Top PDF Karakterisasi Dan Aktivitas Antioksidan Tepung Sagu Baruk (Arenga Microcarpha)

Karakterisasi Dan Aktivitas Antioksidan Tepung Sagu Baruk (Arenga Microcarpha)

Karakterisasi Dan Aktivitas Antioksidan Tepung Sagu Baruk (Arenga Microcarpha)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik kimia tepung sagu baruk yang mengandung senyawa fitokimia dan mempelajari aktivitas antioksidan dari ekstrak tepung sagu baruk. Tepung sagu baruk diekstrak dengan pelarut etanol 50% dengan cara maserasi selama 24 jam. Setelah itu, tepung sagu diuji proksimat, ekstrak dianalisis kandungan fitokimia fenolik, flavonoid dan tanin terkondensasi. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan radikal bebas DPPH dan daya reduksi dengan spektrofotometer UV/Vis. Hasil penelitian menunjukkan pada pengujian proksimat bahwa tepung tepung sagu baruk memenuhi syarat Standar Nasional Indonesia, tetapi berbeda dengan kadar serat kasar. Total kandungan fenolik dan flavonoid menunjukkan bahwa tepung sagu akuades (SA) lebih tinggi daripada tepung sagu komersial (TSBK). Hasil radikal bebas sagu tepung sagu SA lebih tinggi dari TSBK sama halnya dengan kemampuan daya reduksi SA jauh lebih tinggi dari TSBK. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tepung sagu baruk memiliki kandungan fitokimia fenolik dan flavonoid yang dapat berpotensi sebagai antioksidan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK AIR DAN ETANOL DARI EMPELUR BATANG SAGU BARUK (Arenga microcarpha)

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK AIR DAN ETANOL DARI EMPELUR BATANG SAGU BARUK (Arenga microcarpha)

Masyarakat Sangihe Talaud mengolah empelur sagu baruk melalui proses pemarutan dengan teknik ekstraksi mengalirkan air secara kontinu untuk menghasilkan pati sagu yang berwarna putih. Produk samping berupa limbah cair dari proses pengolahan pati sagu tersebut umumnya hanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna. Padahal limbah cairnya bisa berpotensi sebagai senyawa fitonutrien (asam sitrat, vitamin C dan senyawa fenolik) yang bermanfaat untuk kesehatan. Menurut Tahir (2004) bahwa ekstrak empelur, limbah empelur dan limbah cair dari proses pengolahan sagu jenis metroxylon memiliki aktivitas antioksidan dan tidak memiliki sifat toksik. Penelitian lain menyatakan bahwa senyawa polifenolik dari ekstrak cair sagu (metroxylon) menunjukkan secara efektif menurunkan radikal bebas dalam semua jaringan hewan coba (Ramasamy dkk., 2005). Momuat dkk. (2015) melaporkan bahwa proses ekstraksi empelur batang sagu baruk segar maupun kering dengan teknik ekstraksi sekuensial memiliki kandungan fitokimia fenolik, flavonoid dan tannin terkondensasi serta aktivitas antioksidan. Senyawa-senyawa tersebut dilaporkan dapat berfungsi sebagai antioksidan dan mempunyai manfaat besar terhadap kesehatan yakni dapat mengurangi resiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovascular, kanker, penyakit jantung koroner dan kanker (Ames & Shigenaga, 1993; Shahidi,
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BERAS ANALOG DARI SAGU BARUK (Arenga microcarpha) DAN UBI JALAR UNGU (Ipomea batatas L. Poiret)

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BERAS ANALOG DARI SAGU BARUK (Arenga microcarpha) DAN UBI JALAR UNGU (Ipomea batatas L. Poiret)

Bahan pangan lokal berkarbohidrat terutama umbi-umbian merupakan potensi tersembunyi sebagai sumber pangan fungsional yang dimiliki bangsa Indonesia, termasuk di Propinsi Sulawesi Utara khususnya di daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Bahan pangan umbi-umbian banyak mengandung antioksidan atau komponen lain, seperti ubi jalar ungu selain sebagai sumber karbohidrat juga mempunyai potensi besar senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan.

8 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN SENYAWA FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ANTARA SAGU BARUK SEGAR DAN KERING

PERBANDINGAN SENYAWA FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ANTARA SAGU BARUK SEGAR DAN KERING

Sagu baruk (Arenga microcarpha) merupakan salah satu jenis tanaman endemik Kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara yang potensial sebagai sumber pangan alternatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan dari sagu baruk segar dan kering yang diekstraksi secara sekuensial dengan akuades dan filtrat. Empelur batang sagu segar dan kering diekstraksi secara sekuensial dengan akuades dan filtrat. Ekstrak tepung sagu baruk dianalisis kandung total fenolik, flavonoid dan tannin terkondensasi dengan spektrofotometer. Aktivitas antioksidan dievaluasi dengan penangkalan radikal bebas difenil pikrilhidrazil (DPPH), total antioksidan dan kemampuan mereduksi. Hasil analisis terhadap kandungan total fenolik dan flavonoid menunjukkan bahwa sagu baruk kering lebih tinggi dibandingkan dengan tepung sagu baruk basah sedangkan kandungan tannin terkondensasi tidak menunjukkan perbedaan. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa sagu baruk segar memiliki aktivitas penangkal radikal bebas DPPH lebih tinggi dibandingkan dengan sagu baruk kering (dengan persentase rata-rata berturut-turut adalah 83,08 dan 81,49%). Sebaliknya, total antioksidan dan kemampuan mereduksi sagu baruk kering memberikan aktivitas antioksidan tertinggi dibandingkan dengan sagu baruk segar (dengan rata-rata 109,48 dan 92,52 µmol/100 g). Selanjutnya, analisa korelasi mengungkapkan bahwa kandungan total fenolik, flavonoid, tannin dengan aktivitas penangkalan DPPH dan FRAP secara positif berhubungan dengan satu sama lainnya (R= 0.7526; 0,7467 dan 0,8146). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa empelur sagu baruk kering dan segar memiliki senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Fraksi Fenolik Dari Empulur Batang Sagu Baruk (Arenga Microcarpa)

Aktivitas Antioksidan Fraksi Fenolik Dari Empulur Batang Sagu Baruk (Arenga Microcarpa)

Untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas, substansi antioksidan berfungsi untuk menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron dari radikal bebas sehingga menghambat reaksi berantai (Windono et al, 2001). Senyawa antioksidan mempunyai peranan penting yaitu untuk menyehatkan tubuh, mencegah penyakit seperti kanker yang diakibatkan oleh jenis spesies reaktif (SOR) dan radikal bebas atau bahkan untuk menyembuhkan. Antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk melindungi komponen biologi seperti lipida, protein, vitamin, dan DNA melalui perlambatan kerusakan, ketengikan dan perubahan warna yang disebabkan oleh oksidasi (Jadhav et al., 1996). Antioksidan ialah molekul yang dengan mudah dapat memberikan elektronnya ke molekul radikal
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH LAMA PERENDAMAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EMPELUR SAGU BARUK (Arenga microcharpha)

PENGARUH LAMA PERENDAMAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EMPELUR SAGU BARUK (Arenga microcharpha)

Sago baruk is one of endemic crop type of Archipelago of Sangihe Talaud, North Sulawesi. The objectives of this research were to study immersion time effect on antioxidant activity of sago baruk pith extract. The fresh sago baruk trunks pith was extracted with destilate water and stored at room temperature for 1, 2 and 3 days. After that, the filtrate was evaporated with heating technique. The pith extract was analysed phenolic total content by spectrophotometer. Antioxidant activity of each pith extract are evaluated in 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) radical scavenging (DPPH method), total antioxidant (FRAP method), antioxidant capacity (Phophomolybdate method) and reducing power (potassium ferricyanide method). The result of analysis in phenolic content showed that pith extract at immersion time of first day higher compared with second and third days. The result is in line with free radical scavenging measuring with immersion time of first day higher than second and third days. Likewise, the total antioxidant, antioxidant capacity and reducing power also showed that pith extract in immersion time of first day has highest antioxidant capacity than second and third days. There is effect that immersion time of sago baruk pith influence on phenolic content and antioxidant activity. This result concluded that sago baruk pith extract having phenolic compound and antioxidant activities. There is effect that immersion time of sago baruk pith influence on phenolic content and antioxidant activity. This result concluded that sago baruk pith extract having phenolic compound and antioxidant activities.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI ANTOSIANIN DALAM UMBI UBI JALAR UNGU (Ipomea batatas)

ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI ANTOSIANIN DALAM UMBI UBI JALAR UNGU (Ipomea batatas)

Flavonoid adalah sebuah kelas metabolit sekundertanaman.Flavonoid merupakan kandungan khas tumbuhan hijau dengan mengecualikan alga, dan hornwort. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nektar, bunga, buah buni, dan biji. Hanya sedikit saja catatan yang melaporkan adanya flavonoid pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang- berang, „propolis‟ (sekresi lebah) dan di dalam sayap kupu-kupu; itu pun dengan anggapan bahwa flavonoid tersebut berasal dari

56 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI TEPUNG BUAH LINDUR (Brugeira gymnorrhiza) SEBAGAI BERAS ANALOG DENGAN PENAMBAHAN SAGU DAN KITOSAN

KARAKTERISASI TEPUNG BUAH LINDUR (Brugeira gymnorrhiza) SEBAGAI BERAS ANALOG DENGAN PENAMBAHAN SAGU DAN KITOSAN

Kadar tanin dari tepung buah lindur (0,21%) telah memenuhi syarat sebagai bahan pangan karena kadar maksimum dalam bahan makanan yang ditetapkan Acceptable Daily Intake (ADI) adalah 560 mg/kg berat badan/ hari. Menurut Crissanty (2012), perbedaan kandungan tanin pada hasil olahan buah lindur dipengaruhi oleh penanganan buah selama proses penurunan kadar tanin. Menurut Hagerman (2002), tanin bukan merupakan zat gizi namun dalam jumlah kecil dapat bermanfaat bagi kesehatan. Frazier et al. (2010) menyatakan bahwa tanin termasuk dalam kelompok polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengolahan Am pas Sagu M enjadi Kom pos dan Kue Kering dari Tepung Sagu

Pengolahan Am pas Sagu M enjadi Kom pos dan Kue Kering dari Tepung Sagu

Tepung sagu m em iliki potensi yang sangat be sar untuk dikem bangkan m enjadi bahan pangan alterna tif karena dari a spek nilai gizi te pung sagu m em punyai beberapa kelebihan dibanding te pung dari tanam an um bi a tau serelia (Jong dan W idjono, 2005). Produk-produk m akanan sagu tradisional dikena l dengan nam a papeda, sagu lem peng, buburnee, sagu tutupala, sagu uha, sinoli, bagea, dan sebagainya. Lim bah batang sagu dapat diolah m enjadi brike t untuk industri kim ia, bahan bakar, m edium jam ur, hard board, kom pos dan se bagainya (W idowa ti
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BOLU KUKUS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis ) DAN EKSTRAK BUNGA  Aktivitas Antioksidan Bolu Kukus Dengan Penambahan Tepung Biji Kluwih (Artocarpus communis ) Dan Ekstrak Bunga Rosella ( Hibiscus sabdariffa) P

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BOLU KUKUS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis ) DAN EKSTRAK BUNGA Aktivitas Antioksidan Bolu Kukus Dengan Penambahan Tepung Biji Kluwih (Artocarpus communis ) Dan Ekstrak Bunga Rosella ( Hibiscus sabdariffa) P

Kluwih (Artocarpus communis) merupakan tanaman tahunan yang mudah ditemukan di Indonesia dan mudah beradaptasi pada lingkungan dengan kondisi yang kurang menguntungkan. Buah kluwih mirip sukun, bedanya kluwih berkulit kasar dan memiliki biji. Sementara sukun berkulit lebih halus dan tidak berbiji (Novary, 1999). Biji kluwih memiliki keseimbangan nutrisi yang meliputi karbohidrat, lemak, protein, dan mineral yang baik bagi tubuh. Biji kluwih mengandung lemak sebesar 5,599 %, serat sebesar 8,197 %, abu sebesar 1,499 %, fenol sebesar 0,061 % dan karbohidrat sebesar 64,965 % (Sukatiningsih, 2005). Kandungan karbohidrat yang masih cukup tinggi dalam biji kluwih merupakan salah satu komponen utama dalam pengolahannya menjadi tepung. Tepung biji kluwih mengandung komponen kimia yang cukup lengkap dan berpotensi untuk digunakan pada produk tertentu yang berbasis karbohidrat sehingga dapat membantu mengurangi konsumsi tepung terigu di Indonesia.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

SIFAT KIMIA BAKSO BERBAHAN DASAR DAGING BABI DAN ULAT SAGU DENGAN PENGIKAT TEPUNG SAGU

SIFAT KIMIA BAKSO BERBAHAN DASAR DAGING BABI DAN ULAT SAGU DENGAN PENGIKAT TEPUNG SAGU

Salah   satu   sumber   protein   hewani   yang   tersedia   dan   dapat  dikembangkan  sebagai  bakso  adalah  daging  babi,  akan   tetapi   karena   harga   jual   daging   babi   yang   terlalu   tinggi   diperlukan   bahan   lain   yang   dapat   disubtitusi   dengan   daging   babi   sebagai   bahan   utama   pembuat   bakso.   Salah   satu   produk   lokal   Maluku   yang   dapat   digunakan   untuk   subtitusi   daging  babi  yaitu  ulat  sagu.  Ulat  sagu  telah  dikonsumsi  oleh   penduduk   di   daerah   Maluku   sejak   zaman   dulu.   Masyarakat   biasa   mengkonsumsinya   setelah   direbus,   ditumis,   dipanggang,   dibakar.   Namun,   karena   tidak   semua   orang   Indonesia   terbiasa   memakan   ulat   ini,   tentu   saja   harus   ada  
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BOLU KUKUS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis ) DAN EKSTRAK BUNGA  Aktivitas Antioksidan Bolu Kukus Dengan Penambahan Tepung Biji Kluwih (Artocarpus communis ) Dan Ekstrak Bunga Rosella ( Hibiscus sabdariffa) P

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BOLU KUKUS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis ) DAN EKSTRAK BUNGA Aktivitas Antioksidan Bolu Kukus Dengan Penambahan Tepung Biji Kluwih (Artocarpus communis ) Dan Ekstrak Bunga Rosella ( Hibiscus sabdariffa) P

Kluwih (Artocarpus communis) mudah ditemukan di Indonesia. Biji kluwih memiliki keseimbangan nutrisi yang meliputi karbohidrat, lemak, protein, dan mineral yang baik bagi tubuh. Kandungan karbohidrat yang masih cukup tinggi dalam biji kluwih dapat diolah menjadi tepung. Tepung biji kluwih dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi tepung terigu dan dapat diolah menjadi beberapa produk pangan, salah satunya bolu kukus. Rosella (Hibiscussabdariffa) merupakan tanaman yang dapat diaplikasikan dalam pengolahan pangan. Rosella mengandung vitamin C dan antosianin, yang berfungsi sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung biji kluwih dan penambahan ekstrak rosella dengan konsentrasi berbeda terhadap aktvitas antioksidan dan uji organoleptik bolu kukus biji kluwih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan pola rancangan faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor I adalah penambahan tepung biji kluwih yang terdiri dari kontrol 0% (K0), biji kluwih 25% (K1), biji kluwih 50% (K2), biji kluwih 75% (K3), dan faktor II adalah penambahan ekstrak rosella dengan konsentrasi yang berbeda yang tertiri dari kontrol 0 mL (R0), ekstrak rosella 10g/100 mL (R1), ekstrak rosella 20g/100 mL (R2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung biji kluwih dan penambahan ekstrak rosella dengan konsentrasi berbeda berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan bolu kukus. Aktivitas antioksidan bolu kukus tertinggi terdapat pada perlakuan tepung terigu 25% dengan penambahan tepung biji kluwih 75% dan penambahan ekstrak rosella 20g/100mL (K3R2) sebesar 13,62%, sedangkan aktivitas antioksidan bolu kukus terendah terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 11,43%. Hasil uji organoleptik terbaik terdapat pada perlakuan tepung terigu 50% dengan penambahan tepung biji kluwih 50% dan penambahan ekstrak rosella 10g/100 mL (K2R1) dengan warna cokelat, rasa agak enak, aroma agak khas bolu dan tekstur agak lembut.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pembuatanroti Manis dari Tepung Komposit (Tepung Terigu, Pati Sagu, Tepung Ubi Jalar Ungu)

Pembuatanroti Manis dari Tepung Komposit (Tepung Terigu, Pati Sagu, Tepung Ubi Jalar Ungu)

Tabel 10 menunjukkan bahwa penambahan persentase pati sagu lebih banyakdan persentase tepung ubi jalar ungu lebih sedikit akan menghasilkan kadar air roti manis semakin meningkat.Kadar air roti manis dipengaruhi oleh perbedaan kandungan air yang terdapat pada setiap bahan. Persentase kadar air yang dimiliki pati sagu cukup tinggi yaitu 14% dibandingkan dengan tepung terigu 9,6% dan tepung ubi jalar ungu 7,28% (Mahmud dkk., 2009). Rata-rata kadar air roti manisberkisarantara 23,23%- 31,06%.Pengamatan kadar air roti manis menunjukkan kadar air lebih rendah dibandingkan perlakuan lain pada perlakuan R1, hal ini disebabkan tepung ubi jalar ungu yang memiliki kadar air 7,28%, lebih rendah dibandingkan bahan tepung yang lain, tepung ubi jalar ungu juga memiliki kandungan amilosa yang
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Karakterisasi Sifat Kimia-Fisika Pati Sagu Resisten

Karakterisasi Sifat Kimia-Fisika Pati Sagu Resisten

Pasting properties menunjukkan sifat viskositas dan sifat gel dari masing-masing sampel. Pasting properties dari pati sagu, pati hidrolisis oleh air destilasi, pati hidrolisis oleh asam dan pati hidrolisis oleh asam yang diikuti proses autoklaf- pendinginan ditunjukkan pada Tabel 3. Sifat ini dianalisis menggunakan Rapid Visco Analizer (RVA). Semua viskositas (kecuali peak time dan pasting temperature ) dari pati modifikasi menunjukkan nilai viskositas yang rendah dibandingakan pati sagu. Hal ini mengindikasikan bahwa sifat gel dari pati sagu berkurang setelah proses modifikasi baik hidrolisis oleh air destilasi, ataupun asam dan hidrolisis oleh asam yang diikuti proses autoklaf- pendinginan. Pasting temperature ( o C) dari pati hidrolisis oleh air destilasi menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan pati sagu, sedangkan nilai pasting temperature ( o C) dari sampel pati hidrolisis oleh asam dan hidrolisis oleh asam yang diikuti proses autoklaf- pendinginan tidak terdeteksi. Nilai tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Nasrin (2014), dimana ketika pati pisang dihidrolisis oleh asam klorida IN menunjukkan pasting temperature sebesar 87.5 o C, tetapi ketika digunakan konsentrasi asam klorida 1.5 N dan 2N nilai pasting temperature tidak terdeteksi. Hidrolisis asam dapat menyebabkan mereduksinya berat molekul dari pati sehingga viskositas berkurang secara signifikan (Wang L., 2001). Setback value dari sample pati hidrolisis oleh asam dan diikuti proses autoklaf- pendinginan menunjukkan nilai terendah. Hal ini mengindikasikan bahwa sampel tersebut paling besar mengalami proses retrogradasi, sedangkan through viscosity menunjukkan pengukuran viskositas terendah dari pasta pati untuk mempertahankan strukturnya selama proses pendinginan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK BISKUIT DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG BIJI ASAM (Tamarindus indica)   Aktivitas Antioksidan Dan Sifat Organoleptik Biskuit Dengan Penambahan Tepung Biji Asam (Tamarindus Indica) Dan Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus S

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK BISKUIT DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG BIJI ASAM (Tamarindus indica) Aktivitas Antioksidan Dan Sifat Organoleptik Biskuit Dengan Penambahan Tepung Biji Asam (Tamarindus Indica) Dan Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus S

Tepung biji asam dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan karena memenuhi kriteria yang terkandung dalam makanan seperti karbohidrat, protein, lemak kasar, dan energi. Kelopak bunga rosella dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan karena mengandung vitamin C yang tinggi, zat besi, dan asam amino termasuk arginin dan lignin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan tepung biji asam dan kelopak bunga rosella dalam pembuatan biskuit terhadap aktivitas antioksidan dan tingkat kesukaan konsumen. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor 1 konsentrasi tepung biji asam dan faktor 2 konsentrasi serbuk kelopak bunga rosella dengan kombinasi 12 perlakuan dan 2 ulangan. Parameter yang diukur adalah aktivitas antioksidan dan tingkat kesukaan konsumen. Hasil penelitian diperoleh aktivitas antioksidan biskuit yang paling tinggi terdapat pada perlakuan P 3 R 2 (penambahan tepung biji asam 75 g dan kelopak bunga rosella 5 g)
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Manolitikasal Bonggol Pohon Sagu

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Manolitikasal Bonggol Pohon Sagu

Limbah bonggol sagu sebagai sumber isolat diambil dar i lokasi pengolahan sagu di Kabupaten Konaw e, Pr opinsi Sulaw esi Tenggar a. Pengambilan sampel limbah bonggol sagu dilakukan pada bonggol yang telah membusuk dengan memasukkan dalam kantong plastik untuk diuji di labor ator ium. Sebanyak 10% (b/ v) limbah bonggol sagu disuspensikan dalam akuades ster il dan dibuat ser i pengencer an sampai pengencer an 10 -8 . Masing-masing suspensi sebanyak 0,1 mL padapengencer an 10 -2 , 10 -4 , 10 -6 , dan10 -8 diambil dan disebar kan di atas media NA dan diinkubasi pada suhu kamar selama dua har i. Setiap ser i pengencer an dilakukan 3 kali penyebar an pada media yang ber beda. Koloni-
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

329851748 Gizi Ipd Umbi Tepung Dan Sagu 2013

329851748 Gizi Ipd Umbi Tepung Dan Sagu 2013

Standar mutu pati sagu yang tercantum dalam SNI 01-3729-1995 belum mensyaratkan nilai derajat putih dan tingkat kekentalan (viskositas) pasta pati sagu, begitu pula standar ukuran partikel pati sagu masih kurang halus (min. 95 persen partikel lolos ayakan 100 mesh) sementara standar Malaysia mensyaratkan lebih tinggi yaitu min. 99 persen partikel yang lolos ayakan 125 atau 100 mesh dan standar yang berlaku dalam perdagangan internasional mensyaratkan lebih tinggi lagi yaitu 95 persen partikel lolos ayakan 200 mesh. Hal yang perlu dilakukan diperhitungkan di pasar dunia. Pencantuman nilai warna, pH, kadar protein dan tingkat kekentalan sebagai atribut mutu didalam SNI pati sagu memerlukan penelitian selanjutnya yang lebih komprehensif.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Formulasi Kombinasi Tepung Sagu dan Jagung pada Pembuatan Mie

Formulasi Kombinasi Tepung Sagu dan Jagung pada Pembuatan Mie

Tepung sagu adalah pati yang diperoleh dari pengolahan empelur pohon sagu (metroxylon Sp).Tepung sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat dan mengandung beberapa komponen lain, seperti mineral dan fosfor. Jumlah karbohidrat dan kandungan kimia dari setiap 100 gram tepung sagu dapat dilihat pada Tabel 1.Sebagai pembanding, kandungan kimia tepung ubi kayu (tapioka) dan beras juga disajikan.

6 Baca lebih lajut

Rekayasa Proses Tepung Sagu (Metroxylon sp.) dan Beberapa Karakternya

Rekayasa Proses Tepung Sagu (Metroxylon sp.) dan Beberapa Karakternya

Pola konsumsi masyarakat Indonesia pada umumnya tidak lepas dari beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Perkembangan industri dan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, secara otomatis mengurangai lahan pertanian yang memproduksi beras. Sagu merupakan salah satu pohon penghasil karbohidrat yang perlu diperhatikan dalam rangka diversifikasi pangan, mengingat potensinya yang besar tetapi belum diupayakan secara maksimal. Pengembangan produk berbasis sagu perlu diupayakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Perkiraan potensi sagu mencapai 27 juta ton pertahun. Namun baru sekitar 300-500 ribu ton pati sagu yang digunakan setiap tahunnya (Djoefrie, 1999).
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Aktivitas Enzim Amilase Isolat Bakteri Amilolitik dari Tepung Sagu Basah dan Lingkungan Tempat Penyediaannya Secara Tradisional di Jayapura

Aktivitas Enzim Amilase Isolat Bakteri Amilolitik dari Tepung Sagu Basah dan Lingkungan Tempat Penyediaannya Secara Tradisional di Jayapura

Pengolahan di sentra penyediaan tepung sagu di Papua khusunya wilayah Jayapura pada umumnya masih dilakukan secara tradisional (Kanro, 2003). Pada proses pengolahan dan materi tepung sagu mengandung dapat bakteri. Bakteri amilolitik pada tepung sagu dapat berasal dari air, tanah dan limbah yang terdapat di sekitar tempat penyediaan sagu. Selain itu, juga diketahui ada dan dapat terjadi selama perjalanan menuju tempat penjualan tepung sagu di pasar tradisional (Gunaedi et al., 2009). Untuk memenuhi kekurangan produktivitas enzim amilase di pasaran dapat dilakukan dengan mengisolasi isolat bakteri yang berasal dari bahan ini. Tujuannya adalah untuk menaikkan nilai ekonomi tepung sagu asal Papua khususnya Jayapura. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas enzim amilase yang dihasilkan oleh bakteri amilolitik yang berasal dari tepung sagu basah dan lingkungan pengolahannya di Kabupaten Jayapura.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects