Top PDF Interpretasi Vulkanostratigrafi Daerah Mamuju Berdasarkan Analisis Citra Landsat-8

Interpretasi Vulkanostratigrafi Daerah Mamuju Berdasarkan Analisis Citra Landsat-8

Interpretasi Vulkanostratigrafi Daerah Mamuju Berdasarkan Analisis Citra Landsat-8

Mamuju and its surrounding area are constructed mainly by volcanic rocks. Volcanoclastic sedimentary rocks and limestones are laid above the volcanic rocks. Volcanic activities create some unique morphologies such as craters, lava domes, and pyroclastic flow paths as their volcanic products. These products are identified from their circular features characters on Landsat-8 imagery. Geometric and atmospheric corrections had been done, a visual interpretation on Landsat-8 imagery was conducted to identify structure, geomorphology, and geological condition of the area. Regional geological structures show trend to southeast – northwest direction which is affects the formation of Adang volcano. Geomorphology of the area are classified into 16 geomorphology units based on their genetic aspects, i.e Sumare fault block ridge, Mamuju cuesta ridge, Adang eruption crater, Labuhan Ranau eruption crater, Sumare eruption crater, Ampalas volcanic cone, Adang lava dome, Labuhan Ranau intrusion hill, Adang pyroclastic flow ridge, Sumare pyroclastic flow ridge, Adang volcanic remnant hills, Malunda volcanic remnant hills, Talaya volcanic remnant hills, Tapalang karst hills, Mamuju alluvium plains, and Karampuang reef terrace plains. Based on the Landsat-8 imagery interpretation result and field confirmation, the geology of Mamuju area is divided into volcanic rocks and sedimentary rocks. There are two groups of volcanic rocks; Talaya complex and Mamuju complex. The Talaya complex consists of Mambi, Malunda, and Kalukku volcanic rocks with andesitic composition, while Mamuju complex consist of Botteng, Ahu, Tapalang, Adang, Ampalas, Sumare, dan Labuhan Ranau volcanic rocks with andesite to leucitic basalt composition. The volcanostratigraphy of Mamuju area was constructed based on its structure, geomorphology and lithology distribution analysis. Volcanostratigraphy of Mamuju area is classified into Khuluk Talaya and Khuluk Mamuju. The Khuluk Talaya consists of Gumuk Mambi, Gumuk Malunda, and Gumuk Kalukku, while Khuluk Mamuju consists of Gumuk Botteng, Gumuk Ahu, Gumuk Tapalang, Gumuk Adang, Gumuk Ampalas, Gumuk Sumare, and Gumuk Labuhan Ranau.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Rekayasa Elektrika. Kajian Awal Penentuan Daerah Prospek Panas Bumi di Gunung Bur Ni Telong Berdasarkan Analisis Data DEM SRTM dan Citra Landsat 8

Rekayasa Elektrika. Kajian Awal Penentuan Daerah Prospek Panas Bumi di Gunung Bur Ni Telong Berdasarkan Analisis Data DEM SRTM dan Citra Landsat 8

Abstract—Research for a preliminary study of Bur Ni Telong, geothermal area, Bener Meriah district using remote sensing techniques has been done. The aims of the research were to determine the morphological condition based on the fault and fracture (FFD) map from the interpreted digital elevation model (DEM) shuttle radar topography mission (SRTM) and to know the vegetation density and surface temperature distribution using Landsat 8 image. The DEM SRTM data were analyzed using the lineament pattern which related to faults and fractures. The vegetation density was calculated using normalized difference vegetation index (NDVI) transformation. The estimated surface temperature was used to locate temperature anomaly. Referring to the geographical map, the dense class area include Silih Nara-Ketol-Peulimbang to Peudada, Juli to Sawang, and Bandar area. The fault and fracture dominantly have directions in East-West and Northwest-Southeast. While based on NDVI map we conclude that the area is covered by dense vegetation, dominated by intermediate to dense of vegetation. The LST map shows the location of maximum surface temperature values are in agreement with residential areas and uncovered areas, as in the areas of Simpang Tiga Redelong and Takengon. Some geothermal manifestations are located in sparse to intermediate vegetation areas with high temperature.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ANALISIS PRODUKSI PADI DI KABUPATEN KULONPROGO TAHUN 2014 MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8  Analisis Produksi Padi Di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014 Menggunakan Citra Landsat 8.

ANALISIS PRODUKSI PADI DI KABUPATEN KULONPROGO TAHUN 2014 MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 Analisis Produksi Padi Di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014 Menggunakan Citra Landsat 8.

Interpretasi atau proses mengenali obyek dari citra berdasarkan unsur unsur interpretasinya. Interpretasi merupakan bagian dari tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan digitasi. Digitasi merupakan pengolahan data citra untuk mendapatkan data baru, dengan cara memberikan batasan-batasan berupa titik, garis, maupun area pada kenampakan obyek yang tergambar pada citra. Data hasil dari proses digitasi adalah data vektor dalam hal ini berupa data dengan format shapefile (*shp). Data shapefile adalah data yang nantinya digunakan dalam pemetaan agihan lahan sawah dengan menggunakan software pemetaan ArcGIS. Hasil proses interpretasi dari data pengindraan jauh berupa penggunaan lahan sawah yang kemudian ditentukan estimasi produksi padi pada setiap penggunaan lahan sawah sehingga dapat diketahui hasil produksi padi.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Interpretasi Hibrida untuk Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Kepadatan Bangunan Berdasarkan Citra Landsat 5 TM dan Sentinel 2A MSI (Kasus: Kota Salatiga)

Interpretasi Hibrida untuk Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Kepadatan Bangunan Berdasarkan Citra Landsat 5 TM dan Sentinel 2A MSI (Kasus: Kota Salatiga)

Identifikasi penggunaan lahan pada citra Landsat 5 TM dengan memanfaatkan true color composit dan false color composit. Hasil yang di dapatkan berupa 8 penggunaan lahan yang terdiri dari hutan, hutan campur, lahan terbuka, lapangan, pemukiman, sawah irigasi, dan tanaman campur. Hutan campur dan pemukiman menjadi penggunaan lahan yang paling tinggi kecenderungan memiliki luas 2382,35 ha. Pengaruhi topografi di Kota Salatiga yang cenderung berbukit menyebabkan banyaknya hutan campur yang dan cedernung lahan terbangun belum menyebar sampai daerah sub urban. Pemukiman yang memiliki luas terbesar kedua sebesar 2188,78 ha cenderung lebih memusat di daerah CBD yang makin meluas dan menyebar mencapai perbatasan Kabupaten Semarang.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Interpretasi Citra Satelit Landsat 8 Untuk Identifikasi Kerusakan Hutan Mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali.

Interpretasi Citra Satelit Landsat 8 Untuk Identifikasi Kerusakan Hutan Mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali.

Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali adalah salah satu hutan mangrove di Indonesia. Tahura Ngurah Rai ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomer 554/Kpts-II/1993 tahun 1993 memiliki luas 1.373,50 Ha. Tahura Ngurah Rai merupakan kawasan hutan bertipe hutan payau yang selalu tergenang oleh air payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Permasalahannya adalah dalam pengelolaannya sehingga Tahura Ngurah Rai Bali berpotensi mengalami kerusakan karena sebagai tempat pembuangan limbah trutama sampah dan perambahan hutan oleh masyarakat. Untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan hutan mangrove diperlukan inventarisasi tentang distribusi, luas dan kerapatan magrove. Inventarisasi ini berguna untuk pengelolaan dan penetapan kebijakan pada ekosistem mangrove dan daerah pesisir.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Interpretasi Hibrida Untuk Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Kepadatan Bangunan Berdasarkan Citra Landsat 5 TM dan Sentinel 2A MSI (Kasus: Kota Salatiga)

Interpretasi Hibrida Untuk Identifikasi Perubahan Lahan Terbangun dan Kepadatan Bangunan Berdasarkan Citra Landsat 5 TM dan Sentinel 2A MSI (Kasus: Kota Salatiga)

Identifikasi penggunaan lahan pada citra Landsat 5 TM dengan memanfaatkan true color composit dan false color composit. Hasil yang di dapatkan berupa 8 penggunaan lahan yang terdiri dari hutan, hutan campur, lahan terbuka, lapangan, pemukiman, sawah irigasi, dan tanaman campur. Hutan campur dan pemukiman menjadi penggunaan lahan yang paling tinggi kecenderungan memiliki luas 2382,35 ha. Pengaruhi topografi di Kota Salatiga yang cenderung berbukit menyebabkan banyaknya hutan campur yang dan cedernung lahan terbangun belum menyebar sampai daerah sub urban. Pemukiman yang memiliki luas terbesar kedua sebesar 2188,78 ha cenderung lebih memusat di daerah CBD yang makin meluas dan menyebar mencapai perbatasan Kabupaten Semarang.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kajian Awal Penentuan Daerah Prospek Panas Bumi di Gunung Bur Ni Telong Berdasarkan Analisis Data DEM SRTM dan Citra Landsat 8

Kajian Awal Penentuan Daerah Prospek Panas Bumi di Gunung Bur Ni Telong Berdasarkan Analisis Data DEM SRTM dan Citra Landsat 8

dengan sudut azimuth 0º, 45º, 90º, 135º, 180º, 225º, 270º, dan 315º. Hasil hillshade ini kemudian dikombinasikan menjadi dua bentuk, yaitu citra kombinasi 0º, 45º, 90º, 135º dan citra kombinasi 180º, 225º, 270º, 315º. Kedua citra kombinasi ini akan menampilkan bentuk relief permukaan yang memudahkan untuk penarikan kelurusan. Proses penarikan kelurusan dikomparasikan dengan struktur regional dari peta geologi untuk membedakan struktur yang diinterpretasikan sebagai sesar dan rekahan dengan struktur-struktur lain seperti sungai, lembah, antiklin, dan lainnya. Kelurusan yang telah diperoleh kemudian dikelompokkan pada grid dengan ukuran 2 km × 2 km untuk menghasilkan kontur densitas lineament. Pembuatan peta densitas lineament ini dilakukan menggunakan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Produksi Padi Di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014 Menggunakan Citra Landsat 8.

PENDAHULUAN Analisis Produksi Padi Di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014 Menggunakan Citra Landsat 8.

Tabel Kunci dan Unsur interpretasi yang digunakan dalam sistem klasifikasi SNI (Standart Nasional Indonesia) tentang penggunaan lahan dapat membedakan karakteristik jenis sawah melalui kenampakan pada objek. Sawah irigasi diidentifikasi berdasarkan kenampakan pada citra yang berwarna hijau kebiruan yang menandakan adanya kandungan air, bertekstur halus yang menandakan tinggi tanaman yang sejajar, berada di dataran, dan terdapat kenampakan sungai buatan/saluran irigasi. Sawah tadah hujan diidentifikasi berdasarkan kenampakan pada citra yang berwarna hijau, bertekstur kasar, berada di dataran tinggi, dan terdapat kenampakan sungai alami. Sawah pasang surut diidentifikasi berdasarkan kenampakan pada citra yang berwarna biru kehijauan karena daerah tersebut didominasi oleh air, bertekstur kasar, berada di pesisir pantai, dan terdapat kenampakan muara sungai dan laut.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Citra Landsat 8 Untuk Penilaian Vegetasi Sebagai Indikator Proses Degradasi di Daerah Karst Pegunungan Kendeng Utara

Pemanfaatan Citra Landsat 8 Untuk Penilaian Vegetasi Sebagai Indikator Proses Degradasi di Daerah Karst Pegunungan Kendeng Utara

Daerah karst merupakan wilayah yang umumnya mempunyai produktivitas pertanian yang rendah karena memiliki tanah yang kurang subur. Pemanfaatan lahan yang intensif seperti yang tampak di daerah karst Pegunungan Kendeng Utara dapat menyebabkan daerah karst ini terancam oleh proses degradasi atau proses penggurunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan penggunaan lahan, menilai tingkat degradasi lahan, menilai indeks vegetasi, menganalisis morfometri permukaan lahan, dan menilai faktor dominan penyebab degradasi lahan. Metode interpretasi citra Landsat 8 secara visual digunakan untuk pemetaan penggunaan lahan, sedangkan metode scoring dan interpolasi digunakan untuk memetakan tingkat degradasi lahan. Parameter yang digunakan adalah kualitas vegetasi, tingkat deforestasi, persentase batuan permukaan, dan tingkat pengelolaan lahan. Untuk penilaian indeks vegetasi digunakan metode EVI, SAVI, II, TRVI, NDVI melalui perangkat lunak ENVI 4.5, sedangkan untuk analisis morfometri digunakan perangkat lunak SAGA dengan parameter yang dinilai meliputi kemiringan dan kelengkungan lereng serta indeks kekasaran permukaan. Adapun analisis pohon keputusan digunakan untuk melihat variabel dominan penyebab area terdegradasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan terdiri atas hutan (12.80%), kebun campuran (12.86%), pemukiman (4.66%), tambang (0.13%), dan tegalan (70.28%). Tegalan merupakan penggunaan yang paling dominan dan sebagian besar ditanami jagung. Berdasarkan 71 titik sampel yang diperoleh, didapatkan bahwa area terdegradasi relatif lebih dominan di wilayah pegunungan bagian barat daripada di bagian timur. Dari hasil penilaian indeks vegetasi, TRVI terpilih sebagai metode terbaik untuk menduga area terdegradasi dengan nilai rata-rata indeks paling tinggi (0.2). Kelebihan indeks ini ditunjukkan oleh tingkat kejelasan warna yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Dari hubungan morfometri permukaan lahan dengan kelas degradasi lahan didapatkan bahwa daerah terdegradasi berada pada kemiringan lereng rendah, bertopografi cekung, dan tidak kasar, sedangkan untuk daerah tidak terdegradasi berada pada kemiringan lereng tinggi, bertopografi cembung, dan kasar. Dalam analisis pohon keputusan didapatkan bahwa TRVI selalu berada pada node utama, adapun untuk akurasi TRVI dikombinasikan dengan morfometri diperoleh kemiringan lereng berada pada node kedua. Dengan kata lain TRVI dan kemiringan lereng merupakan faktor yang berpengaruh untuk menduga degradasi di area karst dan tingkat akurasi yang diperoleh untuk daerah penelitian mencapai 94.00%.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Studi Perubahan Garis Pantai Berdasarkan Interpretasi Citra Satelit Landsat dan Perhitungan Rasio Lahan di Wilayah Pesisir Indramayu Jawa Barat

Studi Perubahan Garis Pantai Berdasarkan Interpretasi Citra Satelit Landsat dan Perhitungan Rasio Lahan di Wilayah Pesisir Indramayu Jawa Barat

Perhitungan luas abrasi dan sedimentasi didasarkan pada interpretasi citra satelit Landsat. Citra Satelit Landsat 7 pada periode tahun 2003 keatas (kecuali Landsat 8) mengalami gangguan sensor, yang berakibat data citra terdapat gap atau gangguan berupa garis-garis mendatar yang sering disebut kondisi SLC OFF. Sehingga perlu dilakukan perbaikan atau pengisian pada bagian citra yang terdapat gap tersebut. Setelah perbaikan citra dilakukan, tahap selanjutnya adalah koreksi geometrik yang tujuannya agar citra tersebut bergeoreferensi (memiliki koordinat). Citra yang sudah bergeoreferensi ini kemudian dilakukan masking citra, atau pemisahan antara daratan dan perairan (laut). Proses pemisahan daratan dan perairan (laut) ini sangat penting karena berfungsi untuk mengidentifikasi garis pantai yang akan diteliti perubahannya. Metode yang dipakai untuk proses masking citra adalah metode komposit Red Green Blue (RGB) 457 dan metode AGSO. Komposit warna RGB adalah penggabungan tiga band atau tiga informasi yang berbeda dalam tiga warna utama yaitu Merah (red- R), Hijau (green-G) dan Biru (blue- B). Nilai skala abu-abu yang terdapat pada masing-masing band digunakan untuk membentuk himpunan atau gabungan kecerahan warna merah, hijau dan biru. Penggabungan citra dengan metode RGB sangat umum digunakan untuk berbagai keperluan diantaranya adalah untuk mempermudah analisis visual dari pemisahan daratan dan perairan. Metode AGSO merupakan metode pemetaan perairan dangkal dari citra (shalow water image mapping) yang dikembangkan oleh Australian Geological Surveys Organization (AGSO). Formulasi AGSO ini merupakan rumusan matematis yang digunakan dalam menjelaskan hubungan antara sinyal gelombang elektromagnet, medium propagasi, partikel dalam air, serta efek kedalaman suatu perairan. Berdasarkan karakteristik spektralnya, obyek air memiliki persentase reflektansi yang tinggi pada band antara 0,3-0,7 μm. Band dengan panjang gelombang demikian merupakan band cahaya tampak (visible light), maka pada sensor Landsat TM, band ini (Band 1, 2 dan 3) mampu melakukan penetrasi ke permukaan suatu dasar perairan. Radiasi yang muncul dari air pada suatu perairan dangkal adalah suatu kombinasi dari: pantulan dari material substrat dasar perairan, kedalaman air, penyerapan dan hamburan oleh molekul air, partikel-partikel, dan material-tersuspensi (organik-anorganik) dan pengaruh dari efek atmosfer sebagai medium perambatan gelombang elektromagnet.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANALISIS BENCANA BANJIR MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT-8 DAN SPOT-6 UNTUK PENENTUAN DAERAH TERDAMPAK BANJIR (Studi Kasus: Kabupaten Sampang)

ANALISIS BENCANA BANJIR MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT-8 DAN SPOT-6 UNTUK PENENTUAN DAERAH TERDAMPAK BANJIR (Studi Kasus: Kabupaten Sampang)

Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) penggunaan lahan dapat dibedakan menjadi penggunaan lahan pedesaan rural land use) dan penggunaan lahan perkotaan (urban landuse). Penggunaan lahan pedesaan dititik beratkan pada produksi pertanian, sedangkan penggunaan lahan perkotaan dititik beratkan pada tujuan untuk tempat tinggal. Selanjutnya penggunaan lahan berdasarkan Arsyad (2006) dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan berdasarkan atas penyediaan air dan komoditi yang diusahakan dan dimanfaatkan atau atas jenis tumbuhan atau tanaman yang terdapat di atas lahan tersebut. Berdasarkan hal ini dikenal macam penggunaan lahan seperti tegalan pertanian lahan kering atau pertanian pada lahan tidak beririgasi), sawah, kebun, kopi, kebun karet, padang rumput, hutan produksi, hutan lindung, padang alang-alang, dan sebagainya. Sedangkan penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan ke dalam lahan kota atau pemukiman, industri, rekreasi, pertambangan, dan sebagainya. Klasifikasi Bentuklahan (Landform).
Baca lebih lanjut

128 Baca lebih lajut

ANALISIS TINGKAT KEHIJAUAN HUTAN DAERAH PERTAMBANGAN SAWAHLUNTO DENGAN METODE NDVI BERDASARKAN CITRA LANDSAT TAHUN

ANALISIS TINGKAT KEHIJAUAN HUTAN DAERAH PERTAMBANGAN SAWAHLUNTO DENGAN METODE NDVI BERDASARKAN CITRA LANDSAT TAHUN

Penelitian sebelumnya terkait penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk analisis tutupan lahan telah dilakukan oleh Catur, et al [11]. Mereka melakukan identifikasi lahan tambang timah menggunakan metode klasifikasi supervised dengan memanfaatkan data citra Land Satelite (LANDSAT). Dari penelitian yang mereka lakukan tersebut, diperoleh ciri-ciri lahan tambang timah pada citra landsat 8 yakni mempunyai warna coklat terang sampai putih cerah, tekstur kasar, mengikuti pola sungai, memliki ukuran lahan yang luas dan terdapat kubangan air yang berwarna biru. Tingkat akurasi yang dihasilkan dari penelitian tersebut adalah 90,5 persen.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Interpretasi Lahan Rawa Yang Belum Dialih Fungsi Menggunakan Citra Landsat 8

Interpretasi Lahan Rawa Yang Belum Dialih Fungsi Menggunakan Citra Landsat 8

2015 dan sebarannya per kecamatan di Kabupaten tersebut. Hasil yang diperoleh dapat menjadi data tambahan untuk instansi pemerintah atau pihak pengelola yang terkait mengenai luasan daerah rawa di Kabupaten Barito Kuala dan dapat digunakan sebagai acuan untuk rencana lebih lanjut terhadap pemanfaatan lahan rawa dan penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk monitoring lahan rawa. Berdasarkan hasil interpretasi dan klasifikasi terbimbing citra satelit Landsat 8 menggunakan sampel area yaitu Hutan Galam (melalueca leucadendra) dan vegetasi Purun Tikus (Eleocharis Dulcis) di lokasi penelitian di temukan yaitu, luas lahan rawa belum dialih fungsi mencapai 613.753 Km 2 ,
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Studi Variabilitas Spasial Dan Temporal Temperatur Permukaan Laut Berdasarkan Analisis Citra Termal Satelit Landsat-8 Di Perairan Pltu Sumuradem Indramayu Jawa Barat

Studi Variabilitas Spasial Dan Temporal Temperatur Permukaan Laut Berdasarkan Analisis Citra Termal Satelit Landsat-8 Di Perairan Pltu Sumuradem Indramayu Jawa Barat

Pembangunan PLTU di wilayah pesisir akan mengakibatkan peningkatan temperatur permukaan laut cukup signifikan. Peningkatan temperatur permukaan laut tersebut disebabkan oleh air pendingin yang dibuang ke badan air melalui kanal pembuangan, buangan itu disebut air bahang. Terpilihnya perairan komplek PLTU Sumuradem sebagai daerah kajian, karena PLTU Sumuradem merupakan pembangkit listrik yang baru beroperasi selama 3 tahun. Tujuan penelitian ini adalah memetakan temperatur permukaan laut akibat air bahang secara horizontal di perairan PLTU Sumuradem, Indramayu. Penelitian temperatur permukaan laut menggunakan citra satelit Landsat- 8 kanal 11 yang mempunyai kanal inframerah termal, berfungsi dalam mengukur dan memetakan panas. Pengolahan saluran termal Landsat-8 melalui analisa kuantitatif yang meliputi konversi nilai digital menjadi nilai radian dan konversi nilai radian menjadi temperatur. Kenaikan temperatur permukaan laut perairan kompleks Sumuradem Indramayu akibat air bahang dari yang terendah 31°C hingga temperatur tertinggi 36°C yang berada di mulut kanal outlet PLTU.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Analisa Sebaran Suhu Permukaan Laut Berdasarkan Citra Landsat-8 TIRS di Sekitar Outfall PLTU Tarahan Lampung Selatan

Analisa Sebaran Suhu Permukaan Laut Berdasarkan Citra Landsat-8 TIRS di Sekitar Outfall PLTU Tarahan Lampung Selatan

Permasalahan utama kegiatan PLTU ini adalah suhu air buangan dari sistem pendingin yang jauh lebih tinggi dari suhu perairan di sekitarnya. Umumnya suhu air buangan tersebut dapat mencapai 40 °C. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 8 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Termal dinyatakan bahwa pembuangan limbah panas ke badan air tidak boleh melebihi 40 o C. Air bahang yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mempengaruhi perubahan suhu permukaan laut dan kestabilan ekosistem di wilayah perairan sekitarnya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis Fase Tumbuh Padi Menggunakan Algoritma Ndvi, Evi, Savi, Dan Lswi Pada Citra Landsat 8

Analisis Fase Tumbuh Padi Menggunakan Algoritma Ndvi, Evi, Savi, Dan Lswi Pada Citra Landsat 8

Atmosphere ), sehingga NDVI yang tidak terlalu berpangaruh pada efek atmosfer menjadi model terbaik dibandingkan dengan 3 algoritma lain yang lebih membutuhkan kondisi atmosfer yang lebih baik. Selain itu, NDVI juga masih merespon sinyal vegetasi pada kondisi daerah yang memiliki variasi topografi. Dimana daerah sawah di Kabupaten Kendal memiliki topografi yang bervariasi dan NDVI memiliki efektivitas untuk memprediksi sifat permukaan ketika kanopi vegetasi tidak terlalu rapat dan tidak terlalu jarang (Liang, 2004).

10 Baca lebih lajut

Chapter I Interpretasi Tutupan Lahan di Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Model Unit XIV Kabupaten Toba Samosir Menggunakan Citra Landsat 8

Chapter I Interpretasi Tutupan Lahan di Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Model Unit XIV Kabupaten Toba Samosir Menggunakan Citra Landsat 8

1. Menganalisispenutupan lahan tahun 2014 dengan menggunakan tekhnologi remote sensing dan mengklasifikasikan tutupan lahan berdasarkan tipe tutupan lahan di KPHL Model Toba Samosir Unit XIV. 2. Memetakan tutupan lahan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV.

3 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Citra Landsat 8 Untuk Pemetaan Ekosistem Mangrove Di Kota Padang

Pemanfaatan Citra Landsat 8 Untuk Pemetaan Ekosistem Mangrove Di Kota Padang

Ekosistem mangrove adalah salah satu obyek yang bisa di indentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Letak geografi ekosistem mangrove yang berada pada daerah peralihan darat dan laut memberikan efek perekaman yang khas jika dibandingkan obyek vegetasi darat lainnya. Efek perekaman tersebut sangat erat kaitannya dengan karakteritik spektral ekosistem mangrove, hingga dalam identifikasi memerlukan suatu transformasi tersendiri.

8 Baca lebih lajut

ANALISIS KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR HIJAU KOTA BERDASARKAN INTERPRETASI CITRA QUICKBIRD DI KOTA TEBING TINGGI.

ANALISIS KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR HIJAU KOTA BERDASARKAN INTERPRETASI CITRA QUICKBIRD DI KOTA TEBING TINGGI.

Hasil penelitian ini adalah: (1) Luasan RTH eksisting di Kota Tebing Tinggi adalah 1.386 ha atau sekitar 35,58% dari luas keseluruhan Kota Tebing Tinggi yang menunjukkan bahwa RTH eksisting di Kota Tebing Tinggi sudah mencapai proporsi minimal yakni 30% seperti yang ditetapkan dalam Undang- undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. (2) Tingkat akurasi citra QuickBird dalam pemetaan tutupan lahan Kota Tebing Tinggi adalah 100%. (3) Hasil analisis pengembangan sistem RTH Kota Tebing Tinggi berdasarkan interpretasi citra QuickBird Tahun 2016 menunjukkan bahwa kelurahan di Kota Tebing Tinggi yang perlu dilakukan pengembangan sistem RTH berdasarkan jumlah penduduk adalah Kelurahan Pasar Baru yang terletak di Kecamatan Tebing Tinggi Kota yang hanya memiliki luasan RTH sekitar 0,57 ha. Pengembangan sistem RTH kota berdasarkan jumlah penduduk dilakukan pada lahan potensial RTH berupa ruang terbuka non hijau di Kelurahan Pasar Baru seluas 0,7 ha. Pengembangan RTH berdasarkan kebutuhan fungsi tertentu di Kota Tebing Tinggi dapat dilakukan pada lahan seluas 110,15 ha yang merupakan lahan potensial RTH berupa ruang terbuka non hijau yang berada pada kawasan lindung yaitu sempadan jalan, jalan kereta api, sungai, dan saluran utama tegangan tinggi. Sedangkan lahan terbangun seluas 146,48 ha yang berada pada kawasan lindung tersebut membutuhkan kebijakan khusus dari Pemerintah Daerah Kota Tebing Tinggi sebelum pengembangan sistem RTH kota dilakukan.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects