Top PDF Kajian Sosial Ekonomi Pelaksanaan Inseminasi Buatan Sapi Potong Di Kabupaten Kebumen

Kajian Sosial Ekonomi Pelaksanaan Inseminasi Buatan Sapi Potong Di Kabupaten Kebumen

Kajian Sosial Ekonomi Pelaksanaan Inseminasi Buatan Sapi Potong Di Kabupaten Kebumen

Faktor manusia merupakan faktor yang sangat penting pada keberhasilan program IB, karena memiliki peran sentral dalam kegiatan pelayanan IB. Faktor manusia, sarana dan kondisi lapangan merupakan faktor yang sangat dominan. Berkaitan dengan manusia sebagai pengelola ternak, motivasi seseorang untuk mengikuti program atau aktivitas-aktivitas baru banyak dipengaruhi oleh aspek sosial dan ekonomi. Faktor sosial ekonomi antara lain usia, pendidikan, pengalaman, pekerjaan pokok dan jumlah kepemilikan sapi kesemuanya akan berpengaruh terhadap manajemen pemeliharaannya yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan. Ketepatan deteksi birahi dan pelaporan yang tepat waktu dari peternak kepada inseminator serta kerja inseminator dari sikap, sarana dan kondisi lapangan yang mendukung akan sangat menentukan keberhasilan IB. Program IB pada prinsipnya merupakan salah satu program pembangunan peternakan yang memiliki banyak keunggulan, baik dalam meningkatkan laju pertambahan populasi ternak maupun dalam meningkatkan pendapatan para peternak. Faktor fasilitas atau sarana merupakan faktor yang memperlancar jalan untuk mencapai tujuan. Inseminator dan peternak merupakan ujung tombak pelaksanaan IB sekaligus sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap berhasil atau tidaknya program IB di lapangan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI DENGAN TINGKAT ADOPSI INSEMINASI BUATAN (IB) PADA PETERNAKAN SAPI POTONG DI KECAMATAN MOJOGEDANG KABUPATEN KARANGANYAR.

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI DENGAN TINGKAT ADOPSI INSEMINASI BUATAN (IB) PADA PETERNAKAN SAPI POTONG DI KECAMATAN MOJOGEDANG KABUPATEN KARANGANYAR.

Peternakan sapi potong di Indonesia merupakan usaha dalam skala kecil dan bersifat tradisional, hal ini menyebabkan produksi yang dihasilkan kurang optimal. Peningkatan produksi sapi potong dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan bibit yang unggul. Bibit yang baik dapat dihasilkan dengan menggunakan suatu teknologi, dalam rangka program swasembada daging maka pemerintah mengembangkan suatu teknologi yang disebut Inseminasi Buatan (IB). Keberhasilan pengembangan teknologi dipengaruhi oleh beberapa faktor dari dalam diri seseorang mencakup segi sosial dan ekonominya. Faktor-faktor sosial ekonomi memiliki hubungan dengan tingkat adopsi teknologi IB, mereka akan mempertimbangkan keuntungan yang didapatkan sebelum melaksanakan teknologi IB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang berhubungan dengan tingkat adopsi IB, mengetahui tingkat adopsi IB dan mengetahui hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan tingkat adopsi IB pada peternakan sapi potong di Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kajian Aplikasi Teknologi Inseminasi Buatan dalam Upaya Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan USAha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Tasikmalaya

Kajian Aplikasi Teknologi Inseminasi Buatan dalam Upaya Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan USAha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Tasikmalaya

Faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya populasi ternak sapi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya adalah produktivitasnya yang rendah.Sedangkan rendahnya produkstivitas terkait dengan tatalaksana usaha ternak yang masih dibawah standar minimal. Hal ini dicirikan dengan cara pemeliharaan yang masih tradisional. Kesungguhan peternak juga belum teruji dengan menempatkan usaha ternaknya sebagai usaha sampingan.Masih banyak hal yang semestinya dilakukan oleh peternak dalam pelaksanaan pemeliharaan ternaknya.Input- input produksi masih dalam dosis yang rendah, juga mutu yang belum memadai, maka sangat logis apabila hasil usaha belum maksimal (Subdin Peternakan 2001).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kajian Komparatif Pelaksanaan Program Inseminasi Buatan dan Tingkat Keberhasilannya Di Propinsi Riau

Kajian Komparatif Pelaksanaan Program Inseminasi Buatan dan Tingkat Keberhasilannya Di Propinsi Riau

Pemeriksaan kebuntingan dilakukan oleh petugas pemeriksa kebuntingan dari Dinas Peternakan kabupaten yang telah mendapatkan pelatihan dan diklat. Petugas PKB yang juga merangkap sebagai inseminator ditempatkan di lokasi dengan populasi akseptor tinggi, diharapkan dengan semakin dekatnya tempat petugas berdomisili dengan pemukiman peternak, proses pelayanan IB dan PKB dapat dilaksanakan dengan baik dan kontiniu. Namun kenyataan di lapangan, hasil evaluasi yang diberikan oleh petugas lapangan untuk direkapitulasi sebagai laporan pelaksanaan inseminasi buatan di Dinas Peternakan masih banyak yang belum memenuhi standarisasi sehingga objektifitas penilaian di lapangan menjadi semakin sulit dilakukan. Laporan kebuntingan akseptor yang telah di IB lebih sering diketahui oleh petugas dari berita yang disampaikan oleh pemilik ternak dari pada pengecekan langsung ke lokasi sehingga banyak ternak bunting hasil IB yang tidak terlaporkan. Hal ini disebabkan ternak-ternak sapi potong di propinsi Riau umumnya digunakan untuk membajak sawah sehingga sulit untuk melakukan PKB secara rutin setelah di IB karena ternak tersebut hanya dikandangkan pada malam hari.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

Evaluasi Keberhasilan Pelaksanaan Program Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi Potong di Kota Sawahlunto

Evaluasi Keberhasilan Pelaksanaan Program Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi Potong di Kota Sawahlunto

Kajian untuk melihat kondisi teknis maupun sosial ekonomi yang mungkin berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan program inseminasi buatan (IB) telah dilakukan di Kota Sawahlunto pada Juli 2011 sampai September 2012. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei melalui wawancara berupa kuisioner terhadap 44 peternak dan 16 inseminator. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program IB. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak memiliki tingkat pendidikan dan tingkat pengalaman yang rendah. Berternak sapi potong hanya sebagai usaha sampingan, dengan mayoritas pekerjaan utama sebagai petani dan kepemilikan ternak dibawah 5 ekor. Teknik pemeliharaan ternak yang diterapkan sebagian besar peternak adalah secara semi intensif dan sebagian kecil masih menerapkan secara ekstensif. Pengalaman bertugas inseminator masih rendah dan setengah dari inseminator ini tidak memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi Buatan (SIMI). Sistem kerja inseminator sudah dilakukan dengan baik, namun kapasitas kerjanya masih kurang. Tingkat keberhasilan pelaksanaan program IB yang dinilai dari angka service per conception (S/C) dan conception rate (CR) sudah baik, namun nilai calving interval (CI) masih buruk. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pelaksanaan program IB ini adalah pengalaman berternak dan sistem pemeliharaan ternak yang digunakan, sedangkan tingkat pendidikan dan partisipasi peternak tidak berpengaruh.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

PERSEPSI PETERNAK SAPI BALI TERHADAP INSEMINASI BUATAN DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH

PERSEPSI PETERNAK SAPI BALI TERHADAP INSEMINASI BUATAN DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Tujuanpenelitianini adalahuntukmengetahui persepsi peternak sapi bali terhadap IB di Kabupaten Lombok Tengah. Lokasi ditentukan secara purposive rondom sampling berdasarkan jumlah pengguna IB tertinggi, sedang dan terendah. Dari setiap Kecamatan yang sudah ditentukan, diambil beberapa peternak pengguna IB secara acak. Kecamatan pengguna IB tertinggi, sedang dan terendah diwakili oleh kecamatan Pringgarata, kecamatan Kopang dan kecamatan Praya Timur dan jumlah responden disetiap kecamatan tersebut berturut-turut 50%, 30% dan 20%. Analisis data dilakukan secara kuantitatif kemudian dihitung rata-rata dan persentase. Selanjutnya data di interpretasi dan dijelaskan secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukan semua peternak (100%)mengetahui adanya program IB meskipun jumlah peternak yang menggunakan IB masih relatifsedikit. Alasan memakai IB sebagian besar karena tidak ada pejantan (57%), alasan lain karena hasilnya lebih unggul (20.5%), hemat (41%) dan ikut-ikutan (15%). Sedangkan alasan tidak memakai IB karena keberhasilan IB rendah (100%), alasan lain karena biaya relatif mahal, pemeliharaan anak lebih intensif, jarak pos IB dari peternak jauhdan ukuran induk sapi bali kecildengan persentase berturut-turut yaitu 60%, 50%, 40%, 30% dan 20%. Hal ini perlu dilakukan penyuluhan lebih intensif tentang keuntungan menggunakan IB sehingga masyarakat bersungguh-sungguh dalam menerapkannya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KAJIAN APLIKASI TEKNOLOGI INSEMINASI BUATAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN PENDAPATAN USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN TASIKMALAYA | Suprianto | Mimbar Agribisnis 41 236 2 PB

KAJIAN APLIKASI TEKNOLOGI INSEMINASI BUATAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN PENDAPATAN USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN TASIKMALAYA | Suprianto | Mimbar Agribisnis 41 236 2 PB

Salah satu dari dua tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas usaha ternak sapi dengan perlakuan IB, dibandingkan dengan produktivitas usaha ternak sapi bukan IB. Dalam konsep proses produksi yang dikemukakan John P Doll dan Frank Orazem (1978), dikenal istilah produktivitas, begitu pula halnya yang dikemukakan Dabertin David. L (1986), keduanya memberikan pengertian yang sama, yaitu kemampuan satu satuan faktor produksi untuk menghasilkan sejumlah output. Secara matematis produktivitas dinyatakan dalam perbandingan jumlah output per satu satuan faktor produksi. Ouput suatu proses produksi kadang-kadang memerlukan lebih dari satu jenis faktor produksi, maka produktivitas satu proses produksi dapat dinnyatakan dalam berbagai macam, bentuk, tergantung banyaknya faktor produksi pembentuknya. Berdasarkan konsep produktivitas tersebut, maka produktivitas usaha ternak sapi dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah anak per satu induk dalam kurun waktu terentu, atau bobot yang dicapai bakalan dalam periode waktu tertentu.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS PELAKSANAAN INSEMINASI BUATAN I

ANALISIS PELAKSANAAN INSEMINASI BUATAN I

Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta merupakan komoditas ekonomi yang mempunyai nilai sangat strategis. Untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia terutama berasal dari : daging unggas (broiler, petelur jantan, ayam kampung dan itik), daging sapi (sapi potong, sapi perah dan kerbau), daging babi, serta daging kambing dan domba (kado). Dan keempat jenis daging tersebut, hanya konsumsi daging sapi (kurang Dari 2 kg/kapita/tahun) yang masih belum dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri, karena laju peningkatan permintaan tidak dapat diimbangi oleh pertambahan populasi dan peningkatan produksi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH TINGKAT KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN (IB) TERHADAP PENINGKATAN POPULASI SAPI POTONG DI KABUPATEN BANTAENG (StudiKasus Di Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng)

PENGARUH TINGKAT KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN (IB) TERHADAP PENINGKATAN POPULASI SAPI POTONG DI KABUPATEN BANTAENG (StudiKasus Di Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng)

Hasil evaluasi pelaksanaan IB di Jawa, tahun 1972-1974, yang dilaksanakan tahun 1974, menunjukkan angka konsepsi yang dicapai selama dua tahun tersebut sangat rendah yaitu antara 21,3 – 38,92 persen. Dari survei ini disimpulkan juga bahwa titik lemah pelaksaan IB, tidak terletak pada kualitas semen, tidak pula pada keterampilan inseminator, melainkan sebagian besar terletak pada ketidaksuburan ternak-ternak betina itu sendiri. Ketidaksuburan ini banyak disebabkan oleh kekurangan pakan, kelainan fisiologi anatomi dan kelainan patologik alat kelamin betina serta merajalelanya penyakit kelamin menular. Dengan adanya evaluasi terebut maka perlu pula adanya penyempurnaan bidang organisasi IB, perbaikan sarana, intensifikasi dan perhatian aspek pakan, manajemen, pengendalian penyakit.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Komputerisasi Pencatatan dan Evaluasi Pelaksanaan Inseminasi Buatan di Kabupaten 50 Kota

Komputerisasi Pencatatan dan Evaluasi Pelaksanaan Inseminasi Buatan di Kabupaten 50 Kota

Ketiga. Uji coba memastikan akurasi sistem, dilakukan perbandingan antara perhitungan manual dengan sistem komputerisasi. Perhitungan manual menggunakan 120 data sebagai input. Ukurannya ialah hasil; (a) Service per Conception (S/C), (b) Conception Rate (CR), dan (c) Calving Rate pada bulan Oktober dan November 2010. Kemudian menilai kinerja setiap inseminator IB. Hasilnya tercantum pada Tabel 1. Kemudian, evaluasi IB Kabupaten Lima Puluh Kota dengan tiga indikator diatas adalah 1,33, 60%, 83,33% dan 1,27, 65%, 66,67%. pada tiap tiap bulan. Maka, perhitungan manual itu persis mempunyai nilai sama dengan hasil perhitungan di dalam System. Jadi, tingkat akurasi sistem sangat tinggi. Simak Gambar 14 dan Gambar 15.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan pada Sapi Perah Rakyat di Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali

Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan pada Sapi Perah Rakyat di Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali

Inseminasi buatan adalah proses pemasukan atau penyampaian semen ke dalam kelamin betina dengan menggunakan alat buatan manusia, jadi bukan secara alam (Feradis, 2010). Program IB tidak hanya mencakup pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan/ternak betina, bimbingan dan penyuluhan pada peternak. Dengan demikian pengertian IB menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan. Tujuan dari IB itu sendiri adalah sebagai satu alat yang ampuh yang diciptakan manusia untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak secara kuantitatif dan kualitatif (Toelihere, 1981).
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Waktu Inseminasi Buatan yang Tepat pada Sapi Bali dan Kadar Progesteron pada Sapi Bunting

Waktu Inseminasi Buatan yang Tepat pada Sapi Bali dan Kadar Progesteron pada Sapi Bunting

Menentukan waktu IB merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh keberhasilan yang tinggi. Pada penelitian ini keberhasilan IB (100%) terlihat pada sapi yang di IB 24 jam pada saat pertama kali terlihat keluarnya leleran bening dan kental dari vagina. Hal ini menunjukkan waktu ovulasi terjadi setelah berakhirnya estrus. Hafez (2000) melaporkan bahwa lama estrus pada sapi adalah 18-19 jam dan ovulasi 10-11 jam setelah estrus, sedangkan IB pada penelitian ini dilakukan 12 jam setelah estrus, dan menghasilkan angka kebuntingan 75%. Hasil sebelumnya yang dilaporkan oleh Nebel et al., (1994) menghasilkan angka kebuntingan (non return rate) 63,40 % pada sapi susu maupun serum antara hari ke- 18 sampai
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects