Top PDF KYAI KAMPUNG, ISLAMISME, DAN KETAHANAN BUDAYA LOKAL (Pandangan Kyai Abdullah Faishol tentang Ketahanan Budaya dan Visi NU Sukoharjo)

KYAI KAMPUNG, ISLAMISME, DAN KETAHANAN BUDAYA LOKAL (Pandangan Kyai Abdullah Faishol tentang Ketahanan Budaya dan Visi NU Sukoharjo)

KYAI KAMPUNG, ISLAMISME, DAN KETAHANAN BUDAYA LOKAL (Pandangan Kyai Abdullah Faishol tentang Ketahanan Budaya dan Visi NU Sukoharjo)

Kritik sosial keagamaan yang dilakukan Kiai Faishol melalui syi’iran juga dipicu munculnya pola dan gerakan keberagamaan baru di Sukoharjo yang kebanyakan mencirikan Islam puritanisme, fundamental dan secara sosiologis membangun kultur “Arabisasi.” Eksistensi gerakan mereka secara ideologis dan sosiologis mengancam kultur serta tradisi amaliah NU. Kelompok ini membuat standar keberagamaan dengan ”salafus shaleh” dan mengajak masyarakat untuk kembali ke masa lalu baik dari pakaian, gaya hidup serta orientasi sosial politik. Hal ini bertentangan dengan fakta sosiologis Islam nusantara karena memiliki karakteristik yang berbeda, unik dan tidak sama dengan di tempat lain. Islam nusantara merupakan Islam yang mampu berkompromi, akomodatif dan ramah dengan nilai-nilai budaya lokal, paling tidak faktor inilah yang menjadikan Islam Indonesia tetap eksis hingga sekarang. Di sisi lain, Islam Nusantara harus berhadapan dengan tantangan realitas global salah satunya persoalan radikalisme dan terorisme yang menyudutkan umat Islam. Hal ini diperkuat dengan semakin pesatnya perkembangan diskursus pemikiran keagamaan di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir yang terlihat dari banyaknya tulisan, jurnal atau riset yang mengangkat isu-isu sosial keagamaan. Gagasan untuk menyampaikan pesan Islam damai melalui budaya paling tidak dapat mengimbangi alur pemikiran keagamaan yang seringkali menonjolkan corak ideologis yang bersifat teologis-partikularistik dengan corak- pendekatan normatif an sich, bahkan menolak pluralitas agama (Abdullah, 2011: 3).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Kearifan lokal dalam upaya ketahanan pangan di Kampung Adat Urug Bogor

Kearifan lokal dalam upaya ketahanan pangan di Kampung Adat Urug Bogor

jumlahnya tersebut dan yang kurang relevan patut direduksi. Reduksi data dilakukan dengan membuat pengelompokan dan abstraksi. Analisis bersipat terbuka, open-ended, dan induktif. Maksudnya, analisis bersipat longgar, tidak kaku, dan tidak statis. Analis boleh berubah, kemudian mengalami perbaikan, dan pengembangan sejalan dengan data yang masuk. Analisis juga tidak direncanakan terlebih dahulu. Tahap-tahap analisis data dalam penelitian budaya meliputi: open coding, axial coding, dan selective coding. Pada tahap open coding peneliti berusaha memperoleh sebanyak-banyaknya variasi data yang terkait dengan topic penelitian. Open coding meliputi proses memerinci (breaking down), memeriksa (examining), memperbandingkan (comparing), dan mengkonseptual sasikan (concept-tualizing), dan mengkatagorikan (categorizing) data pada tahap axial cading hasil data yang diperoleh dari open codin diorgansisir kembali berdasarkan katagori untuk dikembangkan kearah proposisi. Pada tahap ini dilakukan hubungan antar kategori. Hubungan tersebut dianalisis seperti model paradigma grounded theory menurut Straus dan Corbin yang meliputi kondisi penyebab fenomena-konsteks-kondisi intervening-strategi interaksi dan konsekuensi. Tahap selanjutnya ialah selective coding tahapan ini peneliti mengklasifikasikan proses pemeriksaan kategori inti kaitannya dengan kategori lainnya. Katagori inti ditemukan melalui perbandingan hubungan kategori dengan mengunakan model paradigma. Selanjutnya memeriksa hubungan kategori dan akhirnya menghasilkan simpulan yang diangkat menjadi general design. Tahapan ini akan memudahkan peneliti untuk member makna pada setiap kategori. Tiap kategori dapat ditafsirkan dan disimpulkan, agar diperoleh kejelasan pemahaman .” 13
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

PERENCANAAN WISATA BUDAYA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KAMPUNG NAGA KABUPATEN TASIKMALAYA.

PERENCANAAN WISATA BUDAYA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KAMPUNG NAGA KABUPATEN TASIKMALAYA.

1. Ditengah kemajuan zaman dan modernisasi, terdapat komunitas yang masih memegang peraturan dari leluhur, masih mengajarkan kearifan lokal yang telah diturunkan secara turun temurun dari leluhur. Komunitas tersebut adalah masyarakat Kampung Naga yang tinggal di bawah lembah yang luas. Nilai yang sudah dipegang teguh selama beberapa generasi semakain kesini semakin diuji ketahanan dan kualitasnya ditengah perkembangan zaman ini. pada kenyataannya, kearifan lokal Di Kampung Naga perlahan-lahan mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Kearifan lokal yang menjadi warisan dari leluhur Kampung Naga satu persatu mulai jarang ditemui. Ada beberapa bentuk dari kearifan lokal Di Kampung Naga yang mulai susah utuk diakses. Beberapa kearifan lokal yang mulai susah diakses adalah kesenian angklung, beluk. Selain itu nilai ajaran untuk tidak ada kesenjangan sosial juga perlahan mulai terkikis, terlihat dengan adanya beberapa rumah yang mempunyai pesawat televisi dan juga telefon genggam. Kearifan lokal yang lain masih terjaga dengan baik. Akan tetapi tidak lepas kemungkinan dikemudian hari kearifan lokal tersebut akan hilang.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Perencanaan Lanskap Untuk Pelestarian Kawasan Budaya Kampung Lengkong Kyai, Tangerang

Perencanaan Lanskap Untuk Pelestarian Kawasan Budaya Kampung Lengkong Kyai, Tangerang

Berdasarkan hasil identifikasi terhadap sebelas karakteristik lanskap budaya Kampung Lengkong Kyai yang bersifat tangible maupun intangible, maka dilakukan karakterisasi. Karakterisasi terhadap lanskap budaya Kampung Lengkong Kyai menghasilkan deskripsi karakter lanskap dan penentuan zona- zona lanskap budaya yang akan dianalisis nilai signifikansinya pada masing- masing zona tersebut. Tipe karakter lanskap biasanya dijelaskan dalam kata atau kalimat yang mencerminkan pengaruh dominan terhadap karakter lanskap (Swanwick 2002). Berdasarkan hasil identifikasi karakteristik lanskap budaya Kampung Lengkong Kyai dapat disimpulkan bahwa tipe karakter lanskap budaya Kampung Lengkong Kyai adalah lanskap permukiman dengan pola tata ruang Sunda yang berbasis pada sumber daya alam lokal serta kental akan pengaruh agama Islam. Pengaruh agama Islam terlihat dari objek-objek penting serta aktivitas sosial, seni dan budaya masyarakat, yang secara keseluruhan memperlihatkan eksistensi agama Islam pada lanskap budaya tersebut. Dalam lanskap budaya Kampung Lengkong Kyai juga diidentifikasi karakteristik kuncinya yaitu elemen atau gabungan beberapa elemen yang dapat memberikan sense of place yang berbeda pada suatu tempat (Swanwick 2002). Elemen yang memiliki pengaruh karakteristik yang kuat terhadap terbentuknya karakter lanskap budaya Kampung Lengkong Kyai adalah bangunan, struktur dan objek yang terdiri atas rumah tradisional, masjid, musala dan area pemakaman dengan makam utama yaitu makam Raden Arya Wangsakara, serta aliran sungai dengan orientasi arah kiblat yang unik.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Desain Pedagang Kaki Lima sesuai Budaya Lokal di Kampung Tepi Sungai, Surabaya

Desain Pedagang Kaki Lima sesuai Budaya Lokal di Kampung Tepi Sungai, Surabaya

Karya desain PKL ini dihas ilkan dalam pros es riset – aks i yang didukung oleh UNDK (University Network of Digital [Local] Knowledge) yang berjudul Capturing The Family Business Resilience in Traditional Food Sector in Surabaya (Mendokumentasikan Ketahanan Bisnis Keluarga di Sektor Makanan Tradisional di Surabaya). Kegiatan ini didukung pendanaannya oleh United Boards .

7 Baca lebih lajut

Empati pada Budaya Lokal

Empati pada Budaya Lokal

Pembela tradisionalisme dalam Islam, menurutnya, juga hanya mampu sebatas memelihara ekspresi budaya tradisional Islam tanpa mampu mentransformasikannya menjadi bentuk-bentuk baru yang bermakna dan bermutu tinggi. Tipisnya kesadaran sejarah bahwa Islam sebagai peradaban besar berikut tradisi intelektual dan khazanah budayanya yang kaya, tiadanya keinginan menggali khazanah budaya Islam baik yang pernah berkembang di negerinya maupun di negeri Islam yang lain menyebabkan umat Islam sering asing terhadap cita-cita peradaban dan kebudayaan Islam. Dengan demikian ia tidak dapat mengenal hakikat dan potensi dirinya sebagai umat penutup yang diberi amanah menyebarkan rahmat ke seluruh dunia.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

TRANSFORMASI BUDAYA LOKAL

TRANSFORMASI BUDAYA LOKAL

Yang membedakan antara satu daerah dengan daerah lain hanya pernik-pernik, filosofi di balik busana dan kelengkapannya. Tentang kapan busana tradisional itu dikenakan, di hampir semua budaya etnik di Indonesia nyaris seragam, Busana tradisional yang sudah Islami itu dikenakan untuk dua keperluan. Saat menjalani kehidupan sehari-hari, saat ada upacara dan kegiatan adat yang dikaitkan dengan siklus kehidupan manusia (mulai dari lahir, inisiasi/khitan, belajar mencari ilmu/mengaji, menikah, melahirkan, meninggal) maupun kegiatan yang dikaitkan degan siklus musim tahunan, atau dikaitkan dengan siklus hari-hari besar keagamaan, dan kegiatan rutin yang diadakan oleh kerajaan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Budaya Lokal

Pemanfaatan Budaya Lokal

Dilihat dari segi tenaga pengajar, pembelajaran berbasis budaya berfokus pada penciptaan suasana belajar yang dinamis, yang mengakui keberadaan siswa dengan segala latar belakang, pengalaman, dan pengetahuan awalnya, dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bebas bertanya, berbuat salah, berekspresi, dan membuat kesimpulan tentang beragam hal dalam kehidupan. Dalam hal ini, peran tenaga pengajar menjadi berubah, tidak lagi sebagai satu-satunya pemberi informasi yang mendominasi kegiatan pembelajaran, tetapi menjadi perancang dan pemandu proses pembelajaran. Menurut Goldberg, tenaga pengajar adalah pembuat mimpi, artinya tenaga pengajar berperan memotivasi agar mahasiswa memiliki cita-cita, keingintahuan yang berlangsung terus, dan kreativitas.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENINGGALAN BUDAYA LOKAL

PENINGGALAN BUDAYA LOKAL

Dalam pembahasan di atas telah dikemukakan bahwa, unsur budaya asli memegang peranan & tidak dapat disingkirkan begitu saja dalam proses pencampuran dengan budaya asing. Salah satu proses kepercayaan lokal dengan budaya asing berkaitan dengan kematian dalam wujud kepercayaan dikenal sebagai Animisme & Dinamisme. Misalnya upacara kematian seseorang dilakukan sesuai dengan kebudayaan lokal. Makam di Indonesia terpelihara dengan baik karena adanya penghormatan dari anak cucu kepada leluhurnya. Dengan latar belakang budaya Megalithikum, di samping Sarkofagus, maka dibuatlah Kijing dari batu di atas makam, bahkan terkadang dibuatkan rumah kecil pelindung makam yang disebut Cungkup. Hal itu merupakan contoh dari kepecayaan Animisme.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HTI Bergerilya di antara Islam dan Islamisme

HTI Bergerilya di antara Islam dan Islamisme

Ada amsal yang begitu mengakar di masyarakat Muslim, bahwa agama yang mereka peluk, yaitu Islam, memiliki pengertian ganda din wa daulah. Din adalah agama, dan daulah adalah negara. Dalam perjalanan sejarah umat Islam, amsal tersebut telah dipahami dalam berbagai persepsi dan coba diwujudkan dalam aneka praksis politik yang berbeda. Di satu sisi konsep din dirumuskan dengan kewenangan yang luas mencakup juga urusan daulah (sampai muncul keyakinan tanpa adanya daulah maka eksistensi agama akan pudar). Di sisi lain sisi kuasa din dipahami terbatas dengan daulah adalah zona otonom yang diatur secara tersendiri berdasarkan hukum politik dan prinsip-prinsip kenegaraan modern. Semestinya din (sebagai keyakinan agama) dan daulah (sebagai praksis politik kenegaraan) adalah dua gatra yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Dalam wacana keilmuan kontemporer, konsep din dipakai mewakili elemen “Islam” dan daulah adalah ekspresi sosial-politik dari din yang biasa diistilahkan dengan “Islamisme.” Dua elemen ini ternyata berayun bagai bandul yang bergerak begitu dinamis menggambarkan betapa lekatnya hubungan antara aspirasi keagamaan dan kehidupan politik di masyarakat Muslim, seperti tercermin pada sejarah dan kiprah ormas HTI di Indonesia.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

“KAMPUNG KLASIK, KONSEP KAMPUNG BUDAYA SEBAGAI PUSAT PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN BUDAYA JAWA”.

“KAMPUNG KLASIK, KONSEP KAMPUNG BUDAYA SEBAGAI PUSAT PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN BUDAYA JAWA”.

Dalam kesehariannya, masyarakat yang ada dalam wilayah kampung tersebut dan pendatang, dituntut untuk menggunakan bahasa Jawa dalam segala kegiatan, bukan hanya bahasa Jawa ngoko, namun juga menggunakan bahasa krama alus. Termasuk juga interaksi sosial,transaksi jual beli maupun kegiatan lainnya.

24 Baca lebih lajut

Kajian Struktur Pola Ruang Kampung Berdasarkan Budaya Lokal di Perkampungan Ke\u27te Kesu, Kabupaten Toraja Utara

Kajian Struktur Pola Ruang Kampung Berdasarkan Budaya Lokal di Perkampungan Ke\u27te Kesu, Kabupaten Toraja Utara

Abstrak: Kampung Ke’te Kesu merupakan kampung tradisional suku Toraja yang sudah berumur lebih dari 400 tahun dan sudah resmi dijadikan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Toraja Utara. Kampung yang dimiliki oleh keluarga besar Tongkonan Kesu ini terdiri dari beberapa area dan semuanya berhubungan dengan tradisi masyarakat suku Toraja yang merupakan budaya lokal masyarakat suku Toraja, namun belum pernah ada yang meneliti mengenai struktur dan pola ruang kampung tersebut dan apa saja yang mengakibatkan terbentuknya struktur dan pola ruang kampung yang ada di Toraja Ut ara. Kampung Ke’te Kesu merupakan milik keluarga besar Tongkonan Kesu, sehingga mengakibatkan struktur dan pola ruang kampung yang terbentuk menjadi tidak terencana. Dari permasalahan diatas, maka disimpulkan suatu pertanyaan penelitian yaitu bagaimana str uktur pola ruang kampung berdasarkan budaya lokal di perkampungan Ke’te Kesu, Kabupaten Toraja Utara? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui bagaimana struktur dan pola ruang perkampungan berdasarkan budaya lokal di Toraja Utara dan apa saja yang menyebabkan terbentuknya struktur dan pola ruang kampung di Toraja Utara. Hasil penelitian ini adalah Toraja Utara merupakan salah satu contoh kota tradisional yang tidak direncanakan, karena terdiri dari beberapa kampung yang merupakan warisan turun-temurun dari Nenek Moyang tiap Tongkonan. Kampung Ke’te Kesu secara struktural memiliki bentuk yang homogen, serta memiliki pola yang linear karena terletak dan berkembang di pinggir Jl. Ke’te Kesu. Selain itu, karena kampung Ke’te Kesu telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya, maka perkembangan rumah- rumah tunggal cenderung ke arah Jl.Ke’te Kesu. Secara fisik adanya area di kampung Ke’te Kesu ini karena kebutuhan ruang masyarakat dalam melakukan aktivitasnya sehari- hari dan tradisi mereka yaitu upacara-upacara adat yang mereka lakukan berdasarkan kepercayaan mereka, yaitu Aluk Todolo (Agama Leluhur) yang memandang alam sebagai falsafah dalam ajarannya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Islamisme: Kemunculan dan Perkembangannya di Indonesia

Islamisme: Kemunculan dan Perkembangannya di Indonesia

Abstrak. Studi ini membahas tentang asal usul, eksistensi dan perkembangan kelompok Islamisme di Indonesia sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang. Kelompok Islamisme adalah kumpulan Muslim yang patuh terhadap ajaran Islam, namun mereka sangat ekstrem, literal, statis dan kaku dalam memahami ajaran Islam (Alquran), serta menolak golongan Muslim lain yang berbeda dengan faham Islam yang sudah mereka anut. Kelompok Islamisme ada dan muncul di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh penyebaran ajaran Islam ala al-Ikhwan al-Muslimun yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir pada tahun 1928. Kelompok Islamisme merupakan kelompok Muslim yang pertama ada sebelum adanya kelompok-kelompok Muslim lain di Indonesia; seperti kelompok Pos-Islamisme, Kelompok Islam Liberal, Kelompok Islam Moderat, Kelompok Islam Progresif. Kelompok Islamisme di Indonesia –sebagaimana al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir yang bercita-cita menyebarkan faham berislam ke seluruh dunia—berupaya menyebarkan paham Islamisme dengan gerakan “merayap” ke seluruh bumi Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang. Kelompok Islamisme berhasil menyebarkan faham Islam dan Syariah melalui, antara lain: masjid-masjid, sekolah-sekolah, majelis-majelis taklim. Eksistensi dan perkembangan kelompok-kelompok Islamisme di Indonesia zaman ini sedang merasa tersanjung, karena banyak mendapat dukungan dari para elit politik. Namun sebaliknya, mereka tidak sadar bahwa tangan-tangan mereka sedang dipinjam atau pun dimanfaatkan oleh para elit politik untuk merebut atau pun mendapatkan sebuah kekuasaan dengan cara-cara yang tidak rasional.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEARIFAN LOKAL CERITA SANGKURIANG:MENUJU KETAHANAN BANGSA

KEARIFAN LOKAL CERITA SANGKURIANG:MENUJU KETAHANAN BANGSA

Dalam tulisan ini penelitian difokuskan untuk mengungkap kearifan lokal dalam salah satu cerita rakyat yang berada di wilayah Sunda, yaitu cerita Sangkuriang. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita Sangkuriang dapat diungkapkan melalui lima nilai berikut, yaitu (1) nilai hedonisme (hedonic value), nilai yang memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca; (2) nilai artistik (artistic value), nilai suatu karya yang dapat memanifestasikan suatu seni atau keterampilan seseorang; (3) nilai kultural ( cultural value), nilai suatu karya yang memiliki hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, dan kebudayaan; (4) nilai etika, moral, agama (ethical, moral, religious value): nilai yang memancarkan ajaran yang ada sangkut- pautnya dengan etika, moral, dan agama; (5) nilai praktis (practical value), hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Tarigan, 1985:195– 196).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Ketahanan panas isolat lokal staphylococcus aureus

Ketahanan panas isolat lokal staphylococcus aureus

Erlenmeyer yang digunakan berjumlah enam buah untuk uji ketahanan panas. Satu erlenmeyer digunakan sebagai kontrol yang didalamnya ditempatkan sebuah termometer 100 0 C, dan lima erlenmeyer lainnya untuk uji ketahanan panas. Suhu 53, 54, 55, dan 56°C akan diujikan pada ketiga isolat Staphylococcus aureus yang telah lolos tahap pemilahan cepat isolat. Masing-masing erlenmeyer berisi 9 ml Trypticase Soya Broth (TSB) dipanaskan dalam waterbath shaker sesuai dengan suhu perlakuan. Setelah suhu perlakuan tercapai diinokulasikan 1 ml suspensi Staphylococcus aureus, kecuali satu erlenmeyer yang dijadikan sebagai kontrol suhu waterbath shaker. Tercapainya suhu perlakuan dapat dilihat dari erlenmeyer kontrol. Suspensi awal dalam heating menstruum diperkirakan (ca) 1,0x10 7 -1,0x10 8 CFU/ml. Selanjutnya keenam erlenmeyer dipanaskan kembali dalam waterbath shaker kemudian dilakukan holding pada suhu tersebut hingga interval waktu pencawanan 5, 7, 10, dan 15 menit. Setelah pemanasan mencapai waktu tersebut dilakukan pengenceran dari 10 -2 -10 -6 kemudian dilakukan pencawanan pada media agar BPA (Baird-Parker Agar) + egg yolk tellurit. Inkubasi dilakukan selama 48 jam pada suhu 35°C. Pengenceran dan pencawanan juga dilakukan untuk suspensi kultur pada fase log akhir untuk menentukan jumlah awal mikroba
Baca lebih lanjut

139 Baca lebih lajut

INKULTURASI BUDAYA DI KAMPUNG AMPEL SURABAYA.

INKULTURASI BUDAYA DI KAMPUNG AMPEL SURABAYA.

Bila etnis Madura berhasil memperoleh pengetahuan bahasa dan mulai mengurus dirinya sendiri, ia mulai membuka jalan ke dalam lingkungan budaya yang baru atau budaya yang telah ada yakni budaya Arab. Jika etnis Madura sekarang bisa menerima adat istiadat etnis Arab itu sebagai suatu cara hidup yang lain. Etnis Madura bergaul dalam lingkungan-lingkungan baru tanpa merasa cemas, meskipun kadang-kadang etnis Madura mengalami sedikit ketegangan sosial. Dengan pemahaman lengkap atas semua petunjuk pergaulan sosial, ketegangan ini akan lenyap. Untuk waktu yang lama etnis Madura akan memahami apa yang dikatakan etnis Arab, tetapi ia tidak selalu yakin apakah yang etnis Arab itu maksudkan. Dengan penyesuaian diri yang lengkap etnis Madura tidak hanya akan menerima makanan, minuman, kebiasaan-kebiasaan, dan tradisi-tradisi etnis Arab, tetapi etnis Madura pun mulai menikmati hal-hal tersebut. Bila etnis Madura pulang dulu untuk sementara ke kampung halaman, etnis Madura mungkin membawa hal-hal tertentu dari wilayahnya dan bila etnis Madura pulang untuk selamanya, etnis Madura akan merasa kehilangan wilayahnya dan etnis Arabnya yang etnis Madura kenal. 6
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

Kampung seni budaya : dinamika masyarakat kampung ledok tukangan Yogyakarta

Kampung seni budaya : dinamika masyarakat kampung ledok tukangan Yogyakarta

Hasil penelitian atau temuan dilapangan menunjukan dinamika masyarakat kampung Ledok Tukangan yang digambarkan dalam skema dialektika menurut Peter L. Berger yakni eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. (1) Eksternalisasi, dinamika masyarakat Kampung Ledok Tukangan terwujud dalam pencurahan diri secara terus menerus dalam aktivitas atau kegiatan kesenian seperti pelatihan rutin, pentas/pagelaran, workshop seni dan aktivitas peradatan. Dimana dalam aktivitas tersebut akan menghasilkan produk – produk seperti kerajinan tangan, aktivitas adat (kampoeng tempoe doeloe) dan performing art seperti teater, tari dan musik tradisional; (2) Objektivasi, ditunjukan bahwa aktivitas dalam kegiatan kesenian tersebut menjadi menjadi sebuah kebiasaan, menjadi sebuah tatanan sosial yang bersifat objektif bagi masyarakat Ledok Tukangan. Kemudian dilegitimasi menjadi sebuah Sanggar Anak Kampoeng Indonesia (SAKI); (3) Internalisasi, seiring perkembangannya momen internalisasi ini ditandai adanya tranformasi didalam masyarakat kampung Ledok Tukangan, termasuk didalamnya transformasi dalam kesenian daerah baik secara visual maupun fungsional. Perubahan konsep kesenian secara visual tanpa menghilangkan nilai – nilai luhur yang ada didalamnya. Sedangkan secara fungsional temuan dilapangan menunjukan bahwa seni menjadi sebuah komoditi ekonomi bagi masyarakat kampung Ledok Tukangan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

FILM DOKUMENTER KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU

FILM DOKUMENTER KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU

Kampung Budaya Jalawastu merupakan sebuah desa budaya yang ada di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Di Kampung Budaya Jalawastu ini masyarakatnya masih erat dalam memelihara adat istiadat, tradisi dan budaya warisan leluhur dari nenek moyang terdahulu, Namun, keberadaan dan segala kearifan lokal ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya. Untuk itu, guna mengenalkan Kampung Budaya Jalawastu kepada masyarakat Kabupaten Brebes khususnya dan kepada masyarakat luas pada umumnya, maka dibuatlah sebuah film dokumenter tentang Kampung Budaya Jalawastu yang ada di Desa Ciseureuh Kabupaten Brebes. Film dokumenter Kampung Budaya Jalawastu bertujuan untuk mengenalkan adat istiadat, tradisi, budaya dan segala kearifan lokal yang ada dikampung tersebut kepada masyarakat Kabupaten Brebes dan kepada masyarakat luas pada umumnya, serta menciptakan sebuah film dokumenter yang mampu menyampaikan pesan yang terkandung guna memperoleh respon positif dari semua pihak. Film dokumenter ini dibuat dengan tahap- tahap pengumpulan data berupa penelitian (observasi), wawancara (interview), studi literatur, dan penyusunan film sesuai dengan alur cerita.Dengan dibuatnya film dokumenter “Kampung Budaya Jalawastu”, masyarakat diharapkan bisa lebih mengetahui dan mengenal segala kearifan lokal yang ada di Kampung Budaya Jalawastu Kabupaten Brebes, sehingga film dokumenter ini dapat dijadikan media informasi serta menjadi inspirasi bagi masyarakat Kabupaten Brebes dan masyarakat luas pada umumnya. Kata Kunci : Film, Dokumenter, Pinnacle Studio14
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

IbM Kampung Budaya di Desa Sukamaju

IbM Kampung Budaya di Desa Sukamaju

Secara prinsip pengetahuan dan keterampilan mitra setelah mengikuti kegiatan pelatihan meningkat. Mitra yang aktif mengikuti pelatihan mampu mengungkapkan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Inggris secara sederhana dengan lebih percaya diri. Hasil dari pelatihan manajemen pariwisata mitra pengelola Kampung Budaya memiliki keinginan mengembangkan kampung budaya dengan lebih terprogram. Mitra dapat menyusun rencana program kegiatan di Kampung Budaya dan merencanakan paket- paket wisata yang akan ditawarkan kepada wisatawan yang berkunjung dengan bertemakan budaya lokal. Sedangkan hasil pelatihan website adalah terbentuknya website kampung budaya sebagai sarana promosi keberadaan kampung budaya. Sampai saat ini pendampingan dan perbaikan website Kampung Budaya masih terus dilakukan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BUDAYA LOKAL SEBAGAI WARISAN BUDAYA DAN UPAYA PELESTARIANNYA

BUDAYA LOKAL SEBAGAI WARISAN BUDAYA DAN UPAYA PELESTARIANNYA

Warisan budaya fisik dalam pasal 1 Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya disebut sebagai ‘benda cagar budaya’ yang berupa benda buatan manusia dan benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sedangkan lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya disebut ‘situs’ (pasal 2 Undang-undang Nomor 5 tahun 1992). Benda cagar budaya dan situs dipelajari secara khusus dalam disiplin ilmu Arkeologi yang berupaya mengungkapkan kehidupan manusia di masa lalu melalui benda-benda yang ditinggalkannya. Ini berbeda dengan disiplin ilmu Sejarah yang berupaya mengungkapkan kehidupan manusia di masa lalu melalui bukti-bukti tertulis yang ditinggalkannya.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects