Top PDF KAJIAN JENIS MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI BAP (Benzyl Amino Purine) TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (Anacardium occidentale L.).

KAJIAN JENIS MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI BAP (Benzyl Amino Purine) TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (Anacardium occidentale L.).

KAJIAN JENIS MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI BAP (Benzyl Amino Purine) TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU METE (Anacardium occidentale L.).

Media tanam kotoran kambing memberikan hasil terbaik tinggi tanaman 22,808 cm, kompos 21,842 cm dan kotoran sapi 18,942 cm. Media tanam kotoran kambing memberikan hasil tinggi tanaman paling baik diduga karena unsur Nitrogen (N) kandungan media tanam kotoran kambing paling tinggi dibandingkan pupuk kotoran kambing dan kompos (lampiran hasil uji laboratorium kandungan pupuk organik) akan memberikan pertumbuhan paling baik bagi tanaman. Unsur N penting dalam pertumbuhan tanaman terutama dalam proses pembelahan sel dan pemanjangan sel meristem pada titik tumbuh batang tanaman. Pertumbuhan tinggi tanaman terjadi karena adanya pembelahan dan pemanjangan sel-sel jaringan meristematik pada titik tumbuh batang. Dalam proses pembelahan sel ini diperlukan karbohidrat yang cukup untuk membentuk dinding sel dan protoplasma Salisbury dan Ross (1995).
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Silabus Prakarya Budidaya VII

Silabus Prakarya Budidaya VII

 Melakukan pengamatan dengan cara membaca dan menyimak dari kajian literatur /video tentang pengetahuan jenis dan teknik modifikasi media tanam tanaman obat daerah setempat dan nusantara sebagai pelengkap pengetahuan siswa dan melatih tanggung jawab, kemandirian dan bekerjasama.

19 Baca lebih lajut

Kajian macam media tanam dan konsentrasi iba terhadap pertumbuhan stek jarak pagar (jatropha curcas l.).

Kajian macam media tanam dan konsentrasi iba terhadap pertumbuhan stek jarak pagar (jatropha curcas l.).

Perlakuan konsentrasi IBA berpengaruh tidak nyata terhadap saat kemunculan tunas. Saat kemunculan tunas paling awal terlihat pada konsentrasi IBA B2 (100 ppm) yaitu 22,917 hari dan paling lama pada konsentrasi B0 (0 ppm) yaitu 25,333 hari. Hal ini berarti dengan perlakuan penggunaan ZPT dapat mempercepat saat kemunculan tunas dibandingkan tanpa IBA. Sesuai dengan pendapat Meyer dan Anderson (1956, dalam Suprijadi, 1985) bahwa Zat Pengatur Tumbuh tersebut berfungsi sebagai perangsang keluarnya akar juga dapat menggiatkan pertumbuhan tunas.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI BAP DAN MACAM MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL Anthurium hookeri

PENGARUH KONSENTRASI BAP DAN MACAM MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL Anthurium hookeri

Pada perhitungan analisis ragam menunjukkan perlakuan konsentrasi zat pengatur tumbuh (BAP) tidak memberikan pengaruh dalam mempercepat pertumbuhan awal A. hookeri . Hal ini terlihat dari variabel tinggi tanaman, panjang, lebar, luas dan jumlah daun serta panjang dan jumlah akar. Hasil yang sama ditunjukkan pada interaksi antara perlakuan konsentrasi zat pengatur tumbuh dengan macam media pada semua variable pengamatan. Hal tersebut dikarenakan belum diketahui fase peka tanaman A. hookeri terhadap pemberiaan zat pengatur tumbuh jenis sitokinin untuk memacu pertumbuhannya. Sesuai Sumiati dalam Yanuarta (2007), bahwa efektifitas zat pengatur tumbuh tidak hanya ditentukan oleh konsentrasi tetapi juga oleh aplikasi yang sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman. Wattimena et.al (1991) menyatakan juga bahwa tanaman akan responsif terhadap zat pengatur tumbuh jika diberikan pada masa peka tanaman tersebut.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

KAJIAN KONSENTRASI BAP DAN NAA TERHADAP MULTIPLIKASI TANAMAN Artemisia annua L. SECARA IN VITRO

KAJIAN KONSENTRASI BAP DAN NAA TERHADAP MULTIPLIKASI TANAMAN Artemisia annua L. SECARA IN VITRO

Untuk menunjang keberhasilan teknik kultur jaringan A. annua, telah dilakukan beberapa penelitian mengenai penggunaan berbagai media dan penambahan zat pengatur tumbuh pada media kultur. Salah satu di antaranya adalah yang dilakukan oleh Ermayanti et al. (2002) pada A. cina dan A. annua menggunakan media MS padat dan cair tanpa atau dengan penambahan zat pengatur tumbuh BAP, kinetin, IAA dan NAA untuk menginduksi tunas dari kalus maupun dari potongan batang (internodus). Pada penelitian ini, akan dikaji lebih dalam mengenai pengaruh pemberian BAP dan NAA pada berbagai konsentrasi yang dapat menghasilkan tunas terbanyak untuk multiplikasi tanaman A. annua secara in vitro. Rout Gr et al. (1999) dan Tsay HS et al. (1989) cit Radji (2005) menyatakan bahwa penambahan senyawa auksin dan sitokinin dalam media perbenihan kultur jaringan mampu mempercepat multiplikasi sel jaringan beberapa tumbuhan obat.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

RESPON PEMBENTUKAN KALUS KORO BENGUK (Mucuna pruriens L) PADA BERBAGAI KONSENTRASI 2,4D DAN BAP

RESPON PEMBENTUKAN KALUS KORO BENGUK (Mucuna pruriens L) PADA BERBAGAI KONSENTRASI 2,4D DAN BAP

Langkah awal yang harus dilakukan untuk memulai proses embriogenesis ialah induksi kalus. Keberhasilan induksi kalus embriogenik suatu tanaman sangat bergantung pada hormon endogen dan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang ditambahkan pada media tanam. Zat pengatur tumbuh tanaman memiliki peranan penting dalam mengontrol proses biologi dalam jaringan tanaman. Efektifitas zat pengatur tumbuh bergantung pada konsentrasi hormon endogen yang berinteraksi dengan hormon eksogen yang diberikan (Davies 2004). Induksi kalus embriogenik umumnya menggunakan auksin dalam konsentrasi tinggi atau auksin dengan aktivitas kuat. 2,4- Dichlorophenoxy acetic acid (2,4-D) adalah auksin kuat yang banyak digunakan untuk menginduksi dan meningkatkan frekuensi kalus embriogenik. Zat pengatur tumbuh tersebut merupakan auksin sintetik yang cukup kuat dan tahan terhadap degradasi. Benzylamino purin (BAP) merupakan sitokinin sintetik aktif yang tidak mudah dirombak oleh enzim dalam tanaman serta sangat efektif dalam menstimulasi proliferasi dan induksi tunas (Gray 2005). Kombinasi 2,4-D dan BAP memberikan keberhasilan terbaik dalam induksi kalus setengah biji kedelai pada konsentrasi 4 mg/l BAP dan 4 mg/l 2,4-D (Radhakrishnan & Ranjitakumari 2007).
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Silabus Prakarya Budidaya VII

Silabus Prakarya Budidaya VII

 Melakukan pengamatan dengan cara membaca dan menyimak dari kajian literatur /video tentang pengetahuan jenis dan teknik modifikasi media tanam tanaman sayuran daerah setempat dan nusantara sebagai pelengkap pengetahuan siswa dan melatih tanggung jawab, kemandirian dan bekerjasama. Menanya

19 Baca lebih lajut

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh IAA dan BAP terhadap Regenerasi Anthurium andreanum Linden ex André cv. Tropical secara In Vitro.

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh IAA dan BAP terhadap Regenerasi Anthurium andreanum Linden ex André cv. Tropical secara In Vitro.

Zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik yang disintesis salah satu bagian tanaman dan dipindahkan ke bagian lain. ZPT pada konsentrasi yang sangat rendah rendah mampu menimbulkan suatu respon fisiologis, biokimia, dan morfologis (Wattimena, 1988; Salisbury dan Ross, 1995). Menurut Wattimena (1988), peran ZPT dalam pertumbuhan dan perkembangan kultur sangat besar. ZPT mengawali reaksi-reaksi biokimia dan mengubah komposisi kimia di dalam media tanam, yang mengakibatkan terbentuknya organ tanaman seperti akar, daun, bunga, dan lain-lain. Beyl (2000) menambahkan, ZPT memberikan pengaruh pada eksplan jika diberikan dalam konsentrasi yang rendah (0.001 µM sampai 10 µM). Penggunaan ZPT pada konsentrasi yang rendah efektif dalam mengatur inisiasi dan perkembangan tunas dan akar pada eksplan serta embrio dalan media padat ataupun cair.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus  Repositori Universitas Muria Kudus

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus Repositori Universitas Muria Kudus

Ulviana, R. 2016. Pertumbuhan dan Hasil tanaman Selada (Latucca sativa L) akibat jenis Media Tanam dan Konsentrasi Nutrisi AB mix dengan Hidroponik Wick System. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Banda Aceh ; tidak diterbitkan.

2 Baca lebih lajut

PENGARUH MEDIA DAN KONSENTRASI PUPUK DAUN SUPER NASA TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI MAHONI (Swietenia macropylla King)

PENGARUH MEDIA DAN KONSENTRASI PUPUK DAUN SUPER NASA TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI MAHONI (Swietenia macropylla King)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan media tanam dengan konsentrasi larutan pupuk daun super nasa tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi semai, diameter batang dan jumlah daun pada semua umur pengamatan. Pada akhir pengamatan luas daun, panjang akar, bobot basah dan bobot kering semai mahoni juga tidak memberikan pengaruh yang nyata. Dalam hal ini pada perlakuan media tanam dan konsentrasi pupuk daun super nasa yang dicobakan kemungkinan mempunyai kandungan jumlah dan jenis unsur hara yang hampir sama baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro, sehingga respon semai mahoni tidak
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

SILABUS MATA PELAJARAN PRAKARYA BUDIDAYA

SILABUS MATA PELAJARAN PRAKARYA BUDIDAYA

 Melakukan pengamatan dengan cara membaca dan menyimak dari kajian literatur /video tentang pengetahuan jenis dan teknik modifikasi media tanam tanaman obat daerah setempat dan nusantara sebagai pelengkap pengetahuan siswa dan melatih tanggung jawab, kemandirian dan

13 Baca lebih lajut

Organogenesis Tanaman Jeruk Keprok (CITRUS NOBILIS LOUR.) Secara In Vitro Pada Media MS Dengan Penambahanberbagai Konsentrasi IAA (INDOLE ACETID ACID) Dan BAP (BENZYL AMINO PURIN) | Harliana | Natural Science: Journal of Science and Technology 1017 3275 1

Organogenesis Tanaman Jeruk Keprok (CITRUS NOBILIS LOUR.) Secara In Vitro Pada Media MS Dengan Penambahanberbagai Konsentrasi IAA (INDOLE ACETID ACID) Dan BAP (BENZYL AMINO PURIN) | Harliana | Natural Science: Journal of Science and Technology 1017 3275 1

Akar tumbuh baik pada media C1 ulangan I yaitu media MS dengan penambahan 0,1 ppm IAA dan 0,4 ppm BAP. Hal ini diduga karena pada media C1 terbentuk pucuk adventif yang dapat menghasilkan hormon auksin sehingga konsentrasi auksin dalam tanaman bertambah besar dan mampu menginduksi akar. Menurut Wattemina et al. (1992), hanya ada satu jenis auksin endogen yaitu IAA (Indole Acetid Acid) yang diproduksi di pucuk dan ditranslokasikan secara polar ke akar tanaman melalui floem. Pertumbuhan akar ini didahului dengan pertumbuhan tunas aksilar terlebih dahulu. Altman (1998) menambahkan bahwa pada proses organogenesis, eksplan akan menghasilkan tunas dan akar, namun keduanya tidak akan muncul bersamaan, biasanya tunas yang akan terbentuk lebih dulu.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Bap Terhadap Multiplikasi Tunas Dan Giberelin Terhadap Kualitas Tunas Pisang Fhia-17 In Vitro

Pengaruh Konsentrasi Bap Terhadap Multiplikasi Tunas Dan Giberelin Terhadap Kualitas Tunas Pisang Fhia-17 In Vitro

Rendahnya laju multiplikasi pisang FHIA-17 kemungkinan disebabkan oleh kurangnya respon terhadap perlakuan BAP atau kemungkinan ada faktor lain selain BAP yang mempengaruhi laju multiplikasi pisang FHIA-17. Selain itu rata- rata total jumlah tunas yang tidak jauh berbeda antara setiap periode subkultur kemungkinan menunjukkan daya regenerasi pisang FHIA-17 belum meningkat. Hal ini berlawanan dengan penelitian Yusnita (2003) yang menyatakan bahwa tanaman pisang dengan genotipe AAA mempunyai daya regenerasi yang tinggi. Namun dalam penelitian ini meskipun pisang FHIA-17 adalah pisang tetraploid (AAAA), daya regenerasinya terlihat masih rendah dibandingkan dengan kultivar triploid Ambon Kuning yang dapat menghasilkan rata-rata jumlah tunas 12 buah per eksplan dengan perlakuan BAP 2 ppm (Yusnita, et. al., 1996). Sementara itu, Kasutjianingati (2004) yang meneliti laju multiplikasi pada lima jenis pisang melaporkan bahwa pisang Mas dapat menghasilkan rata-rata 10.1 tunas per eksplan dengan perlakuan BAP 2 ppm, pisang Ambon Kuning menghasilkan rata- rata 13 tunas per eksplan dengan perlakuan BAP 2 ppm, pisang Kepok Kuning menghasilkan rata-rata 8.3 tunas per eksplan dengan perlakuan BAP 5 ppm, pisang Raja Bulu menghasilkan rata-rata 5.5 tunas per eksplan dengan perlakuan BAP 5 ppm, dan pisang Tanduk menghasilkan 4 tunas per eksplan dengan perlakuan BAP 2 ppm. Dengan demikian media MS dengan BAP 1, 2, 3, dan 4 ppm kemungkinan belum optimal untuk multiplikasi pisang FHIA-17 atau ada faktor lain yang lebih menentukan kemampuan regenerasi pisang FHIA-17 seperti jenis sitokinin, jenis auksin, atau penambahan bahan organik misalnya air kelapa.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Pengaruh Kombinasi Media Tanam Dan Konsentrasi Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Tanaman Anggrek Dendrobium SP. Pada Tahap Aklimatisasi.

Pengaruh Kombinasi Media Tanam Dan Konsentrasi Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Tanaman Anggrek Dendrobium SP. Pada Tahap Aklimatisasi.

Jenis media tanam yang digunakan pada setiap daerah tidak sama. Di Indonesia, media tumbuh untuk anggrek yang ditanam di dalam pot umumnya berupa arang, pakis, batubara atau sabut kelapa (Livy Winata Gunawan, 2006). Pakis (Alsophia glauca.) sebagai salah satu media tanam yang banyak digunakan berasal dari batang tumbuhan paku. Media tanam ini mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi, terdiri dari serabut-serabut yang kaku sehingga membentuk celah-celah mikro (udara) yang memudahkan akar tanaman tum- buh ke segala arah dan kelebihan air dalam media dapat dengan mudah meng- alir (drainase), dan mengandung zat hara organik. Namun, pakis termasuk dalam daftar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), yaitu tanam- an yang hampir punah di dunia sehingga harus dilindungi (Redaksi Trubus, 2006). Oleh sebab itu perlu diusahakan media alternatif selain pakis untuk pertum- buhan tanaman anggrek terutama pada tahap aklimatisasi.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGARUH MEDIA DAN INTERVAL PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN VIGOR CENGKEH (Syzygum aromaticum L.) | Ahmad | Mitra Sains 7034 23516 1 PB

PENGARUH MEDIA DAN INTERVAL PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN VIGOR CENGKEH (Syzygum aromaticum L.) | Ahmad | Mitra Sains 7034 23516 1 PB

cengkeh, hal ini kemungkinan disebabkan karna ketersediaan unsur hara pada media tanam belim tersedia secara maksimal sedangkan ketersediaan unsur hara akan mempengaruhi luas daun dan kandungan klorofil daun. adanya perbedaan laju pertumbuhan dan aktivitas jaringan meristematis yang tidak sama, akan menyebabkan perbedaan laju pembentukan yang tidak sama pada organ yang terbentuk. Gardner et al 1991 menyatakan pertumbuhan daun dan ruas batang merupakan akibat dari pembelahan dan pemanjangan sel pada jaringan meristem, yang dipengaruhi oleh hara mineral dan ketersediaan air. Begitu pula dengan jenis media dan interval pemupukan tidak berprngaruh terhadap panjang akar dan volume akar, hal ini disebabkan karna media yang digunakan tidak berperngaruh terhadap perkembangan akar sehingga perakaran tanaman cengkeh relatif kurang berkembang. Musnamar (2003) menyatakan pembentukan akar dipengaruhi oleh persedian hara pada media tanam yang membutuhkan komponen makro nutrisi dalam konsentrasi yang memadai juga dipengaruhi oleh purositas media yang semakin baik dranase dan aerasenya akan semakin baik perkembangan akar sehingga pembentukan sel-sel tumbuh lebih baik.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Media Tanam dan Konsentrasi Chitosan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Ubi Benih Kentang G (Solanum tuberosum L.) Kultivar Granola.

Pengaruh Jenis Media Tanam dan Konsentrasi Chitosan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Ubi Benih Kentang G (Solanum tuberosum L.) Kultivar Granola.

Kebutuhan benih kentang yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan kemampuan produksi benih yang ada. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara jenis media tanam dan chitosan yang dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap hasil benih kentang G 0 kultivar Granola. Percobaan

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...