Top PDF JENIS BARANG DAN JASA YANG TIDAK DIKENAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

JENIS BARANG DAN JASA YANG TIDAK DIKENAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

JENIS BARANG DAN JASA YANG TIDAK DIKENAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3986);

0 Baca lebih lajut

ProdukHukum ESDM

ProdukHukum ESDM

bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 4A Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Jenis Barang dan Jasa Yang Tidak Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai;

5 Baca lebih lajut

BAB II KRITERIA BARANG YANG BISA DIKENAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2009 2.1. Konsep Dasar Pajak Pertambahan Nilai - PAKAIAN BEKAS IMPORT DALAM PERSPEKTIF HUKUM PAJAK INDONESIA Repository - UNAIR REPOSITORY

BAB II KRITERIA BARANG YANG BISA DIKENAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 2009 2.1. Konsep Dasar Pajak Pertambahan Nilai - PAKAIAN BEKAS IMPORT DALAM PERSPEKTIF HUKUM PAJAK INDONESIA Repository - UNAIR REPOSITORY

Pada dasarnya pengertian PPN ( Pajak Pertambahan Nilai), adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di Daerah Pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi. 12 Atau dengan kata lain PPN ( Pajak Pertambahan Nilai) adalah pajak penjualan atas yang dipungut atas dasar nilai tambah yang timbul pada pada semua jalur produksi dan distribusi. Dan dalam bahasa Inggris PPN ( Pajak Pertambahan Nilai) disebut Value Added Tax.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

4) Agen dan penyalur utama dari Pabrikan dan Importir. Ditetapkannya agen dan penyalur utama dari Pabrikan dan Importir sebagai Pengusaha Kena Pajak berdasarkan pertimbangan adanya hubungan khusus diantara mereka yang berpengaruh atas sistem perdagangan dan pemasaran barang. Pabrikan atau Importir adalah pihak yang menyuruh, atau meminta atau memberikan hak kepada penyalur atau agen utama untuk memasarkan Barang hasil produksinya atau Barang yang diimpornya berdasarkan jenis Barang dan/atau wilayah pemasaran tertentu menurut perjanjian yang disetujui bersama. Atas penyerahan Barang Kena Pajak oleh agen atau penyalur utama kepada pihak mana pun terhutang pajak,
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Pemungutan dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di Biro Pusat Administrasi Universitas Sumatera Utara

Pemungutan dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di Biro Pusat Administrasi Universitas Sumatera Utara

barang dan jenis jasa yang diatur dalam Pasal 4A Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. Misalnya barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya, barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya dan uang, emas batangan, dan surat-surat berharga. Sedangkan Jasa Kena Pajak yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) meliputi, jasa pelayanan kesehatan medis, jasa pelayanan sosial, jasa pengiriman surat dengan perangko, jasa keuangan, jasa asuransi, jasa keagamaan, jasa pendidikan, jasa kesenian dan hiburan, jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan, jasa angkutan umum, jasa tenaga kerja, , jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum, jasa penyediaan tempat parkir yang dilakukan oleh pemilik tempat parkir dan/atau pengusaha kepada pengguna tempat parkir dengan dipungut bayaran, jasa telepon umum, jasa pengiriman uang dengan wesel pos serta jasa boga atau catering.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

BAB III PAKAIAN BEKAS MENURUT UU NO. 42 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 3.1. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai - PAKAIAN BEKAS IMPORT DALAM PERSPEKTIF HUKUM PAJAK INDONESIA Repository - UNAIR REPOSITORY

BAB III PAKAIAN BEKAS MENURUT UU NO. 42 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 3.1. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai - PAKAIAN BEKAS IMPORT DALAM PERSPEKTIF HUKUM PAJAK INDONESIA Repository - UNAIR REPOSITORY

Pajak Pertambahan Nilai di Indonesia menganut sistem tunggal yang ditetapkan 10% (sepuluh persen). Dengan penerapan sistem tunggal ada sisi negatif dan sisi positif, dalam penerapan sistem tunggal ini yaitu mempertajam regesivitas Pajak Pertambahan Nilai dan sisi positifnya mempermudah pengawasasn dan sederhana. 25 Pajak Pertambahan Nilai dikenaka atas konsumsi dalam negeri yang dikenakan atas barang dan jasa yang dikonsumsi dalam daerah pabean Indonesia, apabila dikonsumsi di luar negeri, tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai Indonesia, sesuai dengan destination principle (prinsip tempat tujuan ). 26
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

D1 Pajak Barang yang Dikenakan dan Tidak

D1 Pajak Barang yang Dikenakan dan Tidak

Yang dimaksud dengan kebutuhan pokok dalam hal ini, diatur dalam penjelasan pasal 4A ayat (2) huruf b yang kemudian diadaptasi oleh pasal 1 jo. Pasal 3 PP No. 144 Tahun 2000. Selanjutnya, penjabaran lebih lanjut mengenai hal ini dilakukan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 653/KMK.03/2001 tanggal 27 Desember 2001 tentang Barang- barang kebutuhan pokok yang atas impor dan penyerahannya tidak dikenakan pajak pertambahan nilai, yang berlaku surut sejak 1 Januari 2001. Peraturan pelaksanaannya diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-68/PJ./2002 tanggal 4 Februari 2002. Adapun petunjuk pelaksanaannya dituangkan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-01/PJ.51/2002 tanggal 4 Februari 2002. Dalam peraturan pelaksaanaan ini dirinci jenis barang kebutuhan pokok dimaksud yang meliputi:
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

barang dan Jasa yang tidak dikenakan paj

barang dan Jasa yang tidak dikenakan paj

sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. Jenis Barang Yang Tidak Dikenai PPN

3 Baca lebih lajut

IMPOR DAN ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK TERTENTU DAN ATAU PENYERAHAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

IMPOR DAN ATAU PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK TERTENTU DAN ATAU PENYERAHAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3986);

0 Baca lebih lajut

Pengertian Pajak Dan Pajak Pertambahan Nilai

Pengertian Pajak Dan Pajak Pertambahan Nilai

Pajak terjadi pada saat impor barang. Pemungutan dilakukan melalui Direktorat Jendral Bea Cukai. Berbeda dengan penyerahan Barang Kena Pajak tersebut pada butir 1, maka siapapun yang memasukan Barang Kena Pajak kedalam Daerah Pabean tanpa memperhatikan apakah dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya atau tidak, tetap dikenakan pajak.Demikian juga atas impor barang kena Pajak yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan Pabean dibebaskan dari pungutan bea masuk, Pajak yang terutang tetap dipungut kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2000, Pasal 4 huruf b)
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai dan Pelaporannya pada PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang.

Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai dan Pelaporannya pada PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang.

PPN atas penjualan kepada Pemungut PPN (Bendaharawan Pemerintah atau Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara) akan disetor sendiri oleh pembeli barang atau si penerima jasa, yaitu pemungut PPN. Kewajiban PT. Sawah Besar Farma adalah menerbitkan invoice, Faktur Pajak, dan Surat Setoran Pajak(SSP) yang kemudian atas PPN Keluaran yang seharusnya dipungut dan disetor oleh PT. Sawah Besar Farma akan dialihkan kepada pembeli barang atau penerima jasa, yaitu pemungut PPN. Faktur Pajak (SSP) dibuat oleh PT. Sawah Besar Farma pada saat dilakukan penagihan, dan pemungut PPN akan mengembalikan Faktur Pajak lembar kedua yang dibubuhkan cap “Disetor……..” dan menandatanganinya pada lembar Faktur Pajak Standar serta memberikan bukti setor (SSP). PPN lembar pertama dan ketiga kepada penjual. SSP ini akan dilaporkan PT. Sawah Besar Farma dalam laporan pajak sebagai SSP terima dalam hal SSP telah dikembalikan oleh pemungut PPN atau SSP belum diterima dalam hal SSP belum dikembalikan oleh pemungut PPN, namun penjual tetap berhak memperhitungkan PPN keluaran tersebut sebagai pengurang total PPN keluaran ( Lampiran 1 Formulir 1107A.IV) dalam laporan Pajak.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Pembebanan Pajak Pertambahan Nilai Atas Jasa Notaris

Pembebanan Pajak Pertambahan Nilai Atas Jasa Notaris

Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang utama bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Salah satu jenis pajak yang mempunyai peranan besar dalam penerimaan pemerintah adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPN diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2000. Dalam Undang- Undang ini diatur bahwa Notaris adalah salah satu Pengusaha Kena Pajak atas setiap jasa yang diberikannya kepada masyarakat. Dengan adanya pembebanan Pajak Pertambahan Nilai atas Jasa Notaris, maka perlu diketahui bagaimanakah kriteria jasa Notaris yang dikategorikan sebagai Jasa Kena Pajak Pertambahan Nilai juga bagaimanakah cara pemungutan PPN atas jasa Notaris serta kendala apa saja yang dihadapi dalam pemungutan PPN atas jasa Notaris tersebut.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PERUBAHAN  perilaku dan proses UNDANG

PERUBAHAN perilaku dan proses UNDANG

Dasar hukum pengenaan pajak pada awalnya diatur UU no.8 tahun 1983 tentang pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah yang mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 1984 yang merupakan salah satu produk reformasi sistem perpajakan di Indonesia (tax reform) tahun 1983 sebagai pengganti UU no.19 tahun 1951 Drt. Jo UU no.35 tahun 1953 tentang Pajak Penjualan. Kemudian diubah menjadi UU no.11 tahun 1994. Perubahan ke II terjadi pada tahun 2000 dalam UU no.18 tahun 2000, yang kemudian terakhir kali disempurnakan dalam UU no. 42 tahun 2009 tentang pajak pertambahna nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

20171005144900PERMENKEMENKEUNomor186 PMK.03 2015Tahun2015kemenkeuno186 pmk.03 2015

20171005144900PERMENKEMENKEUNomor186 PMK.03 2015Tahun2015kemenkeuno186 pmk.03 2015

7. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang selanjutnya disingkat PPnBM adalah Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.

28 Baca lebih lajut

PENGUSAHA KENA PAJAK

PENGUSAHA KENA PAJAK

Undang-undang pajak pertambahan nilai 1984 menganut metode kredit pajak (credit method) serta metode faktur pajak (invoice method). Dalam metode ini pajak pertambahan nilai (PPN) dikenakan atas penyerahan barang kena pajak (BKP) atau jasa kena pajak (JKP) oleh pengusaha kena pajak. PPN dipungut secara bertingkat pada setiap jalur produksi dan distribusi. Unsur pengenaan pajak berganda atau pengenaan pajak atas pajak yang dihindari dengan diterapkannya mekanisme pengkreditan pajak masukan (metode kredit pajak). Untuk melakukan pengkreditan pajak masukan, sarana yang digunakan adalah faktur pajak (metode faktur pajak)
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PEMBERITAHUAN PEMASUKANPENGELUARAN BARANG TRANSAKSI TERTENTU (PPBTT)

PEMBERITAHUAN PEMASUKANPENGELUARAN BARANG TRANSAKSI TERTENTU (PPBTT)

Berdasarkan Pemberitahuan Pabean (PPFTZ-03) nomor pengajuan .....(9)... atas nama penerima barang ........... (10), NPWP: .........(11)........., nomor Faktur Pajak: .........(12)....., yang telah diberikan Endorsement dengan diberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut, dengan ini disampaikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Diberitahukan bahwa fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut yang sebelumnya diberikan menjadi tidak diberikan sehingga pemberian fasilitas tersebut dibatalkan berdasarkan ketentuan Pasal 12 ayat (2d) Peraturan Menteri Keuangan Nomor ...(13) ..../PMK.03/2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Pengawasan, Pengadministrasian, Pembayaran, Serta Pelunasan Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas Pengeluaran dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak Dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean dan Pemasukan dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas. 2. Atas pemasukan Barang Kena Pajak yang tidak dapat diberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut, Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak tersebut wajib memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. Demikian disampaikan. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Nama .............(14)............
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Sistem Perpajakan untuk Perusahaan Angkutan

Sistem Perpajakan untuk Perusahaan Angkutan

Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c.

11 Baca lebih lajut

158 PMK.010 2015 Kriteria Jasa Kesenian dan Hiburan yg Tdk kena PPN

158 PMK.010 2015 Kriteria Jasa Kesenian dan Hiburan yg Tdk kena PPN

bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 7 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pjak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa lan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun . 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Pejualan atas Barang Mewah, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Kriteria Jasa Kesenian dan Hiburan yang Tidak Dikenai Pjak Pertambahan Nilai;
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, huruf c, huruf f, huruf g, dan huruf h, kecuali pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan wajib : Memungut,

55 Baca lebih lajut

EVALUASI ATAS PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PT JMU

EVALUASI ATAS PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PT JMU

Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat penyerahan Barang Kena Pajak yang seharusnya dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, namun tidak dikenakan oleh PT JMU. Selain itu, terdapat perolehan Barang Kena Pajak yang seharusnya dipungut Pajak Pertambahan Nilai, namun tidak dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak penjual. Dari hasil evaluasi, PT JMU belum mengelompokkan antara Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan yang tidak dapat dikreditkan. Penulis juga menemukan adanya Faktur Pajak Standar yang cacat, baik Faktur Pajak Standar Masukan maupun Keluaran. Berdasarkan temuan tersebut, mengakibatkan timbulnya Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. Akibatnya penghitungan Pajak Pertambahan Nilai PT JMU menjadi kurang bayarBerdasarkan evaluasi atas SPT Masa PPN Desember 2005 Pembetulan I, masih terdapat kesalahan dalam pengisian formulir 1195 induk maupun lampiran. PT JMU juga tidak menyampaikan secara lengkap SPT Masa PPN Desember 2005 Pembetulan I ke Kantor Pelayanan Pajak.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...