Top PDF HUKUM CAGAR BUDAYA DAN KORESPONDENSINYA

STATUS HUKUM TANAH BALUWARTI SEBAGAI CAGAR BUDAYA

STATUS HUKUM TANAH BALUWARTI SEBAGAI CAGAR BUDAYA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hukum tanah Baluwarti sebagai cagar budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif bersifat preskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach). Sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan dan bahan hukum sekunder yang berupa buku-buku, jurnal-jurnal, laporan, arsip dan literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pola berpikir deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanah Baluwarti merupakan milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang berdasarkan pada Pasal 1 ayat (1) Keppres Nomor 23 Tahun 1988 tentang Status dan Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hak atas tanah yang terdapat pada Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah hak magersari, hak anggadhuh, hak paringan ndalem, dan hak tenggan. Tanah Baluwarti merupakan tanah bekas swapraja. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dapat menjadi subjek hak milik dengan cara menganalogikan keraton yang merupakan lembaga kebudayaan menjadi badan hukum kebudayaan yang dipimpin oleh Sinuhun. Sebagai kawasan cagar budaya, masyarakat yang tinggal di Baluwarti memanfaatkan tanah dan bangunan dengan tetap mendukung pelestarian cagar budaya, yaitu dengan tidak merubah, merusak, dan merenovasi bangunan tanpa seizin pihak Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN SEMARANG (Studi Tentang Perlindungan Hukum Situs Cagar Budaya Candi Ngempon)

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN SEMARANG (Studi Tentang Perlindungan Hukum Situs Cagar Budaya Candi Ngempon)

Penelitian terdahulu di atas memiliki relevansi dengan penelitian ini. Perlindungan hukum terhadap cagar budaya berdasarkan Pasal 95 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya di daerah kurang optimal, kemudian banyaknya masyarakat yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebudayaan dari benda cagar budaya, dan hambatan paling besar adalah banyaknya benda cagar budaya yang masih menjadi milik perseorangan. (Andrea Angelina Cipta Wijaya, 2014). Sebagaimana hasil penelitian tersebut, perlindungan hukum terhadap cagar budaya di Kabupaten Semarang khususnya situs cagar budaya Candi Ngempon belum berjalan dengan optimal, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pelanggaran hukum yang terjadi pada situs Candi Ngempon. Penelitian ini melakukan analisis bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap situs cagar budaya Candi Ngempon oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang, kemudian kendala yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang dalam memberikan perlindungan hukum terhadap situs cagar budaya candi ngempon, dan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang untuk mengatasi kendala tersebut.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERIZINAN PEMANFAATAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA UNTUK KEPENTINGAN BISNIS WARALABA LONDON BEAUTY CENTRE (LBC) DI KOTA YOGYAKARTA.

PENDAHULUAN PERIZINAN PEMANFAATAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA UNTUK KEPENTINGAN BISNIS WARALABA LONDON BEAUTY CENTRE (LBC) DI KOTA YOGYAKARTA.

Tahun 2013 tentang Peletarian Cagar Budaya Pasal 32 ayat (1) bahwa setiap orang yang memiliki dan atau yang menguasai Cagar Budaya dapat memanfaatkan Cagar Budaya setelah mendapatkan izin Pemerintah Daerah dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan/atau pariwisata. Ditinjau secara vertikal telah ada sinkronisasi, sehingga prinsip penalaran hukum yang digunakan adalah prinsip penalaran hukum subsumsi, yaitu adanya hubungan logis antara dua aturan dalam hubungan antara peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP BENDA CAGAR BUDAYA  Perlindungan Hukum Terhadap Benda Cagar Budaya Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta.

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP BENDA CAGAR BUDAYA Perlindungan Hukum Terhadap Benda Cagar Budaya Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta.

Di Negara Indonesia banyak sekali terdapat benda-benda peninggalan bersejarah dan purbakala. Peninggalan–peninggalan bersejarah dan purbakala tersebut merupakan suatu kekayaan yang tak ternilai harganya dari bangsa ini, yang sangat perlu sekali dan bahkan wajib untuk dirawat, dikelola dengan baik serta sangat perlu untuk dilestarikan. Benda–benda peninggalan sejarah dan purbakala tersebut yang sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan oleh undang–undang biasa disebut sebagai benda cagar budaya.Keberadaan dari benda-benda cagar budaya tersebut masih rawan dari kerusakan, kehilangan dan mungkin sampai kemusnahan, baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun perbuatan dari manusia itu sendiri.Jenis Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Kualitatif dan Sifat penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat deskriptif yaitu dengan cara menuturkan atau menafsirkan data-data yang ada di Pengadilan Negeri Surakarta. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa perlindungan hukum terhadap benda cagar budaya di Indonesia adalah dengan adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar yang sekarang sudah disempurnakan dengan Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Penerapan hukum bagi pelanggar undang-undang cagar budaya adalah berupa hukuman penjara sesuai dengan pasal-pasal yang dilanggarnya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP BENDA CAGAR BUDAYA  Perlindungan Hukum Terhadap Benda Cagar Budaya Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta.

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP BENDA CAGAR BUDAYA Perlindungan Hukum Terhadap Benda Cagar Budaya Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta.

Di Negara Indonesia banyak sekali terdapat benda-benda peninggalan bersejarah dan purbakala. Peninggalan–peninggalan bersejarah dan purbakala tersebut merupakan suatu kekayaan yang tak ternilai harganya dari bangsa ini, yang sangat perlu sekali dan bahkan wajib untuk dirawat, dikelola dengan baik serta sangat perlu untuk dilestarikan. Benda–benda peninggalan sejarah dan purbakala tersebut yang sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan oleh undang–undang biasa disebut sebagai benda cagar budaya. Keberadaan dari benda-benda cagar budaya tersebut masih rawan dari kerusakan, kehilangan dan mungkin sampai kemusnahan, baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun perbuatan dari manusia itu sendiri. Jenis Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Kualitatif dan Sifat penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat deskriptif yaitu dengan cara menuturkan atau menafsirkan data-data yang ada di Pengadilan Negeri Surakarta. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa perlindungan hukum terhadap benda cagar budaya di Indonesia adalah dengan adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar yang sekarang sudah disempurnakan dengan Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Penerapan hukum bagi pelanggar undang-undang cagar budaya adalah berupa hukuman penjara sesuai dengan pasal-pasal yang dilanggarnya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Penegakan Hukum dalam Pelestarian dan Perlindungan Cagar Budaya

Penegakan Hukum dalam Pelestarian dan Perlindungan Cagar Budaya

Cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk melestarikan cagar budaya, negara bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya. Cagar budaya berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan perlu dikelola oleh pemerintah dan pemerintah daerah dengan meningkatkan peran serta masyarakat untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkancagar budaya. 3
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

UNESCO memiliki lima program utama yaitu Pendidikan, Ilmu Alam dan Pengelolaan Sumber Daya Bumi, Ilmu Sosial dan Manusia, Budaya serta Komunikasi dan Informasi. Program Pendidikan meliputi pendidikan dasar untuk semua dengan penekanan pada keaksaraan, pencegahan HIV/AIDS dan pelatihan guru di sub-Sahara Afrika, meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh dunia serta pendidikan menengah, pendidikan teknologi dan pendidikan tinggi. Program Ilmu Alam dan Pengelolaan Sumber Daya Bumi meliputi perlindungan terhadap air dan kualitasnya, perlindungan terhadap laut, mempromosikan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan teknik untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan di negara-negara maju dan berkembang, pengelolaan sumber daya dan kesiapsiagaan bencana. Program Ilmu Sosial dan manusia meliputi kegiatan mengenai isu-isu global seperti memerangi diskriminasi dan rasisme serta mempromosikan Hak Azasi Manusia. Program Budaya meliputi promosi tentang budaya termasuk pemeliharaan keanekaragaman budaya serta perlindungan warisan budaya. Program yangn terakhir yaitu Komunikasi dan Informasi yang meliputi kebebasan memberikan berkreasi melalui kata-kata dan gambar untuk membangun komunitas di seluruh dunia agar saling berbagi pengetahuan dan memberdayakan masyarakat melalui akses informasi dan pengetahuan tentang studi yang berbeda. 35
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB II PERATURAN DAN PRINSIP-PRINSIP HUKUM INTERNASIONAL MENGENAI PERLINDUNGAN TERHADAP CAGAR BUDAYA BAWAH AIR 2.1 Cagar Budaya Bawah Air secara Umum - PERLINDUNGAN HUKUM CAGAR BUDAYA BAWAH AIR PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL Repository

BAB II PERATURAN DAN PRINSIP-PRINSIP HUKUM INTERNASIONAL MENGENAI PERLINDUNGAN TERHADAP CAGAR BUDAYA BAWAH AIR 2.1 Cagar Budaya Bawah Air secara Umum - PERLINDUNGAN HUKUM CAGAR BUDAYA BAWAH AIR PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL Repository

tanpa menafikkan kemajuan ini sebagai pencapaian yang berarti, kemajuan ini memberi resiko kerusakan bagi benda-benda purbakala bawah air yang mampu ditemukan. Beberapa bentuk kemajuan yang dicapai manusia antara lain, pengembangan pesisir, dipicu oleh perluasan perkotaan dan eksploitasi sumber daya, seperti pengerukan tepi pantai untuk pelabuhan dan reklamasi pantai telah melenyapkan cagar budaya bawah air. Disamping itu, aktivitas yang paling signifikan mengancam keberlangsungan cagar budaya bawah air adalah aktivitas para pemburu harta karun (treasure hunters) atau salvors. Banyak objek yang hilang tidak hanya menyimpan informasi tentang peradaban manusia masa lalu namun juga nernilai ekonomis. Ditemukan benda-benda berharga seperti emas batangan, permata, koin langka, porselen, dan benda-benda antik yang bernilai tinggi dalam penemuan kapal. 29 Dikhawatirkan mereka yang melakukan penemuan tersebut mengabaikan nilai kepurbakalaan atau nilai sejarah dari kapal karam bersejarah dan hanya terfokus pada nilai ekonomi saja.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENGATURAN TANAH BALUWARTI SEBAGAI KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG BERBASIS BUDAYA HUKUM JAWA

PENGATURAN TANAH BALUWARTI SEBAGAI KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG BERBASIS BUDAYA HUKUM JAWA

Menjadikan upacara adat keraton se- bagai aset wisata harus berpegang pada misi Kota Surakarta yaitu “mewujudkan citra kota Solo sebagai kota budaya yang didu- kung oleh pelayanan jasa pariwisata, perda- gangan, industri yang bertumpu pada hasil kerajinan rakyat dalam kehidupan perkotaan yang kondusif merangsang kehidupan yang kreatif, produktif dan mandiri”. Untuk mem- buat upacara adat tradisional, dalam hal ini upacara adat keraton, menjadi produk wisata perlu ada perubahan-perubahan. Setidak- tidaknya perubahan fungsi. Pada mulanya upacara adat keraton ini diselenggarakan dalam memenuhi fungsi magis keagamaan masyarakat. Ketika upacara adat keraton di- jadikan obyek wisata, maka ada perubahan fungsi. Ia akan menjadi bagian dari indus- tri pariwisata dan fungsinya juga melayani sistem sosial dalam industri pariwisata. Pe- nyelenggaraannya juga berdasarkan kaidah- kaidan industri. Tari Bedhaya Ketawang misalnya yang dulu hanya disajikan pada
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

c. bahwa pengaturan benda cagar budaya sebagaimana diatur dalam - UU Cagar Budaya

c. bahwa pengaturan benda cagar budaya sebagaimana diatur dalam - UU Cagar Budaya

Yang dimaksud dengan orang adalah perorangan atau badan hukum/yayasan/ perhimpunan/ perkumpulan dan badan yang sejenis. Sekalipun benda cagar budaya pada dasarnya dikuasai oleh Negara, tetapi setiap orang juga dapat memiliki dan menguasai benda cagar budaya tertentu, dalam arti melaksanakan pengelolaan, pengampuan, atau tindakan sejenis, dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan pemanfaatannya bagi kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, serta pelestariannya.

13 Baca lebih lajut

PERIZINAN PEMANFAATAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA UNTUK KEPENTINGAN BISNIS WARALABA LONDON BEAUTY CENTRE (LBC) DI KOTA YOGYAKARTA.

PERIZINAN PEMANFAATAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA UNTUK KEPENTINGAN BISNIS WARALABA LONDON BEAUTY CENTRE (LBC) DI KOTA YOGYAKARTA.

Seseorang atau badan hukum yang memiliki bangunan cagar budaya di kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya di wilayah Kota Yogyakarta dapat merubah bentuk asli bangunan cagar budaya tersebut, namun dalam melakukan perubahan terhadap bentuk bangunan harus melalui pengkajian yang dilaksanakan oleh pihak Balai Peletarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sudah diatur mengenai adaptasi bangunan, sehingga perubahan bentuk bangunan harus disesuaikan antara bentuk bangunan dan kebutuhan saat ini. Perubahan bentuk bangunan tidak dapat sepenuhnya mengikuti kehendak pemohon, tetap harus memperhatikan estetika bangunan aslinya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Saat ini tercatat sangat banyak warisan budaya di beberapa negara yang terancam rusak bahan sudah rusak ataupun sudah hilang yang diakibatkan kurangnya perawatan dan perhatian khusus dari pemerintah negara tersebut ataupun disebabkan karena peperangan baik itu merupakan warisan budaya yang merupakan kategori warisan alam maupun cagar alam atau situs. Untuk mendapat pengakuan dunia atas warisan budaya nasional suatu negara, maka negara tersebut haruslah mengikuti tahapan dan format yang ditentukan UNESCO. Tahap pertama, cabang budaya tersebut harus terdaftar sebagai warisan budaya nasional. Setelah itu, baru bisa masuk ke tahap berikutnya untuk mendapat pengakuan dunia. Setelah pencatatan sebagai warisan budaya nasional, kemudian akan usulkan kepada warisan budaya dunia 9 . UNESCO telah menerbitkan empat konvensi, yaitu konvensi tahun 1972 mengenai perlindungan warisan dunia, konvensi tahun 2001 mengenai perlindungan benda warisan budaya bawah air, konvensi tahun 2003 mengenai perlindungan warisan budaya takbenda, dan terakhir konvensi tahun 2005 mengenai proteksi dan promosi keanekaragaman ekspresi budaya. Dari keempat konvensi tersebut, Indonesia telah meratifikasi konvensi tahun 1972 dan konvensi 2003 dan menyusul konvensi tahun 2005 10 . Dengan suatu negara meratifikasi konvensi tersebut maka suatu negara harus menjaga seluruh warisan budaya yang terdaftar di negaranya agar tidak mendapatkan sanksi dari pihak UNESCO dan dunia.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Aplikasi Pengembangan Sistem Informasi Bangunan Cagar Budaya Di Kota Yogyakarta Berbasis Web Mobile Dan Location Based Service

Aplikasi Pengembangan Sistem Informasi Bangunan Cagar Budaya Di Kota Yogyakarta Berbasis Web Mobile Dan Location Based Service

Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki banyak bangunan cagar budaya dengan berbagai karateris k dan jenis yang beraneka ragam. Sebagai upaya untuk memperkenalkan bangunan cagar budaya melalui informasi perlu op malisasi ekosistem informasi berbasis penggunaan smartphone (webmobile). Dengan demikian perlu iden fikasi mengenai bagaimana membangun sistem informasi bangunan cagar budaya berbasis webmobile yang menggunakan loca on based service serta mengimplementasikannya.da masyarakat luas untuk melindungi warisan hasil budaya leluhur.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

58. BPCB JAWA TIMUR_2017

58. BPCB JAWA TIMUR_2017

BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA JAWA TIMUR KEPALA BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA JAWA TIMUR KELAS = 13.[r]

1 Baca lebih lajut

Pemeliharaan dan Pemanfaatan BCB

Pemeliharaan dan Pemanfaatan BCB

Ketentuan Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, menetapkan bahwa benda cagar budaya bergerak atau benda cagar budaya tertentu yang dimiliki oleh Negara maupuun perorangan dapat disimpan dan/atau dirawat di museum, dan pemeliharaan dan pemanfaatan benda cagar budaya yang disimpan dan/atau dirawat di museum ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

11 Baca lebih lajut

60. BPCB JAWA TENGAH

60. BPCB JAWA TENGAH

PETA JABATAN BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA JAWA TENGAH Petugas Keamanan Pengolah Data Cagar Budaya Pramu Kantor Nama Jabatan Konservator Pengkaji Pelestari Cagar Budaya KEPALA BAL[r]

1 Baca lebih lajut

0 05 06 2015 Daftar Pustaka dan Lampiran  Buku Kecil   Sejarah Situs2 Budaya Minangkabau di Jorong Batur

0 05 06 2015 Daftar Pustaka dan Lampiran Buku Kecil Sejarah Situs2 Budaya Minangkabau di Jorong Batur

1935: Pada Zaman Belanda, Batur baru berpenduduk lebih kurang 600 jiwa. Oleh Kolonial Belanda, Batur ini digolongkan sebagai dusun pertama di Minangkabau, karena secara geografis sangat dekat dengan Gunung Merapi tempat turunnya nenek moyang orang Minangkabau untuk pertama kalinya. Dikawasan ini juga terdapat situs cagar budaya seperti; Galundi Nan Baselo, Sawah Gadang Satampang Baniah, Batu Sajamba Makan, Parumahan pertama dan Batu Manitik. Di Batur ini hanya terdapat dua suku induk, yaitu; suku Caniago, mempunyai 15 buah rumah adat dan 15 orang Panghulu adat di bawah kepemimpinan Dt.Parpatiah Nan Sabatang dan suku Piliang, dengan 13 buah rumah adat dan 13 orang Panghulu adat di bawah kepemimpinan Dt. Katumanggungan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Peran Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Melestarikan Candi Gebang Sebagai Cagar Budaya Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010.

PENDAHULUAN Peran Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Melestarikan Candi Gebang Sebagai Cagar Budaya Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010.

Upaya perlindungan terhadap benda cagar budaya telah difokuskan, namun hingga saat ini masih sering terjadi gangguan terhadap benda-benda cagar budaya. Salah satu kerugian dari industri pariwisata adalah pencurian benda – benda kuno termasuk para wisatawan banyak pula yang ingin memiliki benda – benda tersebut karena bernilai seni dan menarik namun karena benda – benda tersebut tidak dijual, maka terjadi banyak pencurian. 1

13 Baca lebih lajut

63. BPCB JAMBI_2017_

63. BPCB JAMBI_2017_

PETA JABATAN BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA JAMBI KEPALA BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA JAMBI Rekapitulasi Kelas =.[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...