Top PDF Ical Di Mata Televisi Dan Korban Lumpur Lapindo

Ical Di Mata Televisi Dan Korban Lumpur Lapindo

Ical Di Mata Televisi Dan Korban Lumpur Lapindo

Seperti yang dijelaskan oleh Murphy bahwa latar belakang dan kedekatan dapat menambah informasi kepada khalayak, namun kedekatan tersebut tidak serta merta akan membuat informan akan selamanya memilih untuk dominant. David Morley mencoba menjelaskan seperti data yang ditemukan oleh penulis pada saat melakukan penulisan terhadap korban lumpur lapindo bahwa interpretasi dapat disebabkan oleh status sosial dan organisasi (Jensen, 2002, h. 162). Apabila penjelasan Morley dihubungkan dengan penerimaan Ht dalam memandang beberapa wacana pemberitaan majunya Ical sebagai calon presiden, sangat jelas bahwa interpretasi yang dimiliki oleh Ht disebabkan oleh status sosial dan latar belakangnya. Ht yang merupakan salah satu saksi pada saat bertemu dengan Presiden RI bersama Emha Ainun Najib, banyak bercerita tentang perjalanan dirinya menjadi korban hingga harus bertemu dengan Presiden. Kemudian ini dikaitkan dengan keadaan ekonomi sekarang dan hubungan antar warga sebelum dan sesudah menjadi korban lumpur lapindo. Kedekatan Ht dengan beberapa warga yang mengurus kerugian menjadi pengetahuan lebih dari Ht. Bahkan sebagai koordinator lapangan di kelompok GKLL, Ht sering memberikan pengertian kepada warga lain untuk tetap bersabar dan menunggu, walaupun sebenarnya ganti rugi Ht belum dilunasi 100% hingga sekarang.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kasus Lumpur Lapindo   Materi Etika Bisn

Kasus Lumpur Lapindo Materi Etika Bisn

Pemerintah dianggap tidak serius menangani kasus luapan lumpur panas ini. Masyarakat adalah korban yang paling dirugikan, di mana mereka harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian tanpa adanya kompensasi yang layak. Pemerintah hanya membebankan kepada Lapindo pembelian lahan bersertifikat dengan harga berlipat-lipat dari harga NJOP yang rata-rata harga tanah dibawah Rp. 100 ribu- dibeli oleh Lapindo sebesar Rp 1 juta dan bangunan Rp 1,5 juta masing-masing permeter persegi. untuk 4 desa (Kedung Bendo, Renokenongo, Siring, dan jatirejo) sementara desa-desa lainnya ditanggung APBN, juga penanganan infrastruktur yang rusak.Hal ini dianggap wajar karena banyak media hanya menuliskan data yang tidak akurat tentang penyebab semburan lumpur ini.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERGULATAN DI MEDAN LUMPUR: "Potret Gerakan Sosial Korban Bencana Lumpur Lapindo Dalam Melawan Dominasi Negara dan Korporasi"

PERGULATAN DI MEDAN LUMPUR: "Potret Gerakan Sosial Korban Bencana Lumpur Lapindo Dalam Melawan Dominasi Negara dan Korporasi"

Sukiadi (dalam Akbar, 2012: xxiv) 198 menyatakan bahwa kasus Lumpur Lapindo adalah praktek kasat mata Korporatokrasi sebagai akibat rusaknya sistem ketatanegaraan sehingga negara harus menanggung kejahatan korporasi melalui APBN, yang berujung pada merosotnya kemampuan negara dalam memberikan kesejahteraan rakyat banyak. Lahirnya dua buah kebijakan presiden tentang penanganan dampak bencana Lumpur Lapindo, yakni berupa 2 (dua) Keputusan Presiden (Kepres) dan 4 (empat) Peraturan Presiden (Perpres) yang mengikutinya, berhasil mengkanalisasikan dari bencana korporat menjadi bencana alam. Beban tanggung jawab finansial korporat bergeser menjadi tanggung jawab negara dan dibebankan kepada rakyat melalui APBN. Inilah tabel kejahatan korporatokrasi yang ditanggung oleh rakyat melalui kebijakan pemerintah yang sudah tidak lagi “pro-rakyat”. Beban APBN ini tidak berhenti sampai disini selama kebijakan yang dibuat Presiden dan keputusan politik DPR belum dianulir. Karenanya, argo kuda perampokkan APBN terus berjalan bagaikan bola salju. Belum lagi kerugian masyarakat baik langsung maupun tidak langsung yang jumlahnya secara material berpuluh-kali lipat besarnya. Beban negara akan semakin bertambah berat lagi mengingat, menurut Richard Davies 199 dan kawan-kawan, sulit untuk memprediksikan kapan kepastian semburan lumpur Lapindo akan berhenti. Namun, menurutnya kemungkinan prediksi semburan lumpur Lapindo
Baca lebih lanjut

315 Baca lebih lajut

Bertahan Hidup Dalam Kubangan Lumpur (Studi tentang Korban Lumpur Lapindo di Desa Glagaharum Kecamatan Porong Sidoarjo)

Bertahan Hidup Dalam Kubangan Lumpur (Studi tentang Korban Lumpur Lapindo di Desa Glagaharum Kecamatan Porong Sidoarjo)

Bourdieu sepakat dengan Weber bahwa masyarakat tidak bisa dianalisis secara sederhana lewat kelas-kelas ekonomi dan ideologi semata-mata dengan mengabaikan faktor pendidikan dan budaya. Ia menawarkan analisis field (ranah) sebagai pengganti analisis kelas (Jacky, 2015:182). Masyarakat korban lumpur lapindo baik itu yang tergolong dalam kelas ekonomi atas ataupun bawah. Mereka sama-sama merasakan kesulitan akibat dari peristiwa lumpur lapindo, baik itu kesulitan ekonomi akibat pembayaran uang ganti rugi dan lain sebagainya. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Bagi masyarakat korban lumpur lapindo untuk tetap bisa bertahan hidup di kawasan lumpur lapindo sebagai sebuah arena pertarungan. Bagaimana cara untuk bertarungan menjalani kehidupan di kawasan lumpur lapindo, menjadi sebuah pertanyaan besar bagi masyarakat yang lebih memilih untuk bertahan hidup di desa Glagaharum.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pola Kehidupan dan Kesempatan Kerja Migran Petani Korban Lumpur Lapindo di Daerah Tujuan

Pola Kehidupan dan Kesempatan Kerja Migran Petani Korban Lumpur Lapindo di Daerah Tujuan

Penelitian yang mengulas tentang fenomana migrasi yang dilakukan oleh korban lumpur Lapindo ini sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan. Studi yang paling dekat dengan masalah ini dilakukan Daulay dan Sumarmi (2010) yang menunjukkan enam mekanisme survival yang dilakukan oleh rumahtangga korban lumpur Lapindo di lokasi pengungsian, diantaranya menyiasati usaha melalui migrasi sebagai pilihan terakhir. Namun, penelitian tersebut belum mengungkap secara mendalam pola kehidupan dan kesempatan kerja migran di daerah tujuan. Padahal, beberapa media massa melaporkan bahwa di daerah tujuan migran petani mengalami masalah yang paling banyak, karena disamping kehilangan tempat tinggal, mereka juga kehilangan sawah yang menjadi sumber mata pencaharian pokok selama ini. Selain itu, umumnya migran petani memiliki latar belakang pendidikan, ketrampilan dan keahlian yang tergolong rendah, sehingga mengalami masalah dalam penciptaan kesempatan kerja baru. Berbeda dengan korban lumpur Lapindo yang mempunyai pekerjaan di bidang non pertanian seperti pegawai negeri (guru, dosen, dan pegawai kantor), mereka cukup memikirkan tempat tinggal, sedangkan pekerjaan masih tetap seperti semula. Bahkan, beberapa diantaranya dilaporkan mengalami perubahan kehidupan sosial ekonomi ke arah yang lebih baik (Jawa Pos 7 Nopember 2007).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Pendampingan anak-anak korban Lumpur Lapindo Kelurahan Jatirejo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo

Pendampingan anak-anak korban Lumpur Lapindo Kelurahan Jatirejo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo

Karakter masyarakat Kelurahan Jatirejo yang lebih terbuka dan bisa menerima perkembangan zaman serta teknologi modern, menjadikan masyarakatnya memiliki pola pikir serta kehidupan yang lebih maju. Namun, hal seperti ini tidak hanya membawa dampak positif melainkan juga berdampak negatif yakni ketika semakin banyaknya perubahan-perubahan dan budaya luar yang masuk justru menjadikan pola pikir masyarakat lebih kebarat-baratan atau westernisasi. Khususnya para pemuda-pemudi (generasi penerus) menjadi terkontaminasi dan mulai meninggalkan budaya-budaya lama yang diwariskan oleh nenek moyang, semisal nyingkep atau menutup aurat bagi para pemudi, jika pada zaman dulu pemudi Kelurahan Jatirejo masih menggunakan baju tertutup, sekalipun tidak menggunakan jilbab sedangkan sekarang mereka mulai terpengaruh mode -mode yang sedang ngetrend di televisi sekalipun tidak sesuai dengan adat warga Jatirejo yakni nyingkep. Kemudian gotong-royong, ronda malam, ruwah desa 70 dan sebagainya. 71
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

Analisis Kasus Lumpur Lapindo dari Persp

Analisis Kasus Lumpur Lapindo dari Persp

Kekhususan Strict Liability ini memberikan kemudahan bagi korban dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dalam proses pembuktian kesalahan, yang dalam konteks lingkungan hidup, sangat sulit untuk dibuktikan sebagaimana dipaparkan oleh N.H.T. Siahaan. Peniadaan pembuktian unsur kesalahan dampaknya pada akhirnya hanya berupa kesimpulan bahwa, penanggung jawab usaha tidak boleh tidak bertanggung jawab atas kerusakan dan/atau pencemaran terlepas apakah pada saat itu penanggung jawab usaha sengaja atau lalai, mengingat Schuld berbicara mengenai Mens Rea. Namun penerapan pertanggungjawaban tersebut harus tetap mensyaratkan adanya kausalitas antara pencemaran/kerusakan lingkungan yang terjadi dengan usaha/kegiatan penanggung jawab usaha. Pemenuhan syarat tersebut semata-mata untuk memberikan kepastian hukum atas persona dari Tergugat; agar kondisi dimana penentuan tergugat dalam perkara tidak sembarangan dan merugikan pihak yang seharusnya tidak ikut bertanggung jawab. Disampaing itu, klasula “pada saat terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup” memberikan alasan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi harus merupakan akibat dari usaha/kegiatan penanggung jawab usaha.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

PERSEPSI TERHADAP BENCANA DAN STRATEGI COPING PADA REMAJA KORBAN LUMPUR PANAS PT. LAPINDO BRANTAS DI SIDOARJO JAWA TIMUR

PERSEPSI TERHADAP BENCANA DAN STRATEGI COPING PADA REMAJA KORBAN LUMPUR PANAS PT. LAPINDO BRANTAS DI SIDOARJO JAWA TIMUR

Bencana lumpur panas yang terjadi di Sidoarjo mengakibatkan kerugian yang amat besar bagi korbannya. Tak terkecuali remaja yang menerima dampak yang cukup besar. Belum ada yang mengetahui benar penyebab mengapa lumpur panas ini menyembur. Informasi yang beredar dikalangan remaja mengenai penyebab menyemburnya lumpur panas, membuat mereka memiliki persepsi yang berbeda-beda. Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa sehingga transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan social. Agar bencana ini tidak berdampak terhadap perkembangan remaja, maka diperlukan suatu strategi coping dalam
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Sintesis Natrium Silikat dari Lumpur Lapindo sebagai Inhibitor Korosi

Sintesis Natrium Silikat dari Lumpur Lapindo sebagai Inhibitor Korosi

Natrium silikat merupakan jenis senyawa kimia yang sering digunakan sebagai bahan inhibitor korosi karena sifatnya yang ramah lingkungan, ekonomis dan tingkat efisiensinya yang tinggi [5]. Pembuatan senyawa natrium silikat dapat dilakukan dengan cara mereaksikan senyawa natrium hiroksida dengan senyawa silika [6]. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan proses ekstraksi silika dari lumpur Lapindo untuk sintesis senyawa natrium silikat yang digunakan sebagai inhibitor korosi pada material logam. Selain itu juga dilakukanuji korosi terhadap natrium silikat hasil sintesis untuk mengetahui efisiensi dari inhibitor natrium silikat. Variasi penambahan volume inhibitor dilakukan untuk mengetahui kinerja inhibitor natrium silikat hasil sintesis terhadap larutan korosif asam dan garam.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KOMERSIALISASI BENCANA LUMPUR LAPINDO (Studi Kasus Mengenai Pilihan Rasional Para Pelaku Komersil Terhadap Bencana Lumpur Lapindo) Repository - UNAIR REPOSITORY

KOMERSIALISASI BENCANA LUMPUR LAPINDO (Studi Kasus Mengenai Pilihan Rasional Para Pelaku Komersil Terhadap Bencana Lumpur Lapindo) Repository - UNAIR REPOSITORY

kontroversial ialah jasa parkiran. Para pelaku komersil sekaligus korban memanfaatkan bencana dengan resiko cukup tinggi, mulai dari konflik sosial hingga keamannan kerja, telah kita ketahui bersama bahwa Lumpur Lapindo hingga saat ini masih mengeluarkan semburan. Tetapi hal itu tidak menjadi kendala bagi para pelaku. Mereka memiliki identitas kelompok antar korban untuk menjaga agar sumber daya yang selama ini menguntungkan mereka tidak di manfaatkan oleh orang lain di luar korban lumpur. Identitas yang mereka bentuk memiliki kesepakatan bersama, tidak ada aturan tertulis hanya rasa kesadaran kolektif tiap-tiap individu untuk menjaganya.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

METODE PEMBUATAN BETON DENGAN BAHAN TAMBAH LUMPUR LAPINDO

METODE PEMBUATAN BETON DENGAN BAHAN TAMBAH LUMPUR LAPINDO

Berdasarkan kondisi tersebut, beberapa inventor berusaha mendapatkan kepemilikan HKI atas hasil invensinya, sebagai wujud perlidungan terhadap hak kekayaan intelektual. Salah satu invensi yang akan didaftarkan adalah “ Metode Pembuatan Beton Dengan Bahan Tambah Lumpur Lapindo ” .

22 Baca lebih lajut

Religiusitas Masyarakat Korban Lapindo

Religiusitas Masyarakat Korban Lapindo

Dalam setiap perbincangan diantara mereka terjadi saling menjelekkan, misalnya si fulan B menyebutkan si fulan A telah melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan agama (memafaatkan kesempatan dalam kesempitan) kepada peneliti, tetapi ketika dicek melalui orang lain (fulan C) untuk mencari kebenaran tentang si fulan A sebagaimana dikatakan si fulan B, maka diperoleh data lain bahwa si fulan B juga melakukan sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan si fulan A. Bahkan kata-kata senada dikatakan didepan yang bersangkutan dan yang bersangkutan justru menjawab “kabeh golek urip cak” (tidak menyangkal dan berdalih bahwa) “aku kerja e cak, nek njaluk dhuwit rak sak mestine”. Terdapat pergeseran nilai kerjasama atau “gotongroyong” yang signifikan, yaitu “kegiatan yang dulu bernilai social” dengan keberadaan bencana ini menjadi “semua kegiatan bernilai ekonomi” walaupun mereka adalah sesama korban atau sama-sama “butuh uang”. Relasi antar kelas semakin menonjol kearah orientasi kepada kepentingan ekonomi, agama tidak lagi mampu mengkontrol atas individu maupun populasi. Refleksi yang muncul dari antara mereka para korban lumpur lapindo menggambarkan suatu kompleksitas variasi religiusitas, dengan mengeluarkan slogan-slogan perjuangan sebagai symbol ketidakpuasan dengan menggunakan bahasa agama. Memunculkan symbol- simbol baru “suatu kelas masyarakat teraniaya”, yaitu masyarakat korban lumpur lapindo yang dulunya memiliki alat produksi kini mereka tiba-tiba menjadi masyarakat yang tidak memiliki alat produksi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Lumpur Lapindo Sebagai Pengganti Agregat Kasar Beton

Pemanfaatan Lumpur Lapindo Sebagai Pengganti Agregat Kasar Beton

Bahan penyusun beton yang umum digunakan saat ini adalah semen, pasir, kerikil atau batu pecah. Pada daerah yang sulit mendapatkan kerikil maka harga beton menjadi mahal. Lumpur Lapindo merupakan limbah dari peristiwa bencana alam semburan lumpur di Sidoarjo. Penulis mencoba memanfaatkan lumpur terbut sebagai bahan alternatif agregat kasar beton. Pada penelitian ini lumpur Lapindo dimanfaatkan sebagai agregat kasar pada beton, setelah sebelumnya dibakar seperti pembakaran bata merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kuat tekan dan kuat tarik belah beton dengan agregat kasar lumpur Lapindo bakar serta untuk mengetahui perbandingan kekuatannya terhadap beton normal. Ukuran maksimal agregat kasar yang dipakai pada penelitian ini terdiri dari dua ukuran yaitu 20 mm dan 30 mm dengan faktor air semen (FAS) yang 0,5 dan 0,6. Benda uji berupa silinder beton dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kuat tekan rata-rata beton dengan agregat kasar lumpur Lapindo bakar adalah sebesar 6,448 Mpa, lebih rendah dari nilai kuat tekan beton normal yaitu sebesar 15,65 MPa. Kuat tekan beton dengan agregat kasar beton lumpur Lapindo sama dengan 0,41 kuat tekan beton normal. Nilai kuat tarik belah beton dengan agregat kasar lumpur Lapindo bakar adalah sebesar 0,877 Mpa, lebih rendah dari nilai kuat tarik belah beton normal yaitu sebesar 2,404 MPa. Nilai kuat tarik belah beton lumpur Lapindo sama dengan 0,36 kuat tarik belah beton normal. Berdasarkan nilai-nilai tersebut maka beton dengan agregat kasar lumpur Lapindo bakar termasuk kategori beton non struktural dan dapat digunakan sebagai insulating material.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Lumpur Lapindo Dan Psikologis Anak: (Analisis Dampak Bencana Lumpur Lapindo terhadap Perkembangan Psikologis Anak di Tanggulangin Sidoarjo)

Lumpur Lapindo Dan Psikologis Anak: (Analisis Dampak Bencana Lumpur Lapindo terhadap Perkembangan Psikologis Anak di Tanggulangin Sidoarjo)

bermakna dalam mencapai perkembangan psikologis anak apabila dibandingkan dengan faktor lain seperti keharmonisan keluarga, hubungan sosial masyarakat, dan peran pemerintah. Sumbangan kepribadian terhadap perkembangan psikologis anak akibat lumpur Lapindo sebesar 9, 021 %. Kepribadian anak merupakan faktor yang paling banyak berperan dalam perkembangan psikologis anak dampak musibah lumpur Lapindo dalam perkembangan berfikir, perkembangan kecerdasan, perkembangan bahasa anak, perkembangan kepribadian anak, dan perkembangan jiwa agama anak. Kepribadian merupakan salah satu ciri dari perkembangan psikologis anak, dengan kepribadiannya anak bisa berkembang psikologisnya dengan baik untuk menentukan tindakan, termasuk dalam belajar. Anak yang psikologisnya berkembang adalah pembelajar mandiri, kesadaran dan kemampuan belajarnya tinggi sehingga mereka belajar dan berusaha sendiri untuk mencapai prestasi tanpa harus di minta oleh orang lain. 5. Secara keseluruhan determinasi faktor lingkungan
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN LUMPUR LAPINDO BAKAR  SEBAGAI AGREGAT KASAR BETON RINGAN  Penggunaan Lumpur Lapindo Bakar Sebagai Agregat Kasar Beton Ringan.

PENGGUNAAN LUMPUR LAPINDO BAKAR SEBAGAI AGREGAT KASAR BETON RINGAN Penggunaan Lumpur Lapindo Bakar Sebagai Agregat Kasar Beton Ringan.

Beton ringan adalah beton yang agregat kasarnya diganti dengan agregat ringan. Selain itu dapat pula berupa beton yang diberi bahan tambah yang mampu membentuk gelembung-gelembung udara selama pengadukan berlangsung. Beton ini mempunyai banyak pori sehingga berat jenisnya lebih rendah daripada beton biasa. Limbah lumpur Lapindo sudah merupakan suatu bencana yang dialami bangsa Indonesia khususnya masyarakat Sidoarjo. Pada penelitian ini lumpur Lapindo akan dimanfaatkan sebagai agregat kasar pada beton ringan dengan cara dibakar seperti pembakaran bata merah. Penelitian ini mengunakan dua ukuran maksimal agregat kasar yaitu 20mm dan 30mm. Penelitian ini juga mengunakan dua nilai faktor air semen yaitu 0,50 dan 0,60. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan dan kuat tarik belah beton silinder dengan menggunakan lumpur Lapindo bakar sebagai agregat kasar dan untuk mengetahui perbandingan kekuatan antara beton yang menggunakan lumpur Lapindo bakar sebagai agregat kasar dengan beton normal. Pada penelitian ini benda uji yang digunakan adalah silinder beton dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Penelitian ini menggunakan 4 variasi benda uji. Benda uji yang menggunakan lumpur Lapindo sebagai agregat kasar sebanyak 5 buah tiap variasi, sehingga jumlahnya sebanyak 20 buah. Benda uji untuk beton normal yang menggunakan kerikil sebagai agregat kasar sebanyak 3 buah tiap variasi, sehingga jumlahnya sebanyak 12 buah. Penelitian ini melakukan 2 kali pengujian yaitu uji kuat tekan dan uji kuat tarik belah, sehingga banyaknya benda uji adalah 64 buah. Pengujian dilakukan saat benda uji berumur 45 hari. Dari hasil pengujian kuat tekan didapatkan kuat tekan rata-rata terbesar pada beton normal sebesar 15,650 MPa dengan nilai fas 0,50 dan ukuran maksimal agregat kasar 20 mm, sedangkan kuat tekan rata-rata terbesar pada beton lumpur Lapindo sebesar 6,448 MPa dengan nilai fas 0,50 dan ukuran maksimal agregat kasar 20 mm. Dari hasil pengujian kuat tarik belah didapatkan kuat tarik belah rata-rata terbesar pada beton normal sebesar 2,404 MPa dengan nilai fas 0,50 dan ukuran maksimal agregat kasar 20 mm, sedangkan kuat tarik belah rata-rata terbesar pada beton lumpur Lapindo sebesar 0,877 MPa dengan nilai fas 0,60 dan ukuran maksimal agregat kasar 20 mm.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

DAMPAK LUMPUR LAPINDO SIDOARJO PADA SEKTOR PERTANIAN.

DAMPAK LUMPUR LAPINDO SIDOARJO PADA SEKTOR PERTANIAN.

aspek sosial, mereka yang kehilangan tempat tinggal alias terendam Lumpur, maka bagi mereka tidak bisa berkumpul lagi dengan para tetangga yang sudah terjalin hidup bersama berpuluh-puluh tahun, demikian pula dialami oleh nasib anak-anak mereka tidak bisa lagi bersosialisasi dan bercengkerama dengan teman satu desanya. Mungkin juga sudah berpindah sekolah atau madrasah akibat tidak adanya sarana pendidikan tersebut. Kemudian dari aspek Psikologi, dari fakta lapangan dapat ditemukan semakin banyaknya mereka yang stress, yang mengakibatkan kambuhnya berbagai penyakit. Tidak kurang ada sekitar 1200 orang yang rawat inap pada beberapa rumah sakit di Sidoarjo dan sekitarnya. Belum lagi tekanan jiwa mereka semakin berat tatkala mereka mengingat akan pekerjaannya yang telah hilang, dan nasibnya yang akan datang seperti apa, mengingat ganti rugi dari pihak PT Lapindo sampai saat ini belum dibayarkan kepada warga. Sebagian
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

Sintesis Aerogel Silika dari Lumpur Lapindo dengan Penambahan Trimetilklorosilan (Tmcs)

Sintesis Aerogel Silika dari Lumpur Lapindo dengan Penambahan Trimetilklorosilan (Tmcs)

Aerogel silika dari lumpur Lapindo dapat disintesis dengan metode pengeringan pada tekanan ruang. Analisa gugus fungsi menggunakan spektrofotometer IR menunjukkan bahwa permukaan aerogel silika berhasil dimodifikasi yaitu ditunjukkan adanya puncak pada bilangan gelombang 848,62; 1379,01; dan 2962,46 cm -1 . Aerogel silika yang diperoleh berbentuk bongkahan. Semakin banyak TMCS yang ditambahkan maka aerogel silika

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Penggunaan Lumpur Lapindo Terhadap Struktur Mikro Genteng Keramik

Pengaruh Penggunaan Lumpur Lapindo Terhadap Struktur Mikro Genteng Keramik

Perkembangan dibidang konstruksi mengakibatkan semakin meningkatkan kebutuhan akan bahan konstruksi yang semakin baik. Genteng adalah salah satu bahan konstruksi yang populer sebagai penutup atap konstruksi bangunan. Pada umumnya genteng keramik memiliki sifat- sifat yang baik yaitu keras, kuat dan stabil pada temperatur tinggi. Tetapi bahan keramik bersifat getas dan mudah patah. Umumnya bahan baku genteng keramik adalah tanah liat. Adanya banjir lumpur panas dilokasi pengeboran PT. Lapindo Brantas di Porong Sidoarjo yang menghasilkan volume lumpur yang sangat besar mendorong adanya pemanfaatan lumpur Porong Sidoarjo sebagai bahan bangunan. Salah satu alternatif pemanfaatan lumpur Lapindo adalah digunakan sebagai bahan genteng keramik.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Dominasi Dan Ketidakadilan Negara Dan Korporasi Dalam Kasus Bencana Lumpur Lapindo

Dominasi Dan Ketidakadilan Negara Dan Korporasi Dalam Kasus Bencana Lumpur Lapindo

Kedua; Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan kasus bencana lumpur Lapindo yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Komite Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia, mencatat bahwa bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo telah menimbulkan kondisi yang mengakibatkan tidak terlindungi dan terpenuhinya hak asasi korban. Hak-hak yang terlanggar antara lain: (1) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, seperti dijamin dalam Pasal 27 Ayat (2) UUD 1945; (2) Hak untuk bekerja, mendapat imbalan, dan perlakuan adil dan layak dalamhubungan kerja, sebagaimana dijamin Pasal 28-D Ayat (2) UUD 1945; (3) Hak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya, sebagaimana dijamin Pasal 27-A UUD 1945; (4) Hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, yang merupakan hak asasi, seperti dijamin Pasal 28-G Ayat (1) UUD 1945; (5) Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta hak mendapat layanan kesehatan, sebagaimana dijamin Pasal 28-H Ayat (1) UUD 1945; (6) Hak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar; hak mendapat pendidikan dan manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidup dan demi kesejahteraan manusia, seperti dijamin Pasal 28-C UUD 1945; dan (7) Hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, sebagaimana dijamin Pasal 28-B Ayat (2) UUD 1945. Pasal 28-I UUD 1945 mengamanatkan, perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects