan cairan. Penyebab diare diantaranya infeksi (bakteri maupun virus) atau alergi makanan (khususnya susu atau laktosa). Diare pada anak harus ditangani karena bila tidak ditangani dengan segera diare dapat mengakibatkan kematian (Pudiastuti,2011).

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA  Hubungan Status Gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA Hubungan Status Gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

Pendahuluan: Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi pada balita dan merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pneumonia yaitu status gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sahat PHBS.

18 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi Dengan Frekuensi Kejadian Diare Pada Balita Di Kelurahan Pisangan Tahun 2010

Hubungan Status Gizi Dengan Frekuensi Kejadian Diare Pada Balita Di Kelurahan Pisangan Tahun 2010

Antara keadaan gizi buruk dan penyakit diare terdapat hubungan yang sangat erat, sungguh sulit untuk mengatakan apakah terjadi gizi buruk akibat adanya diare ataukah kejadian diare adalah disebabkan keadaan gizi buruk. Diare merupakan suatu gejala penyakit yang dapat terjadi karena berbagai sebab, seperti salah makan, makanan yang basi atau busuk seperti sering terjadi pada pemberian susu botol yang telah basi, disamping akibat infeksi. Memburuknya tingkat gizi pada penderita diare seperti telah diuraikan pada bagian yang lain, selain disebabkan hilangnya cairan tubuh, juga karena menurunnya nafsu makan, serta kebiasaan menghentikan pemberian makanan selama diare. Mengingat tingginya angka kematian dan kesakitan diare yang disebabkan oleh keadaan gizi buruk, maka penanganan penderita harus dilakukan dengan cermat. Di samping pengembalian cairan yang hilang, pemberian makanan pun harus seksama sehingga memungkinkan tercapainya kembali berat badan anak. (Sjahmiem M, 2003)
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

 HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS  Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

Result: Nutritional status of the young children can be catagorized as good and poor. There were 72 young childrens with good nutritional status, and 58% of them experienced diarrhea, and 42% of them had no diarrhea. Young children with poor nutritional status were 28, and 36% of them experienced diarrhea, and 64% of them with no diarrhea. Result of analysis found p-value = 0.042.

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG MAKANAN BALITA TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI DESA MALANGJIWAN, KECAMATAN COLOMADU, KABUPATEN  Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Makanan Balita Terhadap Status Gizi Balita Di Desa Malangjiwan, Kecamatan

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG MAKANAN BALITA TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI DESA MALANGJIWAN, KECAMATAN COLOMADU, KABUPATEN Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Makanan Balita Terhadap Status Gizi Balita Di Desa Malangjiwan, Kecamatan

Status gizi balita dipengaruhi oleh dua faktor yaitu fakor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung yaitu konsumsi pangan dan penyakit infeksi, sedangkan salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruh status gizi balita adala pengetahuan dan sikap ibu. Kurangnya pengetahuan dan sikap ibu merupakan salah satu penyebab terjadinya kurang gizi pada balita. Ibu yang memiliki pengetahuan dan sikap gizi yang kurang akan sukar memilih makanan yang bergizi bagi balita dan keluarganya sehingga akan mempengaruhi asupan makan balita dan status gizinya. Gizi yang baik adalah gizi yang seimbang, artinya asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Balita gizi kurang akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan otak dan tingkat kecerdasan, hal ini karena kurangnya produksi protein dan energy yang di peroleh dari makanan (Zuraida dan Nainggolan, 2011).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN HIGIENE PERSONAL DAN  KEJADIAN INFEKSI DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA SEKOLAH DI SDN  Hubungan Higiene Personal dan Kejadian Infeksi dengan Status Gizi pada Anak Usia Sekolah di SDN Telukan 03 Grogol Sukoharjo.

HUBUNGAN HIGIENE PERSONAL DAN KEJADIAN INFEKSI DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA SEKOLAH DI SDN Hubungan Higiene Personal dan Kejadian Infeksi dengan Status Gizi pada Anak Usia Sekolah di SDN Telukan 03 Grogol Sukoharjo.

SDN Telukan 03 Grogol Sukoharjo berdiri pada tahun 1982. Sekolah ini beralamat di Telukan RT 02/RW 01 Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo. Jumlah karyawan di SDN Telukan 03 Grogol sebanyak 13 orang yang terdiri dari 11 guru, satu kepala sekolah dan satu penjaga sekolah, sedangkan jumlah siswa pada tahun 2016 adalah 101 siswa. SDN Telukan 03 Grogol Sukoharjo memiliki satu kantin sekolah yang berada di dalam lingkungan sekolah. kantin sekolah selain menjual makanan dan minuman kemasan juga menjual makanan matang contohnya nasi bungkus, es kucir dan gorengan. Pada waktu istirahat para siswa membeli jajanan atau makanan di kantin sekolah. Siswa tidak diperbolehkan keluar lingkungan sekolah pada jam istirahat, sedangkan jika ingin membeli jajanan di luar sekolah harus menunggu jam pulang sekolah atau membeli dari halaman sekolah. Penjual makanan keliling banyak yang berjualan di luar sekolah. Makanan dan minuman yang dijual bermacam-macam contohnya cakwe, bakso, roti bakar, leker, siomay, tela-tela, telur goreng, mie, agar-agar, pop ice, es cincau, es doger, es sirup, dan lain sebagainya (Profil Sekolah).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN POLA ASUH, POLA MAKAN DAN PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI KABUPATEN  Hubungan Pola Asuh, Pola Makan Dan Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Di Kabupaten Magetan Tahun 2016.

HUBUNGAN POLA ASUH, POLA MAKAN DAN PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI KABUPATEN Hubungan Pola Asuh, Pola Makan Dan Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Di Kabupaten Magetan Tahun 2016.

3.3.2 Hubungan pola makan dengan kejadian gizi buruk berdasarkan stratifikasi status ekonomi Hasil analisis stratifikasi menurut status ekonomi diperoleh nilai OR crude sebesar 8,508, OR MH sebesar 9,833 dan nilai ∆POR=15%>10% menunjukkan bahwa status ekonomi merupakan variabel perancu bagi hubungan pola makan dengan kejadian gizi buruk. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Rohaedi (2014), bahwa status ekonomi merupakan variabel confounding bagi hubungan ketahanan pangan dengan status gizi balita. Menurut Budiyanto (2002), pengaturan makanan meliputi perencanaan menu, pembelian, penyimpanan yang aman, pengawasan serta penyajian yang tepat. Menu makanan yang sembarangan sering kali tidak seimbang dan harganya relatif mahal. Jika ekonomi keluarga rendah, maka sebisa mungkin pengeluaran untuk makanan diperkecil dimana masih mempertimbangkan kualitas dan gizi dari makanan. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan lain yang menyebabkan orang-orang tak mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan tubuh. Nilai p-homogeneity sebesar 0,647>0,05 berarti bahwa status ekonomi bukan merupakan efek modifikasi dalam hubungan pola makan dengan kejadian gizi buruk. Hal ini berarti tidak ada perbedaan pola makan balita gizi buruk pada status ekonomi tinggi dan rendah.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

HUBUNGAN POLA ASUH, POLA MAKAN DAN PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI KABUPATEN  Hubungan Pola Asuh, Pola Makan Dan Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Di Kabupaten Magetan Tahun 2016.

HUBUNGAN POLA ASUH, POLA MAKAN DAN PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI KABUPATEN Hubungan Pola Asuh, Pola Makan Dan Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Di Kabupaten Magetan Tahun 2016.

Malnutrition becomes society health problem which can influence quality of the next generation. Malnutrition in community health centre of Panekan area in 2015 was about 0,6% and in 2016 was about 0,78%. While in community health centre of Karangrejo in 2015 was about 1,6% and in 2016 was about 1,02%. This research aims to analyze the relationship among the way of mothering, the way of eating, and infectious disease toward children under five with malnutrition in Magetan Regency. This research was observational research with case-control approach. Population of this research was the whole children on age 6-59 mounths which affected malnutrition and nutrient. The samples election are around 54 children under five used fixed disease technique and control samples are 108 children whose house are near the cases. The statistic test technique used Chi Square and stratification test used Mantel-Haenszel. The result of this research showed that there was relationship among the way of mothering (p=0,000), the way of eating (p=0,000), and infectious disease (p=0,000) with malnutrition in Magetan Regency. While the result of stratification of economi status was not as confounding variable in relationship between the way of mothering with malnu trition (∆POR=2,2%), but in relationship between the way of eating with malnutrition (∆POR=15%) and relationship between infection disease and malnutriti on (∆POR=27%), economic status was as confounding variable.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

ISPA yaitu Penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang salah satu atau lebih bagian dari saluran napas mulai dari hidung hingga jaringan di dalam paru-paru. Menurut Riskesdas (2013), di Provinsi Riau keadaan balita dengan kejadian ISPA mencapai 10,9% dan status gizi buruk-kurang sebesar 15,9%, sedangkan untuk cakupan imunisasi sebesar 68%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan status imunisasi dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai tahun 2016.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN  Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.

Salah satu langkah dalam pencapaian target Millenium Development Goals/ MDG’s (Goal ke-4) adalah menurunkan kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat (Depkes RI, 2011).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Gizi dan Infeksi Hubungan Kejadian ISPA

Gizi dan Infeksi Hubungan Kejadian ISPA

akan meningkatkan pengetahuan dan peranserta ibu tentang perilaku apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan gizi balitanya (Leni Merdawati, 2008). Ibu akan dapat meningkatkan gizi balita dan keluarganya dengan berperilaku sadar gizi, antara lain; memantau berat badan balita secara teratur setiap bulan ke Posyandu, mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam, hanya mengkonsumsi garam beryodium, memberikan hanya ASI saja kepada bayi sampai usiia 6 bulan, serta mendapatkan dan memberikan makanan tambahan bagi balitanya (Leni Merdawati, 2008). Penyuluhan bukan hanya dilakukan kepada kelompok ibu, kader posyandu juga perlu mengikuti pelatihan agar memiliki pengetahuan tentang keluarga sadar gizi (KADARZI), cara menilai status gizi balita pada KMS Balita, menu dan gizi seimbang, serta tata laksana gizi buruk pada balita. Kader Kadarzi di masyarakat diharapkan dapat meningkatkan perannya sebagai orang yang terdekat dengan ibu dan balita (Leni Merdawati, 2008).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Imunisasi adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuh kebal terhadap invasi mikroorganisme (bakteri dan virus) yang dapat menyebabkan infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kecepatan untuk menyerang tubuh. Dengan imunisasi, tubuh akan terlindung dari infeksi, begitu pula orang lain karena tidak tertular dari seseorang. Oleh karena itu, imunisasi harus dilakukan untuk semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir, agar pada akhirnya nanti infeksi dapat musna dari muka bumi (Maryunani, 2010).

24 Baca lebih lajut

1 HUBUNGAN STATUS GIZI DAN VITAMIN A DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PIYUNGAN BANTUL NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN STATUS GIZI DAN VITAMIN A DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PIYUNGAN BANTUL - DIGILIB UNISAYOGYA

1 HUBUNGAN STATUS GIZI DAN VITAMIN A DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PIYUNGAN BANTUL NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN STATUS GIZI DAN VITAMIN A DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PIYUNGAN BANTUL - DIGILIB UNISAYOGYA

Pneumonia adalah penyakit radang infeksi akut yang mengenai paru, yang menyebabkan gejala seperti batuk, demam, napas sesak bahkan pada kondisi yang buruk, penyakit pneumonia dapat menyebabkan kematian (Notoatmojo, 2010). Menurut WHO, kasus pneumonia pada balita dengan jumlah penderita mencapai 6 juta jiwa menduduki peringkat ke-6 di dunia. Kriteria untuk menentukan bahwa kematian pneumonia pada balita masih merupakan masalah disuatu wilayah / negara, adalah apabila angka kematian bayi berada di atas 40/1000 balita, atau proposi kematian akibat pneumonia pada balita diatas 20%.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Petunjuk : Wawancara dengan memberikan pertanyaan kepada masing – masing ibu yang memiliki balita yang menderita Infeksi Saluran pernafasan Akut (ISPA). Dan mengisi lembar observasi dengan melakukan penimbangan berat badan (BB) Balita tersebut.

38 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Sukmawati, Ayu SD. 2010. Hubungan Status Gizi, Berat Badan Lahir dan Imunisasi dengan Kejadian ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Tunikamasean Kabupaten Bontoa Kecamatan Maros, Sulawesi Selatan. Media Gizi Pangan, Vol 10, Edisi 2, Juli – Desember 2010.

3 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Dalam pencegahan infeksi dan peningkatan kekebalan tubuh balita, Pemerintah mengeluarkan program setiap balita harus mendapatkan Lima Imunisasi dasar Lengkap (LIL) yang mencakup 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Hepatitis B dan 1 dosis Campak (Kemenkes RI, 2013).

7 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

Hubungan Status Gizi dan Status Imunisasi dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai Tahun 2016

ISPA or acute respiratory tract infection attacks one or more of parts of respiratory tract, from nose until the tissues inside lungs. According to Riskesdas (2013) in Riau Province, 10.9% of children below five years old suffered from ISPA and 15.9% of them had malnutrition, while the coverage of immunization was 68%. These rates do not meet the minimal health service standard of districts/towns in ISPA (27%) and immunization (89%). The objective of the research was to find out the correlation of nutrition and immunization status with the incidence of ISPA in below five year-old children in the working area of Bukit Kapur Puskesmas, Dumai, in 2016.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN DIARE DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI KELURAHAN BEKONANG KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO.

HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN DIARE DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI KELURAHAN BEKONANG KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO.

Angka kejadian diare di Indonesia begitu banyak dan setiap tahun meningkat. Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Diperkirakan dari setiap satu juta penduduk anak balita Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali pertahun. Selain itu, di negara berkembang, menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika anak-anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya dibanding di negara berkembang lainnya yang mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun (Irianto, 2000).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects