Top PDF Independensi Mahkamah Konstitusi Dalam Proses Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden

Independensi Mahkamah Konstitusi Dalam Proses Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden

Independensi Mahkamah Konstitusi Dalam Proses Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden

Meskipun di forum politik DPR, Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak mendapatkan dukungan kekuatan politik yang memadai, namun untuk memakzulkan Presiden dan/atau Wakil Presiden bukanlah perkara mudah, sebagaimana Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak bisa membubarkan DPR atau sebaliknya DPR juga tidak bisa menjatuhkan Presiden dan/atau Wakil Presiden kecuali presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum, yang pembuktian melakukan pelanggaran hukumnya ini tidak lagi menjadi kewenangan DPR, tetapi di ranah kewajiban MK. Menurut Suprapto, 21 MK diberi kewajiban oleh konstitusi ini, karena MK merupakan lembaga peradilan yang mempunyai kapabilitas meneliti atau memeriksa secara teliti berdasarkan hukum acara mengenai bukti-bukti yang diajukan oleh DPR. Pendapat DPR yang diajukan ke MK misalnya, yang berisi putusan tentang pelanggaran hukum yang dilakukan Presiden dan/atau Wakil Presiden, baru dapat ditempatkan sebagai “bukti permulaan” oleh MK untuk kemudian ditelusuri lebih lanjut dalam persidangan yang digelar MK, yang bisa jadi temuan MK sejalan dengan pendapat DPR atau sebaliknya, tidak sama. Dalam posisi tidak sama ini, otomatis kewajiban MK menjadi penentu selesainya proses pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

ENGATURAN KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PROSES PEMAKZULAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN MENURUT UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ENGATURAN KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PROSES PEMAKZULAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN MENURUT UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Banyak pihak yang memahami bahwa pemakzulan merupakan turunnya, berhentinya atau dipecatnya Presiden atau pejabat tinggi dari jabatannya. Sesungguhnya arti pemakzulan sendiri merupakan tuduhan atau dakwaan sehingga pemakzulan lebih menitikberatkan pada prosesnya dan tidak mesti berakhir dengan berhenti atau turunnya Presiden atau pejabat tinggi negara lain dari jabatannya. Dalam praktek pemakzulan yang pernah dilakukan di berbagai negara, hanya ada beberapa proses pemakzulan yang berakhir dengan berhentinya seorang pimpinan negara. Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan tidak mengatur bagaimana mekanisme pemakzulan dapat dilakukan dan alasan apa yang dapat membenarkan pemakzulan boleh dilakukan. Berbeda dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasca perubahan yang secara eksplisit sudah mengaturnya. Berdasarkan beberapa hal tersebut di atas penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut secara mendalam tentang proses pemakzulan di Indonesia dalam bentuk penulisan hukum dengan judul : “ PENGATURAN KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PROSES PEMAKZULAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN MENURUT UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945”.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Perbuatan Tercela sebagai Alasan Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden

Perbuatan Tercela sebagai Alasan Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden

Dari enam alasan Pemakzulan Presiden dan/atau Wapres dalam Pasal 7 UUD 1945, yaitu (1) pengkhianatan terhadap negara, (2) korupsi, (3) penyuapan, (4) tindak pidana berat lainnya; (5) perbuatan tercela; dan (6) tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wapres, terdapat satu alasan yang perumusan normanya bersifat abstrak dan kabur, berakibat dapat ditafsirkan secara beragam PXOWLWDIVLU \DLWX PHODNXNDQ ´SHUEXDWDQ WHUFHODµ 3HUXPXVDQ norma demikian bertentangan dengan dengan prinsip negara hukum demokratis yang bertumpu pada asas legalitas dan kepastian hukum dan asas pembentukan peraturan perundangan yang baik, yaitu asas kejelasan dan kelengkapan rumusan. Sehingga akan PHQMDGL DODVDQ EHUVLIDW HODVWLV \DQJ PXGDK ´GLPDLQNDQµ VHFDUD SROLWLV ROHK '35 GDODP proses pemakzulan Presiden dan/atau Wapres.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pemakzulan Presiden/Wakil Presiden Menurut Undang-Undang Dasar 1945

Pemakzulan Presiden/Wakil Presiden Menurut Undang-Undang Dasar 1945

Tidak kurang pentingnya kedudukan Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH). RPH diselenggarakan untuk mengambil putusan setelah pemeriksaan persidangan oleh Ketua Mahkamah dipandang cukup. RPH dilakukan secara tertutup oleh Pleno Hakim dengan sekurang-kurangnya dihadiri oleh 7 orang hakim konstitusi. Pengambilan keputusan dalam RPH dilakukan secara musyawarah untuk mufakat. Dalam hal musyawarah tidak mencapai mufakat, keputusan diambil dengan suara terbanyak. Dalam hal RPH tidak dapat mengambil putusan dengan suara terbanyak, suara terakhir Ketua RPH menentukan. Dalam hal pengambilan putusan dilakukan dengan suara terbanyak apabila ada hakim konstitusi yang ingin menyampaikan pendapat berbeda, maka pendapat hakim konstitusi yang berbeda dimuat dalam putusan (Pasal 18).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Redesain Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Penyelesaian Sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia

Redesain Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Penyelesaian Sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan kembali waktu ideal bagi MK dalam menyelesaikan sengketa PHPU Presiden dan Wakil Presiden, pertama, cakupan pelaksanaan pemilu Presiden dan Wakil Presiden meliputi seluruh Provinsi di Indonesia. Sehingga bukan tidak mungkin permasalahan yang timbul juga dari seluruh Provinsi yang dimaksud. Implikasinya adalah proses pengumpulan alat bukti, pemeriksaan alat bukti hingga pembuktian di dalam persidangan akan memerlukan waktu yang ekstra; kedua, MK kini dituntut untuk memeriksa bukan hanya mengenai selisih perhitungan suara, namun memeriksa kearah yang lebih subtantif (mengenai asas LUBER JURDIL); ketiga, proses penyelesaian perselisihan hasil pemilu di MK pada hakekatnya ditujukan untuk melindungi dan memperjuangkan hak-hak konstitusional semua pihak yang terlibat, sehingga atas hal tersebut MK dituntut
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi  Tentang Pemilu Serentak Terhadap Pencalonan  Presiden dan Wakil Presiden  Pada Pemilihan Umum  Tahun 2019

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pemilu Serentak Terhadap Pencalonan Presiden dan Wakil Presiden Pada Pemilihan Umum Tahun 2019

Dengan tidak adanya ambang batas minimal bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk mengajukan calonnya maka akan semakin meningkatkan persaingan antar partai politik bukan seperti sebelum-sebelumnya yang hanya dikuasai oleh partai-partai politik besar dalam pencalonan seorang Presiden dan Wakil Presiden. Kondisi ini juga akan mendorong terjadinya demokratisasi di dalam atau di internal partai politik itu sendiri. Dengan demikian sebagai saluran utama pengajuan pasangan Presiden dan Wakil Presiden, demokratisasi internal partai politik menjadi sebuah keniscayaan. Artinya pasangan calon yang diajukan harus berasal dari hasil sebuah proses yang terbuka dan partisipatif . Dengan cara yang seperti ini, posisi sentral dalam partai politik misalnya ketua umum tidak otomatis menjadi calon Presiden atau Wakil Presiden. Partai politik akan mencalonkan kandidat yang memang punya potensi dan peluang untuk memenangkan pertarungan dalam pemilu Presiden karena semakin banyak atau terbukanya kompetitor dari calon partai-partai lain.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pemakzulan Presiden di Indonesia Studi Putusan Final dan Mengikat Oleh Mahkamah Konstitusi Untuk Menciptakan Kepastian Hukum

Pemakzulan Presiden di Indonesia Studi Putusan Final dan Mengikat Oleh Mahkamah Konstitusi Untuk Menciptakan Kepastian Hukum

SUPREMASI HUKUM Vol. 7, No. 2, November 2018 Karena itu akan sangat membahayakan bagi sistem ketatanegaraan Indonesia jika putusan Mahkamah Konstitus sebagai lembaga yang dianggap the guardian of the constitution and, the intrepeter of the constitution, and the protector of human right putusannya tidak dipatuhi oleh Majleis Permusyawaratan Rakyat, karena hal itu dapat meruntuhkan marwah dari Mahkamah Konstitusi itu sendiri dan dapat menimbulkan hilangnya kepercayaan publik terhadap MK, pada pembuktian terkait pendapat DPR atas pelanggran-pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden telah dilakuakn dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh ke idenvedenan Mahkamh Konstitusi, sehinnga ketika putusan dari Mahkamah Konstitusi tidak ditaati oleh MPR maka akan menghilngakan suatu kepastian hukum itu sediri. Mahkamah Konstitusi sebagi lembaga Peradilan haruslah dipahami bahwa segala keputusan dari lembaga peradilan harus ditaati dan dipatuhi, sehingga putusan Mahkamah Konstitusi bukan hanya dijadikan formalitas pertimbangan MPR dalam pemakzulan Presiden dan atau Wakil Presiden yang tidak mempunyai sanksi apappun.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Daya Ikat Putusan Mahkamah Konstitusi Mengenai Usulan Pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam Masa Jabatan.

Daya Ikat Putusan Mahkamah Konstitusi Mengenai Usulan Pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam Masa Jabatan.

Amandemen ketiga UUD 1945 telah menghasilkan suatu Lembaga Negara, yaitu Mahkamah Konstitusi yang memiliki kedudukan sama tetapi berdiri sendiri dan terpisah (duality of jurisdiction) dengan Mahkamah Agung. Dalam menjalankan fungsinya berdasarkan Pasal 24C UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juncto Pasal 10 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Konstitusi memiliki 4 kewenangan dan 1 kewajiban. Berkaitan dengan hal itu penulis melakukan kajian terhadap daya ikat dari putusan Mahkamah Konstitusi tentang usulan pemberhentian Presiden dan/Wakil Presiden bilamana Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk membenarkan pendapat DPR namun hasil sidang istimewa MPR ternyata tidak memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden tersebut. Hal ini menarik untuk diteliti karena UUD 1945 hasil amandemen dan UU No. 24 tahun 2003 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi sama sekali tidak menyinggung daya ikat dari putusan Mahkamah Konstitusi dalam proses pemberhentian Presiden dan/Wakil Presiden. Ketiadaan ketentuan hukum ini bisa ditafsirkan sebagai pengingkaran terhadap prinsip negara berdasarkan hukum. Disamping itu di dalam peraturan manapun juga tidak dijelaskan apakah Presiden dan atau wakil Presiden yang diberhentikan ini bisa diadili lagi di pengadilan umum tanpa terkena asas Ne Bis In Idem, sehingga diperlukan pengkajian lebih lanjut agar bisa memberikan kepastian hukum terutama kepada Presiden yang terkena pemberhentian.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG DUGAAN PELANGGARAN HUKUM PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN OLEH DEWAN PERWAKILAN RAKYAT TERKAIT DENGAN KEWENANGAN MAJELIS PERMUSYAWARTAN RAKYAT DALAM MEMBERHENTIKAN PRESIDEN DAN/ ATAU WAKIL PRESID

KAJIAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG DUGAAN PELANGGARAN HUKUM PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN OLEH DEWAN PERWAKILAN RAKYAT TERKAIT DENGAN KEWENANGAN MAJELIS PERMUSYAWARTAN RAKYAT DALAM MEMBERHENTIKAN PRESIDEN DAN/ ATAU WAKIL PRESID

Mengenai impeachment atau pemakzulan atau pemberhentian presiden dan wakil presiden ini diatur dalam Pasal 7A dan 7B UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan aturan tersebut Mekanisme pemberhentian presiden dan wakil presiden ini terbagi menjadi 3 (tiga) tahap, yaitu pertama pengajuan duagaan oleh DPR, kedua Putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan “Terbukti Benar” atas dugaan oleh DPR, yang terakhir ketiga Putusan MPR dalam Sidang Istimewa. Pemberhentian presiden dan wakil presiden pada periode sekarang ini memang berbeda dengan sebelum amandemen UUD. Sekarang terdapat peranan Mahkamah Konstitusi dalam pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden karena sebagai wujud prinsip negara Indonesia yaitu negara hukum. Maka dalam pemberhentian presiden dan wakil presiden terdapat peranan mahkamah konstitusi selaku pelaku kekuasaan kehakiman.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG DUGAAN PELANGGARAN HUKUM PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN OLEH DEWAN PERWAKILAN RAKYAT TERKAIT DENGAN KEWENANGAN MAJELIS PERMUSYAWARTAN RAKYAT DALAM MEMBERHENTIKAN PRESIDEN DAN/ ATAU WAKIL PRESID

KAJIAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG DUGAAN PELANGGARAN HUKUM PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN OLEH DEWAN PERWAKILAN RAKYAT TERKAIT DENGAN KEWENANGAN MAJELIS PERMUSYAWARTAN RAKYAT DALAM MEMBERHENTIKAN PRESIDEN DAN/ ATAU WAKIL PRESID

Mengenai impeachment atau pemakzulan atau pemberhentian presiden dan wakil presiden ini diatur dalam Pasal 7A dan 7B UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan aturan tersebut Mekanisme pemberhentian presiden dan wakil presiden ini terbagi menjadi 3 (tiga) tahap, yaitu pertama pengajuan duagaan oleh DPR, kedua Putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan “Terbukti Benar” atas dugaan oleh DPR, yang terakhir ketiga Putusan MPR dalam Sidang Istimewa. Pemberhentian presiden dan wakil presiden pada periode sekarang ini memang berbeda dengan sebelum amandemen UUD. Sekarang terdapat peranan Mahkamah Konstitusi dalam pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden karena sebagai wujud prinsip negara Indonesia yaitu negara hukum. Maka dalam pemberhentian presiden dan wakil presiden terdapat peranan mahkamah konstitusi selaku pelaku kekuasaan kehakiman.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PEMAKZULAN PRESIDEN DALAM PERSEPSI KONSTITUSI (STUDI KASUS PRESIDEN ABDURRAHMAN WAHID) | sulistyoko | Syariah Jurnal Hukum dan Pemikiran 1431 4501 1 PB

PEMAKZULAN PRESIDEN DALAM PERSEPSI KONSTITUSI (STUDI KASUS PRESIDEN ABDURRAHMAN WAHID) | sulistyoko | Syariah Jurnal Hukum dan Pemikiran 1431 4501 1 PB

kontroversi. Banyak yang beranggapan Gus Dur tumbang akibat kasus korupsi dan kontroversi selama pemerintahannya. Ketika terjadi krisis konstituisional saat itu, ada dua opsi yang ditawarkan:pertama, pelimpahan tugas konstitusional dan kedua, menggunakan Tap MPR Nomor III tahun 1978. Opsi pertama ditawarkan oleh Gus Dur melalui Tim Tujuh dari Pemerintah, kepada Megawati sebagai Wakil Presiden. Opsi ini juga atas saran Akbar Tanjung sebagai ketua DPR, sebagai solusi jalan tengah yang sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945. Dengan terlebih dahulu, Gus mengundurkan diri dan selanjutnya pelimpahan kewenangan diserahkan kepada Megawati. Kompromi ini ditolak oleh para politik yang ada di senayan saat itu. Meskipun, Gus Dur sudah bersedia mundur dan melimpahkannya kepada Megawati. Agar proses pergantian tersebut dibenarkan dan diabsahkan oleh konstitusi. Politisi senayan lebih memilih opsi menggunakan Tap MPR No III tahun 1978 sebagai dasar pemakzulan. Disinilah pelanggaran- pelanggaran norma hukum terjadi.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Implikasi Pemilihan Umum Anggota Legislatif Dan Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden Secara Serentak Terhadap Ambang Batas Pencalonan Presiden (Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 14/puu-xi/2013)

Implikasi Pemilihan Umum Anggota Legislatif Dan Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden Secara Serentak Terhadap Ambang Batas Pencalonan Presiden (Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 14/puu-xi/2013)

Menurut JimlyAsshiddiqie, pentingnya pemilihan umum yang diselenggarakan secara berkala dikarenakan oleh beberapa sebab. Pertama, pendapat atau aspirasi rakyat mengenai beberapa aspek kehidupan bersama dalam masyarakat bersifat dinamis, berkembang dari waktu ke waktu. Dalam jangka waktu tertentu, bisa jadi bahwa sebagian besar rakyat sudah berubah pendapatnya mengenai suatu kebijakan. Kedua, disamping pendapat rakyat berubah dari waktu ke waktu, kondisi kehidupan bersama dalam masyarakat juga dapat berubah, baik karena dinamika dunia internasional atau karena faktor dalam negeri sendiri. Ketiga, perubahan-perubahan aspirasi dan pendapat rakyat juga dimungkinkan terjadi karena pertambahan jumlah penduduk dewasa. Mereka itu, terutama para pemilih baru atau pemilih pemula belum tentu mempunyai sikap yang sama dengan orang tua mereka. Keempat, pemilihan umum perlu diadakan secara teratur untuk menjamin terjadinya proses pergantian kepemimpinan negara juga secara teratur 1 .
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

MEKANISME PEMAKZULAN (IMPEACHMENT) PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN OLEH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

MEKANISME PEMAKZULAN (IMPEACHMENT) PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN OLEH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Pasal 7B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) mengatur tentang mekanisme pemakzulan presiden dan/atau wakil presiden yang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa, mengadili, dan memutuskan pendapat DPR, tentang dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Presiden seperti melakukan

1 Baca lebih lajut

Mekanisme Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden Menurut UUD 1945 (Antara Realitas Politik Dan Penegakan Konstitusi)

Mekanisme Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden Menurut UUD 1945 (Antara Realitas Politik Dan Penegakan Konstitusi)

Ketika dalam rapat paripurna DPR memutuskan menerima laporan panitia khusus yang menyatakan bahwa Presiden dan/ atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, ataupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden, DPR menyampaikan keputusan tentang hak menyatakan pendapat kepada Mahkamah Konstitusi. Dalam hal DPR mengajukan permintaan kepada MK atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, maka harus berhasil mendapatkan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PROSES PEMBERHENTIAN PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN DALAM MASA JABATANNYA DI INDONESIA.

KEDUDUKAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PROSES PEMBERHENTIAN PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN DALAM MASA JABATANNYA DI INDONESIA.

dikatakan cukup mudah, hanya dengan unsur kekuatan politis Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya. Mengenai kedudukan Mahkamah Konstitusi, serta mengapa Mahkamah Konstitusi diberi kewenangan atas prosedur pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden di Indonesia. Walaupun kelak pada akhirnya putusan yang diberikan oleh Mahkamah Konstitusi ini akan dikembalikan ke tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Walaupun sesungguhnya terlintas pertanyaan untuk apa Di masukkannya unsur yuridis apabila nanti pada ujungnya akan kembali ke unsur politis.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden Di Indonesia

Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden Di Indonesia

Di samping itu Mahkamah Konstitusi juga memiliki 1 (satu) kewajiban konstitusional dalam Pasal 24 C ayat (2) untuk memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar. Dilibatkannya Mahkamah Konstitusi dalam proses impeachment terhadap Presiden dan atau Wakil Presiden, tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dan merupakan konsekuensi logis dari perubahan sistem dan bangunan ketatanegaraan yang dikembangkan di Indonesia. Selain itu ada keinginan untuk memberikan pembatasan agar seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden diberhentikan bukan karena alasan politik belaka, melainkan juga memiliki landasan dan pertimbangan hukum
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Dalam Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden Di Indonesia

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Dalam Pemakzulan Presiden Dan/atau Wakil Presiden Di Indonesia

Adapun terkait kewajiban memberikan putusan atas pendapat DPR, disebutkan bahwa Mahkamah Konstitusi wajib memutusnya apakah hal tersebut mempunyai akibat hukum terhadap putusan Mahkamah Konstitusi sehingga dalam hal tersebut putusan Mahkamah Konstitusi tidak memiliki kekuatan mengikat dan masih dapat dipersoalkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat karena dalam Pasal 7B ayat (7) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat masih memberi kesempatan kepada Presiden dan atau Wakil Presiden yang telah dinyatakan melakukan perbuatan melanggar hukum oleh Mahkamah Konstitusi untuk menyampaikan penjelasan. Oleh karena itu, sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa penentuan kuorum dalam Sidang Istimewa MPR tersebut, kemungkinan besar Presiden dan atau Wakil Presiden yang telah dinyatakan oleh Mahkamah Konstitusi melanggar hukum tidak berhasil diberhentikan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan tidak bersifat final. 53
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

No dan Wakil Presiden dilaksanakan dengan tujuan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang memperoleh dukungan kuat dari rakyat sehingga

No dan Wakil Presiden dilaksanakan dengan tujuan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang memperoleh dukungan kuat dari rakyat sehingga

Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa "Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar". Makna dari “kedaulatan berada di tangan rakyat” yaitu bahwa rakyat memiliki kedaulatan, tanggung jawab, hak dan kewajiban untuk secara demokratis memilih pemimpin yang akan membentuk pemerintahan guna mengurus dan melayani seluruh lapisan masyarakat, serta memilih wakil rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Perwujudan kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui Pemilu sebagai sarana bagi rakyat untuk memilih pemimpin melalui Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih dalam satu pasangan secara langsung serta memilih wakilnya yang akan menjalankan fungsi melakukan pengawasan, menyalurkan aspirasi politik rakyat, membuat undang-undang sebagai landasan bagi semua pihak di Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam menjalankan fungsi masing- masing, serta merumuskan anggaran pendapatan dan belanja untuk membiayai pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Impeachment Wakil Presiden.

Impeachment Wakil Presiden.

“Majelis inilah yang memegang kekuasaan negara yang tertinggi, sedangkan Presiden harus menjalankan haluan negara menurut garis-garis besar yang telah ditetapkan oleh Majelis. Presiden yang diangkat oleh Majelis, tunduk dan bertanggung jawab kepada Majelis, ia wajib menjalankan putusan-putusan Majelis. Presiden tidak “neben”, akan tetapi “undergeordnet” kepada Majelis. Di bawah MPR, Presiden ialah penyelenggara pemerintah Negara yang tertinggi. Dalam menjalankan pemerintahan Negara, kekuasaan dan tanggung jawab adalah di tangan Presiden (Concentration of power and responsibility upon the Presiden)”.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects