Top PDF Inovasi Pembelajaran Elektronik dan Tantangan Guru Abad 21

Inovasi Pembelajaran Elektronik dan Tantangan Guru Abad 21

Inovasi Pembelajaran Elektronik dan Tantangan Guru Abad 21

Keempat kecakapan tersebut dalam implementasinya, hendaknya diintegrasikan dalam pembelajaran secara holistik agar dapat dikuasai oleh siswa. Berpikir kritis dan pemecahan masalah dapat dilatih dengan cara memberikan masukkan yang konstruktif. Ama dan Sartati (2018) menemukan hasil belajar siswa pada kontek pemecahan masalah matematika dinyatakan meningkat menggunakan pembelajaran model snowball throwing. Sejalan dengan hasil tersebut, Bili dan Ate (2018) menggunakan model problem based learning menyatakan hasil belajar pemecahan masalah siswa dapat meningkat. Kecakapan berkomunikasi dapat dilatih dengan cara menciptakan lingkungan yang kaya Bahasa seperti pembelajaran kooperatif. Penelitian Sumiyati dkk (2017) dan Khotimah dkk (2017) yang menggunakan pembelajaran kooperatif menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik yang dapat mengembangkan kemamapuan hasil belajar siswa termasuk kemampuan komunikasi melalui aktivitas antar siswa yang melibatkan proses berpikir, kerja sama dalam kelompok, toleransi antar siswa. Mengembangkan kecakapan kolaborasi dapat dilakukan dengan cara menyediakan kesempatan untuk kerja tim dan juga menumbuhkan rasa hormat dan toleransi yang tinggi terhadap orang lain. Sedangkan kecakapan kreativitas dan inovasi dapat dikembangkan dengan cara menyediakan otonomi dalam menentukan pilihan dan memberikan kesempatan untuk mencipta dan berinovasi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Inovasi Pembelajaran Elektronik dan Tantangan Guru Abad 21

Inovasi Pembelajaran Elektronik dan Tantangan Guru Abad 21

inovasi yang berkembang cukup pesat adalah pembelajaran elektronik (electronic learning) atau e-learning. E-learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau internet. Inovasi pembelajaran elektronik ini memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. Oleh karena itu, pendidik dan calon pendidik di abad 21 ini perlu dipersiapkan untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan IPTEK. Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) sebagai lembaga penghasil calon pendidik/guru perlu membekali guru dan calon guru untuk terampil menggunakan teknologi terutama TIK, karena tantangan guru masa depan berkaitan dengan TIK. Dalam upaya menyiapkan calon guru memasuki abad 21, STKIP Weetebula sebagai salah satu LPTK di Indonesia berupaya membekali mahasiswanya dengan memasukan mata kuliah e-learning dalam kurikulum program studi pendidikan guru sekolah dasar (PGSD).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN DAN KOMPETENSI PENDIDIK ABAD-21 | Prasetyo | Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan 11139 23393 1 PB

PEMBELAJARAN DAN KOMPETENSI PENDIDIK ABAD-21 | Prasetyo | Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan 11139 23393 1 PB

Di awal abad-21 dunia dengan cepat mengalami perubahan. Perubahan yang cepat ini, diantaranya karena cepat berkebangnya teknologi informasi atau Information and Comunication Technology . Di abad ini, sekolah sebagai subsystem pendidikan akibat perubahan ini, peran sekolah dan pendidikan juga akan berbeda baik dalam sistem pendidikan maupun di masyarakat. Bersama dengan berubahan yang semakin cepat, maka guru juga akan berubah. Guru abad ke 21 perlu dipersiapkan, diantaranya untuk diberikan kesempatan belajar yang didukung teknologi bagi siswa mereka dan harus tahu bagaimana teknologi dapat mendukung pembelajaran.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

I. PENDAHULUAN. Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang

I. PENDAHULUAN. Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang

Hasil observasi yang dilakukan di SMAN 1 Natar menunjukkan bahwa pembel- ajaran masih didominasi menggunakan metode ceramah yang disertai latihan- latihan soal. Selain itu, paradigma lama di mana guru merupakan pusat kegiatan belajar di kelas (teacher centered) masih sering dipertahankan dengan alasan pembelajaran seperti ini adalah yang paling praktis dan tidak menyita banyak waktu. Guru kerap kali memilih mempertahankan gaya mengajarnya, yakni dengan menekankan pembelajaran pada penguasaan sejumlah konsep, hukum- hukum dan teori-teori saja, seperti halnya pada materi pokok asam-basa yang lebih dikondisikan untuk dihafal oleh siswa tanpa memperhatikan bahwa
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

full paper PENDIDIKAN MEMBACA KRITIS DALAM TANTANGAN KEJAMNYA MEDIA ABAD 21

full paper PENDIDIKAN MEMBACA KRITIS DALAM TANTANGAN KEJAMNYA MEDIA ABAD 21

menyediakan fasilitas hot spot. Di sekolah dasar dan menengah, terutama di kota, pun internet sudah digunakan. Guru beramai-ramai meanfaatkan ICT dalam pembelajaran. Mau tidak mau mahasiswa dan siswa harus bercengkerama dengan internet, yang rata- rata digunakan tanpa proteksi. Tidak semua sekolah serta perguruan tinggi membekali siswa dan mahasiswanya dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menyaring informasi yang ada dalam internet. Sementara itu situs-situs di internet tidak mungkin bersih dari teks-teks ‘ sampah ’ yang semena-mena dan sering sangat ‘kejam’ seperti spam, hoax, pedophilia, cyberbullying, pop up trap dan berbagai situs pornografi yang sangat mudah diakses, atau bahan muncul ke layar tanpa diundang oleh pengguna. Predator seksual menggunakan jaringan internet seperti facebook untuk menangkap mangsa yang rata-rata anak muda belia.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Abad 21 (3)

Model Pembelajaran Abad 21 (3)

Sebuah artikel April 2010 di koran Mainichi mencatat inovasi dalam ilmu kehidupan berbasis Pengalaman belajar di Yokohama City Science Frontier High School pada saat yang bersamaan menyesalkan kurangnya pembangunan sistem pendidikan nasional yang berdasarkan kemampuan atau bakat (Kathryn & Arens, 2012) Pembelajaran secara inklusi tetap menjadi dilema di Jepang, karena sangat terkait dengan elitisme. Ini disebabkan karena budaya yang kuat bahwa kerja keras dan usaha mengarah pada kesuksesan akademis, bukan kemampuan bawaan (bakat). Hampir tidak ada struktur formal di Jepang untuk mendukung pendidikan siswa berbakat. Tidak ada sekolah kejuruan di Jepang. Mayoritas sekolah bergantung pada MEXT (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) pedoman kurikulum (untuk sekolah negeri ini wajib). Akibatnya, guru kelas memiliki sedikit sulit dalam memberikan diferensiasi atau percepatan untuk siswa berbakat akademis.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Menjadi Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Di Abad 21

Menjadi Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Di Abad 21

Upaya yang dapat dilakukan untuk menjadi guru PJOK abad 21, adalah (1) memahami standar tuntutan profesi yg ada, (2) mencapai kualifikasi dan kompetensi yg dipersyaratkan, (3) memahami karakteristik pembelajaran PJOK, (5) memahami karakteristik guru PJOK abad 21, (6) memahami karakteristik peserta didik abad 21, (7) menguasai keterampilan abad 21, (8) memahami kompetensi guru profesional, (9) memahami standar kompetensi guru PJOK, (9) pengembangan guru PJOK abad 21. (10) pendidikan penyetaraan atau studi lanjut, (11) uji sertifikasi, (12) kaji tindak kelas terintegrasi berbasis kompetensi, (13) membangun dan membina kesejawatan yg baik dan luas, (14) mengembangkan etos kerja dengan pelayanan bermutu tinggi, (15) mengadopsi inovasi atau mengembangkan kreatifitas dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, (16) inovasi sarana-prasarana pembelajaran PJOK, (17) mengembangkan kreatifitas, (18) inovasi berbagai strategi/model/metode/pendekatan pembelajaran dalam PJOK, (19) upaya-upaya komprefensif dan terus menerus melalui; belajar mandiri, aktif dalam kegiatan organisasi keilmuan, dan organisasi profesi.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Workshop Literasi Digital dalam Pembelajaran Abad 21 untuk Guru-Guru Sekolah SMP dan SMA Se-Sukabumi

Workshop Literasi Digital dalam Pembelajaran Abad 21 untuk Guru-Guru Sekolah SMP dan SMA Se-Sukabumi

learning, personalized learning, dan strategi lain yang mengandalkan alat digital baik pada tingkatan yang kecil maupun besar [12]. Data menunjukkan bahwa hanya dengan memberikan siswa akses ke perangkat teknologi tidak memberikan hasil yang lebih baik. Namun, integrasi teknologi yang cermat memungkinkan siswa terlibat aktif dengan gagasan mereka dan teman-temannya justru dapat meningkatkan pengalaman belajar. Hal ini menjadi tantangan bernuansa strategis yang berhubungan dengan variabel tak berwujud dan abstrak yang tak terhitung jumlahnya, antara lain perangkat elektronik, perangkat lunak, praktik di kelas, pengembangan profesional, dan kolaborasi di antara banyak pemangku kepentingan [12]. Pembelajaran digital semakin berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Pembelajarn digital dapat dikembangkan untuk kursus pembelajaran jarak jauh yang sepenuhnya daring, atau digabungkan dengan kelas tradisional sebagai pembelajaran campuran (blended learning) [13]. Menurut Houx [13], salah satu permasalahan paling umum dalam pembelajaran digital adalah bahwa siswa tidak terlibat dalam aktivitas daring. Ada sejumlah alasan berhubungan dengan hal ini, akan tetapi yang paling mendasar adalah siswa tidak melihat alasan untuk melakukannya. Agar siswa terlibat dalam aktivitas daring, guru (instruktur) perlu memastikan bahwa siswa memahami tugas tersebut, artinya, dan relevansinya. Dengan adanya model pembelajaran digital, para guru/ dosen/ instruktur akan lebih mudah dalam melakukan pemutakhiran bahanbahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir, mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya, serta mengontrol kegiatan belajar peserta didik [14]. Dalam penelitian sebelumnya, penerapan digital learning terbukti dapat meningkatkan performa dari siswa yang belajar Bahasa Inggris, dibandingkan dengan performa mereka pada tingkat prestasi yang sama seperti siswa reguler di kelas tradisional dalam pelajaran Matematika dan Membaca di kelas 3 dan 5 [15]. (Darmaningrat et al., 2018)
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

REVITALISASI PENDIDIKAN VOKASI MELALUI INOVASI SISTEM PENILAIAN BERBASIS KECAKAPAN ABAD KE-21

REVITALISASI PENDIDIKAN VOKASI MELALUI INOVASI SISTEM PENILAIAN BERBASIS KECAKAPAN ABAD KE-21

Untuk menyesuaikan kemajuan dan tuntutan zaman tersebut maka pembelajaran maupun sistem penilaian yang digunakan dan dikembangkan pada abad 21 hendaknya merubah pendekatan pembelajaran dan cara penilaiannya yaitu dengan penilaian otentik yang melatihkan dan mengembangkan pola pikir kritis dan kreatif dengan bersamaan mengimplementasikan informasi. Melalui penerapan penilaian otentik, pencapaian kemampuan berpikir kritis peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya secara mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, memiliki kemampuan menganalisa berbagai informasi, dan mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Penerapan penilaian yang terintegrasi pada proses pembelajaran mampu melatihkan, mengembangkan dan membiasakan pola pikir kreatif melalui butir tes HOTS, maka peserta didik akan memiliki kemampuan pola pikir kreatif untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada teman yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda. Kemampuan berpikir pikir kritis dan kreatif ini akan dapat dicapai bila peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills= HOTS). Terkait hal ini, maka peserta didik di pendidikan vokasi perlu dibekali dengan HOTS agar mampu mempersiapkan diri menghadapi segala tantangan di abad 21. Sebab dengan memiliki HOTS, maka peserta didik akan mampu berpikir kritis, kreatif, meneliti, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memiliki karakter yang baik.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Abad 21 di Singapore

Model Pembelajaran Abad 21 di Singapore

Singapore merupakan salah satu negara maju dengan teknologinya yang mutakhir serta memiliki sistem pendidikan yang sangat baik. Pada tahun 1981, almarhum Dr. Tay Eng Soon, Menteri Pendidikan, memimpin sebuah misi untuk mempelajari program pendidikan berbakat di negara lain yang menjadikan program pendidikan ini menjadi pendorong utama bagi sebuah negara untuk meraih tingkat pendidikan tertinggi dibanding negara lain. Pada tahun 2000 di negara Cina, tengah disibukan mempromosikan kreativias sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan nasional negara mereka. Sebelumnya para pemimpin pendidikan di Cina melihat kurangnya kreativitas sebagai penghalang untuk sukses secara global dan kompetitif. Menurut Wang (dalam Lockette, 2012, hlm. 1) Reformasi pendidikan di Cina saat itu dirancang dari pembelajaran ceramah dan hafalan menjadi pembelajaran yang berpusat kepada siswa, hal itu termasuk pembelajaran kooperatif, metode penemuan, serta pembelajaran berbasis proyek. Selanjutnya di Korea, menurut Riyana (dalam Makalah Studi Pengembangan Kurikulum), Reformasi kurikulum di Pendidikan Korea dilaksanakan sejak tahun 1970-an dengan mengkoordinasikan metode pembelajaran dan pemanfaatan teknologi, adapun yang dikerjakan oleh guru, meliputi langkah, yaitu 1) perencanaan pengajaran, 2) diagnosis murid, 3) membimbing siswa belajar dengan berbagai program, 4) test dan menilai hasil belajar. Dalam mendukung pembelajaran di Negara Korea, Departemen Pendidikan, Sains dan Teknologi (MEST) meluncurkan program pada tahun 2007, menyerukan tidak hanya untuk penciptaan buku digital, tetapi juga database jaringan dari bahan ajar untuk melayani sebagai yang baru, dan kurikulum yang fleksibel. Negara selanjutnya dalam perkembangan abad ke-21 ialah negara Jepang. Sebuah artikel April 2010 di koran Mainichi mencatat inovasi dalam ilmu kehidupan berbasis Pengalaman belajar di Yokohama City Science Frontier High School pada saat yang bersamaan menyesalkan kurangnya pembangunan sistem pendidikan nasional yang berdasarkan kemampuan atau bakat (Kathryn & Arens, 2012, hlm. 15).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PERSIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN ABAD 21 SEDINI MUNGKIN MELALUI PAUD YANG BERKUALITAS

PERSIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN ABAD 21 SEDINI MUNGKIN MELALUI PAUD YANG BERKUALITAS

memiliki keterampilan abad 21, diperlukan faktor kunci yaitu guru atau pendidik yang mampu memfasilitasi dan menumbuhkan kemampuan-kemampuan abad 21 tersebut. Berdasarkan data Publikasi Statistik PAUD tahun 2016-2017 dari Kemdikbud, masih ada 47,7 % guru PAUD yang belum memiliki kualifikasi akademik sarjana, bahkan 5,9 % merupakan lulusan SMP. Namun demikian, studi menunjukkan bahwa di sebagian wilayah Indonesia, terdapat guru PAUD yang memiliki kualitas pengajaran yang baik, berdedikasi untuk siswanya, walaupun mereka tidak yang memiliki gelar akademik sesuai yang distandarkan 6 . Temuan seperti ini membangun perdebatan bahwa perlu diperhatikan bukanlah gelar akademik semata, tapi seberapa terlatih guru PAUD yang kita miliki sehingga mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan. Salah satu elemen kualitas pendidikan anak usia dini adalah pembelajaran yang dikembangkan, diimplementasikan, dan disupervisi oleh guru dan tenaga pengajar yang terlatih dalam hal bagaimana mengenali, membangun empati, menciptakan keterlibatan, memantau perkembangan, dan menciptakan pengembangan berkelanjutan dengan anak 7 .
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, KREATIVITAS, KOMUNIKASI, DAN KOLABORASI DALAM PEMBELAJARAN ABAD 21: INOVASI PEMBELAJARAN ABAD 21

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, KREATIVITAS, KOMUNIKASI, DAN KOLABORASI DALAM PEMBELAJARAN ABAD 21: INOVASI PEMBELAJARAN ABAD 21

Tahapan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah guru membantu siswa melakukan refleksi dan evaluasi terhadap pemecahan masalah yang mereka lakukan.Keterampilan berpikir kreatif yang dikembangkan pada tahap ini yaitu berpikir merinci.Dengan demikian, peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa tidak terlepas dari aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa. Menurut Dahar (dalam Trianto, 2010), pengetahuan yang benar-benar bermakna didapat apabila seseorang berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya.Aktivitas siswa dalam PBM meliputi aktivitas fisik, mental, dan sosial Sehingga berbagai kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada setiap tahapannya akan berujung pada peningkatan ketepatan analisis dan kemampuan berpikir siswa.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran pada Abad 21

Model Pembelajaran pada Abad 21

Dunia pendidikan semakin pesat perkembangannya ditambah tuntutan pada abad ke-21. Maka banyak negara yang melakukan reformasi pendidikan contohnya ialah negara Indonesia. Tujuan dari reformasi tersebut ialah dalam rangka menciptakan masyarakat yang berdaya saing. Halnya pendidikan berarti berbicara mengenai belajar, mengajar, dan pembelajaran. Adapun definisi belajar yang dikemukakan oleh Anthony Robbins sederhananya yakni belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu pengetahuan yang sudah dipahami dan sesuatu pengetahuan yang baru. Menurut Subiyanto (1988: 30) Mengajar pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar menolong para siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, serta ide dan apresisasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa. Sedangakan pembelajaran pada hakikatnya yakni usaha sadar dari seorang guru untuk mengarahkan siswa dengan sumber belajar sehingga terjadi interaksi dan mendapatkan pengalaman belajar. Pada zaman sekarang pembelajaran telah berkembang pesat dibuktikan dengan munculnya model pembelajaran dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya keterpaduan dari setiap elemen guna mempersiapkan tantangan pendidikan pada abad ke-21.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

MODEL PEMBELAJARAN ABAD KE 21 DI SINGAPU (2)

MODEL PEMBELAJARAN ABAD KE 21 DI SINGAPU (2)

Sebagai inti dari reformasi, para pemimpin di Cina melihat dan masih menganggap bahwa pendidikan penting bagi pengembangan Cina, sebagai kekuatan global dan politik dan merasa interaksi sosial di dalam ruang kelas sebelum reformasi tidaklah kondusif untuk pengembangan kreativitas dan inovasi.Rencana lima tahunan Cina yang kesebelas pada tahun 2006 juga menempatkan kreativitas sebagai prioritas negara (Vong, dalam Lockette, 2012, hlm. 1). Menstimulasi kreativitas, kenegaraan dan pemerintah daerah dan guru diberi wewnang lebih besar dalam pengembangan dan seleksi buku teks, serta lebih banyak pendapat dalam mengembangkan kurikulum yang fleksibel.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pembelajaran Inovatif Abad Ke-21

Pembelajaran Inovatif Abad Ke-21

Tuntutan strategi penilaian pembelajaran abad 21 lebih menekankan pada pengukuran kompetensi siswa secara kompleks yang mengakomodir kompetensi pengetahuan (kognitif), ompetensi intrapersonal, dan kompetensi interpersonal. Kompetensi pengetahuan merujuk pada berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreativitas dan inovasi, kolaboratif, dan komunikasi. Kompetensi Interpersonal menyangkut adalah kemampuan untuk bekerja dengan orang lain seperti kemampuan manajemen diri, kerjasama, komunikasi yang efektif, dan kemampuan mejaga hubungan dengan orang lain secara emosional. Kompetensi Intrapersonal meliput kemampuan kerja dalam tim, kolaborasi, komunikasi, kerja sama, dan koordinasi. Dengan demikian, dalam penilaian perlu dikembangkan agar dapat mengukur kompetensi tersebut. Menghadapi tantangan dunia nyata, penilaian harus memberikan tugas berbasis solusi, keterampilan akan lebih fokus pada keterampilan operasional, seperti keahliannya menggunakan banyak sumber secara tepat dan efisien, bukan pada respon peserta didik secara benar yang disampaikan oleh pendidik (Winaryanti, 2018). Penilaian mempersiapkan peserta didik untuk memiliki kesiapan menghadapi tantangan di lingkungan global yang kompleks di masa depan. Strategi penilaian yang menunjukkan dampak pengajaran dan pembelajaran serta membantu guru mengembangkan lingkungan belajar abad 21 di kelas yaitu: (1) rubrik, (2) penilaian berbasis kinerja/performance-
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Harapan dan Tantangan Implementasi Pembelajaran IPA dalam Konteks Kompetensi Keterampilan Abad 21 Di Sekolah Menengah Pertama

Harapan dan Tantangan Implementasi Pembelajaran IPA dalam Konteks Kompetensi Keterampilan Abad 21 Di Sekolah Menengah Pertama

Peran guru yang memberikan pembelajaran IPA hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap Peserta Didik dalam belajar, karena pada dasarnya setiap Peserta Didik adalah unik. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa manusia memiliki kecerdasan majemuk. Ada delapan jenis kecerdasan majemuk, yaitu; (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, KREATIVITAS, KOMUNIKASI, DAN KOLABORASI DALAM PEMBELAJARAN ABAD 21: INOVASI PEMBELAJARAN ABAD 21

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, KREATIVITAS, KOMUNIKASI, DAN KOLABORASI DALAM PEMBELAJARAN ABAD 21: INOVASI PEMBELAJARAN ABAD 21

Sedangkan menurut Kama Abdul Hakam (2013) untuk menciptakan pendidikan karakter maka kepala sekolah hendaknya merancang program- program peningkatan empat kompetensi utama guru (pedagogik, kepribadian, professional dan sosial) yang berbasis pendidikan nilai. Pemberian pelatihan khusus kepada guru tentang pendekatan-pendekatan dalam pendidikan nilai serta strategi integrasi nilai-nilai karakter ke dalam rancangan pembelajaran (Silabus dan RPP) menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang perlu difasilitasi oleh Kepala Sekolah melalui forum MGMP atau organisasi gugus.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

MENJADI GURU DI ABAD 21 Tantangan

MENJADI GURU DI ABAD 21 Tantangan

Menjadi pendidik di Abad 21 memiliki tantangan dan harapan besar dalam membangun bangsa ini. Mengingat pada satu abad Indonesia di tahun 2045, Indonesia memiliki bonus demografi yang hampir 70% dari jumlah penduduknya merupakan usia produktif. Mengajar di Abad 21 merupakan masa di mana terjadi revolusi digital yang sangat cepat. Peralihan generasi pendidik yang dirasakan saat ini begitu terasa. Di satu sisi perubahan teknologi digital yang sangat cepat yang mempengaruhi sistem pendidikan, tidak berbanding lurus dengan perubahan kemampuan guru dalam penguasaan teknologi dan multimedia dalam pembelajaran. Hal ini berdampak kepada lambannya alih teknologi pada proses pembelajaran. Pada sisi lain, siswa jauh lebih menguasai teknologi digital.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

MODEL PEMBELAJARAN ABAD KE 21 DI SINGAPU

MODEL PEMBELAJARAN ABAD KE 21 DI SINGAPU

Sebagai inti dari reformasi, para pemimpin di Cina melihat dan masih menganggap bahwa pendidikan penting bagi pengembangan Cina, sebagai kekuatan global dan politik dan merasa interaksi sosial di dalam ruang kelas sebelum reformasi tidaklah kondusif untuk pengembangan kreativitas dan inovasi.Rencana lima tahunan Cina yang kesebelas pada tahun 2006 juga menempatkan kreativitas sebagai prioritas negara (Vong, dalam Lockette, 2012, hlm. 1). Menstimulasi kreativitas, kenegaraan dan pemerintah daerah dan guru diberi wewnang lebih besar dalam pengembangan dan seleksi buku teks, serta lebih banyak pendapat dalam mengembangkan kurikulum yang fleksibel.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, KREATIVITAS, KOMUNIKASI, DAN KOLABORASI DALAM PEMBELAJARAN ABAD 21: INOVASI PEMBELAJARAN ABAD 21

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, KREATIVITAS, KOMUNIKASI, DAN KOLABORASI DALAM PEMBELAJARAN ABAD 21: INOVASI PEMBELAJARAN ABAD 21

Menurut Zhao dan Hoge (2005 hlm.216), ” Another aspect of democratic life is a different view or opinion, civilized society wants every individual is able to recognize and understand the meaning of a difference than egocentric ”. Untuk membangun pendekatan dalam sekolah dasar, berbagai kegiatan harus dilakukan supaya perbedaan pandangan dan gaya hidup dapat dijadikan suatu hal yang bisa diharmoniskan. Misalnya, guru dapat menciptakan lingkungan diskusi di kelas dengan topik sosial seperti melindungi lingkungan alam, toleransi antar bangsa. Siswa dapat memberikan opini dan mengekspresikan pribadi mereka tentang materi yang dipelajari secara alami. Hal ini akan menumbuhkan sikap toleransi antar sesama siswa dan akan mengembangkan pemahaman demokrasi mereka. Selanjutnya, guru bisa memunculkan ide kreatif siswa dengan cara menggantung papan tulis/sejenis mading di kelas supaya mendorong siswa untuk bebas menuliskan ide-ide dan pendapat mereka di papan tersebut. Kegiatan praktik ini akan sangat dihargai oleh siswa, dan akan mendorong siswa untuk membuka telinga bukan hanya dari guru saja, tetapi juga ide dari teman yang lainnya. Pembinaan guru untuk menghormati teman-temannya dari berbagai pendapat yang berbeda adalah salah satu kegiatan yang paling penting dari pendidikan demokrasi ini, selain itu mereka juga dapat belajar bagaimana memberikan nilai kepada ide- ide orang lain juga.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...