Top PDF Kajian Penataan Pedagang Kaki Lima di Kecamatan Pare Kabupaten Kediri

PEMANTAUAN KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KECAMATAN GARUT KOTA OLEH TIM PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA KABUPATEN GARUT | Ramdhan | JANE - Jurnal Administrasi Negara 13680 30142 1 SM

PEMANTAUAN KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KECAMATAN GARUT KOTA OLEH TIM PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA KABUPATEN GARUT | Ramdhan | JANE - Jurnal Administrasi Negara 13680 30142 1 SM

Garut Kota merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan jumlah penduduk sebanyak 130.321 jiwa berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut pada tahun 2015. Garut Kota sebagaimana pusat kota lainnya merupakan sentra dari beragam aktivitas kemasyarakatan, baik sebagai tempat bermukim, pemerintahan, perekonomian, perpolitikan, keagamaan, maupun kebudayaan. Beragam cara yang dilakukan masyarakat Garut Kota untuk bertahan hidup di tengah gempuran persaingan dan perkembangan zaman, menyempitnya lapangan pekerjaan, serta bertransformasinya sumber daya terampil menjadi mesin. Keanekaragaman yang ada menjadi potret heterogen perkotaan, termasuk dalam hal mencari nafkah yang di antaranya tercermin melalui fenomena Pedagang Kaki Lima (PKL) di Garut Kota sebagai salah satu sumber mata pencaharian masyarakat Kabupaten Garut.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kajian Model Pengembangan Pedagang Kaki Lima

Kajian Model Pengembangan Pedagang Kaki Lima

2. Menyediakan lokasi usaha untuk meningkatkan pemasaran serta dekat dengan konsumen. Lokasi usaha harus strategis, mudah dijangkau oleh pengunjung dari berbagai arah baik dengan menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Lokasi usaha PKL Kuliner sedapat mungkin terletak berdekatan dengan pusat perbelanjaan atau pusat perkantoran atau pusat keramaian kota. Dalam banyak kasus, relokasi PKL justru jauh dari akses konsumen sehingga menurunkan omzet PKL. Hal ini dapat dicegah melalui mekanisme penataan ruang oleh pemerintah kabupaten/kota di mana Usaha Mikro/PKL diakomodasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/kota. Setiap pembangunan gedung atau bangunan pusat perbelanjaan/perpasaran, perkantoran, fasilitas kesehatan (rumah sakit), pendidikan (perguruan tinggi, dan pusat rekreasi diwajibkan menyediakan tempat usaha bagi Usaha Mikro/PKL. Lokasi usaha PKL dapat pula dilakukan berdasarkan penjadwalan jam usaha, dapat juga mengikuti pola bergantian ataupun pola antar waktu seperti pasar malam.
Baca lebih lanjut

168 Baca lebih lajut

Implementasi Kebijakan Publik Tentang Pe

Implementasi Kebijakan Publik Tentang Pe

Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam era modern ini, sangat berpengaruh besar dalam pemerintahan terutama pada kota-kota besar, dimana perilakunya sektor informal ini seringkali berbenturan dengan kebijakan yang di ambil pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Sidoarjo.Mengenai Implementasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kecamatan Sidoarjo, dimana melihat Implementasi Kebijakan sendiri merupakan proses dari tahapan Kebijakan Publik (Public Policy Prosess) . Hasil penelitian pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo banyak menemui kendala terkait implementasi Kebijakan tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kecamatan Sidoarjo ini masih terjadi ketidakjelasan penanganan atau kepengurusan atas Penataan dan Pemberdayaan PKL, di antara Pemerintah Kabupaten dengan Dinas-Dinas terkait. Untuk itu mengenai permasalahan ini masih menjadi perbincangan di DPRD Kabupaten Sidoarjo, agar nantinya amanah dari Permendagri No. 41 Tahun 2012 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) dapat terwujud di Sidoarjo khususnya di Kecamatan Sidoarjo. Dampak positif yang di rasakan pada masyarakat di Kecamatan Sidoarjo terkait Implementasi Kebijakan tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) dimana adanya timbal-balik antara masyarakat dengan PKL dalam memenuhi kebutuhannya, serta dampak negatif yang dirasakan yakni adanya keresahan dari berbagai masyarakat terkait perilaku PKL yang sering menempati areal umum; dan jalan raya, trotoar sehingga mengganggu ketertiban dan ketentraman umum.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Konsep Penataan Ruang Pedagang Kaki Lima di Pantai Kering Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone - Repositori UIN Alauddin Makassar

Konsep Penataan Ruang Pedagang Kaki Lima di Pantai Kering Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone - Repositori UIN Alauddin Makassar

Seperti yang telah disinggung pada bagian awal, bahwa telah banyak daerah/kota yang sukses menyusun suatu konsep dan strategi namun gagal dalam pelaksanaan hanya disebabkan oleh kurang tepatnya metode pendekatan yang dipergunakan. PKL merupakan suatu usaha informal, yang juga terus dibutuhkan oleh masyarakat dengan segala pola pikir masyarakat yang beragam. Tidak sedikit masyarakat dan PKL yang bisa nrimo terhadap keputusan pemerintah, sama halnya dengan tidak sedikit pula masyarakat dan PKL yang selalu apatis dan pesimis terhadap rencana pemerintah. Sehingga tidak mudah dalam hal meyakinkan masyarakat bahwa penataan ini benar- benar membawa keuntungan bagi seluruh pihak.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

Penataan Pedagang Kaki Lima Dengan Memanfaatka Ruang Terbuka Hijau

Penataan Pedagang Kaki Lima Dengan Memanfaatka Ruang Terbuka Hijau

Tesis Daniel J. Pandapotan yang disusun pada tahun 2007 dengan judul “Kajian Spasial Pedagang Kaki Lima Dalam Pemanfaatan Ruang Publik Kota”, studi kasus koridor Jalan AR. Hakim Medan, Jalan Aksara Pasar Sukaramai Kecamatan Medan Area Kota Medan. Dimana metode penelitiannya menggunakan analisis kuantitatif untuk memahami kondisi perebutan ruang dalam penentuan lokasi pedagang kaki lima serta meneliti perilaku pedagang kaki lima melalui pengamatan langsung di lapangan. Adapun akhir dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pedagang kaki lima memanfaatkan ruang public yang menjadi jalur lintas dan pejalan kaki sebagai tempat berdagang dan disertai dampak yang disebabkan pada ruang public.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI KARAKTER KERJA KERAS PADA  PEDAGANG KAKI LIMA   Implementasi Karakter Kerja Keras Pada Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus pada Paguyuban Pedagang Kaki Lima “Manunggal” Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo tahun 2014).

IMPLEMENTASI KARAKTER KERJA KERAS PADA PEDAGANG KAKI LIMA Implementasi Karakter Kerja Keras Pada Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus pada Paguyuban Pedagang Kaki Lima “Manunggal” Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo tahun 2014).

Hambatan Implementasi Karakter Kerja Keras pada Paguyuban Pedagang Kaki Lima “MANUNGGAL” yaitu rasa malas untuk selalu hadir dalam pertemuan rutin paguyuban, karena keadaan sepi maka para pelaku usaha juga mengurangi jumlah barang yang dijual, kurangnya motivasi dari orang-orang terdekat. Kurangnya pelatihan yang dilakukan oleh SatPol PP dan pengurus Paguyuban yang lainnya untuk dapat meningkatkan ketrampilan peserta. Kurangnya sosialisasi dari SatPol PP bahwa setiap anggota atau pedagang baru wajib melaporkan diri kepada ketua atau pengurus Paguyuban yang lain. Kurangnya rasa percaya diri anggota paguyuban untuk ikut dalam suatu organisasi yang juga diadakan pertemuan rutin setiap bulannya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI  KARAKTER KERJA KERAS PADA  PEDAGANG KAKI LIMA   Implementasi Karakter Kerja Keras Pada Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus pada Paguyuban Pedagang Kaki Lima “Manunggal” Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo tahun 2014).

IMPLEMENTASI KARAKTER KERJA KERAS PADA PEDAGANG KAKI LIMA Implementasi Karakter Kerja Keras Pada Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus pada Paguyuban Pedagang Kaki Lima “Manunggal” Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo tahun 2014).

Halaman Tabel 1. Perincian Kegiatan Penelitian ......................................................... 27 Tabel 2. Instrument Pengumpulan Data ........................................................ 34 Tabel 3. Daftar Anggota Paguyuban Pedagang Kaki Lima

17 Baca lebih lajut

DI KABUPATEN SUKOHARJO( Kasus Pada Paguyuban Pedagang Kaki Lima Alun-Alun Sukoharjo)

DI KABUPATEN SUKOHARJO( Kasus Pada Paguyuban Pedagang Kaki Lima Alun-Alun Sukoharjo)

Dalam penelitian ini, governance Pedagang Kaki Lima (PKL) mencakup tiga bentuk interaksi yaitu: hubungan antara Pemerintah daerah dengan PKL, hubungan antara PKL dalam paguyuban, dan hubungan antara paguyuban PKL dengan stakeholders lainnya non-government. Penelitian ini menunjukkan bahwa didalam hubungan antara pemerintah daerah dengan PKL sudah terjalin komunikasi yang baik, masih adanya diskresi dalam penerapan aturan yang mengakomodasi kepentingan PKL, kurangnya transparansi dalam penarikan retribusi yang dilakukan oleh pemegang otoritas, dan partisipasi PKL dalam pengambilan keputusan yang hanyalah sebagai window dressing. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dalam hubungan antara PKL didalam paguyuban terdapat kerja sama diantara mereka, musyawarah rutin dalam penyelesaian konflik internal paguyuban, dan kegiatan sosial dalam pengadaan dana sosial bagi anggota yang terkena musibah. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara paguyuban PKL dengan stakeholders lainnya non-government yaitu adanya kepedulian sektor swasta menjadi sponsor pada event-event tertentu yang memberikan keuntungan finansial bagi PKL, kerja sama dengan masyarakat sekitar berupa kegiatan sosial seperti kerja bakti dan membangun tempat ibadah serta memanfaatkan tenaga keamanan informal (atau kadang ada yang menyebut preman / gali) untuk tujuan positif yakni kenyamanan pelayanan customer.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DALAM PROGRAM RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN TAMAN PINANG.

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DALAM PROGRAM RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN TAMAN PINANG.

Metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat di temukan, di buktikan, dan di kembangkan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengatasi permasalahan. 1 Selain itu metode penelitian dalam arti luas merupakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki suatu masalah tertentu dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi atas masalah tersebut. 2 Penelitian mengenai “Implementasi Kebijakan Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Dalam Program Relokasi Pedagang Kaki Lima Di Kawasan Taman Pinang menggunakan pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian kualitatif ini untuk mengidentifikasi pentingnya peran interaksi kekuatan yang mempengaruhi proses pembuatan keputusan mengenai pemanfaatan sumber daya alam tertentu. Maka metode yang akan digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif.
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MANUSIAWI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (Studi Kasus Kebijakan Pemerintah Kota Surakarta tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasarkliwon).

PENDAHULUAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MANUSIAWI DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (Studi Kasus Kebijakan Pemerintah Kota Surakarta tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasarkliwon).

Pada mulanya penataan di Jalan Kapten Mulyadi ini diawali dengan keluhan masyarakat, dan pada tahun 2006 Pemkot memberikan surat himbauan agar PKL yang berada di Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, dan Jalan Kyai Mojo agar merubah bangunan semi permanen dan permanen mereka menjadi bangunan bongkar pasang dan gerobak beroda. Nmaun hal tersebut ditolak oleh PKL karena mereka menganggap bahwa PKL yang ada sudah meminta izin mendirikan bangunan kepada pemilik bangunan dibelakang kios mereka (SOLOPOS, 19/07/06 dan SOLOPOS 20/07/06).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ANALISA KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DARI PERSPEKTIF KEBIJAKAN DELIBERATIF

ANALISA KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DARI PERSPEKTIF KEBIJAKAN DELIBERATIF

Ketegasan, terhadap siapa saja dan kapan saja terutama yang diatur dalam kebijakan dari para implementator kebijakan. Kebijakan pedagang kaki lima diperuntukkan bagi semua Pedagang Kaki Lima, tanpa membedakan apapun. Ketidak tegasan sikap para aparatur dalam pelaksanaan kebijakan penataan Pedagang Kaki Lima, akan dapat menentukan kepatuhan PKL itu sendiri, artinya para Pedagang Kaki Lima juga akan memanfaatkan kesempatan, karena mereka beralasan mencari nafkah sehngga mereka akan berusaha mencari – cari kesempatan. Seperti yang ditulis dalam salah satu media masa, sebagai berikut : Apabila pelaksana kebijakan tidak bertindak tegas mereka akan dilecahkan, sebagai contoh para PKL kucing-kucingan dengan petugas (Solopos, 6 – 9 – 2006).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA.

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA DALAM PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA.

Pelaksanaan ketentuan perencanaan tata ruang di Kota Yogyakarta belum terlaksana dengan baik, khususnya mengenai penataan PKL di sepanjang trotoar jalan protokol dan tempat-tempat umum yang disebabkan oleh banyaknya PKL. Implementasi Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 26 tahun 2002 belum sesuai dengan apa yang telah ditetapkan di dalam peraturan daerah..

11 Baca lebih lajut

Penataan Pedagang Kaki Lima Dengan Memanfaatka Ruang Terbuka Hijau

Penataan Pedagang Kaki Lima Dengan Memanfaatka Ruang Terbuka Hijau

Rancangan penelitian yang dilakukan adalah deskritif kualitatif terhadap kondisi eksisting, karakteristik dan aktivitas PKL, prilaku PKL, ekspresi tindakan keruangan PKL disekitar Lapangan Merdeka kota Binjai. Populasi penelitiannya populasi dalam penelitian ini adalah seluruh PKL yang berkegiatan di lokasi sekitar Lapangan Merdeka kota Binjai yang berjumlah 71 pedagang kali lima. Sampel diambil dengan teknik stratified random sampling 42 pedagang kaki lima dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, wawancara dan observasi.

2 Baca lebih lajut

ANALISIS MOBILITAS SIRKULER PEDAGANG KAKI LIMA DI KECAMATAN KARTASURA  Analisis Mobilitas Sirkuler Pedagang Kaki Lima Di Kecamatan Kartasura.

ANALISIS MOBILITAS SIRKULER PEDAGANG KAKI LIMA DI KECAMATAN KARTASURA Analisis Mobilitas Sirkuler Pedagang Kaki Lima Di Kecamatan Kartasura.

Penelitian ini berjudul “Analisis mobilitas sirkuler pedagang kaki lima di Kecamatan Kartasura. ” Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik demografi sosial pedagang kaki lima: (1) (umur, jenis kelamin, pendidikan), (2) alasan memilih pekerjaan sebagai pedagang kaki lima, (3) faktor pendorong untuk melakukan mobilitas sirkuler di Kecamatan Kartasura. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Sampel yang dikumpulkan dalam penelitian ini sebanyak 35% (37 responden) dari 110 populasi dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Sistem penentuan responden dengan random sampling yaitu: pengambilan sampel tiap-tiap sub populasi secara seimbang. Lokasi pusat kegiatan yang banyak di jumpai pedagang kaki lima yaitu: pinggir jalan ums, terminal, pasar tradisional Kartasura, pasar gumpang. Data yang dikumpulakan meliputi data primer dan data sekunder. Hasil dari penelitian adalah: (1) umur pedagang kaki lima termasuk usia yang produktif dengan rata-rata 41 tahun, jenis kelamin pedagang kaki lima sebagian besar adalah laki-laki 22 orang (59,46%), dari 37 responden. Tingkat pendidikan pedagang kaki lima lima umumnya tamatan (SD dan SLTP), SD sebanyak 12 orang (32.43%); SLTP sebanyak 12 orang (32,43%); (2) alasan memilih pekerjaan sebagai pedagang kaki lima paling umum memberi alasan karena tidak mempunyai pekerjaan lain sebanyak 19 orang (51,35) dari 37 responden. (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pedagang kaki lima dengan foktor utama disebabkan oleh faktor ekonomi sebanyak 17 orang (45,95%). Hasil perhitungan pendapatan pedagang kaki lima di pengaruhi oleh lokasi, jenis barang dagangan dan jam kerja. Pedagang kaki lima untuk pendapatan terbanyak Rp5.000.000-8.000.000/bulan. Pendapatan ini umumnya diperoleh para pedagang dengan jenis barang dagangannya yaitu pakaian dan buah-buahan. Tingkat pendapatan yang paling rendah Rp3.000.000/bulan diperoleh para pedagang kaki lima yang berjualan makanan dan minuman.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KAJIAN MODEL PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) BERBASIS PEDAGANG, KETERTIBAN DAN KEINDAHAN KOTA DI PROPINSI SUMATERA BARAT.

KAJIAN MODEL PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) BERBASIS PEDAGANG, KETERTIBAN DAN KEINDAHAN KOTA DI PROPINSI SUMATERA BARAT.

IPK sendiri sudah sering berdiskusi dengan Pemko dan Dinas terkait tentang hal tersebut, namun sampai saat ini belum ada realisasinya. Solusi yang dilakukan oleh pemerintah hanya dengan melakukan penertiban terhadap PKL hasilnya tidak maksimal. Para pedagang cenderung akan kembali ke tempat semula yang dilarang. Penertiban- penertiban yang dilakukan dipandang tidak akan menyelesaikan permasalahan, karena sebagian besar dari pedagang yang menjadi PKL merupakan mata pencaharian pokok bagi mereka. Artinya, walaupun mereka ditertibkan mereka akan tetap berdagang lagi ditempat yang sama atau di tempat lain, kerena dengan cara itulah mereka bisa memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Kajian Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Tasikmalaya Secara Partisipatif

Kajian Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Tasikmalaya Secara Partisipatif

Fenomena pertumbuhan Pedagang Kaki Lima (PKL) telah menjadi isu internasional karena menimbulkan potensi konflik ruang yang akan berdampak negatif bagi ketertiban dan kenyamanan kota. Konflik ruang yang ditimbulkan oleh PKL biasanya terjadi ketika PKL sudah menempati ruang publik kota pada tingkatan tertentu sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi ruang publik tersebut. Contoh yang umum terjadi adalah terganggunya fungsi trotoar sebagai tempat pejalan kaki dan fungsi jalan sebagai tempat penglaju kendaraan bermotor. Dalam kaitan inilah maka upaya penataan PKL menjadi sangat penting dilakukan sebagai bagian dari penataan ruang kota untuk menjamin terwujudnya ketertiban dan kenyamanan kota. Kini hal itu tertuang dalam Undang-undang penataan ruang yang baru yaitu UU No.26/2007. Salah satu pasal dari UU tersebut yaitu pasal 28c menyebutkan bahwa dalam rencana tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana untuk kegiatan sektor informal. Secara tersirat dari pasal tersebut diamanatkan bagi pemerintah kota untuk menyediakan ruang bagi kegiatan sektor informal, diantaranya PKL.
Baca lebih lanjut

295 Baca lebih lajut

Kajian Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Tasikmalaya Secara Partisipatif

Kajian Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Tasikmalaya Secara Partisipatif

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa bentuk penataan PKL di Kota Tasikmalaya berdasarkan aspirasi masyarakat terdiri atas tiga bentuk yaitu : a. penataan tempat, pengaturan lokasi berjualan berdasarkan jenis dagangan, pengaturan waktu jualan (time sharing), pengaturan sarana atau tempat untuk berjualan (baik berupa tenda ataupun gerobak, dsb); b. relokasi PKL ke tempat yang baru yang letaknya tidak jauh dari pusat perdagangan dan jasa (tempat yang ramai mudah dikunjungi oleh konsumen); c. relokasi ke suatu gedung/pasar. Dari ketiga bentuk penataan ini memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing yang disajikan dalam Tabel 32. Sedangkan berdasarkan model penataan PKL dengan pendekatan perspektif kebijakan publik terdapat tiga jenis kebijaksanaan, yaitu relokasi, struktural, dan edukatif. Kelemahan dan kelebihan dari kebijaksanaan relokasi telah diuraikan di atas. Sedangkan jika kita lihat kelemahan dan kelebihan dari kebijaksanaan struktural dan edukatif dapat dilihat pada Tabel 33.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...