Top PDF Karbon Teraktif Dari Tempurung Kelapa Untuk Penapis Air.

PABRIK KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DENGAN PROSES AKTIVASI STEAM.

PABRIK KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DENGAN PROSES AKTIVASI STEAM.

Air sungai dipompakan ke bak penampung yg terlebih dahulu yang sebelumnya di lakukan penyaringan dengan cara memasang serat kayu agar kotoran bersifat makro tidak ikut masuk dalam bak koagulasi. Selanjutnya air sungai dipompakan ke koagulasi tank de ngan penambahan koagulan Al 2 (SO 4 ) 3 yang bertujuan untuk menguraikan partikel-partikel kotor yang terkandung pada air sungai. Kemudian air sungai tersebut mengalir ke flokulasi tank dimana di lakukan penambahan PAC yang bertujuan untuk menggumpalkan partikel yang telah terurai pada koagulasi tank menjadi gumpalan (flok). Setelah proses tersebut menuju ke clarifier ini sehingga pemisahan antara air bersih dan juga flok yang terbentuk pada proses flokulasi. Kemudian air bersih di tampung sementara pada bak penampung air.
Baca lebih lanjut

219 Baca lebih lajut

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Telah dilakukan pembuatan karbon aktif tempurung kelapa dengan aktivasi fisika (pemanasan pada suhu 500 o C sampai dengan 900 o C) dengan waktu penahanan selama 1 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu aktivasi optimum karbon aktif tempurung kelapa yang diaktivasi dengan pemanasan dan pengaruh suhu aktivasi karbon aktif tempurung kelapa yang optimum pada penjernihan air sumur. Hasil pengujian karbon aktif tempurung kelapa optimum untuk aktivasi fisika (kadar air 4,86%, kadar ZMM 10,84%, kadar abu 2,04% dan kadar karbon 87,12%) berdasarkan SNI No. 06-3730-1995 adalah pada suhu 700 o C, sedangkan daya serap air optimum diperoleh pada suhu 900 o C dengan persentase 75,20%. Karbon aktif tempurung kelapa dengan daya serap optimum yang diaktivasi secara fisika digunakan sebagai filter untuk menjernihkan air sumur. Parameter air yang diuji antara lain ; suhu, TDS, kekeruhan, warna, bau, rasa, pH, logam Fe, logam Al, bakteri E.Coli dan bakteri Coliform. Hasil pengujian kualitas air bersih dan air minum menunjukkan bahwa bakteri E.Coli dan bakteri Coliform belum memenuhi standar. Optimalisasi proses penjernihan air untuk mereduksi kontaminan - kontaminan dilakukan dengan proses elektrokoagulasi yang kemudian difilter dengan karbon aktif tempurung kelapa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua parameter air yang diuji sudah memenuhi standar air bersih (Permenkes No. 416 Tahun 1990) dan air minum (Permenkes No. 492 Tahun 1990) kecuali bakteri Coliform yang belum memenuhi standar air minum.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Indonesia sebagai negara tropis memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah seperti buah kelapa (cocos nucifera) yang pemanfaatannya masih sangat terbuka untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut untuk dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini juga mengingat bahwa meskipun hampir semua bagian dari buah kelapa telah diambil manfaatnya namun banyak pula yang terbuang menjadi sampah seperti bagian serabut dan tempurungnya. Salah satu pemanfaatan tempurung kelapa yang paling banyak digunakan adalah sebagai bahan bakar arang dan filter air. Arang tempurung kelapa biasanya diolah lebih lanjut menjadi briket dan karbon aktif hingga saat ini digunakan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga, usaha maupun industri. Dibandingkan dengan bahan arang, karbon aktif lebih praktis, menarik dan bersih. Pembentukan dan pemanfaatan karbon aktif dari arang tempurung kelapa memiliki dua keuntungan, yaitu yang pertama dapat menjernikan dan menyerap bakteri pada air dan keuntungan yang kedua adalah bisa menjadi salah satu penyelesaian masalah sampah lingkungan karena sumber utama bahan bakunya merupakan sampah tempurung kelapa (Panwara, 2011 dan Esmar Budi, 2011)
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Bambang HP dan Mining H, 2010, Pengolahan Limbah Cair Tekstil Menggunakan Proses Elektrokoagulasi Dengan Sel Al – Al, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan”, Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia, Yogyakarta, 26 Januari 2010, ISSN 1693 – 4393

5 Baca lebih lajut

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Telah dilakukan pembuatan karbon aktif tempurung kelapa dengan aktivasi fisika (pemanasan pada suhu 500 o C sampai dengan 900 o C) dengan waktu penahanan selama 1 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu aktivasi optimum karbon aktif tempurung kelapa yang diaktivasi dengan pemanasan dan pengaruh suhu aktivasi karbon aktif tempurung kelapa yang optimum pada penjernihan air sumur. Hasil pengujian karbon aktif tempurung kelapa optimum untuk aktivasi fisika (kadar air 4,86%, kadar ZMM 10,84%, kadar abu 2,04% dan kadar karbon 87,12%) berdasarkan SNI No. 06-3730-1995 adalah pada suhu 700 o C, sedangkan daya serap air optimum diperoleh pada suhu 900 o C dengan persentase 75,20%. Karbon aktif tempurung kelapa dengan daya serap optimum yang diaktivasi secara fisika digunakan sebagai filter untuk menjernihkan air sumur. Parameter air yang diuji antara lain ; suhu, TDS, kekeruhan, warna, bau, rasa, pH, logam Fe, logam Al, bakteri E.Coli dan bakteri Coliform. Hasil pengujian kualitas air bersih dan air minum menunjukkan bahwa bakteri E.Coli dan bakteri Coliform belum memenuhi standar. Optimalisasi proses penjernihan air untuk mereduksi kontaminan - kontaminan dilakukan dengan proses elektrokoagulasi yang kemudian difilter dengan karbon aktif tempurung kelapa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua parameter air yang diuji sudah memenuhi standar air bersih (Permenkes No. 416 Tahun 1990) dan air minum (Permenkes No. 492 Tahun 1990) kecuali bakteri Coliform yang belum memenuhi standar air minum.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Filler Mikro Partikel Karbon Tempurung Kelapa (Cmp-Cs) Terhadap Photo Makro Dan Kekuatan Tarik Komposit Polyester.

PENDAHULUAN Pengaruh Filler Mikro Partikel Karbon Tempurung Kelapa (Cmp-Cs) Terhadap Photo Makro Dan Kekuatan Tarik Komposit Polyester.

karbon yang kompleks terurai menjadi karbon atau arang. Pirolisis untuk pembentukan arang terjadi pada temperatur 150 – 3000 °C. Pembentukan tersebut disebut sebagai pirolisis primer. Arang dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi karbon monoksida, gas hidrogen dan gas-gas hidro karbon, peristiwa ini disebut sebagai pirolisis sekunder. Makin rendah kadar abu, air, dan zat yang menguap maka makin tinggi pula kadar fixed karbonnya dan mutu arang tersebut juga akan semakin tinggi.

6 Baca lebih lajut

KAJIAN ASPEK TEKNIS DAN FINASIAL USAHA R

KAJIAN ASPEK TEKNIS DAN FINASIAL USAHA R

Briket arang nipah dengan tempurung kelapa yang baik adalah dengan kombinasi dengan tempurung kelapa dengan penambahan tepung kanji 20% menghasilkan bahan kadar air (db), kadar abu, zat mudah menguap dan kadar karbon terikat masing masing nilai adalah 8,20%, 3,51%, 2,62 dan 85,65 %. Nilai tersebut menunjukan briket kulit nipah dengan campuran tempurung kelapa dengan penambahan perekat tepung kanji sebanyak 20% kualitasnya hampir sama dengan batu bara muda, sehingga dapat dikatakan layak untuk di produksi dan memenuhi standar. Nilai aspek finansial sangat layak dengan perhitungan sebagai berikut: NPV, IRR, Payback period dan B/C ratio masing-masing adalah 8.843.011,11, 41 %, 3,7 tahun dan 2,40.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Karakterisasi Mikrostruktur Karbon Aktif Tempurung Kelapa dan Kayu Bakau

Karakterisasi Mikrostruktur Karbon Aktif Tempurung Kelapa dan Kayu Bakau

Indonesia sebagai negara tropis memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah seperti buah kelapa (cocos nucifera) dan kayu bakau bakau (Rizhopora Mucronata) yang pemanfaatannya masih sangat terbuka untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut untuk dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini juga mengingat bahwa meskipun hampir semua bagian dari buah kelapa telah diambil manfaatnya namun banyak pula yang terbuang menjadi sampah seperti bagian serabut dan tempurungnya, begitu juga dengan kayu bakau. Salah satu pemanfaatan tempurung kelapa dan kayu bakau yang paling banyak digunakan adalah sebagai bahan bakar arang dan filter air. Arang tempurung kelapa dan kayu bakau biasanya diolah lebih lanjut menjadi briket dan karbon aktif hingga saat ini digunakan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga, usaha maupun industri.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

this PDF file Kinetika Adsorpsi Nikel (II) dalam Larutan Aqueous dengan Karbon Aktif Arang Tempurung Kelapa | Adiningtyas | Jurnal Rekayasa Proses 1 PB

this PDF file Kinetika Adsorpsi Nikel (II) dalam Larutan Aqueous dengan Karbon Aktif Arang Tempurung Kelapa | Adiningtyas | Jurnal Rekayasa Proses 1 PB

Teknologi industri yang berkembang pesat merupakan salah satu potensi penyebab pencemaran air. Berbagai upaya meminimalisir bahaya polutan dilakukan untuk mengurangi efek berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup. Akumulasi logam berat yang terus meningkat pada perairan menjadi perhatian bagi berbagai pihak karena sifatnya yang beracun saat terkontaminasi dengan air. Logam berat dinyatakan sebagai polutan yang sangat toksik dan berbahaya karena sifatnya yang sukar terurai. Sifat inilah yang menyebabkan logam berat dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh makhluk hidup sehingga dapat menyebabkan keracunan secara akut dan kronis bahkan dapat menyebabkan kematian. Nikel (Ni) termasuk logam berat yang berbahaya. Nikel umumnya digunakan dalam pelapisan logam. Konsentrasinya dalam air limbah industri bervariasi antara 6-12 mg/L, sedangkan batas aman konsentrasi nikel dalam air ialah 1 mg/L (Miaratiska dan Azizah, 2015). Hal ini berarti bahwa konsentrasi nikel dalam air limbah di atas batas aman dan dapat menyebabkan masalah pencemaran air yang sangat serius bagi lingkungan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENYISIHAN LOGAM BESI (Fe) PADA AIR SUMUR DENGAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KEMIRI.

PENYISIHAN LOGAM BESI (Fe) PADA AIR SUMUR DENGAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KEMIRI.

Karbon aktif merupakan salah satu bahan alternative yang digunakan untuk mengurangi kadar logam besi dan mangan pada air. Karbon aktif atau sering juga disebut sebagai arang aktif adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bias dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-kira sebesar 500 m 2 (didapat dari pengukuran adsorpsi gas nitrogen). Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri sehingga mampu menyerap sejumlah pengotor dalam air. Karbon aktif biasa dibuat dari tongkol jagung, ampas penggilingan tebu, ampas pembuatan kertas, tempurung kelapa, sabut kelapa, sekam padi, serbuk gergaji, kayu keras, dan batu bara.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENYISIHAN LOGAM BESI (Fe) PADA AIR SUMUR DENGAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KEMIRI.

PENYISIHAN LOGAM BESI (Fe) PADA AIR SUMUR DENGAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KEMIRI.

Karbon aktif merupakan salah satu bahan alternative yang digunakan untuk mengurangi kadar logam besi dan mangan pada air. Karbon aktif atau sering juga disebut sebagai arang aktif adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bias dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-kira sebesar 500 m 2 (didapat dari pengukuran adsorpsi gas nitrogen). Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri sehingga mampu menyerap sejumlah pengotor dalam air. Karbon aktif biasa dibuat dari tongkol jagung, ampas penggilingan tebu, ampas pembuatan kertas, tempurung kelapa, sabut kelapa, sekam padi, serbuk gergaji, kayu keras, dan batu bara.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Aplikasi Karbon Aktif Dari Tempurung Kelapa Sawit Dengan Aktivator H3PO4 Untuk Penyerapan Logam Cd Dan Pb

Aplikasi Karbon Aktif Dari Tempurung Kelapa Sawit Dengan Aktivator H3PO4 Untuk Penyerapan Logam Cd Dan Pb

Di negara tropis masih dijumpai arang yang dihasilkan secara tradisional yaitu dengan menggunakan drum atau lubang dalam tanah, dengan tahap pengolahan sebagai berikut: bahan yang akan dibakar dimasukkan dalam lubang atau drum yang terbuat dari plat besi. Kemudian dinyalakan sehingga bahan baku tersebut terbakar, pada saat pembakaran, drum atau lubang ditutup sehingga hanya ventilasi yang dibiarkan terbuka. Ini bertujuan sebagai jalan keluarnya asap. Ketika asap yang keluar berwarna kebiru-biruan, ventilasi ditutup dan dibiarkan selama kurang lebih kurang 8 jam atau satu malam. Dengan hati-hati lubang atau dibuka dan dicek apakah masih ada bara yang menyala. Jika masih ada drum ditutup kembali. Tidak dibenarkan mengggunakan air untuk mematikan bara yang sedang menyala, karena dapat menurunkan kwalitas arang [14].
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Karbon Aktif dari Biji Alpukat (Persea americana Mill.) sebagai Adsorben Logam Besi dan Tembaga dalam Limbah Cair Sawit

Pemanfaatan Karbon Aktif dari Biji Alpukat (Persea americana Mill.) sebagai Adsorben Logam Besi dan Tembaga dalam Limbah Cair Sawit

Wulandari, F., Erlina., Bintoro, R.A., Budi., E., Umiatin., dan Nasbey, H. (2014). Pengaruh Temperatur Pengeringan pada Aktivasi Arang Tempurung Kelapa dengan Asam Klorida dan Asam Fosfat untuk Penyaringan Air Keruh. Jurnal. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta: 289-293.

3 Baca lebih lajut

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Indonesia sebagai negara tropis memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah seperti buah kelapa (cocos nucifera) yang pemanfaatannya masih sangat terbuka untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut untuk dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini juga mengingat bahwa meskipun hampir semua bagian dari buah kelapa telah diambil manfaatnya namun banyak pula yang terbuang menjadi sampah seperti bagian serabut dan tempurungnya. Salah satu pemanfaatan tempurung kelapa yang paling banyak digunakan adalah sebagai bahan bakar arang dan filter air. Arang tempurung kelapa biasanya diolah lebih lanjut menjadi briket dan karbon aktif hingga saat ini digunakan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga, usaha maupun industri. Dibandingkan dengan bahan arang, karbon aktif lebih praktis, menarik dan bersih. Pembentukan dan pemanfaatan karbon aktif dari arang tempurung kelapa memiliki dua keuntungan, yaitu yang pertama dapat menjernikan dan menyerap bakteri pada air dan keuntungan yang kedua adalah bisa menjadi salah satu penyelesaian masalah sampah lingkungan karena sumber utama bahan bakunya merupakan sampah tempurung kelapa (Panwara, 2011 dan Esmar Budi, 2011)
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Pembuatan dan Pengujian Membrane Capacitive Deionization Menggunakan Material Karbon Aktif Tempurung Kelapa Sebagai Pemurni Kesadahan

Pembuatan dan Pengujian Membrane Capacitive Deionization Menggunakan Material Karbon Aktif Tempurung Kelapa Sebagai Pemurni Kesadahan

Air merupakan unsur terpenting dalam kehidupan manusia, bahkan kebutuhan akan air bersih sudah menjadi hak asasi manusia seperti tercantum dalam Resolusi PBB 64/292 pada tanggal 28 Juli 2010 (The United Nations World Water Development Report, 2014). Untuk itu diperlukan berbagai usaha untuk dapat memenuhi kebutuhan seluruh manusia akan air hingga di masa mendatang. Salah satunya dengan melakukan pengolahan air payau, air laut bahkan air limbah. Di samping itu, pemanfaatan energi pada proses pengolahan air tersebut diusahakan seminimal mungkin dan bahkan dengan energi yang terbarukan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Peningkatan Daya Serap Filter Air Dari Karbon Aktif Tempurung Kelapa Dengan Memvariasikan Suhu Pemanasan

Rosita Idrus, dkk (2013), menentukan kualitas karbon aktif tempurung kelapa yang dipengaruhi suhu aktivasi terhadap penjernihan air dengan metode pengendapan. Hasil yang diperoleh untuk karakteristik terbaik karbon aktif tempurung kelapa yang diaktivasi pada suhu 1000 o C dengan kadar air sebesar 7,7%, kadar abu 0,84% dan daya serap terhadap iod 568,318 mg/g. Dan Pengujian karbon aktif pada suhu 1000 o C untuk penjernihan air menunjukkan hasil yang maksimal dengan parameter fisik air yaitu warna air menjadi jernih, tidak berbau dan memenuhi pH standar air (7,0 – 7,5)
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pembuatan dan Pengujian Membrane Capacitive Deionization Menggunakan Material Karbon Aktif Tempurung Kelapa Sebagai Pemurni Kesadahan

Pembuatan dan Pengujian Membrane Capacitive Deionization Menggunakan Material Karbon Aktif Tempurung Kelapa Sebagai Pemurni Kesadahan

Karbon aktif tempurung kelapa dapat digunakan sebagai bahan pembuatan elektroda untuk diaplikasikan pada pengolahan air khususnya pada pengurangan kesadahan. Salah satu metode pengolahan air yang menggunakan elektroda adalah sistem Membrane Capacitive Deionization (MCDI). Pembuatan elektroda membutuhkan pengikat sehingga dapat membentuk lembaran elektroda siap pakai. Pada penelitian ini dilakukan proses pembuatan elektroda karbon aktif menggunakan 25 g serbuk karbon aktif tempurung kelapa dan pengikat PVA dalam bentuk hidrogel dengan variasi volume 50 ml, 75 ml, 100 ml, 125 ml, dan 150 ml. Hidrogel PVA yang dibuat melalui proses beku leleh (freezing thawing) selama 4 siklus, dimana untuk 1 siklus memerlukan waktu 24 jam untuk proses beku dan 24 jam untuk proses leleh. Elektroda karbon diaplikasikan pada pengolahan air umpan dengan tingkat kesadahan 910 mg/l (CaCO 3 ). Pengujian
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskula dan Arang Tempurung Kelapa Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Semai Gmelina dan Balsa

Pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskula dan Arang Tempurung Kelapa Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Semai Gmelina dan Balsa

Tanah latosol memiliki penyebaran yang cukup luas di Indonesia, namun tanah ini sudah sangat tua sehingga tingkat kesuburannya rendah. Salah satu tingkat keberhasilan penanaman di tanah latosol dapat dilakukan dengan cara pemilihan jenis dan kualitas bibit yang tinggi. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bibit yaitu dengan pemberian fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan arang tempurung kelapa. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dengan menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dalam pola rancangan acak lengkap. Kombinasi interaksi terbaik pada semai G. arborea ditunjukkan oleh perlakuan FMA jenis Gigaspora sp. dengan tanpa penambahan arang yaitu dengan nilai indeks mutu bibit sebesar 14,87, sedangkan kombinasi interaksi terbaik pada semai O. bicolor ditunjukkan oleh perlakuan FMA jenis Glomus sp. dengan penambahan arang 20% yaitu dengan nilai indeks mutu bibit sebesar 0,04. Secara umum inokulasi Gigaspora sp. memberikan respon yang lebih baik dibandingkan dengan inokulasi Glomus sp. dan yang tidak diinokulasi (kontrol).
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Reaksi Reduksi Terhadap Pemurnian Karbon Berbahan Dasar Tempurung Kelapa

Pengaruh Suhu Reaksi Reduksi Terhadap Pemurnian Karbon Berbahan Dasar Tempurung Kelapa

Secara umum karbon didapatkan dengan pembakaran atau karbonisasi pada material- material tersebut. Pada penelitian ini metode karbonisasi yang digunakan adalah metode pirolisis karena pada proses pirolisis oksigen dijaga agar tidak tercampur dalam proses dekomposisi molekul kompleks dari material, sehingga biasanya dibutuhkan reaktor khusus untuk proses pirolisis [3]. Pada proses pirolisis unsur-unsur bukan karbon seperti hidrogen (H) dan oksigen (O) akan hilang hingga ---------------------

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...