Top PDF Karakterisasi Kitin dan Kitosan dari Cangkang Kepiting Bakau (Scylla Serrata)

Karakterisasi Kitin dan Kitosan dari Cangkang Kepiting Bakau (Scylla Serrata)

Karakterisasi Kitin dan Kitosan dari Cangkang Kepiting Bakau (Scylla Serrata)

Deproteinasi bertujuan untuk memisahkan pro- tein yang terdapat pada cangkang kepiting bakau dilakukan dengan menggunakan larutan natrium hidroksida. Kitin yang diperoleh kemudian dideaseti- lasi untuk mendapatkan kitosan. Pada proses ini ter- jadi pemutusan gugus asetil dengan atom nitrogen yang terdapat pada kitin sehingga menghasilkan suatu amina yang merupakan gugus yang terdapat pada ki- tosan. Selanjutnya terhadap cangkang kepiting bakau, kitin, dan kitosan yang diperoleh dilakukan penguku- ran kadar abu, kadar air, dan penentuan kandungan bebarapa logam untuk melihat pengaruh proses demi- neralisasi, deproteinasi dan deasetilasi pada cangkang kepiting bakau [1] .
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Karakterisasi Kitin Dan Kitosan Yang Terkandung Dalam Eksoskeleton Kutu Beras (Sitophilus Oryzae)

Karakterisasi Kitin Dan Kitosan Yang Terkandung Dalam Eksoskeleton Kutu Beras (Sitophilus Oryzae)

Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi kitin dan kitosan hasil preparasi dari eksoskeleton kutu beras (Sitophilus oryzae). Penelitian terbagi menjadi penelitian pendahuluan yaitu preparasi dan uji proksimat, dan penelitian utama yang terdiri dari proses pembuatan dan karakterisasi kitin dan kitosan. Proses pembuatan kitin/kitosan diawali dengan uji demineralisasi (HCL 1 N, 90C), deproteinisasi (NaOH 3 N, 90C), dekalorisasi (NaOCl 4%, suhu kamar) dan deasetilasi (NaOH 50%, 130C). Karakterisasi meliputi tekstur, rendemen, kelarutan, kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, kadar mineral dan derajat deasetilasi. Kadar abu dan kadar air ditentukan dengan gravimetri, kadar protein dengan kjedahl. Uji Kelarutan dengan asam asetat 2%, kadar mineral dengan spektrofotometer, sedangkan derajat deasetilasi dianalisis dengan menggunakan First Derivative Ultra Violet Spektrofotometry. Berdasarkan hasil perhitungan memperlihatkan karakteristik kitin dari eksoskeleton Sitophilus oryzae menghasilkan kadar abu 2,00%, kadar air 8,00%, kadar nitrogen 3,57%, derajat deasetilasi 28,60 %. Kitin bersifat tidak larut dalam asam asetat 2%, berwarna putih dan tidak berbau. Hasil yang diperoleh sesuai dengan kriteria mutu kitin. Untuk karakterisasi kitosan dari eksoskeleton kutu beras menghasilkan kadar abu 2,00%, kadar air 12,00%, kadar nitrogen 3,64%, derajat deasetilasi 68,25 %. Hasil yang diperoleh belum sesuai dengan kriteria mutu kitosan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Karakterisasi Cangkang Kepiting Laut Dan Kitin Serta Karakterisasi Kitosan Dari Hasil Deasetilasi

Karakterisasi Cangkang Kepiting Laut Dan Kitin Serta Karakterisasi Kitosan Dari Hasil Deasetilasi

Kumar, M.N.V.R .2000. Chitin and Chitosan for Versatile Aplications Homepage Lesbani Aldes, Setiawati Yusuf, R. A. Mika Melviana, 2011.Karakterisasi Kitin dan Kitosan dari Cangkang Kepiting Bakau (Scylla Serrata). Jurnal Penelitian Sains Volume 14 Nomer 3(C) 14307

2 Baca lebih lajut

Kemampuan Kitin dari Cangkang Kepiting Bakau (Scylla Spp) dalam Menurunkan Kadar Kolesterol Jeroan Sapi

Kemampuan Kitin dari Cangkang Kepiting Bakau (Scylla Spp) dalam Menurunkan Kadar Kolesterol Jeroan Sapi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan konsentrasi optimum kitin dari cangkang kepiting bakau (Scylla spp) dalam menurunkan kadar kolesterol jeroan (otak) sapi. Hipotesis penelitian ini adalah konsentrasi kitin yang berbeda- beda berpengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol jeroan sapi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 Perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari P 0(-) (Perlakuan kontrol negatif), P 0(+) (Perlakuan kontrol positif dengan kitosan 50 mg), P 1 (kitin 30 mg), P 2 (kitin 50 mg), P 3 (kitin 70 mg), dan P 4 (kitin sebanyak 90 mg). Analisis data dilakukan dengan analisis varian (ANAVA) dan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pembuatan Filter Penangkap Emas (Au) Menggunakan Kitin dan Kitosan dari Cangkang Kepiting

Pembuatan Filter Penangkap Emas (Au) Menggunakan Kitin dan Kitosan dari Cangkang Kepiting

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil karakterisasi kitin sebagai berikut 20%, tekstur serpihan sampai serbuk, warna merah muda dan tidak berbau memiliki kadar air ≤ 10 %, hasil karakterisasi kitosan sebagai berikut rendemeen 45%, tekstur serbuk, warna Putih, tidak berbau memiliki kadar air ≤ 10 % dan larut dalam asam asetat 2%, dan perbandingan kapasitas penyerapan terhadap logam Au, mana yang lebih efektif penyerapannya dari ketiga sampel yang di buat, yaitu kitin, kitosan dan campuran kitin-kitosan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Ekstrasi Kitosan Dari Cangkang Udang Putih Penaeus Mergulensis de Man) Dan Kepiting Bakau (Scylla Seratta Forskal): Sebuah Studi Perbandingan Penggunaan Dua Proses Ekstrasi Kitin Yang Berbeda Serta Uji Aktivitas antimikrobianya - Unika Repository

Ekstrasi Kitosan Dari Cangkang Udang Putih Penaeus Mergulensis de Man) Dan Kepiting Bakau (Scylla Seratta Forskal): Sebuah Studi Perbandingan Penggunaan Dua Proses Ekstrasi Kitin Yang Berbeda Serta Uji Aktivitas antimikrobianya - Unika Repository

No. Komposisi Cangkang Udang Putih Cangkang Kepiting Bakau 1. Kadar air (% dry basis) 8,51 ± 0,53 6,04 ± 0,10 2. Kadar abu (%) 42,51 ± 0,005 64,93 ± 0,44 3. Total Nitrogen (%) 0,97 ± 0,05 1,29 ± 0,02 4. Kadar protein kasar (%) 6,08 ± 0,29 8,09 ± 0,12 5. Kadar lemak (%) 3,03 ± 0,51 3,23 ± 0,27 6. Karbohidrat (%) 39,87 ± 0,26 17,70 ± 0,18 Keterangan : Nilai karbohidrat dalam tabel merupakan hasil analisa by difference

18 Baca lebih lajut

View of KARAKTERISASI KITIN HASIL ISOLASI DARI SERBUK CANGKANG UDANG

View of KARAKTERISASI KITIN HASIL ISOLASI DARI SERBUK CANGKANG UDANG

Berbagai metode telah banyak dikembangkan untuk mengurangi kadar polutan di perairan antara lain dengan presipitasi, electroplating, koagulasi, dan adsorpsi [5]. Adsorpsi menjadi pilihan yang baik karena metode ini memiliki tingkat efisiensi tinggi, tidak membutuhkan biaya besar, biosorben dapat digunakan kembali (reusable) dan memiliki tingkat recovery yang baik [6]. Adsorben yang banyak digunakan antara lain karbon aktif, zeolite, silika, dan kitin. Penelitian yang dilakukan Tangjuank (2009) [7] menunjukkan bahwa karbon aktif yang dibuat dari kulit kacang mete dapat digunakan sebagai adsorben Pb(II) dan Cd(II), yaitu dengan efisiensi sebesar 98,87%. Penelitian lain [8] menyebutkan bahwa zeolite yang dimodifikasi dengan ditizon juga dapat digunakan untuk adsorpsi logam berat (Pb(II)). Adsorpsi Pb(II) menggunakan zeolite tersebut mencapai 90% pada pH 6. Silika juga dapat digunakan untuk adsorpsi logam berat. Silika yang dimodifikasi dengan kitosan digunakan sebagai adsorben untuk adsorpsi (Pb(II)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorben dengan kandungan silika sebanyak 65% mampu mengadsorpsi Pb(II) sebesar 9,715 mg/g [9].
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

EKSTRAKSI KITOSAN DARI CANGKANG UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis de Man) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) : SEBUAH STUDI PERBANDINGAN PENGGUNAAN DUA PROSES EKSTRAKSI KITIN YANG BERBEDA SERTA UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBIANYA

EKSTRAKSI KITOSAN DARI CANGKANG UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis de Man) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) : SEBUAH STUDI PERBANDINGAN PENGGUNAAN DUA PROSES EKSTRAKSI KITIN YANG BERBEDA SERTA UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBIANYA

Proses preparasi kitin dan kitosan yang pada umumnya menggunakan larutan asam dan basa selama proses demineralisasi, deproteinasi ataupun deasetilasi dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh karena sifat limbah cairnya yang terlalu asam atau basa. Pemanfaatan enzim protease yang dihasilkan oleh mikroorganisme proteolitik seperti bakteri Bacillus subtilis selama proses deproteinasi diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi yang baik guna mengatasi masalah tersebut. Sifat antimikrobia yang dimiliki oleh kitosan menjadikan kitosan potensial untuk digunakan sebagai bahan pengawet alami alternatif dalam berbagai pangan yang bersifat asam termasuk dalam jus apel. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk (1) membandingkan karakteristik kimia dan fisiko-kimia kitosan udang putih (Penaeus merguiensis de Man) dan kepiting bakau (Scylla serrata Forskal) yang dihasilkan dari dua proses ekstraksi kitin yang berbeda; (2) mengetahui aktivitas antimikrobia isolat kitosan yang dihasilkan dalam jus apel. Kitin diekstraksi melalui dua proses ekstraksi yang berbeda, yaitu (A) proses demineralisasi kimiawi yang dilanjutkan dengan proses deproteinasi kimiawi dan (B) proses deproteinasi enzimatis yang dilanjutkan dengan proses demineralisasi kimiawi. Kitosan diperoleh dengan cara mendeasetilasi kitin yang dihasilkan dari dua proses ekstraksi kitin yang berbeda tersebut dalam larutan alkali. Kitosan yang dihasilkan kemudian dianalisa karakteristik kimia dan fisiko-kimianya (kadar air, kadar abu, viskositas dan derajat deasetilasi) serta diuji aktivitas antimikrobianya dalam minuman jus apel. Selama pengujian aktivitas antimikrobia, tingkat kekeruhan dan pH jus apel diamati. Ekstraksi kitin proses B menghasilkan rendemen kitosan udang putih dan kepiting yang lebih sedikit dibandingkan proses A, namun mempunyai aktivitas antimikrobia yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari proses A. Penambahan 0,3 g kitosan udang putih atau kepiting bakau baik yang diperoleh dengan menggunakan proses A maupun B mampu memperpanjang umur simpan jus tersebut selama satu hari pada suhu 30 ° C dan lima hari pada suhu 7 ° C.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN KITOSAN HASIL DEASETILASI KITIN CANGKANG BEKICOT SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA REMAZOL YELLOW

PEMANFAATAN KITOSAN HASIL DEASETILASI KITIN CANGKANG BEKICOT SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA REMAZOL YELLOW

terdapat 20% kandungan kitin. Kitin juga diketahui terdapat pada kulit keong, kepiting, kerang dan cangkang bekicot (Stephen, 1995). Bahan-bahan berkitin terutama berada di bagian ektodermal dalam binatang multiseluler dan membentuk eksoskeleton yang spesifik dari kebanyakan binatang tidak bertulang belakang. Tidak ada bukti adanya hubungan antara proporsi kitin dengan kekerasan atau fleksibilitas bahan. Kitin diperoleh dengan melakukan sejumlah proses pemurnian. Proses isolasi kitin terdiri dari dua tahap utama, yaitu deproteinasi dan demineralisasi. Deproteinasi betujuan untuk menghilangkan protein yang terdapat pada cangkang. Tahap ini dilakukan dengan menambahkan NaOH pada konsentrasi rendah sehingga terbentuk Na-proteanat yang larut dalam air. Tahap demineralisasi dilakukan untuk memurnikan kitin dari mineral-mineral yang terkandung dalam cangkang. Tahap ini dilakukan dengan menambahkan HCl encer (Suhardi, 1993).
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Penyediaan Dan Karakterisasi Kitosan Dari Cangkang Kepiting (Callinectes Sapidus) Sebagai Adsorben Untuk Menurunkan Kadar Kolesterol

Penyediaan Dan Karakterisasi Kitosan Dari Cangkang Kepiting (Callinectes Sapidus) Sebagai Adsorben Untuk Menurunkan Kadar Kolesterol

Proses deasetilasi kitosan dapat dilakukan dengan cara kimiawi maupun enzimatik. Proses kimiawi menggunakan basa, misalnya NaOH, dan dapat menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi 85-93%. Namun proses kimiawi menghasilkan kitosan dengan bobot molekul yang beragam dan deasetilasinya juga sangat acak, sehingga sifat fisik dan kimia kitosan tidak seragam. Selain itu, proses kimiawi juga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, sulit dikendalikan, dan melibatkan banyak reaksi samping yang dapat menurunkan rendemen. Proses enzimatik dapat menutupi kekurangan proses kimiawi. Pada dasarnya deasetilasi secara enzimatik bersifat selektif dan tidak merusak rantai kitosan, sehingga menghasilkan kitosan dengan karakteristik yang lebih seragam agar dpat memperluas bidang aplikasinya.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

UJI KONDUKTIVITAS FILM ELEKTROLIT POLIMER KITOSAN CANGKANG KEPITING DENGAN PENAMBAHAN KCl

UJI KONDUKTIVITAS FILM ELEKTROLIT POLIMER KITOSAN CANGKANG KEPITING DENGAN PENAMBAHAN KCl

Hasil demineralisasi selanjutnya disaring dan dicuci dengan akuades/akuabides sampai pada ph netral. untuk menghilangkan kandungan asam yang terdapat pada senyawa kitin. Kemudian sampel dikeringkan dengan menggunakan oven selama 1 jam dan ditimbang untuk mengetahui berat kitin yang terbentuk. Massa kitin yang dihasilkan pada tahap ini yaitu 6.6 gr. Penggunaan konsentrasi HCl dan suhu reaksi harus diperhatikan karena kitin dapat mencair apabila menggunakan asam dengan konsentrasi terlalu tinggi dan pada temperature yang tinggi HCl dapat mengakibatkan senyawa kitin terdegradasi (Permana, 2015).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pembuatan Kitosan dari Kitin Cangkang Bekicot (Achatina fulica).

Pembuatan Kitosan dari Kitin Cangkang Bekicot (Achatina fulica).

Biopolimer alam yang tidak beracun ini diproduksi secara komersial dari limbah kulit udang dan kepiting (No dkk., 2000). Penelitian tentang kitosan telah banyak dilakukan. Salami (1998) telah mempelajari metode isolasi kitin dan ekstraksi kitosan dari bahan kulit udang (Phenaus monodon). Pemanfaatan kitin dan kitosan telah banyak dipelajari oleh beberapa peneliti yaitu: Mahatmanti (2001) mempelajari pemanfaatan kitosan dan kitosan sulfat dari cangkang udang windu untuk bahan adsorben logam Zn (II) dan Pb (II); Darjito (2001) mempelajari adsorbsi kitosan sulfat untuk logam Co (II) dan Cu (II). Bahan lain yang bisa digunakan untuk mendapatkan kitin adalah cangkang bekicot. Bekicot di Indonesia telah dibudidayakan sebagai sumber protein dan menjadi komoditas ekspor. Ekspor bekicot pada tahun 1983 baru mencapai 245.359 kg, sedangkan pada tahun 1987 naik sekitar tujuh kali lipat menjadi 1.490.296 kg (Santoso, 1989). Peningkatan perdagangan ini menyebabkan timbulnya limbah cangkang bekicot dalam jumlah yang cukup besar. Berdasarkan hal diatas maka dalam penelitian ini dilakukan pembuatan kitosan dari kitin cangkang bekicot.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Studi Karakterisasi Pembuatan Kitin Dan Kitosan Dari Cangkang Belangkas (Tachypleus Gigas) Untuk Penentuan Berat Molekul

Studi Karakterisasi Pembuatan Kitin Dan Kitosan Dari Cangkang Belangkas (Tachypleus Gigas) Untuk Penentuan Berat Molekul

Kitin secara komersial umumnya diekstraksi dari kulit udang, cangkang kepiting yang diperoleh dari limbah industri pengolahan. Proses ekstraksi kitin dari kulit udang dan cangkang kepiting secara kimia merupakan proses yang relatif sederhana. Ada beberapa metode dasar ekstraksi kitin yang banyak dikembangkan dalam berbagai penelitian, seperti metode Hackman; Whistler dan BeMiller; Horowitz, Roseman, dan Blumenthal; Foster dan Huckman; Takeda dan Katsuura; Broussignac. Sedangkan metode dasar deasitelasi kitin menjadi kitosan antara lain Metode Horowitz; Horton dan Lineback; Rigby; Wolform dan Shen-Han; Maher; Fujita; Peniston dan Johnson (Muzzarelli,1977). Alternatif lainnya untuk menggantikan proses ekstraksi kitin-kitosan cara asam-basa yaitu proses fermentasi dengan menggunakan mikroorganisme bakteri proteolitik dan bakteri asam laktat (Peberdy,1999).
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

ISOLASI KITIN, KARAKTERISASI, DAN SINTESIS KITOSAN DARI KULIT UDANG.

ISOLASI KITIN, KARAKTERISASI, DAN SINTESIS KITOSAN DARI KULIT UDANG.

Kitosan merupakan modifikasi dari senyawa kitin yang banyak terdapat dalam kulit luar hewan golongan Crustaceae seperti udang dan kepiting. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi kitin, mensintesis dan mengkarakterisasi kitosan dari kulit udang. Tahap isolasi kitin meliputi proses demineralisasi dengan HCL 1,5M dan deproteinasi dengan NaOH 3,5%. Transformasi kitin menjadi kitosan melalui tahap deasetilasi dengan NaOH 60%. Dari hasil penelitian diperoleh karakteristik kitosan sebagai berikut: rendemen transformasi kitin menjadi kitosan 67,08%, memiliki tekstur serbuk bewarna putih, tidak berbau, memiliki kadar air 1,55%, larut dalam asam asetat 2% dengan derajat deasetilasi 84,85%.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kitosan 2.1.1 Kitin dan kitosan - Optimalisasi Pembuatan Glukosamin Hidroklorida Dari Kitosan Cangkang Belangkas (Tachypleus Gigas)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kitosan 2.1.1 Kitin dan kitosan - Optimalisasi Pembuatan Glukosamin Hidroklorida Dari Kitosan Cangkang Belangkas (Tachypleus Gigas)

Selain diproduksi tubuh, glukosamin hadir dalam jumlah sedikit pada makanan seperti udang, lobster, dan kepiting. Glukosamin sintetis tersedia dalam bentuk pil, kapsul atau suntik, yang mungkin dikombinasi dengan suplemen lain seperti kondroitin. Kondroitin juga ditemukan dalam tulang rawan dan dilaporkan berfungsi mempertahankan viskositas sendi, merangsang mekanisme perbaikan tulang rawan, dan menghambat enzim yang memecah tulang rawan .(Wang D,P 2008)

12 Baca lebih lajut

Uji Mekanik Membran Kitosan Berbahan Dasar Cangkang Kepiting

Uji Mekanik Membran Kitosan Berbahan Dasar Cangkang Kepiting

Indonesia memiliki limbah cangkang kepiting dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, terbukti dari data BPS (PPLD-LIPI, 2015), total produksi udang dan kepiting dari Indonesia rata-rata mencapai setidaknya 160.000 ton/tahun. Dengan asumsi bahwa 25% dari berat tersebut adalah cangkangnya, maka limbahnya dapat mencapai setidaknya 40.000 ton/tahun. Cangkang kepiting merupakan limbah yang mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang sangat banyak, selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Cangkang kepiting merupakan senyawa kimia yang mengandung kitosan dan presentase kitin terbesar yaitu sebesar 71%. Kitosan merupakan suatu polimer yang bersifat polikatiolik. Kitosan termkasud polimer alamiah yang dapat ditemukan di alam berbeda-beda tergantung pada sumbernya. polimer mengakibatkan kitosan sangat efektif mengadsorpsi kation ion logam berat maupun kation dari zat-zat organik (protein dan lemak).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

SINTESIS DAN KARAKTERISASI FILM KITOSAN DARI BAHAN CANGKANG UDANG.

SINTESIS DAN KARAKTERISASI FILM KITOSAN DARI BAHAN CANGKANG UDANG.

Sifat kitin yang tidak beracun dan mudah terdegradasi mendorong dilakukannya modifikasi kitin dengan tujuan mengoptimalkan kegunaan maupun memperluas bidang aplikasi kitin. Salah satu senyawa turunan dari kitin yang banyak dikembangkan karena aplikasinya yang kuat adalah kitosan. Kitosan merupakan suatu amina polisakarida hasil proses deasetilasi kitin. Aktivitas kitosan akan meningkat seiring dengan peningkatan derajat deasetilasi (DD) kitosan, karena semakin besar DD menunjukkan semakin banyaknya gugus asetil dari kitin yang diubah menjadi situs aktif NH 2 dalam kitosan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Isolasi Kitin Dari Cangkang Kepiting Laut (Portunus Pelagicus Linn.) Serta Pemanfaatannya Untuk Adsorpsi Fe Dengan Pengompleks 1,10-fenantrolin

Isolasi Kitin Dari Cangkang Kepiting Laut (Portunus Pelagicus Linn.) Serta Pemanfaatannya Untuk Adsorpsi Fe Dengan Pengompleks 1,10-fenantrolin

Kitin hasil isolasi memiliki persentase derajat deasetilasi, kandungan nitrogen, karbon, dan kadar abu yang sesuai untuk karakteristik polimer kitin menurut Hayes dalam Majid (2001), jika kandungan nitrogen total <7% serta derajat deasetilasi <60% maka polimer disebut kitin karena jika kandungan nitrogen total >7% dan derajat deasetilasi >60% polimer disebut kitosan. Dengan demikian adsorben hasil isolasi termasuk kategori kitin karena memiliki kadar nitrogen total sebesar 6,85% dan derajat deasetilasi sebesar 40,90%. Kemudian jika ditinjau dari kadar abu sebesar 0,7% dapat dinyatakan kandungan mineral anorganik pada adsorben kitin sangat sedikit.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Penggunaan Ferri Klorida dan Kitosan Cangkang Kepiting sebagai Alternatif Koagulan pada Pengolahan Air Limbah Laundry

Penggunaan Ferri Klorida dan Kitosan Cangkang Kepiting sebagai Alternatif Koagulan pada Pengolahan Air Limbah Laundry

Pengembangan koagulan ramah lingkungan sebagai pengganti koagulan kimia cukup meningkat karena peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya aspek kesehatan dan lingkungan. Polimer organik alami (biopolimer) dapat diproduksi secara alami atau diekstraksi dari hewan, jaringan tanaman, atau mikoorganisme (Zemmouri et al., 2013).Kitosan merupakan salah satu jenis biopolimer yang dapat disintesis dari limbah cangkang crustacea seperti kepiting serta dapatdiaplikasikan sebagai alternatif pembuatan biokoagulan.Kitosan merupakan biopolimer kationik yang terbentuk dari deasetilasi parsial komponen kitin oleh alkali NaOH. Struktur kitosan berbentuk aminopolisakarida hidrofilik linier dengan struktur kaku yang terdiri dari unit glukosamin dan asetil glukosamin. Masing-masing unit glukosamin terdiri dari kelompok amino bebas (-NH 2 ). Gugus amino tersebut sebagai polielektrolit yang bersifat multifungsi dan berperan dalam pembentukan flok (Mashitah et al ., 2017).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

ADSORPSI ION LOGAM Cu(II) MENGGUNAKAN KITOSAN DARI LIMBAH CANGKANG KEPITING TERMODIFIKASI SILIKA.

ADSORPSI ION LOGAM Cu(II) MENGGUNAKAN KITOSAN DARI LIMBAH CANGKANG KEPITING TERMODIFIKASI SILIKA.

Subjek dari penelitian ini adalah adsorben kitosan termodifilkasi silika dan objeknya adalah daya adsorpsi terhadap ion logam Cu(II). Isolasi kitin untuk memperoleh kitosan dilakukan dengan tahap deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi, sedangkan untuk kitosan termodifikasi silika dilakukan pada perbandingan massa 0,25:0,75; 0,5:0,5: dan 0,75:0,25 gram. Adsorpsi kitosan dan kitosan termodifikasi silika dilakukan dengan variasi waktu kontak yaitu 25, 50, 75, dan 100 menit. Larutan hasil adsorpsi dianalisis menggunakan spektrofotometer serapan atom untuk mengetahui jumlah ion logam Cu(II) yang teradsorp.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 7489 documents...