Top PDF Keanekaragaman Jenis Ekhinodermata Di Perairan Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Keanekaragaman Jenis Ekhinodermata Di Perairan Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Keanekaragaman Jenis Ekhinodermata Di Perairan Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Kelompok Ekhinodermata mempunyai peranan penting pada jaringan makanan pada ekosistem terumbu karang, sebagai herbivora, carnivora, omnivora ataupun sebagai pemakan detritus (Best, 1994 dan Toha, 2007). Selain itu, kelompok ekhinodermata juga sebagai sumber makanan bagi biota yang hidup di ekosistem terumbu karang. Salah satu contoh jenis teripang dan bulu babi merupakan sumber pakan untuk berbagai jenis ikan karang (Birkeland, 1989). Informasi mengenai kehadiran kelompok ekhinodermata di perairan Minahasa Utara, Sulawesi Utara belum banyak yang ditulis. Tulisan ini merupakan hasil dari proyek penelitian Biodiversitas di perairan Minahasa Utara, Sulawesi Utara tahun 2008, Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi biota laut dari perairan Indonesia.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Kandungan C-organik pada Lamun Berdasarkan Habitat dan Jenis Lamun di Pesisir Desa Bahoi Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Kandungan C-organik pada Lamun Berdasarkan Habitat dan Jenis Lamun di Pesisir Desa Bahoi Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter (Nontji 1984). Nilai salinitas akan berbeda-beda pada setiap jenis perairan, untuk perairan pesisir nilai salinitas sangat dipengaruhi masukan air tawar. Salinitas perairan berpengaruh terhadap lamun secara langsung seperti yang dilaporkan Hartati et al. (2012) salinitas berpengaruh terhadap kerapatan, dan biomassa lamun. Ditambahkan dalam Touchette (2007) kerapatan dan biomassa lamun berhubungan dengan produktivitas primer yang berlangsung, hal ini terkait dengan penyerapan nutrisi yang sangat dipengaruhi salinitas. Lamun memiliki toleransi yang tinggi terhadap fluktuasi salinitas, lamun masih dapat ditemukan pada perairan dengan salinitas 10-40 ppm. Lamun hidup optimal pada perairan dengan kisaran nilai salinitas antara 24 hingga 35 ppm. Berdasarkan data kualitas air pada Tabel 3 nilai salinitas pada seluruh stasiun sama yaitu 36 ppm, nilai salinitas pada Pesisir Desa Bahoi ini menunjukkan bahwa salinitas di perairan ini masih sangat wajar mengingat lamun masih dapat ditemukan pada perairan dengan salinitas hingga 40 ppm meskipun nilai salinitas pesisir Desa Bahoi tidak termasuk ke dalam kriteria nilai salinitas untuk pertumbuhan optimal lamun. Tingginya salinitas pada pesisir Desa Bahoi diakibatkan tidak adanya sungai, sehingga tidak mendapatkan masukan dari darat, masukan air tawar di daerah pesisir ini hanya tergantung dari curah hujan.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Vegetasi Riparian di Sungai Tewalen, Minahasa Selatan-Sulawesi Utara

Keanekaragaman Vegetasi Riparian di Sungai Tewalen, Minahasa Selatan-Sulawesi Utara

Vegatasi riparian merupakan sumberdaya alam yang mudah terganggu akibat aktivitas manusia misalnya konversi riaria menjadi lahan permukiman, pertanian dan industri. Vegetasi riparian dapat berfungsi mempertahankan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman vegetasi riparian di Sungai Tewalen, Minahasa Selatan - Sulawesi Utara. Metode purposive digunakan untuk menentukan lokasi dan pengelompokan berdasarkan kriteria pertumbuhan untuk memperoleh data kekayaan jenis dan kelimpahan. Sebanyak 3 stasiun penelitian ditentukan yaitu hulu, tengah dan hilir. Tiga ulangan dilakukan di tiap stasiun. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan Indeks keanekaragaman jenis Shannon - Wienner (H’), Indeks Kemerataan dan Indeks Kesamaan Jenis Sorensen. Kekayaan jenis egetasi riparian sebanyak lima puluh enam (56) jenis yeng termasuk dalam tiga puluh (30) suku. Tiga (3) suku terbesar yaitu Poaceae (22%), Cyatheaceae (13%) dan Araceae (11%). Keanekaragaman vegetasi riparian pada tingkat rumput hingga pohon di lokasi penelitian termasuk sedang (H’ 1≤ H ≤ 3). Vegetasi riparian di Sungai Tewalen secara umum memiliki tingkat kemerataan yang tinggi yaitu mendekati 1 yang menunjukkan jumlah individu masing-masing jenis sama atau tidak jauh berbeda. Kesamaan jenis antar stasiun penelitian rendah yang menunjukkan adanya perbedaaan komunitas vegetasi riparian antar stasiun.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Dan Persentase Tutupan Karang Keras Di Perairan Desa Tumbak, Kabupaten Minahasa Tenggara

Keanekaragaman Jenis Dan Persentase Tutupan Karang Keras Di Perairan Desa Tumbak, Kabupaten Minahasa Tenggara

Nilai persentase tutupan komponen bentik perairan Kabupaten Minahasa Tenggara menunjukkan nilai yang bervariasi antar stasiun penelitian. Hasil analisis persentase tutupan komponen bentik (Tabel 4), menunjukkan semua stasiun penelitian dijumpai komponen karang keras, disusul karang lunak, makro alge, sponges dan organisma lain (other funa). Karang keras ditemukan cukup tinggi di Stasiun 1 (72,70%), disusul Stasiun 10 (64,30%) dan terendah di Stasiun 4 (42,68%). Tingginya persentase tutupan karang keras di Stasiun 1 yang terletak di bagian barat pulau Bentenan mempunyai posisi yang sangat strategis bagi pertumbuhan karang keras karena berada pada bagian antara pulau Bentenan dengan daratan desa Tumbak (daratan pulau Sulawesi). Secara umum lokasi Stasiun 1 tidak dipengaruhi oleh pola ombak dari perairan Laut Maluku secara langsung, yang pada musim angin timur dan selatan memiliki pola ombak yang cukup tinggi sehingga dapat menghancurkan karang keras terutama karang bercabang (branching) dan karang daun (foliosa).Disamping itu dasar perairan Stasiun 1 didominasi batuan keras yang merupakan substrat yang sangat baik bagi pertumbuhan karang keras sebagaimana yang diungkapkan oleh Sukarno et al (1981) menyatakan substrat keras diperlukan untuk pelekatan (settling) larva planula yang selanjutnya akan membentuk koloni karang keras. Disamping itu didukung oleh kejernihan perairan yang bersih dan bebas dari sedimentasi karena letak Stasiun 1 berada di tengah perairan, sehingga pertumbuhan karang keras dapat berlangsung dengan baik. Sebaliknya rendahnya persentase tutupan karang keras di Stasiun 4 disebabkan oleh kerusakan yang ditimbulkan oleh penggunaan bom dalam penangkapan ikan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai persentase tutupan patahan karang (rubble) sebesar 55,02% (Tabel 4).Penggunaan bom dalam penangkapan ikan akan mengakibatkan kehancuran karang keras secara fisik dan penggunaan bahan kimia (potasium sianida) dalam penangkapan ikan hias akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan karang keras secara biologis, karena akan mematikan salah satu organisma pembentuk karang keras yaitu zooxanthella yang selalu hidup bersimbiosis dengan karang keras.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Pulau Mantehage, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara

Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Pulau Mantehage, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara

ditunjukkan gambar dibawah ini memiliki nilai 45.87 (Gambar 1). Nilai ini berada dibawah nilai yang baik yaitu 50 untuk keberlanjutan pengelolaan suatu sumberdaya. Rendahnya ini diakibatkan Pulau Mantahage memiliki kemiringan lereng yang landai serta tunggang pasut yang rendah. Selain itu pulau Mantehage memilki luas zona inti yang kecil dan zona pemanfaaatan yang besar sehingga dalam pemanfaatan sumberdaya mengalami kendala yang cukup besar. Hutan mangrove dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki muara sungai yang besar dan delta yang aliran airnya mengandung lumpur. Dilihat dari fungsi bagi ekosistem perairan, ekosistem mangrove memberikan tempat untuk memijah dan membesarkan berbagai jenis ikan, crustacea, dan spesies perairan lainnya ( Nagelkerken dan Van Der Velde 2004) . Memiliki ekosistem mangrove terbesar diantara pulau yang lain tidak membuat pulau ini mempunyai keberlanjutan yang baik. Nilai kualitas air yang kurang baik menunjukkan pulau ini harus mendapat perhatian dari pemerintah khususnya mengenai sanitasi lingkungan dan penanganan sampah untuk mencegah pencemaran lingkungan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kelimpahan dan Keanekaragaman Makrozoobentos di Sungai Air Terjun Tunan, Talawaan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Kelimpahan dan Keanekaragaman Makrozoobentos di Sungai Air Terjun Tunan, Talawaan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Makrozoobentos juga dimanfaatkan sebagai bioindikator perairan, karena memiliki sifat yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan perairan yang ditempatinya (Wilhm, 1975). Keberadaan makrozoobentos dapat dilihat dari substrat dasar perairan yang sangat menentukan perkembangan organisme tersebut. Sungai berarus deras substrat dasar berupa batu- batuan lebih sering ditemukan Filum Arthropoda dan Molluska sedangkan substrat berpasir dan lumpur lebih sering dijumpai Filum Annelida dan Molluska (Hynes, 1976). Makrozoobentos merupakan salah satu kelompok terpenting dalam ekosistem perairan sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan. Selain itu, tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran (Handayani et al., 2000).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Struktur Komunitas Plankton Di Perairan Pulau Bangka Kabupaten Minahasa Utara

Struktur Komunitas Plankton Di Perairan Pulau Bangka Kabupaten Minahasa Utara

Keanekaragaman untuk setiap stasiun menunjukkan suatu bentuk keanekaragaman jenis yang sedang. Hal ini didasarkan atas (Odum 1994 dalam Lombok 2003) yang menyatakan bahwa kisaran nilai indeks keanekaragaman 0-1 menunjukkan bahwa daerah tersebut terdapat tekanan ekologis yang tinggi dan indeks keanekaragaman spesies rendah. Kisaran 1-3 menunjukkan indeks keanekaragaman yang sedang, untuk nilai keanekaragaman yang lebih besar dari 3 menunjukkan keadaan suatu daerah yang mengalami tekanan ekologi rendah dan indeks keanekaragaman spesiesnya tinggi. Keanekaragaman juga ditunjang oleh komunitas plankton itu sendiri dimana plankton akan berkumpul disuatu tempat yang disukai (Nontji 2008). Dari hasil analisis data dapat dikatakan bahwa keanekaragaman di perairan Pulau Bangka memiliki nilai keanekaragaman sedang, hal ini sesuai pernyataan bahwa suatu ekosistem dengan keanekaragaman tinggi atau sedang maka dominasinya rendah.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Makrozoobentos di Sungai Talawaan Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Keanekaragaman Makrozoobentos di Sungai Talawaan Minahasa Utara, Sulawesi Utara

Kelimpahan individu pada Stasiun III lebih tinggi dibandingkan dengan kelimpahan individu pada Stasiun I dan II tetapi kekayaan jenis pada Stasiun ini semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena daerah ini dimanfaatkan sebagai pemukiman penduduk sehingga aktivitas manusia seperti (limbah rumah tangga) mandi, mencuci, dan pertambangan rakyat tidak berizin yang menghasilkan limbah langsung dibuang ke sungai. Baetis merupakan genus terbanyak yang ditemukan pada Stasiun ini, disusul dengan Melanoides dan Psephenus. Pada Stasiun ini ditemukan genus Melanoides yang merupakan indikator adanya oksigen terlarut rendah dan partikel tersuspensi tinggi (Sastrawijaya, 2009).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI TALAWAAN MINAHASA UTARA, SULAWESI UTARA

KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI TALAWAAN MINAHASA UTARA, SULAWESI UTARA

Hasil pengukuran suhu air pada Sungai Talawaan yaitu didapatkan pada Stasiun I (29,1), pada Stasiun II (30,4), dan pada Stasiun III (30,7). Rendahnya suhu pada Stasiun I disebabkan kondisi yang lebih ternaungi oleh tumbuh-tumbuhan. Hasil pengukuran kecepatan arus pada Sungai Talawaan, didapatkan pada Stasiun I yaitu (10 m/s), pada Stasiun II (7 m/s) dan pada Stasiun III yaitu (4 m/s). Kecepatan arus pada Stasiun I cukup deras, karena lokasi tersebut merupakan daerah sungai dengan kuat arus yang jeram dibandingkan dengan Stasiun II yang mulai melambat. Substrat pada Sungai Talawaan yaitu pada Stasiun I berbatu, berpasir dan banyak serasah, sedangkan substrat pada Stasiun II berbatu, berpasir namun sudah sedikit berlumut dan serasah. Substrat pada Stasiun III berbatu, sangat berlumut dan sedikit serasah. Hasil pengukuran kecerahan pada Stasiun I yaitu 25,7cm, pada Stasiun II8,3 cm dan kecerahan pada Stasiun III yaitu 29,2cm. Pengukuran kecerahan pada Stasiun I dan II lebih rendah dibandingkan dengan kecerahan pada Stasiun III namun pengukuran kecerahan pada setiap stasiun masih bisa diukur sampai ke dasar sungai karena kurangnya bahan-bahan terlarut di dalam sungai. Tingginya kecerahan pada Stasiun III karena daerah sungai yang dangkal sehingga kecerahan masih dapat diukur ke dasar perairan. Hasil pengukuran menunjukkan pH pada Stasiun I sampai dengan Stasiun III adalah 6-7. Nilai pH terendah terdapat pada Stasiun I dan tertinggi pada Stasiun II dan 3. Tingginya nilai pH pada Stasiun II karena di pengaruhi oleh kegiatan domestik/pemukiman yang berada disekitar sungai. Sedangkan tingginya pH pada Stasiun III karena daerah ini banyak dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan rakyat tidak berizin. pH dapat mempengaruhi jenis dan susunan zat dalam lingkungan perairan. Nilai DO yang diperoleh pada staiun 1 yaitu (7,7), pada Stasiun II (7,0) dan pada Stasiun III (6,5). Nilai DO tertinggi terdapat pada Stasiun II dan Stasiun III sebesar 7,0 dan terendah pada Stasiun I sebesar 6,5. Tingginya DO pada Stasiun I disebabkan daerahnya masih kurang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sungai. Nilai DO terendah terdapat pada Stasiun III hal ini karena banyaknya aktivitas masyarakat setempat mulai dari mandi cuci kakus (MCK) dan tempat pembuangan limbah hasil pertambangan ilegal.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Serangga Air Di Sungai Pajowa Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara

Keanekaragaman Serangga Air Di Sungai Pajowa Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara

Serangga air merupakan kelompok Arthropoda yang sebagian siklus hidupnya berada di perairan. Serangga ini berperan penting dalam rantai makanan pada suatu ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan, kekayaan, keanekaragaman dan kemerataaan spesies serangga air di Sungai Pajowa, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Pengambilan sampel menggunakan surber sampler dan hand collection. Jumlah serangga air yang ditemukan sebanyak 22 spesies, 14 famili dan 5 ordo. Spesies yang paling banyak ditemukan adalah Gerris remigis, sedangkan ordo yang memiliki spesies paling banyak adalah Ephemeroptera. Kelimpahan dan kekayaan spesies serangga air tertinggi terdapat pada bagian tengah aliran sungai, sedangkan keanekaragaman dan kemerataan spesies tertinggi di bagian hulu sungai. Kelimpahan, kekayaaan dan keanekaragaman spesies serangga air berbeda nyata antar stasiun pengamatan, sedangkan kemerataan spesies tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Kondisi Ekologi Mangrove Di Pulau Mantehage Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara

Kondisi Ekologi Mangrove Di Pulau Mantehage Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara

Ludwig and Reynold (1988) mengemukakan bahwa makin besar H’ suatu komunitas maka semakin mantap pula komunitas tersebut. Nilai H’ = 0 dapat terjadi bila hanya satu jenis dalam satu contoh (sampel) dan H’ maksimal bila semua jenis mempunyai jumlah individu yang sama dan ini menujukkan kelimpahan terdistribusi secara sempurna. Keanekaragaman jenis merupakan indikator dari kemantapan atau kestabilan dari suatu lingkungan pertumbuhan. Kestabilan yang tinggi menunjukkan tingkat kompleksitas yang tinggi, hal ini disebabkan karena terjadi interaksi yang tinggi pula, sehingga akan mempunyai kemampuan lebih tinggi dalam menghadapi gangguan terhadap kompenen-komponennya. Jika indeks keanekaragaman yang stabil, maka masing-masing jenis akan berkesempatan untuk dapat melangsungkan daur kehidupan yang lebih teratur, efisien, dan produktif. Dengan memperhatikan keanekargaman dalam komunitas dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organism suatu komunitas, makin tinggi organisme di dalam suatu komunitas tersebut sehingga keanekaragamannya lebih tinggi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Hasil penelitian didapatkan bivalvia sebanyak 2393 individu terdiri dari 6 famili dan 14 spesies. Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi sebesar 48,371 % pada jenis Meretrix meretrix dan terendah sebesar 1,730 % pada jenis Calista erycina. Kelimpahan bivalvia dari hasil penelitian berkisar 72-110 individu/m 2 . Indeks Keanekeragaman (H’) dari hasil penelitian berkisar 0,980-1,926 tergolong rendah

15 Baca lebih lajut

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Bivalvia terdiri atas berbagai jenis kerang, remis dan kijang. Kebanyakan hidup di laut terutama di daerah litoral, beberapa di daerah pasang surut dan air tawar. Beberapa jenis di laut hidup pada kedalaman sampai 5.000 m. Umumnya terdapat di dasar perairan yang berlumpur atau berpasir, beberapa hidup pada substrat yang lebih keras seperti lempung, kayu, dan batu (Suwignyo, 2005).

5 Baca lebih lajut

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Simangunsong, E. 2010. Distribusi Spasial Bivalvia Berdasarkan Tipologi Habitat di Teluk Lada Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sinaga, T. 2009. Keanekaragaman Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas

4 Baca lebih lajut

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan biologi badan air. Suhu juga sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya (Effendi, 2003).

19 Baca lebih lajut

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Kegiatan Penelitian Penangkapan bivalvia Penyortiran bivalvia Bivalvia dimasukkan dalam plastik hitam berisi alkohol 96% Pengukuran DO dan suhu Pengukuran kedalaman... Pengukuran pH[r]

12 Baca lebih lajut

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Studi Keanekaragaman Bivalvia di Perairan Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara

Hasil pengukuran parameter fisika kimia perairan masih berada pada ambang batas yang layak untuk kehidupan bivalvia. Nilai korelasi bernilai negatif didapatkan pada parameter suhu, kecerahan, pH, DO, salinitas dan nitrit yang artinya hubungan kedua variabel tidak searah (berlawanan), sedangkan nilai korelasi bernilai positif didapatkan pada parameter kedalaman, fosfat dan bahan orgainik yang artinya hubungan kedua variabel searah.

2 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Dan Distribusi Ikan Di Perairan Estuari Belawan Sumatera Utara

Keanekaragaman Dan Distribusi Ikan Di Perairan Estuari Belawan Sumatera Utara

Ikan sebagai hewan air memiliki beberapa mekanisme fisiologi yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ- organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Misalnya sebagai hewan yang hidup di air, baik itu perairan tawar maupun di perairan laut menyebabkan ikan harus dapat mengetahui kekuatan maupun arah arus, karena ikan dilengkapi dengan organ yang dikenal sebagai linea lateralis. Organ ini tidak ditemukan pada hewan darat. Contoh lain, perbedaan konsentrasi antara medium tempat hidup dan konsentrasi cairan tubuh memaksa ikan melakukan osmoregulasi untuk mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya akibat difusi dan osmose. Bila hal itu tidak dilakukan maka ikan laut dapat menjadi ikan kering yang asin, sedangkan ikan air tawar dapat mengalami kematian akibat kelebihan air (Fujaya, 2002).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Dan Distribusi Ikan Di Perairan Estuari Belawan Sumatera Utara

Keanekaragaman Dan Distribusi Ikan Di Perairan Estuari Belawan Sumatera Utara

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan ). Dengan Hak Bebas Royalti Non- Ekklusif ini, Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media, memformat, mengelola dalam bentuk data-base, merawat dan mempublikasikan Tesis saya tanpa izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemegang dan atau sebagai pemilik hak cipta.

16 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Dan Distribusi Ikan Di Perairan Estuari Belawan Sumatera Utara

Keanekaragaman Dan Distribusi Ikan Di Perairan Estuari Belawan Sumatera Utara

Bagan Kerja Pengukuran Kadar Organik Substrat Dikeringkan dalam oven 45˚ C Dihaluskan/digerus dengan lumpang Dikeringkan dalam oven 45˚ C selama 1 jam Ditimbang sebanyak 5 gram [r]

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects