Top PDF IDENTIFIKASI RISIKO DIABETIC FOOT ULCER (DFU) PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Selain karena dampaknya yang buruk bagi pasien, adanya PAP pada satu arteri juga menjadi prediktor kuat adanya PAP pada arteri lainnya, termasuk pada pembuluh darah koroner, karotis dan serebral. 10 Karena itu, identifikasi PAP adalah hal yang penting untuk dilakukan. Uji diagnosa yang banyak dilakukan di klinik adalah ABI ( Ankle Brachial Index ). 11

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Hiperlipidemia mempengaruhi struktur endotel dinding arteri, yang dapat menyebabkan pembentukan lesi aterosklerotik. Kolesterol LDL merupakan salah satu penyebab utama dari disfungsi endotel dan cedera otot polos. Perubahan struktur endotel memungkinkan lipoprotein memasuki dinding arteri, menjadi teroksidasi, dan mendukung pembentukan fatty streak , yang merupakan lesi awal pada aterosklerosis. Hal ini akan berkembang menjadi lesi yang lebih kompleks yang menyebabkan stenosis atau oklusi arteri. 15 Peningkatan kadar Kolesterol LDL juga diketahui dapat meningkatkan risiko terjangkit penyakit kardiovaskular dan PAP. 15
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Kerangka Teori Kadar C reactive protein Penyakit Arteri Perifer Status DM Status Hipertensi Status Dislipidemia Status Merokok Kadar apolipoprotein b Kadar Homosistein Kadar F[r]

3 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Background: Peripheral Arterial Disease (PAD) is a condition due to the blockage of an artery which supply arm or leg because of atherosclerosis. PAD can lower functional status, reduce quality of life, lead to amputation, myocardial infarction, stroke, and death. Hypertension and Diabetes Mellitus (DM) is a risk factor that is common in PAD. There has been no research on the role of PAD status on the incidence of diabetes in patients with hypertension.

14 Baca lebih lajut

Persepsi pasien Diabetes Melitus tentang home care dalam perawatan berkelanjutan di RSU. Kota Semarang - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Persepsi pasien Diabetes Melitus tentang home care dalam perawatan berkelanjutan di RSU. Kota Semarang - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Diabetes Mellitus which is called as “lifelong disease”, with all of its complications needs a life time care. In 2006, Indonesia was taking the fourth position in the amount of people with diabetes that is 14 million people. Home care is urgently required for patients that have problems in their diabetic management. This research is using qualitative method with indepth interview technique and phenomenology approach. The goal of this research is identifying perception of diabetic’s patient about home care. This research held in RSU. Kota Semarang, and it takes 5 diabetes mellitus patient as informants. This research result for several themes that are responses, problems occurred in home, cognitive improvement, service in hospital, spirituality, and desired home care service for diabetes mellitus patients. The outcome of this research show that home care is urgently required by diabetic’s patient after they come back home from hospital because there are many problems that they have to faced in caring the patient such as in wound care and diet regulation. Hopefully this research could be a reference for medical department to gives more space in home care practice as a form of independent nursing practice and to maximize the coverage of perkesmas programme by community health services especially in home care programme, and also for nursing institutions to improve the skills of their students in home care practice.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Adanya status merokok pada pasien, merupakan kriteria eksklusi dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan untuk mengontrol variabel perancu. Kriteria eksklusi lainnya antara lain hal-hal yang merupakan kontraindikasi pemeriksaan ABI, antara lain adanya luka/kecacatan pada lokasi pengukuran tekanan darah dan tromboflebitis atau edema pada ekstremitas. ABI dapat meningkat karena adanya kalsifikasi arteri dan pada keadaan ini perlu dilakukan tes vaskular lainnya seperti TBI (Toe Brachial Index). Dalam penelitian ini tidak dilakukan tes tersebut untuk mengkonfirmasi adanya PAP pada pasien tersebut, sehingga pasien dengan nilai ABI ≥ 1,2 perlu dieksklusi.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN HIPERTENSI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian cohort untuk mengetahui hubungan sebab-akibat adanya status DM terhadap PAP pada pasien hipertensi.. Perlu dilakukan pe[r]

1 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA 4 PILAR PENGELOLAAN DIABETES MELITUS DENGAN KEBERHASILAN PENGELOLAAN DIABETES MELITUS TIPE 2 - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA 4 PILAR PENGELOLAAN DIABETES MELITUS DENGAN KEBERHASILAN PENGELOLAAN DIABETES MELITUS TIPE 2 - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Meta analisis yang dilakukan oleh Susan L Norris, et al. terhadap 72 studi tentang diabetes melitus dalam 84 artikel memberikan hasil adanya suatu efek positif pelatihan swa – kelola ( self – management training ) terhadap pengetahuan, frekuensi dan akurasi pemantauan glukosa darah mandirir ( PGDM ), kebiasaan diet yang self – reported, serta control glukosa pada studi dengan follow – up dapat meningkatkan control glukosa secara efektif. Edukasi yang melibatkan kolaborasi dari pasien tampaknya lebih efektif dibandingkan cara didaktik dalam meningkatkan pengendalian glukosa, berat badan dan profil 6 .
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Hubungan antara Nilai Ankle Brachial Index dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

DAFTAR PUSTAKA Hubungan antara Nilai Ankle Brachial Index dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Prompers L, Schaper N, Apelqvist J, et al., 2008. Prediction of outcome in individuals with diabetic foot ulcers: focus on the differences between individuals with and without peripheral arterial disease. The EURODIALE Study. Diabetologia. 51(5): 747-55.

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN TERJADINYA DIABETIC PERIPHERAL NEUROPATHY (DPN) PADA  Hubungan Lamanya Menderita Diabetes Melitus Dengan Terjadinya Diabetic Peripheral Neuropathy (Dpn) Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Grha Diabet

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN TERJADINYA DIABETIC PERIPHERAL NEUROPATHY (DPN) PADA Hubungan Lamanya Menderita Diabetes Melitus Dengan Terjadinya Diabetic Peripheral Neuropathy (Dpn) Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Grha Diabet

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN TERJADINYA DIABETIC PERIPHERAL NEUROPATHY DPN PADA PASIEN DIABETES MELLITUSTIPE 2 DI GRHA DIABETIKA SURAKARTA Diajukan Untuk Me[r]

12 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. M DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN : DIABETES MELITUS DENGAN ULKUS DI ZAAL CEMPAKA RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. M DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN : DIABETES MELITUS DENGAN ULKUS DI ZAAL CEMPAKA RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI.

Komplikasi DM yang paling sering adalah terjadinya ulkus diabetes. Beberapa faktor secara bersama beperan pada terjadinya ulkus. Dimulai dari faktor pengelolaan penderita DM terhadap penyakitnya yang kurang baik, adanya neurupatiperifer, dan autonom. Faktor komplikasi vaskuler yang memperburuk aliran darah ke kaki tempat luka, faktor kerentanan terhadap infeksi akibat respon kekebalan tubuh yang menurun pada keadaan DM tidak terrkendali, serta kemudian faktor ketidaktahuan pasien (Rinie, 2006).

4 Baca lebih lajut

GAMBARAN HEALTH BELIEF PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

GAMBARAN HEALTH BELIEF PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan peningkatan glukosa darah (hiperglikemia), disebabkan karena ketidakseimbangan antara suplai insulin dan kebutuhan insulin. 1 Penyakit DM tipe II lebih sering ditemukan dan meningkat pesat akibat faktor gaya hidup pada usia menengah dan manula. 3 Gambaran klinis DM tipe II dengan 80% kelebihan berat badan, 20% datang dengan komplikasi. 3 Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa secara nasional, prevalensi Diabetes Melitus meningkat dari 1,1% (2007) menjadi 2,1% (2013). 2 American Diabetes Association melaporkan bahwa tiap 21 detik ada 1 penderita diabetes baru dan negara kita Indonesia telah menjadi negara “produsen” diabetes kelima terbesar di Dunia. 4
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

07 Diabetes mellitus diabetic foot

07 Diabetes mellitus diabetic foot

2. Balakrishnan SD, Shahid NJ, Fairuz TM, et al. Does the National Antibiotic Guideline- 2008 remain applicable for treating diabetic foot infection? A new evidence-based regional study on culture and sensitivity patterns in Terengganu population. Malays Orthop J 2014;8(1):42-4

2 Baca lebih lajut

Karakteristik Pasien Katarak Senilis di RSUP H. Adam Malik Medan

Karakteristik Pasien Katarak Senilis di RSUP H. Adam Malik Medan

Perbedaan Tajam Penglihatan Pascaoperasi Fakoemulsifikasi pada Pasien Katarak Senilis dengan Diabetes Melitus dan Tanpa Diabetes Melitus, Universitas Diponegoro.. Rangking RI Keempat[r]

3 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN METRONIDAZOL PADA PASIEN DM GANGREN (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN METRONIDAZOL PADA PASIEN DM GANGREN (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

sebanyak 9 pasien (9.4%) dengan dosis dan rute terbanyak adalah 3x500mg secara IV Drip, penggunaan metronidazol secara tunggal pada luka gangren kurang efektif karena metronidazol merupakan antibiotik yang hanya selektif terhadap bakteri anaerob, sedangkan infeksi pada luka gangren terjadi akibat polimikrobial yaitu bakteri anaerob dan bakteri aerob sehingga perlu ditambahkan antibiotik yang memiliki spektrum pada bakteri aerob agar infeksi dapat diatasi. Selanjutnya penggunaan antibiotik kombinasi terbanyak adalah kombinasi metronidazol (3x500mg) dan seftriaxon (2x1g) yaitu sebesar 60.2% dalam hal ini penggunaan kombinasi antibotik telah sesuai untuk mengatasi infeksi pada luka gangren khususnya pada grade III dan IV, dimana seftriaxon merupakan antibiotik yang aktif terhadap bakteri aerob gram positif dan negatif sedangkan metronidazol dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang terjadi akibat bakteri anaerob, sebagian besar pasien mengalami pemulihan yang cepat dengan menggunakan dua kombinasi antibiotik ini. Penggunaan metronidazol yang diberikan pada pasien DM gangren rawat inap di RSUD Sidoarjo, terkait dosis, rute, frekuensi, interval, dan lama pemberian sudah sesuai dengan guideline yang ada.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX DENGAN KEJADIAN DIABETIC FOOT ULCER PADA PENDERITA DIABETES  Hubungan antara Nilai Ankle Brachial Index dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

HUBUNGAN ANTARA NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX DENGAN KEJADIAN DIABETIC FOOT ULCER PADA PENDERITA DIABETES Hubungan antara Nilai Ankle Brachial Index dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Data tentang nilai ankle brachial index (ABI) yang memberikan gambaran distribusi timbulnya peripheral arterial disease (PAD) sebagai prediktor kejadian diabetic foot ulcer.Pada penderita diabetic foot ulcer diperoleh nilai ABI rendah (<0,9) sebesar 32,3% dan nilai ABI normal (0,9-1,3) sebesar 67,7%, sedangkan pada penderita DM yang tidak mengalami diabetic foot ulcer, diperoleh nilai ABI rendah sebanyak 3,2% dan nilai ABI normal sebanyak 96,8%. Berdasarkan perolehan data nilai ABI tersebut, menunjukkan bahwa secara signifikan nilai ABI rendah lebih banyak ditemukan pada penderita diabetic foot ulcer dibandingkan non diabetic foot ulcer. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Al- Kafrawy (2014) yang memperoleh hasil nilai ABI <0,9pada penderita diabetic foot ulcer sebesar 84% dengan rerata 0,81 ± 0,09, sedangkan penderita non diabetic foot ulcer didapat nilai ABI <0,9 sebanyak 0% dengan rerata 1,13±0,15 yang berarti bahwa nilai ABI<0,9 secara signifikan lebih banyak didapat pada penderita dengan ulserasi kaki daripada tanpa ulserasi kaki. Adapun penelitian pendukung lainnya yang mendapatkan hasil yang serupa adalah penelitian dengan studi case control oleh Brito-Zurita et al, pada tahun 2012, yang memperoleh hasil bahwa nilai ABI rendah ditemukan pada 65% dari total sampel penderita diabetic foot ulcer sedangkan pada penderita non diabetic foot ulcer didapatkan hanya 12,5% dari total sampel.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX            DENGAN KEJADIAN DIABETIC FOOT ULCER   Hubungan antara Nilai Ankle Brachial Index dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

HUBUNGAN ANTARA NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX DENGAN KEJADIAN DIABETIC FOOT ULCER Hubungan antara Nilai Ankle Brachial Index dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Dengan melantunkan puji syukur kepada Allah SWT selaku tuhan semesta alam yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, serta melafadzkan solawat untuk nabi besar Muhammad SAW berkat suri tauladannya, adalah bentuk terimakasih penulis karena telah terselesaikkannya skripsi berjudul ‘‘Hubungan Antara Nilai Ankle Brachial Index Dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer Pada Penderita DM Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta” untuk program studi pendidikan dokter di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Rasa syukur ini tidak lepas pula dari semua pihak yang telah bersedia terlibat dalam membantu proses pengerjaan, meskipun banyak ditemukan kendala dan gangguan didalamnya. Penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga masukan seperti kritik dan saran dari semua pihak akan sangat membangun untuk mengatasi kekurangan yang ada.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...